Stimulant Use Disorder
A. Pola penggunaan zat golongan amfetamin, kokain, atau stimulan lainnya yang menyebabkan gangguan keberfungsian atau distres yang bermakna secara klinis, sebagaimana dimanifestasikan oleh setidaknya dua dari gejala berikut yang terjadi dalam periode 12 bulan:
- Stimulan sering digunakan dalam jumlah yang lebih besar atau selama periode yang lebih lama daripada yang dimaksudkan.
- Terdapat keinginan yang menetap atau upaya yang tidak berhasil untuk mengurangi atau mengendalikan penggunaan stimulan.
- Sebagian besar waktu dihabiskan untuk melakukan aktivitas yang diperlukan guna memperoleh stimulan, menggunakan stimulan, atau memulihkan diri dari efeknya.
- Adanya craving, yaitu keinginan atau dorongan yang kuat untuk menggunakan stimulan.
- Penggunaan stimulan secara berulang yang mengakibatkan kegagalan dalam memenuhi kewajiban peran utama di tempat kerja, sekolah, atau rumah.
- Penggunaan stimulan terus berlanjut meskipun terdapat masalah sosial atau interpersonal yang menetap atau berulang, yang disebabkan atau diperburuk oleh efek stimulan.
- Aktivitas sosial, pekerjaan, atau rekreasi yang penting ditinggalkan atau dikurangi akibat penggunaan stimulan.
- Penggunaan stimulan secara berulang dalam situasi yang membahayakan keselamatan fisik.
- Penggunaan stimulan terus berlanjut meskipun individu mengetahui bahwa dirinya memiliki masalah fisik atau psikologis yang menetap atau berulang, yang kemungkinan disebabkan atau diperburuk oleh stimulan tersebut.
- Toleransi, sebagaimana didefinisikan oleh salah satu dari hal berikut: (a) Kebutuhan untuk menggunakan stimulan dalam jumlah yang meningkat secara nyata guna mencapai intoksikasi atau efek yang diinginkan. (b) Penurunan efek yang nyata ketika jumlah stimulan yang sama terus digunakan. Catatan: Kriteria ini tidak dianggap terpenuhi pada individu yang menggunakan obat stimulan semata-mata di bawah pengawasan medis yang sesuai, seperti obat untuk gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas atau narkolepsi.
- Putus zat, sebagaimana dimanifestasikan oleh salah satu dari hal berikut: (a) Sindrom putus zat yang khas akibat stimulan (lihat Kriteria A dan B dalam rangkaian kriteria diagnostik putus stimulan). (b) Stimulan (atau zat yang memiliki hubungan erat dengannya) digunakan untuk meredakan atau menghindari gejala putus zat. Catatan: Kriteria ini tidak dianggap terpenuhi pada individu yang menggunakan obat stimulan semata-mata di bawah pengawasan medis yang sesuai, seperti obat untuk gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas atau narkolepsi.
Tentukan Jika:
- Dalam Remisi Awal: Setelah seluruh kriteria gangguan penggunaan stimulan sebelumnya terpenuhi, tidak ada satu pun kriteria gangguan penggunaan stimulan yang terpenuhi selama setidaknya 3 bulan tetapi kurang dari 12 bulan (dengan pengecualian bahwa Kriteria A4, yaitu “Craving, atau keinginan maupun dorongan yang kuat untuk menggunakan stimulan”, masih mungkin terpenuhi).
- Dalam Remisi Berkelanjutan: Setelah seluruh kriteria gangguan penggunaan stimulan sebelumnya terpenuhi, tidak ada satu pun kriteria gangguan penggunaan stimulan yang terpenuhi kapan pun selama periode 12 bulan atau lebih (dengan pengecualian bahwa Kriteria A4, yaitu “Craving, atau keinginan maupun dorongan yang kuat untuk menggunakan stimulan”, masih mungkin terpenuhi).
Tentukan Jika:
Dalam Lingkungan Terkendali: Penanda tambahan ini digunakan apabila individu berada dalam lingkungan yang membatasi akses terhadap stimulan.
Pengodean Berdasarkan Tingkat Keparahan/Remisi Saat Ini: Apabila intoksikasi zat golongan amfetamin, putus zat golongan amfetamin, atau gangguan mental akibat zat golongan amfetamin juga ditemukan, jangan menggunakan kode gangguan penggunaan zat golongan amfetamin di bawah ini. Sebagai gantinya, gangguan penggunaan zat golongan amfetamin yang menjadi komorbiditas ditunjukkan melalui karakter keempat pada kode gangguan akibat zat golongan amfetamin (lihat catatan pengodean untuk intoksikasi zat golongan amfetamin, putus zat golongan amfetamin, atau gangguan mental tertentu akibat zat golongan amfetamin). Sebagai contoh, apabila terdapat gangguan depresif akibat amfetamin dan gangguan penggunaan amfetamin sebagai komorbiditas, hanya kode gangguan depresif akibat amfetamin yang diberikan, dengan karakter keempat menunjukkan apakah gangguan penggunaan amfetamin yang menjadi komorbiditas bersifat ringan, sedang, atau berat: F15.14 untuk gangguan penggunaan amfetamin ringan dengan gangguan depresif akibat amfetamin atau F15.24 untuk gangguan penggunaan amfetamin sedang atau berat dengan gangguan depresif akibat amfetamin. (Petunjuk untuk zat golongan amfetamin juga berlaku bagi intoksikasi stimulan lainnya atau yang tidak ditentukan, putus stimulan lainnya atau yang tidak ditentukan, serta gangguan mental akibat stimulan lainnya atau yang tidak ditentukan.) Demikian pula, apabila terdapat gangguan depresif akibat kokain dan gangguan penggunaan kokain sebagai komorbiditas, hanya kode gangguan depresif akibat kokain yang diberikan, dengan karakter keempat menunjukkan apakah gangguan penggunaan kokain yang menjadi komorbiditas bersifat ringan, sedang, atau berat: F14.14 untuk gangguan penggunaan kokain ringan dengan gangguan depresif akibat kokain atau F14.24 untuk gangguan penggunaan kokain sedang atau berat dengan gangguan depresif akibat kokain.
Tentukan Tingkat Keparahan/Remisi Saat Ini:
Ringan: Terdapat 2–3 gejala.
- F15.10 Zat golongan amfetamin
- F14.10 Kokain
- F15.10 Stimulan lainnya atau yang tidak ditentukan
Ringan, Dalam Remisi Awal
- F15.11 Zat golongan amfetamin
- F14.11 Kokain
- F15.11 Stimulan lainnya atau yang tidak ditentukan
Ringan, Dalam Remisi Berkelanjutan
- F15.11 Zat golongan amfetamin
- F14.11 Kokain
- F15.11 Stimulan lainnya atau yang tidak ditentukan
Sedang: Terdapat 4–5 gejala.
- F15.20 Zat golongan amfetamin
- F14.20 Kokain
- F15.20 Stimulan lainnya atau yang tidak ditentukan
Sedang, Dalam Remisi Awal
- F15.21 Zat golongan amfetamin
- F14.21 Kokain
- F15.21 Stimulan lainnya atau yang tidak ditentukan
Sedang, Dalam Remisi Berkelanjutan
- F15.21 Zat golongan amfetamin
- F14.21 Kokain
- F15.21 Stimulan lainnya atau yang tidak ditentukan
Berat: Terdapat 6 gejala atau lebih.
- F15.20 Zat golongan amfetamin
- F14.20 Kokain
- F15.20 Stimulan lainnya atau yang tidak ditentukan
Berat, Dalam Remisi Awal
- F15.21 Zat golongan amfetamin
- F14.21 Kokain
- F15.21 Stimulan lainnya atau yang tidak ditentukan
Berat, Dalam Remisi Berkelanjutan
- F15.21 Zat golongan amfetamin
- F14.21 Kokain
- F15.21 Stimulan lainnya atau yang tidak ditentukan
“Dalam lingkungan terkendali” berlaku sebagai penanda tambahan untuk remisi apabila individu berada dalam kondisi remisi sekaligus dalam lingkungan terkendali (yaitu, dalam remisi awal di lingkungan terkendali atau dalam remisi berkelanjutan di lingkungan terkendali). Contoh lingkungan tersebut mencakup lembaga pemasyarakatan dengan pengawasan ketat dan bebas zat, komunitas terapeutik, serta unit rumah sakit yang terkunci.
Stimulan merupakan jenis zat psikoaktif yang meningkatkan aktivitas otak dan dapat meningkatkan kewaspadaan, suasana hati, serta kesadaran untuk sementara waktu. Stimulan yang dibahas dalam bab ini mencakup amfetamin, stimulan resep dengan efek serupa (misalnya, metilfenidat), dan kokain. Gangguan terkait zat yang melibatkan beberapa zat lain dengan sifat stimulan diklasifikasikan dalam bagian lain pada bab ini. Zat-zat tersebut mencakup kafein (dalam gangguan terkait kafein), nikotin (dalam gangguan terkait tembakau), dan MDMA (3,4-metilendioksimetamfetamin; dalam gangguan terkait halusinogen lainnya), yang memiliki efek stimulan sekaligus halusinogenik.
Mengingat efek zat golongan amfetamin serupa dengan efek kokain, gangguan terkait amfetamin dan gangguan terkait kokain dikelompokkan dalam satu kategori, yaitu “gangguan terkait stimulan”. Zat golongan amfetamin (serta stimulan lainnya atau yang tidak ditentukan) dan kokain memiliki kode ICD-10-CM yang berbeda (misalnya, F15.10 untuk gangguan penggunaan zat golongan amfetamin ringan dan F14.10 untuk gangguan penggunaan kokain ringan). Jenis stimulan tertentu yang digunakan individu dicatat dalam diagnosis (misalnya, “putus metamfetamin”, “gangguan penggunaan metilfenidat”, dan “intoksikasi kokain”).
Zat golongan amfetamin mencakup stimulan dengan struktur feniletilamin tersubstitusi, seperti amfetamin, dekstroamfetamin, dan metamfetamin. Golongan ini juga mencakup zat yang memiliki struktur berbeda tetapi menghasilkan efek serupa, seperti metilfenidat, modafinil, dan armodafinil. Zat golongan amfetamin tersebut biasanya digunakan secara oral atau intravena, meskipun metamfetamin juga digunakan melalui hidung. Selain senyawa sintetis golongan amfetamin, terdapat stimulan alami yang berasal dari tumbuhan, seperti khat, serta analog kimia sintetis dari khat yang disebut katinon.
Amfetamin dan stimulan lainnya dapat diperoleh melalui resep untuk penanganan obesitas, gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas, dan narkolepsi. Akibatnya, stimulan yang diresepkan dapat dialihkan ke pasar ilegal.
Kokain, yaitu zat alami yang dihasilkan oleh tanaman koka, dikonsumsi dalam berbagai bentuk sediaan (misalnya, daun koka, pasta koka, kokain hidroklorida, serta alkaloid kokain seperti freebase dan crack) yang berbeda dalam potensi efeknya akibat variasi tingkat kemurnian dan kecepatan onset kerja. Namun, dalam seluruh bentuk tersebut, kokain merupakan bahan aktifnya. Bubuk kokain hidroklorida biasanya dihirup melalui lubang hidung atau dilarutkan dalam air dan disuntikkan secara intravena. Crack dan alkaloid kokain lainnya mudah diuapkan dan dihirup sehingga efeknya muncul dengan sangat cepat.
Individu yang terpapar zat golongan amfetamin atau kokain dapat mengalami gangguan penggunaan stimulan dalam waktu sesingkat 1 minggu, meskipun onsetnya tidak selalu secepat itu. Terlepas dari cara pemberiannya, toleransi terjadi akibat penggunaan berulang. Gejala putus zat, terutama hipersomnia, peningkatan nafsu makan, dan disforia, dapat terjadi dan meningkatkan craving. Sebagian besar individu dengan gangguan penggunaan stimulan pernah mengalami toleransi atau gejala putus zat.
Pola penggunaan dan perjalanan gangguan yang melibatkan zat golongan amfetamin dan kokain serupa karena keduanya merupakan stimulan sistem saraf pusat yang kuat dengan efek psikoaktif dan simpatomimetik yang serupa. Zat golongan amfetamin memiliki durasi kerja yang lebih panjang dibandingkan dengan kokain sehingga digunakan lebih sedikit kali dalam sehari. Penggunaan dapat berlangsung secara kronis atau episodik, dengan periode penggunaan berlebihan yang diselingi periode singkat tanpa penggunaan. Perilaku agresif atau kekerasan umum terjadi ketika zat dalam dosis tinggi dihisap, dikonsumsi, atau diberikan secara intravena. Kecemasan sementara yang intens dan menyerupai gangguan panik atau gangguan kecemasan menyeluruh, serta ide paranoid dan episode psikotik yang menyerupai skizofrenia, ditemukan pada penggunaan dosis tinggi.
Kondisi putus zat berkaitan dengan gejala depresif sementara tetapi intens yang dapat menyerupai episode depresif mayor; gejala depresif tersebut biasanya menghilang dalam waktu 1 minggu. Toleransi terhadap zat golongan amfetamin berkembang dan menyebabkan peningkatan dosis. Sebaliknya, sebagian pengguna zat golongan amfetamin mengalami sensitisasi, yang ditandai dengan peningkatan efek.
Ketika disuntikkan atau dihisap, stimulan biasanya menghasilkan perasaan sejahtera, percaya diri, dan euforia secara langsung. Perubahan perilaku yang drastis dapat berkembang dengan cepat pada gangguan penggunaan stimulan. Perilaku yang kacau, isolasi sosial, perilaku agresif, dan disfungsi seksual dapat terjadi akibat gangguan penggunaan stimulan jangka panjang.
Individu dengan intoksikasi akut dapat menunjukkan bicara yang bertele-tele dan tidak terarah, sakit kepala, ide rujukan sementara, serta tinitus. Ide paranoid, halusinasi auditorik dalam keadaan kesadaran yang jernih, dan halusinasi taktil juga dapat terjadi, yang biasanya dikenali oleh individu sebagai efek zat. Ancaman atau tindakan agresif dapat muncul. Depresi, pikiran bunuh diri, mudah tersinggung, anhedonia, labilitas emosi, atau gangguan perhatian dan konsentrasi umum terjadi selama putus zat. Gangguan mental yang berkaitan dengan penggunaan kokain biasanya menghilang dalam beberapa jam hingga beberapa hari setelah penghentian penggunaan, tetapi dapat menetap selama 1 bulan. Perubahan fisiologis selama putus stimulan berlawanan dengan perubahan pada fase intoksikasi, yang terkadang mencakup bradikardia. Gejala depresif sementara dapat memenuhi kriteria gejala dan durasi untuk episode depresif mayor. Riwayat yang sesuai dengan serangan panik berulang, perilaku yang menyerupai gangguan kecemasan sosial, serta sindrom yang menyerupai gangguan kecemasan menyeluruh umum ditemukan, demikian pula gangguan makan. Salah satu bentuk ekstrem toksisitas stimulan adalah gangguan psikotik akibat stimulan, yaitu gangguan yang menyerupai skizofrenia dengan waham dan halusinasi.
Individu dengan gangguan penggunaan stimulan sering mengembangkan respons terkondisi terhadap stimulus yang berkaitan dengan zat (misalnya, craving ketika melihat zat apa pun yang berbentuk seperti bubuk putih). Respons tersebut berkontribusi terhadap kekambuhan, sulit dihilangkan, dan menetap setelah detoksifikasi.
Gejala depresif yang disertai pikiran atau perilaku bunuh diri dapat terjadi dan secara umum merupakan masalah paling serius yang ditemukan selama putus stimulan.
Estimasi prevalensi gangguan penggunaan zat golongan amfetamin selama 12 bulan di Amerika Serikat adalah 0,4% pada individu berusia 12 tahun atau lebih. Prevalensi selama 12 bulan adalah 0,1% pada individu berusia 12–17 tahun, 0,5% pada individu berusia 18–25 tahun, dan 0,4% pada individu berusia 26 tahun atau lebih. Secara keseluruhan, angkanya adalah 0,5% pada laki-laki dan 0,2% pada perempuan. Angkanya sekitar 0,4% pada individu Hispanik dan kulit putih non-Hispanik, serta 0,1% pada individu Afrika-Amerika dan Asia-Amerika. Estimasi prevalensi pada populasi Indian Amerika/penduduk asli Alaska dan penduduk asli Hawaii/Kepulauan Pasifik sulit ditentukan karena ukuran sampel yang kecil, tetapi terdapat beberapa bukti mengenai angka yang lebih tinggi pada penduduk Indian Amerika/penduduk asli Alaska.
Di antara orang dewasa di Amerika Serikat, sebanyak 6,6% (rata-rata tahunan) menggunakan stimulan resep secara keseluruhan; sebanyak 4,5% menggunakannya tanpa penyalahgunaan, 1,9% menyalahgunakannya tanpa mengalami gangguan penggunaan zat, dan 0,2% mengalami gangguan penggunaan zat. Meskipun individu kulit putih non-Hispanik lebih mungkin menggunakan stimulan resep secara nonmedis, individu Hispanik cenderung menggunakannya lebih sering dan memiliki angka gangguan penggunaan stimulan resep yang lebih tinggi.
Estimasi prevalensi gangguan penggunaan kokain selama 12 bulan di Amerika Serikat adalah 0,4% pada individu berusia 12 tahun atau lebih. Angkanya adalah 0,1% pada individu berusia 12–17 tahun, 0,7% pada individu berusia 18–25 tahun, dan 0,3% pada individu berusia 26 tahun atau lebih. Secara keseluruhan, angkanya adalah 0,5% pada laki-laki dan 0,2% pada perempuan. Angkanya adalah 0,4% pada individu Afrika-Amerika dan kulit putih non-Hispanik, 0,3% pada individu Hispanik, dan kurang dari 0,1% pada individu Asia-Amerika.
Di Amerika Serikat, gangguan penggunaan stimulan terjadi pada seluruh lapisan masyarakat dan lebih umum ditemukan pada individu berusia 18–25 tahun dibandingkan dengan individu berusia 12–17 tahun atau 26 tahun atau lebih. Secara rata-rata, penggunaan teratur pertama kali pada individu yang menjalani penanganan terjadi sekitar usia 23 tahun. Pada individu yang masuk ke layanan penanganan utama untuk metamfetamin, usia rata-ratanya adalah 34 tahun, sedangkan pada individu yang masuk ke layanan penanganan utama untuk kokain, usia rata-ratanya adalah 44 tahun untuk kokain yang dihisap dan 37 tahun untuk penggunaan melalui cara lainnya.
Sebagian individu mulai menggunakan stimulan untuk mengendalikan berat badan atau meningkatkan kinerja di sekolah, tempat kerja, maupun bidang olahraga. Penggunaan awal dapat mencakup memperoleh obat-obatan seperti metilfenidat atau garam amfetamin yang diresepkan kepada orang lain untuk penanganan gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas. Di antara individu yang masuk ke layanan penanganan utama untuk penggunaan zat golongan amfetamin di Amerika Serikat, sebanyak 61% melaporkan penggunaan dengan cara dihisap, 26% melalui suntikan, dan 9% melalui hidung, yang menunjukkan bahwa gangguan penggunaan stimulan dapat berkembang melalui berbagai cara pemberian.
Pola pemberian stimulan mencakup penggunaan episodik atau harian (atau hampir setiap hari). Penggunaan episodik (misalnya, penggunaan intens selama akhir pekan atau pada satu atau beberapa hari kerja) cenderung dipisahkan oleh periode tanpa penggunaan selama 2 hari atau lebih. Episode penggunaan berlebihan (binges) melibatkan penggunaan dosis tinggi secara terus-menerus selama beberapa jam atau hari dan sering berkaitan dengan ketergantungan fisik. Episode penggunaan berlebihan biasanya baru berakhir ketika persediaan stimulan habis atau individu mengalami kelelahan. Penggunaan kronis setiap hari dapat melibatkan dosis tinggi atau rendah, yang sering disertai peningkatan dosis seiring waktu.
Penggunaan stimulan dengan cara dihisap dan secara intravena berkaitan dengan perkembangan yang cepat menuju gangguan penggunaan stimulan tingkat berat, yang sering terjadi dalam beberapa minggu hingga beberapa bulan. Penggunaan kokain melalui hidung dan zat golongan amfetamin secara oral menyebabkan perkembangan gangguan yang lebih bertahap, yaitu selama beberapa bulan hingga beberapa tahun. Dengan penggunaan yang terus berlanjut, efek menyenangkan berkurang akibat toleransi, sedangkan efek disforik meningkat.
Gangguan bipolar, skizofrenia, gangguan kepribadian antisosial, dan gangguan penggunaan zat lainnya yang menjadi komorbiditas merupakan faktor risiko berkembangnya gangguan penggunaan stimulan dan kekambuhan penggunaan kokain pada sampel individu yang menjalani penanganan. Reaktivitas terhadap stres yang lebih tinggi telah ditemukan berkorelasi dengan frekuensi penggunaan kokain pada beberapa sampel individu yang menjalani penanganan di Amerika Serikat. Gangguan perilaku pada masa kanak-kanak dan gangguan kepribadian antisosial berkaitan dengan perkembangan gangguan terkait stimulan. Di Amerika Serikat, riwayat penggunaan zat lain, berjenis kelamin laki-laki, memiliki gangguan kepribadian Klaster B, memiliki riwayat keluarga dengan gangguan penggunaan zat, serta berstatus berpisah, bercerai, atau ditinggal meninggal pasangan semuanya meningkatkan risiko penggunaan kokain. Laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan laki-laki juga memiliki risiko lebih tinggi untuk menggunakan metamfetamin.
Prediktor penggunaan kokain pada suatu kohort remaja di Amerika Serikat mencakup paparan kokain sebelum kelahiran, penggunaan kokain oleh orang tua setelah kelahiran anak, dan paparan terhadap kekerasan di lingkungan masyarakat selama masa kanak-kanak. Penelitian di negara-negara industri menunjukkan bahwa paparan terhadap kekerasan oleh pasangan intim atau perlakuan buruk pada masa kanak-kanak sering terjadi bersamaan dengan penggunaan stimulan, terutama pada perempuan. Dalam suatu kohort perempuan di Amerika Serikat yang diikuti secara longitudinal, status sosial ekonomi, termasuk kerawanan pangan, memiliki pengaruh yang bergantung pada tingkat paparannya terhadap risiko penggunaan stimulan. Pada remaja, terutama anak perempuan, faktor risiko mencakup tinggal dalam lingkungan rumah yang tidak stabil, memiliki kondisi psikiatris, terlibat dalam perilaku kriminal, serta berhubungan dengan pengedar dan pengguna zat.
Prevalensi penggunaan kokain di Amerika Serikat meningkat antara tahun 2001–2002 dan 2012–2013 pada individu kulit putih non-Latinx, Afrika-Amerika, dan Latinx, tetapi prevalensi gangguan penggunaan kokain hanya meningkat pada individu kulit putih. Meskipun terdapat sedikit variasi, kriteria diagnostik gangguan penggunaan kokain dan stimulan lainnya menunjukkan kinerja yang setara pada berbagai kelompok gender dan etnorasial. Berdasarkan data estimasi prevalensi yang terbatas, populasi Indian Amerika/penduduk asli Alaska tampaknya memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami gangguan penggunaan metamfetamin dan, dalam tingkat yang lebih rendah, gangguan penggunaan kokain dibandingkan dengan individu kulit putih non-Hispanik, sedangkan penduduk asli Hawaii/Kepulauan Pasifik tampaknya memiliki risiko yang serupa dengan individu kulit putih non-Hispanik.
Sekitar 64% individu yang masuk ke program penanganan penyalahgunaan zat yang didanai pemerintah untuk gangguan utama terkait metamfetamin/amfetamin merupakan individu kulit putih non-Hispanik, diikuti oleh 20% individu keturunan Hispanik, 3% individu Asia dan Kepulauan Pasifik, serta 6% individu kulit hitam non-Hispanik. Di antara individu yang masuk untuk penanganan utama terkait kokain yang dihisap, sebanyak 51% merupakan individu kulit hitam non-Hispanik, 35% kulit putih non-Hispanik, 8% Hispanik, dan 1% Asia/Kepulauan Pasifik. Untuk penerimaan layanan penanganan yang berkaitan dengan penggunaan kokain melalui cara pemberian lainnya, sebanyak 47% merupakan individu kulit putih non-Hispanik, 31% kulit hitam non-Hispanik, 17% keturunan Hispanik, dan 1% Asia/Kepulauan Pasifik. Angka gangguan dalam sampel klinis harus ditafsirkan secara hati-hati karena dapat dipengaruhi oleh perbedaan akses dan pemanfaatan layanan, jalur menuju perawatan, kriminalisasi, stigma, serta bias rasial dalam diagnosis dan rujukan penanganan.
Di Amerika Serikat, perempuan dengan gangguan penggunaan kokain lebih sering memiliki gangguan psikiatris sebagai komorbiditas, seperti depresi dan gangguan stres pascatrauma, dibandingkan dengan laki-laki. Hormon gonad memengaruhi respons laki-laki terhadap kokain. Perempuan dengan gangguan penggunaan kokain dan kadar progesteron yang lebih tinggi memiliki craving terhadap kokain yang dipicu oleh stres maupun petunjuk terkait zat yang lebih rendah, serta perubahan tekanan darah akibat petunjuk terkait zat yang lebih kecil dibandingkan dengan perempuan dengan gangguan penggunaan kokain dan kadar progesteron yang lebih rendah. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa penggunaan kokain pada perempuan hamil lebih rendah dibandingkan dengan perempuan yang tidak hamil.
Benzoilekgonin, yaitu metabolit kokain, biasanya tetap berada dalam urine selama 1–3 hari setelah penggunaan satu dosis dan dapat ditemukan selama 7–12 hari pada individu yang menggunakan dosis tinggi secara berulang. Peningkatan ringan pada hasil pemeriksaan fungsi hati dapat ditemukan pada individu yang menggunakan kokain melalui suntikan atau pengguna kokain yang juga mengonsumsi alkohol secara bersamaan. Tidak terdapat penanda neurobiologis yang memiliki kegunaan diagnostik. Penghentian penggunaan kokain kronis dapat berkaitan dengan perubahan elektroensefalografi yang menunjukkan adanya kelainan menetap; perubahan pola sekresi prolaktin; serta penurunan regulasi reseptor dopamin.
Zat golongan amfetamin dengan waktu paruh pendek (misalnya, metamfetamin) dapat dideteksi selama 1–3 hari, dan mungkin hingga 4 hari bergantung pada dosis dan metabolisme. Sampel rambut dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan zat golongan amfetamin hingga 90 hari. Temuan laboratorium lainnya, serta temuan fisik dan kondisi medis lainnya (misalnya, penurunan berat badan, malnutrisi, dan kebersihan diri yang buruk), serupa pada gangguan penggunaan kokain maupun gangguan penggunaan zat golongan amfetamin.
Data mengenai hubungan antara gangguan penggunaan stimulan dan bunuh diri masih terbatas karena sebagian besar penelitian yang mengkaji pikiran dan perilaku bunuh diri meneliti penggunaan stimulan, bukan gangguan penggunaan stimulan. Sebuah tinjauan sistematis menemukan bahwa penggunaan amfetamin secara teratur atau bermasalah (yang terutama meneliti individu yang menggunakan amfetamin melalui suntikan dan/atau individu yang masuk ke layanan penanganan penggunaan amfetamin) berkaitan dengan peningkatan angka kematian akibat bunuh diri. Sebuah penelitian populasi umum pada orang dewasa di Amerika Serikat menemukan hubungan antara gangguan penggunaan stimulan resep dan pikiran bunuh diri. Dalam sebuah penelitian terhadap individu yang masuk ke layanan penanganan penggunaan zat, individu dengan gangguan penggunaan kokain jauh lebih mungkin melaporkan pikiran bunuh diri dibandingkan dengan individu dengan gangguan penggunaan zat lainnya. Dalam sebuah penelitian terhadap laki-laki dan perempuan dalam sistem layanan kesehatan Veterans Administration di Amerika Serikat, gangguan penggunaan kokain dan gangguan penggunaan amfetamin masing-masing berkaitan dengan peningkatan angka kematian akibat bunuh diri.
Berbagai kondisi medis dapat terjadi bergantung pada cara pemberian zat. Pengguna yang menggunakan zat melalui hidung sering mengalami sinusitis, iritasi, perdarahan pada mukosa hidung, dan perforasi septum hidung. Individu yang menggunakan stimulan dengan cara dihisap memiliki peningkatan risiko mengalami masalah pernapasan (misalnya, batuk, bronkitis, dan pneumonitis). Pengguna yang menyuntikkan zat memiliki bekas tusukan dan jejak suntikan (tracks), yang paling sering ditemukan pada lengan bawah. Risiko infeksi HIV dan hepatitis C meningkat akibat suntikan intravena yang sering dilakukan dan aktivitas seksual yang tidak aman. Penyakit menular seksual lainnya, hepatitis B, tuberkulosis, serta infeksi paru-paru lainnya juga ditemukan. Penurunan berat badan dan malnutrisi umum terjadi.
Nyeri dada dapat menjadi gejala yang umum selama intoksikasi stimulan. Infark miokard, palpitasi dan aritmia, kematian mendadak akibat henti napas atau henti jantung, serta stroke telah dikaitkan dengan penggunaan stimulan pada individu muda yang selain itu berada dalam kondisi sehat. Pneumotoraks dapat terjadi akibat melakukan manuver yang menyerupai manuver Valsalva untuk meningkatkan penyerapan asap yang dihirup. Penggunaan kokain berkaitan dengan gangguan aliran darah plasenta, solusio plasenta, persalinan dan kelahiran prematur, serta peningkatan prevalensi bayi dengan berat badan lahir sangat rendah.
Individu dengan gangguan penggunaan stimulan dapat terlibat dalam pencurian, prostitusi, atau perdagangan narkoba untuk memperoleh zat atau uang guna membeli zat. Cedera traumatis akibat perilaku kekerasan umum ditemukan pada individu yang terlibat dalam perdagangan narkoba.
Gangguan neurokognitif umum ditemukan pada pengguna metamfetamin maupun kokain, termasuk defisit yang berkaitan dengan perhatian, impulsivitas, pembelajaran/memori verbal, memori kerja, dan fungsi eksekutif. Psikosis sementara dan kejang juga telah dilaporkan pada penggunaan kokain maupun metamfetamin secara kronis, yang mungkin berkaitan dengan pola penggunaan atau perburukan kerentanan yang telah ada sebelumnya. Penggunaan amfetamin dapat menyebabkan efek toksik yang berkaitan dengan peningkatan suhu tubuh, dan terdapat beberapa bukti bahwa penggunaan kronis menyebabkan neuroinflamasi dan neurotoksisitas pada neuron dopaminergik. Masalah kesehatan mulut mencakup kondisi yang dikenal sebagai “meth mouth”, yang ditandai dengan penyakit gusi, kerusakan gigi, dan luka pada mulut yang berkaitan dengan efek toksik penggunaan zat melalui penghisapan serta bruksisme selama intoksikasi. Efek merugikan pada paru-paru tampaknya lebih jarang ditemukan pada zat golongan amfetamin karena zat tersebut dihisap lebih sedikit kali dalam sehari, meskipun penggunaan metamfetamin tetap berkaitan dengan risiko hipertensi arteri pulmonalis.
Kunjungan ke instalasi gawat darurat umum terjadi akibat gejala gangguan mental terkait stimulan, cedera, infeksi kulit, dan kelainan gigi. Di Amerika Serikat, diagnosis gangguan penggunaan stimulan berkaitan dengan peningkatan sebesar 20% pada angka rawat inap kembali dalam 30 hari, dalam penilaian tindak lanjut setelah rawat inap karena “penyebab apa pun” (suatu ukuran standar kualitas pelayanan rumah sakit secara keseluruhan).
Intoksikasi akibat fensiklidin (PCP atau “angel dust”) atau “obat sintetis rancangan” seperti mefedron (yang dikenal dengan berbagai nama, termasuk “bath salts”) dapat menyebabkan gambaran klinis yang serupa dan hanya dapat dibedakan dari intoksikasi stimulan melalui keberadaan metabolit kokain atau zat golongan amfetamin dalam sampel urine atau plasma.
Gangguan penggunaan stimulan dibedakan dari intoksikasi stimulan, putus stimulan, dan gangguan mental akibat stimulan (misalnya, gangguan depresif akibat stimulan) karena gangguan penggunaan stimulan menggambarkan pola penggunaan stimulan yang bermasalah, yang melibatkan gangguan pengendalian terhadap penggunaan stimulan, gangguan keberfungsian sosial akibat penggunaan stimulan, penggunaan stimulan yang berisiko (misalnya, penggunaan stimulan yang terus berlanjut meskipun terdapat komplikasi medis), serta gejala farmakologis (berkembangnya toleransi atau putus zat), sedangkan intoksikasi stimulan, putus stimulan, dan gangguan mental akibat stimulan menggambarkan sindrom psikiatris yang terjadi dalam konteks penggunaan zat dalam jumlah besar. Intoksikasi stimulan, putus stimulan, dan gangguan mental akibat stimulan sering terjadi pada individu dengan gangguan penggunaan stimulan. Dalam kasus tersebut, diagnosis intoksikasi stimulan, putus stimulan, atau gangguan mental akibat stimulan harus diberikan sebagai tambahan terhadap diagnosis gangguan penggunaan stimulan, yang keberadaannya ditunjukkan dalam kode diagnostik.
Sebagian efek penggunaan stimulan dapat menyerupai gejala gangguan mental independen, seperti psikosis (skizofrenia) dan suasana hati yang rendah (gangguan depresif mayor). Menentukan apakah perilaku-perilaku tersebut telah terjadi sebelum penggunaan zat merupakan hal penting untuk membedakan efek akut zat dari gangguan mental yang telah ada sebelumnya.
Gangguan terkait stimulan sering terjadi bersamaan dengan gangguan penggunaan zat lainnya, terutama yang melibatkan zat dengan sifat sedatif, yang sering digunakan untuk mengurangi insomnia, kegugupan, dan efek samping tidak menyenangkan lainnya. Individu yang masuk ke layanan penanganan penggunaan kokain kemungkinan juga menggunakan heroin, PCP, atau alkohol, sedangkan individu yang masuk ke layanan penanganan gangguan penggunaan zat golongan amfetamin kemungkinan menggunakan ganja, heroin, atau alkohol. Gangguan penggunaan stimulan dapat berkaitan dengan gangguan stres pascatrauma, gangguan kepribadian antisosial, gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas, dan gangguan perjudian. Masalah kardiopulmoner sering ditemukan pada individu yang mencari penanganan untuk masalah terkait kokain, dengan nyeri dada sebagai keluhan yang paling umum. Masalah medis dapat terjadi sebagai respons terhadap zat pencampur yang digunakan untuk mengencerkan atau menambah volume zat. Pengguna kokain yang mengonsumsi kokain yang dicampur dengan levamisol, yaitu obat antimikroba dan obat hewan, dapat mengalami agranulositosis dan neutropenia febril.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.