Language Disorder
(1) Keterbatasan kosakata, yaitu berkurangnya pengetahuan dan penggunaan kata. (2) Keterbatasan struktur kalimat, yaitu kesulitan dalam menggabungkan kata dan akhiran kata untuk membentuk kalimat berdasarkan aturan tata bahasa dan morfologi. (3) Gangguan dalam wacana, yaitu kesulitan menggunakan kosakata dan menghubungkan kalimat untuk menjelaskan atau mendeskripsikan suatu topik, rangkaian peristiwa, atau melakukan percakapan.
Karakteristik utama gangguan bahasa adalah kesulitan dalam pemerolehan dan penggunaan bahasa akibat adanya defisit dalam pemahaman atau produksi kosakata, tata bahasa, struktur kalimat, dan wacana. Defisit kemampuan berbahasa tersebut dapat terlihat dalam komunikasi lisan, komunikasi tertulis, maupun bahasa isyarat. Pembelajaran dan penggunaan bahasa bergantung pada kemampuan reseptif dan ekspresif. Kemampuan ekspresif mengacu pada kemampuan menghasilkan sinyal vokal, isyarat, atau verbal, sedangkan kemampuan reseptif mengacu pada proses menerima dan memahami pesan bahasa. Kemampuan bahasa perlu dinilai melalui kedua modalitas tersebut karena tingkat keparahan gangguan pada kemampuan reseptif dan ekspresif dapat berbeda. Gangguan bahasa biasanya memengaruhi kemampuan kosakata dan tata bahasa, yang kemudian membatasi kemampuan individu dalam menyusun wacana. Kemunculan kata dan frasa pertama pada anak cenderung terlambat, jumlah kosakata lebih sedikit dan kurang bervariasi dibandingkan dengan yang diharapkan, serta kalimat yang dihasilkan lebih pendek dan kurang kompleks, disertai kesalahan tata bahasa, terutama dalam penggunaan bentuk lampau.
Defisit dalam pemahaman bahasa sering kali kurang teridentifikasi karena anak mungkin cukup terampil menggunakan konteks untuk memperkirakan makna. Anak dapat mengalami kesulitan menemukan kata yang tepat, memberikan definisi verbal yang terbatas, atau memahami sinonim, makna ganda, maupun permainan kata yang sesuai dengan usia dan budayanya.
Kesulitan dalam mengingat kata dan kalimat baru dapat terlihat melalui ketidakmampuan mengikuti instruksi yang semakin panjang, kesulitan mengulang rangkaian informasi verbal (misalnya mengingat nomor telepon atau daftar belanja), serta kesulitan mengingat rangkaian bunyi baru, yaitu kemampuan yang mungkin berperan penting dalam mempelajari kosakata baru. Kesulitan dalam kemampuan wacana ditunjukkan oleh berkurangnya kemampuan untuk memberikan informasi yang memadai mengenai peristiwa-peristiwa penting dan menceritakan suatu kisah secara runtut serta koheren. Kesulitan berbahasa ditandai oleh kemampuan yang secara substansial dan terukur berada di bawah tingkat yang diharapkan sesuai usia, serta secara signifikan mengganggu pencapaian akademik, kinerja pekerjaan, komunikasi yang efektif, atau kemampuan bersosialisasi (Kriteria B).
Diagnosis gangguan bahasa ditegakkan berdasarkan integrasi riwayat perkembangan individu, observasi klinis langsung dalam berbagai konteks (yaitu rumah, sekolah, atau tempat kerja), serta skor dari tes kemampuan bahasa terstandar yang dapat digunakan untuk membantu memperkirakan tingkat keparahan gangguan.
Individu, termasuk anak-anak, dapat mengembangkan kemampuan yang cukup baik untuk menyesuaikan diri dengan keterbatasan bahasa yang dimilikinya. Mereka mungkin terlihat pemalu atau enggan berbicara. Individu yang mengalami gangguan bahasa mungkin lebih memilih berkomunikasi hanya dengan anggota keluarga atau orang lain yang sudah dikenalnya. Meskipun indikator sosial tersebut tidak dapat digunakan sebagai dasar diagnosis gangguan bahasa, apabila karakteristik tersebut terlihat jelas dan berlangsung menetap, individu perlu dirujuk untuk menjalani asesmen bahasa secara menyeluruh.
Pemerolehan bahasa ditandai oleh perubahan yang berlangsung sejak masa kanak-kanak awal hingga tercapainya tingkat kompetensi bahasa orang dewasa, yang mulai terlihat pada masa remaja. Perubahan tersebut terjadi dalam berbagai dimensi bahasa, termasuk bunyi, kata, tata bahasa, kemampuan menyusun narasi atau teks ekspositori, serta keterampilan percakapan. Perkembangannya berlangsung secara bertahap dan saling berkaitan sesuai tahapan usia.
Gangguan bahasa muncul pada periode perkembangan awal. Namun, terdapat variasi yang cukup besar dalam pemerolehan kosakata dan kemampuan menggabungkan kata pada masa kanak-kanak awal. Perbedaan individual pada masa kanak-kanak awal, apabila hanya digunakan sebagai satu indikator, tidak memiliki kemampuan prediksi yang tinggi terhadap hasil perkembangan bahasa selanjutnya. Meskipun demikian, keterlambatan munculnya kemampuan berbahasa pada usia 24 bulan dalam suatu penelitian berbasis populasi merupakan prediktor terbaik terhadap hasil perkembangan bahasa pada usia 7 tahun.
Pada usia 4 tahun, perbedaan individual dalam kemampuan bahasa menjadi lebih stabil, dengan ketepatan pengukuran yang lebih baik, serta memiliki kemampuan prediksi yang tinggi terhadap perkembangan bahasa selanjutnya. Gangguan bahasa yang didiagnosis pada anak berusia 4 tahun atau lebih cenderung menetap dari waktu ke waktu dan biasanya berlanjut hingga masa dewasa. Namun, profil spesifik mengenai kekuatan dan kelemahan kemampuan bahasa dapat berubah sepanjang proses perkembangan.
Gangguan bahasa dapat menimbulkan konsekuensi sosial sepanjang kehidupan individu. Anak-anak dengan gangguan bahasa memiliki risiko mengalami viktimisasi oleh teman sebaya. Pada perempuan yang mengalami gangguan bahasa sejak masa kanak-kanak, risiko mengalami kekerasan seksual pada masa dewasa dapat mencapai hampir tiga kali lipat dibandingkan dengan individu yang tidak mengalami gangguan tersebut.
Anak-anak yang mengalami gangguan bahasa reseptif memiliki prognosis yang lebih buruk dibandingkan dengan anak-anak yang terutama mengalami gangguan bahasa ekspresif. Gangguan bahasa reseptif cenderung lebih sulit ditangani melalui intervensi. Selain itu, kesulitan dalam memahami bacaan juga sering ditemukan pada individu dengan gangguan tersebut.
Bilingualisme atau penggunaan dua bahasa tidak menyebabkan maupun memperburuk gangguan bahasa. Namun, anak-anak yang menggunakan dua bahasa dapat menunjukkan keterlambatan atau perbedaan dalam perkembangan bahasa. Gangguan bahasa pada anak bilingual akan memengaruhi kedua bahasa yang digunakan. Oleh karena itu, pemeriksaan kemampuan bahasa pada kedua bahasa tersebut merupakan hal yang penting untuk dipertimbangkan.
Gangguan bahasa memiliki tingkat heritabilitas atau pengaruh keturunan yang tinggi. Anggota keluarga dari individu yang mengalami gangguan bahasa memiliki kemungkinan lebih besar untuk mempunyai riwayat gangguan kemampuan berbahasa.
Penelitian terhadap anak kembar berbasis populasi secara konsisten menunjukkan adanya pengaruh genetik yang cukup besar terhadap gangguan bahasa. Selain itu, penelitian molekuler menunjukkan kemungkinan keterlibatan berbagai gen yang saling berinteraksi dalam jalur penyebab gangguan tersebut.
Gangguan bahasa perlu dibedakan dari variasi normal perkembangan bahasa. Pembedaan tersebut mungkin sulit dilakukan sebelum anak mencapai usia 4 tahun.
Variasi bahasa yang berkaitan dengan wilayah, lingkungan sosial, maupun latar budaya atau etnis, seperti perbedaan dialek, harus dipertimbangkan ketika individu menjalani pemeriksaan terkait gangguan bahasa.
Gangguan pendengaran perlu disingkirkan sebagai penyebab utama kesulitan berbahasa. Defisit bahasa dapat berkaitan dengan gangguan pendengaran, gangguan sensorik lainnya, atau gangguan motorik bicara. Apabila defisit bahasa yang dialami lebih berat daripada yang biasanya berkaitan dengan kondisi-kondisi tersebut, diagnosis gangguan bahasa dapat ditegakkan.
Gangguan kemampuan berbahasa sering menjadi karakteristik awal yang terlihat pada individu dengan gangguan perkembangan intelektual. Namun, diagnosis definitif gangguan perkembangan intelektual mungkin belum dapat ditegakkan sampai anak mampu menyelesaikan pemeriksaan terstandar. Gangguan bahasa dapat terjadi pada individu dengan berbagai tingkat kemampuan intelektual. Selain itu, adanya perbedaan antara kemampuan verbal dan nonverbal tidak menjadi persyaratan untuk menegakkan diagnosis gangguan bahasa.
Gangguan spektrum autisme sering ditandai oleh keterlambatan perkembangan bahasa. Namun, gangguan spektrum autisme biasanya disertai perilaku yang tidak ditemukan pada gangguan bahasa, seperti kurangnya minat sosial atau interaksi sosial yang tidak biasa. Contohnya adalah menarik tangan orang lain tanpa berusaha melakukan kontak mata, menunjukkan pola bermain yang tidak biasa (misalnya membawa mainan ke mana-mana tetapi tidak pernah memainkannya), serta pola komunikasi yang tidak lazim (misalnya mengenal huruf alfabet tetapi tidak merespons ketika namanya dipanggil). Selain itu, individu dengan gangguan spektrum autisme dapat menunjukkan keterikatan yang kaku terhadap rutinitas serta perilaku berulang, seperti mengepakkan tangan (flapping), berputar-putar (spinning), atau mengulang ucapan orang lain (echolalia).
Gangguan bahasa dapat diperoleh sebagai akibat dari gangguan neurologis, termasuk epilepsi. Contohnya adalah afasia yang didapat (acquired aphasia) atau sindrom Landau-Kleffner. Kondisi tersebut perlu dipertimbangkan ketika kesulitan bahasa muncul setelah sebelumnya individu memiliki kemampuan berbahasa yang telah berkembang.
Hilangnya kemampuan berbicara dan berbahasa pada anak, pada usia berapa pun, memerlukan pemeriksaan menyeluruh untuk menentukan apakah terdapat kondisi neurologis tertentu, seperti sindrom Landau-Kleffner. Kehilangan kemampuan bahasa dapat menjadi gejala kejang. Oleh karena itu, pemeriksaan diagnostik diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan epilepsi, misalnya melalui elektroensefalogram (EEG) rutin dan EEG saat tidur. Penurunan kemampuan sosial dan komunikasi yang penting selama dua tahun pertama kehidupan ditemukan pada sebagian besar anak yang menunjukkan gangguan spektrum autisme. Kondisi tersebut perlu menjadi tanda bahwa asesmen gangguan spektrum autisme harus dilakukan.
Gangguan bahasa dapat berkaitan dengan gangguan perkembangan saraf lainnya, termasuk gangguan belajar spesifik dalam kemampuan literasi dan numerasi, gangguan perkembangan intelektual, gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder atau ADHD), gangguan spektrum autisme, serta gangguan koordinasi perkembangan. Gangguan bahasa juga berkaitan dengan gangguan komunikasi sosial (pragmatik). Pada sampel klinis, gangguan bahasa dapat terjadi bersamaan dengan gangguan bunyi bicara (speech sound disorder). Namun, data dari penelitian berbasis populasi berskala besar terhadap anak-anak berusia 6 tahun di Amerika Serikat menunjukkan bahwa komorbiditas tersebut mungkin jarang terjadi, yaitu sebesar 1,3%. Riwayat keluarga yang positif terhadap gangguan bicara atau gangguan bahasa juga sering ditemukan.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.