Social (Pragmatic) Communication Disorder
Kesulitan yang menetap dalam penggunaan komunikasi verbal dan nonverbal untuk tujuan sosial, yang ditunjukkan oleh seluruh karakteristik berikut: (1) Defisit dalam menggunakan komunikasi untuk tujuan sosial, seperti menyapa dan berbagi informasi, dengan cara yang sesuai dengan konteks sosial. (2) Gangguan kemampuan untuk menyesuaikan komunikasi dengan konteks atau kebutuhan pendengar, seperti berbicara dengan cara yang berbeda di dalam kelas dibandingkan di tempat bermain, berbicara dengan cara yang berbeda kepada anak-anak dibandingkan kepada orang dewasa, serta menghindari penggunaan bahasa yang terlalu formal. (3) Kesulitan mengikuti aturan percakapan dan bercerita, seperti bergiliran dalam percakapan, mengungkapkan kembali suatu pesan dengan cara berbeda ketika tidak dipahami, serta mengetahui cara menggunakan isyarat verbal dan nonverbal untuk mengatur interaksi. (4) Kesulitan memahami informasi yang tidak dinyatakan secara eksplisit (misalnya, membuat inferensi atau menarik kesimpulan berdasarkan informasi yang tersedia) serta memahami makna bahasa yang tidak harfiah atau ambigu (misalnya, ungkapan idiomatis, humor, metafora, dan makna ganda yang penafsirannya bergantung pada konteks).
Defisit tersebut menyebabkan keterbatasan fungsi dalam komunikasi yang efektif, partisipasi sosial, hubungan sosial, pencapaian akademik, atau kinerja pekerjaan, baik secara individual maupun dalam kombinasi beberapa aspek tersebut.
Gejala mulai muncul pada periode perkembangan awal, tetapi defisit tersebut mungkin belum sepenuhnya terlihat hingga tuntutan komunikasi sosial melebihi kapasitas individu yang terbatas.
Gejala tersebut tidak disebabkan oleh kondisi medis atau neurologis lainnya maupun rendahnya kemampuan dalam aspek struktur kata dan tata bahasa, serta tidak lebih tepat dijelaskan oleh gangguan spektrum autisme, gangguan perkembangan intelektual (disabilitas intelektual), keterlambatan perkembangan global, atau gangguan mental lainnya.
Gangguan komunikasi sosial (pragmatik) ditandai oleh kesulitan utama dalam aspek pragmatik, yaitu penggunaan bahasa dan komunikasi dalam konteks sosial. Kesulitan tersebut ditunjukkan melalui defisit dalam memahami dan mengikuti aturan sosial pada komunikasi verbal maupun nonverbal dalam situasi kehidupan sehari-hari, menyesuaikan penggunaan bahasa dengan kebutuhan pendengar atau situasi, serta mengikuti aturan dalam percakapan dan bercerita. Defisit dalam komunikasi sosial tersebut menyebabkan keterbatasan fungsi dalam komunikasi yang efektif, partisipasi sosial, pengembangan hubungan sosial, pencapaian akademik, atau kinerja pekerjaan. Defisit tersebut tidak lebih tepat dijelaskan oleh rendahnya kemampuan dalam aspek struktur bahasa atau kemampuan kognitif, maupun oleh gangguan spektrum autisme.
Karakteristik yang paling umum menyertai gangguan komunikasi sosial (pragmatik) adalah gangguan bahasa, yang ditandai oleh riwayat keterlambatan dalam mencapai tonggak perkembangan bahasa serta adanya riwayat masalah pada struktur bahasa, baik yang masih berlangsung maupun yang pernah terjadi sebelumnya (lihat bagian “Gangguan Bahasa” pada pembahasan sebelumnya dalam bab ini). Individu dengan defisit komunikasi sosial mungkin menghindari interaksi sosial. Gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (ADHD), masalah emosional dan perilaku, serta gangguan belajar spesifik juga lebih sering ditemukan pada individu yang mengalami gangguan ini.
Karena komunikasi sosial (pragmatik) bergantung pada kemajuan perkembangan bicara dan bahasa yang memadai, diagnosis gangguan komunikasi sosial (pragmatik) jarang ditegakkan pada anak-anak berusia di bawah 4 tahun. Pada usia 4 atau 5 tahun, sebagian besar anak seharusnya telah memiliki kemampuan bicara dan bahasa yang memadai sehingga memungkinkan identifikasi defisit spesifik dalam komunikasi sosial. Bentuk gangguan yang lebih ringan mungkin belum terlihat hingga masa remaja awal, ketika penggunaan bahasa dan interaksi sosial menjadi semakin kompleks.
Perjalanan gangguan komunikasi sosial (pragmatik) bervariasi, dengan sebagian anak menunjukkan perbaikan yang cukup besar seiring waktu, sedangkan sebagian lainnya terus mengalami kesulitan yang menetap hingga masa dewasa. Bahkan pada individu yang menunjukkan perbaikan signifikan, defisit pragmatik yang muncul sejak awal dapat menyebabkan gangguan jangka panjang dalam hubungan sosial dan perilaku, serta rendahnya kemampuan dalam keterampilan terkait lainnya, seperti ekspresi tertulis, pemahaman bacaan, dan membaca dengan suara keras.
Riwayat keluarga dengan gangguan spektrum autisme, gangguan komunikasi, atau gangguan belajar spesifik tampaknya meningkatkan risiko terjadinya gangguan komunikasi sosial (pragmatik). Hal ini juga mencakup saudara kandung dari anak-anak yang mengalami gangguan tersebut, yang mungkin menunjukkan gejala awal gangguan komunikasi sosial (pragmatik).
Gangguan spektrum autisme merupakan pertimbangan diagnostik utama pada individu yang menunjukkan defisit komunikasi sosial. Kedua gangguan tersebut dapat dibedakan berdasarkan adanya pola perilaku, minat, atau aktivitas yang terbatas dan berulang pada gangguan spektrum autisme, sedangkan karakteristik tersebut tidak ditemukan pada gangguan komunikasi sosial (pragmatik). Individu dengan gangguan spektrum autisme mungkin hanya menunjukkan pola perilaku, minat, dan aktivitas yang terbatas serta berulang selama periode perkembangan awal, sehingga diperlukan penggalian riwayat perkembangan secara menyeluruh. Tidak ditemukannya gejala tersebut pada saat pemeriksaan tidak menyingkirkan kemungkinan diagnosis gangguan spektrum autisme apabila minat yang terbatas dan perilaku berulang pernah muncul pada masa sebelumnya. Diagnosis gangguan komunikasi sosial (pragmatik) hanya perlu dipertimbangkan apabila gejala saat ini maupun riwayat perkembangan tidak menunjukkan bukti adanya gejala yang memenuhi kriteria diagnostik pola perilaku, minat, atau aktivitas yang terbatas dan berulang pada gangguan spektrum autisme (yaitu Kriteria B) yang menyebabkan gangguan fungsi saat ini. Gejala komunikasi sosial pada gangguan komunikasi sosial (pragmatik) mungkin lebih ringan dibandingkan pada gangguan spektrum autisme, meskipun secara kualitatif memiliki karakteristik yang serupa.
Defisit utama pada gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (ADHD) dapat menyebabkan gangguan dalam komunikasi sosial serta keterbatasan fungsi dalam komunikasi yang efektif, partisipasi sosial, atau pencapaian akademik.
Gejala gangguan komunikasi sosial (pragmatik) memiliki kemiripan dengan gejala gangguan kecemasan sosial. Karakteristik yang membedakan kedua gangguan tersebut adalah waktu awal kemunculan gejala. Pada gangguan komunikasi sosial (pragmatik), individu tidak pernah memiliki kemampuan komunikasi sosial yang efektif. Sebaliknya, pada gangguan kecemasan sosial, kemampuan komunikasi sosial telah berkembang secara sesuai, tetapi tidak digunakan karena adanya kecemasan, ketakutan, atau tekanan emosional yang berkaitan dengan interaksi sosial.
Kemampuan komunikasi sosial dapat mengalami defisit pada individu dengan keterlambatan perkembangan global atau gangguan perkembangan intelektual. Namun, diagnosis gangguan komunikasi sosial (pragmatik) yang terpisah tidak diberikan kecuali apabila defisit komunikasi sosial tersebut secara jelas lebih berat daripada keterbatasan yang dapat dijelaskan oleh kemampuan intelektual individu.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.