F81.0 F81.2 F81.81 1_13

Gangguan Belajar Spesifik

Specific Learning Disorder

Motor Disorders DSM-5-TR 5x dibaca

Kriteria Diagnostik

  1. Kesulitan dalam mempelajari dan menggunakan keterampilan akademik, yang ditunjukkan oleh adanya setidaknya satu dari gejala berikut yang telah menetap selama sekurang-kurangnya 6 bulan, meskipun telah diberikan intervensi yang ditujukan untuk mengatasi kesulitan tersebut: (1) Membaca kata secara tidak akurat atau lambat dan membutuhkan usaha yang besar (misalnya, membaca kata tunggal dengan suara keras secara tidak tepat atau lambat dan ragu-ragu, sering menebak kata, serta mengalami kesulitan melafalkan kata berdasarkan bunyinya). (2) Kesulitan memahami makna dari sesuatu yang dibaca (misalnya, mampu membaca teks secara akurat, tetapi tidak memahami urutan, hubungan, inferensi, atau makna yang lebih mendalam dari bacaan tersebut). (3) Kesulitan dalam mengeja (misalnya, menambahkan, menghilangkan, atau mengganti huruf vokal maupun konsonan). (4) Kesulitan dalam ekspresi tertulis (misalnya, melakukan banyak kesalahan tata bahasa atau tanda baca dalam kalimat; menggunakan pengorganisasian paragraf yang buruk; serta mengekspresikan gagasan secara tertulis dengan kurang jelas). (5) Kesulitan menguasai pemahaman dasar tentang bilangan, fakta-fakta bilangan, atau perhitungan (misalnya, memiliki pemahaman yang buruk mengenai bilangan, besaran, dan hubungan antarbilangan; menggunakan jari untuk menjumlahkan bilangan satu digit daripada mengingat fakta aritmetika sebagaimana dilakukan teman sebayanya; kehilangan arah di tengah proses perhitungan aritmetika dan mungkin berganti prosedur). (6) Kesulitan dalam penalaran matematis (misalnya, mengalami kesulitan berat dalam menerapkan konsep, fakta, atau prosedur matematika untuk menyelesaikan masalah kuantitatif).
  2. Keterampilan akademik yang mengalami gangguan berada secara substansial dan terukur di bawah tingkat yang diharapkan berdasarkan usia kronologis individu, serta menyebabkan gangguan yang signifikan terhadap kinerja akademik atau pekerjaan maupun aktivitas kehidupan sehari-hari. Hal ini dikonfirmasi melalui pengukuran prestasi terstandar yang diberikan secara individual dan asesmen klinis yang komprehensif. Bagi individu berusia 17 tahun ke atas, riwayat kesulitan belajar yang terdokumentasi dan menyebabkan gangguan fungsi dapat digunakan sebagai pengganti asesmen terstandar.
  3. Kesulitan belajar dimulai selama usia sekolah, tetapi mungkin belum sepenuhnya terlihat hingga tuntutan terhadap keterampilan akademik yang mengalami gangguan tersebut melampaui kapasitas individu yang terbatas (misalnya, dalam tes dengan batas waktu, membaca atau menulis laporan panjang dan kompleks dengan tenggat waktu yang singkat, atau menghadapi beban akademik yang sangat berat).
  4. Kesulitan belajar tersebut tidak lebih tepat dijelaskan oleh disabilitas intelektual, gangguan ketajaman penglihatan atau pendengaran yang belum dikoreksi, gangguan mental atau neurologis lainnya, kondisi psikososial yang merugikan, kurangnya penguasaan bahasa yang digunakan dalam pembelajaran akademik, atau pengajaran pendidikan yang tidak memadai.

Catatan: Keempat kriteria diagnostik tersebut harus dipenuhi berdasarkan sintesis klinis terhadap riwayat individu (perkembangan, medis, keluarga, dan pendidikan), laporan sekolah, serta asesmen psikoedukasional.

Catatan pengodean: Tentukan seluruh domain akademik dan subketerampilan yang mengalami gangguan. Apabila lebih dari satu domain mengalami gangguan, masing-masing domain harus diberikan kode secara terpisah sesuai dengan penentu spesifikasi berikut.

Tentukan Apakah

F81.0 Dengan gangguan dalam membaca:

  • Ketepatan membaca kata.
  • Kecepatan atau kelancaran membaca.
  • Pemahaman bacaan.

Catatan: Disleksia merupakan istilah alternatif yang digunakan untuk merujuk pada pola kesulitan belajar yang ditandai oleh masalah dalam mengenali kata secara akurat atau lancar, kemampuan menguraikan kode bunyi kata yang buruk, serta kemampuan mengeja yang buruk. Apabila istilah disleksia digunakan untuk menentukan pola kesulitan khusus ini, penting juga untuk menentukan kesulitan tambahan yang mungkin ada, seperti kesulitan memahami bacaan atau penalaran matematika.

F81.81 Dengan gangguan dalam ekspresi tertulis:

  • Ketepatan mengeja.
  • Ketepatan tata bahasa dan tanda baca.
  • Kejelasan atau pengorganisasian ekspresi tertulis.

F81.2 Dengan gangguan dalam matematika:

  • Pemahaman dasar tentang bilangan.
  • Kemampuan mengingat fakta-fakta aritmetika.
  • Ketepatan atau kelancaran perhitungan.
  • Ketepatan penalaran matematika.

Catatan: Diskalkulia merupakan istilah alternatif yang digunakan untuk merujuk pada pola kesulitan yang ditandai oleh masalah dalam memproses informasi numerik, mempelajari fakta-fakta aritmetika, serta melakukan perhitungan secara akurat atau lancar. Apabila istilah diskalkulia digunakan untuk menentukan pola kesulitan matematika khusus ini, penting juga untuk menentukan kesulitan tambahan yang mungkin ada, seperti kesulitan dalam penalaran matematika atau ketepatan penalaran kata.

Tentukan Tingkat Keparahan Saat Ini

Ringan: Terdapat beberapa kesulitan dalam mempelajari keterampilan pada satu atau dua domain akademik, tetapi tingkat keparahannya cukup ringan sehingga individu mungkin mampu melakukan kompensasi atau berfungsi dengan baik apabila diberikan penyesuaian yang sesuai atau layanan dukungan, terutama selama masa sekolah.

Sedang: Terdapat kesulitan yang nyata dalam mempelajari keterampilan pada satu atau lebih domain akademik, sehingga individu kecil kemungkinannya mencapai penguasaan keterampilan tanpa beberapa periode pengajaran yang intensif dan khusus selama masa sekolah. Beberapa penyesuaian atau layanan dukungan mungkin diperlukan setidaknya selama sebagian waktu dalam sehari di sekolah, tempat kerja, atau rumah agar individu dapat menyelesaikan aktivitas secara akurat dan efisien.

Berat: Terdapat kesulitan berat dalam mempelajari keterampilan yang memengaruhi beberapa domain akademik, sehingga individu kecil kemungkinannya dapat mempelajari keterampilan tersebut tanpa pengajaran individual yang intensif, berkelanjutan, dan khusus selama sebagian besar masa sekolah. Bahkan dengan berbagai penyesuaian atau layanan yang sesuai di rumah, sekolah, maupun tempat kerja, individu mungkin tetap tidak mampu menyelesaikan seluruh aktivitas secara efisien.

Prosedur Pencatatan

Setiap domain akademik dan subketerampilan yang mengalami gangguan dalam gangguan belajar spesifik harus dicatat. Karena persyaratan pengodean ICD, gangguan dalam membaca, gangguan dalam ekspresi tertulis, dan gangguan dalam matematika, beserta gangguan pada subketerampilan yang bersesuaian, harus diberikan kode dan dicatat secara terpisah. Sebagai contoh, gangguan dalam membaca dan matematika, serta gangguan pada subketerampilan kecepatan atau kelancaran membaca, pemahaman bacaan, ketepatan atau kelancaran perhitungan, dan ketepatan penalaran matematika, akan diberikan kode dan dicatat sebagai F81.0 gangguan belajar spesifik dengan gangguan dalam membaca, dengan gangguan pada kecepatan atau kelancaran membaca, dan gangguan dalam pemahaman bacaan; serta F81.2 gangguan belajar spesifik dengan gangguan dalam matematika, dengan gangguan pada ketepatan atau kelancaran perhitungan dan gangguan dalam ketepatan penalaran matematika.

Karakteristik Diagnostik

Gangguan belajar spesifik merupakan gangguan perkembangan saraf yang memiliki asal-usul biologis, yang mendasari kelainan pada tingkat kognitif yang berkaitan dengan tanda-tanda perilaku gangguan tersebut. Asal-usul biologis ini mencakup interaksi antara faktor genetik, epigenetik, dan lingkungan yang memengaruhi kemampuan otak untuk menerima atau memproses informasi verbal maupun nonverbal secara efisien dan akurat.

Salah satu karakteristik utama gangguan belajar spesifik adalah kesulitan yang menetap dalam mempelajari keterampilan akademik dasar yang penting (Kriteria A), dengan awal kemunculan selama masa pendidikan formal (yaitu periode perkembangan). Keterampilan akademik utama mencakup kemampuan membaca kata tunggal secara akurat dan lancar, pemahaman bacaan, ekspresi tertulis dan ejaan, perhitungan aritmetika, serta penalaran matematis (pemecahan masalah matematika). Berbeda dengan berbicara atau berjalan, yang merupakan tonggak perkembangan yang diperoleh seiring pematangan otak, keterampilan akademik (misalnya, membaca, mengeja, menulis, dan matematika) harus diajarkan dan dipelajari secara eksplisit. Gangguan belajar spesifik mengganggu pola normal pembelajaran keterampilan akademik; gangguan ini bukan sekadar akibat kurangnya kesempatan belajar atau pengajaran yang tidak memadai. Kesulitan menguasai keterampilan akademik utama tersebut juga dapat menghambat pembelajaran dalam mata pelajaran akademik lainnya (misalnya, sejarah, sains, dan ilmu sosial), tetapi masalah tersebut disebabkan oleh kesulitan mempelajari keterampilan akademik yang mendasarinya.

Kesulitan mempelajari hubungan antara huruf dan bunyi dalam suatu bahasa untuk membaca kata-kata yang tercetak, yang sering disebut disleksia (gangguan belajar spesifik dengan gangguan dalam membaca), merupakan salah satu manifestasi gangguan belajar spesifik yang paling umum. Kesulitan belajar tersebut ditunjukkan melalui berbagai perilaku atau gejala deskriptif yang dapat diamati (sebagaimana tercantum dalam Kriteria A1–A6). Gejala klinis tersebut dapat diamati, digali melalui wawancara klinis, atau diketahui melalui laporan sekolah, skala penilaian, maupun deskripsi dalam asesmen pendidikan atau psikologis sebelumnya. Kesulitan belajar tersebut bersifat menetap, bukan sementara. Pada anak-anak dan remaja, sifat menetap didefinisikan sebagai kemajuan belajar yang terbatas (yaitu tidak terdapat bukti bahwa individu mulai mengejar ketertinggalannya dari teman sekelas) selama setidaknya 6 bulan meskipun telah diberikan bantuan tambahan di rumah atau sekolah. Sebagai contoh, kesulitan mempelajari cara membaca kata tunggal yang tidak sepenuhnya membaik atau tidak membaik dengan cepat setelah diberikan pengajaran keterampilan fonologis atau strategi pengenalan kata dapat menunjukkan adanya gangguan belajar spesifik. Bukti kesulitan belajar yang menetap dapat diperoleh dari kumpulan laporan sekolah, portofolio pekerjaan anak yang telah dinilai, pengukuran berbasis kurikulum, atau wawancara klinis. Pada orang dewasa, kesulitan yang menetap mengacu pada kesulitan berkelanjutan dalam keterampilan literasi atau numerasi yang telah muncul selama masa kanak-kanak atau remaja, sebagaimana ditunjukkan oleh bukti kumulatif dari laporan sekolah, portofolio pekerjaan yang telah dievaluasi, atau asesmen sebelumnya.

Karakteristik utama kedua adalah bahwa kinerja individu dalam keterampilan akademik yang mengalami gangguan berada jauh di bawah tingkat yang diharapkan berdasarkan usia (Kriteria B). Salah satu indikator klinis yang kuat mengenai kesulitan mempelajari keterampilan akademik adalah pencapaian akademik yang rendah untuk usia individu atau pencapaian rata-rata yang hanya dapat dipertahankan melalui tingkat usaha atau dukungan yang sangat tinggi. Pada anak-anak, keterampilan akademik yang rendah menyebabkan gangguan yang signifikan terhadap kinerja sekolah (sebagaimana ditunjukkan oleh laporan sekolah serta nilai atau penilaian guru). Indikator klinis lainnya, terutama pada orang dewasa, adalah perilaku menghindari aktivitas yang membutuhkan keterampilan akademik tersebut. Pada masa dewasa, keterampilan akademik yang rendah juga mengganggu kinerja pekerjaan atau aktivitas sehari-hari yang memerlukan keterampilan tersebut (sebagaimana ditunjukkan oleh laporan diri atau laporan orang lain). Namun, kriteria ini juga mensyaratkan bukti psikometrik dari tes prestasi akademik yang diberikan secara individual, memiliki kualitas psikometrik yang baik, sesuai secara budaya, serta menggunakan acuan norma atau acuan kriteria. Keterampilan akademik tersebar sepanjang suatu kontinum, sehingga tidak terdapat titik batas alami yang dapat digunakan untuk membedakan individu dengan dan tanpa gangguan belajar spesifik. Oleh karena itu, setiap ambang batas yang digunakan untuk menentukan apa yang dianggap sebagai pencapaian akademik yang sangat rendah (misalnya, keterampilan akademik yang jauh di bawah harapan usia) pada tingkat yang cukup besar bersifat arbitrer. Skor prestasi yang rendah pada satu atau lebih tes atau subtes terstandar dalam suatu domain akademik (yaitu setidaknya 1,5 simpangan baku [SD] di bawah rata-rata populasi berdasarkan usia, yang setara dengan skor standar 78 atau kurang, yaitu berada di bawah persentil ke-7) diperlukan untuk memperoleh kepastian diagnostik yang paling tinggi. Namun, skor yang tepat akan bervariasi sesuai dengan tes terstandar tertentu yang digunakan. Berdasarkan pertimbangan klinis, ambang batas yang lebih longgar dapat digunakan (misalnya, 1,0 SD di bawah rata-rata populasi berdasarkan usia) apabila kesulitan belajar didukung oleh bukti yang saling menguatkan dari asesmen klinis, riwayat akademik, laporan sekolah, atau skor tes. Selain itu, karena tes terstandar tidak tersedia dalam semua bahasa, diagnosis dapat didasarkan sebagian pada pertimbangan klinis terhadap skor dari alat tes yang tersedia.

Karakteristik utama ketiga adalah bahwa pada sebagian besar individu, kesulitan belajar sudah terlihat jelas pada tahun-tahun awal sekolah (Kriteria C). Namun, pada individu lainnya, kesulitan belajar mungkin belum sepenuhnya muncul hingga tahun-tahun sekolah selanjutnya, ketika tuntutan pembelajaran telah meningkat dan melampaui kapasitas individu yang terbatas.

Karakteristik diagnostik penting lainnya adalah bahwa kesulitan belajar dianggap bersifat “spesifik” karena empat alasan. Pertama, kesulitan tersebut tidak lebih tepat dijelaskan oleh gangguan perkembangan intelektual (gangguan perkembangan intelektual [disabilitas intelektual]; keterlambatan perkembangan global), gangguan pendengaran atau penglihatan, maupun gangguan neurologis atau motorik (Kriteria D). Gangguan belajar spesifik memengaruhi proses pembelajaran pada individu yang dalam aspek lainnya menunjukkan tingkat fungsi intelektual normal (umumnya diperkirakan berdasarkan skor IQ yang lebih besar dari sekitar 70 [± 5 poin untuk memperhitungkan kesalahan pengukuran]). Ungkapan “pencapaian akademik yang rendah secara tidak terduga” sering disebut sebagai karakteristik yang mendefinisikan gangguan belajar spesifik, karena kesulitan belajar spesifik tersebut bukan merupakan bagian dari kesulitan belajar yang lebih umum sebagaimana terlihat pada gangguan perkembangan intelektual atau keterlambatan perkembangan global.

Kedua, kesulitan belajar tersebut tidak dapat dikaitkan dengan faktor eksternal yang lebih umum, seperti kondisi ekonomi atau lingkungan yang tidak menguntungkan, ketidakhadiran kronis di sekolah, atau kurangnya pendidikan yang biasanya tersedia dalam konteks komunitas individu. Ketiga, kesulitan belajar tidak dapat dikaitkan dengan gangguan neurologis (misalnya, stroke pada anak) atau gangguan motorik maupun gangguan penglihatan atau pendengaran, yang sering berkaitan dengan masalah dalam mempelajari keterampilan akademik tetapi dapat dibedakan melalui adanya tanda-tanda neurologis. Terakhir, kesulitan belajar mungkin terbatas pada satu keterampilan atau domain akademik (misalnya, membaca kata tunggal, mengingat kembali fakta-fakta bilangan, atau melakukan perhitungan berdasarkan fakta-fakta tersebut).

Gangguan belajar spesifik juga dapat terjadi pada individu yang diidentifikasi memiliki kemampuan intelektual “berbakat”. Individu tersebut mungkin mampu mempertahankan fungsi akademik yang tampak memadai dengan menggunakan strategi kompensasi, usaha yang sangat besar, atau dukungan, hingga tuntutan pembelajaran atau prosedur asesmen (misalnya, tes dengan batas waktu) menjadi hambatan bagi mereka untuk menunjukkan hasil pembelajaran atau menyelesaikan tugas yang diwajibkan. Dalam kasus tersebut, skor prestasi individu akan rendah dibandingkan dengan tingkat kemampuannya atau pencapaian pada domain lainnya, bukan dibandingkan dengan rata-rata pencapaian populasi.

Asesmen yang komprehensif diperlukan. Gangguan belajar spesifik hanya dapat didiagnosis setelah pendidikan formal dimulai, tetapi dapat didiagnosis kapan saja setelahnya pada anak-anak, remaja, atau orang dewasa, selama terdapat bukti bahwa gangguan mulai muncul pada masa pendidikan formal (yaitu periode perkembangan). Tidak ada satu sumber data pun yang cukup untuk menegakkan diagnosis gangguan belajar spesifik. Sebaliknya, gangguan belajar spesifik merupakan diagnosis klinis yang didasarkan pada sintesis riwayat medis, perkembangan, pendidikan, dan keluarga individu; riwayat kesulitan belajar, termasuk manifestasi sebelumnya dan saat ini; dampak kesulitan terhadap fungsi akademik, pekerjaan, atau sosial; laporan sekolah sebelumnya atau saat ini; portofolio pekerjaan yang membutuhkan keterampilan akademik; asesmen berbasis kurikulum; serta skor sebelumnya atau saat ini dari tes prestasi akademik terstandar yang diberikan secara individual. Apabila dicurigai adanya gangguan intelektual, sensorik, neurologis, atau motorik, asesmen klinis untuk gangguan belajar spesifik juga harus mencakup metode yang sesuai untuk gangguan tersebut. Dengan demikian, asesmen komprehensif akan melibatkan tenaga profesional yang memiliki keahlian dalam gangguan belajar spesifik serta asesmen psikologis atau kognitif. Karena gangguan belajar spesifik biasanya menetap hingga masa dewasa, asesmen ulang jarang diperlukan, kecuali apabila terdapat perubahan yang nyata dalam kesulitan belajar (perbaikan atau perburukan) atau apabila asesmen ulang diminta untuk tujuan tertentu.

Karakteristik yang Menyertai

Gejala gangguan belajar spesifik (kesulitan dalam aspek membaca, menulis, atau matematika) sering terjadi secara bersamaan. Profil kemampuan yang tidak merata merupakan hal yang umum, misalnya kombinasi kemampuan di atas rata-rata dalam menggambar, desain, dan kemampuan visuospasial lainnya, disertai kemampuan membaca yang lambat, membutuhkan usaha besar, dan tidak akurat, serta pemahaman bacaan dan ekspresi tertulis yang buruk. Gangguan belajar spesifik sering, meskipun tidak selalu, didahului oleh keterlambatan perhatian, bahasa, atau keterampilan motorik pada masa prasekolah yang mungkin menetap dan terjadi bersamaan dengan gangguan belajar spesifik.

Individu dengan gangguan belajar spesifik biasanya, meskipun tidak selalu, menunjukkan kinerja yang buruk pada tes psikologis yang mengukur pemrosesan kognitif. Namun, masih belum jelas apakah kelainan kognitif tersebut merupakan penyebab, memiliki hubungan korelasional, atau merupakan akibat dari kesulitan belajar. Defisit kognitif yang berkaitan dengan kesulitan mempelajari cara membaca kata telah didokumentasikan dengan baik, dan pemahaman mengenai defisit kognitif yang berkaitan dengan kesulitan memperoleh keterampilan matematika terus berkembang. Namun, defisit kognitif yang berkaitan dengan manifestasi lain dari gangguan belajar spesifik (misalnya, pemahaman bacaan dan ekspresi tertulis) masih belum dijelaskan secara memadai.

Meskipun defisit kognitif tertentu secara khusus berkontribusi terhadap masing-masing gejala gangguan belajar spesifik, beberapa defisit kognitif ditemukan pada berbagai subtipe gangguan belajar spesifik (misalnya, kecepatan pemrosesan) dan dapat berkontribusi terhadap gejala gangguan belajar spesifik yang muncul secara bersamaan. Sifat gejala gangguan belajar spesifik yang sering terjadi bersamaan serta adanya defisit kognitif yang sama pada berbagai subtipe gangguan belajar spesifik menunjukkan kemungkinan adanya mekanisme biologis mendasar yang sama.

Dengan demikian, individu yang memiliki gejala perilaku atau skor tes yang serupa dapat menunjukkan berbagai defisit kognitif, dan banyak dari defisit pemrosesan tersebut juga ditemukan pada gangguan perkembangan saraf lainnya (misalnya, gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas [ADHD], gangguan spektrum autisme, gangguan komunikasi, dan gangguan koordinasi perkembangan).

Sebagai suatu kelompok, individu dengan gangguan tersebut menunjukkan perubahan yang terbatas pada aspek tertentu dalam pemrosesan kognitif serta struktur dan fungsi otak. Perbedaan genetik juga terlihat pada tingkat kelompok. Namun, tes kognitif, pencitraan saraf, atau tes genetik saat ini belum bermanfaat untuk menegakkan diagnosis, dan asesmen terhadap defisit pemrosesan kognitif tidak diwajibkan dalam asesmen diagnostik.

Prevalensi

Prevalensi gangguan belajar spesifik pada domain akademik membaca, menulis, dan matematika berkisar antara 5%–15% pada anak-anak usia sekolah di Brasil, Irlandia Utara, dan Amerika Serikat. Prevalensi pada orang dewasa belum diketahui.

Perkembangan dan Perjalanan Gangguan

Awal kemunculan, pengenalan, dan diagnosis gangguan belajar spesifik biasanya terjadi selama masa sekolah dasar ketika anak-anak diharuskan mempelajari keterampilan membaca, mengeja, menulis, dan matematika. Namun, tanda-tanda awal seperti keterlambatan atau defisit bahasa, kesulitan mengenali rima atau berhitung, maupun kesulitan dalam keterampilan motorik halus yang diperlukan untuk menulis, umumnya muncul pada masa kanak-kanak awal sebelum dimulainya pendidikan formal.

Manifestasi gangguan dapat berupa perilaku (misalnya, keengganan untuk terlibat dalam pembelajaran atau perilaku menentang). Gangguan belajar spesifik berlangsung sepanjang kehidupan, tetapi perjalanan dan ekspresi klinisnya bervariasi, sebagian bergantung pada interaksi antara tuntutan tugas dalam lingkungan, jenis dan tingkat keparahan kesulitan belajar individu, kemampuan belajar individu, komorbiditas, serta sistem dukungan dan intervensi yang tersedia. Meskipun demikian, masalah dalam kelancaran dan pemahaman membaca, ejaan, ekspresi tertulis, serta keterampilan numerasi dalam kehidupan sehari-hari biasanya menetap hingga masa dewasa.

Perubahan manifestasi gejala terjadi seiring bertambahnya usia, sehingga individu mungkin mengalami serangkaian kesulitan belajar yang menetap atau berubah sepanjang kehidupan. Orang dewasa dengan gangguan belajar spesifik tampaknya mengalami keterbatasan dan hambatan dalam aktivitas serta partisipasi pada bidang komunikasi, interaksi interpersonal dan kehidupan bermasyarakat, serta kehidupan sosial dan kewargaan.

Contoh gejala yang dapat diamati pada anak usia prasekolah mencakup kurangnya minat untuk memainkan permainan yang melibatkan bunyi bahasa (misalnya, pengulangan dan rima), serta kesulitan mempelajari sajak atau lagu anak-anak. Anak prasekolah dengan gangguan belajar spesifik mungkin sering menggunakan bahasa kekanak-kanakan, salah mengucapkan kata, dan mengalami kesulitan mengingat nama-nama huruf, angka, atau hari dalam seminggu. Mereka mungkin gagal mengenali huruf dalam nama mereka sendiri dan mengalami kesulitan belajar berhitung. Anak usia taman kanak-kanak dengan gangguan belajar spesifik mungkin tidak mampu mengenali dan menulis huruf, tidak mampu menulis nama sendiri, atau terus menggunakan ejaan yang dibuat sendiri melampaui rentang waktu yang lazim menurut tahap perkembangan.

Mereka mungkin mengalami kesulitan memisahkan kata yang diucapkan menjadi suku kata (misalnya, kata “cowboy” menjadi “cow” dan “boy”) serta kesulitan mengenali kata-kata yang memiliki rima (misalnya, cat, bat, hat). Anak usia taman kanak-kanak juga mungkin mengalami kesulitan menghubungkan huruf dengan bunyinya (misalnya, huruf b menghasilkan bunyi /b/) dan mungkin tidak mampu mengenali fonem (misalnya, tidak mengetahui kata mana dalam suatu kelompok kata [misalnya, dog, man, car] yang dimulai dengan bunyi yang sama seperti kata “cat”).

Gangguan belajar spesifik pada anak usia sekolah dasar biasanya ditunjukkan melalui kesulitan yang nyata dalam mempelajari hubungan huruf dan bunyi (terutama pada anak-anak yang menggunakan bahasa Inggris), menguraikan kode kata secara lancar, mengeja, atau menguasai fakta matematika; membaca dengan suara keras dilakukan secara lambat, tidak akurat, dan membutuhkan usaha besar, serta sebagian anak mengalami kesulitan memahami besaran yang diwakili oleh suatu bilangan yang diucapkan atau ditulis. Anak-anak pada kelas awal sekolah dasar (kelas 1–3) mungkin terus mengalami masalah dalam mengenali dan memanipulasi fonem, tidak mampu membaca kata umum yang terdiri atas satu suku kata (seperti mat atau top), serta tidak mampu mengenali kata umum dengan ejaan tidak beraturan (misalnya, said, two). Mereka mungkin melakukan kesalahan membaca yang menunjukkan masalah dalam menghubungkan bunyi dan huruf (misalnya, membaca “big” sebagai pengganti “got”) dan mengalami kesulitan mengurutkan angka serta huruf. Anak-anak kelas 1–3 juga mungkin mengalami kesulitan mengingat fakta bilangan atau prosedur aritmetika untuk penjumlahan, pengurangan, dan sebagainya, serta mungkin mengeluhkan bahwa membaca atau berhitung sulit dan menghindari aktivitas tersebut. Anak-anak dengan gangguan belajar spesifik pada kelas menengah sekolah dasar (kelas 4–6) mungkin salah mengucapkan atau melewatkan bagian dari kata panjang yang terdiri atas banyak suku kata (misalnya, mengucapkan “conible” sebagai pengganti “convertible” atau “aminal” sebagai pengganti “animal”) serta mencampuradukkan kata-kata yang terdengar mirip (misalnya, “tornado” sebagai pengganti “volcano”). Mereka mungkin mengalami kesulitan mengingat tanggal, nama, dan nomor telepon serta kesulitan menyelesaikan pekerjaan rumah atau tes tepat waktu. Anak-anak pada kelas menengah juga mungkin menunjukkan pemahaman bacaan yang buruk, baik disertai maupun tanpa kemampuan membaca yang lambat, membutuhkan usaha besar, dan tidak akurat, serta mungkin mengalami kesulitan membaca kata-kata fungsi yang pendek (misalnya, that, the, an, in). Mereka mungkin memiliki kemampuan mengeja yang sangat buruk dan menghasilkan pekerjaan tertulis yang kurang baik. Mereka mungkin mampu membaca bagian awal suatu kata secara benar, tetapi kemudian menebak secara sembarangan (misalnya, membaca “clover” sebagai “clock”), serta mungkin menunjukkan ketakutan untuk membaca dengan suara keras atau menolak melakukannya.

Sebaliknya, remaja mungkin telah menguasai kemampuan menguraikan kode kata, tetapi kemampuan membaca tetap lambat dan membutuhkan usaha besar. Mereka kemungkinan menunjukkan masalah yang nyata dalam pemahaman bacaan dan ekspresi tertulis (termasuk kemampuan mengeja yang buruk), serta penguasaan fakta matematika atau pemecahan masalah matematika yang rendah. Selama masa remaja hingga dewasa, individu dengan gangguan belajar spesifik mungkin terus melakukan banyak kesalahan ejaan dan membaca kata tunggal maupun teks yang saling terhubung secara lambat dan dengan usaha yang besar, serta mengalami kesulitan mengucapkan kata-kata yang terdiri atas banyak suku kata. Mereka mungkin sering perlu membaca ulang materi untuk memahami atau menangkap gagasan utamanya dan mengalami kesulitan membuat inferensi dari teks tertulis. Remaja dan orang dewasa mungkin menghindari aktivitas yang membutuhkan kemampuan membaca atau aritmetika (misalnya, membaca untuk kesenangan atau membaca petunjuk). Orang dewasa dengan gangguan belajar spesifik memiliki masalah ejaan yang berkelanjutan, membaca secara lambat dan membutuhkan usaha besar, atau mengalami kesulitan menarik kesimpulan penting dari informasi numerik dalam dokumen tertulis yang berkaitan dengan pekerjaan. Mereka mungkin menghindari aktivitas waktu luang maupun pekerjaan yang membutuhkan kemampuan membaca atau menulis, atau menggunakan pendekatan alternatif untuk mengakses materi tertulis (misalnya, perangkat lunak pengubah teks menjadi suara atau suara menjadi teks, buku audio, serta media audiovisual).

Bentuk ekspresi klinis alternatif adalah kesulitan belajar yang terbatas pada bidang tertentu dan menetap sepanjang kehidupan, seperti ketidakmampuan menguasai pemahaman dasar tentang bilangan (misalnya, mengetahui bilangan atau kelompok titik mana dari sepasang pilihan yang menunjukkan besaran lebih besar), atau kurangnya kemahiran dalam mengenali kata atau mengeja. Menghindari atau enggan terlibat dalam aktivitas yang membutuhkan keterampilan akademik merupakan hal yang umum pada anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Individu dengan keterampilan membaca dan matematika yang buruk lebih mungkin melaporkan tekanan sosial-emosional (misalnya, kesedihan dan kesepian) seiring kemajuan mereka melalui jenjang kelas sekolah dasar.

Episode kecemasan berat atau gangguan kecemasan, termasuk keluhan somatik atau serangan panik, umum terjadi sepanjang kehidupan dan menyertai baik bentuk kesulitan belajar yang terbatas pada bidang tertentu maupun bentuk kesulitan belajar yang lebih luas.

Faktor Risiko dan Prognostik

Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan, termasuk kondisi sosial ekonomi (misalnya, status sosial ekonomi yang rendah) dan paparan zat neurotoksik, meningkatkan risiko gangguan belajar spesifik atau kesulitan dalam membaca dan matematika. Risiko gangguan belajar spesifik atau kesulitan membaca dan matematika mencakup paparan selama masa prenatal atau kehidupan awal terhadap salah satu faktor berikut: polusi udara, nikotin, eter difenil polibrominasi atau bifenil poliklorinasi (zat penghambat api), timbal, atau mangan.

Faktor Genetik dan Fisiologis

Gangguan belajar spesifik tampaknya cenderung muncul dalam keluarga, terutama apabila memengaruhi kemampuan membaca, matematika, dan mengeja. Risiko relatif gangguan belajar spesifik dalam membaca atau matematika secara substansial lebih tinggi (misalnya, masing-masing 4–8 kali dan 5–10 kali lebih tinggi) pada kerabat biologis tingkat pertama dari individu dengan kesulitan belajar tersebut dibandingkan dengan kerabat individu yang tidak mengalami kesulitan tersebut. Perlu diperhatikan bahwa angka kejadian bervariasi bergantung pada metode identifikasi status diagnostik orang tua (tes objektif atau laporan diri). Riwayat keluarga dengan kesulitan membaca (disleksia) dan keterampilan literasi orang tua dapat memprediksi masalah literasi atau gangguan belajar spesifik pada keturunannya, yang menunjukkan peran gabungan faktor genetik dan lingkungan.

Heritabilitas yang tinggi ditemukan baik pada kemampuan membaca maupun disabilitas membaca dalam bahasa alfabetis dan nonalfabetis, termasuk heritabilitas yang tinggi pada sebagian besar manifestasi kemampuan dan disabilitas belajar (misalnya, nilai perkiraan heritabilitas lebih besar dari 0,6). Kovariasi antara berbagai manifestasi kesulitan belajar tergolong tinggi, yang menunjukkan bahwa gen yang berkaitan dengan satu bentuk manifestasi memiliki korelasi yang tinggi dengan gen yang berkaitan dengan manifestasi lainnya.

Kelahiran prematur atau berat badan lahir yang sangat rendah merupakan faktor risiko gangguan belajar spesifik. Pada individu dengan neurofibromatosis tipe 1, risiko gangguan belajar spesifik tergolong tinggi, dengan hingga 75% individu menunjukkan adanya gangguan belajar.

Faktor yang Memengaruhi Perjalanan Gangguan

Masalah yang nyata berupa perilaku kurang memperhatikan, perilaku internalisasi, dan perilaku eksternalisasi pada masa prasekolah dapat memprediksi kesulitan membaca dan matematika di kemudian hari (tetapi tidak selalu gangguan belajar spesifik), serta tidak adanya respons terhadap intervensi akademik yang efektif. Gangguan bahasa pada masa prasekolah memiliki hubungan yang kuat dengan gangguan membaca di kemudian hari (misalnya, membaca kata dan pemahaman bacaan). Sebagai contoh, keterlambatan atau gangguan bicara maupun bahasa, atau gangguan pemrosesan kognitif (misalnya, kesadaran fonologis, memori kerja, dan penamaan berurutan secara cepat), dapat memprediksi gangguan belajar spesifik dalam membaca dan ekspresi tertulis di kemudian hari. Selain itu, diagnosis ADHD pada masa kanak-kanak berkaitan dengan rendahnya pencapaian membaca dan matematika pada masa dewasa. Komorbiditas dengan ADHD dapat memprediksi hasil kesehatan mental yang lebih buruk dibandingkan dengan gangguan belajar spesifik tanpa ADHD. Pengajaran yang sistematis, intensif, dan diindividualisasikan dengan menggunakan intervensi berbasis bukti dapat meningkatkan atau mengurangi kesulitan belajar pada sebagian individu atau mendorong penggunaan strategi kompensasi pada individu lainnya, sehingga mengurangi dampak negatif yang mungkin terjadi.

Isu Diagnostik Terkait Budaya

Gangguan belajar spesifik terjadi pada berbagai latar belakang bahasa, ras, dan etnis serta dalam berbagai konteks budaya dan sosial ekonomi, tetapi manifestasinya dapat bervariasi sesuai dengan sifat sistem simbol lisan dan tulisan serta praktik budaya dan pendidikan. Sebagai contoh, tuntutan pemrosesan kognitif dalam membaca dan mengolah bilangan sangat bervariasi antar-sistem ortografi. Dalam bahasa Inggris, gejala klinis utama yang dapat diamati dari kesulitan belajar membaca adalah membaca kata tunggal secara tidak akurat dan lambat. Dalam bahasa alfabetis lain yang memiliki hubungan lebih langsung antara bunyi dan huruf (misalnya, bahasa Spanyol dan Jerman) serta dalam bahasa nonalfabetis (misalnya, bahasa Mandarin dan Jepang), karakteristik utamanya adalah membaca secara lambat tetapi akurat. Pada individu yang sedang mempelajari bahasa Inggris, asesmen harus mempertimbangkan apakah sumber kesulitan membaca adalah keterbatasan penguasaan bahasa Inggris atau gangguan belajar spesifik. Faktor risiko gangguan belajar spesifik pada pembelajar bahasa Inggris mencakup riwayat keluarga dengan gangguan belajar spesifik atau keterlambatan bahasa dalam bahasa ibu, serta kesulitan belajar dan defisit memori fonologis dalam bahasa Inggris dan kegagalan mengejar ketertinggalan dari teman sebaya. Apabila dicurigai adanya perbedaan budaya atau bahasa (misalnya, seorang pembelajar bahasa Inggris dipengaruhi oleh keterbatasan penguasaan bahasa Inggris), asesmen perlu mempertimbangkan kemampuan bahasa individu dalam bahasa pertama atau bahasa ibunya serta dalam bahasa kedua (dalam contoh ini, bahasa Inggris). Hal yang penting adalah bahwa anak-anak yang menggunakan bahasa di rumah dengan karakteristik fonologis berbeda dari bahasa pengantar akademik tidak lebih mungkin mengalami defisit fonologis dibandingkan teman sebaya yang menggunakan bahasa yang sama di rumah dan sekolah.

Kesulitan membaca yang terjadi bersamaan dapat bervariasi menurut bahasa yang digunakan. Sebagai contoh, kesulitan membaca lebih jarang ditemukan pada anak-anak di Taiwan yang membaca bahasa Mandarin dan mengalami gangguan koordinasi perkembangan dibandingkan anak-anak di negara berbahasa Inggris, kemungkinan karena karakteristik kedua bahasa tulis tersebut (logografis dibandingkan alfabetis). Pertimbangan dalam asesmen dapat mencakup konteks bahasa dan budaya tempat individu tinggal, serta riwayat pendidikan dan pembelajarannya dalam konteks bahasa dan budaya asal. Faktor risiko masalah belajar pada anak-anak pengungsi dan migran mencakup stereotip dan harapan yang rendah dari guru, perundungan, diskriminasi etnis dan ras, kesalahpahaman orang tua mengenai gaya dan harapan pendidikan, trauma, serta faktor stres setelah migrasi.

Isu Diagnostik Terkait Jenis Kelamin dan Gender

Gangguan belajar spesifik lebih sering ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan (dengan rasio berkisar antara sekitar 2:1 hingga 3:1), dan perbedaan tersebut tidak dapat dikaitkan dengan faktor seperti bias identifikasi, variasi definisi atau pengukuran, bahasa, latar belakang ras dan etnis, atau status sosial ekonomi. Perbedaan jenis kelamin dalam disleksia (gangguan belajar spesifik dengan gangguan dalam membaca) mungkin sebagian dimediasi oleh kecepatan pemrosesan.

Hubungan dengan Pikiran atau Perilaku Bunuh Diri

Pada remaja berusia 15 tahun yang bersekolah di sekolah negeri di Amerika Serikat, kemampuan membaca yang buruk berkaitan dengan pikiran dan perilaku bunuh diri dibandingkan dengan remaja yang memiliki skor membaca normal, bahkan setelah variabel sosiodemografis dan psikiatris dikendalikan. Dalam penelitian berbasis populasi terhadap orang dewasa di Kanada, prevalensi percobaan bunuh diri sepanjang hidup pada individu dengan gangguan belajar spesifik lebih tinggi dibandingkan individu tanpa gangguan belajar spesifik, bahkan setelah dilakukan penyesuaian terhadap pengalaman buruk pada masa kanak-kanak, riwayat gangguan mental dan penggunaan zat, serta faktor sosiodemografis. Di antara individu dengan gangguan belajar spesifik, riwayat menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga oleh orang tua yang berlangsung secara kronis dan riwayat pernah mengalami gangguan depresi mayor berkaitan dengan peningkatan risiko perilaku bunuh diri.

Konsekuensi Fungsional Gangguan Belajar Spesifik

Gangguan belajar spesifik dapat memiliki konsekuensi fungsional negatif sepanjang kehidupan, termasuk pencapaian akademik yang lebih rendah, angka putus sekolah menengah yang lebih tinggi, tingkat partisipasi pendidikan setelah sekolah menengah yang lebih rendah, tekanan psikologis yang tinggi dan kesehatan mental secara keseluruhan yang lebih buruk, tingkat pengangguran dan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuan yang lebih tinggi, serta pendapatan yang lebih rendah. Putus sekolah dan gejala depresi yang terjadi bersamaan meningkatkan risiko hasil kesehatan mental yang buruk, termasuk pikiran atau perilaku bunuh diri, sedangkan tingkat dukungan sosial atau emosional yang tinggi dapat memprediksi hasil kesehatan mental yang lebih baik.

Diagnosis Banding

Variasi Normal dalam Pencapaian Akademik

Gangguan belajar spesifik dibedakan dari variasi normal dalam pencapaian akademik yang disebabkan oleh faktor eksternal (misalnya, kurangnya kesempatan memperoleh pendidikan, kualitas pengajaran yang secara konsisten buruk, atau pembelajaran menggunakan bahasa kedua), karena kesulitan belajar tetap berlangsung meskipun individu telah memperoleh kesempatan pendidikan yang memadai, menerima pengajaran yang sama dengan kelompok teman sebayanya, dan memiliki penguasaan bahasa pengantar pembelajaran, bahkan apabila bahasa tersebut berbeda dari bahasa lisan utamanya.

Gangguan Perkembangan Intelektual (Disabilitas Intelektual)

Gangguan belajar spesifik berbeda dari kesulitan belajar umum yang berkaitan dengan gangguan perkembangan intelektual karena kesulitan belajar terjadi pada individu dengan tingkat fungsi intelektual yang normal (yaitu skor IQ setidaknya 70 ± 5). Apabila terdapat gangguan perkembangan intelektual, gangguan belajar spesifik hanya dapat didiagnosis ketika kesulitan belajar lebih berat daripada yang biasanya berkaitan dengan gangguan perkembangan intelektual tersebut.

Kesulitan Belajar Akibat Gangguan Neurologis atau Sensorik

Gangguan belajar spesifik dibedakan dari kesulitan belajar yang disebabkan oleh gangguan neurologis atau sensorik (misalnya, stroke pada anak, cedera otak traumatis, gangguan pendengaran, atau gangguan penglihatan), karena pada kondisi tersebut ditemukan hasil yang abnormal dalam pemeriksaan neurologis.

Gangguan Neurokognitif

Gangguan belajar spesifik dibedakan dari masalah belajar yang berkaitan dengan gangguan kognitif neurodegeneratif. Pada gangguan belajar spesifik, ekspresi klinis kesulitan belajar tertentu muncul selama periode perkembangan, yang terkadang baru terlihat ketika tuntutan pembelajaran meningkat dan melampaui kapasitas individu yang terbatas (sebagaimana dapat terjadi pada masa dewasa), dan kesulitan tersebut tidak ditunjukkan sebagai penurunan yang nyata dari kondisi sebelumnya.

Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas

Gangguan belajar spesifik dibedakan dari kinerja akademik yang buruk yang berkaitan dengan ADHD, karena pada kondisi ADHD masalah yang muncul tidak selalu mencerminkan kesulitan khusus dalam mempelajari keterampilan akademik, melainkan mungkin mencerminkan kesulitan dalam menerapkan keterampilan tersebut. Namun, gangguan belajar spesifik dan ADHD terjadi secara bersamaan lebih sering daripada yang diperkirakan berdasarkan kebetulan semata. Apabila kriteria kedua gangguan terpenuhi, kedua diagnosis dapat diberikan.

Gangguan Psikotik

Gangguan belajar spesifik dibedakan dari kesulitan pemrosesan kognitif yang berkaitan dengan skizofrenia atau gangguan psikotik lainnya, karena pada gangguan tersebut terdapat penurunan fungsi dalam domain-domain tersebut (sering kali secara cepat). Namun, defisit kemampuan membaca pada gangguan belajar spesifik lebih berat daripada yang dapat diprediksi berdasarkan gangguan kognitif umum yang berkaitan dengan skizofrenia. Apabila kriteria kedua gangguan terpenuhi, kedua diagnosis dapat diberikan.

Komorbiditas

Berbagai jenis gangguan belajar spesifik umumnya terjadi secara bersamaan satu sama lain (misalnya, gangguan belajar spesifik dengan gangguan dalam matematika dan gangguan dalam membaca), serta dengan gangguan perkembangan saraf lainnya (misalnya, ADHD, gangguan komunikasi, gangguan koordinasi perkembangan, dan gangguan spektrum autisme), gangguan mental lainnya (misalnya, gangguan kecemasan dan depresi), atau masalah perilaku. Perlu diperhatikan bahwa perkiraan komorbiditas kesulitan matematika dan membaca bervariasi bergantung pada tes yang digunakan untuk mendefinisikan kesulitan matematika, kemungkinan karena gejala yang sama (misalnya, masalah aritmetika) dapat berkaitan dengan defisit kognitif yang berbeda (misalnya, defisit keterampilan bahasa atau defisit pemrosesan bilangan). Komorbiditas tersebut tidak selalu menyingkirkan diagnosis gangguan belajar spesifik, tetapi dapat membuat pengujian dan diagnosis banding menjadi lebih sulit karena masing-masing gangguan yang terjadi bersamaan secara independen menghambat pelaksanaan aktivitas kehidupan sehari-hari, termasuk pembelajaran. Oleh karena itu, pertimbangan klinis diperlukan untuk menentukan apakah gangguan fungsi tersebut disebabkan oleh kesulitan belajar. Apabila terdapat indikasi bahwa diagnosis lain dapat menjelaskan kesulitan mempelajari keterampilan akademik dasar yang penting sebagaimana dijelaskan dalam Kriteria A, diagnosis gangguan belajar spesifik tidak boleh ditegakkan.

Bagikan:

Siap Memulai Psikotes Online Anda?

Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.

Pilih Layanan Lihat Semua Alat Tes Hubungi Kami
Hubungi Kami