F98.4 1_15

Gangguan Gerakan Stereotip

Stereotypic Movement Disorder

Motor Disorders DSM-5-TR 3x dibaca

Kriteria Diagnostik

  1. Perilaku motorik yang berulang, tampak dilakukan karena dorongan yang kuat, dan terlihat tidak memiliki tujuan yang jelas (misalnya, menggoyangkan atau melambaikan tangan, mengayunkan tubuh, membenturkan kepala, menggigit diri sendiri, atau memukul tubuh sendiri).
  2. Perilaku motorik yang berulang tersebut mengganggu aktivitas sosial, akademik, atau aktivitas lainnya, serta dapat menyebabkan cedera pada diri sendiri.
  3. Gejala mulai muncul pada periode perkembangan awal.
  4. Perilaku motorik berulang tersebut tidak disebabkan oleh efek fisiologis suatu zat atau kondisi neurologis dan tidak lebih tepat dijelaskan oleh gangguan perkembangan saraf atau gangguan mental lainnya (misalnya, trikotilomania [gangguan mencabut rambut] atau gangguan obsesif-kompulsif).

Tentukan Apakah

  • Dengan perilaku melukai diri sendiri (atau perilaku yang dapat menyebabkan cedera apabila tindakan pencegahan tidak dilakukan).
  • Tanpa perilaku melukai diri sendiri.

Tentukan Apakah

  • Berkaitan dengan kondisi genetik atau kondisi medis lain yang telah diketahui, gangguan perkembangan saraf, atau faktor lingkungan (misalnya, sindrom Lesch-Nyhan, gangguan perkembangan intelektual [disabilitas intelektual], atau paparan alkohol selama masa kandungan).

Catatan pengodean: Gunakan kode tambahan untuk mengidentifikasi kondisi genetik atau kondisi medis lain yang menyertai, gangguan perkembangan saraf, atau faktor lingkungan yang berkaitan.

Tentukan Tingkat Keparahan Saat Ini

Ringan: Gejala dapat dengan mudah ditekan atau dihentikan melalui rangsangan sensorik atau pengalihan perhatian.

Sedang: Gejala memerlukan tindakan perlindungan khusus dan modifikasi perilaku.

Berat: Pemantauan secara terus-menerus dan tindakan perlindungan diperlukan untuk mencegah terjadinya cedera serius.

Prosedur Pencatatan

Untuk gangguan gerakan stereotip yang berkaitan dengan kondisi genetik atau kondisi medis lain yang telah diketahui, gangguan perkembangan saraf, atau faktor lingkungan, catat sebagai gangguan gerakan stereotip yang berkaitan dengan (nama kondisi, gangguan, atau faktor), misalnya gangguan gerakan stereotip yang berkaitan dengan sindrom Lesch-Nyhan.

Penentu Spesifikasi

Tingkat keparahan gerakan stereotip yang tidak melukai diri sendiri berkisar dari manifestasi ringan yang mudah ditekan melalui rangsangan sensorik atau pengalihan perhatian hingga gerakan yang berlangsung terus-menerus dan secara nyata mengganggu seluruh aktivitas kehidupan sehari-hari. Perilaku melukai diri sendiri memiliki tingkat keparahan yang bervariasi berdasarkan berbagai dimensi, termasuk frekuensi, dampak terhadap fungsi adaptif, dan tingkat keparahan cedera tubuh, mulai dari memar ringan atau eritema (kemerahan pada kulit) akibat memukulkan tangan ke tubuh, luka robek atau amputasi jari, hingga terlepasnya retina akibat membenturkan kepala.

Karakteristik Diagnostik

Karakteristik utama gangguan gerakan stereotip adalah perilaku motorik yang berulang, tampak dilakukan karena dorongan yang kuat, dan terlihat tidak memiliki tujuan yang jelas (Kriteria A). Perilaku tersebut sering berupa gerakan berirama pada kepala, tangan, atau tubuh tanpa fungsi adaptif yang jelas. Gerakan tersebut mungkin dapat atau tidak dapat dihentikan melalui upaya untuk menghentikannya. Pada anak-anak dengan perkembangan yang sesuai usia, gerakan berulang biasanya dapat dihentikan ketika perhatian anak diarahkan pada gerakan tersebut atau ketika perhatian anak dialihkan dari perilaku itu. Pada anak-anak dengan gangguan perkembangan saraf, perilaku tersebut biasanya kurang responsif terhadap upaya semacam itu. Dalam kasus lainnya, individu menunjukkan perilaku untuk membatasi gerakannya sendiri (misalnya, duduk di atas kedua tangan, membungkus lengan dengan pakaian, atau mencari alat pelindung).

Jenis perilaku yang ditunjukkan dapat bervariasi; setiap individu memiliki pola perilaku khasnya sendiri yang dapat dianggap sebagai ciri perilaku khusus individu tersebut. Contoh gerakan stereotip yang tidak melukai diri sendiri mencakup, tetapi tidak terbatas pada, mengayunkan tubuh, mengepakkan atau memutar kedua tangan, menggerakkan atau mengibaskan jari di depan wajah, melambaikan atau mengepakkan lengan, serta menganggukkan kepala. Gerakan meregangkan mulut juga sering terlihat bersamaan dengan gerakan anggota tubuh bagian atas. Perilaku stereotip yang melukai diri sendiri mencakup, tetapi tidak terbatas pada, membenturkan kepala secara berulang, menampar wajah, menusuk atau mencolok mata dengan jari, serta menggigit tangan, bibir, atau bagian tubuh lainnya. Perilaku mencolok mata sangat perlu diperhatikan karena lebih sering terjadi pada anak-anak dengan gangguan penglihatan. Beberapa gerakan dapat muncul secara bersamaan (misalnya, memiringkan kepala, mengayunkan tubuh bagian atas, dan melambaikan seutas tali kecil secara berulang di depan wajah).

Gerakan stereotip dapat terjadi berkali-kali dalam sehari, dengan durasi mulai dari beberapa detik hingga beberapa menit atau lebih lama. Frekuensinya dapat bervariasi, mulai dari banyak kejadian dalam satu hari hingga terdapat jeda beberapa minggu di antara episode. Perilaku tersebut juga bervariasi menurut konteks, misalnya muncul ketika individu sedang sangat terfokus pada aktivitas lain, merasa gembira, mengalami stres, kelelahan, atau kebosanan. Kriteria A mensyaratkan bahwa gerakan tersebut “tampak” tidak memiliki tujuan. Namun, gerakan tersebut mungkin memiliki fungsi tertentu. Sebagai contoh, gerakan stereotip dapat membantu mengurangi kecemasan sebagai respons terhadap faktor stres dari lingkungan luar.

Kriteria B mensyaratkan bahwa gerakan stereotip mengganggu aktivitas sosial, akademik, atau aktivitas lainnya dan, pada sebagian anak, dapat menyebabkan cedera pada diri sendiri (atau akan menyebabkan cedera apabila tindakan perlindungan tidak digunakan). Ada atau tidaknya perilaku melukai diri sendiri harus ditunjukkan melalui penentu spesifikasi “dengan perilaku melukai diri sendiri” atau “tanpa perilaku melukai diri sendiri”. Gerakan stereotip mulai muncul pada periode perkembangan awal (Kriteria C). Kriteria D mensyaratkan bahwa perilaku stereotip yang berulang pada gangguan gerakan stereotip tidak disebabkan oleh efek fisiologis suatu zat atau kondisi neurologis serta tidak lebih tepat dijelaskan oleh gangguan perkembangan saraf atau gangguan mental lainnya. Adanya gerakan stereotip dapat menunjukkan masalah perkembangan saraf yang belum terdeteksi, terutama pada anak-anak berusia 1–3 tahun.

Prevalensi

Gerakan stereotip sederhana (misalnya, mengayunkan tubuh) umum ditemukan pada anak-anak kecil dengan perkembangan yang sesuai usia (misalnya, sebesar 5%–19% di Inggris dan Amerika Serikat). Gerakan stereotip kompleks jauh lebih jarang ditemukan, dengan angka kejadian sekitar 3%–4%. Sekitar 4% hingga 16% individu dengan gangguan perkembangan intelektual (disabilitas intelektual) dalam sampel dari negara-negara berpenghasilan tinggi menunjukkan perilaku stereotip dan melukai diri sendiri. Risiko tersebut lebih tinggi pada individu dengan gangguan perkembangan intelektual berat. Di antara individu dengan gangguan perkembangan intelektual yang tinggal di fasilitas tempat tinggal dengan layanan perawatan, sekitar 10%–15% mungkin mengalami gangguan gerakan stereotip yang disertai perilaku melukai diri sendiri. Perilaku dan minat yang berulang serta terbatas dapat menjadi penanda risiko munculnya perilaku melukai diri sendiri, agresi, dan perilaku merusak pada anak-anak dengan gangguan perkembangan intelektual berat.

Perkembangan dan Perjalanan Gangguan

Gerakan stereotip biasanya mulai muncul dalam tiga tahun pertama kehidupan. Gerakan stereotip sederhana umum ditemukan pada masa bayi dan mungkin berperan dalam pemerolehan penguasaan keterampilan motorik. Pada anak-anak yang mengembangkan gerakan stereotip motorik kompleks, sekitar 80% menunjukkan gejala sebelum usia 24 bulan, 12% pada usia antara 24 hingga 35 bulan, dan 8% pada usia 36 bulan atau lebih. Pada sebagian besar anak dengan perkembangan yang sesuai usia, tingkat keparahan dan frekuensi gerakan stereotip berkurang seiring berjalannya waktu. Gerakan stereotip motorik kompleks dapat mulai muncul pada masa bayi atau pada tahap perkembangan selanjutnya.

Pada individu dengan gangguan perkembangan intelektual, perilaku stereotip yang melukai diri sendiri dapat menetap selama bertahun-tahun, meskipun bentuk atau pola perilaku melukai diri sendiri tersebut dapat berubah.

Faktor Risiko dan Prognostik

Faktor Lingkungan

Isolasi sosial merupakan faktor risiko munculnya perilaku stimulasi diri yang dapat berkembang menjadi gerakan stereotip disertai perilaku melukai diri sendiri secara berulang. Stres lingkungan juga dapat memicu perilaku stereotip. Rasa takut dapat mengubah kondisi fisiologis individu sehingga meningkatkan frekuensi perilaku stereotip.

Faktor Genetik dan Fisiologis

Gangguan gerakan stereotip diyakini memiliki pengaruh keturunan sampai tingkat tertentu, berdasarkan tingginya frekuensi kasus yang memiliki riwayat keluarga positif terhadap gerakan motorik stereotip. Penurunan volume putamen yang signifikan pada anak-anak dengan gerakan stereotip menunjukkan bahwa jalur kortikal-striatal tertentu yang berkaitan dengan perilaku kebiasaan (yaitu sirkuit dari area premotor menuju putamen posterior) mungkin merupakan lokasi anatomi yang mendasari gerakan motorik stereotip kompleks. Fungsi kognitif yang lebih rendah berkaitan dengan risiko yang lebih tinggi terhadap perilaku stereotip dan respons yang lebih buruk terhadap intervensi. Gerakan stereotip lebih sering ditemukan pada individu dengan gangguan perkembangan intelektual tingkat sedang hingga berat atau sangat berat, yang karena adanya sindrom tertentu (misalnya, sindrom Rett) atau faktor lingkungan (misalnya, lingkungan dengan rangsangan yang relatif tidak memadai) tampaknya memiliki risiko lebih tinggi mengalami perilaku stereotip. Perilaku melukai diri sendiri secara berulang dapat menjadi fenotipe perilaku pada sindrom neurogenetik. Sebagai contoh, pada sindrom Lesch-Nyhan, terdapat gerakan distonik stereotip serta perilaku melukai jari sendiri, menggigit bibir, dan bentuk perilaku melukai diri sendiri lainnya apabila gerakan individu tidak dibatasi. Pada sindrom Rett dan sindrom Cornelia de Lange, perilaku melukai diri sendiri dapat terjadi akibat gerakan stereotip membawa tangan ke mulut. Perilaku stereotip juga dapat disebabkan oleh kondisi medis yang menimbulkan rasa sakit (misalnya, infeksi telinga tengah, masalah gigi, atau refluks gastroesofageal).

Isu Diagnostik Terkait Budaya

Perilaku stereotip yang berulang, baik dengan maupun tanpa perilaku melukai diri sendiri, menunjukkan berbagai bentuk manifestasi dalam banyak budaya. Sikap budaya terhadap perilaku yang tidak biasa dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis. Tingkat toleransi budaya secara umum dan sikap terhadap gerakan stereotip berbeda-beda sehingga perlu dipertimbangkan.

Diagnosis Banding

Perkembangan Normal

Gerakan stereotip sederhana umum ditemukan pada masa bayi dan kanak-kanak awal. Gerakan mengayunkan tubuh dapat terjadi selama peralihan dari kondisi tidur menuju terjaga, dan perilaku tersebut biasanya menghilang seiring bertambahnya usia. Gerakan stereotip kompleks lebih jarang ditemukan pada anak-anak dengan perkembangan yang sesuai usia dan biasanya dapat ditekan melalui pengalihan perhatian atau rangsangan sensorik. Rutinitas sehari-hari individu jarang terganggu, dan gerakan tersebut umumnya tidak menyebabkan tekanan psikologis pada anak. Dalam keadaan tersebut, diagnosis gangguan gerakan stereotip tidak tepat diberikan.

Gangguan Spektrum Autisme

Gerakan stereotip dapat menjadi salah satu gejala awal gangguan spektrum autisme dan perlu dipertimbangkan ketika gerakan serta perilaku berulang sedang dievaluasi. Defisit komunikasi sosial dan kemampuan timbal balik sosial yang muncul pada gangguan spektrum autisme umumnya tidak ditemukan pada gangguan gerakan stereotip. Oleh karena itu, interaksi sosial, komunikasi sosial, serta perilaku dan minat berulang yang kaku merupakan karakteristik pembeda. Apabila gangguan spektrum autisme telah teridentifikasi, gangguan gerakan stereotip hanya didiagnosis ketika terdapat perilaku melukai diri sendiri atau ketika perilaku stereotip cukup berat sehingga menjadi fokus penanganan.

Gangguan Tik

Pada umumnya, gerakan stereotip memiliki usia awal kemunculan yang lebih dini (sebelum usia 3 tahun) dibandingkan tik, yang memiliki rata-rata usia awal kemunculan antara 4–6 tahun. Gerakan stereotip juga memiliki pola atau bentuk gerakan yang konsisten dan tetap dibandingkan dengan tik, yang manifestasinya bervariasi dan biasanya berubah karakteristik seiring waktu. Gerakan stereotip dapat melibatkan lengan, tangan, atau seluruh tubuh, sedangkan tik umumnya melibatkan mata, wajah, kepala, dan bahu. Gerakan stereotip memiliki pola yang lebih tetap, berirama, dan berlangsung lebih lama dibandingkan tik, yang pada umumnya bersifat singkat, cepat, tidak beraturan, dan berubah-ubah. Gerakan stereotip bersifat ego-sintonik (anak-anak menikmati gerakan tersebut), berbeda dengan tik yang biasanya bersifat ego-distonik. Tik dapat meningkat dan menurun dalam hal lokasi maupun waktu kemunculannya serta secara khas berkaitan dengan dorongan pendahulu (premonitory urge), yaitu sensasi fisik yang mendahului banyak gerakan tik. Baik tik maupun gerakan stereotip dapat berkurang melalui pengalihan perhatian.

Gangguan Obsesif-Kompulsif dan Gangguan Terkait

Gangguan gerakan stereotip dibedakan dari gangguan obsesif-kompulsif (OCD) berdasarkan tidak adanya obsesi, serta berdasarkan sifat perilaku berulang yang ditunjukkan. Pada OCD, individu merasakan dorongan untuk melakukan perilaku berulang sebagai respons terhadap obsesi atau berdasarkan aturan yang harus diterapkan secara kaku. Sebaliknya, pada gangguan gerakan stereotip, perilaku tampak dilakukan karena dorongan yang kuat, tetapi terlihat tidak memiliki tujuan yang jelas. Trikotilomania (gangguan mencabut rambut) dan gangguan ekskoriasi (mengorek kulit) ditandai oleh perilaku berulang yang berfokus pada tubuh (yaitu mencabut rambut dan mengorek kulit), yang mungkin tampak dilakukan karena dorongan yang kuat, tetapi tidak terlihat sebagai perilaku tanpa tujuan, serta mungkin tidak memiliki pola atau ritme tertentu. Selain itu, awal kemunculan trikotilomania dan gangguan ekskoriasi biasanya bukan pada periode perkembangan awal, melainkan sekitar masa pubertas atau setelahnya.

Kondisi Neurologis dan Medis Lainnya

Diagnosis gerakan stereotip mensyaratkan penyingkiran kemungkinan kebiasaan, gerakan atau gaya perilaku khas (mannerisms), diskinesia paroksismal, dan korea herediter jinak. Penggalian riwayat neurologis dan pemeriksaan neurologis diperlukan untuk menilai karakteristik yang menunjukkan kemungkinan adanya gangguan lain, seperti mioklonus, distonia, tik, dan korea. Gerakan tidak disengaja yang berkaitan dengan kondisi neurologis dapat dibedakan berdasarkan tanda dan gejalanya. Sebagai contoh, gerakan stereotip berulang pada diskinesia tardif dapat dibedakan berdasarkan riwayat penggunaan obat neuroleptik secara kronis serta adanya diskinesia khas pada mulut atau wajah, atau gerakan tubuh bagian tengah maupun anggota gerak yang tidak beraturan. Jenis gerakan tersebut tidak menyebabkan perilaku melukai diri sendiri. Gerakan stereotip merupakan manifestasi yang umum pada berbagai gangguan neurogenetik, seperti sindrom Lesch-Nyhan, sindrom Rett, sindrom Fragile X, sindrom Cornelia de Lange, dan sindrom Smith-Magenis. Untuk gangguan gerakan stereotip yang berkaitan dengan kondisi genetik atau kondisi medis lain yang telah diketahui, gangguan perkembangan saraf, atau faktor lingkungan, catat sebagai gangguan gerakan stereotip yang berkaitan dengan (nama kondisi, gangguan, atau faktor), misalnya gangguan gerakan stereotip yang berkaitan dengan sindrom Lesch-Nyhan.

Perilaku Berulang yang Diinduksi Zat

Diagnosis gangguan gerakan stereotip tidak tepat diberikan pada perilaku mengorek atau menggaruk kulit secara berulang yang berkaitan dengan intoksikasi atau penyalahgunaan amfetamin. Dalam kasus tersebut, diagnosis gangguan obsesif-kompulsif dan gangguan terkait yang diinduksi zat atau obat lebih tepat digunakan.

Gerakan Stereotip Fungsional (Konversi)

Gerakan stereotip harus dibedakan dari gerakan fungsional (konversi). Awal kemunculan yang tiba-tiba, gerakan yang dapat berubah ketika perhatian dialihkan, perubahan pola gerakan disertai perbaikan atau perburukan yang tidak dapat dijelaskan, serta adanya gejala lain dari gangguan gejala neurologis fungsional (gangguan konversi) merupakan beberapa karakteristik khas yang membantu mengidentifikasi gerakan stereotip fungsional.

Komorbiditas

Komorbiditas yang umum ditemukan pada anak-anak dengan gerakan motorik stereotip kronis meliputi gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (ADHD), masalah koordinasi motorik, gangguan tik atau gangguan Tourette, serta gangguan kecemasan.

Bagikan:

Siap Memulai Psikotes Online Anda?

Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.

Pilih Layanan Lihat Semua Alat Tes Hubungi Kami
Hubungi Kami