F80.0 1_05

Gangguan Bunyi Bicara

Speech Sound Disorder

Communication Disorders DSM-5-TR 4x dibaca

Kriteria Diagnostik

  1. Kesulitan yang menetap dalam menghasilkan bunyi bicara yang mengganggu kejelasan ucapan atau menghambat penyampaian pesan melalui komunikasi verbal.

  2. Gangguan tersebut menyebabkan keterbatasan dalam komunikasi yang efektif sehingga menghambat partisipasi sosial, pencapaian akademik, atau kinerja pekerjaan, baik secara individual maupun dalam kombinasi beberapa aspek tersebut.

  3. Gejala mulai muncul pada periode perkembangan awal.

  4. Kesulitan tersebut tidak disebabkan oleh kondisi bawaan atau kondisi yang didapat, seperti palsi serebral, celah langit-langit mulut, ketulian atau gangguan pendengaran, cedera otak traumatis, maupun kondisi medis atau neurologis lainnya.

Karakteristik Diagnostik

Produksi bunyi bicara mengacu pada artikulasi fonem (yaitu bunyi-bunyi individual) secara jelas yang apabila digabungkan akan membentuk kata-kata dalam bahasa lisan. Produksi bunyi bicara memerlukan pengetahuan fonologis mengenai bunyi-bunyi ujaran serta kemampuan mengoordinasikan gerakan organ artikulasi (yaitu rahang, lidah, dan bibir) dengan pernapasan dan pembentukan suara untuk menghasilkan ujaran. Anak-anak yang mengalami kesulitan dalam produksi bicara dapat menunjukkan gangguan pada pengetahuan fonologis mengenai bunyi-bunyi ujaran atau pada kemampuan mengoordinasikan gerakan yang diperlukan untuk berbicara, dengan tingkat kesulitan yang bervariasi. Gangguan bunyi bicara didiagnosis ketika kemampuan produksi bunyi bicara tidak sesuai dengan yang diharapkan berdasarkan usia dan tahap perkembangan anak, serta ketika defisit tersebut bukan merupakan akibat dari gangguan fisik, struktural, neurologis, atau pendengaran. Pada anak-anak dengan perkembangan yang sesuai usia, secara umum ucapan seharusnya sudah dapat dipahami ketika berusia 3 tahun, sedangkan pada usia 2 tahun, hanya sekitar 50% ucapan yang mungkin dapat dipahami. Anak laki-laki memiliki kemungkinan lebih besar mengalami gangguan bunyi bicara dibandingkan anak perempuan, dengan rasio berkisar antara 1,5–1,8 berbanding 1,0.

Karakteristik yang Menyertai

Gangguan bahasa dapat ditemukan bersamaan dengan gangguan bunyi bicara, meskipun kejadian kedua gangguan tersebut secara bersamaan relatif jarang ditemukan pada usia 6 tahun. Riwayat keluarga yang positif terhadap gangguan bicara atau bahasa juga sering ditemukan.

Apabila kesulitan utama berkaitan dengan kemampuan mengoordinasikan organ artikulasi secara cepat, mungkin terdapat riwayat keterlambatan atau gangguan koordinasi dalam memperoleh keterampilan lain yang juga melibatkan organ artikulasi dan otot-otot wajah terkait. Keterampilan tersebut antara lain mengunyah, mempertahankan mulut dalam keadaan tertutup, dan membuang ingus melalui hidung. Area koordinasi motorik lainnya juga dapat mengalami gangguan, seperti yang ditemukan pada gangguan koordinasi perkembangan. Istilah apraksia bicara pada masa kanak-kanak dan dispraksia verbal digunakan untuk menggambarkan masalah produksi bicara yang melibatkan komponen motorik.

Perkembangan dan Perjalanan Gangguan

Belajar menghasilkan bunyi bicara secara jelas dan akurat serta belajar menghasilkan ujaran yang saling terhubung dengan lancar merupakan keterampilan yang berkembang seiring pertumbuhan anak. Artikulasi bunyi bicara mengikuti pola perkembangan tertentu, yang tercermin dalam norma usia pada tes-tes terstandar. Anak-anak dengan perkembangan yang sesuai usia tidak jarang menggunakan proses penyederhanaan kata dan suku kata ketika sedang belajar berbicara. Namun, perkembangan penguasaan produksi bunyi bicara seharusnya menghasilkan ucapan yang sebagian besar sudah dapat dipahami pada usia 3 tahun. Anak-anak dengan gangguan bunyi bicara terus menggunakan proses penyederhanaan fonologis yang belum matang, bahkan setelah melewati usia ketika sebagian besar anak sudah mampu mengucapkan kata-kata secara jelas. Sebagian besar bunyi bicara seharusnya sudah dapat dihasilkan dengan jelas dan sebagian besar kata diucapkan secara akurat sesuai dengan norma usia dan lingkungan masyarakat pada usia 5 tahun. Bunyi-bunyi yang paling sering mengalami kesalahan artikulasi dalam bahasa Inggris juga cenderung dipelajari lebih lambat, sehingga dikenal dengan istilah late eight, yaitu delapan bunyi yang dikuasai pada tahap perkembangan lebih akhir (l, r, s, z, th, ch, dzh, dan zh). Kesalahan artikulasi pada salah satu bunyi tersebut, apabila terjadi secara terpisah, masih dapat dianggap berada dalam batas normal hingga usia 8 tahun. Namun, apabila kesalahan melibatkan beberapa bunyi sekaligus, penting untuk menargetkan sebagian bunyi tersebut sebagai bagian dari rencana intervensi guna meningkatkan kejelasan ucapan, daripada menunggu hingga usia ketika hampir semua anak mampu menghasilkan bunyi-bunyi tersebut secara akurat. Kesalahan artikulasi pada bunyi sibilan atau bunyi desis (lisping) merupakan kondisi yang cukup umum dan dapat melibatkan pola aliran udara yang mengarah ke depan atau ke samping. Kondisi ini dapat berkaitan dengan pola menelan yang disertai dorongan lidah ke depan.

Sebagian besar anak dengan gangguan bunyi bicara menunjukkan respons yang baik terhadap penanganan, dan kesulitan bicara mereka cenderung membaik seiring waktu. Oleh karena itu, gangguan ini tidak selalu berlangsung sepanjang kehidupan. Namun, apabila gangguan bahasa juga ditemukan secara bersamaan, gangguan bunyi bicara memiliki prognosis yang lebih buruk dan dapat berkaitan dengan gangguan belajar spesifik.

Diagnosis Banding

Variasi Normal dalam Bicara

Variasi bicara yang berkaitan dengan wilayah, lingkungan sosial, atau latar belakang budaya dan etnis harus dipertimbangkan sebelum menegakkan diagnosis. Anak-anak bilingual dapat menunjukkan tingkat kejelasan ucapan yang secara keseluruhan lebih rendah, membuat lebih banyak kesalahan pada bunyi konsonan dan vokal, serta menghasilkan pola kesalahan yang lebih tidak umum dibandingkan dengan anak-anak yang hanya menggunakan bahasa Inggris, apabila penilaian dilakukan hanya menggunakan bahasa Inggris.

Gangguan Pendengaran atau Gangguan Sensorik Lainnya

Individu yang mengalami ketulian atau gangguan pendengaran dapat menunjukkan kesalahan dalam produksi bunyi bicara. Apabila defisit bicara yang dialami lebih berat daripada yang biasanya berkaitan dengan kondisi tersebut, diagnosis gangguan bunyi bicara dapat ditegakkan.

Kelainan Struktural

Gangguan bicara dapat disebabkan oleh kelainan struktural, misalnya celah langit-langit mulut.

Disartria

Gangguan bicara dapat disebabkan oleh gangguan motorik, seperti palsi serebral. Adanya tanda-tanda neurologis serta karakteristik suara yang khas dapat membedakan disartria dari gangguan bunyi bicara. Namun, pada anak-anak berusia di bawah 3 tahun, pembedaan kedua kondisi tersebut mungkin sulit dilakukan, terutama ketika tidak terdapat gangguan motorik tubuh secara umum atau gangguan tersebut hanya minimal, seperti pada sindrom Worster-Drought.

Mutisme Selektif

Penggunaan kemampuan bicara yang terbatas dapat menjadi tanda mutisme selektif, yaitu gangguan kecemasan yang ditandai dengan tidak adanya perilaku berbicara dalam satu atau lebih konteks maupun situasi tertentu. Mutisme selektif dapat berkembang pada anak-anak yang mengalami gangguan bicara karena mereka merasa malu terhadap keterbatasan yang dimiliki. Namun, banyak anak dengan mutisme selektif menunjukkan kemampuan bicara yang normal dalam situasi yang dianggap aman, seperti di rumah atau ketika bersama teman dekat.

Komorbiditas

Kemampuan bicara dapat mengalami gangguan dengan karakteristik yang berbeda pada kondisi genetik tertentu, misalnya sindrom Down, delesi kromosom 22q, dan mutasi gen FOXP2. Apabila kondisi-kondisi tersebut ditemukan, diagnosis atau kondisi genetik yang menyertainya juga harus dicatat menggunakan kode diagnostik yang sesuai.

Bagikan:

Siap Memulai Psikotes Online Anda?

Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.

Pilih Layanan Lihat Semua Alat Tes Hubungi Kami
Hubungi Kami