F90.0 F90.1 F90.2 1_10

Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas (ADHD)

Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder

Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder DSM-5-TR 3x dibaca

Kriteria Diagnostik

  1. Pola menetap berupa kurangnya perhatian dan/atau hiperaktivitas-impulsivitas yang mengganggu fungsi atau perkembangan individu, sebagaimana ditandai oleh karakteristik pada poin (1) dan/atau (2) berikut: (1) Kurangnya Perhatian. Enam atau lebih gejala berikut telah berlangsung selama setidaknya 6 bulan, dengan tingkat keparahan yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan individu dan secara langsung berdampak negatif terhadap aktivitas sosial serta akademik atau pekerjaan: Catatan: Gejala tersebut bukan semata-mata merupakan manifestasi perilaku menentang, pembangkangan, permusuhan, atau kegagalan memahami tugas maupun instruksi. Pada remaja yang lebih tua dan orang dewasa (usia 17 tahun ke atas), diperlukan setidaknya lima gejala. (a) Sering gagal memberikan perhatian yang cermat terhadap detail atau melakukan kesalahan akibat kurangnya ketelitian dalam tugas sekolah, pekerjaan, atau aktivitas lainnya (misalnya, melewatkan atau mengabaikan detail sehingga hasil pekerjaan menjadi tidak akurat). (b) Sering mengalami kesulitan mempertahankan perhatian dalam mengerjakan tugas atau melakukan aktivitas bermain (misalnya, kesulitan tetap fokus selama mengikuti ceramah, percakapan, atau membaca teks yang panjang). (c) Sering tampak tidak mendengarkan ketika diajak berbicara secara langsung (misalnya, pikirannya tampak berada di tempat lain, meskipun tidak terdapat gangguan atau pengalih perhatian yang jelas). (d) Sering tidak mengikuti instruksi hingga selesai dan gagal menyelesaikan tugas sekolah, pekerjaan rumah tangga, atau tanggung jawab di tempat kerja (misalnya, mulai mengerjakan tugas tetapi dengan cepat kehilangan fokus dan mudah teralihkan). (e) Sering mengalami kesulitan mengorganisasikan tugas dan aktivitas (misalnya, kesulitan mengelola tugas yang terdiri atas beberapa tahapan; kesulitan menjaga keteraturan bahan dan barang pribadi; pekerjaan yang berantakan dan tidak terorganisasi; pengelolaan waktu yang buruk; serta gagal memenuhi tenggat waktu). (f) Sering menghindari, tidak menyukai, atau enggan melakukan tugas yang membutuhkan usaha mental secara berkelanjutan (misalnya, tugas sekolah atau pekerjaan rumah; sedangkan pada remaja yang lebih tua dan orang dewasa, seperti menyusun laporan, mengisi formulir, atau meninjau dokumen yang panjang). (g) Sering kehilangan benda-benda yang diperlukan untuk mengerjakan tugas atau melakukan aktivitas (misalnya, perlengkapan sekolah, pensil, buku, peralatan, dompet, kunci, dokumen, kacamata, atau telepon genggam). (h) Sering mudah teralihkan perhatiannya oleh rangsangan dari luar (pada remaja yang lebih tua dan orang dewasa, hal ini dapat mencakup pikiran-pikiran yang tidak berkaitan dengan aktivitas yang sedang dilakukan). (i) Sering lupa dalam melakukan aktivitas sehari-hari (misalnya, mengerjakan pekerjaan rumah tangga atau menjalankan keperluan sehari-hari; sedangkan pada remaja yang lebih tua dan orang dewasa, seperti membalas panggilan telepon, membayar tagihan, atau menghadiri janji yang telah dijadwalkan). (2) Hiperaktivitas dan Impulsivitas. Enam atau lebih gejala berikut telah berlangsung selama setidaknya 6 bulan, dengan tingkat keparahan yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan individu dan secara langsung berdampak negatif terhadap aktivitas sosial serta akademik atau pekerjaan: Catatan: Gejala tersebut bukan semata-mata merupakan manifestasi perilaku menentang, pembangkangan, permusuhan, atau kegagalan memahami tugas maupun instruksi. Pada remaja yang lebih tua dan orang dewasa (usia 17 tahun ke atas), diperlukan setidaknya lima gejala. (a) Sering menggerak-gerakkan atau mengetuk-ngetukkan tangan atau kaki, atau menggeliat ketika duduk. (b) Sering meninggalkan tempat duduk dalam situasi ketika individu diharapkan tetap duduk (misalnya, meninggalkan tempat duduk di kelas, kantor, atau tempat kerja lainnya, maupun dalam situasi lain yang mengharuskan individu tetap berada di tempat). (c) Sering berlari ke sana kemari atau memanjat dalam situasi yang tidak sesuai. (Catatan: Pada remaja atau orang dewasa, gejala ini mungkin hanya berupa perasaan gelisah). (d) Sering tidak mampu bermain atau melakukan aktivitas waktu luang dengan tenang. (e) Sering tampak terus bergerak, seolah-olah “digerakkan oleh mesin” (misalnya, tidak mampu atau merasa tidak nyaman ketika harus tetap diam dalam waktu yang lama, seperti di restoran atau saat rapat; orang lain mungkin menganggap individu tersebut gelisah atau sulit mengikuti tingkat aktivitasnya). (f) Sering berbicara secara berlebihan. (g) Sering langsung mengucapkan jawaban sebelum pertanyaan selesai disampaikan (misalnya, menyelesaikan kalimat orang lain atau tidak mampu menunggu giliran dalam percakapan). (h) Sering mengalami kesulitan menunggu giliran (misalnya, ketika mengantre). (i) Sering menyela atau mengganggu orang lain (misalnya, menyela percakapan, permainan, atau aktivitas; mulai menggunakan barang milik orang lain tanpa bertanya atau memperoleh izin; sedangkan pada remaja dan orang dewasa, dapat berupa mencampuri atau mengambil alih aktivitas yang sedang dilakukan orang lain).
  2. Beberapa gejala kurangnya perhatian atau hiperaktivitas-impulsivitas telah muncul sebelum usia 12 tahun.
  3. Beberapa gejala kurangnya perhatian atau hiperaktivitas-impulsivitas muncul dalam dua atau lebih lingkungan (misalnya, di rumah, sekolah, atau tempat kerja; bersama teman atau kerabat; maupun dalam aktivitas lainnya).
  4. Terdapat bukti yang jelas bahwa gejala tersebut mengganggu atau menurunkan kualitas fungsi sosial, akademik, atau pekerjaan.
  5. Gejala tidak muncul secara eksklusif selama perjalanan skizofrenia atau gangguan psikotik lainnya dan tidak lebih tepat dijelaskan oleh gangguan mental lain (misalnya, gangguan suasana hati, gangguan kecemasan, gangguan disosiatif, gangguan kepribadian, atau intoksikasi maupun putus zat).

Tentukan Jenis Presentasi

  • F90.2 Presentasi kombinasi: Apabila Kriteria A1 (kurangnya perhatian) dan Kriteria A2 (hiperaktivitas-impulsivitas) keduanya terpenuhi selama 6 bulan terakhir.
  • F90.0 Presentasi dominan kurangnya perhatian: Apabila Kriteria A1 (kurangnya perhatian) terpenuhi, tetapi Kriteria A2 (hiperaktivitas-impulsivitas) tidak terpenuhi selama 6 bulan terakhir.
  • F90.1 Presentasi dominan hiperaktif/impulsif: Apabila Kriteria A2 (hiperaktivitas-impulsivitas) terpenuhi, tetapi Kriteria A1 (kurangnya perhatian) tidak terpenuhi selama 6 bulan terakhir.

Tentukan Apakah

Dalam remisi parsial: Apabila seluruh kriteria diagnostik sebelumnya pernah terpenuhi, tetapi selama 6 bulan terakhir hanya sebagian kriteria yang masih terpenuhi, dan gejala tersebut tetap menyebabkan gangguan fungsi dalam bidang sosial, akademik, atau pekerjaan.

Tentukan Tingkat Keparahan Saat Ini

Ringan: Hanya terdapat sedikit gejala tambahan, atau bahkan tidak ada, di luar jumlah gejala yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis, dan gejala tersebut hanya menyebabkan gangguan ringan dalam fungsi sosial atau pekerjaan.

Sedang: Gejala atau gangguan fungsi berada di antara tingkat “ringan” dan “berat”.

Berat: Terdapat banyak gejala tambahan di luar jumlah gejala yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis, atau beberapa gejala menunjukkan tingkat keparahan yang sangat tinggi, atau gejala tersebut menyebabkan gangguan yang nyata dalam fungsi sosial atau pekerjaan.

Karakteristik Diagnostik

Karakteristik utama gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (ADHD) adalah pola menetap berupa kurangnya perhatian dan/atau hiperaktivitas-impulsivitas yang mengganggu fungsi atau perkembangan individu. Kurangnya perhatian pada ADHD ditunjukkan melalui perilaku seperti perhatian yang beralih dari tugas yang sedang dikerjakan, kegagalan mengikuti instruksi hingga selesai atau menyelesaikan pekerjaan maupun tugas rumah tangga, kesulitan mempertahankan fokus, serta perilaku yang tidak terorganisasi. Gejala tersebut bukan disebabkan oleh sikap membangkang atau kurangnya pemahaman. Hiperaktivitas mengacu pada aktivitas motorik yang berlebihan (seperti anak yang berlari ke sana kemari) dalam situasi yang tidak sesuai, atau gerakan gelisah yang berlebihan, mengetuk-ngetukkan anggota tubuh, maupun berbicara secara berlebihan. Pada orang dewasa, hiperaktivitas dapat ditunjukkan melalui kegelisahan yang sangat kuat atau aktivitas berlebihan yang membuat orang lain kelelahan. Impulsivitas mengacu pada tindakan tergesa-gesa yang dilakukan secara spontan tanpa pertimbangan sebelumnya dan berpotensi membahayakan individu (misalnya, tiba-tiba berlari ke jalan tanpa melihat keadaan sekitar). Impulsivitas dapat mencerminkan keinginan memperoleh imbalan secara langsung atau ketidakmampuan menunda kepuasan. Perilaku impulsif dapat muncul dalam bentuk perilaku yang mengganggu interaksi sosial (misalnya, terlalu sering menyela orang lain) dan/atau pengambilan keputusan penting tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang (misalnya, menerima pekerjaan tanpa memiliki informasi yang memadai).

ADHD dimulai pada masa kanak-kanak. Persyaratan bahwa beberapa gejala harus sudah muncul sebelum usia 12 tahun menunjukkan pentingnya adanya gambaran klinis yang bermakna selama masa kanak-kanak. Pada saat yang sama, usia awal kemunculan yang lebih dini tidak ditentukan secara spesifik karena sulitnya memastikan secara retrospektif kapan gejala pertama kali muncul pada masa kanak-kanak. Ingatan orang dewasa mengenai gejala yang dialami selama masa kanak-kanak cenderung kurang dapat diandalkan, sehingga informasi tambahan dari sumber lain akan sangat membantu. ADHD tidak dapat didiagnosis apabila tidak terdapat gejala apa pun sebelum usia 12 tahun. Apabila gejala yang tampak menyerupai ADHD pertama kali muncul setelah usia 13 tahun, gejala tersebut lebih mungkin dijelaskan oleh gangguan mental lainnya atau merupakan dampak kognitif dari penggunaan zat.

Manifestasi gangguan harus muncul pada lebih dari satu lingkungan (misalnya, rumah dan sekolah, atau rumah dan tempat kerja). Konfirmasi adanya gejala yang bermakna pada berbagai lingkungan biasanya tidak dapat dilakukan secara akurat tanpa berkonsultasi dengan informan yang pernah mengamati individu dalam lingkungan tersebut. Pada umumnya, gejala dapat bervariasi bergantung pada konteks dalam suatu lingkungan. Tanda-tanda gangguan mungkin sangat minimal atau bahkan tidak terlihat ketika individu sering memperoleh penghargaan atas perilaku yang sesuai, berada dalam pengawasan ketat, berada di lingkungan baru, terlibat dalam aktivitas yang sangat menarik, memperoleh rangsangan eksternal secara konsisten (misalnya, melalui layar perangkat elektronik), atau berinteraksi secara individual dengan satu orang lain (misalnya, di ruang pemeriksaan klinisi).

Karakteristik yang Menyertai

Keterlambatan perkembangan bahasa, motorik, atau sosial bukan merupakan karakteristik spesifik ADHD, tetapi sering terjadi secara bersamaan. Disregulasi emosi atau impulsivitas emosional umum ditemukan pada anak-anak dan orang dewasa dengan ADHD. Individu dengan ADHD melaporkan sendiri, dan juga digambarkan oleh orang lain, sebagai individu yang mudah marah, mudah frustrasi, dan menunjukkan reaksi emosional yang berlebihan.

Bahkan tanpa adanya gangguan belajar spesifik, kinerja akademik atau pekerjaan sering mengalami gangguan. Individu dengan ADHD mungkin menunjukkan defisit neurokognitif dalam berbagai bidang, termasuk memori kerja, kemampuan mengalihkan pola respons atau strategi kognitif, variabilitas waktu reaksi, inhibisi respons, kewaspadaan, serta perencanaan dan pengorganisasian. Meskipun demikian, tes-tes tersebut belum memiliki sensitivitas atau spesifisitas yang memadai untuk digunakan sebagai indikator diagnostik.

Meskipun ADHD tidak berkaitan dengan karakteristik fisik tertentu yang spesifik, angka kejadian kelainan fisik ringan (misalnya, hipertelorisme atau jarak antarmata yang terlalu lebar, langit-langit mulut yang sangat melengkung, dan posisi telinga yang rendah) mungkin meningkat. Keterlambatan motorik ringan dan tanda-tanda neurologis halus lainnya juga dapat terjadi. (Perlu diperhatikan bahwa kecanggungan motorik dan keterlambatan motorik yang nyata dan terjadi bersamaan harus diberikan kode diagnosis secara terpisah, misalnya sebagai gangguan koordinasi perkembangan.)

Anak-anak dengan gangguan perkembangan saraf yang memiliki penyebab yang telah diketahui (misalnya, sindrom Fragile X atau sindrom delesi 22q11) sering kali juga menunjukkan gejala kurangnya perhatian serta impulsivitas/hiperaktivitas. Mereka harus diberikan diagnosis ADHD apabila gejalanya memenuhi seluruh kriteria diagnostik gangguan tersebut.

Prevalensi

Survei populasi menunjukkan bahwa ADHD terjadi pada sekitar 7,2% anak-anak di seluruh dunia. Namun, prevalensi antarnegara sangat bervariasi, berkisar antara 0,1% hingga 10,2% pada anak-anak dan remaja. Prevalensi lebih tinggi pada populasi khusus, seperti anak-anak dalam pengasuhan keluarga asuh atau individu di lingkungan lembaga pemasyarakatan. Dalam suatu meta-analisis lintas negara, ADHD ditemukan pada 2,5% orang dewasa.

Perkembangan dan Perjalanan Gangguan

Banyak orang tua pertama kali mengamati aktivitas motorik yang berlebihan ketika anak masih berada pada usia batita. Namun, gejala tersebut sulit dibedakan dari perilaku normal yang sangat bervariasi sebelum usia 4 tahun. ADHD paling sering diidentifikasi selama masa sekolah dasar, ketika kurangnya perhatian menjadi semakin menonjol dan mengganggu. Gangguan ini relatif stabil hingga masa remaja awal, tetapi sebagian individu mengalami perjalanan gangguan yang memburuk disertai berkembangnya perilaku antisosial. Pada sebagian besar individu dengan ADHD, gejala hiperaktivitas motorik menjadi semakin tidak terlihat selama masa remaja dan dewasa, tetapi kesulitan berupa kegelisahan, kurangnya perhatian, perencanaan yang buruk, dan impulsivitas tetap berlangsung. Sebagian besar anak dengan ADHD tetap mengalami gangguan fungsi yang relatif bermakna hingga masa dewasa.

Pada masa prasekolah, manifestasi utama ADHD adalah hiperaktivitas. Kurangnya perhatian menjadi lebih menonjol selama masa sekolah dasar. Selama masa remaja, tanda-tanda hiperaktivitas (misalnya, berlari dan memanjat) menjadi lebih jarang dan mungkin hanya muncul dalam bentuk gerakan gelisah atau perasaan internal berupa kegelisahan, ketegangan, atau ketidaksabaran. Pada masa dewasa, selain kurangnya perhatian dan kegelisahan, impulsivitas mungkin tetap menjadi masalah meskipun hiperaktivitas telah berkurang.

Faktor Risiko dan Prognostik

Faktor Temperamental

ADHD berkaitan dengan berkurangnya kemampuan inhibisi perilaku, pengendalian diri yang memerlukan usaha, atau kemampuan membatasi respons; emosionalitas negatif; dan/atau meningkatnya kecenderungan mencari pengalaman baru. Karakteristik temperamen tersebut mungkin meningkatkan kerentanan sebagian anak terhadap ADHD, tetapi tidak bersifat spesifik terhadap gangguan ini.

Faktor Lingkungan

Berat badan lahir yang sangat rendah dan tingkat prematuritas meningkatkan risiko ADHD; semakin ekstrem rendahnya berat badan lahir, semakin besar risikonya. Paparan terhadap kebiasaan merokok selama masa prenatal berkaitan dengan ADHD, bahkan setelah riwayat gangguan psikiatris orang tua dan status sosial ekonomi dikendalikan. Sebagian kecil kasus mungkin berkaitan dengan reaksi terhadap aspek tertentu dari pola makan. Paparan neurotoksin (misalnya, timbal), infeksi (misalnya, ensefalitis), dan paparan alkohol selama masa kandungan telah ditemukan berkorelasi dengan munculnya ADHD di kemudian hari, tetapi belum diketahui apakah hubungan tersebut bersifat kausal.

Faktor Genetik dan Fisiologis

Heritabilitas ADHD diperkirakan sekitar 74%. Penelitian asosiasi seluruh genom berskala besar (genome-wide association studies atau GWAS) telah mengidentifikasi sejumlah lokus genetik yang banyak ditemukan pada wilayah genom yang sangat terkonservasi selama evolusi dan pada gen yang kehilangan fungsi, serta di sekitar wilayah regulator yang diekspresikan di otak. Tidak terdapat satu gen tunggal yang menjadi penyebab ADHD.

Gangguan penglihatan dan pendengaran, kelainan metabolik, serta kekurangan nutrisi perlu dipertimbangkan sebagai faktor yang mungkin memengaruhi gejala ADHD. Angka kejadian ADHD lebih tinggi pada individu dengan epilepsi idiopatik.

Faktor yang Memengaruhi Perjalanan Gangguan

Pola interaksi keluarga selama masa kanak-kanak awal kemungkinan kecil menjadi penyebab ADHD, tetapi dapat memengaruhi perjalanan gangguan atau berkontribusi terhadap perkembangan masalah perilaku sekunder.

Isu Diagnostik Terkait Budaya

Perbedaan prevalensi ADHD antarwilayah tampaknya terutama berkaitan dengan perbedaan prosedur diagnostik dan praktik metodologis, termasuk penggunaan wawancara diagnostik yang berbeda serta perbedaan mengenai apakah gangguan fungsi menjadi persyaratan diagnosis dan, apabila demikian, bagaimana gangguan fungsi tersebut didefinisikan. Prevalensi juga dipengaruhi oleh variasi budaya dalam sikap terhadap norma perilaku dan harapan terhadap anak-anak serta remaja dalam konteks sosial yang berbeda, serta perbedaan budaya dalam penafsiran perilaku anak oleh orang tua dan guru, termasuk perbedaan berdasarkan gender. Tingkat identifikasi klinis di Amerika Serikat pada populasi Afrika-Amerika dan Latinx cenderung lebih rendah dibandingkan populasi kulit putih non-Latinx. Kurangnya deteksi mungkin disebabkan oleh kesalahan pelabelan gejala ADHD sebagai perilaku menentang atau disruptif pada kelompok etnis atau ras yang mengalami penindasan sosial akibat bias klinisi, baik yang bersifat eksplisit maupun implisit, sehingga menyebabkan diagnosis berlebihan terhadap gangguan perilaku disruptif. Prevalensi yang lebih tinggi pada remaja kulit putih non-Latinx juga mungkin dipengaruhi oleh lebih besarnya permintaan orang tua terhadap diagnosis perilaku yang dianggap berkaitan dengan ADHD. Penilaian gejala oleh informan dapat dipengaruhi oleh latar belakang budaya anak maupun informan, yang menunjukkan pentingnya praktik diagnostik yang memiliki kompetensi budaya dalam asesmen ADHD.

Isu Diagnostik Terkait Jenis Kelamin dan Gender

ADHD lebih sering ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan dalam populasi umum, dengan rasio sekitar 2:1 pada anak-anak dan 1,6:1 pada orang dewasa. Perempuan lebih mungkin menunjukkan karakteristik utama berupa kurangnya perhatian dibandingkan laki-laki. Perbedaan tingkat keparahan gejala ADHD berdasarkan jenis kelamin mungkin disebabkan oleh perbedaan kerentanan genetik dan kognitif antara laki-laki dan perempuan.

Penanda Diagnostik

Tidak terdapat penanda biologis yang dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis ADHD. Meskipun ADHD pernah dikaitkan dengan peningkatan kekuatan gelombang lambat (4–7 Hz, yaitu gelombang “theta”) serta penurunan kekuatan gelombang cepat (14–30 Hz, yaitu gelombang “beta”), suatu tinjauan penelitian yang lebih baru tidak menemukan perbedaan kekuatan gelombang theta maupun beta antara anak-anak atau orang dewasa dengan ADHD dan kelompok kontrol.

Meskipun beberapa penelitian pencitraan saraf menunjukkan adanya perbedaan antara anak-anak dengan ADHD dan kelompok kontrol, meta-analisis terhadap seluruh penelitian pencitraan saraf tidak menunjukkan perbedaan antara individu dengan ADHD dan kelompok kontrol. Hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh perbedaan kriteria diagnostik, ukuran sampel, tugas yang digunakan, serta aspek teknis metode pencitraan saraf. Hingga permasalahan tersebut dapat diatasi, tidak ada bentuk pencitraan saraf yang dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis ADHD.

Hubungan dengan Pikiran atau Perilaku Bunuh Diri

ADHD merupakan faktor risiko munculnya ide dan perilaku bunuh diri pada anak-anak. Demikian pula pada masa dewasa, ADHD berkaitan dengan peningkatan risiko percobaan bunuh diri ketika terjadi bersamaan dengan gangguan suasana hati, gangguan perilaku, atau gangguan penggunaan zat, bahkan setelah pengaruh komorbiditas dikendalikan. Pikiran bunuh diri juga lebih sering ditemukan pada populasi ADHD dibandingkan kelompok kontrol tanpa ADHD. ADHD ditemukan dapat memprediksi menetapnya pikiran bunuh diri pada tentara Angkatan Darat Amerika Serikat.

Konsekuensi Fungsional Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas

ADHD berkaitan dengan penurunan kinerja sekolah dan pencapaian akademik. Defisit akademik, masalah yang berkaitan dengan sekolah, dan kurangnya perhatian dari teman sebaya cenderung paling berkaitan dengan meningkatnya gejala kurangnya perhatian. Sebaliknya, penolakan dari teman sebaya dan, pada tingkat yang lebih rendah, cedera akibat kecelakaan paling menonjol pada individu dengan gejala hiperaktivitas atau impulsivitas yang nyata. Upaya individu yang tidak memadai atau tidak konsisten dalam mengerjakan tugas yang membutuhkan usaha berkelanjutan sering ditafsirkan oleh orang lain sebagai kemalasan, ketidakbertanggungjawaban, atau ketidakmauan bekerja sama.

Orang dewasa muda dengan ADHD memiliki stabilitas pekerjaan yang rendah. Orang dewasa dengan ADHD menunjukkan kinerja pekerjaan, pencapaian karier, dan kehadiran kerja yang lebih buruk, serta kemungkinan menganggur dan konflik interpersonal yang lebih tinggi. Secara rata-rata, individu dengan ADHD menempuh pendidikan formal yang lebih singkat, memiliki pencapaian vokasional yang lebih rendah, dan menunjukkan skor intelektual yang lebih rendah dibandingkan teman sebayanya, meskipun terdapat variasi yang sangat besar. Dalam bentuk yang berat, gangguan ini menyebabkan hambatan fungsi yang nyata serta memengaruhi penyesuaian sosial, keluarga, dan sekolah atau pekerjaan.

Hubungan keluarga dapat ditandai oleh perselisihan dan interaksi negatif. Individu dengan ADHD memiliki harga diri yang lebih rendah dibandingkan teman sebaya tanpa ADHD. Hubungan dengan teman sebaya sering terganggu akibat penolakan, pengabaian, atau ejekan yang ditujukan kepada individu dengan ADHD.

Anak-anak dengan ADHD secara signifikan lebih mungkin mengalami gangguan perilaku (conduct disorder) pada masa remaja dan gangguan kepribadian antisosial pada masa dewasa dibandingkan teman sebaya tanpa ADHD. Hal tersebut selanjutnya meningkatkan kemungkinan terjadinya gangguan penggunaan zat dan pemenjaraan. Risiko munculnya gangguan penggunaan zat di kemudian hari meningkat, terutama apabila berkembang gangguan perilaku atau gangguan kepribadian antisosial.

Individu dengan ADHD lebih mungkin mengalami cedera dibandingkan teman sebayanya. Anak-anak dan orang dewasa dengan ADHD memiliki risiko lebih tinggi mengalami trauma dan kemudian mengembangkan sindrom stres pascatrauma. Kecelakaan lalu lintas dan pelanggaran lalu lintas lebih sering terjadi pada pengemudi dengan ADHD. Individu dengan ADHD memiliki tingkat kematian keseluruhan yang lebih tinggi, terutama akibat kecelakaan dan cedera. Kemungkinan mengalami obesitas dan hipertensi juga mungkin meningkat pada individu dengan ADHD.

Diagnosis Banding

Gangguan Menentang Oposisional

Individu dengan gangguan menentang oposisional mungkin menolak tugas pekerjaan atau sekolah yang membutuhkan usaha mandiri karena mereka menolak mengikuti tuntutan orang lain. Perilaku mereka ditandai oleh sikap negatif, permusuhan, dan pembangkangan. Gejala tersebut harus dibedakan dari keengganan terhadap tugas sekolah atau tugas yang membutuhkan usaha mental karena kesulitan mempertahankan usaha mental, melupakan instruksi, dan impulsivitas pada individu dengan ADHD. Hal yang mempersulit diagnosis banding adalah kenyataan bahwa sebagian individu dengan ADHD dapat mengembangkan sikap menentang sekunder terhadap tugas-tugas tersebut dan menganggap tugas tersebut tidak penting.

Gangguan Ledakan Intermiten

ADHD dan gangguan ledakan intermiten sama-sama menunjukkan tingkat perilaku impulsif yang tinggi. Namun, individu dengan gangguan ledakan intermiten menunjukkan agresi serius terhadap orang lain, yang bukan merupakan karakteristik ADHD, dan mereka tidak mengalami masalah dalam mempertahankan perhatian sebagaimana ditemukan pada ADHD. Selain itu, gangguan ledakan intermiten jarang ditemukan pada masa kanak-kanak. Gangguan ledakan intermiten dapat didiagnosis bersamaan dengan ADHD.

Gangguan Perkembangan Saraf Lainnya

Peningkatan aktivitas motorik yang mungkin terjadi pada ADHD harus dibedakan dari perilaku motorik berulang yang menjadi karakteristik gangguan gerakan stereotip dan sebagian kasus gangguan spektrum autisme. Pada gangguan gerakan stereotip, perilaku motorik biasanya bersifat tetap dan berulang (misalnya, mengayunkan tubuh atau menggigit diri sendiri), sedangkan gerakan gelisah dan kegelisahan pada ADHD biasanya bersifat umum dan tidak ditandai oleh gerakan stereotip yang berulang. Pada gangguan Tourette, munculnya banyak tik secara sering dapat disalahartikan sebagai gerakan gelisah umum pada ADHD. Observasi dalam waktu yang lebih panjang mungkin diperlukan untuk membedakan gerakan gelisah dari episode munculnya beberapa tik secara bersamaan.

Gangguan Belajar Spesifik

Anak-anak yang hanya mengalami gangguan belajar spesifik mungkin tampak kurang memperhatikan karena frustrasi, kurangnya minat, atau keterbatasan kemampuan dalam proses neurokognitif, termasuk memori kerja dan kecepatan pemrosesan. Namun, kurangnya perhatian tersebut akan jauh berkurang ketika mereka melakukan keterampilan yang tidak membutuhkan proses kognitif yang mengalami gangguan.

Gangguan Perkembangan Intelektual (Disabilitas Intelektual)

Gejala ADHD umum ditemukan pada anak-anak dengan gangguan perkembangan intelektual yang ditempatkan dalam lingkungan akademik yang tidak sesuai dengan kemampuan intelektual mereka. Dalam kondisi tersebut, gejala tidak terlihat selama mengerjakan tugas nonakademik. Diagnosis ADHD pada individu dengan gangguan perkembangan intelektual mensyaratkan bahwa kurangnya perhatian atau hiperaktivitas yang dialami berada pada tingkat yang berlebihan dibandingkan usia mental individu.

Gangguan Spektrum Autisme

Individu dengan ADHD maupun gangguan spektrum autisme dapat menunjukkan kurangnya perhatian, gangguan fungsi sosial, dan perilaku yang sulit dikelola. Gangguan fungsi sosial dan penolakan teman sebaya yang ditemukan pada individu dengan ADHD harus dibedakan dari kurangnya keterlibatan sosial, isolasi, dan ketidakpedulian terhadap isyarat komunikasi melalui ekspresi wajah dan intonasi suara yang ditemukan pada individu dengan gangguan spektrum autisme. Anak-anak dengan gangguan spektrum autisme mungkin menunjukkan ledakan emosi karena tidak mampu mentoleransi perubahan dari rangkaian kejadian yang mereka harapkan. Sebaliknya, anak-anak dengan ADHD mungkin menunjukkan perilaku yang tidak sesuai atau mengalami ledakan emosi selama transisi besar akibat impulsivitas atau pengendalian diri yang buruk.

Gangguan Kelekatan Reaktif

Anak-anak dengan gangguan kelekatan reaktif mungkin menunjukkan kurangnya hambatan dalam perilaku sosial, tetapi tidak menunjukkan keseluruhan kelompok gejala ADHD. Mereka juga menunjukkan karakteristik lain, seperti tidak adanya hubungan yang bertahan lama, yang bukan merupakan karakteristik ADHD.

Gangguan Kecemasan

ADHD memiliki kesamaan gejala kurangnya perhatian dengan gangguan kecemasan. Individu dengan ADHD menunjukkan kurangnya perhatian karena lebih memilih terlibat dalam aktivitas baru yang memberikan stimulasi atau terlalu terpaku pada aktivitas yang menyenangkan. Hal ini berbeda dari kurangnya perhatian akibat kekhawatiran dan perenungan pikiran berulang yang ditemukan pada gangguan kecemasan. Kegelisahan juga mungkin terlihat pada gangguan kecemasan. Namun, pada ADHD, gejala tersebut tidak berkaitan dengan kekhawatiran dan perenungan pikiran berulang.

Gangguan Stres Pascatrauma

Kesulitan konsentrasi yang berkaitan dengan gangguan stres pascatrauma (PTSD) mungkin secara keliru didiagnosis sebagai ADHD pada anak-anak. Anak-anak berusia di bawah 6 tahun sering menunjukkan PTSD melalui gejala yang tidak spesifik, seperti kegelisahan, iritabilitas, kurangnya perhatian, dan konsentrasi yang buruk, yang dapat menyerupai ADHD. Orang tua mungkin juga meremehkan gejala anak yang berkaitan dengan trauma, sedangkan guru dan pengasuh lainnya sering tidak mengetahui bahwa anak pernah mengalami peristiwa traumatis. Asesmen menyeluruh terhadap riwayat paparan peristiwa traumatis dapat membantu menyingkirkan PTSD.

Gangguan Depresi

Individu dengan gangguan depresi mungkin menunjukkan ketidakmampuan berkonsentrasi. Namun, konsentrasi yang buruk pada gangguan suasana hati menjadi menonjol hanya selama episode depresi.

Gangguan Bipolar

Individu dengan gangguan bipolar mungkin mengalami peningkatan aktivitas, konsentrasi yang buruk, dan peningkatan impulsivitas. Namun, karakteristik tersebut bersifat episodik, berbeda dengan ADHD yang gejalanya menetap. Selain itu, pada gangguan bipolar, peningkatan impulsivitas atau kurangnya perhatian disertai suasana hati yang meningkat, grandiositas, dan karakteristik spesifik gangguan bipolar lainnya. Anak-anak dengan ADHD mungkin menunjukkan perubahan suasana hati yang bermakna dalam hari yang sama. Ketidakstabilan emosi tersebut berbeda dari episode manik atau hipomanik, yang harus berlangsung selama 4 hari atau lebih agar menjadi indikator klinis gangguan bipolar, bahkan pada anak-anak. Gangguan bipolar jarang ditemukan pada anak-anak praremaja, bahkan ketika iritabilitas dan kemarahan berat sangat menonjol, sedangkan ADHD umum ditemukan pada anak-anak dan remaja yang menunjukkan kemarahan dan iritabilitas berlebihan.

Gangguan Disregulasi Suasana Hati Disruptif

Gangguan disregulasi suasana hati disruptif ditandai oleh iritabilitas yang meluas dan ketidakmampuan mentoleransi frustrasi, tetapi impulsivitas dan perhatian yang tidak terorganisasi bukan merupakan karakteristik utamanya. Namun, sebagian besar anak-anak dan remaja dengan gangguan tersebut juga memiliki gejala yang memenuhi kriteria ADHD, sehingga ADHD didiagnosis secara terpisah.

Gangguan Penggunaan Zat

Membedakan ADHD dari gangguan penggunaan zat mungkin menjadi masalah apabila gejala ADHD pertama kali muncul setelah dimulainya penyalahgunaan atau penggunaan zat secara sering. Bukti yang jelas mengenai keberadaan ADHD sebelum penyalahgunaan zat, yang diperoleh dari informan atau catatan sebelumnya, mungkin sangat penting untuk diagnosis banding.

Gangguan Kepribadian

Pada remaja dan orang dewasa, ADHD mungkin sulit dibedakan dari gangguan kepribadian ambang, narsistik, dan gangguan kepribadian lainnya. Beberapa gangguan kepribadian cenderung memiliki karakteristik yang serupa, seperti perilaku yang tidak terorganisasi, kecenderungan mencampuri interaksi sosial, disregulasi emosi, dan disregulasi kognitif. Namun, ADHD tidak ditandai oleh ketakutan akan ditinggalkan, perilaku melukai diri sendiri, ambivalensi ekstrem, atau karakteristik gangguan kepribadian lainnya. Observasi klinis yang lebih panjang, wawancara dengan informan, atau penggalian riwayat yang terperinci mungkin diperlukan untuk membedakan perilaku impulsif, perilaku yang mengganggu interaksi sosial, atau perilaku yang tidak sesuai dari perilaku narsistik, agresif, atau mendominasi dalam penegakan diagnosis banding ini.

Gangguan Psikotik

ADHD tidak didiagnosis apabila gejala kurangnya perhatian dan hiperaktivitas hanya muncul selama perjalanan suatu gangguan psikotik.

Gejala ADHD yang Diinduksi Obat

Gejala kurangnya perhatian, hiperaktivitas, atau impulsivitas yang disebabkan oleh penggunaan obat-obatan (misalnya, bronkodilator, isoniazid, neuroleptik [yang menyebabkan akatisia], atau obat pengganti hormon tiroid) didiagnosis sebagai gangguan terkait zat lain (atau tidak diketahui) yang ditentukan secara spesifik atau tidak ditentukan.

Gangguan Neurokognitif

Meskipun gangguan perhatian kompleks dapat menjadi salah satu domain kognitif yang terdampak pada gangguan neurokognitif, gangguan tersebut harus menunjukkan penurunan dari tingkat kemampuan sebelumnya agar diagnosis gangguan neurokognitif mayor atau ringan dapat ditegakkan. Selain itu, gangguan neurokognitif mayor atau ringan biasanya mulai muncul pada masa dewasa. Sebaliknya, kurangnya perhatian pada ADHD harus sudah muncul sebelum usia 12 tahun dan bukan merupakan penurunan dari tingkat fungsi sebelumnya.

Komorbiditas

Meskipun ADHD lebih sering ditemukan pada laki-laki, perempuan dengan ADHD memiliki angka kejadian yang lebih tinggi untuk sejumlah gangguan komorbid, terutama gangguan menentang oposisional, gangguan spektrum autisme, serta gangguan kepribadian dan gangguan penggunaan zat. Gangguan menentang oposisional terjadi bersamaan dengan ADHD pada sekitar setengah anak dengan presentasi kombinasi dan sekitar seperempat anak dengan presentasi dominan kurangnya perhatian. Gangguan perilaku (conduct disorder) terjadi bersamaan pada sekitar seperempat anak atau remaja dengan presentasi kombinasi, bergantung pada usia dan lingkungan. Sebagian besar anak dan remaja dengan gangguan disregulasi suasana hati disruptif juga memiliki gejala yang memenuhi kriteria ADHD; sebaliknya, persentase anak dengan ADHD yang memiliki gejala yang memenuhi kriteria gangguan disregulasi suasana hati disruptif lebih kecil. Gangguan kecemasan, gangguan depresi mayor, gangguan obsesif-kompulsif, dan gangguan ledakan intermiten ditemukan pada sebagian kecil individu dengan ADHD, tetapi lebih sering dibandingkan populasi umum. Meskipun gangguan penggunaan zat relatif lebih sering ditemukan pada orang dewasa dengan ADHD dalam populasi umum, gangguan tersebut hanya terdapat pada sebagian kecil orang dewasa dengan ADHD. Pada orang dewasa, gangguan kepribadian antisosial dan gangguan kepribadian lainnya juga dapat terjadi bersamaan dengan ADHD.

ADHD dapat terjadi bersamaan dengan gangguan perkembangan saraf lainnya dengan profil gejala yang bervariasi, termasuk gangguan belajar spesifik, gangguan spektrum autisme, gangguan perkembangan intelektual, gangguan bahasa, gangguan koordinasi perkembangan, dan gangguan tik.

Gangguan tidur yang menjadi komorbid ADHD berkaitan dengan gangguan fungsi kognitif pada siang hari (misalnya, kurangnya perhatian). Banyak individu dengan ADHD melaporkan rasa kantuk pada siang hari yang mungkin memenuhi kriteria gangguan hipersomnolensi. Sekitar seperempat hingga setengah individu dengan ADHD melaporkan kesulitan tidur. Berbagai penelitian telah menunjukkan hubungan antara ADHD dan insomnia, gangguan tidur-bangun irama sirkadian, gangguan pernapasan saat tidur, serta sindrom kaki gelisah.

Individu dengan ADHD diketahui memiliki peningkatan angka kejadian sejumlah kondisi medis, terutama alergi dan gangguan autoimun, serta epilepsi.

Bagikan:

Siap Memulai Psikotes Online Anda?

Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.

Pilih Layanan Lihat Semua Alat Tes Hubungi Kami
Hubungi Kami