F18.10 F18.11 F18.20 F18.20 F18.21 F18.21 16_21

Gangguan Penggunaan Inhalansia

Inhalant Use Disorder

Substance-Related Disorders Inhalant-Related Disorders DSM-5-TR 0x dibaca

Kriteria Diagnostik

A. Pola penggunaan zat inhalansia berbasis hidrokarbon yang bermasalah dan menyebabkan gangguan keberfungsian atau distres yang bermakna secara klinis, sebagaimana dimanifestasikan oleh setidaknya dua dari gejala berikut yang terjadi dalam periode 12 bulan:

  1. Zat inhalansia sering digunakan dalam jumlah yang lebih besar atau selama periode yang lebih lama daripada yang dimaksudkan.
  2. Terdapat keinginan yang menetap atau upaya yang tidak berhasil untuk mengurangi atau mengendalikan penggunaan zat inhalansia.
  3. Sebagian besar waktu dihabiskan untuk melakukan aktivitas yang diperlukan guna memperoleh zat inhalansia, menggunakannya, atau memulihkan diri dari efeknya.
  4. Adanya craving, yaitu keinginan atau dorongan yang kuat untuk menggunakan zat inhalansia.
  5. Penggunaan zat inhalansia secara berulang yang mengakibatkan kegagalan dalam memenuhi kewajiban peran utama di tempat kerja, sekolah, atau rumah.
  6. Penggunaan zat inhalansia terus berlanjut meskipun terdapat masalah sosial atau interpersonal yang menetap atau berulang, yang disebabkan atau diperburuk oleh efek penggunaannya.
  7. Aktivitas sosial, pekerjaan, atau rekreasi yang penting ditinggalkan atau dikurangi akibat penggunaan zat inhalansia.
  8. Penggunaan zat inhalansia secara berulang dalam situasi yang membahayakan keselamatan fisik.
  9. Penggunaan zat inhalansia terus berlanjut meskipun individu mengetahui bahwa dirinya memiliki masalah fisik atau psikologis yang menetap atau berulang, yang kemungkinan disebabkan atau diperburuk oleh zat tersebut.
  10. Toleransi, sebagaimana didefinisikan oleh salah satu dari hal berikut: (a) Kebutuhan untuk menggunakan zat inhalansia dalam jumlah yang meningkat secara nyata guna mencapai intoksikasi atau efek yang diinginkan. (b) Penurunan efek yang nyata ketika jumlah zat inhalansia yang sama terus digunakan.

Tentukan Jenis Inhalansia Tertentu: Jika memungkinkan, zat tertentu yang terlibat harus disebutkan (misalnya, “gangguan penggunaan pelarut”).

Tentukan Jika:

Dalam Remisi Awal: Setelah seluruh kriteria gangguan penggunaan inhalansia sebelumnya terpenuhi, tidak ada satu pun kriteria gangguan penggunaan inhalansia yang terpenuhi selama setidaknya 3 bulan tetapi kurang dari 12 bulan (dengan pengecualian bahwa Kriteria A4, yaitu “Craving, atau keinginan maupun dorongan yang kuat untuk menggunakan zat inhalansia”, masih mungkin terpenuhi).

Dalam Remisi Berkelanjutan: Setelah seluruh kriteria gangguan penggunaan inhalansia sebelumnya terpenuhi, tidak ada satu pun kriteria gangguan penggunaan inhalansia yang terpenuhi kapan pun selama periode 12 bulan atau lebih (dengan pengecualian bahwa Kriteria A4, yaitu “Craving, atau keinginan maupun dorongan yang kuat untuk menggunakan zat inhalansia”, masih mungkin terpenuhi).

Tentukan Jika:

Dalam Lingkungan Terkendali: Penanda tambahan ini digunakan apabila individu berada dalam lingkungan yang membatasi akses terhadap zat inhalansia.

Pengodean Berdasarkan Tingkat Keparahan/Remisi Saat Ini: Apabila intoksikasi inhalansia atau gangguan mental lainnya akibat inhalansia juga ditemukan, jangan menggunakan kode gangguan penggunaan inhalansia di bawah ini. Sebagai gantinya, gangguan penggunaan inhalansia yang menjadi komorbiditas ditunjukkan melalui karakter keempat pada kode gangguan akibat inhalansia (lihat catatan pengodean untuk intoksikasi inhalansia atau gangguan mental tertentu akibat inhalansia). Sebagai contoh, apabila terdapat gangguan depresif akibat inhalansia dan gangguan penggunaan inhalansia sebagai komorbiditas, hanya kode gangguan depresif akibat inhalansia yang diberikan, dengan karakter keempat menunjukkan apakah gangguan penggunaan inhalansia yang menjadi komorbiditas bersifat ringan, sedang, atau berat: F18.14 untuk gangguan penggunaan inhalansia ringan dengan gangguan depresif akibat inhalansia atau F18.24 untuk gangguan penggunaan inhalansia sedang atau berat dengan gangguan depresif akibat inhalansia.

Tentukan Tingkat Keparahan/Remisi Saat Ini:

F18.10 Ringan: Terdapat 2–3 gejala.

F18.11 Ringan, Dalam Remisi Awal

F18.11 Ringan, Dalam Remisi Berkelanjutan

F18.20 Sedang: Terdapat 4–5 gejala.

F18.21 Sedang, Dalam Remisi Awal

F18.21 Sedang, Dalam Remisi Berkelanjutan

F18.20 Berat: Terdapat 6 gejala atau lebih.

F18.21 Berat, Dalam Remisi Awal

F18.21 Berat, Dalam Remisi Berkelanjutan

Penanda

“Dalam lingkungan terkendali” berlaku sebagai penanda tambahan untuk remisi apabila individu berada dalam kondisi remisi sekaligus dalam lingkungan terkendali (yaitu, dalam remisi awal di lingkungan terkendali atau dalam remisi berkelanjutan di lingkungan terkendali). Contoh lingkungan tersebut mencakup lembaga pemasyarakatan dengan pengawasan ketat dan bebas zat, komunitas terapeutik, serta unit rumah sakit yang terkunci.

Tingkat keparahan gangguan penggunaan inhalansia pada individu dinilai berdasarkan jumlah kriteria diagnostik yang terpenuhi. Perubahan tingkat keparahan gangguan penggunaan inhalansia dari waktu ke waktu tercermin melalui penurunan frekuensi (misalnya, jumlah hari penggunaan per bulan) dan/atau dosis (misalnya, jumlah tabung lem yang digunakan per hari), sebagaimana dinilai berdasarkan laporan diri individu, laporan orang lain, observasi klinisi, dan pemeriksaan biologis (apabila memungkinkan).

Karakteristik Diagnostik

Contoh zat inhalansia mencakup hidrokarbon volatil, yang meliputi gas beracun dari lem, bahan bakar, cat, dan senyawa volatil lainnya. Jika memungkinkan, zat tertentu yang terlibat harus disebutkan (misalnya, “gangguan penggunaan toluena”). Namun, sebagian besar senyawa yang dihirup merupakan campuran dari beberapa zat yang dapat menghasilkan efek psikoaktif, sehingga sering kali sulit untuk memastikan zat tertentu yang bertanggung jawab terhadap gangguan tersebut. Kecuali terdapat bukti yang jelas bahwa hanya satu zat tanpa campuran yang digunakan, istilah umum inhalansia harus digunakan dalam pencatatan diagnosis. Gangguan yang timbul akibat penghirupan dinitrogen oksida atau amil nitrit, butil nitrit, maupun isobutil nitrit dianggap sebagai gangguan penggunaan zat lainnya (atau yang tidak diketahui).

Karakteristik gangguan penggunaan inhalansia mencakup penggunaan zat inhalansia secara berulang meskipun individu mengetahui bahwa zat tersebut menyebabkan masalah serius bagi dirinya (Kriteria A9). Masalah-masalah tersebut tercermin dalam kriteria diagnostik.

Ketidakhadiran di tempat kerja atau sekolah maupun ketidakmampuan untuk menjalankan tanggung jawab yang biasa dilakukan di tempat kerja atau sekolah (Kriteria A5), serta penggunaan zat inhalansia yang terus berlanjut meskipun menyebabkan pertengkaran dengan keluarga atau teman, perkelahian, dan masalah sosial atau interpersonal lainnya (Kriteria A6), dapat ditemukan pada gangguan penggunaan inhalansia. Pembatasan kontak dengan keluarga, kewajiban pekerjaan atau sekolah, maupun aktivitas rekreasi (misalnya, olahraga, permainan, dan hobi) juga dapat terjadi (Kriteria A7). Penggunaan inhalansia ketika mengemudi atau mengoperasikan peralatan berbahaya (Kriteria A8) juga ditemukan.

Toleransi (Kriteria A10) dilaporkan oleh sekitar 10% individu yang menggunakan inhalansia. Karena sindrom putus zat yang bermakna secara klinis belum ditetapkan pada penggunaan inhalansia, diagnosis putus inhalansia maupun kriteria diagnostik terkait keluhan putus zat pada gangguan penggunaan inhalansia tidak dimasukkan. Namun, gejala putus zat dapat terjadi pada pengguna inhalansia dan individu dengan gangguan penggunaan inhalansia sedang hingga berat, dan frekuensi gejala tersebut tampaknya serupa dengan frekuensi gejala putus zat pada individu dengan gangguan penggunaan kokain sedang hingga berat.

Karakteristik Penyerta

Diagnosis gangguan penggunaan inhalansia didukung oleh episode intoksikasi berulang dengan hasil negatif pada pemeriksaan skrining zat standar (yang tidak mendeteksi inhalansia); kepemilikan zat inhalansia atau adanya bau zat inhalansia yang menetap; ruam di sekitar mulut atau hidung akibat menghirup lem (glue-sniffer's rash); hubungan dengan individu lain yang diketahui menggunakan inhalansia; keanggotaan dalam kelompok dengan prevalensi penggunaan inhalansia yang tinggi (misalnya, beberapa komunitas penduduk asli atau masyarakat adat serta anak-anak tunawisma dalam kelompok jalanan); kemudahan akses terhadap zat inhalansia tertentu; kepemilikan perlengkapan untuk menggunakan zat; adanya komplikasi medis yang khas dari gangguan tersebut (misalnya, kelainan substansia alba otak dan rabdomiolisis); serta adanya beberapa gangguan penggunaan zat lainnya. Individu dengan gangguan penggunaan inhalansia dapat menunjukkan gejala anemia pernisiosa, degenerasi kombinasi subakut medula spinalis, gangguan neurokognitif mayor atau ringan, atrofi otak, leukoensefalopati, dan berbagai gangguan sistem saraf lainnya.

Prevalensi

Sekitar 2,3% remaja Amerika Serikat berusia 12–17 tahun telah menggunakan inhalansia selama 12 bulan terakhir, dengan 0,1% memiliki pola penggunaan yang memenuhi kriteria gangguan penggunaan inhalansia. Di antara orang dewasa di Amerika Serikat yang berusia 18 tahun atau lebih, prevalensi penggunaan inhalansia selama 12 bulan terakhir adalah sekitar 0,21%, dengan 0,04% memiliki pola penggunaan yang memenuhi kriteria gangguan penggunaan inhalansia. Di antara remaja, prevalensi penggunaan inhalansia selama 12 bulan terakhir paling tinggi ditemukan pada individu kulit putih non-Hispanik dan individu yang melaporkan lebih dari satu identitas ras, sedangkan yang paling rendah ditemukan pada penduduk Indian Amerika/penduduk asli Alaska. Angka prevalensi penggunaan inhalansia dan gangguan penggunaan inhalansia selama 12 bulan pada orang dewasa paling tinggi ditemukan pada individu kulit putih non-Hispanik dan paling rendah pada individu kulit hitam non-Hispanik serta penduduk Indian Amerika/penduduk asli Alaska.

Perkembangan dan Perjalanan Gangguan

Penurunan prevalensi penggunaan inhalansia dan gangguan penggunaan inhalansia di Amerika Serikat setelah masa remaja (dari 2,3% selama masa remaja menjadi 0,1% pada masa dewasa awal untuk penggunaan inhalansia, serta dari 0,1% menjadi 0,04% untuk gangguan penggunaan inhalansia) menunjukkan bahwa gangguan ini biasanya mengalami remisi pada masa dewasa awal. Gangguan penggunaan inhalansia jarang terjadi pada anak-anak prapubertas, paling umum ditemukan pada remaja dan dewasa muda, serta tidak umum ditemukan pada individu yang lebih tua. Panggilan ke pusat pengendalian keracunan terkait “penyalahgunaan inhalansia secara sengaja” mencapai puncaknya pada kasus yang melibatkan individu berusia 14 tahun. Individu dengan gangguan penggunaan inhalansia yang berlanjut hingga masa dewasa menunjukkan onset penggunaan inhalansia yang lebih dini, penggunaan berbagai jenis inhalansia, dan frekuensi penggunaan inhalansia yang lebih tinggi.

Faktor Risiko dan Prognostik

Faktor Temperamental

Prediktor gangguan penggunaan inhalansia mencakup kecenderungan mencari sensasi dan impulsivitas.

Faktor Lingkungan

Gas inhalansia tersedia secara luas dan legal, sehingga meningkatkan risiko penyalahgunaan. Perlakuan buruk atau trauma pada masa kanak-kanak juga berkaitan dengan perkembangan dari tidak menggunakan inhalansia menjadi mengalami gangguan penggunaan inhalansia pada usia muda.

Faktor Genetik dan Fisiologis

Disinhibisi perilaku merupakan kecenderungan umum yang sangat dipengaruhi oleh faktor keturunan, yang ditandai dengan kurangnya kemampuan membatasi perilaku agar sesuai dengan norma sosial, kecenderungan melanggar norma dan aturan sosial, serta mengambil risiko berbahaya dengan mengejar imbalan secara berlebihan meskipun terdapat bahaya konsekuensi yang merugikan. Remaja dengan disinhibisi perilaku yang kuat menunjukkan faktor risiko gangguan penggunaan inhalansia, yaitu onset dini gangguan penggunaan zat, keterlibatan penggunaan berbagai zat, dan masalah perilaku yang muncul sejak dini. Karena disinhibisi perilaku sangat dipengaruhi oleh faktor genetik, remaja dalam keluarga yang memiliki riwayat penggunaan zat dan perilaku antisosial mempunyai peningkatan risiko mengalami gangguan penggunaan inhalansia.

Isu Diagnostik Terkait Budaya

Secara internasional, beberapa komunitas masyarakat adat yang terisolasi telah mengalami prevalensi masalah terkait inhalansia yang tinggi. Selain itu, di beberapa negara berpenghasilan rendah dan menengah, kelompok anak-anak tunawisma yang hidup di jalanan mengalami masalah penggunaan inhalansia yang luas akibat kemiskinan serta ketersediaan dan keterjangkauan harga zat-zat tersebut, sekaligus sebagai cara untuk mengatasi kondisi kehidupan tanpa tempat tinggal.

Isu Diagnostik Terkait Jenis Kelamin dan Gender

Meskipun prevalensi gangguan penggunaan inhalansia selama 12 bulan terakhir di Amerika Serikat hampir sama antara remaja laki-laki dan perempuan, gangguan ini sangat jarang ditemukan pada perempuan dewasa.

Penanda Diagnostik

Pemeriksaan urine, napas, atau saliva dapat bermanfaat untuk menilai penggunaan zat non-inhalansia secara bersamaan pada individu dengan gangguan penggunaan inhalansia. Namun, kendala teknis dan biaya analisis yang cukup besar menyebabkan pemeriksaan biologis secara rutin terhadap zat inhalansia itu sendiri menjadi tidak praktis.

Hubungan dengan Pikiran atau Perilaku Bunuh Diri

Di Amerika Serikat, penggunaan inhalansia dan gangguan penggunaan inhalansia pada remaja maupun orang dewasa berkaitan dengan pikiran dan perilaku bunuh diri, terutama pada individu yang melaporkan gejala kecemasan dan depresi serta memiliki riwayat trauma.

Konsekuensi Fungsional Gangguan Penggunaan Inhalansia

Karena sifat toksisitas yang melekat pada zat tersebut, penggunaan inhalansia dapat berakibat fatal. Kematian dapat terjadi akibat anoksia, disfungsi jantung, reaksi alergi yang ekstrem, cedera paru-paru yang berat, muntah, kecelakaan atau cedera, maupun depresi sistem saraf pusat. Selain itu, hidrokarbon volatil apa pun yang dihirup dapat menyebabkan “kematian mendadak akibat menghirup zat” (sudden sniffing death) karena aritmia jantung. Penggunaan inhalansia mengganggu fungsi neuroperilaku dan menyebabkan berbagai masalah neurologis, gastrointestinal, kardiovaskular, serta paru-paru.

Pengguna inhalansia dalam jangka panjang memiliki peningkatan risiko mengalami tuberkulosis, HIV/AIDS, penyakit menular seksual, depresi, kecemasan, bronkitis, asma, dan sinusitis.

Diagnosis Banding

Paparan Inhalansia yang Tidak Disengaja Akibat Kecelakaan Industri atau Kecelakaan Lainnya

Diagnosis gangguan penggunaan inhalansia hanya berlaku apabila paparan terhadap inhalansia terjadi secara sengaja.

Intoksikasi Inhalansia Tanpa Memenuhi Kriteria Gangguan Penggunaan Inhalansia

Intoksikasi inhalansia sering terjadi pada individu dengan gangguan penggunaan inhalansia, tetapi juga dapat terjadi pada individu yang pola penggunaannya tidak memenuhi kriteria gangguan penggunaan inhalansia.

Intoksikasi Inhalansia yang Memenuhi Kriteria Gangguan Penggunaan Inhalansia dan Gangguan Mental Akibat Inhalansia

Gangguan penggunaan inhalansia dibedakan dari intoksikasi inhalansia dan gangguan mental akibat inhalansia (misalnya, gangguan depresif akibat inhalansia) karena gangguan penggunaan inhalansia menggambarkan pola penggunaan inhalansia yang bermasalah, yang melibatkan gangguan pengendalian terhadap penggunaan inhalansia, gangguan keberfungsian sosial akibat penggunaan inhalansia, penggunaan inhalansia yang berisiko (misalnya, penggunaan inhalansia meskipun terdapat komplikasi medis), serta gejala farmakologis (berkembangnya toleransi), sedangkan intoksikasi inhalansia dan gangguan mental akibat inhalansia menggambarkan sindrom psikiatris yang berkembang dalam konteks penggunaan zat dalam jumlah besar. Intoksikasi inhalansia dan gangguan mental akibat inhalansia sering terjadi pada individu dengan gangguan penggunaan inhalansia. Dalam kasus tersebut, diagnosis intoksikasi inhalansia atau gangguan mental akibat inhalansia harus diberikan sebagai tambahan terhadap diagnosis gangguan penggunaan inhalansia, yang keberadaannya ditunjukkan dalam kode diagnostik.

Gangguan Penggunaan Zat Lainnya, Terutama yang Melibatkan Zat dengan Efek Sedatif (misalnya, Alkohol, Benzodiazepin, dan Barbiturat)

Gangguan penggunaan inhalansia umumnya terjadi bersamaan dengan gangguan penggunaan zat lainnya, dan gejala dari gangguan-gangguan tersebut mungkin serupa serta saling tumpang tindih. Untuk membedakan pola gejalanya, akan bermanfaat untuk menanyakan gejala mana yang tetap muncul selama periode ketika sebagian zat tersebut tidak digunakan.

Komorbiditas

Individu dengan gangguan penggunaan inhalansia yang menerima perawatan klinis sering memiliki berbagai gangguan penggunaan zat lainnya, gangguan suasana hati, gangguan kecemasan, dan gangguan kepribadian. Gangguan penggunaan inhalansia umumnya terjadi bersamaan dengan gangguan perilaku pada remaja serta gangguan kepribadian antisosial. Individu dengan gangguan penggunaan inhalansia mungkin memiliki gejala komorbid berupa kerusakan hati atau ginjal, rabdomiolisis, methemoglobinemia, atau gejala penyakit gastrointestinal, kardiovaskular, maupun paru-paru lainnya.

Bagikan:

Siap Memulai Psikotes Online Anda?

Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.

Pilih Layanan Lihat Semua Alat Tes Hubungi Kami
Hubungi Kami