F50.2 10_05

Bulimia Nervosa

Bulimia Nervosa

DSM-5-TR 1x dibaca

Bulimia Nervosa

Kriteria Diagnostik

  1. Episode makan berlebihan yang berulang. Suatu episode makan berlebihan ditandai oleh kedua hal berikut: (1) Mengonsumsi makanan dalam jumlah yang secara jelas lebih banyak daripada yang dikonsumsi sebagian besar individu dalam periode waktu yang sama dan dalam keadaan serupa, selama periode waktu tertentu (misalnya, dalam periode 2 jam). (2) Perasaan kehilangan kendali terhadap perilaku makan selama episode tersebut (misalnya, perasaan tidak mampu berhenti makan atau mengendalikan jenis maupun jumlah makanan yang dikonsumsi).
  2. Perilaku kompensatoris yang tidak tepat dan berulang untuk mencegah peningkatan berat badan, seperti muntah yang disengaja; penyalahgunaan obat pencahar, diuretik, atau obat-obatan lainnya; puasa; atau olahraga berlebihan.
  3. Episode makan berlebihan dan perilaku kompensatoris yang tidak tepat tersebut masing-masing terjadi, rata-rata, setidaknya satu kali dalam seminggu selama 3 bulan.
  4. Evaluasi diri dipengaruhi secara berlebihan oleh bentuk dan berat tubuh.
  5. Gangguan tersebut tidak terjadi secara eksklusif selama episode anoreksia nervosa.

Tentukan Jika:

  • Dalam remisi parsial: Setelah sebelumnya memenuhi seluruh kriteria bulimia nervosa, sebagian kriteria, tetapi tidak seluruhnya, masih terpenuhi selama periode waktu yang berkelanjutan.
  • Dalam remisi penuh: Setelah sebelumnya memenuhi seluruh kriteria bulimia nervosa, tidak satu pun kriteria tersebut terpenuhi selama periode waktu yang berkelanjutan.

Tentukan Tingkat Keparahan Saat Ini:

Tingkat keparahan minimum didasarkan pada frekuensi perilaku kompensatoris yang tidak tepat (lihat di bawah). Tingkat keparahan dapat ditingkatkan untuk mencerminkan gejala lainnya dan derajat gangguan keberfungsian.

  • Ringan: Rata-rata 1–3 episode perilaku kompensatoris yang tidak tepat per minggu.

  • Sedang: Rata-rata 4–7 episode perilaku kompensatoris yang tidak tepat per minggu.

  • Berat: Rata-rata 8–13 episode perilaku kompensatoris yang tidak tepat per minggu.

  • Ekstrem: Rata-rata 14 episode atau lebih perilaku kompensatoris yang tidak tepat per minggu.

Karakteristik Diagnostik

Terdapat tiga karakteristik utama bulimia nervosa, yaitu episode makan berlebihan yang berulang (Kriteria A), perilaku kompensatoris yang tidak tepat dan berulang untuk mencegah peningkatan berat badan (Kriteria B), serta evaluasi diri yang dipengaruhi secara berlebihan oleh bentuk dan berat tubuh (Kriteria D). Untuk memenuhi persyaratan diagnosis, episode makan berlebihan dan perilaku kompensatoris yang tidak tepat harus terjadi, rata-rata, setidaknya satu kali dalam seminggu selama 3 bulan (Kriteria C).

“Episode makan berlebihan” didefinisikan sebagai mengonsumsi makanan dalam jumlah yang secara jelas lebih banyak dibandingkan dengan yang dikonsumsi sebagian besar individu dalam periode waktu yang sama dan dalam keadaan serupa, selama periode waktu tertentu (Kriteria A1). Konteks ketika aktivitas makan berlangsung dapat memengaruhi perkiraan klinisi mengenai apakah asupan makanan tersebut tergolong berlebihan. Sebagai contoh, jumlah makanan yang mungkin dianggap berlebihan untuk waktu makan biasa dapat dianggap normal selama perayaan atau jamuan makan pada hari libur. “Periode waktu tertentu” mengacu pada rentang waktu yang terbatas, biasanya kurang dari 2 jam. Satu episode makan berlebihan tidak harus terbatas pada satu tempat. Sebagai contoh, individu mungkin mulai makan berlebihan di restoran, kemudian melanjutkan makan setelah kembali ke rumah. Mengonsumsi makanan ringan dalam jumlah kecil secara terus-menerus sepanjang hari tidak dianggap sebagai episode makan berlebihan.

Konsumsi makanan yang berlebihan harus disertai perasaan kehilangan kendali (Kriteria A2) agar dapat dianggap sebagai episode makan berlebihan. Salah satu indikator kehilangan kendali adalah ketidakmampuan menahan diri untuk tidak makan atau menghentikan aktivitas makan setelah dimulai. Sebagian individu menggambarkan pengalaman yang bersifat disosiatif selama atau setelah episode makan berlebihan. Gangguan pengendalian yang berkaitan dengan makan berlebihan tidak selalu bersifat mutlak; sebagai contoh, individu mungkin terus makan berlebihan ketika telepon berdering, tetapi berhenti apabila teman sekamar atau pasangan tiba-tiba memasuki ruangan. Sebagian individu melaporkan bahwa episode makan berlebihan mereka tidak lagi ditandai oleh perasaan kehilangan kendali yang akut, melainkan oleh pola makan tidak terkendali yang lebih umum. Apabila individu melaporkan bahwa mereka telah menghentikan upaya untuk mengendalikan perilaku makannya, kehilangan kendali harus dianggap ada. Dalam beberapa kasus, episode makan berlebihan juga dapat direncanakan sebelumnya.

Jenis makanan yang dikonsumsi selama episode makan berlebihan bervariasi, baik antarindividu maupun pada individu yang sama. Episode makan berlebihan tampaknya lebih ditandai oleh jumlah makanan yang dikonsumsi secara tidak normal dibandingkan dengan keinginan untuk mengonsumsi zat gizi tertentu. Namun, selama episode makan berlebihan, individu cenderung mengonsumsi makanan yang biasanya mereka hindari.

Individu dengan bulimia nervosa biasanya merasa malu terhadap masalah makannya dan berusaha menyembunyikan gejala-gejalanya. Episode makan berlebihan biasanya terjadi secara diam-diam atau dengan cara yang sebisa mungkin tidak menarik perhatian. Perilaku makan berlebihan sering berlanjut hingga individu merasa sangat kenyang, tidak nyaman, atau bahkan kesakitan. Faktor yang paling umum mendahului episode makan berlebihan adalah afek negatif. Pemicu lainnya mencakup stresor interpersonal; pembatasan makanan; perasaan negatif yang berkaitan dengan berat badan, bentuk tubuh, dan makanan; serta kebosanan. Makan berlebihan dapat mengurangi atau meredakan faktor-faktor yang memicu episode tersebut dalam jangka pendek, tetapi evaluasi diri yang negatif dan disforia sering muncul sebagai konsekuensi yang tertunda.

Karakteristik utama lainnya dari bulimia nervosa adalah penggunaan perilaku kompensatoris yang tidak tepat secara berulang untuk mencegah peningkatan berat badan (Kriteria B). Banyak individu dengan bulimia nervosa menggunakan beberapa metode untuk mengimbangi episode makan berlebihan. Muntah yang disengaja, yaitu salah satu bentuk perilaku pengeluaran makanan (purging), merupakan perilaku kompensatoris yang tidak tepat dan paling umum ditemukan. Dampak langsung dari muntah mencakup berkurangnya ketidaknyamanan fisik dan menurunnya ketakutan terhadap peningkatan berat badan. Dalam beberapa kasus, muntah menjadi tujuan tersendiri, sehingga individu akan makan berlebihan agar dapat muntah atau akan muntah setelah mengonsumsi makanan dalam jumlah kecil. Individu dengan bulimia nervosa dapat menggunakan berbagai metode untuk memicu muntah, termasuk menggunakan jari atau alat untuk merangsang refleks muntah. Individu umumnya menjadi terampil dalam memicu muntah dan pada akhirnya mampu muntah sesuai keinginannya. Dalam kasus yang jarang terjadi, individu mengonsumsi sirup ipekak untuk memicu muntah. Perilaku pengeluaran makanan lainnya mencakup penyalahgunaan obat pencahar dan diuretik serta, dalam kasus yang jarang terjadi, penyalahgunaan enema setelah episode makan berlebihan, meskipun hal tersebut jarang menjadi satu-satunya metode kompensatoris yang digunakan. Sejumlah metode kompensatoris selain pengeluaran makanan juga dapat digunakan dalam kasus yang jarang terjadi. Sebagian individu mungkin mengonsumsi hormon tiroid sebagai upaya untuk menghindari peningkatan berat badan. Individu dengan diabetes melitus dan bulimia nervosa dapat melewatkan atau mengurangi dosis insulin untuk mengurangi metabolisme makanan yang dikonsumsi selama episode makan berlebihan. Individu dengan bulimia nervosa dapat berpuasa selama satu hari atau lebih atau berolahraga secara berlebihan sebagai upaya untuk mencegah peningkatan berat badan. Olahraga dapat dianggap berlebihan apabila secara bermakna mengganggu aktivitas penting, dilakukan pada waktu atau tempat yang tidak sesuai, atau ketika individu terus berolahraga meskipun mengalami cedera maupun komplikasi medis lainnya.

Individu dengan bulimia nervosa memberikan penekanan yang berlebihan terhadap bentuk atau berat tubuh dalam evaluasi dirinya, dan faktor-faktor tersebut biasanya sangat penting dalam menentukan harga diri (Kriteria D). Individu dengan gangguan ini dapat sangat menyerupai individu dengan anoreksia nervosa dalam hal ketakutan terhadap peningkatan berat badan, keinginan untuk menurunkan berat badan, serta tingkat ketidakpuasan terhadap tubuh mereka. Namun, diagnosis bulimia nervosa tidak boleh diberikan apabila gangguan tersebut hanya terjadi selama episode anoreksia nervosa (Kriteria E).

Karakteristik Penyerta

Individu dengan bulimia nervosa biasanya memiliki berat badan dalam rentang normal atau kelebihan berat badan (indeks massa tubuh [IMT] ≥ 18,5 dan kurang dari 30 pada orang dewasa). Gangguan ini juga dapat terjadi pada individu dengan obesitas, tetapi jarang ditemukan. Di antara episode makan berlebihan, individu dengan bulimia nervosa biasanya membatasi jumlah kalori yang dikonsumsi secara keseluruhan dan lebih memilih makanan rendah kalori (“makanan diet”), serta menghindari makanan yang mereka anggap dapat menyebabkan kegemukan atau kemungkinan memicu episode makan berlebihan.

Ketidakteraturan menstruasi atau amenorea sering terjadi pada perempuan dengan bulimia nervosa; belum dapat dipastikan apakah gangguan tersebut berkaitan dengan fluktuasi berat badan, kekurangan nutrisi, atau distres emosional. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit akibat perilaku pengeluaran makanan terkadang cukup berat hingga menimbulkan masalah medis yang serius. Komplikasi yang jarang terjadi tetapi berpotensi menyebabkan kematian mencakup robekan esofagus, ruptur lambung, dan aritmia jantung. Miopati jantung dan otot rangka yang serius telah dilaporkan pada individu setelah penggunaan sirup ipekak secara berulang untuk memicu muntah. Individu yang menyalahgunakan obat pencahar secara kronis dapat menjadi bergantung pada penggunaannya untuk merangsang buang air besar. Gejala gastrointestinal umum berkaitan dengan bulimia nervosa, dan prolaps rektum juga telah dilaporkan pada individu dengan gangguan ini.

Prevalensi

Menurut dua penelitian epidemiologis di Amerika Serikat yang dilakukan pada sampel komunitas orang dewasa, prevalensi bulimia nervosa selama 12 bulan berkisar antara 0,14% hingga 0,3%, dengan angka yang jauh lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki (0,22% hingga 0,5% pada perempuan; 0,05% hingga 0,1% pada laki-laki), sedangkan prevalensi sepanjang hidup berkisar antara 0,28% hingga 1,0% (0,46% hingga 1,5% pada perempuan; 0,05% hingga 0,08% pada laki-laki). Dalam sebuah penelitian terhadap remaja berusia 13–18 tahun, angka prevalensi sepanjang hidup masing-masing sebesar 1,3% pada anak perempuan dan 0,5% pada anak laki-laki.

Di Amerika Serikat, prevalensi bulimia nervosa relatif serupa di berbagai kelompok etnorasial. Prevalensi bulimia nervosa yang dilaporkan paling tinggi ditemukan pada populasi yang tinggal di negara-negara industri berpendapatan tinggi, seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia, Selandia Baru, dan banyak negara Eropa; di sebagian besar negara tersebut, prevalensi bulimia nervosa kurang lebih sebanding.

Prevalensi bulimia nervosa di beberapa wilayah Amerika Latin dan Timur Tengah serupa dengan prevalensi di sebagian besar negara berpendapatan tinggi. Prevalensi bulimia nervosa tampaknya meningkat secara bertahap di banyak negara berpendapatan rendah dan menengah.

Perkembangan dan Perjalanan Gangguan

Bulimia nervosa umumnya dimulai pada masa remaja atau dewasa muda. Onset sebelum pubertas atau setelah usia 40 tahun jarang terjadi. Episode makan berlebihan sering kali dimulai selama atau setelah periode diet untuk menurunkan berat badan. Pengalaman mengalami berbagai peristiwa kehidupan yang penuh tekanan juga dapat memicu onset bulimia nervosa.

Perilaku makan yang terganggu menetap selama setidaknya beberapa tahun pada persentase yang tinggi dari sampel klinis. Perjalanan gangguan dapat bersifat kronis atau berselang, dengan periode remisi yang bergantian dengan kekambuhan episode makan berlebihan. Namun, dalam pengamatan tindak lanjut jangka panjang, gejala pada banyak individu tampak berkurang dengan atau tanpa pengobatan, meskipun pengobatan secara jelas memengaruhi hasil akhirnya. Periode remisi yang berlangsung lebih dari 1 tahun berkaitan dengan hasil jangka panjang yang lebih baik.

Peningkatan risiko mortalitas yang bermakna, baik akibat berbagai penyebab maupun bunuh diri, telah dilaporkan pada individu dengan bulimia nervosa. Angka mortalitas kasar (rasio jumlah kematian selama satu tahun terhadap rata-rata populasi pada tahun tersebut) untuk bulimia nervosa hampir mencapai 2% per dekade.

Peralihan diagnosis dari bulimia nervosa yang awalnya dialami menjadi anoreksia nervosa terjadi pada sebagian kecil kasus (10%–15%). Individu yang mengalami peralihan menjadi anoreksia nervosa umumnya akan kembali mengalami bulimia nervosa atau mengalami beberapa kali peralihan antara kedua gangguan tersebut. Sebagian individu dengan bulimia nervosa tetap mengalami episode makan berlebihan, tetapi tidak lagi melakukan perilaku kompensatoris yang tidak tepat, sehingga gejala mereka memenuhi kriteria gangguan makan berlebihan atau gangguan makan spesifik lainnya. Diagnosis harus didasarkan pada gambaran klinis saat ini (yaitu, selama 3 bulan terakhir).

Faktor Risiko dan Prognostik

Faktor Temperamental

Kekhawatiran mengenai berat badan, harga diri yang rendah, gejala depresif, gangguan kecemasan sosial, dan gangguan kecemasan menyeluruh pada masa kanak-kanak berkaitan dengan peningkatan risiko berkembangnya bulimia nervosa.

Faktor Lingkungan

Internalisasi ideal tubuh kurus telah ditemukan meningkatkan risiko munculnya kekhawatiran mengenai berat badan, yang selanjutnya meningkatkan risiko berkembangnya bulimia nervosa. Individu yang mengalami kekerasan seksual atau fisik pada masa kanak-kanak memiliki peningkatan risiko untuk mengalami bulimia nervosa.

Faktor Genetik dan Fisiologis

Obesitas pada masa kanak-kanak dan pematangan pubertas yang lebih dini meningkatkan risiko bulimia nervosa. Penurunan risiko melalui keluarga dalam bentuk transmisi familial bulimia nervosa mungkin terjadi, demikian pula kerentanan genetik terhadap gangguan tersebut. Pola penurunan bulimia nervosa dalam keluarga mungkin ditemukan, demikian pula kerentanan genetik terhadap gangguan tersebut.

Faktor yang Memodifikasi Perjalanan Gangguan

Tingkat keparahan gangguan psikiatris yang menjadi komorbiditas merupakan prediktor hasil jangka panjang yang lebih buruk pada bulimia nervosa.

Isu Diagnostik Terkait Budaya

Meskipun data menunjukkan bahwa prevalensi bulimia nervosa berbasis komunitas tidak berbeda secara bermakna di berbagai kelompok etnorasial di Amerika Serikat, penggunaan layanan pengobatan untuk bulimia nervosa lebih rendah pada kelompok etnis dan rasial yang kurang terlayani di Amerika Serikat dibandingkan dengan populasi kulit putih non-Latinx.

Isu Diagnostik Terkait Jenis Kelamin dan Gender

Bulimia nervosa jauh lebih umum ditemukan pada anak perempuan dan perempuan dewasa dibandingkan dengan anak laki-laki dan laki-laki dewasa. Anak laki-laki dan laki-laki dewasa khususnya kurang terwakili dalam sampel individu yang mencari pengobatan, dengan alasan yang hingga saat ini belum diteliti secara sistematis.

Penanda Diagnostik

Saat ini belum terdapat pemeriksaan diagnostik khusus untuk bulimia nervosa. Namun, beberapa kelainan laboratorium dapat terjadi sebagai konsekuensi perilaku pengeluaran makanan dan dapat meningkatkan kepastian diagnostik. Kelainan tersebut mencakup gangguan cairan dan elektrolit, seperti hipokalemia (yang dapat memicu aritmia jantung), hipokloremia, dan hiponatremia. Kehilangan asam lambung melalui muntah dapat menyebabkan alkalosis metabolik (peningkatan bikarbonat serum), sedangkan diare atau dehidrasi yang sering ditimbulkan melalui penyalahgunaan obat pencahar dan diuretik dapat menyebabkan asidosis metabolik. Sebagian individu dengan bulimia nervosa menunjukkan sedikit peningkatan kadar amilase serum, yang kemungkinan mencerminkan peningkatan isoenzim saliva.

Pemeriksaan fisik biasanya tidak menunjukkan temuan fisik tertentu. Namun, pemeriksaan rongga mulut dapat menunjukkan hilangnya email gigi secara bermakna dan permanen, terutama pada permukaan lingual gigi depan akibat muntah berulang. Gigi tersebut dapat menjadi retak atau terkelupas serta tampak tidak rata dan seperti “dimakan ngengat”. Frekuensi karies gigi juga dapat meningkat. Pada sebagian individu, kelenjar ludah, terutama kelenjar parotis, dapat mengalami pembesaran yang nyata. Individu yang memicu muntah dengan merangsang refleks muntah secara manual dapat mengalami kapalan atau bekas luka pada permukaan punggung tangan akibat kontak berulang dengan gigi. Miopati jantung dan otot rangka yang serius telah dilaporkan pada individu setelah penggunaan sirup ipekak secara berulang untuk memicu muntah.

Hubungan dengan Pikiran atau Perilaku Bunuh Diri

Risiko bunuh diri meningkat pada bulimia nervosa. Sebuah tinjauan menemukan bahwa sekitar seperempat hingga sepertiga individu dengan bulimia nervosa pernah mengalami ideasi bunuh diri, dan proporsi yang serupa pernah melakukan percobaan bunuh diri.

Konsekuensi Fungsional Bulimia Nervosa

Individu dengan bulimia nervosa dapat menunjukkan berbagai keterbatasan keberfungsian yang berkaitan dengan gangguan tersebut dan mengalami penurunan kualitas hidup yang berkaitan dengan kesehatan. Sebagian kecil individu melaporkan gangguan pelaksanaan peran yang berat, dengan bidang kehidupan sosial sebagai bidang yang paling mungkin mengalami dampak buruk akibat bulimia nervosa.

Diagnosis Banding

Anoreksia Nervosa Tipe Makan Berlebihan/Pengeluaran Makanan

Individu yang perilaku makan berlebihannya hanya terjadi selama episode anoreksia nervosa diberikan diagnosis anoreksia nervosa tipe makan berlebihan/pengeluaran makanan dan tidak boleh diberikan diagnosis tambahan bulimia nervosa. Pada individu dengan diagnosis awal anoreksia nervosa yang mengalami episode makan berlebihan dan melakukan perilaku pengeluaran makanan, tetapi gambaran klinisnya tidak lagi memenuhi seluruh kriteria anoreksia nervosa tipe makan berlebihan/pengeluaran makanan (misalnya, ketika berat badan telah normal), diagnosis bulimia nervosa hanya boleh diberikan apabila seluruh kriteria bulimia nervosa telah terpenuhi selama setidaknya 3 bulan.

Gangguan Makan Berlebihan

Sebagian individu mengalami episode makan berlebihan, tetapi tidak secara teratur melakukan perilaku kompensatoris yang tidak tepat. Dalam kasus tersebut, diagnosis gangguan makan berlebihan harus dipertimbangkan.

Sindrom Kleine-Levin

Pada kondisi neurologis atau medis tertentu lainnya, seperti sindrom Kleine-Levin, terdapat gangguan perilaku makan, tetapi karakteristik psikologis khas bulimia nervosa, seperti kekhawatiran berlebihan terhadap bentuk dan berat tubuh, tidak ditemukan.

Gangguan Depresif Mayor dengan Karakteristik Atipikal

Makan berlebihan umum ditemukan pada gangguan depresif mayor dengan karakteristik atipikal, tetapi individu dengan gangguan ini tidak melakukan perilaku kompensatoris yang tidak tepat dan tidak menunjukkan kekhawatiran berlebihan terhadap bentuk dan berat tubuh sebagaimana menjadi karakteristik bulimia nervosa. Apabila kriteria untuk kedua gangguan terpenuhi, kedua diagnosis tersebut harus diberikan.

Gangguan Kepribadian Ambang

Perilaku makan berlebihan termasuk dalam kriteria perilaku impulsif yang merupakan bagian dari definisi gangguan kepribadian ambang. Apabila kriteria gangguan kepribadian ambang dan bulimia nervosa sama-sama terpenuhi, kedua diagnosis tersebut harus diberikan.

Komorbiditas

Komorbiditas dengan gangguan mental umum ditemukan pada individu dengan bulimia nervosa, dengan sebagian besar mengalami setidaknya satu gangguan mental lainnya dan banyak individu mengalami beberapa komorbiditas sekaligus. Komorbiditas tidak terbatas pada kelompok gangguan tertentu, melainkan ditemukan pada berbagai jenis gangguan mental. Terdapat peningkatan frekuensi gejala depresif (misalnya, harga diri rendah) serta gangguan bipolar dan gangguan depresif (terutama gangguan depresif) pada individu dengan bulimia nervosa. Pada banyak individu, gangguan suasana perasaan dimulai bersamaan dengan atau setelah berkembangnya bulimia nervosa, dan individu sering mengaitkan gangguan suasana perasaannya dengan bulimia nervosa. Namun, pada sebagian individu, gangguan suasana perasaan secara jelas mendahului perkembangan bulimia nervosa. Frekuensi gejala kecemasan (misalnya, ketakutan terhadap situasi sosial) atau gangguan kecemasan juga dapat meningkat. Gangguan suasana perasaan dan kecemasan tersebut sering mengalami remisi setelah bulimia nervosa ditangani secara efektif. Prevalensi sepanjang hidup gangguan penggunaan zat, terutama gangguan penggunaan alkohol atau gangguan penggunaan stimulan, setidaknya mencapai 30% pada individu dengan bulimia nervosa. Penggunaan stimulan sering kali dimulai sebagai upaya untuk mengendalikan nafsu makan dan berat badan. Persentase yang cukup besar dari individu dengan bulimia nervosa juga memiliki karakteristik kepribadian yang memenuhi kriteria satu atau lebih gangguan kepribadian, yang paling sering adalah gangguan kepribadian ambang.

Bagikan:

Siap Memulai Psikotes Online Anda?

Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.

Pilih Layanan Lihat Semua Alat Tes Hubungi Kami
Hubungi Kami