F41.0 5_05

Gangguan Panik

Panic Disorder

DSM-5-TR 1x dibaca

Kriteria Diagnostik

  1. Serangan panik berulang yang tidak terduga. Serangan panik adalah peningkatan ketakutan yang sangat intens atau ketidaknyamanan yang sangat intens secara tiba-tiba, yang mencapai puncaknya dalam beberapa menit dan selama periode tersebut muncul empat (atau lebih) dari gejala berikut: Catatan: Peningkatan yang tiba-tiba tersebut dapat terjadi dari keadaan tenang maupun keadaan cemas. (1) Palpitasi, jantung berdebar keras, atau peningkatan frekuensi denyut jantung. (2) Berkeringat. (3) Gemetar atau tubuh bergetar. (4) Sensasi sesak napas atau merasa kekurangan udara. (5) Perasaan tercekik. (6) Nyeri atau ketidaknyamanan pada dada. (7) Mual atau ketidaknyamanan pada perut. (8) Merasa pusing, tidak stabil, kepala terasa ringan, atau hampir pingsan. (9) Menggigil atau merasakan sensasi panas. (10) Parestesia (sensasi mati rasa atau kesemutan). (11) Derealisasi (perasaan bahwa keadaan di sekitar tidak nyata) atau depersonalisasi (perasaan terlepas dari diri sendiri). (12) Ketakutan kehilangan kendali atau menjadi “gila”. 913) Ketakutan akan kematian. Catatan: Gejala-gejala yang khas pada budaya tertentu (misalnya, tinitus, nyeri leher, sakit kepala, serta berteriak atau menangis tanpa kendali) dapat ditemukan. Namun, gejala-gejala tersebut tidak boleh dihitung sebagai salah satu dari empat gejala yang dipersyaratkan.
  2. Setidaknya satu serangan panik diikuti oleh periode selama 1 bulan (atau lebih) yang ditandai oleh salah satu atau kedua kondisi berikut: (1) Kekhawatiran atau kecemasan yang menetap mengenai kemungkinan terjadinya serangan panik tambahan atau konsekuensi dari serangan tersebut (misalnya, kehilangan kendali, mengalami serangan jantung, atau menjadi “gila”). (2) Perubahan perilaku maladaptif yang bermakna terkait dengan serangan panik (misalnya, perilaku yang bertujuan menghindari terjadinya serangan panik, seperti menghindari aktivitas olahraga atau situasi yang tidak dikenal).
  3. Gangguan tersebut tidak disebabkan oleh efek fisiologis suatu zat (misalnya, zat yang disalahgunakan atau obat-obatan) maupun kondisi medis lainnya (misalnya, hipertiroidisme atau gangguan kardiopulmoner).
  4. Gangguan tersebut tidak dapat dijelaskan secara lebih baik oleh gangguan mental lainnya (misalnya, serangan panik tidak hanya terjadi sebagai respons terhadap situasi sosial yang ditakuti, seperti pada gangguan kecemasan sosial; sebagai respons terhadap objek atau situasi fobik tertentu yang terbatas, seperti pada fobia spesifik; sebagai respons terhadap obsesi, seperti pada gangguan obsesif-kompulsif; sebagai respons terhadap pengingat peristiwa traumatis, seperti pada gangguan stres pascatrauma; atau sebagai respons terhadap perpisahan dari figur kelekatan, seperti pada gangguan kecemasan perpisahan).

Karakteristik Diagnostik

Gangguan panik ditandai oleh serangan panik berulang yang tidak terduga (Kriteria A). (Untuk uraian terperinci mengenai gejala dan perjalanan yang menjadi karakteristik serangan panik, lihat bagian “Karakteristik” dalam “Penanda Serangan Panik” setelah pembahasan mengenai gangguan panik ini.) Serangan panik adalah peningkatan ketakutan yang sangat intens atau ketidaknyamanan yang sangat intens secara tiba-tiba, yang mencapai puncaknya dalam beberapa menit dan selama periode tersebut muncul 4 atau lebih dari 13 gejala fisik dan kognitif yang telah ditentukan. Istilah berulang berarti terdapat lebih dari satu serangan panik yang tidak terduga. Istilah tidak terduga mengacu pada serangan panik yang tidak memiliki petunjuk atau pemicu yang jelas pada saat kemunculannya, yaitu serangan yang tampaknya terjadi secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas, seperti ketika individu sedang bersantai atau terbangun dari tidur (serangan panik nokturnal). Sebaliknya, serangan panik yang dapat diperkirakan merupakan serangan yang memiliki petunjuk atau pemicu yang jelas, seperti situasi ketika serangan panik biasanya terjadi. Penentuan apakah suatu serangan panik termasuk dalam kategori yang dapat diperkirakan atau tidak terduga dilakukan oleh klinisi, yang mendasarkan penilaiannya pada kombinasi antara penggalian informasi secara cermat mengenai urutan peristiwa yang mendahului atau mengarah pada serangan dan penilaian individu sendiri mengenai apakah serangan tersebut tampaknya terjadi tanpa alasan yang jelas. Interpretasi budaya dapat memengaruhi penggolongan serangan panik sebagai serangan yang dapat diperkirakan atau tidak terduga (lihat bagian “Isu Diagnostik Terkait Budaya” untuk gangguan ini). Di Amerika Serikat dan Eropa, sekitar setengah dari individu dengan gangguan panik mengalami serangan panik yang dapat diperkirakan sekaligus serangan panik yang tidak terduga. Dengan demikian, keberadaan serangan panik yang dapat diperkirakan tidak menyingkirkan diagnosis gangguan panik.

Frekuensi dan tingkat keparahan serangan panik sangat bervariasi. Berdasarkan frekuensinya, serangan dapat terjadi cukup sering (misalnya, satu kali per minggu) selama beberapa bulan, atau muncul dalam periode singkat dengan frekuensi yang lebih tinggi (misalnya, setiap hari), yang dipisahkan oleh beberapa minggu atau bulan tanpa serangan sama sekali atau dengan serangan yang lebih jarang (misalnya, dua kali per bulan) selama bertahun-tahun. Individu yang jarang mengalami serangan panik memiliki kemiripan dengan individu yang lebih sering mengalami serangan panik dalam hal gejala serangan panik, karakteristik demografis, komorbiditas dengan gangguan lainnya, riwayat keluarga, dan data biologis. Berdasarkan tingkat keparahannya, individu dengan gangguan panik dapat mengalami serangan dengan gejala lengkap (empat gejala atau lebih) maupun serangan dengan gejala terbatas (kurang dari empat gejala), dan jumlah serta jenis gejala serangan panik sering kali berbeda antara satu serangan dan serangan berikutnya. Namun, lebih dari satu serangan panik yang tidak terduga dengan gejala lengkap diperlukan untuk menegakkan diagnosis gangguan panik.

Serangan panik nokturnal (yaitu, terbangun dari tidur dalam keadaan panik) berbeda dari kepanikan yang muncul setelah individu sepenuhnya terbangun dari tidur. Di Amerika Serikat, serangan panik nokturnal diperkirakan terjadi setidaknya satu kali pada sekitar seperempat hingga sepertiga individu dengan gangguan panik, dan sebagian besar dari mereka juga mengalami serangan panik pada siang hari. Individu yang mengalami serangan panik pada siang hari sekaligus pada malam hari cenderung memiliki gangguan panik yang secara keseluruhan lebih berat.

Kekhawatiran mengenai serangan panik atau konsekuensinya biasanya berkaitan dengan masalah fisik, seperti kekhawatiran bahwa serangan panik menunjukkan adanya penyakit yang mengancam jiwa (misalnya, penyakit jantung atau gangguan kejang); masalah sosial, seperti rasa malu atau ketakutan akan dinilai secara negatif oleh orang lain karena gejala panik yang terlihat; serta kekhawatiran mengenai keberfungsian mental, seperti menjadi “gila” atau kehilangan kendali (Kriteria B). Individu yang melaporkan ketakutan akan kematian selama serangan panik cenderung memiliki gambaran gangguan panik yang lebih berat (misalnya, serangan panik yang melibatkan lebih banyak gejala). Perubahan perilaku maladaptif merupakan upaya untuk meminimalkan atau menghindari serangan panik maupun konsekuensinya. Contohnya mencakup menghindari aktivitas fisik yang berat, mengatur ulang kehidupan sehari-hari untuk memastikan bantuan tersedia apabila terjadi serangan panik, membatasi aktivitas sehari-hari yang biasanya dilakukan, dan menghindari situasi yang menyerupai agorafobia, seperti meninggalkan rumah, menggunakan transportasi umum, atau berbelanja. Apabila terdapat agorafobia, diagnosis agorafobia yang terpisah juga ditegakkan.

Karakteristik Penyerta

Selain kekhawatiran mengenai serangan panik dan konsekuensinya, banyak individu dengan gangguan panik melaporkan perasaan cemas yang berlangsung terus-menerus atau muncul secara berkala, yang secara lebih luas berkaitan dengan kekhawatiran mengenai kesehatan fisik dan kesehatan mental. Sebagai contoh, individu dengan gangguan panik sering mengantisipasi konsekuensi katastrofik dari gejala fisik ringan atau efek samping obat (misalnya, berpikir bahwa mereka mungkin mengalami penyakit jantung atau bahwa sakit kepala menandakan adanya tumor otak). Individu tersebut sering kali memiliki toleransi yang relatif rendah terhadap efek samping obat. Selain itu, dapat ditemukan kekhawatiran yang menyeluruh mengenai kemampuan menyelesaikan tugas sehari-hari atau menghadapi stresor sehari-hari, penggunaan zat secara berlebihan (misalnya, alkohol, obat resep, atau obat-obatan terlarang) untuk mengendalikan serangan panik, atau perilaku ekstrem yang bertujuan mengendalikan serangan panik (misalnya, pembatasan asupan makanan secara ketat atau penghindaran makanan maupun obat tertentu karena kekhawatiran terhadap gejala fisik yang dapat memicu serangan panik).

Prevalensi

Dalam populasi umum, estimasi prevalensi gangguan panik selama 12 bulan di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa adalah sekitar 2%–3% pada orang dewasa dan remaja. Prevalensi sepanjang hidup secara global diperkirakan sebesar 1,7%, dengan proyeksi risiko sepanjang hidup sebesar 2,7% berdasarkan Survei Kesehatan Mental Dunia. Di Amerika Serikat, estimasi prevalensi gangguan panik yang secara bermakna lebih rendah dilaporkan pada kelompok Latinx, Afrika-Amerika, kulit hitam Karibia, dan Asia-Amerika dibandingkan kelompok kulit putih non-Latinx. Estimasi prevalensi gangguan panik pada penduduk asli Amerika berkisar antara 2,6% hingga 4,1%. Estimasi yang lebih rendah dilaporkan di negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin, yaitu berkisar antara 0,1% hingga 0,8%. Perempuan lebih sering mengalami gangguan ini dibandingkan laki-laki, dengan rasio sekitar 2:1. Perbedaan berdasarkan gender mulai muncul pada masa remaja dan sudah dapat diamati sebelum usia 14 tahun. Meskipun serangan panik dapat terjadi pada anak-anak, prevalensi gangguan panik secara keseluruhan masih rendah sebelum usia 14 tahun (kurang dari 0,4%). Angka gangguan panik menunjukkan peningkatan bertahap selama masa remaja dan kemungkinan setelah dimulainya pubertas, serta mencapai puncaknya pada masa dewasa. Prevalensi menurun pada individu usia lanjut (yaitu, 1,2% pada orang dewasa berusia di atas 55 tahun dan 0,7% pada orang dewasa berusia di atas 64 tahun), yang mungkin mencerminkan penurunan tingkat keparahan hingga mencapai tingkat subklinis.

Perkembangan dan Perjalanan Gangguan

Median usia onset gangguan panik di Amerika Serikat adalah 20–24 tahun, sedangkan median usia onset berdasarkan data lintas negara adalah 32 tahun. Rata-rata usia onset adalah 34,7 tahun. Sebagian kecil kasus dimulai pada masa kanak-kanak, dan onset setelah usia 55 tahun merupakan hal yang tidak umum, tetapi tetap dapat terjadi. Apabila tidak diobati, perjalanan gangguan ini biasanya bersifat kronis dengan intensitas gejala yang meningkat dan menurun. Sebagian individu mungkin mengalami episode-episode gangguan yang diselingi oleh periode remisi selama bertahun-tahun, sedangkan individu lainnya mungkin mengalami gejala berat secara terus-menerus. Berdasarkan sebuah penelitian longitudinal di Belanda, sekitar seperempat individu dengan gangguan panik mengalami kekambuhan gejala selama periode tindak lanjut awal selama 2 tahun. Hanya sebagian kecil individu yang mengalami remisi penuh tanpa kekambuhan berikutnya dalam beberapa tahun. Perjalanan gangguan panik biasanya diperumit oleh berbagai gangguan lainnya, terutama gangguan kecemasan lainnya, gangguan depresif, dan gangguan penggunaan zat (lihat bagian “Komorbiditas” untuk gangguan ini). Orang dewasa Afrika-Amerika dilaporkan memiliki perjalanan gangguan panik yang lebih kronis dibandingkan orang dewasa kulit putih non-Latinx, yang mungkin disebabkan oleh dampak berkepanjangan dari rasisme dan diskriminasi, stigma akibat gangguan mental, serta keterbatasan akses terhadap pelayanan yang memadai.

Meskipun gangguan panik sangat jarang ditemukan pada masa kanak-kanak, kemunculan pertama “episode ketakutan” sering kali, berdasarkan penelusuran riwayat secara retrospektif, diketahui telah terjadi sejak masa kanak-kanak. Sebagaimana pada orang dewasa, gangguan panik pada remaja cenderung memiliki perjalanan yang kronis dan sering muncul sebagai komorbid dengan gangguan kecemasan lainnya, gangguan depresif, dan gangguan bipolar. Hingga saat ini, belum ditemukan perbedaan gambaran klinis antara remaja dan orang dewasa. Namun, remaja mungkin tidak terlalu mengkhawatirkan kemungkinan serangan panik tambahan dibandingkan orang dewasa muda. Prevalensi gangguan panik yang lebih rendah pada orang dewasa usia lanjut tampaknya disebabkan oleh melemahnya respons sistem saraf otonom seiring bertambahnya usia. Banyak individu usia lanjut yang mengalami “perasaan panik” menunjukkan kombinasi antara serangan panik dengan gejala terbatas dan kecemasan menyeluruh. Selain itu, orang dewasa usia lanjut cenderung mengaitkan serangan panik mereka dengan situasi tertentu yang menimbulkan stres, seperti prosedur medis atau situasi sosial. Individu usia lanjut mungkin memberikan penjelasan mengenai penyebab serangan panik secara retrospektif (yang akan menyingkirkan diagnosis gangguan panik), meskipun serangan tersebut sebenarnya mungkin tidak terduga pada saat terjadi (sehingga dapat menjadi dasar untuk diagnosis gangguan panik). Hal ini dapat menyebabkan rendahnya pelaporan serangan panik yang tidak terduga pada individu usia lanjut. Oleh karena itu, penggalian informasi secara cermat pada orang dewasa usia lanjut diperlukan untuk menilai apakah serangan panik sudah dapat diperkirakan sebelum memasuki situasi tertentu, sehingga serangan panik yang tidak terduga dan diagnosis gangguan panik tidak terlewatkan.

Meskipun rendahnya angka gangguan panik pada anak-anak mungkin berkaitan dengan kesulitan dalam melaporkan gejala, kemungkinan tersebut tampaknya kecil karena anak-anak mampu melaporkan ketakutan atau kepanikan yang sangat intens terkait perpisahan maupun objek atau situasi fobik. Remaja mungkin kurang bersedia dibandingkan orang dewasa untuk membicarakan serangan panik secara terbuka. Oleh karena itu, klinisi perlu menyadari bahwa serangan panik yang tidak terduga memang terjadi pada remaja, sebagaimana pada orang dewasa, dan perlu memperhatikan kemungkinan tersebut ketika menghadapi remaja yang menunjukkan episode ketakutan atau distres yang sangat intens.

Faktor Risiko dan Prognostik

Faktor Temperamental

Afektivitas negatif (neurotisisme) (yaitu, kecenderungan untuk mengalami emosi negatif), sensitivitas terhadap kecemasan (yaitu, kecenderungan untuk meyakini bahwa gejala kecemasan berbahaya), inhibisi perilaku, dan kecenderungan menghindari bahaya merupakan faktor risiko munculnya serangan panik dan gangguan panik. Riwayat “episode ketakutan” (yaitu, serangan dengan gejala terbatas yang tidak memenuhi kriteria lengkap serangan panik) dapat menjadi faktor risiko terjadinya serangan panik dan gangguan panik di kemudian hari, terutama apabila pengalaman panik pertama dinilai secara negatif. Meskipun kecemasan perpisahan pada masa kanak-kanak, khususnya yang berat, dapat mendahului perkembangan gangguan panik di kemudian hari, kondisi tersebut bukan merupakan faktor risiko yang konsisten.

Faktor Lingkungan

Sebagian besar individu melaporkan adanya stresor yang dapat diidentifikasi dalam beberapa bulan sebelum serangan panik pertama mereka (misalnya, stresor interpersonal dan stresor yang berkaitan dengan kesejahteraan fisik, seperti pengalaman negatif akibat penggunaan obat-obatan terlarang atau obat resep, penyakit, atau kematian dalam keluarga). Selain itu, stres kehidupan yang lebih kronis berkaitan dengan tingkat keparahan gangguan panik yang lebih tinggi. Antara 10% hingga 60% individu dengan gangguan panik melaporkan riwayat trauma, dan pengalaman kehidupan yang menimbulkan stres serta pengalaman buruk pada masa kanak-kanak berkaitan dengan kondisi panik yang lebih berat. Sikap orang tua yang terlalu protektif dan rendahnya kehangatan emosional juga merupakan faktor risiko gangguan panik. Individu dengan sumber daya ekonomi yang terbatas lebih mungkin memiliki gejala yang memenuhi kriteria gangguan panik. Merokok merupakan faktor risiko serangan panik dan gangguan panik.

Faktor Genetik dan Fisiologis

Berbagai gen kemungkinan berperan dalam menimbulkan kerentanan terhadap gangguan panik. Namun, gen tertentu, produk gen, atau fungsi yang berkaitan dengan wilayah genetik yang terlibat masih belum diketahui secara pasti. Terdapat peningkatan risiko gangguan panik pada anak-anak dari orang tua yang mengalami gangguan kecemasan, gangguan depresif, dan gangguan bipolar.

Individu dengan gangguan panik menunjukkan sensitivitas yang sangat meningkat terhadap stimulasi pernapasan menggunakan udara yang diperkaya CO?. Gangguan pernapasan, seperti asma, dapat berkaitan dengan gangguan panik berdasarkan riwayat sebelumnya, komorbiditas, dan riwayat keluarga.

Isu Diagnostik Terkait Budaya

Tingkat ketakutan terhadap gejala mental dan somatik dari kecemasan tampaknya bervariasi dalam berbagai konteks budaya dan dapat memengaruhi angka serangan panik dan gangguan panik. Selain itu, ekspektasi budaya dapat memengaruhi klasifikasi serangan panik sebagai serangan yang dapat diperkirakan atau tidak terduga. Sebagai contoh, seorang individu Vietnam yang mengalami serangan panik setelah berjalan keluar ke lingkungan yang berangin (trúng gió; “terkena angin”) mungkin mengaitkan serangan panik tersebut dengan paparan angin akibat adanya sindrom budaya yang menghubungkan kedua pengalaman tersebut, sehingga serangan panik diklasifikasikan sebagai serangan yang dapat diperkirakan. Berbagai konsep budaya lainnya mengenai distres juga berkaitan dengan gangguan panik, termasuk ataque de nervios (“serangan saraf”) pada masyarakat Amerika Latin serta serangan khyâl dan “kehilangan jiwa” pada masyarakat Kamboja. Ataque de nervios dapat melibatkan gemetar, berteriak atau menangis tanpa kendali, perilaku agresif atau perilaku bunuh diri, serta depersonalisasi atau derealisasi, yang dapat berlangsung lebih lama daripada beberapa menit sebagaimana biasanya terjadi pada serangan panik. Beberapa gambaran klinis ataque de nervios memenuhi kriteria untuk kondisi selain serangan panik (misalnya, gangguan gejala neurologis fungsional). Konsep-konsep budaya mengenai distres tersebut memengaruhi gejala dan frekuensi gangguan panik, termasuk penilaian individu mengenai apakah serangan tersebut tidak terduga, karena konsep budaya mengenai distres dapat menimbulkan ketakutan terhadap situasi tertentu, mulai dari pertengkaran interpersonal (berkaitan dengan ataque de nervios), jenis aktivitas yang membutuhkan pengerahan tenaga (berkaitan dengan serangan khyâl), hingga angin di lingkungan atmosfer (berkaitan dengan serangan trúng gió). Klarifikasi mengenai rincian atribusi budaya dapat membantu membedakan serangan panik yang dapat diperkirakan dari serangan panik yang tidak terduga. Untuk informasi lebih lanjut mengenai konsep budaya tentang distres, lihat bab “Budaya dan Diagnosis Psikiatris” pada Bagian III.

Kekhawatiran khusus mengenai serangan panik atau konsekuensinya kemungkinan bervariasi di antara berbagai kelompok etnis dan ras serta konteks budaya (dan di antara kelompok usia dan gender yang berbeda). Di antara kelompok Asia-Amerika, Hispanik-Amerika, dan Afrika-Amerika di Amerika Serikat, gangguan panik berkaitan dengan laporan mengenai diskriminasi etnis dan rasisme, setelah pengaruh faktor demografis diperhitungkan. Dalam sampel komunitas di Amerika Serikat, individu kulit putih non-Latinx dengan gangguan panik memiliki gangguan keberfungsian yang secara bermakna lebih rendah dibandingkan individu Afrika-Amerika. Tingkat keparahan yang ditentukan secara objektif juga lebih tinggi pada individu kulit hitam Karibia non-Latinx dengan gangguan panik, sedangkan angka gangguan panik yang dilaporkan secara keseluruhan lebih rendah pada kelompok Afrika-Amerika maupun kulit hitam Karibia. Hal ini menunjukkan bahwa dalam sampel komunitas keturunan Afrika di Amerika Serikat, kriteria gangguan panik mungkin baru dilaporkan terpenuhi ketika terdapat tingkat keparahan dan gangguan keberfungsian yang substansial. Angka penggunaan pelayanan kesehatan mental untuk gangguan panik bervariasi di antara berbagai kelompok etnis dan ras.

Isu Diagnostik Terkait Jenis Kelamin dan Gender

Angka gangguan panik hampir dua kali lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Kekambuhan gangguan panik juga lebih sering terjadi pada perempuan dewasa dibandingkan laki-laki, yang menunjukkan bahwa perempuan memiliki perjalanan gangguan yang lebih tidak stabil. Perbedaan berdasarkan gender dalam perjalanan klinis juga ditemukan pada remaja. Gangguan panik memiliki dampak yang lebih besar terhadap kualitas hidup terkait kesehatan pada perempuan dibandingkan laki-laki, yang mungkin disebabkan oleh sensitivitas terhadap kecemasan yang lebih tinggi pada sebagian perempuan atau komorbiditas yang lebih besar dengan agorafobia dan depresi. Terdapat beberapa bukti mengenai dimorfisme seksual, dengan ekspresi alel MAOA-uVNTR yang tinggi berpotensi berperan sebagai faktor risiko gangguan panik yang khusus ditemukan pada perempuan.

Penanda Diagnostik

Individu dengan gangguan panik menunjukkan bias perhatian terhadap stimulus yang mengancam. Serangan panik dapat dipicu oleh berbagai zat yang memiliki mekanisme kerja berbeda, seperti natrium laktat, kafein, isoproterenol, yohimbin, CO?, dan kolesistokinin, dengan tingkat yang jauh lebih tinggi pada individu dengan gangguan panik dibandingkan individu tanpa gangguan tersebut. Terdapat perhatian penelitian yang cukup besar terhadap hubungan antara gangguan panik dan sensitivitas terhadap zat-zat pemicu panik tersebut. Meskipun tidak satu pun data menunjukkan manfaat diagnostik, data mengenai sensitivitas terhadap stimulasi pernapasan mencerminkan tingkat kekhususan tertentu terhadap gangguan panik dan kondisi terkait, seperti gangguan kecemasan perpisahan. Hiperventilasi pada kondisi dasar yang secara kronis lebih tinggi dan frekuensi menarik napas panjang yang lebih sering dapat ditemukan pada individu dengan gangguan panik. Namun, tidak satu pun temuan laboratorium tersebut dianggap dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis gangguan panik.

Hubungan dengan Pikiran atau Perilaku Bunuh Diri

Serangan panik dan diagnosis gangguan panik dalam 12 bulan terakhir berkaitan dengan angka perilaku bunuh diri dan pikiran bunuh diri yang lebih tinggi selama 12 bulan terakhir, bahkan setelah komorbiditas, riwayat kekerasan pada masa kanak-kanak, dan faktor risiko bunuh diri lainnya diperhitungkan. Sekitar 25% pasien pelayanan kesehatan primer dengan gangguan panik melaporkan pikiran bunuh diri. Gangguan panik dapat meningkatkan risiko perilaku bunuh diri di masa mendatang, tetapi tidak meningkatkan risiko kematian akibat bunuh diri.

Data survei epidemiologis mengenai gejala serangan panik menunjukkan bahwa gejala kognitif panik (misalnya, derealisasi) mungkin berkaitan dengan pikiran bunuh diri, sedangkan gejala fisik (misalnya, pusing dan mual) mungkin berkaitan dengan perilaku bunuh diri.

Konsekuensi Fungsional Gangguan Panik

Gangguan panik berkaitan dengan tingkat disabilitas sosial, pekerjaan, dan fisik yang tinggi; biaya ekonomi yang cukup besar; serta jumlah kunjungan medis paling tinggi di antara gangguan kecemasan, meskipun dampaknya paling kuat apabila disertai agorafobia. Individu dengan gangguan panik mungkin sering tidak masuk kerja atau sekolah karena harus mengunjungi dokter atau unit gawat darurat, yang dapat menyebabkan kehilangan pekerjaan atau putus sekolah. Pada orang dewasa usia lanjut, gangguan keberfungsian dapat terlihat dalam pelaksanaan tugas merawat orang lain atau kegiatan sukarela, dan gangguan panik berkaitan dengan kualitas hidup terkait kesehatan yang lebih rendah serta penggunaan pelayanan unit gawat darurat yang lebih tinggi. Serangan panik dengan gejala lengkap biasanya berkaitan dengan morbiditas yang lebih tinggi (misalnya, penggunaan pelayanan kesehatan yang lebih banyak, tingkat disabilitas yang lebih tinggi, dan kualitas hidup yang lebih buruk) dibandingkan serangan dengan gejala terbatas.

Diagnosis Banding

Serangan Panik yang Hanya Memiliki Gejala Terbatas

Gangguan panik tidak boleh didiagnosis apabila individu tidak pernah mengalami serangan panik yang tidak terduga dengan gejala lengkap. Apabila individu hanya mengalami serangan panik yang tidak terduga dengan gejala terbatas, diagnosis gangguan kecemasan spesifik lainnya atau gangguan kecemasan yang tidak ditentukan harus dipertimbangkan.

Gangguan Kecemasan Akibat Kondisi Medis Lainnya

Gangguan panik tidak didiagnosis apabila serangan panik dinilai sebagai konsekuensi fisiologis langsung dari kondisi medis lainnya. Contoh kondisi medis yang dapat menyebabkan serangan panik mencakup hipertiroidisme, hiperparatiroidisme, feokromositoma, gangguan fungsi vestibular, gangguan kejang, dan kondisi kardiopulmoner (misalnya, aritmia, takikardia supraventrikular, asma, dan penyakit paru obstruktif kronis [PPOK]). Pemeriksaan laboratorium yang sesuai (misalnya, pemeriksaan kadar kalsium serum untuk hiperparatiroidisme atau pemantauan Holter untuk aritmia) maupun pemeriksaan fisik (misalnya, pemeriksaan untuk kondisi jantung) dapat membantu menentukan peran etiologis kondisi medis lainnya. Karakteristik seperti onset setelah usia 45 tahun atau adanya gejala atipikal selama serangan panik (misalnya, vertigo, kehilangan kesadaran, kehilangan kendali terhadap kandung kemih atau buang air besar, bicara pelo, atau amnesia) menunjukkan kemungkinan bahwa kondisi medis lainnya atau suatu zat menjadi penyebab gejala serangan panik.

Gangguan Kecemasan yang Diinduksi Zat atau Obat

Gangguan panik tidak didiagnosis apabila serangan panik dinilai sebagai konsekuensi fisiologis langsung dari suatu zat. Intoksikasi akibat stimulan sistem saraf pusat (misalnya, kokain, zat golongan amfetamin, atau kafein) maupun kanabis, serta kondisi putus zat dari depresan sistem saraf pusat (misalnya, alkohol atau barbiturat), dapat memicu serangan panik.

Namun, apabila serangan panik terus terjadi di luar konteks penggunaan zat (misalnya, jauh setelah efek intoksikasi atau putus zat berakhir), diagnosis gangguan panik harus dipertimbangkan. Selain itu, karena gangguan panik dapat mendahului penggunaan zat pada sebagian individu dan mungkin berkaitan dengan peningkatan penggunaan zat, terutama untuk tujuan pengobatan diri sendiri, riwayat yang terperinci perlu dikumpulkan untuk menentukan apakah individu telah mengalami serangan panik sebelum penggunaan zat secara berlebihan. Apabila demikian, diagnosis gangguan panik harus dipertimbangkan sebagai diagnosis tambahan selain gangguan penggunaan zat. Karakteristik seperti onset setelah usia 45 tahun atau adanya gejala atipikal selama serangan panik (misalnya, vertigo, kehilangan kesadaran, kehilangan kendali terhadap kandung kemih atau buang air besar, bicara pelo, atau amnesia) menunjukkan kemungkinan bahwa kondisi medis lainnya atau suatu zat menjadi penyebab gejala serangan panik.

Gangguan Mental Lainnya dengan Serangan Panik sebagai Karakteristik Penyerta (Misalnya, Gangguan Kecemasan Lainnya dan Gangguan Psikotik)

Serangan panik yang muncul sebagai gejala gangguan kecemasan lainnya merupakan serangan yang dapat diperkirakan (misalnya, dipicu oleh situasi sosial pada gangguan kecemasan sosial, oleh objek atau situasi fobik pada fobia spesifik atau agorafobia, oleh kekhawatiran pada gangguan kecemasan menyeluruh, atau oleh perpisahan dari rumah atau figur kelekatan pada gangguan kecemasan perpisahan), sehingga tidak memenuhi kriteria gangguan panik. (Catatan: Terkadang serangan panik yang tidak terduga berkaitan dengan onset gangguan kecemasan lainnya, tetapi kemudian serangan tersebut menjadi dapat diperkirakan, sedangkan gangguan panik ditandai oleh serangan panik berulang yang tidak terduga.) Apabila serangan panik hanya terjadi sebagai respons terhadap pemicu tertentu, hanya diagnosis gangguan kecemasan yang relevan yang ditegakkan. Namun, apabila individu juga mengalami serangan panik yang tidak terduga serta menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan yang menetap atau perubahan perilaku akibat serangan tersebut, diagnosis tambahan berupa gangguan panik harus dipertimbangkan.

Komorbiditas

Gangguan panik jarang ditemukan dalam lingkungan klinis tanpa adanya psikopatologi lainnya. Dalam populasi umum, 80% individu dengan gangguan panik memiliki diagnosis gangguan mental komorbid sepanjang hidup mereka. Prevalensi gangguan panik meningkat pada individu dengan gangguan lainnya, terutama gangguan kecemasan lainnya (khususnya agorafobia), gangguan depresi mayor, gangguan bipolar I dan gangguan bipolar II, serta kemungkinan gangguan penggunaan alkohol tingkat ringan. Meskipun gangguan panik terkadang memiliki usia onset yang lebih dini dibandingkan gangguan komorbid, onsetnya sering terjadi setelah gangguan komorbid muncul dan dapat dipandang sebagai penanda tingkat keparahan gangguan komorbid tersebut.

Angka komorbiditas sepanjang hidup yang dilaporkan antara gangguan depresi mayor dan gangguan panik sangat bervariasi, berkisar antara 10% hingga 65% pada individu dengan gangguan panik. Pada sekitar sepertiga individu yang mengalami kedua gangguan tersebut, depresi muncul sebelum onset gangguan panik. Pada dua pertiga sisanya, depresi muncul bersamaan dengan atau setelah onset gangguan panik. Sebagian individu dengan gangguan panik mengalami perkembangan gangguan terkait zat, yang pada sebagian dari mereka merupakan upaya untuk mengatasi kecemasan menggunakan alkohol atau obat-obatan. Komorbiditas dengan gangguan kecemasan lainnya dan gangguan kecemasan penyakit juga umum ditemukan.

Gangguan panik secara bermakna muncul sebagai komorbid dengan berbagai gejala dan kondisi medis umum, termasuk, tetapi tidak terbatas pada, pusing, aritmia jantung, hipertiroidisme, asma, PPOK, dan sindrom iritasi usus. Namun, sifat hubungan (misalnya, sebab dan akibat) antara gangguan panik dan kondisi-kondisi tersebut masih belum jelas. Meskipun prolaps katup mitral dan penyakit tiroid lebih umum ditemukan pada individu dengan gangguan panik dibandingkan populasi umum, peningkatan angka prevalensi tersebut tidak ditemukan secara konsisten.

Bagikan:

Siap Memulai Psikotes Online Anda?

Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.

Pilih Layanan Lihat Semua Alat Tes Hubungi Kami
Hubungi Kami