Major Depressive Disorder
Lima (atau lebih) dari gejala berikut telah muncul selama periode 2 minggu yang sama dan menunjukkan perubahan dari tingkat keberfungsian sebelumnya; setidaknya salah satu gejala tersebut adalah (1) suasana perasaan depresif atau (2) hilangnya minat atau kesenangan. Catatan: Jangan memasukkan gejala yang secara jelas disebabkan oleh kondisi medis lainnya. (1) Suasana perasaan depresif hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, sebagaimana ditunjukkan melalui laporan subjektif (misalnya, merasa sedih, hampa, atau putus asa) atau pengamatan orang lain (misalnya, tampak mudah menangis). (Catatan: Pada anak-anak dan remaja, gejala ini dapat berupa suasana perasaan yang mudah tersinggung). (2) Penurunan minat atau kesenangan yang sangat nyata terhadap semua atau hampir semua aktivitas, hampir sepanjang hari, hampir setiap hari (sebagaimana ditunjukkan melalui laporan subjektif atau pengamatan orang lain). (3) Penurunan berat badan yang bermakna ketika tidak sedang menjalani diet atau peningkatan berat badan (misalnya, perubahan lebih dari 5% berat badan dalam satu bulan), atau penurunan maupun peningkatan nafsu makan hampir setiap hari. (Catatan: Pada anak-anak, pertimbangkan kegagalan mencapai peningkatan berat badan yang diharapkan). (4) Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari. (5) Agitasi atau perlambatan psikomotor hampir setiap hari (dapat diamati oleh orang lain, bukan sekadar perasaan subjektif berupa kegelisahan atau merasa gerakan menjadi lebih lambat). (6) Kelelahan atau kehilangan energi hampir setiap hari. (7) Perasaan tidak berharga atau rasa bersalah yang berlebihan atau tidak sesuai (yang dapat bersifat waham) hampir setiap hari (bukan sekadar menyalahkan diri sendiri atau merasa bersalah karena sedang sakit). (8) Penurunan kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi, atau kesulitan dalam mengambil keputusan, hampir setiap hari (baik berdasarkan laporan subjektif maupun pengamatan orang lain). (9) Pikiran berulang tentang kematian (bukan hanya ketakutan akan kematian), ide bunuh diri yang berulang tanpa rencana khusus, atau percobaan bunuh diri maupun rencana khusus untuk melakukan bunuh diri.
Gejala-gejala tersebut menyebabkan distres yang bermakna secara klinis atau gangguan keberfungsian dalam bidang sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya.
Episode tersebut tidak disebabkan oleh efek fisiologis suatu zat atau kondisi medis lainnya. Catatan: Kriteria A–C menggambarkan suatu episode depresi mayor. Catatan: Respons terhadap kehilangan yang bermakna (misalnya, kedukaan akibat kematian orang yang dicintai, kebangkrutan, kehilangan akibat bencana alam, penyakit medis yang serius, atau disabilitas) dapat mencakup perasaan sedih yang mendalam, perenungan berulang mengenai kehilangan, insomnia, penurunan nafsu makan, dan penurunan berat badan sebagaimana disebutkan dalam Kriteria A, yang mungkin menyerupai episode depresif. Meskipun gejala-gejala tersebut dapat dipahami atau dianggap sesuai sebagai respons terhadap kehilangan, kemungkinan adanya episode depresi mayor yang muncul bersamaan dengan respons normal terhadap kehilangan yang bermakna juga harus dipertimbangkan secara cermat. Keputusan ini memerlukan pertimbangan klinis berdasarkan riwayat individu dan norma budaya mengenai ekspresi distres dalam konteks kehilangan.¹
Setidaknya satu episode depresi mayor tidak dapat dijelaskan secara lebih baik oleh gangguan skizoafektif dan tidak terjadi sebagai episode yang menyertai skizofrenia, gangguan skizofreniform, gangguan waham, atau gangguan spektrum skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya yang ditentukan maupun yang tidak ditentukan.
Tidak pernah terjadi episode manik atau episode hipomanik.
Catatan: Pengecualian ini tidak berlaku apabila seluruh episode yang menyerupai mania atau hipomania disebabkan oleh suatu zat atau merupakan akibat dari efek fisiologis kondisi medis lainnya.
Kode diagnostik untuk gangguan depresi mayor didasarkan pada apakah gangguan tersebut merupakan episode tunggal atau berulang, tingkat keparahan saat ini, keberadaan gejala psikotik, dan status remisi. Tingkat keparahan saat ini dan gejala psikotik hanya dicantumkan apabila kriteria lengkap untuk episode depresi mayor saat ini terpenuhi. Penanda remisi hanya dicantumkan apabila kriteria lengkap untuk episode depresi mayor saat ini tidak terpenuhi.
Kode-kodenya adalah sebagai berikut:
|
Penanda tingkat keparahan/perjalanan gangguan |
Episode tunggal |
Episode berulang* |
|---|---|---|
|
Ringan |
F32.0 |
F33.0 |
|
Sedang |
F32.1 |
F33.1 |
|
Berat |
F32.2 |
F33.2 |
|
Dengan gejala psikotik** |
F32.3 |
F33.3 |
|
Dalam remisi parsial |
F32.4 |
F33.41 |
|
Dalam remisi penuh |
F32.5 |
F33.42 |
|
Tidak ditentukan |
F32.9 |
F33.9 |
* Agar suatu episode dianggap berulang, harus terdapat interval setidaknya 2 bulan berturut-turut di antara episode-episode yang terpisah, ketika kriteria episode depresi mayor tidak terpenuhi. Definisi penanda dapat ditemukan pada halaman yang telah ditunjukkan.
** Apabila terdapat gejala psikotik, gunakan kode dengan penanda “dengan gejala psikotik” tanpa mempertimbangkan tingkat keparahan episode.
Dalam mencatat nama diagnosis, istilah-istilah harus disusun dengan urutan berikut: gangguan depresi mayor, episode tunggal atau berulang, penanda tingkat keparahan/gejala psikotik/remisi, kemudian diikuti oleh sebanyak mungkin penanda berikut yang tidak memiliki kode dan berlaku untuk episode saat ini (atau episode yang paling baru terjadi apabila gangguan depresi mayor berada dalam remisi parsial atau penuh). Catatan: Penanda “dengan pola musiman” menggambarkan pola episode depresi mayor yang berulang.
Dengan distres kecemasan.
Dengan karakteristik campuran.
Dengan karakteristik melankolis.
Dengan karakteristik atipikal).
Dengan gejala psikotik yang selaras dengan suasana perasaan.
Dengan gejala psikotik yang tidak selaras dengan suasana perasaan.
Dengan katatonia. Catatan pengodean: Gunakan kode tambahan F06.1.
Dengan onset peripartum.
Dengan pola musiman (berlaku untuk pola episode depresi mayor yang berulang) (hlm. 214).
Gangguan depresi mayor didefinisikan oleh adanya setidaknya satu episode depresi mayor yang terjadi tanpa riwayat episode manik atau hipomanik. Karakteristik utama episode depresi mayor adalah periode yang berlangsung selama setidaknya 2 minggu, ketika individu mengalami suasana perasaan depresif atau kehilangan minat maupun kesenangan terhadap semua atau hampir semua aktivitas, selama sebagian besar waktu dalam sehari dan hampir setiap hari (Kriteria A). Individu juga harus mengalami setidaknya empat gejala tambahan selama periode 2 minggu yang sama, yang berasal dari daftar gejala yang mencakup perubahan nafsu makan atau berat badan, tidur, dan aktivitas psikomotor; penurunan energi; perasaan tidak berharga atau rasa bersalah; kesulitan berpikir, berkonsentrasi, atau mengambil keputusan; maupun pikiran tentang kematian, ide bunuh diri, percobaan bunuh diri, atau rencana khusus untuk melakukan bunuh diri. Agar dapat diperhitungkan dalam diagnosis episode depresi mayor, suatu gejala harus merupakan gejala yang baru muncul atau telah mengalami perburukan yang jelas dibandingkan dengan keadaan individu sebelum episode tersebut. Selain itu, gejala harus muncul hampir setiap hari selama setidaknya 2 minggu berturut-turut, dengan pengecualian pikiran tentang kematian dan ide bunuh diri yang harus bersifat berulang, serta percobaan bunuh diri atau penyusunan rencana khusus yang cukup terjadi satu kali. Episode tersebut harus disertai distres yang bermakna secara klinis atau gangguan keberfungsian dalam bidang sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya. Pada sebagian individu dengan episode yang lebih ringan, keberfungsian mungkin tampak normal, tetapi memerlukan upaya yang jauh lebih besar. Keluhan utama yang disampaikan sering kali berupa insomnia atau kelelahan, bukan suasana perasaan depresif atau kehilangan minat; oleh karena itu, kegagalan dalam menggali gejala depresif yang menyertai dapat menyebabkan gangguan ini kurang terdiagnosis. Kelelahan dan gangguan tidur ditemukan pada sebagian besar kasus; gangguan psikomotor jauh lebih jarang ditemukan, tetapi menunjukkan tingkat keparahan keseluruhan yang lebih tinggi, sebagaimana juga ditunjukkan oleh adanya rasa bersalah yang bersifat waham atau hampir mencapai tingkat waham.
Suasana perasaan dalam episode depresi mayor sering digambarkan oleh individu sebagai perasaan depresi, sedih, putus asa, patah semangat, atau sangat terpuruk (Kriteria A1). Dalam beberapa kasus, individu pada awalnya mungkin menyangkal adanya kesedihan, tetapi perasaan tersebut kemudian dapat terungkap melalui wawancara (misalnya, dengan menunjukkan bahwa individu tampak seperti akan menangis). Pada sebagian individu yang mengeluhkan perasaan hambar, tidak memiliki perasaan apa pun, atau merasa cemas, keberadaan suasana perasaan depresif dapat disimpulkan dari ekspresi wajah dan sikap individu. Sebagian individu lebih menekankan keluhan somatik (misalnya, rasa nyeri dan sakit pada tubuh) daripada melaporkan perasaan sedih. Banyak individu melaporkan atau menunjukkan peningkatan iritabilitas (misalnya, kemarahan yang menetap, kecenderungan merespons peristiwa dengan ledakan amarah atau menyalahkan orang lain, serta perasaan frustrasi yang berlebihan terhadap persoalan kecil). Pada anak-anak dan remaja, suasana perasaan yang mudah tersinggung atau mudah marah dapat muncul sebagai pengganti suasana perasaan yang sedih atau murung. Gambaran ini harus dibedakan dari pola iritabilitas yang muncul ketika individu mengalami frustrasi.
Penurunan minat atau kesenangan terhadap aktivitas yang biasanya dilakukan hampir selalu ditemukan, setidaknya sampai tingkat tertentu. Individu mungkin melaporkan berkurangnya ketertarikan terhadap hobi, merasa “tidak peduli lagi”, atau tidak merasakan kesenangan apa pun dalam aktivitas yang sebelumnya dianggap menyenangkan (Kriteria A2). Anggota keluarga sering memperhatikan adanya penarikan diri dari lingkungan sosial atau pengabaian terhadap kegiatan yang sebelumnya disukai (misalnya, seseorang yang dahulu sangat gemar bermain golf tidak lagi melakukannya, atau seorang anak yang sebelumnya menyukai sepak bola mulai mencari alasan untuk tidak mengikuti latihan). Pada sebagian individu, terdapat penurunan yang bermakna dalam minat atau hasrat seksual dibandingkan dengan tingkat sebelumnya.
Perubahan nafsu makan dapat berupa penurunan maupun peningkatan. Sebagian individu yang mengalami depresi melaporkan bahwa mereka harus memaksakan diri untuk makan. Individu lainnya mungkin makan lebih banyak dan memiliki keinginan yang kuat terhadap makanan tertentu (misalnya, makanan manis atau karbohidrat lainnya). Ketika perubahan nafsu makan berlangsung berat (ke arah mana pun), dapat terjadi penurunan atau peningkatan berat badan yang bermakna, atau pada anak-anak dapat ditemukan kegagalan mencapai peningkatan berat badan yang diharapkan (Kriteria A3).
Gangguan tidur dapat berupa kesulitan tidur maupun tidur secara berlebihan (Kriteria A4). Ketika insomnia muncul, bentuk yang biasanya terjadi adalah insomnia tengah malam (yaitu, terbangun pada malam hari dan kemudian mengalami kesulitan untuk kembali tidur) atau insomnia terminal (yaitu, terbangun terlalu pagi dan tidak dapat kembali tidur). Insomnia awal (yaitu, kesulitan untuk mulai tidur) juga dapat terjadi. Individu yang mengalami tidur berlebihan (hipersomnia) mungkin mengalami episode tidur malam yang berkepanjangan atau peningkatan durasi tidur pada siang hari. Terkadang, gangguan tidur menjadi alasan utama individu mencari pengobatan.
Perubahan psikomotor mencakup agitasi (misalnya, ketidakmampuan untuk duduk tenang, berjalan mondar-mandir, meremas-remas tangan, atau menarik maupun menggosok kulit, pakaian, atau benda lainnya) atau perlambatan (misalnya, perlambatan bicara, proses berpikir, dan gerakan tubuh; peningkatan jeda sebelum menjawab; penurunan volume suara, intonasi, jumlah ucapan, atau variasi isi pembicaraan; maupun tidak berbicara sama sekali) (Kriteria A5). Agitasi atau perlambatan psikomotor tersebut harus cukup berat sehingga dapat diamati oleh orang lain dan bukan hanya merupakan perasaan subjektif. Individu yang menunjukkan salah satu bentuk gangguan psikomotor (yaitu, agitasi atau perlambatan psikomotor) kemungkinan juga memiliki riwayat bentuk gangguan psikomotor lainnya.
Penurunan energi, rasa lelah, dan kelelahan merupakan gejala yang umum ditemukan (Kriteria A6). Individu mungkin melaporkan kelelahan yang berlangsung terus-menerus tanpa melakukan aktivitas fisik. Bahkan tugas yang paling sederhana sekalipun tampak memerlukan upaya yang besar. Efisiensi dalam menyelesaikan tugas mungkin menurun. Sebagai contoh, individu dapat mengeluhkan bahwa mandi dan berpakaian pada pagi hari sangat melelahkan serta membutuhkan waktu dua kali lebih lama daripada biasanya. Gejala ini menjelaskan sebagian besar gangguan keberfungsian yang diakibatkan oleh gangguan depresi mayor, baik selama episode akut maupun ketika remisi belum berlangsung sepenuhnya.
Perasaan tidak berharga atau rasa bersalah yang berkaitan dengan episode depresi mayor dapat mencakup penilaian negatif yang tidak realistis terhadap nilai diri sendiri atau perhatian dan perenungan yang terus-menerus mengenai kesalahan kecil pada masa lalu (Kriteria A7). Individu tersebut sering salah menafsirkan kejadian sehari-hari yang netral atau tidak penting sebagai bukti adanya kekurangan dalam diri sendiri dan memiliki perasaan tanggung jawab yang berlebihan terhadap peristiwa yang tidak diinginkan. Perasaan tidak berharga atau rasa bersalah dapat mencapai tingkat waham (misalnya, seseorang yang yakin bahwa dirinya secara pribadi bertanggung jawab atas kemiskinan dunia). Menyalahkan diri sendiri karena sedang sakit dan karena gagal memenuhi tanggung jawab pekerjaan atau hubungan interpersonal akibat depresi merupakan hal yang sangat umum, dan kecuali bersifat waham, kondisi tersebut tidak dianggap cukup untuk memenuhi kriteria ini.
Banyak individu melaporkan gangguan kemampuan untuk berpikir, berkonsentrasi, atau bahkan mengambil keputusan sederhana (Kriteria A8). Mereka mungkin tampak mudah teralihkan perhatiannya atau mengeluhkan kesulitan mengingat. Individu yang menjalankan aktivitas dengan tuntutan kognitif tinggi sering kali tidak mampu berfungsi secara memadai. Pada anak-anak, penurunan nilai akademik yang tajam dapat mencerminkan buruknya konsentrasi. Pada individu lanjut usia, kesulitan mengingat dapat menjadi keluhan utama dan mungkin disalahartikan sebagai tanda awal demensia (“pseudodemensia”). Ketika episode depresi mayor berhasil diobati, masalah ingatan sering kali menghilang sepenuhnya. Namun, pada sebagian individu, terutama lanjut usia, episode depresi mayor terkadang dapat menjadi manifestasi awal dari demensia yang tidak dapat dipulihkan.
Pikiran tentang kematian, ide bunuh diri, atau percobaan bunuh diri (Kriteria A9) merupakan hal yang umum ditemukan. Gejala tersebut dapat berkisar dari keinginan pasif untuk tidak terbangun pada pagi hari atau keyakinan bahwa orang lain akan lebih baik apabila individu tersebut meninggal, hingga pikiran untuk meninggal melalui bunuh diri yang muncul sementara tetapi berulang, atau rencana bunuh diri yang khusus. Individu dengan kecenderungan bunuh diri yang lebih berat mungkin telah mengatur berbagai urusan pribadi (misalnya, memperbarui surat wasiat atau melunasi utang), memperoleh benda-benda yang diperlukan (misalnya, tali atau senjata api), serta menentukan lokasi dan waktu untuk melakukan bunuh diri. Motivasi untuk melakukan bunuh diri dapat mencakup keinginan untuk menyerah ketika menghadapi hambatan yang dianggap tidak mungkin diatasi, keinginan yang sangat kuat untuk mengakhiri keadaan emosional yang dirasakan sangat menyakitkan dan tidak berkesudahan, ketidakmampuan membayangkan adanya kesenangan dalam kehidupan pada masa mendatang, atau keinginan untuk tidak menjadi beban bagi orang lain. Berkurang atau menghilangnya pola pikir tersebut mungkin merupakan indikator penurunan risiko bunuh diri yang lebih bermakna dibandingkan sekadar penyangkalan adanya rencana bunuh diri selanjutnya.
Derajat gangguan keberfungsian yang berkaitan dengan episode depresi mayor bervariasi, tetapi bahkan pada kasus yang lebih ringan, harus terdapat distres yang bermakna secara klinis atau gangguan tertentu dalam keberfungsian sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya (Kriteria B). Apabila gangguan keberfungsian berlangsung berat, individu dapat kehilangan kemampuan untuk berfungsi secara sosial maupun dalam pekerjaan. Dalam kasus yang ekstrem, individu mungkin tidak mampu melakukan perawatan diri yang paling mendasar (misalnya, makan dan berpakaian sendiri) atau mempertahankan kebersihan diri yang minimal.
Laporan individu mengenai gejala yang dialami mungkin terganggu oleh kesulitan berkonsentrasi, gangguan ingatan, atau kecenderungan untuk menyangkal, meremehkan, maupun mencari penjelasan lain terhadap gejala tersebut. Informasi dari sumber tambahan dapat sangat membantu dalam memperjelas perjalanan episode depresi mayor saat ini atau sebelumnya serta menilai apakah pernah terjadi episode manik atau hipomanik. Karena episode depresi mayor dapat dimulai secara bertahap, peninjauan informasi klinis yang berfokus pada periode paling berat dari episode saat ini mungkin lebih memungkinkan untuk mendeteksi keberadaan gejala.
Evaluasi gejala episode depresi mayor menjadi sangat sulit ketika gejala tersebut muncul pada individu yang juga mengalami kondisi medis lainnya (misalnya, kanker, stroke, infark miokard, diabetes, atau kehamilan). Beberapa tanda dan gejala yang termasuk dalam kriteria episode depresi mayor identik dengan tanda dan gejala kondisi medis lainnya (misalnya, penurunan berat badan pada diabetes yang tidak diobati; kelelahan pada kanker; hipersomnia pada awal kehamilan; insomnia pada akhir kehamilan atau periode pascapersalinan). Gejala-gejala tersebut diperhitungkan dalam diagnosis depresi mayor, kecuali apabila secara jelas dan sepenuhnya disebabkan oleh kondisi medis lainnya. Gejala nonvegetatif berupa disforia, anhedonia, rasa bersalah atau perasaan tidak berharga, gangguan konsentrasi atau kesulitan mengambil keputusan, serta pikiran bunuh diri harus dinilai dengan sangat cermat dalam kasus tersebut. Definisi episode depresi mayor yang telah dimodifikasi sehingga hanya mencakup gejala-gejala nonvegetatif ini tampaknya mengidentifikasi kelompok individu yang hampir sama dengan kelompok yang diidentifikasi menggunakan kriteria lengkap.
Gangguan depresi mayor berkaitan dengan angka kematian yang tinggi, yang sebagian besar disebabkan oleh bunuh diri; namun, bunuh diri bukan satu-satunya penyebab. Sebagai contoh, individu dengan depresi yang dirawat di fasilitas perawatan lanjut usia memiliki kemungkinan meninggal dunia yang jauh lebih tinggi pada tahun pertama. Individu sering menunjukkan gejala berupa mudah menangis, iritabilitas, kecenderungan terus-menerus memikirkan hal-hal negatif, perenungan obsesif, kecemasan, fobia, kekhawatiran berlebihan terhadap kesehatan fisik, serta keluhan nyeri (misalnya, sakit kepala; nyeri sendi, perut, atau bagian tubuh lainnya). Pada anak-anak, kecemasan perpisahan dapat terjadi.
Meskipun terdapat banyak literatur yang menjelaskan hubungan gangguan depresi mayor dengan aspek neuroanatomi, neuroendokrinologi, dan neurofisiologi, belum ada pemeriksaan laboratorium yang menghasilkan sensitivitas dan spesifisitas yang cukup untuk digunakan sebagai alat diagnostik gangguan ini. Hingga belum lama ini, hiperaktivitas aksis hipotalamus–hipofisis–adrenal merupakan kelainan yang paling banyak diteliti dalam kaitannya dengan episode depresi mayor, dan tampaknya berkaitan dengan melankolia (jenis depresi yang sangat berat), gejala psikotik, serta risiko bunuh diri pada kemudian hari. Penelitian molekuler juga menunjukkan keterlibatan faktor-faktor perifer, termasuk variasi genetik pada faktor neurotrofik dan sitokin proinflamasi. Selain itu, penelitian pencitraan resonansi magnetik volumetrik dan fungsional memberikan bukti adanya kelainan pada sistem saraf tertentu yang mendukung pemrosesan emosi, pencarian penghargaan, dan regulasi emosi pada orang dewasa dengan depresi mayor.
Prevalensi gangguan depresi mayor selama 12 bulan di Amerika Serikat adalah sekitar 7%, dengan perbedaan yang nyata berdasarkan kelompok usia, yaitu prevalensi pada individu berusia 18–29 tahun tiga kali lebih tinggi dibandingkan individu berusia 60 tahun atau lebih. Temuan yang paling konsisten dalam epidemiologi gangguan depresi mayor adalah prevalensi yang lebih tinggi pada perempuan, dengan perbedaan yang mencapai puncaknya pada masa remaja dan kemudian menjadi stabil. Perempuan mengalami angka kejadian sekitar dua kali lebih tinggi dibandingkan laki-laki, terutama selama periode antara menarke (menstruasi pertama) dan menopause. Dibandingkan laki-laki, perempuan lebih banyak melaporkan gejala depresi atipikal yang ditandai oleh hipersomnia, peningkatan nafsu makan, dan paralisis timbal.
Tinjauan sistematis menunjukkan bahwa prevalensi 12 bulan dan prevalensi pada satu titik waktu gangguan depresi mayor bervariasi delapan hingga sembilan kali lipat di berbagai wilayah geografis dunia. Di Amerika Serikat, prevalensi meningkat dari tahun 2005 hingga 2015, dengan tingkat peningkatan yang lebih tajam pada kelompok usia muda dibandingkan kelompok usia yang lebih tua. Setelah dilakukan pengelompokan berdasarkan kelompok etnis dan ras, kelompok kulit putih non-Hispanik menunjukkan peningkatan prevalensi yang bermakna setelah penyesuaian terhadap karakteristik demografis, sedangkan tidak ditemukan perubahan angka depresi yang bermakna pada kelompok kulit hitam non-Hispanik atau Hispanik.
Gangguan depresi mayor dapat pertama kali muncul pada usia berapa pun, tetapi kemungkinan onset meningkat secara nyata ketika memasuki masa pubertas. Di Amerika Serikat, insidensi tampaknya mencapai puncaknya pada usia 20-an; namun, onset pertama pada usia lanjut juga bukan hal yang jarang terjadi.
Perjalanan gangguan depresi mayor sangat bervariasi. Sebagian individu jarang atau bahkan tidak pernah mengalami remisi (periode selama 2 bulan atau lebih tanpa gejala, atau hanya memiliki satu atau dua gejala dengan tingkat keparahan tidak lebih dari ringan), sementara individu lainnya mengalami periode bertahun-tahun dengan sedikit atau tanpa gejala di antara episode-episode yang terpisah secara jelas. Perjalanan depresi dapat mencerminkan kesulitan sosial-struktural yang berkaitan dengan kemiskinan, rasisme, dan marginalisasi.
Penting untuk membedakan individu yang mencari pengobatan ketika mengalami perburukan penyakit depresif kronis dari individu yang gejalanya baru berkembang. Kronisitas gejala depresif secara bermakna meningkatkan kemungkinan adanya gangguan kepribadian, gangguan kecemasan, dan gangguan penggunaan zat yang mendasari, serta menurunkan kemungkinan bahwa pengobatan akan diikuti oleh hilangnya gejala secara menyeluruh. Oleh karena itu, penting untuk meminta individu yang datang dengan gejala depresif mengidentifikasi periode terakhir selama setidaknya 2 bulan ketika mereka benar-benar terbebas dari gejala depresif. Kasus ketika gejala depresif muncul lebih sering daripada tidak muncul mungkin memerlukan diagnosis tambahan berupa gangguan depresif persisten.
Pemulihan dari episode depresi mayor dimulai dalam waktu 3 bulan sejak onset pada 40% individu dengan depresi mayor dan dalam waktu 1 tahun pada 80% individu. Seberapa baru onset gangguan terjadi merupakan faktor penentu yang kuat terhadap kemungkinan pemulihan dalam waktu dekat, dan banyak individu yang baru mengalami depresi selama beberapa bulan dapat diperkirakan akan pulih secara spontan. Karakteristik yang berkaitan dengan tingkat pemulihan yang lebih rendah, selain durasi episode saat ini, mencakup gejala psikotik, kecemasan yang menonjol, gangguan kepribadian, dan tingkat keparahan gejala.
Risiko kekambuhan semakin menurun seiring bertambahnya durasi remisi. Risiko tersebut lebih tinggi pada individu yang episode sebelumnya berlangsung berat, pada individu yang lebih muda, dan pada individu yang telah mengalami beberapa episode. Menetapnya gejala depresif, bahkan yang ringan, selama remisi merupakan prediktor yang kuat terhadap kekambuhan.
Banyak gangguan bipolar dimulai dengan satu atau lebih episode depresif, dan sebagian besar individu yang pada awalnya tampak mengalami gangguan depresi mayor pada akhirnya akan diketahui sebenarnya mengalami gangguan bipolar. Hal ini lebih mungkin terjadi pada individu dengan onset penyakit pada masa remaja, individu dengan gejala psikotik, dan individu yang memiliki riwayat gangguan bipolar dalam keluarga. Keberadaan penanda “dengan karakteristik campuran” juga meningkatkan risiko munculnya diagnosis manik atau hipomanik pada masa mendatang. Gangguan depresi mayor, terutama yang disertai gejala psikotik, juga dapat berkembang menjadi skizofrenia, suatu perubahan yang jauh lebih sering terjadi dibandingkan perubahan sebaliknya.
Tidak terdapat pengaruh yang jelas dari usia saat ini terhadap perjalanan gangguan atau respons pengobatan pada gangguan depresi mayor. Meskipun demikian, terdapat beberapa perbedaan gejala, yaitu hipersomnia dan hiperfagia lebih mungkin ditemukan pada individu yang lebih muda, sedangkan gejala melankolis, terutama gangguan psikomotor, lebih umum ditemukan pada individu yang lebih tua. Depresi dengan onset pada usia yang lebih dini memiliki keterkaitan keluarga yang lebih kuat dan lebih mungkin melibatkan gangguan kepribadian. Perjalanan gangguan depresi mayor dalam diri individu secara umum tidak berubah seiring bertambahnya usia. Rata-rata waktu yang diperlukan untuk pemulihan tidak berubah pada berbagai episode yang dialami, dan kemungkinan sedang mengalami suatu episode secara umum tidak meningkat atau menurun seiring waktu.
Afektivitas negatif (neurotisisme) merupakan faktor risiko yang telah diketahui secara luas terhadap onset gangguan depresi mayor, dan tingkat afektivitas negatif yang tinggi tampaknya membuat individu lebih mungkin mengalami episode depresif sebagai respons terhadap peristiwa kehidupan yang penuh tekanan.
Pengalaman buruk pada masa kanak-kanak, terutama apabila terjadi berulang kali dan mencakup berbagai jenis pengalaman, merupakan sekumpulan faktor risiko yang kuat terhadap gangguan depresi mayor. Perempuan mungkin memiliki risiko yang secara tidak proporsional lebih tinggi terhadap pengalaman buruk pada masa kanak-kanak, termasuk kekerasan seksual, yang dapat berkontribusi terhadap peningkatan prevalensi depresi pada kelompok ini. Faktor penentu sosial kesehatan mental lainnya, seperti pendapatan rendah, keterbatasan pendidikan formal, rasisme, dan bentuk diskriminasi lainnya, berkaitan dengan risiko gangguan depresi mayor yang lebih tinggi. Peristiwa kehidupan yang penuh tekanan telah dikenal sebagai faktor pemicu episode depresi mayor, tetapi ada atau tidaknya peristiwa kehidupan yang merugikan menjelang onset episode tampaknya tidak memberikan pedoman yang bermanfaat untuk menentukan prognosis atau pemilihan pengobatan. Dari sudut pandang etiologi, perempuan secara tidak proporsional lebih banyak terdampak oleh faktor-faktor risiko utama depresi sepanjang rentang kehidupan, termasuk trauma interpersonal.
Anggota keluarga tingkat pertama dari individu dengan gangguan depresi mayor memiliki risiko mengalami gangguan depresi mayor dua hingga empat kali lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Risiko relatif tampaknya lebih tinggi pada bentuk gangguan dengan onset dini dan episode berulang. Heritabilitas diperkirakan sekitar 40%, dan sifat kepribadian neurotisisme menjelaskan sebagian besar kerentanan genetik tersebut.
Perempuan juga mungkin memiliki risiko mengalami gangguan depresif yang berkaitan dengan tahap-tahap tertentu dalam kehidupan reproduksi, termasuk periode pramenstruasi, pascapersalinan, dan perimenopause.
Pada dasarnya, hampir seluruh gangguan utama yang bukan merupakan gangguan suasana perasaan (yaitu, gangguan kecemasan, gangguan penggunaan zat, gangguan terkait trauma dan stresor, gangguan makan dan pemberian makan, serta gangguan obsesif-kompulsif dan gangguan terkait) meningkatkan risiko individu mengalami depresi. Episode depresi mayor yang berkembang dengan latar belakang gangguan lainnya sering kali menunjukkan perjalanan yang lebih sulit merespons pengobatan. Gangguan penggunaan zat, gangguan kecemasan, dan gangguan kepribadian ambang termasuk yang paling umum ditemukan, dan gejala depresif yang muncul dapat mengaburkan serta menunda pengenalan gangguan-gangguan tersebut. Namun, perbaikan klinis yang berkelanjutan pada gejala depresif mungkin bergantung pada penanganan yang tepat terhadap penyakit yang mendasarinya. Kondisi medis kronis atau yang menyebabkan disabilitas juga meningkatkan risiko episode depresi mayor. Penyakit yang banyak ditemukan, seperti diabetes, obesitas morbid, dan penyakit kardiovaskular, sering kali disertai komplikasi berupa episode depresif, dan episode tersebut lebih mungkin menjadi kronis dibandingkan episode depresif pada individu yang secara medis sehat.
Meskipun terdapat variasi lintas budaya yang cukup besar dalam prevalensi, perjalanan gangguan, dan simptomatologi depresi, suatu sindrom yang serupa dengan gangguan depresi mayor dapat diidentifikasi dalam berbagai konteks budaya. Gejala yang umum berkaitan dengan depresi di berbagai konteks budaya, tetapi tidak tercantum dalam kriteria DSM, mencakup isolasi sosial atau kesepian, kemarahan, menangis, dan nyeri yang menyebar. Berbagai keluhan somatik lainnya juga umum ditemukan dan bervariasi menurut konteks budaya. Memahami makna penting gejala-gejala tersebut memerlukan eksplorasi terhadap maknanya dalam konteks sosial setempat.
Gejala gangguan depresi mayor mungkin kurang terdeteksi atau kurang dilaporkan, sehingga berpotensi menyebabkan kesalahan diagnosis, termasuk diagnosis berlebihan terhadap gangguan spektrum skizofrenia pada beberapa kelompok etnis dan kelompok yang mengalami rasialisasi serta menghadapi diskriminasi. Dalam perbandingan antarnegara, tingkat ketimpangan pendapatan yang lebih tinggi dalam suatu masyarakat berkaitan dengan prevalensi gangguan depresi mayor yang lebih tinggi. Di Amerika Serikat, kronisitas gangguan depresi mayor tampaknya lebih tinggi pada kelompok Afrika-Amerika dan kulit hitam Karibia dibandingkan kelompok kulit putih non-Latinx, yang mungkin disebabkan oleh dampak rasisme, diskriminasi, kesulitan sosial-struktural yang lebih besar, dan kurangnya akses terhadap layanan kesehatan mental yang berkualitas.
Tidak terdapat perbedaan yang jelas antargender dalam respons terhadap pengobatan atau konsekuensi fungsional. Terdapat sejumlah bukti mengenai perbedaan berdasarkan jenis kelamin dan gender dalam fenomenologi serta perjalanan penyakit. Perempuan cenderung mengalami lebih banyak gangguan nafsu makan dan tidur, termasuk karakteristik atipikal seperti hiperfagia dan hipersomnia, serta lebih mungkin mengalami sensitivitas interpersonal dan gejala gastrointestinal. Namun, laki-laki dengan depresi mungkin lebih sering dibandingkan perempuan dengan depresi melaporkan frekuensi dan intensitas yang lebih tinggi dari strategi penanganan diri dan pemecahan masalah yang maladaptif, termasuk penyalahgunaan alkohol atau zat lainnya, perilaku mengambil risiko, dan pengendalian impuls yang buruk.
Angka bunuh diri yang telah disesuaikan berdasarkan usia di Amerika Serikat meningkat dari 10,5 menjadi 14,0 per 100.000 penduduk selama dua dekade terakhir. Suatu tinjauan literatur sebelumnya menunjukkan bahwa individu dengan penyakit depresif memiliki risiko bunuh diri 17 kali lebih tinggi dibandingkan angka pada populasi umum yang telah disesuaikan berdasarkan usia dan jenis kelamin. Kemungkinan percobaan bunuh diri menurun pada usia paruh baya dan usia lanjut, meskipun risiko kematian akibat bunuh diri tidak mengalami penurunan. Kemungkinan terjadinya perilaku bunuh diri selalu ada selama berlangsungnya episode depresi mayor. Faktor risiko yang paling konsisten dijelaskan adalah adanya riwayat percobaan atau ancaman bunuh diri sebelumnya, tetapi perlu diingat bahwa sebagian besar kematian akibat bunuh diri tidak didahului oleh percobaan bunuh diri yang tidak berakibat fatal. Anhedonia memiliki hubungan yang sangat kuat dengan ide bunuh diri. Karakteristik lain yang berkaitan dengan peningkatan risiko kematian akibat bunuh diri mencakup status tidak menikah, tinggal sendirian, keterputusan hubungan sosial, pengalaman buruk pada awal kehidupan, ketersediaan sarana yang mematikan seperti senjata api, gangguan tidur, defisit kognitif dan kemampuan mengambil keputusan, serta adanya perasaan putus asa yang menonjol. Perempuan melakukan percobaan bunuh diri dengan angka yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki, sedangkan laki-laki lebih mungkin meninggal akibat bunuh diri. Namun, perbedaan angka bunuh diri antara laki-laki dan perempuan dengan gangguan depresif lebih kecil dibandingkan perbedaan pada populasi secara keseluruhan. Komorbiditas, termasuk sifat agresif-impulsif, gangguan kepribadian ambang, gangguan penggunaan zat, kecemasan, kondisi medis lainnya, dan gangguan keberfungsian, meningkatkan risiko perilaku bunuh diri pada masa mendatang.
Banyak konsekuensi fungsional dari gangguan depresi mayor berasal dari gejala-gejala individual. Gangguan keberfungsian dapat sangat ringan, sehingga banyak orang yang berinteraksi dengan individu tersebut tidak menyadari adanya gejala depresif. Namun, gangguan keberfungsian juga dapat mencapai tingkat ketidakmampuan total, sehingga individu dengan depresi tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar perawatan diri atau mengalami mutisme maupun katatonia. Pada individu yang diperiksa dalam pelayanan medis umum, mereka yang mengalami gangguan depresi mayor memiliki lebih banyak keluhan nyeri dan penyakit fisik, serta penurunan yang lebih besar dalam keberfungsian fisik, sosial, dan pelaksanaan peran. Perempuan dengan depresi melaporkan gangguan keberfungsian dalam hubungan interpersonal yang lebih besar dibandingkan laki-laki.
Episode depresi mayor dengan suasana perasaan yang mudah tersinggung sebagai gejala yang menonjol mungkin sulit dibedakan dari episode manik dengan suasana perasaan yang mudah tersinggung atau dengan karakteristik campuran. Pembedaan ini memerlukan evaluasi klinis yang cermat terhadap keberadaan gejala manik dalam jumlah yang mencukupi untuk memenuhi ambang batas kriteria (yaitu, tiga gejala jika suasana perasaan bersifat manik, atau empat gejala jika suasana perasaan mudah tersinggung tetapi tidak bersifat manik).
Adanya episode depresi mayor yang disertai riwayat episode manik atau hipomanik menyingkirkan kemungkinan diagnosis gangguan depresi mayor. Episode depresi mayor yang disertai riwayat episode hipomanik tanpa adanya riwayat episode manik menunjukkan diagnosis gangguan bipolar II, sedangkan episode depresi mayor yang disertai riwayat episode manik (dengan atau tanpa episode hipomanik) menunjukkan diagnosis gangguan bipolar I. Di sisi lain, gambaran episode depresi mayor yang disertai riwayat periode hipomania yang tidak memenuhi kriteria episode hipomanik dapat didiagnosis sebagai gangguan bipolar dan gangguan terkait lainnya yang ditentukan atau gangguan depresi mayor, bergantung pada penilaian klinisi mengenai kategori yang paling sesuai dengan gambaran klinis tersebut. Sebagai contoh, gambaran tersebut mungkin lebih tepat dianggap sebagai gangguan bipolar dan gangguan terkait lainnya yang ditentukan karena signifikansi klinis gejala hipomanik yang berada di bawah ambang batas diagnostik, atau mungkin lebih tepat dianggap sebagai kasus gangguan depresi mayor dengan beberapa gejala hipomanik di bawah ambang batas diagnostik yang muncul di antara episode-episode depresif.
Diagnosis gangguan depresif akibat kondisi medis lainnya mensyaratkan adanya kondisi medis yang berperan sebagai faktor etiologis. Gangguan depresi mayor tidak didiagnosis apabila seluruh episode yang menyerupai depresi mayor disebabkan oleh konsekuensi patofisiologis langsung dari suatu kondisi medis tertentu (misalnya, sklerosis multipel, stroke, atau hipotiroidisme).
Gangguan ini dibedakan dari gangguan depresi mayor berdasarkan adanya suatu zat (misalnya, zat yang disalahgunakan, obat-obatan, atau toksin) yang tampaknya memiliki hubungan etiologis dengan gangguan suasana perasaan. Sebagai contoh, suasana perasaan depresif yang hanya terjadi dalam konteks putus zat akibat penghentian penggunaan kokain akan didiagnosis sebagai gangguan depresif yang diinduksi kokain.
Gangguan depresif persisten ditandai oleh suasana perasaan depresif yang muncul lebih sering daripada tidak muncul selama setidaknya 2 tahun. Apabila kriteria untuk gangguan depresi mayor dan gangguan depresif persisten sama-sama terpenuhi, kedua diagnosis tersebut dapat ditegakkan.
Gangguan disforik pramenstruasi ditandai oleh suasana perasaan disforik yang muncul pada minggu terakhir sebelum menstruasi dimulai, mulai membaik dalam beberapa hari setelah menstruasi dimulai, dan menjadi minimal atau tidak ada pada minggu setelah menstruasi. Sebaliknya, episode gangguan depresi mayor tidak memiliki hubungan waktu dengan siklus menstruasi.
Gangguan disregulasi suasana hati yang mengganggu ditandai oleh ledakan amarah berat yang berulang, yang ditunjukkan secara verbal dan/atau melalui perilaku, disertai suasana perasaan yang menetap atau labil selama sebagian besar waktu dalam sehari, hampir setiap hari, di antara episode ledakan amarah tersebut. Sebaliknya, pada gangguan depresi mayor, iritabilitas hanya muncul selama episode depresi mayor.
Gejala depresif dapat muncul selama berlangsungnya skizofrenia, gangguan waham, gangguan skizofreniform, atau gangguan spektrum skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya yang ditentukan maupun yang tidak ditentukan. Dalam sebagian besar kasus, gejala depresif tersebut dapat dianggap sebagai karakteristik penyerta dari gangguan-gangguan tersebut dan tidak memerlukan diagnosis terpisah. Namun, apabila gejala depresif memenuhi seluruh kriteria episode depresi mayor, diagnosis gangguan depresif lainnya yang ditentukan dapat diberikan sebagai diagnosis tambahan selain diagnosis gangguan psikotik.
Gangguan skizoafektif berbeda dari gangguan depresi mayor dengan gejala psikotik karena pada gangguan skizoafektif terdapat persyaratan bahwa waham atau halusinasi muncul selama setidaknya 2 minggu tanpa adanya episode depresi mayor.
Perhatian yang mudah teralihkan dan toleransi frustrasi yang rendah dapat muncul baik pada gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (ADHD) maupun pada episode depresi mayor; apabila kriteria untuk kedua gangguan terpenuhi, ADHD dapat didiagnosis sebagai tambahan selain gangguan suasana perasaan. Namun, klinisi harus berhati-hati agar tidak memberikan diagnosis episode depresi mayor secara berlebihan pada anak-anak dengan ADHD yang gangguan suasana perasaannya ditandai oleh iritabilitas, bukan oleh kesedihan atau kehilangan minat.
Episode depresi mayor yang terjadi sebagai respons terhadap stresor psikososial dibedakan dari gangguan penyesuaian dengan suasana perasaan depresif berdasarkan fakta bahwa kriteria lengkap untuk episode depresi mayor tidak terpenuhi pada gangguan penyesuaian.
Kedukaan merupakan pengalaman kehilangan orang yang dicintai akibat kematian. Kondisi ini umumnya memicu respons berduka yang dapat berlangsung intens dan mencakup banyak karakteristik yang tumpang tindih dengan gejala episode depresi mayor, seperti kesedihan, kesulitan tidur, dan konsentrasi yang buruk. Karakteristik yang membantu membedakan respons berduka akibat kehilangan dari episode depresi mayor mencakup hal-hal berikut: afek yang dominan dalam kedukaan adalah perasaan hampa dan kehilangan, sedangkan pada episode depresi mayor berupa suasana perasaan depresif yang menetap dan penurunan kemampuan untuk merasakan kesenangan. Selain itu, suasana perasaan disforik dalam kedukaan cenderung menurun intensitasnya dalam hitungan hari hingga minggu dan muncul secara bergelombang, yang biasanya berkaitan dengan pikiran atau pengingat mengenai orang yang telah meninggal, sedangkan suasana perasaan depresif pada episode depresi mayor lebih menetap dan tidak berkaitan dengan pikiran atau perhatian tertentu. Penting untuk diperhatikan bahwa pada individu yang rentan (misalnya, seseorang dengan riwayat gangguan depresi mayor sebelumnya), kedukaan tidak hanya dapat memicu respons berduka, tetapi juga dapat menyebabkan berkembangnya episode depresi atau memburuknya episode yang sudah ada.
Terakhir, periode kesedihan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengalaman manusia. Periode tersebut tidak boleh didiagnosis sebagai episode depresi mayor kecuali kriteria tingkat keparahan (yaitu, lima dari sembilan gejala), durasi (yaitu, hampir sepanjang hari, hampir setiap hari selama setidaknya 2 minggu), serta distres yang bermakna secara klinis atau gangguan keberfungsian telah terpenuhi. Diagnosis gangguan depresif lainnya yang ditentukan mungkin sesuai untuk gambaran suasana perasaan depresif yang disertai gangguan keberfungsian bermakna secara klinis, tetapi tidak memenuhi kriteria durasi atau tingkat keparahan.
Gangguan lain yang sering muncul bersamaan dengan gangguan depresi mayor adalah gangguan terkait zat, gangguan panik, gangguan kecemasan menyeluruh, gangguan stres pascatrauma, gangguan obsesif-kompulsif, anoreksia nervosa, bulimia nervosa, dan gangguan kepribadian ambang.
Perempuan lebih mungkin dibandingkan laki-laki melaporkan gangguan kecemasan komorbid, bulimia nervosa, dan gangguan somatoform (gangguan gejala somatik dan gangguan terkait), sedangkan laki-laki lebih mungkin melaporkan penyalahgunaan alkohol dan zat lainnya sebagai kondisi komorbid.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.