Catatonic Disorder Due to Another Medical Condition
Gambaran klinis didominasi oleh tiga (atau lebih) gejala berikut: (1) Stupor (yaitu, tidak adanya aktivitas psikomotor; tidak secara aktif berinteraksi dengan lingkungan). (2) Katalepsi (yaitu, pembentukan postur secara pasif yang kemudian dipertahankan melawan gravitasi). (3) Fleksibilitas lilin (waxy flexibility) (yaitu, resistensi ringan dan merata terhadap perubahan posisi yang dilakukan oleh pemeriksa). (4) Mutisme (yaitu, tidak ada atau sangat sedikit respons verbal [Catatan: tidak berlaku jika terdapat afasia yang telah dipastikan]). (5) Negativisme (yaitu, penolakan atau tidak adanya respons terhadap instruksi atau stimulus eksternal). (6) Mempertahankan postur (posturing) (yaitu, mempertahankan suatu postur secara spontan dan aktif melawan gravitasi). (7) Manerisme (mannerism) (yaitu, tindakan normal yang dilakukan dengan cara yang aneh, berbelit-belit, atau menyerupai karikatur). (8) Stereotipi (stereotypy) (yaitu, gerakan berulang dengan frekuensi yang tidak normal dan tidak berorientasi pada tujuan). (9) Agitasi yang tidak dipengaruhi oleh stimulus eksternal. (10) Ekspresi wajah menyeringai (grimacing). (11) Ekolalia (yaitu, menirukan pembicaraan orang lain). (12) Ekopraksia (yaitu, menirukan gerakan orang lain).
Terdapat bukti dari riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium bahwa gangguan tersebut merupakan konsekuensi patofisiologis langsung dari kondisi medis lainnya.
Gangguan tersebut tidak dapat dijelaskan secara lebih baik oleh gangguan mental lainnya (misalnya, episode manik).
Gangguan tersebut tidak terjadi secara eksklusif selama berlangsungnya delirium.
Gangguan tersebut menyebabkan distres yang bermakna secara klinis atau gangguan keberfungsian dalam bidang sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya.
Catatan pengodean: Cantumkan nama kondisi medis dalam nama gangguan mental tersebut (misalnya, F06.1 gangguan katatonik akibat ensefalopati hepatik). Kondisi medis lainnya harus diberi kode dan dicantumkan secara terpisah tepat sebelum gangguan katatonik akibat kondisi medis tersebut (misalnya, K72.90 ensefalopati hepatik; F06.1 gangguan katatonik akibat ensefalopati hepatik).
Karakteristik utama gangguan katatonik akibat kondisi medis lainnya adalah adanya katatonia yang dinilai disebabkan oleh efek fisiologis dari kondisi medis lainnya. Katatonia dapat didiagnosis berdasarkan adanya setidaknya 3 dari 12 karakteristik klinis dalam Kriteria A. Harus terdapat bukti dari riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium bahwa katatonia disebabkan oleh kondisi medis lainnya (Kriteria B). Diagnosis tidak diberikan apabila katatonia dapat dijelaskan secara lebih baik oleh gangguan mental lainnya (misalnya, episode manik) (Kriteria C) atau apabila katatonia terjadi secara eksklusif selama berlangsungnya delirium (Kriteria D).
Berbagai kondisi medis dapat menyebabkan katatonia, terutama gangguan neurologis (misalnya, neoplasma, trauma kepala, penyakit serebrovaskular, dan ensefalitis) serta gangguan metabolik (misalnya, hiperkalsemia, ensefalopati hepatik, homosistinuria, dan ketoasidosis diabetik). Temuan pemeriksaan fisik, temuan laboratorium, serta pola prevalensi dan onset yang menyertainya mencerminkan kondisi medis yang menjadi penyebabnya.
Diagnosis terpisah berupa gangguan katatonik akibat kondisi medis lainnya tidak diberikan apabila katatonia terjadi secara eksklusif selama berlangsungnya delirium atau sindrom neuroleptik maligna. Namun, meskipun diagnosis katatonia secara terpisah tidak dapat ditegakkan, penelitian menunjukkan bahwa gejala katatonia muncul pada proporsi yang cukup besar dari kasus delirium. Jika individu saat ini sedang menggunakan obat neuroleptik, perlu dipertimbangkan kemungkinan adanya gangguan gerakan yang diinduksi obat (misalnya, posisi tubuh yang abnormal mungkin disebabkan oleh distonia akut yang diinduksi neuroleptik) atau sindrom neuroleptik maligna (misalnya, karakteristik yang menyerupai katatonia dapat muncul bersama dengan kelainan tanda-tanda vital dan/atau hasil pemeriksaan laboratorium). Gejala katatonik dapat muncul pada salah satu dari lima gangguan psikotik berikut: gangguan psikotik singkat, gangguan skizofreniform, skizofrenia, gangguan skizoafektif, dan gangguan psikotik yang diinduksi zat/obat. Gejala tersebut juga dapat muncul pada beberapa gangguan perkembangan saraf, seluruh gangguan bipolar dan depresi, serta gangguan mental lainnya.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.