F34.0 3_03

Gangguan Siklotimik

Cyclothymic Disorder

DSM-5-TR 2x dibaca

Kriteria Diagnostik

  1. Selama setidaknya 2 tahun (setidaknya 1 tahun pada anak-anak dan remaja), terdapat banyak periode dengan gejala hipomanik yang tidak memenuhi kriteria episode hipomanik dan banyak periode dengan gejala depresif yang tidak memenuhi kriteria episode depresi mayor.
  2. Selama periode 2 tahun tersebut (1 tahun pada anak-anak dan remaja), gejala-gejala dalam Kriteria A muncul setidaknya selama separuh waktu, dan individu tidak pernah terbebas dari gejala selama lebih dari 2 bulan berturut-turut.
  3. Kriteria untuk episode depresi mayor, episode manik, atau episode hipomanik tidak pernah terpenuhi.
  4. Gejala-gejala dalam Kriteria A tidak dapat dijelaskan secara lebih baik oleh gangguan skizoafektif, skizofrenia, gangguan skizofreniform, gangguan waham, atau gangguan spektrum skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya yang ditentukan maupun yang tidak ditentukan.
  5. Gejala-gejala tersebut tidak disebabkan oleh efek fisiologis suatu zat (misalnya, zat yang disalahgunakan atau obat-obatan) atau kondisi medis lainnya (misalnya, hipertiroidisme).
  6. Gejala-gejala tersebut menyebabkan distres yang bermakna secara klinis atau gangguan keberfungsian dalam bidang sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya.

Tentukan jika:

Dengan distres kecemasan.

Karakteristik Diagnostik

Karakteristik utama gangguan siklotimik adalah gangguan suasana perasaan yang bersifat kronis dan berfluktuasi, yang melibatkan banyak periode gejala hipomanik dan periode gejala depresif (Kriteria A). Gejala hipomanik memiliki jumlah, tingkat keparahan, keluasan manifestasi, dan/atau durasi yang tidak mencukupi untuk memenuhi kriteria lengkap episode hipomanik, sedangkan gejala depresif memiliki jumlah, tingkat keparahan, keluasan manifestasi, dan/atau durasi yang tidak mencukupi untuk memenuhi kriteria lengkap episode depresi mayor. Selama periode awal 2 tahun (1 tahun untuk anak-anak atau remaja), gejala harus bersifat menetap (muncul lebih sering daripada tidak muncul), dan setiap interval tanpa gejala tidak berlangsung lebih dari 2 bulan (Kriteria B). Diagnosis gangguan siklotimik hanya ditegakkan apabila kriteria untuk episode depresi mayor, episode manik, atau episode hipomanik tidak pernah terpenuhi (Kriteria C).

Jika individu dengan gangguan siklotimik kemudian mengalami episode depresi mayor, episode manik, atau episode hipomanik (yaitu, setelah periode awal 2 tahun pada orang dewasa atau 1 tahun pada anak-anak atau remaja), diagnosis berubah masing-masing menjadi gangguan depresi mayor, gangguan bipolar I, atau gangguan bipolar dan gangguan terkait lainnya yang ditentukan maupun yang tidak ditentukan (dengan subklasifikasi episode hipomanik tanpa episode depresi mayor sebelumnya), dan diagnosis gangguan siklotimik tidak lagi digunakan.

Diagnosis gangguan siklotimik tidak ditegakkan apabila pola perubahan suasana perasaan dapat dijelaskan secara lebih baik oleh gangguan skizoafektif, skizofrenia, gangguan skizofreniform, gangguan waham, atau gangguan spektrum skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya yang ditentukan maupun yang tidak ditentukan (Kriteria D). Dalam keadaan tersebut, gejala suasana perasaan dianggap sebagai karakteristik penyerta dari gangguan psikotik. Gangguan suasana perasaan juga tidak boleh disebabkan oleh efek fisiologis suatu zat (misalnya, zat yang disalahgunakan atau obat-obatan) atau kondisi medis lainnya (misalnya, hipertiroidisme) (Kriteria E). Meskipun sebagian individu dapat menunjukkan keberfungsian yang sangat baik selama beberapa periode hipomania, sepanjang perjalanan gangguan yang berkepanjangan harus terdapat distres yang bermakna secara klinis atau gangguan keberfungsian dalam bidang sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya sebagai akibat dari gangguan suasana perasaan tersebut (Kriteria F). Pola perubahan suasana perasaan yang berulang, berlangsung lama, dan sering kali tidak dapat diprediksi dapat menyebabkan gangguan keberfungsian akibat gabungan dampak negatif dari gejala itu sendiri serta dampak negatif dari pola ketidakpastian dan ketidakkonsistenan terhadap keberfungsian interpersonal dan pelaksanaan peran (yaitu, peran dalam keluarga dan pekerjaan).

Prevalensi

Prevalensi gangguan siklotimik sepanjang hidup di Amerika Serikat dan Eropa adalah sekitar 0,4%–2,5%. Prevalensi pada klinik gangguan suasana perasaan dapat berkisar antara 3% hingga 5%. Dalam populasi umum, gangguan siklotimik tampaknya sama seringnya ditemukan pada laki-laki dan perempuan. Dalam lingkungan klinis, perempuan dengan gangguan siklotimik mungkin lebih cenderung datang untuk mendapatkan pengobatan dibandingkan laki-laki.

Perkembangan dan Perjalanan Gangguan

Gangguan siklotimik biasanya dimulai pada masa remaja atau awal masa dewasa dan terkadang dianggap mencerminkan predisposisi temperamental terhadap gangguan-gangguan lain yang dibahas dalam bab ini. Sebagian besar anak dan remaja dengan gangguan siklotimik mengalami onset gejala suasana perasaan sebelum usia 10 tahun. Gangguan siklotimik biasanya memiliki onset yang berkembang secara perlahan dan perjalanan gangguan yang menetap. Terdapat risiko sebesar 15%–50% bahwa individu dengan gangguan siklotimik kemudian akan mengalami gangguan bipolar I atau gangguan bipolar II; tingkat perubahan diagnosis lebih tinggi pada anak-anak dan remaja dibandingkan orang dewasa. Munculnya gejala hipomanik dan depresif yang menetap serta berfluktuasi pada usia dewasa lanjut perlu dibedakan secara jelas dari gangguan bipolar dan gangguan terkait akibat kondisi medis lainnya serta gangguan depresif akibat kondisi medis lainnya (misalnya, sklerosis multipel) sebelum diagnosis gangguan siklotimik ditegakkan.

Faktor Risiko dan Prognostik

Faktor Genetik dan Fisiologis

Gangguan depresi mayor, gangguan bipolar I, dan gangguan bipolar II lebih umum ditemukan pada kerabat biologis tingkat pertama dari individu dengan gangguan siklotimik dibandingkan pada populasi umum. Risiko gangguan terkait zat dalam keluarga juga mungkin meningkat. Gangguan siklotimik mungkin lebih umum ditemukan pada kerabat biologis tingkat pertama dari individu dengan gangguan bipolar I dibandingkan pada populasi umum.

Diagnosis Banding

Gangguan Bipolar dan Gangguan Terkait Akibat Kondisi Medis Lainnya

Diagnosis gangguan bipolar dan gangguan terkait akibat kondisi medis lainnya ditegakkan apabila gangguan suasana perasaan dinilai disebabkan oleh efek fisiologis dari suatu kondisi medis tertentu yang biasanya bersifat kronis (misalnya, hipertiroidisme). Penentuan ini didasarkan pada riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan/atau temuan laboratorium. Jika gejala hipomanik dan depresif dinilai bukan merupakan konsekuensi fisiologis dari kondisi medis tersebut, maka gangguan mental primer (yaitu, gangguan siklotimik) dan kondisi medis tersebut diberi kode diagnosis masing-masing. Sebagai contoh, hal ini berlaku apabila gejala suasana perasaan dianggap sebagai konsekuensi psikologis (bukan fisiologis) dari keberadaan suatu kondisi medis kronis, atau apabila tidak terdapat hubungan etiologis antara gejala hipomanik dan depresif dengan kondisi medis tersebut.

Gangguan Bipolar dan Gangguan Terkait yang Diinduksi Zat/Obat serta Gangguan Depresif yang Diinduksi Zat/Obat

Gangguan bipolar dan gangguan terkait yang diinduksi zat/obat serta gangguan depresif yang diinduksi zat/obat dibedakan dari gangguan siklotimik berdasarkan penilaian bahwa suatu zat atau obat (terutama stimulan) memiliki hubungan etiologis dengan gangguan suasana perasaan. Perubahan suasana perasaan yang sering terjadi pada gangguan-gangguan tersebut, yang menyerupai gangguan siklotimik, biasanya menghilang setelah penggunaan zat atau obat dihentikan.

Gangguan Bipolar I dengan Siklus Cepat dan Gangguan Bipolar II dengan Siklus Cepat

Kedua gangguan tersebut dapat menyerupai gangguan siklotimik karena adanya perubahan suasana perasaan yang nyata dan sering terjadi. Berdasarkan definisinya, pada gangguan siklotimik, kriteria untuk episode depresi mayor, episode manik, atau episode hipomanik tidak pernah terpenuhi, sedangkan penanda “dengan siklus cepat” pada gangguan bipolar I dan gangguan bipolar II mensyaratkan adanya episode suasana perasaan yang memenuhi kriteria lengkap.

Gangguan Kepribadian Ambang

Gangguan kepribadian ambang berkaitan dengan perubahan suasana perasaan yang nyata, singkat, dan berulang, yang dapat menyerupai gangguan siklotimik. Keterlibatan dalam perilaku yang berpotensi merugikan diri sendiri dapat ditemukan pada kedua kondisi tersebut, tetapi perilaku tersebut harus terjadi dalam konteks gejala hipomanik lainnya agar dapat dikaitkan dengan siklotimia. Ketidakstabilan suasana perasaan pada gangguan kepribadian ambang terjadi dalam ranah kecemasan, iritabilitas, dan kesedihan, sedangkan suasana perasaan yang sangat meningkat, euforia, dan/atau peningkatan energi bukan merupakan karakteristik khas gangguan kepribadian ambang. Jika kriteria untuk kedua gangguan terpenuhi, gangguan kepribadian ambang dan gangguan siklotimik dapat didiagnosis secara bersamaan.

Komorbiditas

Gangguan terkait zat dan gangguan tidur (yaitu, kesulitan untuk mulai tidur dan mempertahankan tidur) dapat ditemukan pada individu dengan gangguan siklotimik. Tingkat gangguan psikiatris komorbid pada anak-anak dengan gangguan siklotimik yang menjalani perawatan psikiatris rawat jalan lebih tinggi dibandingkan pada anak-anak dengan gangguan perilaku disruptif/gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas, serta serupa dengan tingkat komorbiditas pada anak-anak dengan gangguan bipolar I atau gangguan bipolar II.

Bagikan:

Siap Memulai Psikotes Online Anda?

Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.

Pilih Layanan Lihat Semua Alat Tes Hubungi Kami
Hubungi Kami