Bipolar I Disorder
Untuk menegakkan diagnosis gangguan bipolar I, kriteria berikut untuk episode manik harus terpenuhi. Episode manik dapat didahului dan dapat diikuti oleh episode hipomanik atau episode depresi mayor.
Suatu periode yang jelas dengan suasana perasaan yang meningkat, ekspansif, atau mudah tersinggung secara abnormal dan menetap, serta peningkatan aktivitas atau energi yang abnormal dan menetap, berlangsung setidaknya selama 1 minggu dan terjadi hampir sepanjang hari, hampir setiap hari (atau dengan durasi berapa pun jika diperlukan rawat inap).
Selama periode gangguan suasana perasaan dan peningkatan energi atau aktivitas, terdapat tiga (atau lebih) gejala berikut (empat gejala jika suasana perasaan hanya berupa iritabilitas) dalam tingkat yang bermakna dan menunjukkan perubahan yang nyata dari perilaku biasanya: (1) Harga diri yang meningkat secara berlebihan atau grandiositas. (2) Berkurangnya kebutuhan tidur (misalnya, merasa cukup beristirahat setelah hanya tidur selama 3 jam). (3) Lebih banyak berbicara daripada biasanya atau adanya dorongan untuk terus berbicara. (4) Lompatan gagasan (flight of ideas) atau pengalaman subjektif bahwa pikiran bergerak dengan sangat cepat. (5) Mudah teralihkan perhatiannya (distractibility), yaitu perhatian terlalu mudah tertarik pada stimulus eksternal yang tidak penting atau tidak relevan, sebagaimana dilaporkan atau diamati. (6) Peningkatan aktivitas yang berorientasi pada tujuan (baik dalam bidang sosial, pekerjaan atau sekolah, maupun aktivitas seksual) atau agitasi psikomotor (yaitu, aktivitas tanpa tujuan yang jelas). (7)Keterlibatan berlebihan dalam aktivitas yang memiliki potensi tinggi menimbulkan konsekuensi merugikan (misalnya, berbelanja secara berlebihan tanpa kendali, perilaku seksual yang tidak bijaksana, atau investasi bisnis yang ceroboh).
Gangguan suasana perasaan cukup berat sehingga menyebabkan gangguan yang nyata dalam keberfungsian sosial atau pekerjaan, atau mengharuskan rawat inap untuk mencegah bahaya terhadap diri sendiri atau orang lain, atau terdapat gejala psikotik.
Episode tersebut tidak disebabkan oleh efek fisiologis suatu zat (misalnya, zat yang disalahgunakan, obat-obatan, atau pengobatan lainnya) atau kondisi medis lainnya.
Catatan: Episode manik penuh yang muncul selama pengobatan antidepresan (misalnya, obat-obatan atau terapi elektrokonvulsif), tetapi tetap berlangsung dengan seluruh gejala sindrom yang memenuhi kriteria setelah efek fisiologis pengobatan tersebut berakhir, merupakan bukti yang cukup untuk menetapkan adanya episode manik dan, dengan demikian, diagnosis gangguan bipolar I.
Catatan: Kriteria A–D membentuk suatu episode manik. Setidaknya satu episode manik sepanjang hidup diperlukan untuk menegakkan diagnosis gangguan bipolar I.
Suatu periode yang jelas dengan suasana perasaan yang meningkat, ekspansif, atau mudah tersinggung secara abnormal dan menetap, serta peningkatan aktivitas atau energi yang abnormal dan menetap, berlangsung setidaknya selama 4 hari berturut-turut dan terjadi hampir sepanjang hari, hampir setiap hari.
Selama periode gangguan suasana perasaan dan peningkatan energi serta aktivitas, tiga (atau lebih) gejala berikut (empat gejala jika suasana perasaan hanya berupa iritabilitas) menetap, menunjukkan perubahan yang nyata dari perilaku biasanya, dan muncul dalam tingkat yang bermakna: (1) Harga diri yang meningkat secara berlebihan atau grandiositas. (2) Berkurangnya kebutuhan tidur (misalnya, merasa cukup beristirahat setelah hanya tidur selama 3 jam). (4) Lebih banyak berbicara daripada biasanya atau adanya dorongan untuk terus berbicara. (5) Lompatan gagasan (flight of ideas) atau pengalaman subjektif bahwa pikiran bergerak dengan sangat cepat. (6) Mudah teralihkan perhatiannya (distractibility), yaitu perhatian terlalu mudah tertarik pada stimulus eksternal yang tidak penting atau tidak relevan, sebagaimana dilaporkan atau diamati. (7) Peningkatan aktivitas yang berorientasi pada tujuan (baik dalam bidang sosial, pekerjaan atau sekolah, maupun aktivitas seksual) atau agitasi psikomotor. (8) Keterlibatan berlebihan dalam aktivitas yang memiliki potensi tinggi menimbulkan konsekuensi merugikan (misalnya, berbelanja secara berlebihan tanpa kendali, perilaku seksual yang tidak bijaksana, atau investasi bisnis yang ceroboh).
Episode tersebut berkaitan dengan perubahan keberfungsian yang jelas dan tidak sesuai dengan karakteristik individu ketika tidak mengalami gejala.
Gangguan suasana perasaan dan perubahan keberfungsian tersebut dapat diamati oleh orang lain.
Episode tersebut tidak cukup berat untuk menyebabkan gangguan yang nyata dalam keberfungsian sosial atau pekerjaan, atau mengharuskan rawat inap. Jika terdapat gejala psikotik, episode tersebut, berdasarkan definisinya, merupakan episode manik.
Episode tersebut tidak disebabkan oleh efek fisiologis suatu zat (misalnya, zat yang disalahgunakan, obat-obatan, atau pengobatan lainnya) atau kondisi medis lainnya.
Catatan: Episode hipomanik penuh yang muncul selama pengobatan antidepresan (misalnya, obat-obatan atau terapi elektrokonvulsif), tetapi tetap berlangsung dengan seluruh gejala sindrom yang memenuhi kriteria setelah efek fisiologis pengobatan tersebut berakhir, merupakan bukti yang cukup untuk menegakkan diagnosis episode hipomanik. Namun, diperlukan kehati-hatian agar satu atau dua gejala (terutama peningkatan iritabilitas, perasaan tegang atau mudah tersinggung, atau agitasi setelah penggunaan antidepresan) tidak dianggap cukup untuk menegakkan diagnosis episode hipomanik, ataupun serta-merta dianggap sebagai indikasi adanya predisposisi terhadap gangguan bipolar.
Catatan: Kriteria A–F membentuk suatu episode hipomanik. Episode hipomanik umum ditemukan pada gangguan bipolar I, tetapi tidak diperlukan untuk menegakkan diagnosis gangguan bipolar I.
Lima (atau lebih) gejala berikut muncul selama periode 2 minggu yang sama dan menunjukkan perubahan dari keberfungsian sebelumnya; setidaknya salah satu gejala harus berupa (1) suasana perasaan depresif atau (2) hilangnya minat atau kesenangan. Catatan: Jangan memasukkan gejala yang secara jelas disebabkan oleh kondisi medis lainnya. (1) Suasana perasaan depresif hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, sebagaimana ditunjukkan oleh laporan subjektif (misalnya, merasa sedih, hampa, atau putus asa) atau pengamatan orang lain (misalnya, tampak mudah menangis). (Catatan: Pada anak-anak dan remaja, suasana perasaan dapat berupa iritabilitas). (2) Penurunan minat atau kesenangan yang nyata terhadap semua atau hampir semua aktivitas, hampir sepanjang hari, hampir setiap hari (sebagaimana ditunjukkan oleh laporan subjektif atau pengamatan). (3) Penurunan berat badan yang bermakna ketika tidak sedang menjalani diet atau peningkatan berat badan (misalnya, perubahan lebih dari 5% berat badan dalam satu bulan), atau penurunan maupun peningkatan nafsu makan hampir setiap hari. (Catatan: Pada anak-anak, pertimbangkan kegagalan mencapai peningkatan berat badan yang diharapkan). (4)Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari. (5) Agitasi atau perlambatan psikomotor hampir setiap hari (dapat diamati oleh orang lain, bukan sekadar perasaan subjektif berupa kegelisahan atau merasa bergerak lebih lambat). (6) Kelelahan atau kehilangan energi hampir setiap hari. (7) Perasaan tidak berharga atau rasa bersalah yang berlebihan atau tidak sesuai (yang dapat bersifat waham) hampir setiap hari (bukan sekadar menyalahkan diri sendiri atau merasa bersalah karena sedang sakit). (8) Menurunnya kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi, atau kesulitan mengambil keputusan, hampir setiap hari (berdasarkan laporan subjektif atau pengamatan orang lain). (9) Pikiran berulang tentang kematian (bukan hanya ketakutan akan kematian), ide bunuh diri yang berulang tanpa rencana khusus, atau percobaan bunuh diri maupun rencana khusus untuk melakukan bunuh diri.
Gejala-gejala tersebut menyebabkan distres yang bermakna secara klinis atau gangguan keberfungsian dalam bidang sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya.
Episode tersebut tidak disebabkan oleh efek fisiologis suatu zat atau kondisi medis lainnya.
Catatan: Kriteria A–C membentuk suatu episode depresi mayor. Episode depresi mayor umum ditemukan pada gangguan bipolar I, tetapi tidak diperlukan untuk menegakkan diagnosis gangguan bipolar I.
Catatan: Respons terhadap kehilangan yang bermakna (misalnya, kematian orang yang dicintai, kehancuran finansial, kehilangan akibat bencana alam, penyakit medis yang serius, atau disabilitas) dapat mencakup perasaan sedih yang mendalam, perenungan berulang mengenai kehilangan, insomnia, penurunan nafsu makan, dan penurunan berat badan sebagaimana tercantum dalam Kriteria A, yang dapat menyerupai episode depresi. Meskipun gejala-gejala tersebut dapat dipahami atau dianggap sebagai respons yang sesuai terhadap kehilangan, kemungkinan adanya episode depresi mayor selain respons normal terhadap kehilangan yang bermakna juga harus dipertimbangkan secara cermat. Keputusan ini tidak dapat dipisahkan dari penggunaan pertimbangan klinis berdasarkan riwayat individu dan norma budaya mengenai ekspresi distres dalam konteks kehilangan.
- Kriteria untuk setidaknya satu episode manik telah terpenuhi (Kriteria A–D pada bagian “Episode Manik” di atas).
- Setidaknya satu episode manik tidak dapat dijelaskan secara lebih baik oleh gangguan skizoafektif dan tidak terjadi sebagai kondisi yang menyertai skizofrenia, gangguan skizofreniform, gangguan waham, atau gangguan spektrum skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya yang ditentukan maupun yang tidak ditentukan.
Kode diagnostik untuk gangguan bipolar I didasarkan pada jenis episode saat ini atau episode yang paling baru terjadi serta statusnya berkaitan dengan tingkat keparahan saat ini, keberadaan gejala psikotik, dan status remisi. Tingkat keparahan saat ini dan gejala psikotik hanya dicantumkan apabila kriteria lengkap untuk episode manik atau episode depresi mayor saat ini terpenuhi. Penanda remisi hanya dicantumkan apabila kriteria lengkap untuk episode manik, hipomanik, atau depresi mayor saat ini tidak terpenuhi. Kode-kodenya adalah sebagai berikut:
| Tingkat Keparahan / Status | Episode saat ini atau terakhir: Manik | Episode saat ini atau terakhir: Hipomanik* | Episode saat ini atau terakhir: Depresi | Episode saat ini atau terakhir: Tidak ditentukan** |
|---|---|---|---|---|
|
Ringan |
F31.11 |
NA |
F31.31 |
NA |
|
Sedang |
F31.12 |
NA |
F31.32 |
NA |
|
Berat |
F31.13 |
NA |
F31.4 |
NA |
|
Dengan gejala psikotik*** |
F31.2 |
NA |
F31.5 |
NA |
|
Dalam remisi parsial |
F31.73 |
F31.71 |
F31.75 |
NA |
|
Dalam remisi penuh |
F31.74 |
F31.72 |
F31.76 |
NA |
|
Tidak ditentukan |
F31.9 |
F31.9 |
F31.9 |
NA |
*Penanda tingkat keparahan dan gejala psikotik tidak berlaku; gunakan kode F31.0 untuk kasus yang tidak berada dalam remisi.
**Penanda tingkat keparahan, gejala psikotik, dan remisi tidak berlaku. Gunakan kode F31.9.
***Jika terdapat gejala psikotik, gunakan penanda “dengan gejala psikotik” tanpa mempertimbangkan tingkat keparahan episode.
Dalam mencatat nama diagnosis, istilah-istilah harus dicantumkan dengan urutan sebagai berikut: gangguan bipolar I, jenis episode saat ini (atau episode yang paling baru terjadi jika gangguan bipolar I berada dalam remisi parsial atau penuh), penanda tingkat keparahan/gejala psikotik/remisi, kemudian diikuti oleh sebanyak mungkin penanda berikut yang relevan tanpa kode, sesuai dengan episode saat ini (atau episode paling baru jika gangguan bipolar I berada dalam remisi parsial atau penuh). Catatan: Penanda “dengan siklus cepat” dan “dengan pola musiman” menggambarkan pola episode suasana perasaan.
Dengan distres kecemasan (with anxious distress)
Dengan karakteristik campuran (with mixed features)
Dengan siklus cepat (with rapid cycling)
Dengan karakteristik melankolis (with melancholic features)
Dengan karakteristik atipikal (with atypical features)
Dengan gejala psikotik yang selaras dengan suasana perasaan (with mood-congruent psychotic features)
Dengan gejala psikotik yang tidak selaras dengan suasana perasaan (with mood-incongruent psychotic features)
Dengan katatonia (with catatonia). Catatan pengodean: Gunakan kode tambahan F06.1.
Dengan onset peripartum (with peripartum onset)
Dengan pola musiman (with seasonal pattern)
Gangguan bipolar I ditandai oleh perjalanan klinis berupa episode suasana perasaan yang berulang (manik, depresif, dan hipomanik), tetapi terjadinya setidaknya satu episode manik merupakan syarat yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis gangguan bipolar I. Karakteristik utama episode manik adalah suatu periode yang jelas ketika terdapat suasana perasaan yang meningkat, ekspansif, atau mudah tersinggung secara abnormal dan menetap, serta peningkatan aktivitas atau energi yang menetap, yang berlangsung hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, selama setidaknya 1 minggu (atau dengan durasi berapa pun jika diperlukan rawat inap), disertai setidaknya tiga gejala tambahan dari Kriteria B. Jika suasana perasaan berupa iritabilitas, bukan meningkat atau ekspansif, setidaknya empat gejala dari Kriteria B harus muncul.
Suasana perasaan dalam episode manik sering digambarkan sebagai euforia, sangat gembira, bersemangat tinggi, atau “merasa berada di puncak dunia”. Dalam beberapa kasus, suasana perasaan tersebut memiliki kualitas yang sangat mudah menular kepada orang lain sehingga dapat dengan mudah dikenali sebagai sesuatu yang berlebihan dan dapat ditandai oleh antusiasme yang tidak terbatas serta tidak terarah dalam interaksi interpersonal, seksual, atau pekerjaan. Sebagai contoh, individu mungkin secara spontan memulai percakapan panjang dengan orang asing di tempat umum. Sering kali, suasana perasaan yang dominan justru berupa iritabilitas, bukan peningkatan suasana perasaan, terutama ketika keinginan individu tidak terpenuhi atau jika individu telah menggunakan zat tertentu. Perubahan suasana perasaan yang cepat dalam periode waktu singkat dapat terjadi dan disebut sebagai labilitas (yaitu, pergantian antara euforia, disforia, dan iritabilitas). Pada anak-anak, kebahagiaan, perilaku konyol, dan tingkah laku jenaka merupakan hal yang normal dalam berbagai konteks sosial; namun, jika gejala-gejala tersebut berulang, tidak sesuai dengan konteks, dan melampaui apa yang diharapkan berdasarkan tingkat perkembangan anak, gejala tersebut dapat memenuhi persyaratan suasana perasaan yang meningkat secara abnormal dalam Kriteria A. Agar kebahagiaan atau perilaku konyol pada anak memenuhi Kriteria A, perilaku tersebut harus menunjukkan peningkatan yang jelas dibandingkan kondisi dasar anak dan disertai peningkatan aktivitas atau tingkat energi yang menetap, yang secara nyata dianggap tidak biasa bagi anak tersebut oleh orang-orang yang mengenalnya dengan baik. Agar gejala pada anak memenuhi kriteria episode manik, gejala tersebut juga harus memenuhi Kriteria B untuk mania dan menunjukkan perubahan dari kondisi dasar perilaku anak yang biasanya.
Selama episode manik, individu dapat terlibat dalam berbagai proyek baru yang berlangsung secara bersamaan. Proyek-proyek tersebut sering dimulai dengan pengetahuan yang sangat terbatas mengenai topiknya, dan tampaknya tidak ada sesuatu pun yang dianggap berada di luar kemampuan individu. Peningkatan aktivitas atau tingkat energi dapat muncul pada waktu-waktu yang tidak biasa dalam sehari, seperti ketika individu biasanya sedang tidur.
Peningkatan harga diri secara berlebihan umumnya ditemukan, mulai dari kepercayaan diri yang tidak disertai penilaian kritis hingga grandiositas yang nyata, dan dapat mencapai tingkat waham (Kriteria B1). Meskipun tidak memiliki pengalaman atau bakat tertentu, individu dapat memulai tugas-tugas kompleks, seperti menulis novel atau mencari perhatian publik untuk suatu penemuan yang tidak praktis. Waham kebesaran (misalnya, keyakinan memiliki hubungan khusus dengan seseorang yang terkenal) merupakan hal yang umum ditemukan. Pada anak-anak, penilaian yang terlalu tinggi terhadap kemampuan diri dan keyakinan bahwa mereka, misalnya, merupakan yang terbaik dalam suatu olahraga atau paling cerdas di kelas adalah hal yang normal; namun, ketika keyakinan tersebut tetap ada meskipun terdapat bukti jelas yang bertentangan, atau anak mencoba melakukan tindakan yang jelas berbahaya dan, yang terpenting, menunjukkan perubahan dari perilaku normalnya, kriteria grandiositas perlu dianggap terpenuhi.
Salah satu karakteristik yang paling umum adalah berkurangnya kebutuhan tidur (Kriteria B2), yang berbeda dari insomnia (ketika individu ingin tidur atau merasa perlu tidur, tetapi tidak mampu melakukannya). Individu mungkin hanya tidur sebentar, atau bahkan tidak tidur sama sekali, atau terbangun beberapa jam lebih awal dari biasanya dengan perasaan telah cukup beristirahat dan penuh energi. Ketika gangguan tidur berlangsung berat, individu dapat tidak tidur selama beberapa hari, tetapi tetap tidak merasa lelah. Sering kali, berkurangnya kebutuhan tidur merupakan tanda awal munculnya episode manik.
Pembicaraan dapat berlangsung cepat, terdesak, keras, dan sulit dihentikan (Kriteria B3). Individu mungkin berbicara terus-menerus tanpa memperhatikan keinginan orang lain untuk berkomunikasi, sering kali dengan cara yang mengganggu atau tanpa mempertimbangkan relevansi hal yang disampaikan. Pembicaraan terkadang ditandai oleh lelucon, permainan kata, hal-hal yang tidak relevan tetapi dianggap lucu, dan perilaku teatrikal, disertai tingkah laku yang dramatis, bernyanyi, serta gerakan tubuh yang berlebihan. Kerasnya suara dan kuatnya tekanan dalam berbicara sering kali menjadi lebih menonjol daripada isi pesan yang disampaikan. Jika suasana perasaan individu lebih bersifat mudah tersinggung daripada ekspansif, pembicaraan dapat ditandai oleh keluhan, komentar bermusuhan, atau luapan kemarahan, terutama jika ada upaya untuk menghentikan pembicaraannya. Gejala pada Kriteria A dan Kriteria B juga dapat disertai gejala dari kutub suasana perasaan yang berlawanan (yaitu, depresif) (lihat penanda “dengan karakteristik campuran”, hlm. 170–171).
Sering kali, pikiran individu bergerak dengan kecepatan yang lebih tinggi daripada kemampuan untuk mengungkapkannya melalui pembicaraan (Kriteria B4). Lompatan gagasan sering terlihat melalui aliran pembicaraan yang dipercepat dan hampir tidak terputus, dengan perpindahan mendadak dari satu topik ke topik lainnya. Ketika lompatan gagasan berlangsung berat, pembicaraan dapat menjadi tidak terorganisasi, tidak koheren, dan sangat mengganggu individu. Terkadang, pikiran dirasakan begitu penuh dan saling bertumpuk sehingga individu sangat kesulitan untuk berbicara.
Mudah teralihkan perhatiannya (Kriteria B5) ditunjukkan oleh ketidakmampuan untuk menyaring stimulus eksternal yang tidak relevan (misalnya, pakaian pewawancara, suara atau percakapan di latar belakang, serta perabotan di dalam ruangan), dan sering kali menghambat individu yang mengalami mania untuk mempertahankan percakapan yang rasional atau memperhatikan instruksi.
Peningkatan aktivitas yang berorientasi pada tujuan (Kriteria B6) sering berupa perencanaan yang berlebihan dan keterlibatan dalam berbagai aktivitas, termasuk aktivitas seksual, pekerjaan, politik, atau keagamaan. Peningkatan dorongan seksual, fantasi seksual, dan perilaku seksual sering ditemukan. Individu yang mengalami episode manik biasanya menunjukkan peningkatan kemampuan bersosialisasi (misalnya, menghubungi kembali kenalan lama atau menelepon maupun menghubungi teman, bahkan orang asing), tanpa memperhatikan sifat interaksi tersebut yang mengganggu, mendominasi, atau menuntut. Mereka juga sering menunjukkan agitasi psikomotor atau kegelisahan (yaitu, aktivitas tanpa tujuan) dengan berjalan mondar-mandir atau melakukan beberapa percakapan secara bersamaan. Sebagian individu menulis surat, surel, pesan teks, dan sebagainya secara berlebihan mengenai berbagai topik kepada teman, tokoh publik, atau media.
Kriteria peningkatan aktivitas dapat sulit dipastikan pada anak-anak; namun, ketika seorang anak mengerjakan banyak tugas secara bersamaan, mulai menyusun rencana proyek yang rumit dan tidak realistis, atau mengembangkan perhatian berlebihan terhadap hal-hal seksual yang sebelumnya tidak ada dan tidak sesuai dengan tahap perkembangannya (yang tidak dapat dijelaskan oleh pelecehan seksual atau paparan materi seksual eksplisit), maka Kriteria B mungkin terpenuhi berdasarkan pertimbangan klinis. Penting untuk menentukan apakah perilaku tersebut menunjukkan perubahan dari kondisi dasar perilaku anak; terjadi hampir sepanjang hari, hampir setiap hari selama periode waktu yang dipersyaratkan; serta terjadi dalam hubungan waktu yang bersamaan dengan gejala mania lainnya.
Suasana perasaan yang ekspansif, optimisme berlebihan, grandiositas, dan penilaian yang buruk sering menyebabkan keterlibatan secara sembrono dalam aktivitas seperti berbelanja secara berlebihan, memberikan barang-barang milik pribadi, mengemudi secara berbahaya, melakukan investasi bisnis yang ceroboh, dan perilaku seksual yang tidak bijaksana serta tidak biasa bagi individu tersebut, meskipun aktivitas-aktivitas ini berpotensi menimbulkan konsekuensi yang sangat merugikan (Kriteria B7). Individu mungkin membeli banyak barang yang tidak diperlukan tanpa memiliki uang untuk membayarnya dan, dalam beberapa kasus, memberikan barang-barang tersebut kepada orang lain. Perilaku seksual yang tidak bijaksana dapat mencakup perselingkuhan atau hubungan seksual tanpa pertimbangan yang matang dengan orang asing, sering kali tanpa memperhatikan risiko penyakit menular seksual atau konsekuensi interpersonal.
Episode manik harus mengakibatkan gangguan yang nyata dalam keberfungsian sosial atau pekerjaan (misalnya, kerugian finansial, kehilangan pekerjaan, kegagalan di sekolah, atau perceraian) atau memerlukan rawat inap untuk mencegah bahaya terhadap diri sendiri atau orang lain (misalnya, kelelahan fisik atau hipertermia akibat kegembiraan manik, serta perilaku melukai diri sendiri). Berdasarkan definisinya, keberadaan gejala psikotik selama episode manik juga memenuhi Kriteria C.
Gejala atau sindrom manik yang disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari zat yang disalahgunakan (misalnya, dalam konteks intoksikasi kokain atau amfetamin), efek samping obat-obatan atau pengobatan (misalnya, steroid, L-dopa, antidepresan, dan stimulan), atau kondisi medis lainnya tidak diperhitungkan dalam diagnosis gangguan bipolar I. Namun, episode manik yang memenuhi seluruh kriteria sindrom dan muncul selama pengobatan (misalnya, menggunakan obat-obatan, terapi elektrokonvulsif, atau terapi cahaya), serta tetap berlangsung setelah efek fisiologis agen pemicunya berakhir (misalnya, setelah obat sepenuhnya dikeluarkan dari tubuh individu atau efek terapi elektrokonvulsif diperkirakan telah hilang sepenuhnya), merupakan bukti yang cukup untuk suatu episode manik yang dianggap disebabkan oleh gangguan bipolar I (Kriteria D). Diperlukan kehati-hatian agar satu atau dua gejala (terutama peningkatan iritabilitas, perasaan tegang atau mudah tersinggung, atau agitasi setelah penggunaan antidepresan) tidak dianggap cukup untuk menegakkan diagnosis episode manik atau hipomanik, ataupun serta-merta dianggap sebagai indikasi predisposisi terhadap gangguan bipolar. Meskipun tidak menjadi syarat utama diagnosis gangguan bipolar I, episode hipomanik atau depresi sering mendahului atau mengikuti episode manik. Uraian lengkap mengenai karakteristik diagnostik episode hipomanik dapat ditemukan dalam pembahasan gangguan bipolar II, sedangkan karakteristik episode depresi mayor dijelaskan dalam pembahasan gangguan depresi mayor.
Selama episode manik, individu sering kali tidak menyadari bahwa dirinya sedang sakit atau membutuhkan pengobatan dan dengan keras menolak upaya untuk mendapatkan perawatan. Individu dapat mengubah gaya berpakaian, tata rias, atau penampilan pribadi menjadi lebih menggoda secara seksual atau mencolok. Sebagian individu merasakan peningkatan kepekaan penciuman, pendengaran, atau penglihatan. Perilaku berjudi dan perilaku antisosial dapat menyertai episode manik. Suasana perasaan dapat berubah dengan sangat cepat menjadi kemarahan atau depresi; sebagian individu dapat menjadi bermusuhan dan mengancam orang lain secara fisik dan, ketika mengalami waham, dapat melakukan penyerangan fisik atau menunjukkan perilaku bunuh diri. Konsekuensi serius dari episode manik (misalnya, rawat inap secara paksa, masalah hukum, dan kesulitan finansial yang berat) sering disebabkan oleh penilaian yang buruk, hilangnya tilikan, dan hiperaktivitas. Gejala depresif terjadi pada sekitar 35% episode manik (lihat penanda “dengan karakteristik campuran”, hlm. 170), dan karakteristik campuran berkaitan dengan hasil akhir yang lebih buruk serta peningkatan percobaan bunuh diri. Gangguan bipolar I juga berkaitan dengan penurunan yang bermakna dalam kualitas hidup dan kesejahteraan.
Karakteristik yang menyerupai sifat kepribadian dan berkaitan dengan diagnosis ini mencakup temperamen hipertimik, depresif, siklotimik, cemas, dan mudah tersinggung; gangguan tidur dan ritme sirkadian; sensitivitas terhadap penghargaan; serta kreativitas. Memiliki kerabat tingkat pertama dengan gangguan bipolar meningkatkan risiko diagnosis sekitar 10 kali lipat.
Prevalensi gangguan bipolar I berdasarkan DSM-5 selama 12 bulan pada sampel orang dewasa di Amerika Serikat yang mewakili populasi nasional adalah 1,5% dan tidak berbeda antara laki-laki (1,6%) dan perempuan (1,5%). Dibandingkan dengan individu kulit putih non-Hispanik, prevalensi gangguan bipolar I tampaknya lebih tinggi pada penduduk asli Amerika dan lebih rendah pada orang Afrika-Amerika, Hispanik, serta Asia/Kepulauan Pasifik. Prevalensi gangguan bipolar I berdasarkan DSM-IV selama 12 bulan di 11 negara berkisar antara 0,0% hingga 0,6% dan lebih tinggi di negara berpendapatan tinggi dibandingkan negara berpendapatan rendah dan menengah, kecuali Jepang, yang memiliki prevalensi rendah (0,01%). Rasio prevalensi sepanjang hidup antara laki-laki dan perempuan adalah sekitar 1,1:1.
Rentang usia puncak onset gangguan bipolar I dalam berbagai penelitian adalah antara 20 dan 30 tahun, tetapi onset dapat terjadi sepanjang rentang kehidupan. Di Amerika Serikat, usia rata-rata saat onset gangguan bipolar I berdasarkan DSM-5 adalah 22 tahun dan sedikit lebih muda pada perempuan (21,5 tahun) dibandingkan laki-laki (23,0 tahun). Dalam perbandingan enam lokasi penelitian internasional, median usia saat onset gangguan bipolar I berdasarkan DSM-IV-TR adalah 24,3 tahun. Pertimbangan khusus diperlukan untuk menerapkan diagnosis pada anak-anak. Karena anak-anak dengan usia kronologis yang sama dapat berada pada tahap perkembangan yang berbeda, sulit untuk menentukan secara tepat apa yang dianggap “normal” atau “diharapkan” pada suatu waktu tertentu. Oleh karena itu, setiap anak harus dinilai berdasarkan kondisi dasar perilakunya sendiri untuk menentukan apakah suatu perilaku tertentu merupakan hal yang “normal” atau bukti adanya episode manik. Meskipun onset pertama dapat terjadi pada usia 60-an atau 70-an tahun, kemunculan gejala manik (misalnya, berkurangnya hambatan perilaku seksual atau sosial) pada usia paruh baya akhir atau usia lanjut perlu mendorong pertimbangan terhadap kondisi medis (misalnya, gangguan neurokognitif frontotemporal) serta penggunaan atau penghentian zat.
Lebih dari 90% individu yang mengalami satu episode manik kemudian mengalami episode suasana perasaan berulang. Sekitar 60% episode manik terjadi tepat sebelum episode depresi mayor. Individu dengan gangguan bipolar I yang mengalami beberapa episode suasana perasaan (empat atau lebih episode depresi mayor, manik, atau hipomanik) selama 12 bulan sebelumnya diberikan penanda “dengan siklus cepat”, yaitu suatu variasi yang umum dan berkaitan dengan hasil akhir yang lebih buruk. Sekitar separuh individu yang didiagnosis mengalami gangguan bipolar menunjukkan polaritas yang dominan (kekambuhan cenderung bersifat depresif atau manik), dengan satu penelitian internasional mengenai gangguan bipolar I menemukan bahwa 31,3% individu memiliki dominasi mania, 21,4% memiliki dominasi depresi, dan 47,3% tidak menunjukkan dominasi polaritas tertentu.
Perjalanan gangguan bipolar I sangat beragam. Beberapa pola telah ditemukan di antara episode-episode yang berbeda (misalnya, episode manik dengan gejala psikotik dapat berkaitan dengan munculnya gejala psikotik pada episode manik berikutnya). Polaritas episode pertama cenderung berkaitan dengan polaritas yang dominan pada episode-episode selanjutnya dan karakteristik klinisnya (misalnya, onset yang bersifat depresif berkaitan dengan frekuensi episode depresi yang lebih tinggi dan perilaku bunuh diri). Keberadaan karakteristik campuran dalam episode manik berkaitan dengan prognosis yang lebih buruk, respons yang lebih rendah terhadap litium, dan perilaku bunuh diri.
Pengalaman buruk pada masa kanak-kanak (termasuk trauma emosional dini, psikopatologi pada orang tua, dan konflik keluarga) merupakan faktor risiko yang telah diketahui untuk gangguan bipolar dan tampaknya meningkatkan predisposisi terhadap onset gangguan bipolar yang lebih dini. Pengalaman buruk pada masa kanak-kanak juga berkaitan dengan prognosis yang lebih buruk dan gambaran klinis yang lebih berat, yang dapat mencakup komorbiditas medis atau psikiatris, bunuh diri, dan gejala psikotik yang menyertai. Dalam waktu yang lebih dekat dengan terjadinya episode, stres kehidupan yang baru dialami dan berbagai peristiwa kehidupan negatif lainnya meningkatkan risiko kekambuhan depresi pada individu yang didiagnosis mengalami gangguan bipolar, sedangkan kekambuhan mania tampaknya secara khusus berkaitan dengan peristiwa kehidupan yang berhubungan dengan pencapaian tujuan (misalnya, menikah atau menyelesaikan pendidikan). Penggunaan kanabis dan zat lainnya berkaitan dengan perburukan gejala manik pada individu yang didiagnosis mengalami gangguan bipolar, serta kemunculan pertama gejala manik pada populasi umum. Terdapat beberapa bukti bahwa individu dengan gangguan bipolar lebih jarang menikah dibandingkan populasi umum dan bahwa diagnosis gangguan bipolar lebih berkaitan dengan status pernah menikah daripada sedang menikah.
Proses genetik sangat memengaruhi predisposisi terhadap gangguan bipolar, dengan estimasi heritabilitas sekitar 90% dalam beberapa penelitian pada anak kembar. Risiko gangguan bipolar pada populasi umum adalah sekitar 1%, sedangkan risiko pada kerabat tingkat pertama adalah 5%–10%. Namun, tingkat kesesuaian diagnosis pada kembar monozigot secara signifikan lebih rendah dari 100% (40%–70%), yang menunjukkan bahwa sebagian besar risiko masih belum dapat dijelaskan hanya oleh faktor genetik. Mekanisme pewarisannya tidak mengikuti pola Mendelian dan melibatkan banyak gen (atau mekanisme genetik yang lebih kompleks) dengan pengaruh kecil, yang saling berinteraksi satu sama lain, dengan lingkungan, serta dengan faktor-faktor acak. Temuan genetik yang mulai berkembang menunjukkan bahwa kerentanan terhadap mania dan depresi diwariskan secara terpisah, serta bahwa gangguan bipolar memiliki asal-usul genetik yang sama dengan skizofrenia.
Gejala gangguan bipolar I cenderung konsisten dalam berbagai konteks budaya, tetapi terdapat beberapa variasi dalam ekspresi dan interpretasi gejalanya. Sebagai contoh, individu dengan gangguan bipolar I yang disertai gejala psikotik dari latar belakang budaya yang berbeda dapat menunjukkan variasi dalam prevalensi lompatan gagasan (flight of ideas) atau jenis waham (misalnya, waham kebesaran, persekusi, seksual, keagamaan, atau somatik).
Faktor budaya dapat memengaruhi prevalensi gangguan. Sebagai contoh, negara-negara dengan nilai budaya yang berorientasi pada penghargaan dan memberikan penekanan pada upaya individu untuk memperoleh penghargaan memiliki prevalensi gangguan bipolar yang relatif lebih tinggi. Di Amerika Serikat, individu dengan gangguan bipolar memiliki usia onset yang lebih dini dibandingkan individu di Eropa dan lebih mungkin memiliki riwayat gangguan psikiatris dalam keluarga.
Budaya juga memengaruhi praktik diagnostik klinisi terkait gangguan bipolar. Dibandingkan dengan individu kulit putih non-Latinx di Amerika Serikat, orang Afrika-Amerika dengan gangguan bipolar I memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kesalahan diagnosis sebagai skizofrenia. Kemungkinan penyebabnya mencakup kurangnya pengenalan terhadap gejala suasana perasaan, kesalahpahaman budaya dan bahasa antara klinisi dan individu yang datang untuk mendapatkan perawatan (misalnya, salah menafsirkan ketidakpercayaan yang dipengaruhi budaya sebagai paranoia), gejala psikotik yang lebih menonjol saat datang untuk mendapatkan perawatan akibat keterlambatan memperoleh layanan, serta diagnosis yang didasarkan pada asesmen klinis yang lebih singkat. Faktor-faktor tersebut dapat mengakibatkan kesalahan diagnosis skizofrenia yang bersifat diskriminatif, terutama pada orang Afrika-Amerika dengan gangguan suasana perasaan yang menunjukkan gejala psikotik.
Perempuan mungkin lebih cenderung mengalami siklus cepat dan keadaan campuran, serta memiliki pola komorbiditas yang berbeda dari laki-laki, termasuk tingkat gangguan makan sepanjang hidup yang lebih tinggi. Perempuan dengan gangguan bipolar I atau II lebih mungkin mengalami gejala depresif dibandingkan laki-laki. Mereka juga memiliki risiko gangguan penggunaan alkohol sepanjang hidup yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki dan kemungkinan mengalami gangguan penggunaan alkohol yang jauh lebih besar dibandingkan perempuan dalam populasi umum.
Sebagian perempuan dengan gangguan bipolar mengalami perburukan gejala suasana perasaan selama periode pramenstruasi, dan kondisi ini berkaitan dengan perjalanan penyakit yang lebih buruk. Banyak perempuan dengan gangguan bipolar juga melaporkan gangguan emosional yang berat selama masa perimenopause ketika kadar estrogen menurun. Tampaknya tidak terdapat peningkatan risiko episode suasana perasaan pada perempuan hamil dengan gangguan bipolar, kecuali pada mereka yang menghentikan penggunaan obat selama kehamilan. Sebaliknya, terdapat bukti yang kuat dan konsisten mengenai peningkatan risiko episode suasana perasaan (baik depresi maupun mania) pada perempuan dengan gangguan bipolar I selama periode pascapersalinan. Penanda “dengan onset peripartum” harus digunakan untuk episode suasana perasaan yang dimulai selama kehamilan atau dalam waktu 4 minggu setelah persalinan. “Psikosis pascapersalinan” biasanya menyerupai episode suasana perasaan manik atau campuran yang disertai gejala psikotik dan memiliki hubungan yang kuat dengan gangguan bipolar I.
Risiko bunuh diri sepanjang hidup pada individu dengan gangguan bipolar diperkirakan 20 hingga 30 kali lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Diperkirakan 5%–6% individu dengan gangguan bipolar meninggal akibat bunuh diri. Meskipun percobaan bunuh diri lebih sering terjadi pada perempuan, kematian akibat bunuh diri lebih umum terjadi pada laki-laki dengan gangguan bipolar. Riwayat percobaan bunuh diri sebelumnya dan persentase hari yang dihabiskan dalam keadaan depresif selama satu tahun terakhir berkaitan dengan risiko yang lebih tinggi terhadap percobaan bunuh diri atau kematian akibat bunuh diri. Hampir separuh individu yang gejalanya memenuhi kriteria gangguan bipolar juga mengalami gangguan penggunaan alkohol, dan individu yang mengalami kedua gangguan tersebut memiliki risiko lebih tinggi terhadap percobaan bunuh diri maupun kematian akibat bunuh diri.
Sekitar 30% individu dengan gangguan bipolar menunjukkan gangguan berat dalam keberfungsian peran pekerjaan, meskipun banyak individu kembali mencapai tingkat keberfungsian penuh di antara episode. Pemulihan fungsional berlangsung jauh lebih lambat dibandingkan pemulihan gejala, terutama dalam hal pemulihan kemampuan bekerja, sehingga mengakibatkan status sosial ekonomi yang lebih rendah meskipun memiliki tingkat pendidikan yang setara dengan populasi umum. Gangguan kognitif menetap sepanjang rentang kehidupan, bahkan selama periode eutimia, dan dapat berkontribusi terhadap kesulitan dalam pekerjaan serta hubungan interpersonal. Tingkat stigma yang dirasakan individu terhadap dirinya sendiri yang lebih tinggi berkaitan dengan tingkat keberfungsian yang lebih rendah.
Terdapat risiko kesalahan diagnosis gangguan bipolar I sebagai depresi unipolar karena gejala depresi sangat menonjol dalam gambaran klinis gangguan bipolar I: 1) episode pertama gangguan bipolar sering kali berupa episode depresif, 2) gejala depresif merupakan gejala yang paling sering dialami sepanjang perjalanan jangka panjang gangguan bipolar I, dan 3) masalah yang biasanya mendorong individu untuk mencari pertolongan adalah depresi. Oleh karena itu, ketika individu datang dalam keadaan mengalami episode depresi mayor, penting untuk secara aktif menggali riwayat mania atau hipomania. Faktor-faktor yang dapat menunjukkan bahwa diagnosis yang lebih tepat adalah gangguan bipolar I daripada gangguan depresi mayor pada individu yang sedang mengalami episode depresif mencakup riwayat gangguan bipolar dalam keluarga, onset gangguan pada awal usia 20-an, banyaknya episode sebelumnya, adanya gejala psikotik, serta riwayat tidak adanya respons terhadap pengobatan antidepresan atau munculnya episode manik selama pengobatan antidepresan (misalnya, obat-obatan atau terapi elektrokonvulsif).
Gangguan bipolar II, gangguan siklotimik, serta gangguan bipolar dan gangguan terkait lainnya yang ditentukan memiliki kemiripan dengan gangguan bipolar I karena sama-sama mencakup periode gejala hipomanik dalam gambaran klinisnya, tetapi dibedakan dari gangguan bipolar I berdasarkan tidak adanya episode manik.
Penggalian riwayat gejala secara cermat diperlukan untuk membedakan gangguan kecemasan menyeluruh dari gangguan bipolar, karena perenungan berulang yang disertai kecemasan dapat disalahartikan sebagai pikiran yang bergerak cepat (dan sebaliknya), serta upaya untuk mengurangi perasaan cemas dapat dianggap sebagai perilaku impulsif. Demikian pula, gejala gangguan stres pascatrauma perlu dibedakan dari gangguan bipolar. Penilaian terhadap sifat episodik dari gejala yang dijelaskan (gangguan bipolar I klasik bersifat episodik), serta pertimbangan terhadap pemicu gejala, dapat membantu dalam menegakkan diagnosis banding ini.
Diagnosis gangguan bipolar dan gangguan terkait akibat kondisi medis lainnya harus ditegakkan sebagai pengganti gangguan bipolar I apabila episode manik dinilai, berdasarkan riwayat, temuan laboratorium, atau pemeriksaan fisik, sebagai konsekuensi fisiologis langsung dari kondisi medis lainnya (misalnya, penyakit Cushing atau sklerosis multipel).
Gangguan bipolar dan gangguan terkait yang diinduksi zat/obat dibedakan dari gangguan bipolar I berdasarkan adanya zat (misalnya, stimulan atau fensiklidin) atau obat (misalnya, steroid) yang dinilai memiliki hubungan etiologis dengan episode manik. Karena individu yang mengalami episode manik memiliki kecenderungan menggunakan zat secara berlebihan selama episode berlangsung, penting untuk menentukan apakah penggunaan zat merupakan konsekuensi dari episode manik primer atau apakah episode yang menyerupai mania tersebut disebabkan oleh penggunaan zat. Dalam beberapa kasus, diagnosis yang pasti mungkin memerlukan pembuktian bahwa gejala manik tetap berlangsung setelah individu tidak lagi menggunakan zat tersebut. Perlu diperhatikan bahwa episode manik yang muncul dalam konteks pengobatan menggunakan antidepresan, tetapi tetap berlangsung dengan seluruh gejala sindrom yang memenuhi kriteria setelah efek fisiologis obat tersebut berakhir, mengharuskan diagnosis gangguan bipolar I, bukan gangguan bipolar dan gangguan terkait yang diinduksi zat/obat.
Gangguan skizoafektif ditandai oleh periode ketika episode manik dan episode depresi mayor terjadi bersamaan dengan gejala fase aktif skizofrenia, serta periode ketika waham atau halusinasi terjadi selama setidaknya 2 minggu tanpa adanya episode manik atau episode depresi mayor. Diagnosis yang digunakan adalah “gangguan bipolar I, dengan gejala psikotik” apabila gejala psikotik hanya terjadi selama episode manik dan episode depresi mayor.
Gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas ditandai oleh gejala menetap berupa kurangnya perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas, yang dapat menyerupai gejala episode manik (misalnya, mudah teralihkan perhatiannya, peningkatan aktivitas, dan perilaku impulsif) serta memiliki onset paling lambat pada usia 12 tahun. Sebaliknya, gejala mania pada gangguan bipolar I terjadi dalam episode-episode yang jelas dan biasanya dimulai pada akhir masa remaja atau awal masa dewasa.
Pada individu dengan iritabilitas yang berat, terutama anak-anak dan remaja, kehati-hatian diperlukan dalam menerapkan diagnosis gangguan bipolar I agar diagnosis tersebut hanya diberikan kepada mereka yang benar-benar pernah mengalami episode mania atau hipomania yang jelas, yaitu suatu periode waktu yang berbeda, dengan durasi yang memenuhi persyaratan, ketika iritabilitas secara nyata berbeda dari kondisi dasar individu dan disertai munculnya gejala khas mania lainnya (misalnya, grandiositas, berkurangnya kebutuhan tidur, pembicaraan yang terdesak, serta keterlibatan dalam aktivitas yang memiliki potensi tinggi menimbulkan konsekuensi merugikan). Ketika iritabilitas pada anak bersifat menetap dan sangat berat, diagnosis gangguan disregulasi suasana perasaan disruptif lebih tepat digunakan. Oleh karena itu, ketika seorang anak menjalani asesmen untuk mania, sangat penting untuk memastikan bahwa gejala-gejala tersebut menunjukkan perubahan yang jelas dari perilaku anak yang biasanya.
Gangguan kepribadian seperti gangguan kepribadian ambang (borderline personality disorder) dapat memiliki tumpang tindih gejala yang cukup besar dengan gangguan bipolar I, karena labilitas suasana perasaan dan impulsivitas umum ditemukan pada kedua kondisi tersebut. Untuk menegakkan diagnosis gangguan bipolar I, gejala labilitas suasana perasaan dan impulsivitas harus menunjukkan suatu episode gangguan yang jelas, atau harus terdapat peningkatan yang nyata pada gejala-gejala tersebut dibandingkan kondisi dasar individu agar diagnosis tambahan gangguan bipolar I dapat dibenarkan.
Gangguan mental yang terjadi secara bersamaan merupakan hal yang umum pada gangguan bipolar I, dengan sebagian besar individu memiliki riwayat tiga gangguan atau lebih. Gangguan yang paling sering menjadi komorbiditas adalah gangguan kecemasan, gangguan penggunaan alkohol, gangguan penggunaan zat lainnya, dan gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas. Faktor sosiokultural memengaruhi pola kondisi komorbid pada gangguan bipolar. Sebagai contoh, negara-negara dengan budaya yang melarang penggunaan alkohol atau zat lainnya mungkin memiliki prevalensi komorbiditas gangguan penggunaan zat yang lebih rendah. Gangguan bipolar I sering berkaitan dengan gangguan kepribadian ambang, skizotipal, dan antisosial. Secara khusus, meskipun sifat dasar hubungan antara gangguan bipolar I dan gangguan kepribadian ambang belum jelas, tingginya komorbiditas antara kedua gangguan tersebut mungkin mencerminkan kesamaan dalam fenomenologi (yaitu, kesalahan mendiagnosis kondisi emosional ekstrem pada gangguan kepribadian ambang sebagai gangguan bipolar I), pengaruh karakteristik kepribadian ambang terhadap kerentanan mengalami gangguan bipolar I, serta dampak pengalaman buruk pada masa kanak-kanak awal terhadap perkembangan gangguan bipolar I maupun gangguan kepribadian ambang.
Individu dengan gangguan bipolar I juga memiliki tingkat komorbiditas kondisi medis serius yang tinggi dan sering kali tidak mendapatkan pengobatan, yang sebagian besar menjelaskan lebih pendeknya angka harapan hidup pada individu dengan gangguan bipolar. Komorbiditas ditemukan pada berbagai sistem organ, dengan penyakit kardiovaskular dan autoimun, apnea tidur obstruktif, sindrom metabolik, serta migrain yang lebih umum ditemukan pada individu dengan gangguan bipolar dibandingkan populasi umum. Kelebihan berat badan atau obesitas yang menyertai merupakan perhatian khusus bagi individu dengan gangguan bipolar dan berkaitan dengan hasil pengobatan yang buruk.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.