Specifiers for Depressive Disorders
Distres kecemasan didefinisikan sebagai adanya setidaknya dua dari gejala berikut yang muncul pada sebagian besar hari selama episode depresi mayor saat ini (atau episode depresi mayor yang paling baru apabila gangguan depresi mayor saat ini berada dalam remisi parsial atau penuh) atau selama gangguan depresif persisten yang sedang berlangsung:
Merasa sangat tegang atau berada dalam keadaan siaga yang berlebihan.
Merasa gelisah secara tidak biasa.
Kesulitan berkonsentrasi karena kekhawatiran.
Ketakutan bahwa sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi.
Merasa bahwa individu mungkin akan kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Tentukan tingkat keparahan saat ini:
Ringan: Dua gejala.
Sedang: Tiga gejala.
Sedang–berat: Empat atau lima gejala.
Berat: Empat atau lima gejala disertai agitasi motorik.
Catatan: Distres kecemasan telah diketahui sebagai karakteristik yang menonjol baik pada gangguan bipolar maupun gangguan depresi mayor, dalam pelayanan kesehatan primer maupun pelayanan kesehatan mental khusus. Tingkat kecemasan yang tinggi telah dikaitkan dengan risiko bunuh diri yang lebih tinggi, durasi penyakit yang lebih panjang, dan kemungkinan yang lebih besar untuk tidak memberikan respons terhadap pengobatan. Oleh karena itu, penentuan secara akurat mengenai keberadaan dan tingkat keparahan distres kecemasan bermanfaat secara klinis untuk perencanaan pengobatan serta pemantauan respons terhadap pengobatan.
A. Setidaknya tiga dari gejala manik atau hipomanik berikut muncul pada sebagian besar hari selama episode depresi mayor saat ini (atau episode depresi mayor yang paling baru apabila gangguan depresi mayor saat ini berada dalam remisi parsial atau penuh):
Suasana perasaan yang meningkat atau ekspansif.
Peningkatan harga diri yang berlebihan atau grandiositas.
Lebih banyak berbicara daripada biasanya atau adanya dorongan untuk terus berbicara.
Lompatan gagasan atau pengalaman subjektif bahwa pikiran bergerak sangat cepat.
Peningkatan energi atau aktivitas yang berorientasi pada tujuan (baik dalam lingkungan sosial, pekerjaan atau sekolah, maupun aktivitas seksual).
Peningkatan atau keterlibatan yang berlebihan dalam aktivitas yang memiliki potensi tinggi menimbulkan konsekuensi yang merugikan (misalnya, berbelanja secara berlebihan tanpa kendali, perilaku seksual yang tidak bijaksana, atau investasi bisnis yang tidak dipertimbangkan dengan baik).
Berkurangnya kebutuhan tidur (merasa cukup beristirahat meskipun tidur lebih sedikit daripada biasanya; kondisi ini harus dibedakan dari insomnia).
B. Gejala campuran tersebut dapat diamati oleh orang lain dan menunjukkan perubahan dari perilaku individu yang biasanya.
C. Pada individu yang gejalanya memenuhi kriteria lengkap untuk mania atau hipomania, diagnosis yang harus ditegakkan adalah gangguan bipolar I atau gangguan bipolar II.
D. Gejala campuran tersebut tidak disebabkan oleh efek fisiologis suatu zat (misalnya, zat yang disalahgunakan, obat-obatan, atau pengobatan lainnya).
Catatan: Karakteristik campuran yang berkaitan dengan episode depresi mayor telah ditemukan sebagai faktor risiko yang bermakna terhadap perkembangan gangguan bipolar I atau gangguan bipolar II. Oleh karena itu, pencatatan keberadaan penanda ini bermanfaat secara klinis untuk perencanaan pengobatan dan pemantauan respons terhadap pengobatan.
A. Salah satu dari gejala berikut muncul selama periode paling berat dari episode depresi mayor saat ini (atau episode depresi mayor yang paling baru apabila gangguan depresi mayor saat ini berada dalam remisi parsial atau penuh):
Hilangnya kemampuan untuk merasakan kesenangan dalam semua atau hampir semua aktivitas.
Tidak adanya reaktivitas terhadap stimulus yang biasanya menyenangkan (individu tidak merasa jauh lebih baik, bahkan untuk sementara waktu, ketika sesuatu yang baik terjadi).
B. Tiga (atau lebih) dari gejala berikut:
Kualitas suasana perasaan depresif yang khas, ditandai oleh perasaan sangat terpuruk, putus asa, dan/atau kemurungan yang mendalam, atau yang disebut sebagai suasana perasaan hampa.
Depresi yang secara teratur menjadi lebih berat pada pagi hari.
Terbangun terlalu dini pada pagi hari (yaitu, setidaknya 2 jam lebih awal daripada waktu bangun biasanya).
Agitasi atau perlambatan psikomotor yang nyata.
Anoreksia atau penurunan berat badan yang bermakna.
Rasa bersalah yang berlebihan atau tidak sesuai.
Catatan: Penanda “dengan karakteristik melankolis” digunakan apabila karakteristik tersebut muncul pada tahap paling berat dari suatu episode. Terdapat hampir seluruhnya kehilangan kemampuan untuk merasakan kesenangan, bukan sekadar penurunan kemampuan tersebut. Salah satu pedoman untuk mengevaluasi tidak adanya reaktivitas suasana perasaan adalah bahwa bahkan peristiwa yang sangat diinginkan tidak berkaitan dengan perbaikan suasana perasaan yang nyata. Suasana perasaan mungkin tidak membaik sama sekali, atau hanya membaik sebagian (misalnya, hingga 20%–40% dari keadaan normal dan hanya berlangsung selama beberapa menit). “Kualitas khas” dari suasana perasaan yang menjadi karakteristik penanda “dengan karakteristik melankolis” dialami sebagai sesuatu yang berbeda secara kualitatif dibandingkan suasana perasaan selama episode depresif nonmelankolis. Suasana perasaan depresif yang hanya digambarkan sebagai lebih berat, berlangsung lebih lama, atau muncul tanpa alasan tidak dianggap memiliki kualitas yang khas. Perubahan psikomotor hampir selalu ditemukan dan dapat diamati oleh orang lain.
Karakteristik melankolis hanya menunjukkan kecenderungan yang relatif kecil untuk muncul kembali pada berbagai episode dalam individu yang sama. Karakteristik ini lebih sering ditemukan pada pasien rawat inap dibandingkan pasien rawat jalan; lebih jarang muncul pada episode depresi mayor yang ringan dibandingkan episode yang lebih berat; dan lebih mungkin ditemukan pada individu dengan gejala psikotik.
Penanda ini digunakan apabila karakteristik berikut mendominasi pada sebagian besar hari selama episode depresi mayor saat ini (atau episode depresi mayor yang paling baru apabila gangguan depresi mayor saat ini berada dalam remisi parsial atau penuh) atau selama gangguan depresif persisten yang sedang berlangsung.
A. Reaktivitas suasana perasaan (yaitu, suasana perasaan membaik sebagai respons terhadap peristiwa positif yang benar-benar terjadi atau berpotensi terjadi).
B. Dua (atau lebih) dari gejala berikut:
Peningkatan berat badan atau nafsu makan yang bermakna.
Hipersomnia.
Paralisis timbal (yaitu, perasaan berat seperti tertimpa timbal pada lengan atau tungkai).
Pola sensitivitas terhadap penolakan interpersonal yang telah berlangsung lama (tidak terbatas pada episode gangguan suasana perasaan) dan mengakibatkan gangguan keberfungsian sosial atau pekerjaan yang bermakna.
C. Kriteria untuk “dengan karakteristik melankolis” atau “dengan katatonia” tidak terpenuhi selama episode yang sama.
Catatan: Istilah “depresi atipikal” memiliki makna historis (yaitu, atipikal sebagai kebalikan dari gambaran depresi yang lebih klasik, ditandai oleh agitasi dan dianggap bersifat “endogen”, yang menjadi gambaran umum ketika depresi masih jarang didiagnosis pada pasien rawat jalan dan hampir tidak pernah didiagnosis pada remaja atau orang dewasa yang lebih muda). Saat ini, istilah tersebut tidak menunjukkan bahwa gambaran klinisnya jarang ditemukan atau tidak lazim, sebagaimana mungkin tersirat dari istilah tersebut.
Reaktivitas suasana perasaan merupakan kemampuan untuk merasa lebih gembira ketika mengalami peristiwa positif (misalnya, kunjungan dari anak-anak atau menerima pujian dari orang lain). Suasana perasaan dapat menjadi eutimik (tidak sedih), bahkan selama periode yang cukup panjang, apabila keadaan eksternal tetap menguntungkan. Peningkatan nafsu makan dapat ditunjukkan melalui peningkatan asupan makanan yang jelas atau peningkatan berat badan. Hipersomnia dapat berupa durasi tidur malam yang lebih panjang atau tidur pada siang hari, sehingga jumlah keseluruhan tidur mencapai setidaknya 10 jam per hari (atau setidaknya 2 jam lebih lama dibandingkan ketika tidak mengalami depresi). Paralisis timbal didefinisikan sebagai sensasi tubuh terasa berat, seperti tertimpa timbal atau terbebani, biasanya pada lengan atau tungkai. Sensasi ini umumnya muncul selama setidaknya satu jam sehari, tetapi sering kali berlangsung selama berjam-jam. Berbeda dari karakteristik atipikal lainnya, sensitivitas patologis terhadap penolakan interpersonal yang dirasakan merupakan suatu sifat yang memiliki onset dini dan menetap sepanjang sebagian besar masa dewasa. Sensitivitas terhadap penolakan muncul baik ketika individu mengalami depresi maupun ketika tidak mengalami depresi, meskipun dapat memburuk selama periode depresif.
Waham dan/atau halusinasi muncul pada waktu mana pun selama episode depresi mayor saat ini (atau episode depresi mayor yang paling baru apabila gangguan depresi mayor saat ini berada dalam remisi parsial atau penuh). Apabila terdapat gejala psikotik, tentukan apakah gejala tersebut selaras atau tidak selaras dengan suasana perasaan:
Dengan gejala psikotik yang selaras dengan suasana perasaan: Isi seluruh waham dan halusinasi sesuai dengan tema-tema depresif yang khas, yaitu ketidakmampuan atau kekurangan diri, rasa bersalah, penyakit, kematian, nihilisme, atau hukuman yang dianggap pantas diterima.
Dengan gejala psikotik yang tidak selaras dengan suasana perasaan: Isi waham atau halusinasi tidak melibatkan tema-tema depresif yang khas, seperti ketidakmampuan atau kekurangan diri, rasa bersalah, penyakit, kematian, nihilisme, atau hukuman yang dianggap pantas diterima, atau isinya merupakan campuran antara tema yang tidak selaras dan tema yang selaras dengan suasana perasaan.
Penanda ini digunakan untuk episode depresi mayor saat ini (atau episode depresi mayor yang paling baru apabila gangguan depresi mayor saat ini berada dalam remisi parsial atau penuh) apabila karakteristik katatonik muncul selama sebagian besar episode. Lihat kriteria katatonia yang berkaitan dengan gangguan mental dalam bab “Spektrum Skizofrenia dan Gangguan Psikotik Lainnya”.
Penanda ini digunakan untuk episode depresi mayor saat ini (atau episode depresi mayor yang paling baru apabila gangguan depresi mayor saat ini berada dalam remisi parsial atau penuh) apabila onset gejala suasana perasaan terjadi selama kehamilan atau dalam waktu 4 minggu setelah persalinan.
Catatan: Episode gangguan suasana perasaan dapat memiliki onset selama kehamilan maupun setelah persalinan. Sekitar 50% episode depresi mayor pascapersalinan dimulai sebelum persalinan. Oleh karena itu, episode-episode tersebut secara bersama-sama disebut sebagai episode peripartum.
Antara masa konsepsi dan persalinan, sekitar 9% perempuan akan mengalami episode depresi mayor. Estimasi terbaik mengenai prevalensi episode depresi mayor dalam periode sejak persalinan hingga 12 bulan pascapersalinan adalah sedikit di bawah 7%.
Episode gangguan suasana perasaan dengan onset peripartum dapat muncul dengan atau tanpa gejala psikotik. Pembunuhan bayi oleh orang tua (kejadian yang jarang terjadi) paling sering berkaitan dengan episode psikotik pascapersalinan yang ditandai oleh halusinasi perintah untuk membunuh bayi atau waham bahwa bayi dirasuki. Namun, gejala psikotik juga dapat muncul pada episode gangguan suasana perasaan pascapersalinan yang berat tanpa adanya waham atau halusinasi khusus tersebut.
Episode gangguan suasana perasaan pascapersalinan (depresi mayor atau manik) dengan gejala psikotik tampaknya terjadi pada sekitar 1 dari 500 hingga 1 dari 1.000 persalinan dan mungkin lebih umum ditemukan pada perempuan yang baru pertama kali melahirkan. Risiko episode pascapersalinan dengan gejala psikotik meningkat secara khusus pada perempuan yang sebelumnya pernah mengalami episode gangguan suasana perasaan psikotik pascapersalinan, tetapi risiko tersebut juga meningkat pada perempuan yang memiliki riwayat gangguan depresif atau gangguan bipolar sebelumnya (terutama gangguan bipolar I), serta perempuan dengan riwayat gangguan bipolar dalam keluarga.
Setelah seorang perempuan mengalami episode pascapersalinan dengan gejala psikotik, risiko kekambuhan pada setiap persalinan berikutnya berkisar antara 30% hingga 50%. Episode pascapersalinan harus dibedakan dari delirium yang terjadi selama periode pascapersalinan, yang ditandai oleh tingkat kesadaran atau perhatian yang berfluktuasi.
Gangguan depresif dengan onset peripartum harus dibedakan dari kondisi yang jauh lebih umum ditemukan, yaitu maternity blues, atau yang dalam istilah sehari-hari dikenal sebagai baby blues. Maternity blues tidak dianggap sebagai gangguan mental dan ditandai oleh perubahan suasana perasaan yang mendadak (misalnya, tiba-tiba mudah menangis tanpa adanya depresi), yang tidak menyebabkan gangguan keberfungsian dan kemungkinan disebabkan oleh perubahan fisiologis yang terjadi setelah persalinan. Kondisi ini bersifat sementara dan akan membaik dengan sendirinya, biasanya mengalami perbaikan dengan cepat (dalam waktu satu minggu) tanpa memerlukan pengobatan. Gejala lain dari maternity blues mencakup gangguan tidur dan bahkan kebingungan yang dapat terjadi tidak lama setelah persalinan.
Perempuan dalam periode perinatal mungkin memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami gangguan depresif akibat kelainan tiroid maupun kondisi medis lainnya yang dapat menyebabkan gejala depresif. Apabila gejala depresif dinilai disebabkan oleh kondisi medis lainnya yang berkaitan dengan periode perinatal, diagnosis gangguan depresif akibat kondisi medis lainnya harus ditegakkan sebagai pengganti diagnosis episode depresi mayor dengan onset peripartum.
Penanda ini berlaku untuk gangguan depresi mayor berulang.
Terdapat hubungan waktu yang teratur antara onset episode depresi mayor dalam gangguan depresi mayor dan waktu tertentu dalam satu tahun (misalnya, pada musim gugur atau musim dingin). Catatan: Jangan memasukkan kasus ketika terdapat pengaruh yang jelas dari stresor psikososial yang berkaitan dengan musim (misalnya, mengalami pengangguran secara rutin setiap musim dingin).
Remisi penuh juga terjadi pada waktu tertentu yang khas dalam satu tahun (misalnya, depresi menghilang pada musim semi).
Dalam 2 tahun terakhir, telah terjadi dua episode depresi mayor yang menunjukkan hubungan waktu musiman sebagaimana dijelaskan di atas, dan tidak terdapat episode depresi mayor yang tidak bersifat musiman selama periode yang sama.
Jumlah episode depresi mayor musiman (sebagaimana dijelaskan di atas) secara substansial lebih banyak dibandingkan episode depresi mayor yang tidak bersifat musiman yang mungkin pernah terjadi sepanjang kehidupan individu.
Catatan: Penanda “dengan pola musiman” dapat diterapkan pada pola episode depresi mayor dalam gangguan depresi mayor berulang. Karakteristik utamanya adalah onset dan remisi episode depresi mayor yang terjadi pada waktu-waktu tertentu yang khas dalam satu tahun. Dalam sebagian besar kasus, episode dimulai pada musim gugur atau musim dingin dan mengalami remisi pada musim semi. Lebih jarang ditemukan episode depresif berulang yang terjadi pada musim panas. Pola onset dan remisi episode tersebut harus terjadi selama periode setidaknya 2 tahun, tanpa adanya episode yang tidak bersifat musiman selama periode tersebut. Selain itu, jumlah episode depresif musiman harus secara substansial lebih banyak dibandingkan episode depresif yang tidak bersifat musiman sepanjang kehidupan individu. Penanda ini tidak berlaku untuk situasi ketika pola tersebut dapat dijelaskan secara lebih baik oleh stresor psikososial yang berkaitan dengan musim (misalnya, pengangguran musiman atau jadwal sekolah). Episode depresi mayor yang terjadi dengan pola musiman sering ditandai oleh kehilangan energi, hipersomnia, makan secara berlebihan, peningkatan berat badan, dan keinginan yang kuat untuk mengonsumsi karbohidrat.
Prevalensi pola musiman tipe musim dingin tampaknya bervariasi berdasarkan garis lintang, usia, dan jenis kelamin. Prevalensi meningkat pada wilayah dengan garis lintang yang lebih tinggi. Usia juga merupakan prediktor yang kuat terhadap pola musiman, dengan individu yang lebih muda memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami episode depresif pada musim dingin.
Dalam remisi parsial: Gejala dari episode depresi mayor yang paling baru sebelumnya masih muncul, tetapi kriteria lengkap tidak terpenuhi, atau terdapat periode kurang dari 2 bulan tanpa gejala bermakna dari episode depresi mayor setelah berakhirnya episode tersebut.
Dalam remisi penuh: Selama 2 bulan terakhir, tidak terdapat tanda atau gejala gangguan yang bermakna.
Tingkat keparahan didasarkan pada jumlah gejala yang memenuhi kriteria, tingkat keparahan gejala-gejala tersebut, dan derajat gangguan keberfungsian.
Ringan: Hanya terdapat sedikit gejala tambahan, atau bahkan tidak ada, di luar jumlah gejala yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis. Intensitas gejala menimbulkan distres tetapi masih dapat dikelola, dan gejala menyebabkan gangguan ringan dalam keberfungsian sosial atau pekerjaan.
Sedang: Jumlah gejala, intensitas gejala, dan/atau gangguan keberfungsian berada di antara tingkat yang ditentukan untuk kategori “ringan” dan “berat”.
Berat: Jumlah gejala secara substansial melebihi jumlah yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis, intensitas gejala menyebabkan distres yang sangat berat dan sulit dikendalikan, serta gejala sangat mengganggu keberfungsian sosial dan pekerjaan.
Dalam membedakan kedukaan dari episode depresi mayor, penting untuk mempertimbangkan bahwa pada kedukaan, afek yang dominan berupa perasaan hampa dan kehilangan, sedangkan pada episode depresi mayor, afek yang dominan berupa suasana perasaan depresif yang menetap dan ketidakmampuan untuk mengantisipasi kebahagiaan atau kesenangan. Disforia pada kedukaan cenderung berkurang intensitasnya dalam beberapa hari hingga minggu dan muncul secara bergelombang, yang dikenal sebagai gelombang rasa duka yang mendalam. Gelombang tersebut cenderung berkaitan dengan pikiran atau pengingat mengenai orang yang telah meninggal. Suasana perasaan depresif pada episode depresi mayor lebih menetap dan tidak berkaitan dengan pikiran atau perhatian tertentu. Rasa sakit emosional akibat kedukaan dapat disertai emosi positif dan humor, yang tidak menjadi karakteristik dari ketidakbahagiaan dan penderitaan yang menyeluruh sebagaimana ditemukan pada episode depresi mayor. Isi pikiran yang berkaitan dengan kedukaan umumnya ditandai oleh perhatian yang terus-menerus terhadap pikiran dan kenangan mengenai orang yang telah meninggal, bukan perenungan yang menyalahkan diri sendiri atau bersifat pesimistis sebagaimana ditemukan pada episode depresi mayor. Dalam kedukaan, harga diri umumnya tetap terjaga, sedangkan pada episode depresi mayor, perasaan tidak berharga dan kebencian terhadap diri sendiri merupakan hal yang umum ditemukan. Apabila terdapat pikiran yang merendahkan diri sendiri dalam kedukaan, pikiran tersebut biasanya berkaitan dengan kegagalan yang dirasakan individu dalam hubungannya dengan orang yang telah meninggal (misalnya, merasa tidak cukup sering mengunjungi orang tersebut atau tidak pernah mengungkapkan betapa besar rasa sayang terhadapnya). Apabila individu yang sedang berduka memikirkan kematian dan proses meninggal dunia, pikiran tersebut umumnya berfokus pada orang yang telah meninggal dan kemungkinan keinginan untuk “bergabung” dengan orang tersebut. Sebaliknya, pada episode depresi mayor, pikiran tersebut berfokus pada keinginan untuk mengakhiri kehidupan sendiri karena merasa tidak berharga, tidak layak untuk hidup, atau tidak mampu mengatasi penderitaan akibat depresi.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.