Depressive Disorder Due to Another Medical Condition
Gangguan suasana perasaan yang menonjol dan menetap, yang mendominasi gambaran klinis dan ditandai oleh suasana perasaan depresif atau penurunan minat maupun kesenangan yang sangat nyata terhadap semua atau hampir semua aktivitas.
Terdapat bukti berdasarkan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium bahwa gangguan tersebut merupakan konsekuensi patofisiologis langsung dari kondisi medis lainnya.
Gangguan tersebut tidak dapat dijelaskan secara lebih baik oleh gangguan mental lainnya (misalnya, gangguan penyesuaian dengan suasana perasaan depresif, ketika stresor yang mendasarinya adalah suatu kondisi medis yang serius).
Gangguan tersebut tidak terjadi secara eksklusif selama berlangsungnya delirium.
Gangguan tersebut menyebabkan distres yang bermakna secara klinis atau gangguan keberfungsian dalam bidang sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya.
Catatan pengodean: Kode ICD-10-CM bergantung pada penanda diagnostik yang digunakan (lihat di bawah).
F06.31 — Dengan karakteristik depresif: Kriteria lengkap untuk episode depresi mayor tidak terpenuhi.
F06.32 — Dengan episode yang menyerupai depresi mayor: Kriteria lengkap untuk episode depresi mayor terpenuhi, kecuali Kriteria C.
F06.34 — Dengan karakteristik campuran: Gejala mania atau hipomania juga muncul, tetapi tidak mendominasi gambaran klinis.
Catatan pengodean: Cantumkan nama kondisi medis lainnya dalam nama gangguan mental (misalnya, F06.31 gangguan depresif akibat hipotiroidisme, dengan karakteristik depresif). Kondisi medis lainnya juga harus diberi kode dan dicatat secara terpisah, tepat sebelum gangguan depresif akibat kondisi medis tersebut (misalnya, E03.9 hipotiroidisme; F06.31 gangguan depresif akibat hipotiroidisme, dengan karakteristik depresif).
Karakteristik utama gangguan depresif akibat kondisi medis lainnya adalah periode suasana perasaan depresif yang menonjol dan menetap, atau penurunan minat maupun kesenangan yang sangat nyata terhadap semua atau hampir semua aktivitas, yang mendominasi gambaran klinis (Kriteria A) dan diduga disebabkan oleh efek fisiologis dari kondisi medis lainnya (Kriteria B). Dalam menentukan apakah gangguan suasana perasaan disebabkan oleh kondisi medis lainnya, klinisi terlebih dahulu harus memastikan keberadaan kondisi medis tersebut. Selanjutnya, klinisi harus memastikan bahwa gangguan suasana perasaan memiliki hubungan etiologis dengan kondisi medis lainnya melalui suatu mekanisme fisiologis. Penilaian yang cermat dan menyeluruh terhadap berbagai faktor diperlukan untuk membuat pertimbangan tersebut. Meskipun tidak terdapat pedoman yang sepenuhnya dapat diandalkan untuk menentukan apakah hubungan antara gangguan suasana perasaan dan kondisi medis lainnya bersifat etiologis, terdapat beberapa pertimbangan yang dapat memberikan arahan dalam hal ini. Pertimbangan pertama adalah adanya hubungan waktu antara onset, perburukan, atau remisi suatu kondisi medis dengan onset, perburukan, atau remisi gangguan suasana perasaan. Pertimbangan kedua adalah keberadaan karakteristik yang tidak lazim pada gangguan depresif yang berdiri sendiri (misalnya, usia onset atau perjalanan gangguan yang tidak lazim, atau tidak adanya riwayat keluarga). Bukti dari literatur yang menunjukkan kemungkinan adanya hubungan langsung antara kondisi medis tertentu dan perkembangan gejala suasana perasaan dapat memberikan konteks yang bermanfaat dalam menilai suatu keadaan tertentu.
Etiologi (yaitu, hubungan sebab-akibat dengan kondisi medis lainnya berdasarkan bukti klinis terbaik yang tersedia) merupakan variabel utama dalam gangguan depresif akibat kondisi medis lainnya. Daftar kondisi medis yang disebutkan dapat menyebabkan depresi mayor tidak pernah sepenuhnya lengkap, sehingga pertimbangan klinis terbaik dari klinisi merupakan inti dalam penegakan diagnosis ini.
Terdapat hubungan yang jelas, serta beberapa korelasi neuroanatomis, antara depresi dan kecelakaan serebrovaskular (CVA), penyakit Huntington, penyakit Parkinson, serta cedera otak traumatis (TBI). Di antara kondisi neuroendokrin, kondisi yang paling erat berkaitan dengan depresi adalah sindrom Cushing dan hipotiroidisme. Gangguan autoimun, seperti lupus eritematosus sistemik, serta kekurangan vitamin tertentu, seperti vitamin B12, juga telah dikaitkan dengan depresi. Terdapat banyak kondisi lain yang diduga berkaitan dengan depresi, seperti sklerosis multipel. Namun, dukungan literatur terhadap adanya hubungan sebab-akibat lebih kuat pada beberapa kondisi dibandingkan kondisi lainnya. Saat ini, terdapat bukti yang mendukung adanya mekanisme patofisiologis langsung terhadap gejala depresif pada lesi fokal (CVA, TBI, dan neoplasma) yang memengaruhi wilayah otak tertentu, penyakit Parkinson, penyakit Huntington, hipotiroidisme, sindrom Cushing, dan kanker pankreas.
Perbedaan prevalensi berdasarkan jenis kelamin sampai batas tertentu bergantung pada perbedaan jenis kelamin yang berkaitan dengan kondisi medis tersebut (misalnya, lupus eritematosus sistemik lebih umum ditemukan pada perempuan; sedangkan stroke sedikit lebih umum ditemukan pada laki-laki usia paruh baya dibandingkan perempuan).
Setelah mengalami stroke, onset depresi tampaknya bersifat akut, yaitu terjadi dalam beberapa hari setelah kecelakaan serebrovaskular (CVA), sebagaimana ditemukan dalam rangkaian kasus terbesar. Namun, dalam beberapa kasus, onset depresi terjadi beberapa minggu hingga beberapa bulan setelah CVA. Dalam rangkaian kasus terbesar, durasi episode depresi mayor setelah stroke rata-rata berlangsung selama 9–11 bulan. Pada penyakit Parkinson dan penyakit Huntington, depresi sering kali mendahului gangguan motorik utama dan gangguan kognitif yang berkaitan dengan masing-masing kondisi tersebut. Keadaan ini lebih menonjol pada penyakit Huntington, ketika depresi dianggap sebagai gejala neuropsikiatris pertama. Terdapat sejumlah bukti observasional yang menunjukkan bahwa depresi menjadi lebih jarang ditemukan seiring berkembangnya gangguan neurokognitif akibat penyakit Huntington. Pada sebagian individu dengan cedera otak yang bersifat menetap dan penyakit sistem saraf pusat lainnya, gejala suasana perasaan dapat bersifat episodik (yaitu, berulang) selama perjalanan gangguan. Pada sindrom Cushing dan hipotiroidisme, depresi dapat menjadi manifestasi awal penyakit. Pada kanker pankreas, depresi sering kali mendahului munculnya karakteristik penyakit lainnya.
Risiko onset akut gangguan depresi mayor setelah kecelakaan serebrovaskular (CVA), yaitu dalam waktu 1 hari hingga 1 minggu setelah kejadian, tampaknya memiliki hubungan yang kuat dengan lokasi lesi. Risiko tertinggi berkaitan dengan stroke pada daerah frontal kiri, sedangkan risiko terendah tampaknya berkaitan dengan lesi frontal kanan pada individu yang menunjukkan gejala dalam beberapa hari setelah stroke. Hubungan dengan wilayah frontal dan lateralisasi tersebut tidak ditemukan pada keadaan depresif yang terjadi dalam periode 2–6 bulan setelah stroke, yang mungkin menunjukkan bahwa gejala depresif yang muncul kemudian lebih mencerminkan gangguan depresi mayor, gangguan penyesuaian, atau demoralisasi. Pada individu dengan penyakit Parkinson, usia onset yang lebih dini, beban gejala motorik yang lebih besar, dan durasi penyakit yang lebih panjang telah dikaitkan dengan depresi. Risiko depresi setelah cedera otak traumatis (TBI) telah dikaitkan dengan jenis kelamin perempuan, riwayat gangguan depresif sebelumnya, gejala psikiatris yang muncul pada tahap awal setelah cedera, volume otak yang lebih rendah, dan pengangguran.
Perempuan mungkin memiliki risiko yang secara relatif lebih tinggi untuk mengalami depresi dalam konteks penyakit kardiovaskular, terutama setelah stroke.
Penanda diagnostik berkaitan dengan penanda yang berhubungan dengan kondisi medis yang mendasarinya (misalnya, kadar steroid dalam darah atau urine untuk membantu memperkuat diagnosis penyakit Cushing, yang dapat berkaitan dengan sindrom manik atau depresif).
Belum terdapat penelitian epidemiologis yang memberikan bukti untuk membedakan risiko bunuh diri akibat episode depresi mayor yang disebabkan oleh kondisi medis lainnya dengan risiko bunuh diri akibat episode depresi mayor secara umum. Terdapat laporan kasus bunuh diri yang berkaitan dengan episode depresi mayor yang menyertai kondisi medis lainnya. Terdapat hubungan yang jelas antara penyakit medis yang serius dan bunuh diri, terutama tidak lama setelah onset atau diagnosis penyakit tersebut. Oleh karena itu, merupakan langkah yang bijaksana untuk menganggap bahwa risiko bunuh diri pada episode depresi mayor yang berkaitan dengan kondisi medis tidak lebih rendah dibandingkan risiko pada bentuk episode depresi mayor lainnya, dan bahkan mungkin lebih tinggi.
Penentuan apakah suatu kondisi medis yang menyertai gangguan depresif merupakan penyebab gangguan tersebut bergantung pada: (a) tidak adanya episode depresif sebelum onset kondisi medis; (b) kemungkinan bahwa kondisi medis yang berkaitan memiliki potensi untuk memicu atau menyebabkan gangguan depresif; dan (c) perjalanan gejala depresif yang muncul tidak lama setelah onset atau perburukan kondisi medis, terutama apabila gejala depresif mengalami remisi sekitar waktu ketika kondisi medis tersebut berhasil diobati secara efektif atau mengalami remisi.
Hal penting yang perlu diperhatikan adalah bahwa beberapa kondisi medis diobati menggunakan obat-obatan (misalnya, steroid atau alfa-interferon) yang dapat menimbulkan gejala depresif atau manik. Dalam kasus tersebut, pertimbangan klinis berdasarkan seluruh bukti yang tersedia merupakan cara terbaik untuk membedakan faktor yang paling mungkin dan/atau paling penting di antara dua faktor etiologis, yaitu hubungan dengan kondisi medis dibandingkan dengan sindrom yang diinduksi zat.
Diagnosis terpisah berupa gangguan depresif akibat kondisi medis lainnya tidak diberikan apabila gangguan depresif hanya terjadi selama berlangsungnya delirium. Namun, diagnosis gangguan depresif akibat kondisi medis lainnya dapat diberikan sebagai tambahan terhadap diagnosis gangguan neurokognitif mayor atau ringan apabila gangguan depresif dinilai sebagai konsekuensi fisiologis dari proses patologis yang menyebabkan gangguan neurokognitif tersebut dan apabila gejala depresi merupakan bagian yang menonjol dalam gambaran klinis.
Penting untuk membedakan episode depresif dari gangguan penyesuaian karena onset suatu kondisi medis dengan sendirinya merupakan stresor kehidupan yang dapat memicu gangguan penyesuaian maupun episode depresi mayor. Unsur pembeda utama adalah sejauh mana gambaran depresif memengaruhi berbagai aspek kondisi individu, serta jumlah dan kualitas gejala depresif yang dilaporkan individu atau ditunjukkan selama pemeriksaan status mental. Diagnosis banding terhadap kondisi medis yang menyertai juga relevan, tetapi sebagian besar berada di luar cakupan pembahasan buku pedoman ini.
Demoralisasi merupakan respons yang umum terhadap penyakit medis kronis. Kondisi ini ditandai oleh perasaan subjektif tidak kompeten, tidak berdaya, putus asa, dan keinginan untuk menyerah. Demoralisasi sering disertai gejala depresif, seperti suasana perasaan yang rendah dan kelelahan. Demoralisasi biasanya tidak disertai anhedonia yang berkaitan dengan gangguan depresif akibat kondisi medis lainnya, sehingga individu umumnya masih dapat merasakan kesenangan dalam aktivitas yang sebelumnya bermakna dan tetap mampu mengalami saat-saat kebahagiaan.
Kondisi yang muncul sebagai komorbid dengan gangguan depresif akibat kondisi medis lainnya adalah kondisi-kondisi yang berkaitan dengan penyakit medis yang memiliki hubungan etiologis. Telah diketahui bahwa delirium dapat terjadi sebelum atau bersamaan dengan gejala depresif pada individu dengan berbagai kondisi medis, seperti penyakit Cushing. Keberadaan gejala kecemasan yang menyertai, biasanya berupa gejala kecemasan menyeluruh, merupakan hal yang umum ditemukan pada gangguan depresif, terlepas dari penyebabnya.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.