F93.0 5_01

Gangguan Kecemasan Perpisahan

Separation Anxiety Disorder

DSM-5-TR 1x dibaca

Kriteria Diagnostik

  1. Ketakutan atau kecemasan yang berlebihan dan tidak sesuai dengan tingkat perkembangan individu terkait perpisahan dari orang-orang yang memiliki hubungan kelekatan dengannya, sebagaimana ditunjukkan oleh setidaknya tiga dari gejala berikut: (1) Distres berlebihan yang berulang ketika mengantisipasi atau mengalami perpisahan dari rumah atau dari figur kelekatan utama. (2) Kekhawatiran yang menetap dan berlebihan mengenai kemungkinan kehilangan figur kelekatan utama atau kemungkinan terjadinya sesuatu yang membahayakan mereka, seperti penyakit, cedera, bencana, atau kematian. (3) Kekhawatiran yang menetap dan berlebihan mengenai kemungkinan mengalami peristiwa yang tidak diinginkan (misalnya, tersesat, diculik, mengalami kecelakaan, atau jatuh sakit) yang menyebabkan perpisahan dari figur kelekatan utama. (4) Keengganan atau penolakan yang menetap untuk pergi keluar, meninggalkan rumah, pergi ke sekolah, tempat kerja, atau tempat lainnya karena takut berpisah. (5) Ketakutan atau keengganan yang menetap dan berlebihan untuk berada sendirian atau tanpa kehadiran figur kelekatan utama di rumah maupun di lingkungan lainnya. (6) Keengganan atau penolakan yang menetap untuk tidur jauh dari rumah atau tidur tanpa berada di dekat figur kelekatan utama. (7) Mimpi buruk berulang yang melibatkan tema perpisahan. (8) Keluhan gejala fisik yang berulang (misalnya, sakit kepala, sakit perut, mual, atau muntah) ketika perpisahan dari figur kelekatan utama terjadi atau diantisipasi.
  2. Ketakutan, kecemasan, atau perilaku menghindar tersebut bersifat menetap, berlangsung selama setidaknya 4 minggu pada anak-anak dan remaja, serta biasanya selama 6 bulan atau lebih pada orang dewasa.
  3. Gangguan tersebut menyebabkan distres yang bermakna secara klinis atau gangguan keberfungsian dalam bidang sosial, akademik, pekerjaan, atau bidang penting lainnya.
  4. Gangguan tersebut tidak dapat dijelaskan secara lebih baik oleh gangguan mental lainnya, seperti penolakan untuk meninggalkan rumah akibat resistensi yang berlebihan terhadap perubahan pada gangguan spektrum autisme; waham atau halusinasi mengenai perpisahan pada gangguan psikotik; penolakan untuk pergi ke luar rumah tanpa didampingi seseorang yang dipercaya pada agorafobia; kekhawatiran mengenai kesehatan yang buruk atau bahaya lain yang mungkin menimpa orang-orang terdekat pada gangguan kecemasan menyeluruh; atau kekhawatiran mengenai kemungkinan memiliki suatu penyakit pada gangguan kecemasan penyakit.

Karakteristik Diagnostik

Karakteristik utama gangguan kecemasan perpisahan adalah ketakutan atau kecemasan yang berlebihan terkait perpisahan dari rumah atau figur kelekatan. Kecemasan tersebut melebihi apa yang dapat diharapkan berdasarkan tingkat perkembangan individu (Kriteria A). Individu dengan gangguan kecemasan perpisahan memiliki gejala yang memenuhi setidaknya tiga dari kriteria berikut: Mereka mengalami distres berlebihan yang berulang ketika perpisahan dari rumah atau figur kelekatan utama diantisipasi atau benar-benar terjadi (Kriteria A1). Mereka mengkhawatirkan kesejahteraan atau kematian figur kelekatan, terutama ketika terpisah dari mereka, serta merasa perlu mengetahui keberadaan figur kelekatan tersebut dan ingin tetap berkomunikasi dengan mereka (Kriteria A2). Mereka juga mengkhawatirkan peristiwa yang tidak diinginkan yang mungkin menimpa diri sendiri, seperti tersesat, diculik, atau mengalami kecelakaan, yang dapat menyebabkan mereka tidak pernah dapat bertemu kembali dengan figur kelekatan utama (Kriteria A3). Individu dengan gangguan kecemasan perpisahan enggan atau menolak pergi keluar sendirian karena takut berpisah (Kriteria A4). Mereka memiliki ketakutan atau keengganan yang menetap dan berlebihan untuk berada sendirian atau tanpa figur kelekatan utama di rumah maupun di lingkungan lainnya. Anak-anak dengan gangguan kecemasan perpisahan mungkin tidak mampu berada atau masuk ke suatu ruangan sendirian dan dapat menunjukkan perilaku terus-menerus melekat, seperti tetap berada di dekat orang tua atau mengikuti orang tua ke mana pun di dalam rumah, atau mengharuskan seseorang menemani mereka ketika berpindah ke ruangan lain di rumah (Kriteria A5). Mereka menunjukkan keengganan atau penolakan yang menetap untuk tidur tanpa berada di dekat figur kelekatan utama atau untuk tidur jauh dari rumah (Kriteria A6). Anak-anak dengan gangguan ini sering mengalami kesulitan ketika waktu tidur tiba dan mungkin bersikeras agar seseorang tetap menemani mereka sampai tertidur. Pada malam hari, mereka mungkin berpindah ke tempat tidur orang tua (atau orang penting lainnya, seperti saudara kandung). Anak-anak mungkin enggan atau menolak mengikuti kegiatan berkemah, menginap di rumah teman, atau pergi untuk melakukan keperluan tertentu. Orang dewasa mungkin merasa tidak nyaman ketika bepergian secara mandiri (misalnya, tidur di kamar hotel yang jauh dari rumah atau figur kelekatan). Mimpi buruk berulang dapat terjadi dengan isi mimpi yang mencerminkan kecemasan individu terhadap perpisahan (misalnya, kehancuran keluarga akibat kebakaran, pembunuhan, atau bencana lainnya) (Kriteria A7). Gejala fisik (misalnya, sakit kepala, keluhan pada perut, mual, atau muntah) umum ditemukan pada anak-anak ketika perpisahan dari figur kelekatan utama terjadi atau diantisipasi (Kriteria A8). Gejala kardiovaskular seperti palpitasi, pusing, dan perasaan hampir pingsan jarang terjadi pada anak-anak yang lebih muda, tetapi dapat muncul pada remaja dan orang dewasa.

Gangguan tersebut harus berlangsung selama setidaknya 4 minggu pada anak-anak dan remaja yang berusia di bawah 18 tahun, dan biasanya selama 6 bulan atau lebih pada orang dewasa (Kriteria B). Namun, kriteria durasi untuk orang dewasa sebaiknya digunakan sebagai pedoman umum dengan memberikan ruang untuk tingkat fleksibilitas tertentu. Gangguan tersebut harus menyebabkan distres yang bermakna secara klinis atau gangguan keberfungsian dalam bidang sosial, akademik, pekerjaan, atau bidang penting lainnya (Kriteria C).

Karakteristik Penyerta

Ketika terpisah dari figur kelekatan utama, anak-anak dan orang dewasa dengan gangguan kecemasan perpisahan dapat menunjukkan penarikan diri dari lingkungan sosial, apati, kesedihan, atau kesulitan berkonsentrasi pada pekerjaan maupun permainan. Bergantung pada usia mereka, individu dapat memiliki ketakutan terhadap hewan, monster, kegelapan, perampok jalanan, pencuri yang membobol rumah, penculik, kecelakaan mobil, perjalanan menggunakan pesawat, dan situasi lainnya yang dianggap membahayakan keluarga atau diri mereka sendiri. Sebagian individu mengalami kerinduan terhadap rumah dan merasa sangat tidak nyaman ketika berada jauh dari rumah. Gangguan kecemasan perpisahan pada anak-anak dapat menyebabkan penolakan untuk bersekolah, yang selanjutnya dapat menimbulkan kesulitan akademik dan isolasi sosial. Ketika merasa sangat tertekan menghadapi kemungkinan perpisahan, anak-anak dapat menunjukkan kemarahan atau terkadang agresi terhadap seseorang yang memaksa mereka untuk berpisah. Ketika sendirian, terutama pada malam hari atau dalam kegelapan, anak-anak yang lebih muda mungkin melaporkan pengalaman perseptual yang tidak biasa (misalnya, melihat orang mengintip ke dalam kamar mereka, makhluk menakutkan yang berusaha meraih mereka, atau merasa ada mata yang menatap mereka). Anak-anak dengan gangguan ini dapat digambarkan sebagai individu yang banyak menuntut, cenderung mencampuri, dan membutuhkan perhatian terus-menerus, serta ketika dewasa dapat tampak bergantung pada orang lain dan menjadi orang tua yang terlalu protektif. Orang dewasa dengan gangguan ini cenderung mengirim pesan atau menelepon figur kelekatan utama sepanjang hari dan berulang kali memeriksa keberadaan mereka. Tuntutan individu yang berlebihan sering menjadi sumber frustrasi bagi anggota keluarga, sehingga menimbulkan perasaan kesal dan konflik dalam keluarga.

Prevalensi

Prevalensi gangguan kecemasan perpisahan selama periode 6–12 bulan pada anak-anak diperkirakan sekitar 4%. Dalam sampel komunitas anak usia dini, gangguan kecemasan perpisahan tampaknya ditemukan dalam proporsi yang sama pada anak perempuan dan laki-laki; namun, anak perempuan usia sekolah tampaknya memiliki angka prevalensi yang lebih tinggi dibandingkan anak laki-laki usia sekolah. Pada remaja di Amerika Serikat, prevalensi selama 12 bulan adalah 1,6%. Prevalensi gangguan kecemasan perpisahan menurun dari masa kanak-kanak menuju masa remaja dan dewasa. Dalam sampel klinis anak-anak, gangguan ini sama umumnya ditemukan pada anak laki-laki dan perempuan, berbeda dengan sampel komunitas yang menunjukkan bahwa gangguan ini lebih sering ditemukan pada anak perempuan. Laporan dari anak-anak cenderung menghasilkan angka gangguan kecemasan perpisahan yang lebih tinggi dibandingkan laporan orang tua mengenai gejala yang dialami anak.

Pada orang dewasa, prevalensi gangguan kecemasan perpisahan selama 12 bulan di Amerika Serikat berkisar antara 0,9% hingga 1,9%. Di antara orang dewasa dengan gangguan kecemasan perpisahan, perempuan cenderung memiliki angka prevalensi yang lebih tinggi, baik dalam penelitian klinis maupun komunitas. Di 18 negara, rata-rata prevalensi selama 12 bulan pada orang dewasa adalah 1,0%, dengan rentang kurang dari 0,1% hingga 2,7% (misalnya, 0,3% di Rumania dan 2,7% di Kolombia). Prevalensi yang lebih tinggi ditemukan pada perempuan dibandingkan laki-laki dalam keseluruhan sampel tersebut (1,3% dibandingkan 0,8%).

Perkembangan dan Perjalanan Gangguan

Periode meningkatnya kecemasan akibat perpisahan dari figur kelekatan merupakan bagian dari perkembangan awal yang normal dan dapat menunjukkan berkembangnya hubungan kelekatan yang aman (misalnya, sekitar usia 1 tahun, ketika bayi mungkin mengalami kecemasan terhadap orang asing). Onset gangguan kecemasan perpisahan dapat terjadi sejak usia prasekolah dan dapat muncul kapan saja selama masa kanak-kanak maupun remaja. Di 18 negara, median usia onset yang dilaporkan oleh orang dewasa (berusia 18 tahun atau lebih) dengan gangguan ini berada pada akhir masa remaja di negara-negara berpendapatan tinggi dan menengah atas, serta pada pertengahan usia 20-an di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah bawah. Sebagian besar orang dewasa melaporkan perjalanan gangguan yang berfluktuasi sepanjang hidup mereka, dan mereka mungkin melaporkan adanya beberapa gejala pada masa kanak-kanak.

Biasanya terdapat periode perburukan dan remisi. Dalam beberapa kasus, baik kecemasan mengenai kemungkinan perpisahan maupun penghindaran terhadap situasi yang melibatkan perpisahan dari rumah atau keluarga inti (misalnya, pergi kuliah jauh dari rumah atau pindah jauh dari figur kelekatan) dapat menetap hingga masa dewasa. Namun, sebagian besar anak-anak dengan gangguan kecemasan perpisahan tidak mengalami gangguan kecemasan yang menghambat keberfungsian sepanjang kehidupan mereka.

Manifestasi gangguan kecemasan perpisahan bervariasi menurut usia. Anak-anak yang lebih muda cenderung lebih enggan pergi ke sekolah atau mungkin menghindari sekolah sepenuhnya. Anak-anak yang lebih muda mungkin tidak mengungkapkan kekhawatiran atau ketakutan khusus mengenai ancaman tertentu terhadap orang tua, rumah, atau diri mereka sendiri, dan kecemasan hanya tampak ketika perpisahan benar-benar terjadi. Seiring bertambahnya usia anak, kekhawatiran mulai muncul; kekhawatiran ini sering berkaitan dengan bahaya tertentu (misalnya, kecelakaan, penculikan, perampokan, atau kematian) atau kekhawatiran yang tidak jelas mengenai kemungkinan tidak dapat bertemu kembali dengan figur kelekatan. Pada orang dewasa, gangguan kecemasan perpisahan dapat membatasi kemampuan mereka untuk menghadapi perubahan keadaan (misalnya, pindah tempat tinggal atau menikah). Orang dewasa dengan gangguan ini biasanya memiliki kekhawatiran yang berlebihan terhadap anak-anak, pasangan, orang tua, dan hewan peliharaan mereka, serta mengalami ketidaknyamanan yang nyata ketika terpisah dari mereka. Mereka juga dapat mengalami gangguan yang bermakna dalam pekerjaan atau aktivitas sosial karena kebutuhan untuk terus-menerus memeriksa keberadaan orang-orang yang penting bagi mereka.

Faktor Risiko dan Prognostik

Faktor Lingkungan

Gangguan kecemasan perpisahan sering berkembang setelah individu mengalami stres kehidupan, terutama kehilangan (misalnya, kematian anggota keluarga atau hewan peliharaan; penyakit yang dialami individu atau anggota keluarga; perpindahan sekolah; perceraian orang tua; pindah ke lingkungan tempat tinggal yang baru; imigrasi; atau bencana yang melibatkan periode perpisahan dari figur kelekatan). Pengalaman menjadi korban perundungan pada masa kanak-kanak telah terbukti menjadi faktor risiko berkembangnya gangguan kecemasan perpisahan. Pada orang dewasa muda, contoh stres kehidupan lainnya mencakup meninggalkan rumah orang tua, memulai hubungan romantis, dan menjadi orang tua. Riwayat perilaku orang tua yang terlalu protektif dan terlalu mencampuri kehidupan anak dapat berkaitan dengan gangguan kecemasan perpisahan, baik pada masa kanak-kanak maupun masa dewasa.

Faktor Genetik dan Fisiologis

Terdapat bukti bahwa gangguan kecemasan perpisahan mungkin memiliki komponen yang dapat diwariskan secara genetik. Heritabilitas diperkirakan sebesar 73% dalam sampel komunitas anak kembar berusia 6 tahun, dengan angka yang lebih tinggi ditemukan pada anak perempuan. Anak-anak dengan gangguan kecemasan perpisahan menunjukkan sensitivitas yang sangat meningkat terhadap stimulasi pernapasan menggunakan udara yang diperkaya CO?. Gangguan kecemasan perpisahan juga tampaknya cenderung ditemukan dalam keluarga yang sama.

Isu Diagnostik Terkait Budaya

Terdapat variasi budaya dalam sejauh mana kemampuan menoleransi perpisahan dianggap sebagai sesuatu yang diharapkan, sehingga tuntutan dan kesempatan untuk terjadinya perpisahan antara orang tua dan anak dihindari dalam beberapa konteks budaya. Sebagai contoh, terdapat variasi yang luas antarnegara dan konteks budaya mengenai usia ketika anak diharapkan meninggalkan rumah orang tua. Remaja menunjukkan variasi dalam laporan diri mereka mengenai gejala kecemasan perpisahan; misalnya, remaja Taiwan melaporkan gejala kecemasan perpisahan yang lebih tinggi dibandingkan remaja Amerika Serikat. Penting untuk membedakan gangguan kecemasan perpisahan dari tingginya nilai yang diberikan oleh beberapa komunitas budaya terhadap hubungan saling ketergantungan yang kuat di antara anggota keluarga.

Hubungan dengan Pikiran atau Perilaku Bunuh Diri

Gangguan kecemasan perpisahan pada anak-anak dan remaja mungkin berkaitan dengan peningkatan risiko bunuh diri, meskipun hubungan ini tidak khusus ditemukan pada gangguan kecemasan perpisahan dan juga terdapat pada gangguan kecemasan lainnya yang memiliki komorbiditas bermakna. Sebuah penelitian berskala besar pada anak kembar menunjukkan bahwa pengalaman menjadi korban perundungan pada masa kanak-kanak merupakan faktor risiko munculnya pikiran bunuh diri pada masa dewasa muda.

Konsekuensi Fungsional Gangguan Kecemasan Perpisahan

Individu dengan gangguan kecemasan perpisahan sering membatasi aktivitas mandiri yang dilakukan jauh dari rumah atau figur kelekatan (misalnya, pada anak-anak, menghindari sekolah, tidak mengikuti kegiatan berkemah, atau mengalami kesulitan tidur sendirian; pada remaja, tidak bersedia melanjutkan pendidikan tinggi jauh dari rumah; pada orang dewasa, tidak meninggalkan rumah orang tua, tidak bepergian jauh tanpa orang-orang yang memiliki hubungan kelekatan erat dengan mereka, atau tidak bekerja di luar rumah). Gejala pada orang dewasa sering kali sangat menghambat dan memengaruhi berbagai bidang kehidupan mereka. Sebagai contoh, orang dewasa dengan gangguan kecemasan perpisahan mungkin secara sengaja mengatur ulang jadwal kerja dan aktivitas lainnya karena kecemasan mengenai kemungkinan berpisah dari figur kelekatan yang dekat; mereka mungkin sering mengungkapkan frustrasi terhadap keterbatasan dalam kehidupan mereka akibat kebutuhan untuk tetap berada dekat dengan, atau setidaknya mempertahankan kontak secara virtual dengan, figur kelekatan utama (misalnya, dengan mengirim pesan atau menelepon mereka berulang kali sepanjang hari). Gangguan kecemasan perpisahan berkaitan dengan tingkat gangguan keberfungsian yang dilaporkan lebih besar pada individu dari negara-negara berpendapatan tinggi dan menengah atas dibandingkan individu dari negara-negara berpendapatan rendah dan menengah bawah.

Diagnosis Banding

Gangguan Kecemasan Menyeluruh

Gangguan kecemasan perpisahan dibedakan dari gangguan kecemasan menyeluruh berdasarkan kenyataan bahwa kecemasan pada gangguan kecemasan perpisahan terutama berkaitan dengan perpisahan yang nyata atau dibayangkan dari figur kelekatan. Selain itu, apabila terdapat kekhawatiran lainnya, kekhawatiran tersebut tidak bersifat berlebihan.

Gangguan Panik

Pada gangguan kecemasan perpisahan, ancaman perpisahan dari figur kelekatan yang dekat dapat menyebabkan kecemasan yang sangat berat dan serangan panik. Berbeda dengan gangguan panik, ketika serangan panik terjadi secara tidak terduga dan biasanya disertai ketakutan akan kematian atau menjadi “gila”, serangan panik pada gangguan kecemasan perpisahan terjadi ketika individu mengantisipasi perpisahan yang nyata atau dibayangkan dari figur kelekatan maupun tempat yang memberikan rasa aman dan terlindungi, atau ketika individu mengkhawatirkan bahwa peristiwa yang tidak diinginkan akan menimpa orang-orang yang memiliki hubungan kelekatan erat dengannya.

Agorafobia

Berbeda dengan individu yang mengalami agorafobia, individu dengan gangguan kecemasan perpisahan tidak merasa cemas karena takut terjebak atau tidak berdaya dalam situasi yang dianggap sulit untuk melarikan diri apabila muncul gejala menyerupai panik atau gejala lain yang menyebabkan ketidakmampuan. Sebaliknya, mereka takut berada jauh dari tempat-tempat aman yang berkaitan dengan figur kelekatan utama mereka.

Gangguan Perilaku

Penghindaran sekolah atau membolos merupakan hal yang umum ditemukan pada gangguan perilaku, tetapi kecemasan mengenai perpisahan bukanlah penyebab ketidakhadiran di sekolah, dan anak atau remaja biasanya menjauhi rumah, bukan kembali ke rumah.

Gangguan Kecemasan Sosial

Penolakan untuk bersekolah dapat disebabkan oleh gangguan kecemasan sosial. Dalam keadaan tersebut, penghindaran sekolah disebabkan oleh ketakutan akan penilaian negatif dari orang lain, bukan oleh kekhawatiran mengenai perpisahan dari figur kelekatan.

Gangguan Stres Pascatrauma

Ketakutan berpisah dari orang-orang yang dicintai merupakan hal yang umum terjadi setelah peristiwa traumatis seperti bencana besar, terutama ketika individu mengalami periode perpisahan dari orang-orang yang dicintai selama peristiwa traumatis tersebut. Pada gangguan stres pascatrauma, gejala utama berkaitan dengan munculnya kembali ingatan mengenai peristiwa traumatis secara intrusif dan penghindaran terhadap ingatan yang berkaitan dengan peristiwa itu sendiri. Sebaliknya, pada gangguan kecemasan perpisahan, kekhawatiran dan penghindaran berkaitan dengan kesejahteraan figur kelekatan serta perpisahan dari mereka.

Gangguan Kecemasan Penyakit

Gangguan kecemasan perpisahan berkaitan dengan kekhawatiran mengenai kesehatan dan kesejahteraan orang-orang yang memiliki hubungan kelekatan erat dengan individu. Sebaliknya, individu dengan gangguan kecemasan penyakit mengkhawatirkan penyakit medis tertentu yang mungkin mereka alami sendiri, bukan mengenai kemungkinan terpisah dari orang-orang yang memiliki hubungan kelekatan erat dengan mereka.

Gangguan Duka Berkepanjangan

Kerinduan atau keinginan yang sangat kuat untuk bertemu kembali dengan orang yang telah meninggal, kesedihan yang mendalam dan penderitaan emosional yang berat, serta perhatian yang terus-menerus tertuju pada orang yang telah meninggal atau keadaan yang berkaitan dengan kematiannya merupakan respons yang diharapkan muncul pada gangguan duka berkepanjangan. Sebaliknya, ketakutan terhadap kemungkinan perpisahan dari figur kelekatan utama merupakan karakteristik inti gangguan kecemasan perpisahan.

Gangguan Depresif dan Gangguan Bipolar

Gangguan-gangguan ini dapat berkaitan dengan keengganan untuk meninggalkan rumah, tetapi masalah utamanya bukanlah kekhawatiran atau ketakutan bahwa peristiwa yang tidak diinginkan akan menimpa figur kelekatan, melainkan rendahnya motivasi untuk berinteraksi dengan dunia luar. Namun, individu dengan gangguan kecemasan perpisahan dapat mengalami depresi ketika sedang terpisah atau ketika mengantisipasi perpisahan.

Gangguan Menentang Oposisi

Anak-anak dan remaja dengan gangguan kecemasan perpisahan dapat menunjukkan perilaku menentang ketika dipaksa berpisah dari figur kelekatan. Gangguan menentang oposisi hanya boleh dipertimbangkan apabila terdapat perilaku menentang yang menetap dan tidak berkaitan dengan antisipasi maupun terjadinya perpisahan dari figur kelekatan.

Gangguan Psikotik

Berbeda dengan halusinasi pada gangguan psikotik, pengalaman perseptual yang tidak biasa yang mungkin terjadi pada gangguan kecemasan perpisahan biasanya didasarkan pada kesalahan persepsi terhadap stimulus yang benar-benar ada, hanya muncul dalam situasi tertentu (misalnya, pada malam hari), dan menghilang ketika figur kelekatan hadir.

Gangguan Kepribadian

Gangguan kepribadian dependen ditandai oleh kecenderungan untuk bergantung pada orang lain tanpa membedakan siapa orang tersebut, sedangkan gangguan kecemasan perpisahan melibatkan kekhawatiran mengenai kedekatan dan keselamatan figur kelekatan utama. Gangguan kepribadian ambang ditandai oleh ketakutan akan ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintai, tetapi masalah identitas, pengarahan diri, keberfungsian interpersonal, dan impulsivitas juga merupakan karakteristik inti gangguan tersebut, sedangkan karakteristik tersebut bukan merupakan inti dari gangguan kecemasan perpisahan.

Komorbiditas

Pada anak-anak, gangguan kecemasan perpisahan memiliki tingkat komorbiditas yang tinggi dengan gangguan kecemasan menyeluruh dan fobia spesifik. Pada orang dewasa, kondisi komorbid yang umum ditemukan mencakup fobia spesifik, gangguan stres pascatrauma, gangguan panik, gangguan kecemasan menyeluruh, gangguan kecemasan sosial, agorafobia, gangguan obsesif-kompulsif, gangguan duka berkepanjangan, dan gangguan kepribadian. Di antara gangguan kepribadian, gangguan kepribadian dependen, menghindar, dan obsesif-kompulsif (Klaster C) dapat muncul sebagai komorbid dengan gangguan kecemasan perpisahan. Gangguan depresif dan gangguan bipolar juga dapat muncul sebagai kondisi komorbid dengan gangguan kecemasan perpisahan pada orang dewasa.

Bagikan:

Siap Memulai Psikotes Online Anda?

Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.

Pilih Layanan Lihat Semua Alat Tes Hubungi Kami
Hubungi Kami