Specific Phobia
Ketakutan atau kecemasan yang nyata terhadap objek atau situasi tertentu (misalnya, terbang, ketinggian, hewan, menerima suntikan, atau melihat darah). Catatan: Pada anak-anak, ketakutan atau kecemasan dapat diekspresikan melalui tangisan, ledakan amarah, respons membeku, atau perilaku melekat pada orang lain.
Objek atau situasi yang menjadi sumber fobia hampir selalu menimbulkan ketakutan atau kecemasan secara langsung.
Objek atau situasi yang menjadi sumber fobia secara aktif dihindari atau dihadapi dengan ketakutan atau kecemasan yang sangat intens.
Ketakutan atau kecemasan tersebut tidak sebanding dengan bahaya nyata yang ditimbulkan oleh objek atau situasi tertentu serta tidak sesuai dengan konteks sosiokultural.
Ketakutan, kecemasan, atau perilaku menghindar tersebut bersifat menetap, biasanya berlangsung selama 6 bulan atau lebih.
Ketakutan, kecemasan, atau perilaku menghindar tersebut menyebabkan distres yang bermakna secara klinis atau gangguan keberfungsian dalam bidang sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya.
Gangguan tersebut tidak dapat dijelaskan secara lebih baik oleh gejala gangguan mental lainnya, termasuk ketakutan, kecemasan, dan penghindaran terhadap situasi yang berkaitan dengan gejala menyerupai panik atau gejala lain yang menyebabkan ketidakmampuan (seperti pada agorafobia); objek atau situasi yang berkaitan dengan obsesi (seperti pada gangguan obsesif-kompulsif); pengingat terhadap peristiwa traumatis (seperti pada gangguan stres pascatrauma); perpisahan dari rumah atau figur kelekatan (seperti pada gangguan kecemasan perpisahan); atau situasi sosial (seperti pada gangguan kecemasan sosial).
Kode ditentukan berdasarkan stimulus yang menjadi sumber fobia:
F40.218 — Hewan: Misalnya, laba-laba, serangga, atau anjing.
F40.228 — Lingkungan alam: Misalnya, ketinggian, badai, atau air.
F40.23x — Darah, suntikan, atau cedera: Misalnya, jarum suntik atau prosedur medis invasif.
Catatan pengodean: Pilih kode ICD-10-CM yang spesifik sebagai berikut:
F40.230: Ketakutan terhadap darah.
F40.231: Ketakutan terhadap suntikan dan transfusi.
F40.232: Ketakutan terhadap perawatan medis lainnya.
F40.233: Ketakutan terhadap cedera.
F40.248 — Situasional: Misalnya, pesawat terbang, lift, atau tempat tertutup.
F40.298 — Lainnya: Misalnya, situasi yang dapat menyebabkan tersedak atau muntah; pada anak-anak, misalnya, suara keras atau karakter yang mengenakan kostum.
Catatan pengodean:
Apabila terdapat lebih dari satu stimulus yang menjadi sumber fobia, cantumkan seluruh kode ICD-10-CM yang berlaku (misalnya, untuk ketakutan terhadap ular dan terbang, gunakan F40.218 fobia spesifik tipe hewan dan F40.248 fobia spesifik tipe situasional).
Individu sering kali memiliki lebih dari satu fobia spesifik. Rata-rata individu dengan fobia spesifik mengalami ketakutan terhadap tiga objek atau situasi, dan sekitar 75% individu dengan fobia spesifik mengalami ketakutan terhadap lebih dari satu situasi atau objek. Dalam kasus tersebut, beberapa diagnosis fobia spesifik perlu ditegakkan, masing-masing dengan kode diagnostik tersendiri yang mencerminkan stimulus penyebab fobia. Sebagai contoh, apabila seorang individu takut terhadap badai petir dan terbang, maka dua diagnosis perlu ditegakkan, yaitu fobia spesifik tipe lingkungan alam dan fobia spesifik tipe situasional.
Karakteristik utama gangguan ini adalah ketakutan atau kecemasan yang terbatas pada keberadaan situasi atau objek tertentu (Kriteria A), yang dapat disebut sebagai stimulus fobik. Kategori situasi atau objek yang ditakuti disajikan sebagai penanda diagnostik. Banyak individu mengalami ketakutan terhadap objek atau situasi dari lebih dari satu kategori atau stimulus fobik. Untuk menegakkan diagnosis fobia spesifik, respons individu harus berbeda dari ketakutan normal yang bersifat sementara dan umum terjadi dalam populasi. Agar memenuhi kriteria diagnosis, ketakutan atau kecemasan harus bersifat intens atau berat (yaitu, “nyata”) (Kriteria A). Tingkat ketakutan yang dialami dapat bervariasi bergantung pada kedekatan individu dengan objek atau situasi yang ditakuti dan dapat muncul ketika mengantisipasi maupun ketika benar-benar berhadapan dengan objek atau situasi tersebut. Selain itu, ketakutan atau kecemasan dapat muncul dalam bentuk serangan panik dengan gejala lengkap atau gejala terbatas (yaitu, serangan panik yang dapat diperkirakan). Karakteristik lain dari fobia spesifik adalah ketakutan atau kecemasan yang muncul hampir setiap kali individu bersentuhan dengan stimulus fobik (Kriteria B). Dengan demikian, individu yang hanya sesekali mengalami kecemasan ketika berhadapan dengan situasi atau objek tertentu (misalnya, hanya merasa cemas ketika terbang dalam satu dari setiap lima penerbangan) tidak akan didiagnosis mengalami fobia spesifik. Namun, tingkat ketakutan atau kecemasan yang ditunjukkan dapat bervariasi (mulai dari kecemasan antisipatoris hingga serangan panik penuh) pada berbagai kesempatan ketika berhadapan dengan objek atau situasi fobik, akibat beragam faktor kontekstual seperti keberadaan orang lain, durasi paparan, dan unsur ancaman lainnya, seperti turbulensi selama penerbangan pada individu yang takut terbang. Ketakutan dan kecemasan sering diekspresikan secara berbeda antara anak-anak dan orang dewasa. Selain itu, ketakutan atau kecemasan muncul segera setelah individu berhadapan dengan objek atau situasi fobik (yaitu, secara langsung, bukan setelah jeda waktu tertentu).
Individu secara aktif menghindari situasi tersebut, atau apabila individu tidak mampu atau memutuskan untuk tidak menghindarinya, situasi atau objek tersebut menimbulkan ketakutan atau kecemasan yang sangat intens (Kriteria C). Penghindaran aktif berarti individu secara sengaja melakukan perilaku yang bertujuan mencegah atau meminimalkan kontak dengan objek atau situasi fobik (misalnya, memilih melewati terowongan daripada jembatan dalam perjalanan sehari-hari ke tempat kerja karena takut ketinggian; menghindari memasuki ruangan gelap karena takut laba-laba; atau menolak menerima pekerjaan di lokasi yang lebih banyak memiliki stimulus fobik tertentu). Perilaku menghindar sering kali terlihat jelas (misalnya, individu yang takut darah menolak pergi ke dokter), tetapi terkadang kurang terlihat (misalnya, individu yang takut ular menolak melihat gambar yang menyerupai bentuk atau wujud ular). Banyak individu dengan fobia spesifik telah mengalami gangguan tersebut selama bertahun-tahun dan mengubah keadaan hidup mereka dengan cara yang dirancang untuk menghindari objek atau situasi fobik semaksimal mungkin (misalnya, individu yang didiagnosis mengalami fobia spesifik tipe hewan memilih pindah ke wilayah yang tidak terdapat hewan tertentu yang ditakutinya). Oleh karena itu, mereka tidak lagi mengalami ketakutan atau kecemasan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keadaan tersebut, perilaku menghindar atau penolakan yang terus-menerus untuk terlibat dalam aktivitas yang memungkinkan paparan terhadap objek atau situasi fobik (misalnya, berulang kali menolak tawaran perjalanan dinas karena takut terbang) dapat membantu memastikan diagnosis meskipun tidak terdapat kecemasan atau kepanikan yang tampak secara jelas.
Ketakutan atau kecemasan tidak sebanding dengan bahaya nyata yang ditimbulkan oleh objek atau situasi tersebut, atau lebih intens daripada yang dianggap diperlukan (Kriteria D). Meskipun individu dengan fobia spesifik sering menyadari bahwa respons mereka tidak proporsional, mereka cenderung melebih-lebihkan bahaya dalam situasi yang ditakuti. Oleh karena itu, penilaian mengenai ketidaksebandingan respons tersebut dilakukan oleh klinisi. Konteks sosiokultural individu juga harus dipertimbangkan. Sebagai contoh, ketakutan terhadap kegelapan mungkin merupakan respons yang wajar dalam lingkungan yang mengalami kekerasan secara terus-menerus, dan tingkat ketakutan terhadap serangga yang dianggap tidak proporsional akan lebih tinggi dalam lingkungan yang masyarakatnya mengonsumsi serangga sebagai makanan. Ketakutan, kecemasan, atau perilaku menghindar tersebut bersifat menetap, biasanya berlangsung selama 6 bulan atau lebih (Kriteria E), yang membantu membedakan gangguan ini dari ketakutan sementara yang umum terjadi dalam populasi, khususnya pada anak-anak. Agar gangguan ini dapat didiagnosis, fobia spesifik harus menyebabkan distres yang bermakna secara klinis atau gangguan keberfungsian dalam bidang sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya (Kriteria F).
Individu dengan fobia spesifik biasanya mengalami peningkatan aktivasi fisiologis ketika mengantisipasi atau selama terpapar objek atau situasi fobik. Namun, respons fisiologis terhadap situasi atau objek yang ditakuti dapat bervariasi. Individu dengan fobia spesifik tipe situasional, lingkungan alam, dan hewan cenderung menunjukkan aktivasi sistem saraf simpatis, sedangkan individu dengan fobia spesifik tipe darah, suntikan, atau cedera sering menunjukkan respons vasovagal berupa pingsan atau hampir pingsan, yang ditandai oleh peningkatan singkat denyut jantung dan tekanan darah pada awalnya, kemudian diikuti oleh perlambatan denyut jantung dan penurunan tekanan darah. Selain itu, fobia spesifik paling konsisten dikaitkan dengan aktivitas abnormal pada amigdala, korteks singulata anterior, talamus, dan insula sebagai respons terhadap objek atau situasi fobik.
Di Amerika Serikat, estimasi prevalensi fobia spesifik selama 12 bulan dalam populasi komunitas berkisar antara 8% hingga 12%. Angka prevalensi di negara-negara Eropa secara umum serupa dengan Amerika Serikat (misalnya, sekitar 6%), tetapi angka tersebut umumnya lebih rendah di negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin (2%–4%). Estimasi prevalensi pada anak-anak rata-rata sekitar 5% di berbagai negara, dengan rentang 3%–9%, dan sekitar 16% pada remaja berusia 13–17 tahun di Amerika Serikat. Estimasi prevalensi lebih rendah pada individu usia lanjut (sekitar 3%–5%), yang mungkin mencerminkan penurunan tingkat keparahan hingga mencapai tingkat subklinis. Perempuan lebih sering mengalami gangguan ini dibandingkan laki-laki pada berbagai subtipe, dengan rasio sekitar 2:1.
Fobia spesifik terkadang berkembang setelah individu mengalami peristiwa traumatis (misalnya, diserang hewan atau terjebak di dalam lift), menyaksikan orang lain mengalami peristiwa traumatis (misalnya, melihat seseorang tenggelam), mengalami serangan panik yang tidak terduga dalam situasi yang kemudian menjadi sumber ketakutan (misalnya, serangan panik yang tidak terduga ketika berada di kereta bawah tanah), atau menerima informasi mengenai suatu peristiwa (misalnya, pemberitaan media secara luas mengenai kecelakaan pesawat). Namun, banyak individu dengan fobia spesifik tidak mampu mengingat alasan khusus yang menyebabkan munculnya fobia mereka. Fobia spesifik biasanya berkembang pada masa kanak-kanak awal, dengan sebagian besar kasus muncul sebelum usia 10 tahun. Median usia onset berada antara 7 dan 11 tahun, dengan rata-rata sekitar 10 tahun.
Fobia spesifik tipe situasional cenderung memiliki usia onset yang lebih lambat dibandingkan fobia spesifik tipe lingkungan alam, hewan, atau darah, suntikan, dan cedera. Fobia spesifik yang berkembang pada masa kanak-kanak dan remaja cenderung mengalami peningkatan dan penurunan intensitas selama periode tersebut. Namun, pada sebagian besar individu, fobia yang menetap hingga masa dewasa cenderung tidak mengalami remisi.
Ketika mendiagnosis fobia spesifik pada anak-anak, terdapat dua hal yang harus dipertimbangkan. Pertama, anak-anak usia dini dapat mengekspresikan ketakutan dan kecemasan mereka melalui tangisan, ledakan amarah, respons membeku, atau perilaku melekat pada orang lain. Kedua, anak-anak usia dini biasanya belum mampu memahami konsep penghindaran. Oleh karena itu, klinisi harus mengumpulkan informasi tambahan dari orang tua, guru, atau orang lain yang mengenal anak dengan baik. Ketakutan yang berlebihan cukup umum ditemukan pada anak-anak usia dini, tetapi biasanya bersifat sementara dan hanya menyebabkan gangguan keberfungsian ringan sehingga dianggap sesuai dengan tahap perkembangan. Dalam kasus tersebut, diagnosis fobia spesifik tidak ditegakkan. Ketika diagnosis fobia spesifik dipertimbangkan pada seorang anak, penting untuk menilai derajat gangguan keberfungsian dan durasi ketakutan, kecemasan, atau perilaku menghindar, serta apakah kondisi tersebut merupakan hal yang lazim bagi tahap perkembangan anak yang bersangkutan.
Meskipun prevalensi fobia spesifik lebih rendah pada populasi usia lanjut, gangguan ini tetap menjadi salah satu gangguan yang cukup umum dialami pada tahap kehidupan lanjut. Beberapa hal harus dipertimbangkan ketika mendiagnosis fobia spesifik pada populasi usia lanjut. Pertama, individu usia lanjut mungkin lebih cenderung melaporkan fobia spesifik tipe lingkungan alam serta fobia terhadap jatuh. Kedua, fobia spesifik (seperti semua gangguan kecemasan) cenderung muncul bersamaan dengan masalah medis pada individu usia lanjut, termasuk penyakit jantung koroner, penyakit paru obstruktif kronis, dan penyakit Parkinson. Ketiga, individu usia lanjut mungkin lebih cenderung mengaitkan gejala kecemasan dengan kondisi medis. Keempat, individu usia lanjut mungkin lebih cenderung menunjukkan kecemasan dengan cara yang atipikal (misalnya, melibatkan gejala kecemasan sekaligus depresi), sehingga lebih mungkin memenuhi pertimbangan untuk diagnosis gangguan kecemasan yang tidak ditentukan. Selain itu, keberadaan fobia spesifik pada orang dewasa usia lanjut berkaitan dengan penurunan kualitas hidup dan dapat menjadi faktor risiko gangguan neurokognitif mayor.
Meskipun sebagian besar fobia spesifik berkembang selama masa kanak-kanak dan remaja, fobia spesifik dapat berkembang pada usia berapa pun, sering kali sebagai akibat dari pengalaman traumatis. Sebagai contoh, fobia terhadap tersedak hampir selalu muncul setelah seseorang mengalami peristiwa hampir tersedak, yang dapat terjadi pada usia berapa pun.
Faktor risiko temperamental untuk fobia spesifik, seperti afektivitas negatif (neurotisisme) atau inhibisi perilaku, juga merupakan faktor risiko bagi gangguan kecemasan lainnya.
Faktor risiko lingkungan untuk fobia spesifik, seperti sikap orang tua yang terlalu protektif, kehilangan orang tua dan perpisahan dari orang tua, serta kekerasan fisik dan seksual, juga cenderung dapat memprediksi gangguan kecemasan lainnya. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, pengalaman negatif atau traumatis ketika berhadapan dengan objek atau situasi yang ditakuti terkadang mendahului perkembangan fobia spesifik, meskipun hal tersebut tidak selalu terjadi.
Mungkin terdapat kerentanan genetik terhadap kategori fobia spesifik tertentu (misalnya, individu yang memiliki kerabat tingkat pertama dengan fobia spesifik terhadap hewan secara bermakna lebih mungkin mengalami jenis fobia spesifik yang sama dibandingkan kategori fobia lainnya). Penelitian pada anak kembar telah mengkaji heritabilitas berbagai subtipe ketakutan dan fobia, yang menunjukkan bahwa fobia terhadap hewan memiliki heritabilitas sekitar 32%, fobia terhadap darah, cedera, atau suntikan sebesar 33%, dan fobia situasional sebesar 25%.
Di Amerika Serikat, individu keturunan Asia dan Latinx melaporkan prevalensi fobia spesifik yang lebih rendah dibandingkan individu kulit putih non-Latinx dan orang Amerika keturunan Afrika. Prevalensi berbagai subtipe fobia spesifik bervariasi antarnegara.
Fobia spesifik terhadap hewan, lingkungan alam, dan situasi tertentu lebih banyak dialami oleh perempuan, sedangkan fobia terhadap darah, suntikan, atau cedera dialami dalam proporsi yang hampir sama antara perempuan dan laki-laki. Rata-rata usia onset fobia spesifik selama masa kanak-kanak tidak berbeda antara anak perempuan atau perempuan dewasa dan anak laki-laki atau laki-laki dewasa.
Berdasarkan data survei nasional di Amerika Serikat, fobia spesifik berkaitan dengan pikiran bunuh diri maupun percobaan bunuh diri. Fobia spesifik juga berkaitan dengan peralihan dari pikiran bunuh diri menjadi percobaan bunuh diri. Pada individu berusia 14–24 tahun dalam populasi komunitas, sebuah penelitian prospektif berskala besar yang dilakukan selama 10 tahun di Jerman menemukan bahwa 30% percobaan bunuh diri pertama dapat dikaitkan dengan fobia spesifik.
Individu dengan fobia spesifik menunjukkan pola gangguan keberfungsian psikososial dan penurunan kualitas hidup yang serupa dengan individu yang mengalami gangguan kecemasan lainnya serta gangguan penggunaan alkohol dan zat, termasuk gangguan dalam keberfungsian pekerjaan dan hubungan interpersonal. Pada orang dewasa usia lanjut, gangguan keberfungsian dapat terlihat dalam pelaksanaan tugas merawat orang lain dan kegiatan sukarela. Selain itu, ketakutan terhadap jatuh pada orang dewasa usia lanjut dapat menyebabkan berkurangnya mobilitas serta penurunan keberfungsian fisik dan sosial, dan dapat mengakibatkan kebutuhan untuk memperoleh bantuan di rumah, baik secara formal maupun informal. Distres dan gangguan keberfungsian yang disebabkan oleh fobia spesifik cenderung meningkat seiring bertambahnya jumlah objek dan situasi yang ditakuti. Dengan demikian, individu yang takut terhadap empat objek atau situasi kemungkinan mengalami gangguan yang lebih besar dalam peran pekerjaan dan sosialnya serta memiliki kualitas hidup yang lebih rendah dibandingkan individu yang hanya takut terhadap satu objek atau situasi. Individu dengan fobia spesifik tipe darah, suntikan, atau cedera sering enggan memperoleh pelayanan medis meskipun terdapat masalah kesehatan. Selain itu, ketakutan terhadap muntah dan tersedak dapat secara substansial mengurangi asupan makanan.
Fobia spesifik tipe situasional dapat menyerupai agorafobia dalam gambaran klinisnya karena terdapat tumpang tindih pada situasi yang ditakuti (misalnya, terbang, tempat tertutup, dan lift). Apabila individu hanya takut terhadap satu situasi yang termasuk dalam kategori agorafobia, maka diagnosis fobia spesifik tipe situasional dapat ditegakkan. Apabila terdapat ketakutan terhadap dua atau lebih situasi agorafobik, diagnosis agorafobia kemungkinan lebih tepat. Sebagai contoh, individu yang takut terhadap pesawat terbang dan lift (yang keduanya termasuk dalam kategori situasi agorafobik “menggunakan transportasi umum”), tetapi tidak takut terhadap situasi agorafobik lainnya, akan didiagnosis mengalami fobia spesifik tipe situasional. Sebaliknya, individu yang takut terhadap pesawat terbang, lift, dan kerumunan orang (yang mencakup dua kategori situasi agorafobik, yaitu “menggunakan transportasi umum” dan “berdiri dalam antrean atau berada di tengah kerumunan”) akan didiagnosis mengalami agorafobia. Kriteria B agorafobia, yaitu situasi yang ditakuti atau dihindari “karena adanya pemikiran bahwa melarikan diri mungkin sulit atau bantuan mungkin tidak tersedia apabila muncul gejala menyerupai panik atau gejala lain yang menyebabkan ketidakmampuan atau rasa malu”, juga dapat membantu membedakan agorafobia dari fobia spesifik. Apabila situasi tersebut ditakuti karena alasan selain ketidakmampuan untuk melarikan diri atau memperoleh bantuan, seperti ketakutan akan mengalami bahaya secara langsung akibat objek atau situasi tersebut (misalnya, takut pesawat jatuh atau takut digigit hewan), diagnosis fobia spesifik mungkin lebih tepat.
Apabila suatu situasi ditakuti karena adanya kemungkinan mendapatkan penilaian negatif dari orang lain, diagnosis gangguan kecemasan sosial harus ditegakkan sebagai pengganti fobia spesifik.
Apabila suatu situasi ditakuti karena melibatkan perpisahan dari pengasuh utama atau figur kelekatan, diagnosis gangguan kecemasan perpisahan harus ditegakkan sebagai pengganti fobia spesifik.
Individu dengan fobia spesifik dapat mengalami serangan panik ketika berhadapan dengan situasi atau objek yang ditakuti. Diagnosis fobia spesifik ditegakkan apabila serangan panik hanya terjadi sebagai respons terhadap objek atau situasi tertentu. Sebaliknya, diagnosis gangguan panik ditegakkan apabila individu juga mengalami serangan panik yang tidak terduga (yaitu, serangan panik yang tidak terjadi sebagai respons terhadap objek atau situasi tertentu yang menjadi sumber fobia).
Apabila ketakutan atau kecemasan utama individu terhadap suatu objek atau situasi merupakan akibat dari obsesi (misalnya, ketakutan terhadap darah karena adanya pikiran obsesif mengenai kontaminasi oleh patogen yang ditularkan melalui darah [yaitu, HIV]; atau ketakutan untuk mengemudi karena adanya bayangan obsesif tentang mencelakai orang lain), dan apabila kriteria diagnostik lainnya untuk gangguan obsesif-kompulsif terpenuhi, maka diagnosis gangguan obsesif-kompulsif harus ditegakkan.
Apabila fobia berkembang setelah suatu peristiwa traumatis, gangguan stres pascatrauma harus dipertimbangkan sebagai diagnosis. Namun, peristiwa traumatis dapat mendahului onset gangguan stres pascatrauma maupun fobia spesifik. Dalam kasus tersebut, diagnosis fobia spesifik hanya diberikan apabila tidak semua kriteria gangguan stres pascatrauma terpenuhi.
Diagnosis fobia spesifik tidak ditegakkan apabila perilaku menghindar secara eksklusif terbatas pada penghindaran terhadap makanan dan stimulus yang berkaitan dengan makanan. Dalam kasus tersebut, diagnosis anoreksia nervosa atau bulimia nervosa harus dipertimbangkan.
Apabila ketakutan dan perilaku menghindar disebabkan oleh pemikiran waham (seperti pada skizofrenia atau gangguan lain dalam kelompok spektrum skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya), diagnosis fobia spesifik tidak tepat untuk ditegakkan.
Fobia spesifik jarang ditemukan dalam pelayanan medis klinis tanpa adanya psikopatologi lainnya dan lebih sering ditemukan dalam pelayanan kesehatan mental nonmedis. Fobia spesifik sering berkaitan dengan berbagai gangguan lainnya. Karena onsetnya yang dini, fobia spesifik biasanya merupakan gangguan yang muncul lebih dahulu secara temporal. Individu dengan fobia spesifik memiliki peningkatan risiko untuk mengalami gangguan lainnya, termasuk gangguan kecemasan lainnya, gangguan depresif dan bipolar, gangguan terkait zat, gangguan gejala somatik dan gangguan terkait, serta gangguan kepribadian (terutama gangguan kepribadian dependen).
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.