F50.89 F98.3 10_01

Pika

Pica

DSM-5-TR 0x dibaca

Kriteria Diagnostik

  1. Perilaku mengonsumsi zat yang tidak bernutrisi dan bukan merupakan makanan secara menetap selama setidaknya 1 bulan.
  2. Perilaku mengonsumsi zat yang tidak bernutrisi dan bukan merupakan makanan tidak sesuai dengan tingkat perkembangan individu.
  3. Perilaku makan tersebut bukan merupakan bagian dari praktik yang didukung secara budaya atau dianggap sebagai norma sosial.
  4. Apabila perilaku makan tersebut terjadi dalam konteks gangguan mental lainnya (misalnya, gangguan perkembangan intelektual [disabilitas intelektual], gangguan spektrum autisme, atau skizofrenia) atau kondisi medis (termasuk kehamilan), perilaku tersebut memiliki tingkat keparahan yang cukup untuk memerlukan perhatian klinis tambahan.

Catatan Pengodean:

Kode ICD-10-CM untuk pika adalah F98.3 pada anak-anak dan F50.89 pada orang dewasa.

Tentukan Jika:

Dalam remisi: Setelah sebelumnya memenuhi seluruh kriteria pika, kriteria tersebut tidak lagi terpenuhi selama periode waktu yang berkelanjutan.

Karakteristik Diagnostik

Karakteristik utama pika adalah perilaku mengonsumsi satu atau lebih zat yang tidak bernutrisi dan bukan merupakan makanan secara menetap selama setidaknya 1 bulan (Kriteria A), dengan tingkat keparahan yang cukup untuk memerlukan perhatian klinis. Jenis zat yang biasanya dikonsumsi cenderung bervariasi berdasarkan usia dan ketersediaannya, serta dapat mencakup kertas, sabun, kain, rambut, benang, wol, tanah, kapur, bedak talk, cat, permen karet, logam, kerikil, arang atau batu bara, abu, tanah liat, pati, atau es. Istilah bukan makanan digunakan karena diagnosis pika tidak berlaku untuk konsumsi produk diet yang memiliki kandungan nutrisi minimal. Secara umum, biasanya tidak terdapat keengganan terhadap makanan. Perilaku mengonsumsi zat yang tidak bernutrisi dan bukan merupakan makanan harus tidak sesuai dengan tingkat perkembangan individu (Kriteria B) dan bukan merupakan bagian dari praktik yang didukung secara budaya atau dianggap sebagai norma sosial (Kriteria C). Usia minimal 2 tahun disarankan untuk diagnosis pika guna mengecualikan perilaku normal pada bayi yang memasukkan benda ke dalam mulut sesuai tahap perkembangannya hingga menyebabkan benda tersebut tertelan. Perilaku mengonsumsi zat yang tidak bernutrisi dan bukan merupakan makanan dapat menjadi karakteristik penyerta gangguan mental lainnya (misalnya, gangguan perkembangan intelektual [disabilitas intelektual], gangguan spektrum autisme, atau skizofrenia). Apabila perilaku makan tersebut terjadi secara eksklusif dalam konteks gangguan mental lainnya, diagnosis pika secara terpisah hanya boleh ditegakkan jika perilaku makan tersebut memiliki tingkat keparahan yang cukup untuk memerlukan perhatian klinis tambahan (Kriteria D).

Karakteristik Penyerta

Meskipun kekurangan vitamin atau mineral (misalnya, seng atau zat besi) telah dilaporkan, sering kali tidak ditemukan kelainan biologis yang spesifik. Dalam beberapa kasus, pika baru mendapatkan perhatian klinis setelah muncul komplikasi medis umum (misalnya, gangguan mekanis pada usus; obstruksi usus, seperti yang disebabkan oleh bezoar; perforasi usus; infeksi seperti toksoplasmosis dan toksokariasis akibat mengonsumsi feses atau tanah; serta keracunan, seperti akibat menelan cat berbahan dasar timbal).

Prevalensi

Data yang terbatas menunjukkan bahwa prevalensi pika sekitar 5% pada anak-anak usia sekolah. Sekitar sepertiga perempuan hamil, terutama mereka yang mengalami kerawanan pangan (yaitu, tidak memiliki akses yang dapat diandalkan terhadap makanan yang terjangkau dan bergizi), menunjukkan perilaku pika. Kondisi yang berkaitan dengan pika mencakup kurangnya ketersediaan makanan dan kekurangan vitamin.

Perkembangan dan Perjalanan Gangguan

Onset pika dapat terjadi pada masa kanak-kanak, remaja, atau dewasa, meskipun onset pada masa kanak-kanak merupakan yang paling sering dilaporkan. Pika dapat terjadi pada anak-anak yang perkembangan lainnya berlangsung secara normal, sedangkan pada orang dewasa, kondisi ini tampaknya lebih mungkin terjadi dalam konteks gangguan perkembangan intelektual atau gangguan mental lainnya. Perjalanan gangguan dapat berlangsung berkepanjangan dan dapat menyebabkan keadaan darurat medis (misalnya, obstruksi usus, penurunan berat badan secara akut, atau keracunan). Gangguan ini berpotensi menyebabkan kematian, bergantung pada zat yang dikonsumsi.

Faktor Risiko dan Prognostik

Faktor Lingkungan

Pengabaian, kurangnya pengawasan, dan keterlambatan perkembangan dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini.

Isu Diagnostik Terkait Budaya

Pada beberapa populasi, perilaku mengonsumsi tanah atau zat lain yang tampaknya tidak bernutrisi diyakini memiliki nilai spiritual, pengobatan, atau sosial lainnya, atau mungkin merupakan praktik yang didukung secara budaya maupun dianggap sebagai norma sosial. Perilaku tersebut tidak memerlukan diagnosis pika (Kriteria C). Perilaku pika mungkin umum ditemukan pada kelompok budaya tertentu, tetapi tidak boleh langsung dianggap sebagai norma sosial tanpa evaluasi lebih lanjut.

Isu Diagnostik Terkait Jenis Kelamin dan Gender

Pika terjadi pada kedua gender. Perilaku mengonsumsi zat yang tidak bernutrisi dan bukan merupakan makanan dapat muncul selama kehamilan, ketika keinginan khusus untuk mengonsumsi zat tertentu (misalnya, kapur atau es) mungkin terjadi. Diagnosis pika selama kehamilan hanya tepat apabila keinginan tersebut menyebabkan konsumsi zat yang tidak bernutrisi dan bukan merupakan makanan sampai pada tingkat yang menimbulkan potensi risiko medis. Sebuah meta-analisis di seluruh dunia menunjukkan bahwa angka prevalensi pika sebesar 28% selama kehamilan dan/atau periode pascapersalinan.

Penanda Diagnostik

Pemeriksaan radiografi abdomen polos, ultrasonografi, dan metode pemindaian lainnya dapat menunjukkan adanya obstruksi yang berkaitan dengan pika. Pemeriksaan darah dan pemeriksaan laboratorium lainnya dapat digunakan untuk menentukan tingkat keracunan atau jenis infeksi.

Konsekuensi Fungsional Pika

Pika dapat secara bermakna mengganggu keberfungsian fisik, tetapi jarang menjadi satu-satunya penyebab gangguan keberfungsian sosial. Pika sering terjadi bersamaan dengan gangguan lain yang berkaitan dengan gangguan keberfungsian sosial.

Diagnosis Banding

Perilaku mengonsumsi zat yang tidak bernutrisi dan bukan merupakan makanan dapat terjadi selama perjalanan gangguan mental lainnya (misalnya, gangguan spektrum autisme atau skizofrenia) dan pada sindrom Kleine-Levin. Dalam situasi tersebut, diagnosis tambahan pika hanya boleh diberikan apabila perilaku makan tersebut cukup menetap dan berat sehingga memerlukan perhatian klinis tambahan.

Anoreksia Nervosa

Pika biasanya dapat dibedakan dari gangguan pemberian makan dan gangguan makan lainnya berdasarkan konsumsi zat yang tidak bernutrisi dan bukan merupakan makanan. Namun, penting untuk diperhatikan bahwa beberapa gambaran klinis anoreksia nervosa mencakup perilaku mengonsumsi zat yang tidak bernutrisi dan bukan merupakan makanan, seperti tisu kertas, sebagai upaya untuk mengendalikan nafsu makan. Dalam kasus tersebut, apabila perilaku mengonsumsi zat yang tidak bernutrisi dan bukan merupakan makanan terutama digunakan sebagai cara untuk mengendalikan berat badan, anoreksia nervosa harus menjadi diagnosis utama.

Gangguan Buatan

Sebagian individu dengan gangguan buatan mungkin secara sengaja menelan benda asing sebagai bagian dari pola pemalsuan gejala fisik. Dalam situasi tersebut, terdapat unsur penipuan yang sesuai dengan tindakan yang secara sengaja menyebabkan cedera atau penyakit.

Perilaku Menyakiti Diri Sendiri Tanpa Niat Bunuh Diri dan Perilaku Menyakiti Diri Sendiri Tanpa Niat Bunuh Diri pada Gangguan Kepribadian

Sebagian individu dapat menelan benda yang berpotensi membahayakan (misalnya, peniti, jarum, atau pisau) dalam konteks pola perilaku maladaptif yang berkaitan dengan gangguan kepribadian atau perilaku menyakiti diri sendiri tanpa niat bunuh diri.

Komorbiditas

Gangguan yang paling umum terjadi sebagai komorbiditas dengan pika adalah gangguan spektrum autisme dan gangguan perkembangan intelektual (disabilitas intelektual), serta dalam tingkat yang lebih rendah, skizofrenia dan gangguan obsesif-kompulsif. Pika dapat berkaitan dengan trikotilomania (gangguan mencabut rambut) dan gangguan ekskoriasi (gangguan mengorek kulit). Pada gambaran klinis dengan komorbiditas, rambut atau kulit biasanya ikut dikonsumsi. Pika juga dapat berkaitan dengan gangguan asupan makanan menghindar/restriktif, terutama pada individu yang memiliki komponen sensorik yang kuat dalam gambaran klinisnya. Ketika seorang individu diketahui mengalami pika, asesmen harus mencakup pertimbangan terhadap kemungkinan adanya komplikasi gastrointestinal, keracunan, infeksi, dan kekurangan nutrisi.

Bagikan:

Siap Memulai Psikotes Online Anda?

Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.

Pilih Layanan Lihat Semua Alat Tes Hubungi Kami
Hubungi Kami