Psychological Factors Affecting Other Medical Conditions
Terdapat gejala atau kondisi medis (selain gangguan mental).
Faktor psikologis atau perilaku memberikan dampak buruk terhadap kondisi medis melalui salah satu cara berikut: (1) Faktor-faktor tersebut telah memengaruhi perjalanan kondisi medis, sebagaimana ditunjukkan oleh hubungan temporal yang erat antara faktor psikologis dengan perkembangan atau perburukan kondisi medis, atau keterlambatan pemulihan dari kondisi medis tersebut. (2) Faktor-faktor tersebut mengganggu pengobatan kondisi medis (misalnya, kepatuhan terhadap pengobatan yang buruk). (3) Faktor-faktor tersebut merupakan risiko kesehatan tambahan yang telah diketahui secara jelas bagi individu. (3) Faktor-faktor tersebut memengaruhi patofisiologi yang mendasari kondisi medis, sehingga memicu atau memperburuk gejala, atau menyebabkan perlunya penanganan medis.
Faktor psikologis dan perilaku dalam Kriteria B tidak dapat dijelaskan secara lebih baik oleh gangguan mental lainnya (misalnya, gangguan panik, gangguan depresif mayor, atau gangguan stres pascatrauma).
Tentukan Tingkat Keparahan Saat Ini:
Ringan: Meningkatkan risiko medis (misalnya, kepatuhan yang tidak konsisten terhadap pengobatan antihipertensi).
Sedang: Memperburuk kondisi medis yang mendasari (misalnya, kecemasan yang memperburuk asma).
Berat: Mengakibatkan rawat inap di rumah sakit atau kunjungan ke unit gawat darurat.
Ekstrem: Mengakibatkan risiko berat yang mengancam jiwa (misalnya, mengabaikan gejala serangan jantung).
Karakteristik utama faktor psikologis yang memengaruhi kondisi medis lainnya adalah adanya satu atau lebih faktor psikologis atau perilaku yang bermakna secara klinis dan berdampak buruk terhadap suatu kondisi medis dengan meningkatkan risiko penderitaan, kematian, atau disabilitas (Kriteria B). Faktor-faktor tersebut dapat memberikan dampak buruk terhadap kondisi medis dengan memengaruhi perjalanan atau pengobatannya, menjadi faktor risiko kesehatan tambahan yang telah diketahui secara jelas, atau memengaruhi patofisiologi yang mendasari kondisi medis sehingga memicu atau memperburuk gejala maupun menyebabkan perlunya penanganan medis. Faktor psikologis atau perilaku mencakup distres psikologis, pola interaksi interpersonal, gaya koping, dan perilaku kesehatan maladaptif, seperti menyangkal gejala atau tidak mematuhi rekomendasi medis. Contoh klinis yang umum adalah kecemasan yang memperburuk asma, penyangkalan terhadap kebutuhan pengobatan untuk nyeri dada akut, serta manipulasi penggunaan insulin oleh individu dengan diabetes yang ingin menurunkan berat badan. Berbagai faktor psikologis telah terbukti memberikan pengaruh buruk terhadap kondisi medis, misalnya gejala depresi atau kecemasan, peristiwa kehidupan yang penuh tekanan, gaya menjalin hubungan, karakteristik kepribadian, dan gaya koping. Dampak buruk tersebut dapat berkisar dari kondisi akut yang menimbulkan konsekuensi medis secara langsung (misalnya, kardiomiopati Takotsubo) hingga kondisi kronis yang berlangsung dalam jangka waktu panjang (misalnya, stres pekerjaan kronis yang meningkatkan risiko hipertensi). Kondisi medis yang terpengaruh dapat berupa kondisi dengan patofisiologi yang jelas (misalnya, diabetes, kanker, atau penyakit jantung koroner), sindrom fungsional (misalnya, migrain, sindrom iritasi usus besar, atau fibromialgia), maupun gejala medis idiopatik (misalnya, nyeri, kelelahan, atau pusing).
Diagnosis ini sebaiknya hanya digunakan pada situasi ketika pengaruh faktor psikologis terhadap kondisi medis terlihat jelas dan faktor psikologis tersebut memiliki dampak yang bermakna secara klinis terhadap perjalanan atau hasil akhir kondisi medis. Gejala psikologis atau perilaku abnormal yang berkembang sebagai respons terhadap suatu kondisi medis lebih tepat dikodekan sebagai gangguan penyesuaian (yaitu, respons psikologis yang bermakna secara klinis terhadap stresor yang dapat diidentifikasi). Harus terdapat bukti yang cukup beralasan untuk menunjukkan adanya hubungan antara faktor psikologis dan kondisi medis, meskipun sering kali tidak memungkinkan untuk membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung atau mekanisme yang mendasari hubungan tersebut.
Prevalensi faktor psikologis yang memengaruhi kondisi medis lainnya belum diketahui secara jelas. Dalam data penagihan asuransi swasta di Amerika Serikat, diagnosis ini lebih umum ditemukan dibandingkan dengan gangguan gejala somatik berdasarkan DSM-IV.
Faktor psikologis yang memengaruhi kondisi medis lainnya dapat terjadi sepanjang rentang kehidupan. Khususnya pada anak-anak yang masih kecil, riwayat pendukung dari orang tua atau sekolah dapat membantu evaluasi diagnostik. Beberapa kondisi merupakan karakteristik dari tahap kehidupan tertentu (misalnya, pada individu yang lebih tua, stres yang berkaitan dengan peran sebagai pengasuh bagi pasangan yang sedang sakit).
Berbagai perbedaan antar konteks budaya dapat memengaruhi faktor psikologis dan dampaknya terhadap kondisi medis, seperti perbedaan dalam bahasa dan gaya komunikasi, ungkapan khas distres, model penjelasan mengenai penyakit, pola pencarian layanan kesehatan, ketersediaan dan pengorganisasian layanan, hubungan dokter-pasien dan praktik penyembuhan lainnya, peran keluarga dan gender, serta sikap terhadap nyeri dan kematian. Faktor psikologis yang memengaruhi kondisi medis lainnya harus dibedakan dari perilaku koping yang khas secara budaya, seperti mencari bantuan penyembuh berbasis keagamaan, spiritual, atau tradisional, maupun variasi lain dalam pengelolaan penyakit yang dapat diterima dalam konteks budaya dan merupakan upaya untuk membantu penyembuhan kondisi medis. Praktik lokal tersebut dapat melengkapi, bukan menghambat, intervensi berbasis bukti. Penggunaan praktik penyembuhan alternatif dapat menunda pemanfaatan layanan medis dan memengaruhi hasil pengobatan, tetapi apabila tujuan praktik penyembuhan tersebut adalah mengatasi masalah melalui cara yang diterima secara budaya, praktik tersebut tidak boleh dianggap patologis sebagai faktor psikologis yang memengaruhi kondisi medis lainnya.
Faktor psikologis dan perilaku telah terbukti memengaruhi perjalanan berbagai penyakit medis.
Hubungan temporal antara gejala gangguan mental dan gejala suatu kondisi medis juga merupakan karakteristik gangguan mental akibat kondisi medis lainnya, tetapi arah hubungan sebab-akibat yang diasumsikan bersifat berlawanan. Pada gangguan mental akibat kondisi medis lainnya, kondisi medis dianggap menyebabkan gangguan mental melalui mekanisme fisiologis secara langsung. Pada faktor psikologis yang memengaruhi kondisi medis lainnya, faktor psikologis atau perilaku dianggap memengaruhi perjalanan kondisi medis.
Gejala psikologis atau perilaku abnormal yang berkembang sebagai respons terhadap suatu kondisi medis lebih tepat dikodekan sebagai gangguan penyesuaian (yaitu, respons psikologis yang bermakna secara klinis terhadap stresor yang dapat diidentifikasi). Sebagai contoh, individu dengan angina yang selalu terpicu ketika dirinya menjadi sangat marah akan didiagnosis mengalami faktor psikologis yang memengaruhi kondisi medis lainnya, sedangkan individu dengan angina yang mengembangkan kecemasan antisipatoris maladaptif akan didiagnosis mengalami gangguan penyesuaian dengan kecemasan. Namun, dalam praktik klinis, faktor psikologis dan kondisi medis sering kali saling memperburuk (misalnya, kecemasan yang menjadi pemicu sekaligus konsekuensi dari angina), sehingga dalam keadaan tersebut pembedaan antara keduanya menjadi bersifat arbitrer. Gangguan mental lainnya sering menyebabkan komplikasi medis, terutama gangguan penggunaan zat (misalnya, gangguan penggunaan alkohol atau gangguan penggunaan tembakau). Apabila individu memiliki gangguan mental mayor yang terjadi secara bersamaan dan memberikan dampak buruk terhadap atau menyebabkan kondisi medis lainnya, diagnosis gangguan mental dan kondisi medis tersebut biasanya sudah memadai. Faktor psikologis yang memengaruhi kondisi medis lainnya didiagnosis ketika karakteristik psikologis atau perilaku tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis gangguan mental.
Gangguan gejala somatik ditandai oleh kombinasi gejala somatik yang menimbulkan distres dan pikiran, perasaan, serta perilaku yang berlebihan atau maladaptif sebagai respons terhadap gejala tersebut atau kekhawatiran mengenai kesehatan yang menyertainya. Individu dapat memiliki atau tidak memiliki kondisi medis yang dapat didiagnosis. Sebaliknya, pada faktor psikologis yang memengaruhi kondisi medis lainnya, faktor psikologis memberikan dampak buruk terhadap suatu kondisi medis; pikiran, perasaan, dan perilaku individu tidak selalu bersifat berlebihan. Perbedaan keduanya lebih terletak pada penekanan, bukan pada pembedaan yang benar-benar tegas. Pada faktor psikologis yang memengaruhi kondisi medis lainnya, penekanannya terletak pada perburukan kondisi medis (misalnya, individu dengan angina yang terpicu setiap kali dirinya mengalami kecemasan). Pada gangguan gejala somatik, penekanannya terletak pada pikiran, perasaan, dan perilaku maladaptif (misalnya, individu dengan angina yang terus-menerus khawatir akan mengalami serangan jantung, mengukur tekanan darahnya beberapa kali setiap hari, dan membatasi aktivitasnya).
Gangguan kecemasan penyakit ditandai oleh tingkat kecemasan yang tinggi mengenai penyakit, yang menimbulkan distres dan/atau mengganggu kehidupan sehari-hari, dengan gejala somatik yang minimal. Fokus perhatian klinis adalah kekhawatiran individu mengenai kemungkinan dirinya memiliki suatu penyakit; dalam sebagian besar kasus, tidak ditemukan penyakit serius. Pada faktor psikologis yang memengaruhi kondisi medis lainnya, kecemasan dapat menjadi faktor psikologis yang relevan dalam memengaruhi suatu kondisi medis, tetapi perhatian klinis berfokus pada dampak buruk yang ditimbulkan terhadap kondisi medis tersebut.
Berdasarkan definisinya, diagnosis faktor psikologis yang memengaruhi kondisi medis lainnya melibatkan adanya sindrom atau karakteristik psikologis maupun perilaku yang relevan serta suatu kondisi medis yang terjadi secara bersamaan sebagai komorbiditas.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.