Acute Stress Disorder
Paparan terhadap kematian yang nyata atau ancaman kematian, cedera serius, atau kekerasan seksual melalui satu (atau lebih) cara berikut: (1) Mengalami secara langsung peristiwa traumatis. (2) Menyaksikan secara langsung peristiwa traumatis yang terjadi pada orang lain. (3) Mengetahui bahwa peristiwa traumatis telah terjadi pada anggota keluarga dekat atau teman dekat. Catatan: Dalam kasus kematian yang nyata atau ancaman kematian terhadap anggota keluarga atau teman, peristiwa tersebut harus bersifat kekerasan atau kecelakaan. (4) Mengalami paparan berulang atau ekstrem terhadap rincian yang sangat tidak menyenangkan dari peristiwa traumatis (misalnya, petugas tanggap darurat yang mengumpulkan sisa-sisa jenazah manusia atau petugas kepolisian yang berulang kali terpapar rincian kasus kekerasan terhadap anak). Catatan: Hal ini tidak berlaku untuk paparan melalui media elektronik, televisi, film, atau gambar, kecuali apabila paparan tersebut berkaitan dengan pekerjaan.
Adanya sembilan (atau lebih) gejala berikut dari salah satu atau beberapa dari lima kategori, yaitu intrusi, suasana perasaan negatif, disosiasi, penghindaran, dan keterangsangan, yang mulai muncul atau memburuk setelah peristiwa traumatis terjadi: Gejala Intrusi: (1) Ingatan mengenai peristiwa traumatis yang menimbulkan distres, muncul secara berulang, tidak disengaja, dan intrusif. Catatan: Pada anak-anak, dapat muncul permainan berulang yang mengekspresikan tema atau aspek dari peristiwa traumatis. (2). Mimpi yang menimbulkan distres secara berulang, dengan isi dan/atau afek dalam mimpi tersebut berkaitan dengan peristiwa traumatis. Catatan: Pada anak-anak, dapat muncul mimpi yang menakutkan tanpa isi yang dapat dikenali. (3) Reaksi disosiatif (misalnya, flashback) ketika individu merasa atau bertindak seolah-olah peristiwa traumatis sedang terjadi kembali. (Reaksi tersebut dapat muncul dalam suatu kontinum, dengan manifestasi paling ekstrem berupa hilangnya kesadaran sepenuhnya terhadap lingkungan sekitar saat ini.) Catatan: Pada anak-anak, pengulangan kembali peristiwa traumatis secara spesifik dapat muncul dalam permainan. (4) Distres psikologis yang intens atau berkepanjangan atau reaksi fisiologis yang nyata sebagai respons terhadap isyarat internal atau eksternal yang melambangkan atau menyerupai suatu aspek dari peristiwa traumatis. Suasana Perasaan Negatif: (5) Ketidakmampuan yang menetap untuk mengalami emosi positif (misalnya, ketidakmampuan merasakan kebahagiaan, kepuasan, atau perasaan kasih sayang). Gejala Disosiatif: (6) Perubahan dalam persepsi mengenai realitas lingkungan sekitar atau diri sendiri (misalnya, melihat diri sendiri dari sudut pandang orang lain, berada dalam keadaan linglung, atau merasa waktu berjalan secara lambat). (7) Ketidakmampuan mengingat suatu aspek penting dari peristiwa traumatis (biasanya disebabkan oleh amnesia disosiatif dan bukan oleh faktor lain seperti cedera kepala, alkohol, atau obat-obatan). Gejala Penghindaran: (8) Upaya menghindari ingatan, pikiran, atau perasaan yang menimbulkan distres mengenai atau berkaitan erat dengan peristiwa traumatis. (9) Upaya menghindari pengingat eksternal (orang, tempat, percakapan, aktivitas, benda, atau situasi) yang membangkitkan ingatan, pikiran, atau perasaan yang menimbulkan distres mengenai atau berkaitan erat dengan peristiwa traumatis. Gejala Keterangsangan: (10) Gangguan tidur (misalnya, kesulitan memulai atau mempertahankan tidur, atau tidur yang gelisah). (11) Perilaku mudah tersinggung dan ledakan kemarahan (dengan sedikit atau tanpa provokasi), yang biasanya diekspresikan dalam bentuk agresi verbal atau fisik terhadap orang lain atau benda. (12) Kewaspadaan berlebihan (hypervigilance). (13) Masalah konsentrasi. (14) Respons terkejut yang berlebihan.
Durasi gangguan (gejala pada Kriteria B) berlangsung selama 3 hari hingga 1 bulan setelah paparan trauma. Catatan: Gejala biasanya mulai muncul segera setelah trauma, tetapi gejala harus menetap setidaknya selama 3 hari hingga 1 bulan untuk memenuhi kriteria gangguan.
Gangguan tersebut menyebabkan distres yang bermakna secara klinis atau gangguan keberfungsian dalam bidang sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya.
Gangguan tersebut tidak disebabkan oleh efek fisiologis suatu zat (misalnya, obat-obatan atau alkohol) atau kondisi medis lainnya (misalnya, cedera otak traumatis ringan) dan tidak dapat dijelaskan secara lebih baik oleh gangguan psikotik singkat.
Karakteristik utama gangguan stres akut adalah berkembangnya gejala-gejala khas yang berlangsung selama 3 hari hingga 1 bulan setelah paparan terhadap satu atau lebih peristiwa traumatis (Kriteria A), yang memiliki jenis yang sama sebagaimana dijelaskan dalam Kriteria A PTSD (untuk informasi lebih lanjut, lihat bagian “Karakteristik Diagnostik” pada PTSD).
Gambaran klinis gangguan stres akut dapat bervariasi pada setiap individu, tetapi biasanya melibatkan respons kecemasan yang mencakup beberapa bentuk pengalaman kembali peristiwa traumatis atau reaktivitas terhadap peristiwa tersebut. Gambaran klinis dapat mencakup gejala intrusi, suasana perasaan negatif, gejala disosiatif, gejala penghindaran, dan gejala keterangsangan (Kriteria B1–B14). Pada sebagian individu, gambaran disosiatif atau perasaan terlepas dapat menjadi gejala yang dominan, meskipun individu tersebut biasanya juga menunjukkan reaktivitas emosional atau fisiologis yang kuat sebagai respons terhadap pengingat trauma. Pada individu lainnya, dapat muncul respons kemarahan yang kuat, dengan reaktivitas yang ditandai oleh respons mudah tersinggung atau kemungkinan respons agresif.
Gejala intrusi (Kriteria B1–B4) sama dengan yang dijelaskan dalam Kriteria B1–B5 PTSD (untuk pembahasan gejala-gejala tersebut, lihat bagian “Karakteristik Diagnostik” pada PTSD; perlu diperhatikan bahwa Kriteria B4 gangguan stres akut mencakup Kriteria B4 dan B5 PTSD). Individu dengan gangguan stres akut dapat mengalami ketidakmampuan yang menetap untuk merasakan emosi positif (misalnya, kebahagiaan, kegembiraan, kepuasan, atau emosi yang berkaitan dengan keintiman, kelembutan, dan seksualitas), tetapi masih dapat mengalami emosi negatif seperti ketakutan, kesedihan, kemarahan, rasa bersalah, atau rasa malu (Kriteria B5). Perubahan kesadaran dapat mencakup depersonalisasi, yaitu perasaan terlepas dari diri sendiri (misalnya, melihat diri sendiri dari sisi lain ruangan), atau derealisasi, yaitu memiliki persepsi yang terdistorsi terhadap lingkungan sekitar (misalnya, merasa bahwa benda-benda bergerak secara lambat, melihat segala sesuatu dalam keadaan linglung, atau tidak menyadari peristiwa yang biasanya akan tersimpan dalam ingatan) (Kriteria B6). Sebagian individu juga melaporkan ketidakmampuan mengingat suatu aspek penting dari peristiwa traumatis yang diperkirakan sebelumnya telah tersimpan dalam ingatan. Gejala ini disebabkan oleh amnesia disosiatif dan bukan oleh cedera kepala, alkohol, atau obat-obatan (Kriteria B7). Stimulus yang berkaitan dengan trauma dihindari secara menetap. Individu umumnya melakukan upaya yang disengaja untuk menghindari pikiran, ingatan, atau perasaan (misalnya, dengan menggunakan teknik pengalihan perhatian atau penekanan, termasuk penggunaan zat, untuk menghindari pengingat internal) (Kriteria B8), serta menghindari aktivitas, percakapan, benda, situasi, atau orang yang membangkitkan ingatan mengenai peristiwa tersebut (Kriteria B9).
Sangat umum bagi individu dengan gangguan stres akut untuk mengalami masalah dalam memulai dan mempertahankan tidur, yang dapat berkaitan dengan mimpi buruk, kekhawatiran mengenai keselamatan, atau peningkatan keterangsangan secara umum yang mengganggu kecukupan tidur (Kriteria B10). Individu dengan gangguan stres akut dapat menunjukkan perilaku mudah tersinggung dan bahkan mungkin terlibat dalam perilaku agresif secara verbal atau fisik dengan sedikit atau tanpa provokasi (misalnya, membentak orang lain, terlibat perkelahian, atau merusak benda) (Kriteria B11). Gangguan stres akut sering ditandai oleh peningkatan kewaspadaan terhadap kemungkinan ancaman, baik yang berkaitan dengan pengalaman traumatis (misalnya, setelah mengalami kecelakaan kendaraan bermotor, menjadi sangat sensitif terhadap ancaman yang mungkin ditimbulkan oleh mobil atau truk) maupun yang tidak berkaitan dengan peristiwa traumatis (misalnya, takut mengalami serangan jantung) (Kriteria B12). Kesulitan konsentrasi (Kriteria B13) mencakup kesulitan mengingat informasi yang sudah dikenal (misalnya, lupa nomor telepon sendiri) atau kejadian sehari-hari (misalnya, bagian buku atau surat kabar yang baru saja dibaca), maupun kesulitan mempertahankan perhatian pada tugas tertentu (misalnya, mengikuti percakapan dalam waktu yang cukup lama).
Individu dengan gangguan stres akut dapat sangat reaktif terhadap stimulus yang tidak terduga, dengan menunjukkan respons terkejut yang meningkat atau reaksi tersentak terhadap suara keras (misalnya, ketika telepon berdering) atau gerakan yang tidak terduga (Kriteria B14). Respons terkejut bersifat tidak disengaja dan refleksif (otomatis dan seketika), dan stimulus yang menimbulkan respons terkejut berlebihan (Kriteria B14) tidak harus berkaitan dengan peristiwa traumatis.
Keseluruhan gambaran gejala harus berlangsung setidaknya selama 3 hari setelah peristiwa traumatis, tetapi tidak boleh berlangsung lebih dari 1 bulan (Kriteria C). Gejala yang muncul segera setelah peristiwa tersebut, tetapi menghilang dalam waktu kurang dari 3 hari, tidak memenuhi kriteria gangguan stres akut.
Individu dengan gangguan stres akut umumnya memiliki pikiran yang bersifat katastrofik atau sangat negatif mengenai peran mereka dalam peristiwa traumatis, respons mereka terhadap pengalaman traumatis, atau kemungkinan mengalami bahaya di masa depan. Sebagai contoh, individu dengan gangguan stres akut dapat merasa sangat bersalah karena tidak mampu mencegah peristiwa traumatis atau karena tidak berhasil beradaptasi dengan pengalaman tersebut secara lebih baik. Individu dengan gangguan stres akut juga dapat menafsirkan gejala yang mereka alami secara katastrofik, sehingga ingatan berupa flashback atau penumpulan emosi dapat diartikan sebagai tanda menurunnya kapasitas mental. Individu dengan gangguan stres akut umumnya mengalami serangan panik selama bulan pertama setelah paparan trauma, yang dapat dipicu oleh pengingat trauma atau tampaknya muncul secara spontan. Selain itu, individu dengan gangguan stres akut dapat menunjukkan perilaku yang kacau atau impulsif. Sebagai contoh, individu mungkin mengemudi secara sembrono, membuat keputusan yang tidak rasional, atau berjudi secara berlebihan. Pada anak-anak, dapat muncul kecemasan perpisahan yang bermakna, yang mungkin diwujudkan melalui kebutuhan berlebihan akan perhatian dari pengasuh. Dalam kasus kehilangan seseorang akibat kematian yang terjadi dalam keadaan traumatis, gejala gangguan stres akut dapat melibatkan reaksi duka akut. Dalam kasus tersebut, gejala mengalami kembali peristiwa traumatis, disosiatif, dan keterangsangan dapat melibatkan reaksi terhadap kehilangan, seperti ingatan intrusif mengenai keadaan saat orang tersebut meninggal, ketidakpercayaan bahwa orang tersebut telah meninggal, dan kemarahan terkait kematian tersebut. Gejala pascagegar otak (misalnya, sakit kepala, pusing, sensitivitas terhadap cahaya atau suara, iritabilitas, dan defisit konsentrasi), yang sering terjadi setelah cedera otak traumatis ringan (TBI), juga sering ditemukan pada individu dengan gangguan stres akut. Gejala pascagegar otak sama umumnya ditemukan pada populasi yang mengalami cedera otak maupun yang tidak mengalami cedera otak, dan seringnya kemunculan gejala pascagegar otak dapat disebabkan oleh gejala gangguan stres akut.
Prevalensi gangguan stres akut pada populasi yang baru mengalami paparan trauma (yaitu, dalam waktu 1 bulan setelah paparan trauma) bervariasi berdasarkan sifat peristiwa dan konteks asesmen yang dilakukan. Dalam penelitian yang dilakukan di Australia, Inggris, dan Amerika Serikat, gangguan stres akut diidentifikasi pada kurang dari 20% kasus setelah peristiwa traumatis yang tidak melibatkan serangan interpersonal, misalnya kecelakaan kendaraan bermotor, cedera otak traumatis ringan, luka bakar berat, dan kecelakaan industri. Angka yang lebih tinggi (yaitu, 19%–50%) biasanya ditemukan setelah peristiwa traumatis interpersonal (misalnya, penyerangan atau pemerkosaan).
Berdasarkan definisinya, gangguan stres akut tidak dapat didiagnosis sebelum 3 hari berlalu setelah peristiwa traumatis. Meskipun gangguan stres akut dapat berkembang menjadi gangguan stres pascatrauma (PTSD) setelah 1 bulan, gangguan ini juga dapat berupa respons stres sementara yang mengalami remisi dalam waktu 1 bulan setelah paparan trauma dan tidak berkembang menjadi PTSD. Sekitar setengah dari individu yang pada akhirnya mengembangkan PTSD pada awalnya menunjukkan gangguan stres akut. Analisis longitudinal menunjukkan bahwa gejala stres akut dapat mengalami remisi, tetap stabil, atau memburuk dari waktu ke waktu, terutama akibat stresor kehidupan yang terus berlangsung atau peristiwa traumatis tambahan.
Bentuk pengalaman kembali peristiwa traumatis dapat bervariasi sepanjang perkembangan. Berbeda dengan orang dewasa atau remaja, anak-anak usia dini dapat melaporkan mimpi menakutkan tanpa isi yang secara jelas mencerminkan aspek trauma (misalnya, terbangun dalam keadaan ketakutan setelah mengalami trauma, tetapi tidak mampu menghubungkan isi mimpi dengan peristiwa traumatis). Anak-anak berusia 6 tahun atau lebih muda lebih mungkin dibandingkan anak-anak yang lebih besar untuk mengekspresikan gejala mengalami kembali peristiwa traumatis melalui permainan yang secara langsung atau simbolis merujuk pada trauma. Sebagai contoh, anak yang masih sangat kecil dan selamat dari kebakaran mungkin menggambar api. Anak-anak usia dini juga tidak selalu menunjukkan reaksi ketakutan pada saat paparan atau bahkan selama mengalami kembali peristiwa traumatis. Orang tua biasanya melaporkan berbagai ekspresi emosional, seperti kemarahan, rasa malu, atau penarikan diri, bahkan afek positif yang tampak terlalu ceria pada anak-anak usia dini yang mengalami trauma. Meskipun anak-anak dapat menghindari pengingat trauma, terkadang mereka justru menunjukkan perhatian yang berlebihan terhadap pengingat tersebut (misalnya, seorang anak kecil yang pernah digigit anjing mungkin terus-menerus membicarakan anjing, tetapi menghindari keluar rumah karena takut bertemu dengan anjing).
Faktor risiko mencakup riwayat gangguan mental sebelumnya, tingkat respons emosional negatif yang tinggi seperti suasana perasaan depresif dan kecemasan (juga disebut afektivitas negatif atau neurotisisme), persepsi terhadap tingkat keparahan peristiwa traumatis yang lebih tinggi, serta gaya koping menghindar. Kecenderungan untuk memberikan penilaian katastrofik terhadap pengalaman traumatis, yang sering ditandai oleh penilaian berlebihan mengenai bahaya di masa depan, rasa bersalah, atau keputusasaan, merupakan prediktor yang kuat terhadap gangguan stres akut.
Pertama dan terutama, individu harus terpapar peristiwa traumatis agar memiliki risiko mengalami gangguan stres akut. Faktor risiko gangguan ini mencakup riwayat trauma sebelumnya.
Peningkatan reaktivitas, sebagaimana tercermin melalui respons terkejut terhadap rangsangan suara sebelum paparan trauma, meningkatkan risiko berkembangnya gangguan stres akut.
Profil gejala gangguan stres akut dapat bervariasi secara lintas budaya, terutama berkaitan dengan gejala disosiatif, mimpi buruk, penghindaran, dan gejala somatik (misalnya, pusing, sesak napas, sensasi panas, atau keluhan nyeri). Reaksi stres akut dapat dipengaruhi oleh nilai dan norma budaya mengenai ekspresi emosi yang ekstrem, bahkan dalam situasi yang luar biasa. Konsep budaya mengenai distres membentuk profil gejala gangguan stres akut yang ditemukan dalam konteks budaya setempat. Sebagian kelompok budaya dapat menunjukkan variasi respons disosiatif, seperti perilaku kesurupan atau perilaku menyerupai keadaan trans selama bulan pertama setelah paparan trauma. Gejala panik dapat menjadi karakteristik yang menonjol pada gangguan stres akut di kalangan masyarakat Kamboja karena adanya hubungan antara paparan traumatis dan serangan khyâl yang menyerupai serangan panik, sedangkan ataque de nervios pada masyarakat Amerika Latin juga dapat terjadi setelah paparan traumatis. Untuk informasi lebih lanjut mengenai konsep budaya tentang distres, lihat bab “Budaya dan Diagnosis Psikiatris” pada Bagian III.
Gangguan stres akut lebih banyak ditemukan pada perempuan dibandingkan laki-laki dalam penelitian yang dilakukan di berbagai negara. Peningkatan risiko gangguan ini pada perempuan dapat dikaitkan dengan kemungkinan yang lebih besar untuk terpapar jenis peristiwa traumatis yang memiliki risiko bersyarat tinggi terhadap gangguan stres akut, seperti pemerkosaan, bentuk kekerasan interpersonal lainnya, dan trauma masa kanak-kanak, termasuk kekerasan seksual. Faktor lain yang kemungkinan berkontribusi terhadap prevalensi yang lebih tinggi pada perempuan mencakup perbedaan gender dalam pemrosesan emosional dan kognitif terhadap trauma. Perbedaan neurobiologis yang berkaitan dengan jenis kelamin dalam respons terhadap stres serta faktor sosiokultural juga dapat berkontribusi terhadap peningkatan risiko gangguan stres akut pada perempuan.
Gangguan keberfungsian dalam bidang sosial, interpersonal, atau pekerjaan telah ditemukan pada penyintas kecelakaan, penyerangan, dan pemerkosaan yang mengembangkan gangguan stres akut. Tingkat kecemasan yang ekstrem yang mungkin berkaitan dengan gangguan stres akut dapat mengganggu tidur, tingkat energi, dan kemampuan untuk memusatkan perhatian pada tugas. Penghindaran pada gangguan stres akut dapat mengakibatkan penarikan diri secara umum dari berbagai situasi yang dianggap berpotensi mengancam, yang dapat menyebabkan individu tidak menghadiri janji pemeriksaan medis, menghindari mengemudi menuju janji penting, dan tidak masuk kerja.
Pada gangguan penyesuaian, stresor dapat memiliki tingkat keparahan apa pun, bukan harus memiliki tingkat keparahan dan jenis sebagaimana disyaratkan dalam Kriteria A gangguan stres akut. Diagnosis gangguan penyesuaian digunakan ketika respons terhadap peristiwa yang memenuhi Kriteria A tidak memenuhi kriteria gangguan stres akut (atau gangguan mental spesifik lainnya), serta ketika pola gejala gangguan stres akut muncul sebagai respons terhadap stresor yang tidak memenuhi Kriteria A berupa paparan terhadap kematian yang nyata atau ancaman kematian, cedera serius, atau kekerasan seksual (misalnya, ditinggalkan pasangan atau diberhentikan dari pekerjaan). Sebagai contoh, reaksi stres berat terhadap penyakit yang mengancam jiwa, yang mungkin mencakup beberapa gejala gangguan stres akut, dapat lebih tepat digambarkan sebagai gangguan penyesuaian. Beberapa bentuk respons stres akut tidak mencakup gejala gangguan stres akut dan dapat ditandai oleh kemarahan, depresi, atau rasa bersalah. Respons tersebut lebih tepat digambarkan terutama sebagai gangguan penyesuaian. Respons depresif atau kemarahan pada gangguan penyesuaian dapat melibatkan ruminasi mengenai peristiwa traumatis, berbeda dengan ingatan yang menimbulkan distres, muncul secara tidak disengaja dan intrusif, pada gangguan stres akut.
Serangan panik spontan sangat umum terjadi pada gangguan stres akut. Namun, gangguan panik hanya didiagnosis apabila serangan panik terjadi secara tidak terduga dan terdapat kecemasan mengenai serangan di masa depan atau perubahan perilaku maladaptif yang berkaitan dengan ketakutan terhadap konsekuensi buruk dari serangan tersebut.
Respons disosiatif yang berat (tanpa adanya gejala khas gangguan stres akut) dapat didiagnosis sebagai gangguan depersonalisasi-derealisasi. Apabila amnesia berat mengenai trauma menetap tanpa adanya gejala khas gangguan stres akut, diagnosis amnesia disosiatif dapat diindikasikan.
Gangguan stres akut dibedakan dari PTSD karena pola gejala pada gangguan stres akut harus menghilang dalam waktu 1 bulan setelah peristiwa traumatis. Apabila gejala menetap selama lebih dari 1 bulan dan memenuhi kriteria PTSD, diagnosis diubah dari gangguan stres akut menjadi PTSD.
Pada gangguan obsesif-kompulsif, terdapat pikiran intrusif yang berulang, tetapi pikiran tersebut memenuhi definisi obsesi. Selain itu, pikiran intrusif tersebut tidak berkaitan dengan peristiwa traumatis yang pernah dialami, kompulsi biasanya ditemukan, dan gejala gangguan stres akut lainnya umumnya tidak ada.
Flashback pada gangguan stres akut harus dibedakan dari ilusi, halusinasi, dan gangguan persepsi lainnya yang dapat terjadi pada skizofrenia, gangguan psikotik lainnya, gangguan depresif atau bipolar dengan karakteristik psikotik, delirium, gangguan yang diinduksi zat atau obat, serta gangguan psikotik akibat kondisi medis lainnya. Flashback pada gangguan stres akut dibedakan dari gangguan persepsi lainnya karena berkaitan secara langsung dengan pengalaman traumatis dan terjadi tanpa adanya karakteristik psikotik lainnya atau karakteristik yang diinduksi zat.
Ketika cedera otak terjadi dalam konteks peristiwa traumatis (misalnya, kecelakaan traumatis, ledakan bom, atau trauma akibat percepatan/perlambatan mendadak), gejala gangguan stres akut dapat muncul. Peristiwa yang menyebabkan trauma kepala juga dapat merupakan peristiwa traumatis secara psikologis, dan gejala neurokognitif yang berkaitan dengan cedera otak traumatis (TBI) tidak saling mengecualikan dengan gejala tersebut serta dapat terjadi secara bersamaan. Gejala yang sebelumnya disebut sebagai gejala pascagegar otak (misalnya, sakit kepala, pusing, sensitivitas terhadap cahaya atau suara, iritabilitas, dan defisit konsentrasi) dapat terjadi pada populasi yang mengalami cedera otak maupun yang tidak mengalami cedera otak, termasuk individu dengan gangguan stres akut. Karena gejala gangguan stres akut dan gejala neurokognitif yang berkaitan dengan TBI dapat saling tumpang tindih, diagnosis banding antara gangguan stres akut dan gejala gangguan neurokognitif yang disebabkan oleh TBI dapat dilakukan berdasarkan keberadaan gejala yang menjadi karakteristik pembeda dari masing-masing kondisi. Meskipun pengalaman kembali peristiwa traumatis dan penghindaran merupakan karakteristik gangguan stres akut dan bukan akibat TBI, disorientasi dan kebingungan yang menetap lebih spesifik terhadap TBI (efek neurokognitif) dibandingkan gangguan stres akut. Selain itu, pembedaan diagnosis juga terbantu oleh fakta bahwa gejala gangguan stres akut hanya menetap hingga 1 bulan setelah paparan trauma.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.