Obsessive-Compulsive Disorder
A. Adanya obsesi, kompulsi, atau keduanya:
Obsesi didefinisikan berdasarkan (1) dan (2):
Pikiran, dorongan, atau gambaran mental yang berulang dan menetap, yang pada suatu waktu selama berlangsungnya gangguan dialami sebagai sesuatu yang mengganggu dan tidak diinginkan, serta pada sebagian besar individu menyebabkan kecemasan atau distres yang nyata.
Individu berusaha mengabaikan atau menekan pikiran, dorongan, atau gambaran mental tersebut, atau menetralisasinya dengan pikiran atau tindakan lain (yaitu, dengan melakukan suatu kompulsi).
Kompulsi didefinisikan berdasarkan (1) dan (2):
Perilaku berulang (misalnya, mencuci tangan, menyusun benda, atau memeriksa sesuatu) atau tindakan mental (misalnya, berdoa, menghitung, atau mengulangi kata-kata dalam hati) yang dirasakan individu sebagai sesuatu yang harus dilakukan sebagai respons terhadap suatu obsesi atau berdasarkan aturan yang harus diterapkan secara kaku.
Perilaku atau tindakan mental tersebut bertujuan untuk mencegah atau mengurangi kecemasan atau distres, atau mencegah peristiwa maupun situasi yang ditakuti. Namun, perilaku atau tindakan mental tersebut tidak memiliki hubungan yang realistis dengan hal yang ingin dinetralisasi atau dicegah, atau jelas bersifat berlebihan.
Catatan: Anak-anak usia dini mungkin belum mampu mengungkapkan tujuan dari perilaku atau tindakan mental tersebut.
B. Obsesi atau kompulsi menghabiskan banyak waktu (misalnya, lebih dari 1 jam per hari) atau menyebabkan distres yang bermakna secara klinis atau gangguan keberfungsian dalam bidang sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya.
C. Gejala obsesif-kompulsif tidak disebabkan oleh efek fisiologis suatu zat (misalnya, zat yang disalahgunakan atau obat-obatan) maupun kondisi medis lainnya.
D. Gangguan tersebut tidak dapat dijelaskan secara lebih baik oleh gejala gangguan mental lainnya (misalnya, kekhawatiran berlebihan, seperti pada gangguan kecemasan menyeluruh; perhatian yang berlebihan terhadap penampilan, seperti pada gangguan dismorfik tubuh; kesulitan membuang atau melepaskan barang milik pribadi, seperti pada gangguan penimbunan; mencabuti rambut, seperti pada trikotilomania [gangguan mencabuti rambut]; mengorek kulit, seperti pada gangguan ekskoriasi [gangguan mengorek kulit]; gerakan stereotipik, seperti pada gangguan gerakan stereotipik; perilaku makan yang dilakukan secara ritualistik, seperti pada gangguan makan; perhatian yang berlebihan terhadap zat atau perjudian, seperti pada gangguan terkait zat dan adiktif; perhatian yang berlebihan terhadap kemungkinan mengalami suatu penyakit, seperti pada gangguan kecemasan penyakit; dorongan atau fantasi seksual, seperti pada gangguan parafilik; impuls, seperti pada gangguan disruptif, pengendalian impuls, dan perilaku; perenungan berulang mengenai rasa bersalah, seperti pada gangguan depresi mayor; penyisipan pikiran atau perhatian yang berlebihan terhadap keyakinan waham, seperti pada gangguan spektrum skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya; atau pola perilaku berulang, seperti pada gangguan spektrum autisme).
Tentukan Jika:
- Dengan tilikan baik atau cukup: Individu menyadari bahwa keyakinan yang berkaitan dengan gangguan obsesif-kompulsif pasti atau mungkin tidak benar, atau mungkin benar maupun tidak benar.
- Dengan tilikan buruk: Individu menganggap bahwa keyakinan yang berkaitan dengan gangguan obsesif-kompulsif kemungkinan benar.
- Dengan tidak adanya tilikan/keyakinan waham: Individu sepenuhnya yakin bahwa keyakinan yang berkaitan dengan gangguan obsesif-kompulsif adalah benar.
Tentukan Jika:
- Berkaitan dengan tik: Individu memiliki riwayat gangguan tik saat ini atau pada masa lalu.
Individu dengan gangguan obsesif-kompulsif (OCD) memiliki tingkat tilikan yang bervariasi mengenai ketepatan keyakinan yang mendasari gejala obsesif-kompulsif mereka. Banyak individu memiliki tilikan yang baik atau cukup (misalnya, individu meyakini bahwa rumahnya pasti tidak akan, kemungkinan tidak akan, atau mungkin akan maupun tidak akan terbakar apabila kompor tidak diperiksa sebanyak 30 kali). Sebagian individu memiliki tilikan yang buruk (misalnya, individu meyakini bahwa rumahnya kemungkinan akan terbakar apabila kompor tidak diperiksa sebanyak 30 kali), sedangkan sebagian kecil individu (4% atau kurang) tidak memiliki tilikan atau memiliki keyakinan waham (misalnya, individu sepenuhnya yakin bahwa rumahnya akan terbakar apabila kompor tidak diperiksa sebanyak 30 kali). Tingkat tilikan dapat berubah pada individu yang sama selama perjalanan gangguan. Tilikan yang lebih buruk telah dikaitkan dengan hasil jangka panjang yang lebih buruk.
Hingga 30% individu dengan OCD memiliki riwayat gangguan tik sepanjang hidup mereka. Kondisi ini paling umum ditemukan pada laki-laki dengan onset OCD pada masa kanak-kanak. Individu tersebut cenderung berbeda dari individu tanpa riwayat gangguan tik dalam hal tema gejala OCD, komorbiditas, perjalanan gangguan, dan pola transmisi dalam keluarga.
Gejala yang menjadi karakteristik OCD adalah adanya obsesi dan kompulsi (Kriteria A). Obsesi merupakan pikiran (misalnya, mengenai kontaminasi), gambaran mental (misalnya, adegan kekerasan atau mengerikan), atau dorongan (misalnya, dorongan untuk menusuk seseorang) yang berulang dan menetap. Hal yang penting adalah bahwa obsesi tidak memberikan kesenangan dan tidak dialami sebagai sesuatu yang dilakukan secara sukarela. Obsesi bersifat mengganggu, tidak diinginkan, dan menyebabkan distres atau kecemasan yang nyata pada sebagian besar individu. Individu berusaha mengabaikan atau menekan obsesi tersebut (misalnya, menghindari pemicu atau menggunakan penekanan pikiran) atau menetralisasinya dengan pikiran atau tindakan lain (misalnya, melakukan suatu kompulsi). Kompulsi (atau ritual) merupakan perilaku berulang (misalnya, mencuci atau memeriksa) atau tindakan mental (misalnya, menghitung atau mengulangi kata-kata dalam hati) yang dirasakan individu sebagai sesuatu yang harus dilakukan sebagai respons terhadap suatu obsesi atau berdasarkan aturan yang harus diterapkan secara kaku. Sebagian besar individu dengan OCD mengalami obsesi sekaligus kompulsi.
Obsesi dan kompulsi biasanya memiliki hubungan tematik (misalnya, pikiran mengenai kontaminasi yang berkaitan dengan ritual mencuci; pikiran mengenai bahaya yang berkaitan dengan pemeriksaan berulang). Individu sering melaporkan bahwa mereka melakukan kompulsi untuk mengurangi distres yang dipicu oleh obsesi atau untuk mencegah peristiwa yang ditakuti (misalnya, jatuh sakit). Namun, kompulsi tersebut tidak memiliki hubungan yang realistis dengan peristiwa yang ditakuti (misalnya, menyusun benda secara simetris untuk mencegah bahaya menimpa orang yang dicintai) atau jelas bersifat berlebihan (misalnya, mandi selama berjam-jam setiap hari). Kompulsi tidak dilakukan untuk memperoleh kesenangan, meskipun individu mungkin mengalami kelegaan sementara dari kecemasan atau distres.
Isi spesifik obsesi dan kompulsi bervariasi antarindividu. Namun, beberapa tema atau dimensi umum ditemukan, termasuk kebersihan (obsesi mengenai kontaminasi dan kompulsi membersihkan); simetri (obsesi mengenai simetri dan kompulsi mengulangi, menyusun, serta menghitung); pikiran yang dilarang atau dianggap tabu (misalnya, obsesi agresif, seksual, atau religius beserta kompulsi terkait); dan bahaya (misalnya, ketakutan akan bahaya yang menimpa diri sendiri atau orang lain serta kompulsi memeriksa). Sebagian individu juga mengalami kesulitan membuang barang dan menumpuk benda sebagai konsekuensi dari obsesi dan kompulsi yang khas (misalnya, ketakutan menyebabkan bahaya bagi orang lain). Kompulsi tersebut harus dibedakan dari perilaku penumpukan utama yang ditemukan pada gangguan penimbunan, yang dibahas kemudian dalam bab ini. Tema-tema tersebut ditemukan dalam berbagai budaya, relatif konsisten dari waktu ke waktu pada orang dewasa dengan gangguan ini, dan mungkin berkaitan dengan substrat saraf yang berbeda. Hal yang penting adalah bahwa individu sering memiliki gejala pada lebih dari satu dimensi.
Kriteria B menekankan bahwa obsesi dan kompulsi harus menghabiskan banyak waktu (misalnya, lebih dari 1 jam per hari) atau menyebabkan distres atau gangguan keberfungsian yang bermakna secara klinis agar diagnosis OCD dapat ditegakkan. Kriteria ini membantu membedakan gangguan tersebut dari pikiran mengganggu yang muncul sesekali atau perilaku berulang yang umum ditemukan dalam populasi umum (misalnya, memeriksa kembali apakah pintu sudah terkunci). Frekuensi dan tingkat keparahan obsesi serta kompulsi bervariasi pada individu dengan OCD (misalnya, sebagian individu memiliki gejala ringan hingga sedang dan menghabiskan 1–3 jam per hari untuk mengalami obsesi atau melakukan kompulsi, sedangkan individu lainnya mengalami pikiran mengganggu atau kompulsi yang hampir terus-menerus dan dapat menyebabkan ketidakmampuan).
Fenomena sensorik, yang didefinisikan sebagai pengalaman fisik (misalnya, sensasi fisik, sensasi bahwa sesuatu terasa “tepat”, dan perasaan bahwa sesuatu belum lengkap) yang mendahului kompulsi, umum ditemukan pada OCD. Hingga 60% individu dengan OCD melaporkan fenomena tersebut.
Individu dengan OCD mengalami berbagai respons afektif ketika menghadapi situasi yang memicu obsesi dan kompulsi. Sebagai contoh, banyak individu mengalami kecemasan yang nyata dan dapat mencakup serangan panik berulang. Individu lainnya melaporkan perasaan jijik yang kuat. Ketika melakukan kompulsi, sebagian individu melaporkan perasaan mengganggu bahwa sesuatu “belum lengkap” atau perasaan tidak nyaman hingga segala sesuatu terlihat, terasa, atau terdengar “benar-benar tepat”.
Individu dengan gangguan ini umumnya menghindari orang, tempat, dan benda yang memicu obsesi serta kompulsi. Sebagai contoh, individu yang memiliki kekhawatiran mengenai kontaminasi mungkin menghindari situasi publik (misalnya, restoran atau toilet umum) untuk mengurangi paparan terhadap sumber kontaminasi yang ditakuti. Individu yang mengalami pikiran mengganggu mengenai kemungkinan menyebabkan bahaya mungkin menghindari interaksi sosial.
Banyak individu dengan OCD memiliki keyakinan disfungsional. Keyakinan tersebut dapat mencakup rasa tanggung jawab yang berlebihan dan kecenderungan melebih-lebihkan ancaman; perfeksionisme dan intoleransi terhadap ketidakpastian; serta pemberian makna yang berlebihan terhadap pikiran (misalnya, meyakini bahwa memiliki pikiran yang dilarang sama buruknya dengan benar-benar melakukan tindakan tersebut) dan kebutuhan untuk mengendalikan pikiran. Namun, keyakinan tersebut tidak spesifik hanya pada OCD. Keterlibatan anggota keluarga atau teman dalam ritual kompulsif, yang disebut akomodasi, dapat memperburuk atau mempertahankan gejala dan merupakan sasaran penting dalam pengobatan, terutama pada anak-anak.
Prevalensi OCD selama 12 bulan di Amerika Serikat adalah 1,2%, dengan prevalensi yang serupa secara internasional (termasuk Kanada, Puerto Riko, Jerman, Taiwan, Korea, dan Selandia Baru; 1,1%–1,8%). Pada masa dewasa, perempuan mengalami gangguan ini dengan angka yang sedikit lebih tinggi dibandingkan laki-laki, meskipun pada masa kanak-kanak laki-laki lebih sering mengalami gangguan tersebut.
Di Amerika Serikat, rata-rata usia onset OCD adalah 19,5 tahun, dan 25% kasus dimulai pada usia 14 tahun. Onset setelah usia 35 tahun merupakan hal yang tidak umum, tetapi tetap dapat terjadi. Laki-laki memiliki usia onset yang lebih dini dibandingkan perempuan: hampir 25% laki-laki mengalami onset sebelum usia 10 tahun. Onset gejala biasanya terjadi secara bertahap; namun, onset akut juga dapat terjadi.
Apabila OCD tidak diobati, perjalanan gangguan biasanya bersifat kronis, sering kali disertai peningkatan dan penurunan intensitas gejala. Sebagian individu mengalami perjalanan gangguan yang bersifat episodik, sedangkan sebagian kecil mengalami perjalanan gangguan yang semakin memburuk. Tanpa pengobatan, angka remisi pada orang dewasa tergolong rendah (misalnya, 20% pada individu yang dievaluasi kembali 40 tahun kemudian). Onset pada masa kanak-kanak atau remaja dapat menyebabkan OCD berlangsung sepanjang hidup. Namun, 40% individu dengan onset OCD pada masa kanak-kanak atau remaja mungkin mengalami remisi ketika mencapai masa dewasa awal. Perjalanan OCD sering kali diperumit oleh kemunculan gangguan lain secara bersamaan (lihat bagian “Komorbiditas” untuk gangguan ini).
Kompulsi lebih mudah didiagnosis pada anak-anak dibandingkan obsesi karena kompulsi biasanya dapat diamati. Namun, sebagian besar anak-anak mengalami obsesi sekaligus kompulsi (sebagaimana sebagian besar orang dewasa). Pola gejala pada orang dewasa dapat tetap stabil dari waktu ke waktu, tetapi lebih bervariasi pada anak-anak. Beberapa perbedaan dalam isi obsesi dan kompulsi telah dilaporkan ketika sampel anak-anak dan remaja dibandingkan dengan sampel orang dewasa. Perbedaan tersebut kemungkinan mencerminkan isi yang sesuai dengan tahap perkembangan yang berbeda (misalnya, angka obsesi seksual dan religius yang lebih tinggi pada remaja dibandingkan anak-anak; angka obsesi mengenai bahaya [misalnya, ketakutan terhadap peristiwa katastrofik, seperti kematian atau penyakit yang menimpa diri sendiri atau orang yang dicintai] yang lebih tinggi pada anak-anak dan remaja dibandingkan orang dewasa).
Gejala internalisasi yang lebih tinggi, emosionalitas negatif yang lebih tinggi, dan inhibisi perilaku pada masa kanak-kanak merupakan faktor temperamental yang mungkin meningkatkan risiko.
Berbagai faktor lingkungan dapat meningkatkan risiko OCD. Faktor-faktor tersebut mencakup peristiwa perinatal yang merugikan, kelahiran prematur, penggunaan tembakau oleh ibu selama kehamilan, kekerasan fisik dan seksual pada masa kanak-kanak, serta peristiwa lain yang menimbulkan stres atau trauma. Sebagian anak mungkin mengalami onset gejala obsesif-kompulsif secara tiba-tiba, yang telah dikaitkan dengan berbagai faktor lingkungan, termasuk beragam agen infeksi dan sindrom autoimun pascainfeksi.
Angka OCD pada kerabat tingkat pertama dari orang dewasa dengan OCD sekitar dua kali lebih tinggi dibandingkan kerabat tingkat pertama dari individu tanpa gangguan tersebut. Namun, pada kerabat tingkat pertama dari individu dengan onset OCD pada masa kanak-kanak atau remaja, angka tersebut meningkat hingga 10 kali lipat. Transmisi dalam keluarga sebagian disebabkan oleh faktor genetik (misalnya, tingkat konkordansi sebesar 0,57 pada kembar monozigotik dibandingkan 0,22 pada kembar dizigotik). Penelitian pada kembar menunjukkan bahwa efek genetik aditif menjelaskan sekitar 40% varians gejala obsesif-kompulsif. Disfungsi pada korteks orbitofrontal, korteks singulat anterior, dan striatum merupakan bagian yang paling kuat dikaitkan dengan OCD. Perubahan pada jaringan frontolimbik, frontoparietal, dan serebelar juga telah dilaporkan.
OCD ditemukan di seluruh dunia. Terdapat kesamaan yang cukup besar antarbudaya dalam hal distribusi berdasarkan gender, usia onset, dan komorbiditas OCD. Selain itu, di berbagai wilayah dunia terdapat struktur gejala yang serupa, meliputi kebersihan, simetri, penimbunan, pikiran tabu, dan ketakutan terhadap bahaya. Namun, terdapat variasi regional dalam ekspresi gejala, dan faktor budaya dapat membentuk isi obsesi dan kompulsi. Sebagai contoh, obsesi yang berkaitan dengan konten seksual mungkin lebih jarang dilaporkan pada kelompok agama dan budaya tertentu, sedangkan obsesi yang berkaitan dengan kekerasan dan agresi mungkin lebih umum ditemukan di lingkungan dengan prevalensi kekerasan perkotaan yang lebih tinggi. Atribusi mengenai gejala OCD bervariasi antarbudaya, termasuk penyebab fisik, sosial, spiritual, dan supranatural. Kompulsi tertentu dan pilihan dalam mencari pertolongan dapat diperkuat oleh atribusi budaya tersebut.
Laki-laki memiliki usia onset OCD yang lebih dini dibandingkan perempuan, sering kali pada masa kanak-kanak, dan lebih mungkin mengalami gangguan tik sebagai komorbid. Onset pada anak perempuan biasanya terjadi pada masa remaja; pada orang dewasa, OCD sedikit lebih umum ditemukan pada perempuan dibandingkan laki-laki. Perbedaan berdasarkan gender dalam pola dimensi gejala telah dilaporkan. Sebagai contoh, perempuan lebih mungkin memiliki gejala pada dimensi kebersihan, sedangkan laki-laki lebih mungkin memiliki gejala pada dimensi pikiran yang dilarang dan simetri. Onset atau perburukan OCD, serta gejala yang dapat mengganggu hubungan ibu dan bayi (misalnya, obsesi agresif berupa pikiran kekerasan yang mengganggu mengenai kemungkinan menyakiti bayi sehingga menyebabkan ibu menghindari bayinya), telah dilaporkan selama periode peripartum. Sebagian perempuan juga melaporkan perburukan gejala OCD sebelum menstruasi.
Sebuah tinjauan literatur sistematis mengenai ide bunuh diri dan percobaan bunuh diri pada sampel klinis individu dengan OCD dari berbagai negara menemukan rata-rata angka percobaan bunuh diri sepanjang hidup sebesar 14,2%, rata-rata angka ide bunuh diri sepanjang hidup sebesar 44,1%, dan rata-rata angka ide bunuh diri saat ini sebesar 25,9%. Faktor-faktor yang memprediksi peningkatan risiko bunuh diri meliputi tingkat keparahan OCD, dimensi gejala berupa pikiran yang tidak dapat diterima, tingkat keparahan gejala depresif dan kecemasan komorbid, serta riwayat perilaku atau pikiran bunuh diri sebelumnya. Tinjauan sistematis internasional lainnya terhadap 48 penelitian menemukan hubungan bermakna dengan kekuatan sedang hingga tinggi antara ide bunuh diri atau percobaan bunuh diri dan OCD.
Sebuah penelitian potong lintang terhadap 582 pasien rawat jalan dengan OCD di Brasil menemukan bahwa 36% melaporkan pikiran bunuh diri sepanjang hidup, 20% pernah membuat rencana bunuh diri, 11% pernah melakukan percobaan bunuh diri, dan 10% menunjukkan pikiran bunuh diri saat ini. Dimensi seksual/religius pada OCD dan gangguan penggunaan zat komorbid berkaitan dengan pikiran bunuh diri dan rencana bunuh diri. Gangguan pengendalian impuls berkaitan dengan pikiran bunuh diri saat ini serta rencana dan percobaan bunuh diri, sedangkan riwayat komorbid gangguan depresi mayor dan gangguan stres pascatrauma (PTSD) sepanjang hidup berkaitan dengan seluruh aspek perilaku bunuh diri.
Dalam sebuah penelitian yang menggunakan data registri nasional Swedia dan melibatkan 36.788 individu dengan OCD serta subjek kontrol dari populasi umum yang dipadankan, individu dengan OCD memiliki risiko kematian akibat bunuh diri yang lebih tinggi (OR = 9,8) dan risiko percobaan bunuh diri yang lebih tinggi (OR = 5,5). Peningkatan risiko untuk kedua luaran tersebut tetap substansial bahkan setelah dilakukan penyesuaian terhadap komorbiditas psikiatris. Gangguan kepribadian atau gangguan penggunaan zat yang muncul sebagai komorbid meningkatkan risiko bunuh diri, sedangkan jenis kelamin perempuan, tingkat pendidikan orang tua yang lebih tinggi, dan gangguan kecemasan komorbid merupakan faktor protektif.
OCD berkaitan dengan penurunan kualitas hidup serta tingkat gangguan keberfungsian sosial dan pekerjaan yang tinggi. Gangguan keberfungsian terjadi dalam berbagai bidang kehidupan dan berkaitan dengan tingkat keparahan gejala. Gangguan keberfungsian dapat disebabkan oleh waktu yang dihabiskan untuk mengalami obsesi dan melakukan kompulsi. Penghindaran terhadap situasi yang dapat memicu obsesi atau kompulsi juga dapat sangat mengganggu keberfungsian. Selain itu, gejala tertentu dapat menimbulkan hambatan yang spesifik. Sebagai contoh, obsesi mengenai bahaya dapat menyebabkan hubungan dengan keluarga dan teman terasa berisiko, sehingga individu mungkin menghindari hubungan tersebut. Obsesi mengenai simetri dapat menghambat penyelesaian tugas sekolah atau proyek pekerjaan tepat waktu karena hasil pekerjaan tidak pernah terasa “benar-benar tepat”, yang berpotensi menyebabkan kegagalan di sekolah atau kehilangan pekerjaan. Konsekuensi terhadap kesehatan juga dapat terjadi. Sebagai contoh, individu dengan kekhawatiran mengenai kontaminasi mungkin menghindari tempat praktik dokter dan rumah sakit (misalnya, karena ketakutan terhadap paparan kuman) atau mengalami masalah dermatologis (misalnya, lesi kulit akibat mencuci secara berlebihan). Terkadang, gejala gangguan tersebut menghambat pengobatan terhadap gangguan itu sendiri (misalnya, ketika obat-obatan dianggap telah terkontaminasi). Apabila gangguan dimulai pada masa kanak-kanak atau remaja, individu mungkin mengalami kesulitan perkembangan. Sebagai contoh, remaja mungkin menghindari interaksi sosial dengan teman sebaya, sedangkan orang dewasa muda mungkin mengalami kesulitan ketika meninggalkan rumah untuk hidup secara mandiri. Akibatnya, individu mungkin hanya memiliki sedikit hubungan yang bermakna di luar keluarga serta mengalami kurangnya otonomi dan kemandirian finansial dari keluarga asal. Selain itu, sebagian individu dengan OCD berusaha memberlakukan aturan dan larangan kepada anggota keluarga akibat obsesi mereka (misalnya, tidak seorang pun dalam keluarga diperbolehkan menerima tamu di rumah karena ketakutan terhadap kontaminasi), dan hal ini dapat menyebabkan disfungsi keluarga.
Pikiran berulang, perilaku menghindar, dan permintaan peneguhan yang berulang juga dapat terjadi pada gangguan kecemasan. Namun, pikiran berulang yang ditemukan pada gangguan kecemasan menyeluruh (yaitu, kekhawatiran) biasanya berkaitan dengan persoalan kehidupan nyata, sedangkan obsesi pada OCD biasanya tidak berkaitan dengan persoalan kehidupan nyata dan dapat mencakup isi yang aneh, tidak rasional, atau tampaknya bersifat magis. Selain itu, kompulsi biasanya ditemukan dan umumnya berkaitan dengan obsesi. Seperti individu dengan OCD, individu dengan fobia spesifik dapat mengalami respons ketakutan terhadap objek atau situasi tertentu. Namun, pada fobia spesifik, objek yang ditakuti biasanya jauh lebih terbatas dan tidak terdapat ritual. Pada gangguan kecemasan sosial, objek atau situasi yang ditakuti terbatas pada interaksi sosial atau situasi ketika individu harus menunjukkan kinerja, sedangkan perilaku menghindar atau mencari peneguhan berfokus pada pengurangan perasaan malu.
OCD perlu dibedakan dari perenungan berulang pada gangguan depresi mayor, ketika pikiran biasanya selaras dengan suasana perasaan dan tidak selalu dialami sebagai sesuatu yang mengganggu atau menimbulkan distres. Selain itu, perenungan berulang tidak berkaitan dengan kompulsi sebagaimana yang biasanya ditemukan pada OCD.
Pada gangguan dismorfik tubuh, obsesi dan kompulsi terbatas pada kekhawatiran mengenai penampilan fisik. Pada trikotilomania (gangguan mencabuti rambut), perilaku kompulsif terbatas pada tindakan mencabuti rambut tanpa adanya obsesi. Gejala gangguan penimbunan secara khusus berfokus pada kesulitan menetap untuk membuang atau melepaskan barang milik pribadi, distres yang nyata terkait dengan membuang barang, dan penumpukan benda secara berlebihan. Namun, apabila individu memiliki obsesi yang khas pada OCD (misalnya, kekhawatiran mengenai sesuatu yang belum lengkap atau bahaya), dan obsesi tersebut menyebabkan penumpukan secara kompulsif (misalnya, memperoleh seluruh benda dalam satu kelompok untuk mencapai perasaan lengkap atau tidak membuang surat kabar lama karena mungkin mengandung informasi yang dapat mencegah bahaya), maka diagnosis OCD harus ditegakkan sebagai gantinya.
OCD dapat dibedakan dari anoreksia nervosa karena pada OCD, obsesi dan kompulsi tidak terbatas pada kekhawatiran mengenai berat badan dan makanan.
Tik merupakan gerakan motorik atau vokalisasi yang tiba-tiba, cepat, berulang, dan tidak berirama (misalnya, berkedip atau berdeham). Gerakan stereotipik merupakan perilaku motorik berulang yang tampaknya didorong oleh suatu keharusan dan tidak memiliki fungsi tertentu (misalnya, membenturkan kepala, menggoyangkan tubuh, atau menggigit diri sendiri). Tik dan gerakan stereotipik biasanya kurang kompleks dibandingkan kompulsi dan tidak bertujuan menetralisasi obsesi. Namun, membedakan tik kompleks dari kompulsi dapat menjadi sulit. Sementara kompulsi biasanya didahului oleh obsesi, tik sering didahului oleh dorongan sensorik yang menjadi pertanda awal. Sebagian individu memiliki gejala OCD sekaligus gangguan tik, sehingga kedua diagnosis dapat ditegakkan apabila diperlukan.
Sebagian individu dengan OCD memiliki tilikan yang buruk atau bahkan keyakinan terkait OCD yang bersifat waham. Namun, mereka mengalami obsesi dan kompulsi (yang membedakan kondisi mereka dari gangguan waham) serta tidak menunjukkan karakteristik lain dari skizofrenia atau gangguan skizoafektif (misalnya, halusinasi atau pembicaraan yang tidak terorganisasi). Pada individu dengan gejala OCD yang memenuhi syarat untuk penanda “dengan tidak adanya tilikan/keyakinan waham”, gejala-gejala tersebut tidak boleh didiagnosis sebagai gangguan psikotik.
Perilaku tertentu terkadang digambarkan sebagai “kompulsif”, termasuk perilaku seksual (dalam kasus parafilia), perjudian (yaitu, gangguan perjudian), dan penggunaan zat (misalnya, gangguan penggunaan alkohol). Namun, perilaku-perilaku tersebut berbeda dari kompulsi pada OCD karena individu biasanya memperoleh kesenangan dari aktivitas tersebut dan mungkin hanya ingin menahannya karena konsekuensi merugikan yang ditimbulkannya.
Meskipun gangguan kepribadian obsesif-kompulsif dan OCD memiliki nama yang serupa, manifestasi klinis kedua gangguan tersebut sangat berbeda. Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif tidak ditandai oleh pikiran, gambaran mental, atau dorongan yang mengganggu maupun perilaku berulang yang dilakukan sebagai respons terhadap gejala mengganggu tersebut. Sebaliknya, gangguan ini melibatkan pola maladaptif yang menetap dan menyeluruh berupa perfeksionisme berlebihan dan pengendalian yang kaku. Apabila individu menunjukkan gejala OCD sekaligus gangguan kepribadian obsesif-kompulsif, kedua diagnosis dapat ditegakkan.
Individu dengan OCD sering mengalami psikopatologi lainnya. Banyak orang dewasa dengan gangguan ini di Amerika Serikat memiliki diagnosis gangguan kecemasan sepanjang hidup (76%; misalnya, gangguan panik, gangguan kecemasan sosial, gangguan kecemasan menyeluruh, atau fobia spesifik) atau gangguan depresif maupun bipolar (63% untuk gangguan depresif atau bipolar apa pun, dengan yang paling umum adalah gangguan depresi mayor [41%]). Diagnosis gangguan pengendalian impuls sepanjang hidup (56%) atau gangguan penggunaan zat (39%) juga umum ditemukan. Onset OCD biasanya terjadi lebih lambat dibandingkan sebagian besar gangguan kecemasan komorbid (dengan pengecualian gangguan kecemasan perpisahan) dan gangguan stres pascatrauma, tetapi sering mendahului onset gangguan depresif. Dalam sebuah penelitian terhadap 214 orang dewasa di Amerika Serikat yang mencari pengobatan dan memenuhi kriteria OCD berdasarkan DSM-IV pada saat asesmen awal, gangguan kepribadian obsesif-kompulsif komorbid ditemukan pada 23%–32% individu yang diikuti secara longitudinal.
Hingga 30% individu dengan OCD juga memiliki riwayat gangguan tik sepanjang hidup mereka. Gangguan tik komorbid paling umum ditemukan pada laki-laki dengan onset OCD pada masa kanak-kanak. Individu tersebut cenderung berbeda dari individu tanpa riwayat gangguan tik dalam hal tema gejala OCD, komorbiditas, perjalanan gangguan, dan pola transmisi dalam keluarga. Kombinasi tiga gangguan berupa OCD, gangguan tik, dan gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas juga dapat ditemukan pada anak-anak.
Beberapa gangguan obsesif-kompulsif dan gangguan terkait lainnya, termasuk gangguan dismorfik tubuh, trikotilomania, dan gangguan ekskoriasi (mengorek kulit), juga lebih sering terjadi pada individu dengan OCD dibandingkan individu tanpa OCD.
OCD juga jauh lebih umum ditemukan pada individu dengan gangguan tertentu lainnya dibandingkan yang diperkirakan berdasarkan prevalensinya dalam populasi umum. Apabila salah satu gangguan lain tersebut didiagnosis, individu juga perlu menjalani asesmen untuk OCD. Sebagai contoh, pada individu dengan skizofrenia atau gangguan skizoafektif, prevalensi OCD adalah sekitar 12%. Angka OCD juga meningkat pada gangguan bipolar; gangguan makan, seperti anoreksia nervosa dan bulimia nervosa; gangguan dismorfik tubuh; serta gangguan Tourette.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.