F94.1 7_01

Gangguan Kelekatan Reaktif

Reactive Attachment Disorder

DSM-5-TR 2x dibaca

Kriteria Diagnostik

  1. Pola perilaku yang konsisten berupa penghambatan dan penarikan diri secara emosional terhadap pengasuh dewasa, yang ditunjukkan oleh kedua hal berikut: (1) Anak jarang atau hampir tidak pernah mencari kenyamanan ketika mengalami distres. (2) Anak jarang atau hampir tidak pernah memberikan respons terhadap upaya pemberian kenyamanan ketika mengalami distres.
  2. Gangguan sosial dan emosional yang menetap, yang ditandai oleh sedikitnya dua hal berikut: (1) Respons sosial dan emosional yang sangat terbatas terhadap orang lain. (2) Afek positif yang terbatas. (3) Episode iritabilitas, kesedihan, atau ketakutan yang tidak dapat dijelaskan, yang tampak bahkan selama interaksi yang tidak mengancam dengan pengasuh dewasa.
  3. Anak telah mengalami pola pengasuhan yang sangat tidak memadai, yang dibuktikan oleh sedikitnya satu hal berikut: (1) Pengabaian atau deprivasi sosial berupa tidak terpenuhinya kebutuhan emosional dasar akan kenyamanan, stimulasi, dan kasih sayang secara terus-menerus oleh orang dewasa yang mengasuh anak. (2) Pergantian pengasuh utama secara berulang yang membatasi kesempatan untuk membentuk kelekatan yang stabil (misalnya, seringnya pergantian pengasuhan dalam sistem pengasuhan anak pengganti). (3) Pengasuhan dalam lingkungan yang tidak lazim yang sangat membatasi kesempatan untuk membentuk kelekatan selektif (misalnya, lembaga pengasuhan dengan rasio jumlah anak terhadap pengasuh yang tinggi).
  4. Pola pengasuhan pada Kriteria C diperkirakan bertanggung jawab atas gangguan perilaku pada Kriteria A (misalnya, gangguan pada Kriteria A mulai muncul setelah anak mengalami kurangnya pengasuhan yang memadai sebagaimana dijelaskan dalam Kriteria C).
  5. Kriteria gangguan spektrum autisme tidak terpenuhi.
  6. Gangguan tersebut tampak sebelum usia 5 tahun.
  7. GAnak memiliki usia perkembangan setidaknya 9 bulan.

Tentukan Jika:

Menetap: Gangguan telah berlangsung selama lebih dari 12 bulan.

Tentukan Tingkat Keparahan Saat Ini:

Gangguan kelekatan reaktif ditentukan sebagai berat apabila anak menunjukkan seluruh gejala gangguan, dengan setiap gejala muncul pada tingkat yang relatif tinggi.

Karakteristik Diagnostik

Gangguan kelekatan reaktif ditandai oleh pola perilaku kelekatan yang sangat terganggu dan tidak sesuai dengan tahap perkembangan, ketika anak jarang atau hampir tidak pernah secara khusus mencari figur kelekatan untuk memperoleh kenyamanan, dukungan, perlindungan, dan pengasuhan. Karakteristik utamanya adalah tidak adanya atau sangat kurang berkembangnya kelekatan antara anak dan orang dewasa yang berperan sebagai pengasuh. Anak-anak dengan gangguan kelekatan reaktif diyakini memiliki kemampuan untuk membentuk kelekatan selektif. Namun, karena terbatasnya kesempatan selama perkembangan awal, mereka gagal menunjukkan manifestasi perilaku kelekatan selektif. Artinya, ketika mengalami distres, mereka tidak menunjukkan upaya yang konsisten untuk memperoleh kenyamanan, dukungan, pengasuhan, atau perlindungan dari pengasuh. Selain itu, ketika mengalami distres, anak-anak dengan gangguan ini hanya memberikan respons yang sangat terbatas terhadap upaya pengasuh untuk memberikan kenyamanan. Dengan demikian, gangguan ini berkaitan dengan tidak adanya perilaku mencari kenyamanan dan respons terhadap upaya pemberian kenyamanan sebagaimana yang diharapkan. Oleh karena itu, anak-anak dengan gangguan kelekatan reaktif menunjukkan penurunan atau tidak adanya ekspresi emosi positif selama interaksi rutin dengan pengasuh. Selain itu, kemampuan regulasi emosi mereka mengalami gangguan, dan mereka menunjukkan episode emosi negatif berupa ketakutan, kesedihan, atau iritabilitas yang tidak mudah dijelaskan. Diagnosis gangguan kelekatan reaktif tidak boleh ditegakkan pada anak-anak yang secara perkembangan belum mampu membentuk kelekatan selektif. Oleh karena itu, anak harus memiliki usia perkembangan setidaknya 9 bulan. Asesmen diagnostik menjadi lebih baik dengan adanya informasi dari berbagai sumber yang mendukung bahwa gejala tampak dalam berbagai konteks.

Karakteristik Penyerta

Karena memiliki hubungan etiologis yang sama dengan pengabaian sosial, gangguan kelekatan reaktif sering muncul bersamaan dengan keterlambatan perkembangan, terutama keterlambatan dalam bidang kognitif dan bahasa. Karakteristik penyerta lainnya mencakup perilaku stereotipik dan tanda-tanda pengabaian berat lainnya (misalnya, malnutrisi atau tanda-tanda pengasuhan yang buruk).

Prevalensi

Prevalensi gangguan kelekatan reaktif belum diketahui, tetapi gangguan ini relatif jarang ditemukan dalam lingkungan klinis. Gangguan ini ditemukan pada anak-anak usia dini yang mengalami pengabaian berat sebelum ditempatkan dalam pengasuhan anak pengganti atau dibesarkan di lembaga pengasuhan. Gangguan ini tergolong tidak umum, biasanya terjadi pada kurang dari 10% anak yang mengalami pengabaian, bahkan dalam kasus pengabaian berat.

Perkembangan dan Perjalanan Gangguan

Kondisi pengabaian sosial sering kali telah terjadi sejak bulan-bulan pertama kehidupan pada anak-anak yang didiagnosis mengalami gangguan kelekatan reaktif, bahkan sebelum gangguan tersebut didiagnosis. Karakteristik klinis gangguan ini menunjukkan manifestasi yang serupa antara usia 9 bulan hingga 5 tahun. Artinya, tanda-tanda tidak adanya atau sangat terbatasnya perilaku kelekatan serta perilaku emosional abnormal yang menyertainya tampak pada anak-anak sepanjang rentang usia tersebut, meskipun perbedaan kemampuan kognitif dan motorik dapat memengaruhi bagaimana perilaku tersebut diekspresikan. Perbaikan dan pemulihan gejala dapat terjadi melalui lingkungan pengasuhan yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan. Namun, tanpa adanya peningkatan kualitas pengasuhan, tanda-tanda gangguan tersebut dapat menetap, setidaknya selama beberapa tahun. Tanda-tanda gangguan kelekatan reaktif yang menetap pada masa remaja awal dapat berkaitan dengan masalah keberfungsian sosial. Masih sedikit yang diketahui mengenai gambaran klinis gangguan kelekatan reaktif pada anak-anak yang lebih besar, sehingga diagnosis harus ditegakkan dengan hati-hati pada anak-anak yang berusia lebih dari 5 tahun.

Faktor Risiko dan Prognostik

Faktor Lingkungan

Pengabaian sosial yang berat merupakan persyaratan diagnostik untuk gangguan kelekatan reaktif dan juga merupakan satu-satunya faktor risiko yang telah diketahui untuk gangguan ini. Namun, sebagian besar anak yang mengalami pengabaian berat tidak mengembangkan gangguan tersebut. Prognosis pada anak-anak dengan gangguan ini tampaknya bergantung pada kualitas lingkungan pengasuhan setelah mengalami pengabaian berat.

Isu Diagnostik Terkait Budaya

Informasi mengenai perilaku kelekatan reaktif pada anak-anak usia dini dari berbagai latar belakang budaya di seluruh dunia masih terbatas. Harapan budaya mengenai perilaku kelekatan dan praktik pengasuhan dapat memengaruhi perkembangan pola perilaku tersebut, perhatian terhadap pola perilaku tersebut, serta manifestasinya dalam berbagai lingkungan. Kehati-hatian diperlukan ketika menegakkan diagnosis gangguan kelekatan reaktif dalam konteks budaya yang belum pernah menjadi objek penelitian mengenai kelekatan. Gejala gangguan kelekatan reaktif mungkin lebih umum ditemukan dalam situasi ketika figur kelekatan telah mengalami trauma yang luas, seperti di wilayah konflik atau perang. Gaya kelekatan juga dapat bervariasi pada anak-anak migran dan pengungsi selama periode pemukiman kembali. Variasi dalam praktik pengasuhan yang memberikan perhatian dan kasih sayang dapat memengaruhi risiko gangguan kelekatan reaktif.

Konsekuensi Fungsional Gangguan Kelekatan Reaktif

Gangguan kelekatan reaktif secara bermakna mengganggu kemampuan anak-anak usia dini untuk menjalin hubungan interpersonal dengan orang dewasa atau teman sebaya dan berkaitan dengan gangguan keberfungsian dalam berbagai bidang kehidupan pada masa kanak-kanak awal.

Diagnosis Banding

Gangguan Spektrum Autisme

Perilaku sosial yang abnormal tampak pada anak-anak usia dini dengan gangguan kelekatan reaktif, tetapi perilaku tersebut juga merupakan karakteristik utama gangguan spektrum autisme. Secara khusus, anak-anak usia dini dengan salah satu dari kedua kondisi tersebut dapat menunjukkan penurunan ekspresi emosi positif, keterlambatan perkembangan kognitif dan bahasa, serta gangguan dalam timbal balik sosial. Oleh karena itu, gangguan kelekatan reaktif harus dibedakan dari gangguan spektrum autisme. Kedua gangguan ini dapat dibedakan berdasarkan perbedaan riwayat pengabaian serta keberadaan minat yang terbatas atau perilaku ritualistik, defisit spesifik dalam komunikasi sosial, dan perilaku kelekatan selektif. Anak-anak dengan gangguan kelekatan reaktif memiliki riwayat pengabaian sosial yang berat, meskipun tidak selalu memungkinkan untuk memperoleh riwayat yang terperinci mengenai sifat pengalaman mereka secara tepat, terutama pada evaluasi awal. Anak-anak dengan gangguan spektrum autisme hanya jarang memiliki riwayat pengabaian sosial. Minat yang terbatas dan perilaku berulang yang menjadi karakteristik gangguan spektrum autisme bukan merupakan karakteristik gangguan kelekatan reaktif. Karakteristik klinis tersebut diwujudkan dalam bentuk kepatuhan yang berlebihan terhadap ritual dan rutinitas, minat yang terbatas dan terfiksasi, serta respons sensorik yang tidak lazim. Namun, penting untuk diperhatikan bahwa anak-anak dengan kedua kondisi tersebut dapat menunjukkan perilaku stereotipik, seperti menggoyangkan tubuh atau mengepakkan tangan. Anak-anak dengan kedua gangguan tersebut juga dapat menunjukkan berbagai tingkat keberfungsian intelektual, tetapi hanya anak-anak dengan gangguan spektrum autisme yang menunjukkan gangguan selektif dalam perilaku komunikasi sosial, seperti komunikasi yang disengaja (yaitu, gangguan dalam komunikasi yang dilakukan secara sengaja, berorientasi pada tujuan, dan ditujukan untuk memengaruhi perilaku penerima pesan). Anak-anak dengan gangguan kelekatan reaktif menunjukkan keberfungsian komunikasi sosial yang sebanding dengan tingkat keberfungsian intelektual mereka secara keseluruhan. Terakhir, anak-anak dengan gangguan spektrum autisme secara umum menunjukkan perilaku kelekatan yang khas sesuai dengan tingkat perkembangan mereka. Sebaliknya, anak-anak dengan gangguan kelekatan reaktif hanya jarang atau secara tidak konsisten menunjukkan perilaku tersebut, bahkan mungkin sama sekali tidak menunjukkannya. Observasi terstruktur dapat membantu membedakan kedua gangguan tersebut.

Gangguan Perkembangan Intelektual (Disabilitas Intelektual)

Keterlambatan perkembangan sering menyertai gangguan kelekatan reaktif, tetapi tidak boleh disalahartikan sebagai gangguan tersebut. Anak-anak dengan gangguan perkembangan intelektual seharusnya menunjukkan keterampilan sosial dan emosional yang sebanding dengan kemampuan kognitif mereka dan tidak menunjukkan penurunan afek positif yang sangat nyata serta kesulitan regulasi emosi sebagaimana yang tampak pada anak-anak dengan gangguan kelekatan reaktif. Selain itu, anak-anak dengan keterlambatan perkembangan yang telah mencapai usia kognitif 7–9 bulan seharusnya menunjukkan kelekatan selektif tanpa memandang usia kronologis mereka. Sebaliknya, anak-anak dengan gangguan kelekatan reaktif menunjukkan tidak adanya kelekatan yang diutamakan terhadap figur tertentu meskipun telah mencapai usia perkembangan setidaknya 9 bulan.

Gangguan Depresif

Depresi pada anak-anak usia dini juga berkaitan dengan penurunan afek positif. Namun, terdapat bukti yang terbatas untuk menunjukkan bahwa anak-anak dengan gangguan depresif mengalami gangguan dalam kelekatan. Artinya, anak-anak usia dini yang telah didiagnosis mengalami gangguan depresif seharusnya tetap mencari dan memberikan respons terhadap upaya pengasuh untuk memberikan kenyamanan.

Komorbiditas

Kondisi yang berkaitan dengan pengabaian, termasuk keterlambatan kognitif, keterlambatan bahasa, dan perilaku stereotipik, sering muncul bersamaan dengan gangguan kelekatan reaktif. Kondisi medis, seperti malnutrisi berat, dapat menyertai tanda-tanda gangguan tersebut. Gejala internalisasi juga dapat muncul bersamaan dengan gangguan kelekatan reaktif. Hubungan antara gangguan kelekatan reaktif dan masalah perilaku eksternalisasi atau gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (ADHD) telah dikemukakan, tetapi belum dapat dipastikan secara jelas.

Bagikan:

Siap Memulai Psikotes Online Anda?

Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.

Pilih Layanan Lihat Semua Alat Tes Hubungi Kami
Hubungi Kami