F43.8 7_06

Gangguan Duka Berkepanjangan

Prolonged Grief Disorder

DSM-5-TR 1x dibaca

Kriteria Diagnostik

  1. Kematian seseorang yang memiliki hubungan dekat dengan individu yang berduka, yang telah terjadi setidaknya 12 bulan sebelumnya (untuk anak-anak dan remaja, setidaknya 6 bulan sebelumnya).
  2. Sejak kematian tersebut, berkembang respons duka yang menetap dan ditandai oleh satu atau kedua gejala berikut, yang muncul hampir sepanjang hari dengan tingkat yang bermakna secara klinis. Selain itu, gejala tersebut terjadi hampir setiap hari selama setidaknya satu bulan terakhir: (1) Kerinduan atau keinginan yang sangat kuat untuk bertemu kembali dengan orang yang telah meninggal. (2) Perhatian yang berlebihan terhadap pikiran atau ingatan mengenai orang yang telah meninggal (pada anak-anak dan remaja, perhatian yang berlebihan dapat berfokus pada keadaan atau peristiwa yang menyebabkan kematian).
  3. Sejak kematian tersebut, sedikitnya tiga gejala berikut muncul hampir sepanjang hari dengan tingkat yang bermakna secara klinis. Selain itu, gejala-gejala tersebut terjadi hampir setiap hari selama setidaknya satu bulan terakhir: (1) Gangguan identitas sejak kematian tersebut (misalnya, merasa seolah-olah sebagian dari dirinya ikut meninggal). (2) Perasaan tidak percaya yang sangat nyata terhadap kenyataan bahwa orang tersebut telah meninggal. (3) Penghindaran terhadap pengingat bahwa orang tersebut telah meninggal (pada anak-anak dan remaja, hal ini dapat ditandai oleh upaya menghindari pengingat tersebut). (4) Rasa sakit emosional yang intens (misalnya, kemarahan, kepahitan, atau kesedihan mendalam) yang berkaitan dengan kematian tersebut. (5) Kesulitan untuk kembali terlibat dalam hubungan dan aktivitas setelah kematian tersebut (misalnya, kesulitan berinteraksi dengan teman, mengejar minat, atau merencanakan masa depan). (6) Penumpulan emosi (tidak adanya atau penurunan yang sangat nyata dalam pengalaman emosional) sebagai akibat dari kematian tersebut. (7) Perasaan bahwa kehidupan tidak memiliki makna sebagai akibat dari kematian tersebut. (8) Kesepian yang sangat intens sebagai akibat dari kematian tersebut.
  4. Gangguan tersebut menyebabkan distres yang bermakna secara klinis atau gangguan keberfungsian dalam bidang sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya.
  5. Durasi dan tingkat keparahan reaksi duka secara jelas melampaui norma sosial, budaya, atau agama yang diharapkan dalam budaya dan konteks kehidupan individu.
  6. Gejala-gejala tersebut tidak dapat dijelaskan secara lebih baik oleh gangguan mental lainnya, seperti gangguan depresif mayor atau gangguan stres pascatrauma, dan tidak disebabkan oleh efek fisiologis suatu zat (misalnya, obat-obatan atau alkohol) maupun kondisi medis lainnya.

Karakteristik Diagnostik

Gangguan duka berkepanjangan merupakan reaksi duka maladaptif yang berlangsung lama dan hanya dapat didiagnosis setelah setidaknya 12 bulan (6 bulan pada anak-anak dan remaja) berlalu sejak kematian seseorang yang memiliki hubungan dekat dengan individu yang berduka (Kriteria A). Meskipun secara umum rentang waktu ini dapat secara andal membedakan duka normal dari duka yang terus berlangsung dengan tingkat keparahan tinggi dan mengganggu keberfungsian, durasi duka yang adaptif dapat bervariasi antarindividu dan antarbudaya. Kondisi ini melibatkan berkembangnya respons duka yang menetap, yang ditandai oleh kerinduan atau keinginan yang sangat kuat untuk bertemu kembali dengan orang yang telah meninggal (sering disertai kesedihan mendalam dan sering menangis) atau perhatian yang berlebihan terhadap pikiran atau ingatan mengenai orang yang telah meninggal, meskipun pada anak-anak dan remaja perhatian yang berlebihan tersebut dapat berfokus pada keadaan atau peristiwa yang menyebabkan kematian. Kerinduan atau keinginan yang sangat kuat maupun perhatian yang berlebihan tersebut muncul hampir sepanjang hari dengan tingkat yang bermakna secara klinis dan terjadi hampir setiap hari selama setidaknya satu bulan terakhir (Kriteria B). Selain itu, sejak kematian tersebut, sedikitnya tiga gejala tambahan telah muncul hampir sepanjang hari dengan tingkat yang bermakna secara klinis dan terjadi hampir setiap hari selama setidaknya satu bulan terakhir. Gejala-gejala tersebut mencakup gangguan identitas sejak kematian tersebut (misalnya, merasa seolah-olah sebagian dari dirinya ikut meninggal) (Kriteria C1); perasaan tidak percaya yang sangat nyata terhadap kematian tersebut (Kriteria C2); penghindaran terhadap pengingat bahwa orang tersebut telah meninggal, yang pada anak-anak dan remaja dapat ditandai oleh upaya menghindari pengingat (Kriteria C3); rasa sakit emosional yang intens (misalnya, kemarahan, kepahitan, atau rasa bersalah) sejak kematian tersebut (Kriteria C4); kesulitan untuk kembali terlibat dalam hubungan pribadi dan aktivitas sejak kematian tersebut (misalnya, kesulitan berinteraksi dengan teman, mengejar minat, atau merencanakan masa depan) (Kriteria C5); penumpulan emosi (tidak adanya atau penurunan yang sangat nyata dalam pengalaman emosional) sebagai akibat dari kematian tersebut (Kriteria C6); perasaan bahwa kehidupan tidak memiliki makna sebagai akibat dari kematian tersebut (Kriteria C7); atau kesepian yang sangat intens sebagai konsekuensi dari kematian tersebut (Kriteria C8).

Gejala gangguan duka berkepanjangan harus menyebabkan distres yang bermakna secara klinis atau gangguan keberfungsian dalam bidang sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya pada individu yang berduka (Kriteria D). Sifat, durasi, dan tingkat keparahan reaksi duka harus secara jelas melampaui norma sosial, budaya, atau agama yang diharapkan dalam budaya dan konteks kehidupan individu (Kriteria E). Meskipun terdapat variasi dalam bagaimana duka dapat bermanifestasi, gejala gangguan duka berkepanjangan ditemukan pada berbagai gender serta kelompok sosial dan budaya yang beragam.

Karakteristik Penyerta

Individu dengan gejala gangguan duka berkepanjangan sering mengalami kognisi maladaptif mengenai diri sendiri, perasaan bersalah yang berkaitan dengan kematian, serta penurunan harapan mengenai lamanya kehidupan di masa depan dan tujuan hidup. Keluhan somatik umumnya menyertai kondisi ini dan dapat berkaitan dengan depresi dan kecemasan komorbid, gangguan identitas sosial, serta peningkatan kunjungan ke layanan kesehatan; gejala somatik tersebut dapat berkaitan dengan gejala yang pernah dialami oleh orang yang telah meninggal (misalnya, perubahan nafsu makan). Perilaku kesehatan yang merugikan akibat berkurangnya perawatan diri dan kepedulian terhadap diri sendiri juga umum ditemukan pada individu dengan gejala gangguan duka berkepanjangan. Halusinasi mengenai orang yang telah meninggal (misalnya, mendengar suara orang yang telah meninggal) dapat terjadi selama proses duka normal, tetapi mungkin lebih umum ditemukan pada individu dengan gejala gangguan duka berkepanjangan; halusinasi yang dialami individu dengan gejala gangguan duka berkepanjangan dapat berkaitan dengan gangguan identitas sosial dan tujuan hidup akibat kematian tersebut (misalnya, kebingungan mengenai peran seseorang dalam kehidupan atau perasaan bahwa kehidupan tidak bermakna). Karakteristik penyerta lainnya dari gangguan duka berkepanjangan mencakup kepahitan, kemarahan, atau kegelisahan; menyalahkan orang lain atas kematian tersebut; serta penurunan kuantitas dan kualitas tidur.

Prevalensi

Prevalensi gangguan duka berkepanjangan berdasarkan DSM-5 pada orang dewasa belum diketahui. Meta-analisis terhadap penelitian di empat benua yang menggunakan definisi berbeda untuk gangguan duka berkepanjangan dengan durasi setidaknya 6 bulan setelah kehilangan menunjukkan prevalensi gabungan sebesar 9,8%. Namun, terdapat heterogenitas metodologis yang cukup besar antarpenelitian (misalnya, dalam definisi gejala, alat ukur, dan durasi masa berduka), yang memengaruhi temuan prevalensi. Populasi dengan tingkat paparan trauma yang tinggi mungkin memiliki angka prevalensi yang lebih tinggi. Rata-rata prevalensi gambaran duka berkepanjangan mungkin lebih tinggi di negara-negara Barat berpendapatan tinggi dibandingkan dengan negara-negara Asia berpendapatan tinggi dan menengah-atas, tetapi penelitian terbaru di Tiongkok menunjukkan angka yang lebih tinggi dan variasi yang cukup besar. Prevalensi gangguan duka kompleks menetap (yang tercantum dalam DSM-5 Bagian III, “Kondisi untuk Penelitian Lebih Lanjut”) pada remaja di Amerika Serikat yang mengalami kehilangan dalam komunitas diperkirakan sebesar 18%.

Perkembangan dan Perjalanan Gangguan

Data mengenai perjalanan gangguan duka berkepanjangan sepanjang rentang kehidupan masih terbatas. Gejala biasanya mulai muncul dalam beberapa bulan pertama setelah kematian, meskipun mungkin terdapat keterlambatan sebelum keseluruhan sindrom muncul. Bukti awal menunjukkan bahwa perjalanan gangguan dapat berlangsung sangat lama pada orang tua setelah kematian seorang anak. Perjalanan gangguan duka berkepanjangan dapat diperumit oleh gangguan stres pascatrauma yang muncul sebagai komorbid, yang lebih umum ditemukan dalam situasi duka setelah kematian orang yang dicintai akibat kekerasan (misalnya, pembunuhan atau bunuh diri), ketika pengalaman berduka dapat disertai ancaman terhadap kehidupan individu sendiri dan/atau pengalaman menyaksikan kematian yang penuh kekerasan dan berpotensi mengerikan. Usia yang lebih tua dapat berkaitan dengan risiko yang lebih tinggi untuk mengembangkan gangguan ini setelah kematian orang yang dicintai. Orang dewasa yang lebih tua dengan gejala gangguan duka berkepanjangan mungkin memiliki peningkatan risiko penurunan kognitif progresif.

Pada anak-anak, distres dapat diekspresikan melalui permainan dan perilaku, regresi perkembangan, serta perilaku cemas atau protes pada saat perpisahan dan pertemuan kembali. Anak-anak usia dini dapat mengalami gejala gangguan duka berkepanjangan dengan cara-cara tertentu sesuai dengan usia mereka. Kehilangan pengasuh utama dapat menjadi pengalaman yang sangat traumatis bagi anak usia dini, mengingat dampak ketidakhadiran pengasuh yang dapat mengganggu keteraturan kehidupan anak. Anak-anak usia dini dapat menunjukkan protes atau menjadi marah ketika aktivitas pengasuhan sehari-hari dilakukan secara berbeda dari cara yang biasa dilakukan oleh orang yang telah meninggal (misalnya, memasak, penerapan disiplin, atau rutinitas menjelang tidur). Mereka dapat mengekspresikan rasa tidak aman yang sangat kuat mengenai masa depan, yang sering diwujudkan melalui kekhawatiran mengenai kesehatan dan keselamatan pengasuh serta diri mereka sendiri, disertai pertanyaan berulang mengenai kematian. Mereka mungkin berusaha mencari orang yang telah meninggal karena belum memahami bahwa kematian bersifat permanen. Anak-anak usia dini cenderung menunjukkan manifestasi somatik, seperti gangguan tidur, makan, pencernaan, dan tingkat energi. Mereka dapat mengekspresikan kerinduan melalui pikiran dan permainan sebagai keinginan untuk benar-benar bertemu kembali secara fisik dengan orang yang telah meninggal guna mengatasi rasa sakit akibat perpisahan fisik (misalnya, memanjat tangga menuju surga atau berbaring di dalam tanah di samping orang tua). Anak-anak usia dini biasanya belum memahami atau mampu menggambarkan penumpulan emosi, sedangkan remaja mungkin menggambarkannya sebagai “tidak merasakan apa-apa”.

Pada anak-anak dan remaja, perhatian yang berlebihan dan terus-menerus terhadap keadaan yang menyebabkan kematian dapat melibatkan fokus pada aspek-aspek yang menimbulkan distres dari kemunduran kondisi fisik selama berlangsungnya penyakit yang berakibat fatal dan/atau ketidakmampuan pengasuh menjalankan fungsi pengasuhan yang penting. Gangguan identitas dapat mencakup perasaan bahwa diri mereka sangat berbeda dari orang lain, yang sering muncul sebagai respons terhadap pengingat kehilangan (misalnya, membuat kartu Hari Ibu di sekolah atau melihat seorang teman menikmati hobi bersama saudara kandungnya). Anak-anak dan remaja dapat menunjukkan keengganan untuk bergabung dengan orang dewasa dalam aktivitas yang menjadi pengingat kehilangan, baik secara verbal, melalui perilaku, maupun melalui penarikan diri secara emosional. Mereka mungkin mengalami rasa sakit emosional yang intens karena merasa kehilangan atau “dirampas” kesempatan memperoleh bantuan dari orang yang telah meninggal dalam menjalani tugas-tugas perkembangan yang sedang berlangsung (misalnya, ketika mulai mengalami menstruasi). Distres perpisahan dapat menjadi gejala yang dominan pada anak-anak yang lebih muda, sedangkan distres akibat gangguan identitas sosial (misalnya, kebingungan mengenai tujuan hidup) dan risiko depresi komorbid dapat semakin tampak pada anak-anak yang lebih besar dan remaja.

Kegagalan mencapai tonggak perkembangan dan transisi yang sesuai dengan usia merupakan salah satu manifestasi dari kegagalan untuk kembali menjalankan peran-peran kehidupan. Pada anak-anak yang lebih besar dan remaja, perasaan bahwa kehidupan tidak memiliki makna tanpa orang yang telah meninggal dapat mencakup tindakan menyerah terhadap aspirasi perkembangan (“Tidak ada gunanya berusaha jika mereka tidak bisa berada di sini”), tidak memedulikan perilaku berisiko (“Memangnya kenapa jika saya terluka atau meninggal?”), atau merasa bahwa masa depan mereka telah “hancur”. Anak-anak yang lebih besar dan remaja dapat merasa khawatir akan mengalami nasib yang sama dengan orang yang telah meninggal, termasuk kematian dini. Kesepian dapat semakin intens ketika individu menyimpan dukanya sendiri, terkadang karena tidak ingin menambah distres pengasuh yang juga sedang berduka atau untuk menghindari stigma yang diperkirakan akan muncul dari teman sebaya.

Faktor Risiko dan Prognostik

Faktor Lingkungan

Risiko munculnya gejala gangguan duka berkepanjangan meningkat akibat ketergantungan yang lebih besar terhadap orang yang telah meninggal sebelum kematiannya, kematian seorang anak, kematian akibat kekerasan atau yang terjadi secara tidak terduga, serta stresor ekonomi. Gangguan ini memiliki prevalensi yang lebih tinggi setelah kematian pasangan atau anak dibandingkan dengan kematian anggota keluarga yang memiliki hubungan kekerabatan lainnya. Gangguan dalam ketersediaan dan dukungan pengasuh meningkatkan risiko pada anak-anak yang mengalami kehilangan.

Isu Diagnostik Terkait Budaya

Gejala gangguan duka berkepanjangan ditemukan dalam berbagai konteks budaya, tetapi respons duka dapat bermanifestasi dengan cara-cara yang khas secara budaya, termasuk dalam durasi yang diharapkan, serta menunjukkan variasi sepanjang sejarah. Sebagai contoh, di berbagai budaya, mimpi buruk mengenai orang yang telah meninggal dapat sangat menimbulkan distres karena makna yang dikaitkan dengan mimpi tersebut; prevalensi halusinasi mengenai orang yang telah meninggal atau gejala somatik yang berkaitan dengan duka dapat bervariasi; dan ekspresi tidak langsung dari gangguan keberfungsian yang berkaitan dengan gangguan duka berkepanjangan (misalnya, perilaku tidak sehat seperti mengonsumsi alkohol atau kurangnya perawatan diri) mungkin lebih umum daripada ekspresi duka secara langsung. Ketidakmampuan melaksanakan ritual pemakaman dalam beberapa budaya dapat memperburuk gejala gangguan duka berkepanjangan, kemungkinan karena adanya penafsiran mengenai dampaknya terhadap status spiritual orang yang telah meninggal. Beberapa penelitian menunjukkan prevalensi gejala gangguan duka berkepanjangan yang lebih tinggi pada kelompok Afrika-Amerika dibandingkan dengan kelompok kulit putih non-Hispanik; penyebab peningkatan tersebut memerlukan penelitian lebih lanjut dalam bidang-bidang seperti perbedaan paparan terhadap kematian mendadak atau akibat kekerasan. Perbedaan praktik berkabung dapat berkontribusi terhadap ketentuan atau larangan budaya mengenai ekspresi duka tertentu, dan norma budaya mengenai status sosial individu yang berduka dapat memengaruhi intensitas serta durasi duka, seperti perbedaan tingkat dukungan atau penerimaan masyarakat terhadap pernikahan kembali berdasarkan gender individu yang berduka. Diagnosis gangguan ini mensyaratkan bahwa respons yang berat dan menetap melampaui norma budaya mengenai respons duka serta tidak dapat dijelaskan secara lebih baik oleh ritual berkabung yang khas secara budaya.

Isu Diagnostik Terkait Jenis Kelamin dan Gender

Beberapa penelitian menemukan prevalensi gangguan atau tingkat keparahan gejala yang lebih tinggi pada perempuan yang mengalami kehilangan, tetapi penelitian lainnya menyimpulkan bahwa perbedaan berdasarkan gender tersebut kecil dan/atau tidak bermakna secara statistik.

Hubungan dengan Pikiran atau Perilaku Bunuh Diri

Individu dengan gejala gangguan duka berkepanjangan memiliki peningkatan risiko ideasi bunuh diri, bahkan setelah dilakukan penyesuaian terhadap pengaruh depresi mayor dan PTSD. Hubungan antara gejala gangguan duka berkepanjangan dan ideasi bunuh diri ditemukan secara konsisten sepanjang rentang kehidupan dan di berbagai negara. Namun, literatur yang tersedia belum dapat memastikan apakah ideasi bunuh diri yang berkaitan dengan gejala gangguan duka berkepanjangan berhubungan dengan peningkatan kejadian perilaku bunuh diri. Stigma, isolasi, terhambatnya rasa memiliki, penghindaran, dan distres psikologis pada individu yang berduka berkaitan dengan ideasi bunuh diri. Dibandingkan dengan individu yang mengalami kehilangan akibat penyebab tanpa kekerasan, individu yang gejala gangguan duka berkepanjangannya timbul akibat kehilangan karena kekerasan (misalnya, pembunuhan, bunuh diri, atau kecelakaan) memiliki risiko ideasi bunuh diri yang lebih tinggi. Demikian pula, individu yang mengalami kematian seorang anak, terutama apabila anak tersebut berusia kurang dari 25 tahun, lebih mungkin mengembangkan gejala gangguan duka berkepanjangan yang berkaitan dengan ideasi bunuh diri.

Konsekuensi Fungsional Gangguan Duka Berkepanjangan

Gejala gangguan duka berkepanjangan berkaitan dengan gangguan keberfungsian dalam bidang pekerjaan dan sosial serta perilaku kesehatan yang merugikan, seperti peningkatan penggunaan tembakau dan alkohol. Gejala tersebut juga berkaitan dengan peningkatan risiko yang nyata terhadap kondisi medis serius, termasuk penyakit jantung, hipertensi, kanker, defisiensi imunologis, serta penurunan kualitas hidup. Konsekuensi perkembangan jangka panjang pada anak-anak dan remaja mencakup putus sekolah sebelum waktunya, penurunan aspirasi pendidikan, dan pencapaian akademik yang lebih rendah; perempuan muda khususnya mungkin merasa ragu untuk menikah ketika memasuki masa dewasa. Gangguan keberfungsian kognitif dapat berkaitan dengan gejala gangguan duka berkepanjangan, terutama pada individu usia paruh baya dan orang dewasa yang lebih tua.

Diagnosis Banding

Duka Normal

Gangguan duka berkepanjangan dibedakan dari duka normal berdasarkan adanya reaksi duka yang berat dan menetap selama setidaknya 12 bulan (6 bulan pada anak-anak atau remaja) setelah kematian seseorang yang memiliki hubungan dekat dengan individu yang berduka. Gangguan duka berkepanjangan hanya didiagnosis apabila respons duka dengan tingkat keparahan yang tinggi menetap selama durasi yang telah ditentukan setelah kematian, mengganggu kemampuan individu untuk berfungsi, dan melampaui norma budaya, sosial, atau agama. Dalam mengevaluasi persyaratan bahwa gejala yang bermakna secara klinis harus muncul hampir sepanjang hari selama satu bulan terakhir, perlu diperhatikan bahwa peningkatan tingkat keparahan duka yang sangat nyata dapat terjadi dalam proses duka normal pada tanggal-tanggal yang mengingatkan individu terhadap kehilangan, seperti peringatan hari kematian, ulang tahun, ulang tahun pernikahan, dan hari libur tertentu; peningkatan keparahan duka tersebut dengan sendirinya, tanpa adanya duka yang menetap pada waktu-waktu lainnya, tidak menjadi bukti adanya gangguan duka berkepanjangan.

Gangguan Depresif

Gangguan duka berkepanjangan, gangguan depresif mayor, dan gangguan depresif persisten memiliki beberapa gejala yang sama, termasuk suasana perasaan yang rendah, menangis, dan pikiran bunuh diri. Namun, pada gangguan duka berkepanjangan, distres berfokus pada perasaan kehilangan dan perpisahan dari orang yang dicintai, bukan mencerminkan suasana perasaan rendah yang bersifat menyeluruh. Gangguan depresif mayor juga dapat didahului oleh kematian orang yang dicintai, baik dengan maupun tanpa gangguan duka berkepanjangan sebagai komorbiditas.

Gangguan Stres Pascatrauma

Individu yang mengalami kehilangan akibat kematian karena kekerasan atau kecelakaan dapat mengembangkan PTSD dan gangguan duka berkepanjangan secara bersamaan. Kedua kondisi tersebut dapat melibatkan pikiran intrusif dan penghindaran. Sementara intrusi pada PTSD berpusat pada peristiwa traumatis (yang mungkin menyebabkan kematian orang yang dicintai), ingatan intrusif pada gangguan duka berkepanjangan berfokus pada pikiran mengenai berbagai aspek hubungan dengan orang yang telah meninggal, termasuk aspek positif dari hubungan tersebut dan distres akibat perpisahan. Berbeda dengan penghindaran pada PTSD, yang diwujudkan melalui penghindaran ingatan, pikiran, atau perasaan yang berkaitan dengan peristiwa traumatis yang menyebabkan kematian orang yang dicintai (misalnya, ingatan mengenai kecelakaan mobil fatal yang menyebabkan kematian orang tersebut), penghindaran pada gangguan duka berkepanjangan berfokus pada pengingat bahwa orang yang dicintai tidak lagi hadir (misalnya, menghindari aktivitas yang dahulu dilakukan bersama orang yang telah meninggal). Selain itu, pengalaman kembali ingatan pada PTSD cenderung lebih bersifat perseptual, ketika individu melaporkan bahwa ingatan tersebut terasa seolah-olah sedang terjadi pada “saat ini dan di tempat ini”, yang biasanya tidak terjadi pada gangguan duka berkepanjangan. Pada gangguan duka berkepanjangan juga terdapat kerinduan terhadap orang yang telah meninggal, yang tidak ditemukan pada PTSD.

Gangguan Kecemasan Perpisahan

Gangguan kecemasan perpisahan ditandai oleh kecemasan mengenai perpisahan dari figur kelekatan yang masih hidup dan saat ini hadir dalam kehidupan individu, sedangkan gangguan duka berkepanjangan melibatkan distres mengenai perpisahan dari seseorang yang telah meninggal.

Gangguan Psikotik

Halusinasi mengenai orang yang telah meninggal (misalnya, melihat orang yang telah meninggal duduk di kursi favoritnya) atau sensasi sementara mengenai kehadiran orang yang telah meninggal (misalnya, melalui sentuhan, suara, atau penglihatan) umum ditemukan dalam berbagai budaya selama proses duka normal, dapat dialami sebagai sesuatu yang menenangkan, dan sering terjadi ketika individu mulai tertidur (hipnagogik). Untuk memperoleh diagnosis gangguan psikotik, individu dengan gangguan duka berkepanjangan juga harus menunjukkan gejala psikosis lainnya, seperti waham, pikiran yang tidak terorganisasi, atau gejala negatif.

Komorbiditas

Gangguan komorbid yang paling umum ditemukan bersama gejala gangguan duka berkepanjangan adalah gangguan depresif mayor, PTSD, dan gangguan penggunaan zat. PTSD lebih sering muncul sebagai komorbid dengan gejala gangguan duka berkepanjangan apabila kematian terjadi dalam keadaan yang melibatkan kekerasan atau kecelakaan. Gangguan kecemasan perpisahan yang melibatkan figur kelekatan utama yang masih hidup juga dapat muncul sebagai komorbid dengan gejala gangguan duka berkepanjangan.

Bagikan:

Siap Memulai Psikotes Online Anda?

Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.

Pilih Layanan Lihat Semua Alat Tes Hubungi Kami
Hubungi Kami