Dissociative Identity Disorder
Gangguan identitas yang ditandai oleh dua atau lebih keadaan kepribadian yang berbeda, yang dalam beberapa budaya dapat digambarkan sebagai pengalaman kesurupan. Gangguan identitas tersebut melibatkan diskontinuitas yang nyata dalam perasaan mengenai diri sendiri dan perasaan memiliki kendali atas tindakan diri sendiri, yang disertai perubahan terkait dalam afek, perilaku, kesadaran, ingatan, persepsi, kognisi, dan/atau keberfungsian sensorimotor. Tanda dan gejala tersebut dapat diamati oleh orang lain atau dilaporkan oleh individu.
Adanya kesenjangan ingatan yang berulang mengenai peristiwa sehari-hari, informasi pribadi yang penting, dan/atau peristiwa traumatis yang tidak sesuai dengan kelupaan biasa.
Gejala-gejala tersebut menyebabkan distres yang bermakna secara klinis atau gangguan keberfungsian dalam bidang sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya.
Gangguan tersebut bukan merupakan bagian normal dari praktik budaya atau agama yang diterima secara luas. Catatan: Pada anak-anak, gejala tersebut tidak dapat dijelaskan secara lebih baik oleh teman bermain imajiner atau bentuk permainan fantasi lainnya.
Gejala-gejala tersebut tidak disebabkan oleh efek fisiologis suatu zat (misalnya, hilangnya ingatan sementara atau perilaku kacau selama intoksikasi alkohol) maupun kondisi medis lainnya (misalnya, kejang parsial kompleks).
Karakteristik utama gangguan identitas disosiatif adalah adanya dua atau lebih keadaan kepribadian yang berbeda atau pengalaman kesurupan (Kriteria A). Tingkat keterlihatan atau ketersembunyian keadaan-keadaan kepribadian tersebut bervariasi bergantung pada motivasi psikologis, tingkat stres saat ini, konteks budaya, konflik dan dinamika internal, serta ketahanan emosional, di antara faktor-faktor lainnya. Periode kebingungan atau perubahan identitas yang berlangsung terus-menerus dapat terjadi ketika tekanan psikososial bersifat berat dan/atau berkepanjangan. Pada kasus gangguan identitas disosiatif yang menunjukkan gambaran individu seolah-olah dirasuki oleh identitas eksternal (misalnya, roh atau setan), yaitu gangguan identitas disosiatif bentuk kesurupan, serta pada sebagian kecil kasus yang bukan berbentuk kesurupan, manifestasi identitas alternatif dapat dengan mudah diamati. Sebagian besar individu dengan gangguan identitas disosiatif yang bukan berbentuk kesurupan tidak secara jelas menunjukkan, atau hanya menunjukkan secara samar, diskontinuitas identitas mereka, dan hanya sebagian kecil yang datang untuk memperoleh perhatian klinis dengan pergantian identitas yang dapat dikenali. Pembentukan keadaan kepribadian disosiatif yang memiliki nama, pakaian, gaya rambut, tulisan tangan, aksen, dan sebagainya yang berbeda hanya terjadi pada sebagian kecil individu dengan gangguan identitas disosiatif yang bukan berbentuk kesurupan dan bukan merupakan persyaratan utama diagnosis. Pada kasus ketika keadaan kepribadian alternatif tidak dapat diamati secara langsung, keberadaan keadaan kepribadian yang berbeda dapat diidentifikasi melalui perubahan atau diskontinuitas mendadak dalam perasaan individu mengenai diri sendiri dan perasaan memiliki kendali atas tindakannya (Kriteria A), serta amnesia disosiatif yang berulang (Kriteria B).
Gejala pada Kriteria A berkaitan dengan diskontinuitas pengalaman yang dapat memengaruhi setiap aspek keberfungsian individu. Individu dengan gangguan identitas disosiatif dapat melaporkan perasaan bahwa mereka tiba-tiba menjadi pengamat yang mengalami depersonalisasi terhadap ucapan dan tindakan mereka sendiri, yang mungkin mereka rasakan tidak mampu dihentikan (yaitu, terganggunya perasaan mengenai diri sendiri dan perasaan memiliki kendali atas tindakan diri sendiri). Individu tersebut juga dapat melaporkan persepsi berupa suara-suara (misalnya, suara anak kecil, suara yang mengomentari pikiran atau perilaku individu, suara yang mengancam atau menganiaya, serta halusinasi berupa suara yang memberikan perintah). Dalam beberapa kasus, individu secara tegas menyangkal mendengar suara, tetapi melaporkan adanya beberapa aliran pikiran yang berbeda, membingungkan, dan berlangsung secara independen, yang dirasakan berada di luar kendalinya. Individu dengan gangguan identitas disosiatif dapat melaporkan halusinasi pada seluruh modalitas sensorik, yaitu auditorik, visual, taktil, olfaktori, dan gustatori.
Emosi yang kuat, impuls, pikiran, bahkan ucapan atau tindakan lainnya dapat tiba-tiba muncul tanpa adanya perasaan bahwa pengalaman tersebut berasal dari diri sendiri atau berada dalam kendali pribadi (yaitu, tidak adanya perasaan memiliki kendali atas tindakan diri sendiri). Sebaliknya, pikiran dan emosi dapat menghilang secara tidak terduga, sementara ucapan dan tindakan tiba-tiba terhambat. Pengalaman-pengalaman ini sering dilaporkan sebagai sesuatu yang tidak selaras dengan diri sendiri (ego-distonik) dan membingungkan. Sikap, pandangan, dan preferensi pribadi (misalnya, mengenai makanan, aktivitas, atau identitas gender) dapat berubah secara tiba-tiba. Individu dapat melaporkan bahwa tubuh mereka terasa berbeda (misalnya, seperti anak kecil, seperti memiliki gender yang berlawanan, atau seperti berada pada beberapa usia yang berbeda secara bersamaan). Perubahan dalam perasaan mengenai diri sendiri dan kendali atas tindakan dapat disertai perasaan bahwa sikap, emosi, dan perilaku—bahkan tubuh individu sendiri—“bukan milik saya” atau “tidak berada dalam kendali saya”. Meskipun sebagian besar gejala Kriteria A bersifat subjektif, diskontinuitas mendadak dalam ucapan, afek, dan perilaku tersebut dapat disaksikan oleh keluarga, teman, atau klinisi.
Pada sebagian besar individu dengan gangguan identitas disosiatif, pergantian atau peralihan keadaan berlangsung secara samar dan mungkin hanya disertai perubahan kecil dalam manifestasi perilaku yang terlihat. Pergantian keadaan dapat tampak lebih jelas pada gangguan identitas disosiatif bentuk kesurupan. Secara umum, individu dengan gangguan identitas disosiatif mengalami dirinya sebagai beberapa keadaan yang secara bersamaan saling tumpang tindih dan saling mengganggu.
Amnesia disosiatif (Kriteria B) bermanifestasi dalam beberapa bidang utama: 1) kesenjangan dalam aspek apa pun dari ingatan autobiografis (misalnya, peristiwa kehidupan penting seperti menikah atau melahirkan, atau tidak mampu mengingat seluruh pengalaman sekolah sebelum jenjang sekolah menengah atas); 2) kesenjangan ingatan mengenai peristiwa yang baru terjadi atau keterampilan yang telah dikuasai dengan baik (misalnya, cara melakukan pekerjaan, menggunakan komputer, memasak, atau mengemudi); dan 3) menemukan barang-barang milik pribadi yang sama sekali tidak diingat pernah dimiliki (misalnya, pakaian, senjata, peralatan, tulisan, atau gambar yang sebenarnya dibuat oleh individu tersebut).
Fugue disosiatif, yang disertai amnesia mengenai perjalanan yang dilakukan, merupakan hal yang umum terjadi. Individu dapat melaporkan bahwa mereka tiba-tiba mendapati diri berada di kota lain, di tempat kerja, atau bahkan di rumah sendiri, seperti berada di dalam lemari, di bawah tempat tidur, atau sedang berlari keluar rumah. Amnesia pada individu dengan gangguan identitas disosiatif tidak terbatas pada peristiwa yang menimbulkan stres atau trauma, tetapi juga dapat melibatkan peristiwa sehari-hari. Individu dapat melaporkan kesenjangan besar dalam ingatan yang sedang berlangsung (misalnya, mengalami “hilangnya waktu”, “hilang ingatan sementara”, atau “tersadar kembali” ketika sedang melakukan suatu aktivitas). Amnesia disosiatif dapat terlihat oleh orang lain (misalnya, individu tidak mengingat sesuatu yang disaksikan orang lain pernah dilakukan atau diucapkannya, tidak mampu mengingat namanya sendiri, atau tidak mengenali pasangan, anak-anak, atau teman dekat). Meminimalkan atau merasionalisasi amnesia merupakan hal yang umum.
Identitas dalam gangguan identitas disosiatif bentuk kesurupan biasanya bermanifestasi secara perilaku seolah-olah suatu “roh”, makhluk supranatural, atau orang lain telah mengambil alih kendali, sehingga individu berbicara atau bertindak dengan cara yang sangat berbeda. Sebagai contoh, perilaku seorang individu mungkin memberikan kesan bahwa identitasnya telah digantikan oleh “arwah” seorang anak perempuan yang meninggal karena bunuh diri di komunitas yang sama beberapa tahun sebelumnya, sehingga individu berbicara dan bertindak seolah-olah anak perempuan tersebut masih hidup. Identitas yang muncul selama gangguan identitas disosiatif bentuk kesurupan terjadi secara berulang, tidak diinginkan, dan tidak disengaja, serta menyebabkan distres yang bermakna secara klinis atau gangguan keberfungsian (Kriteria C). Namun, sebagian besar keadaan kesurupan yang terjadi di berbagai belahan dunia biasanya merupakan bagian dari praktik budaya atau agama yang diterima secara luas sehingga tidak memenuhi kriteria gangguan identitas disosiatif (Kriteria D).
Individu dengan gangguan identitas disosiatif biasanya menunjukkan depresi, kecemasan, penyalahgunaan zat, perilaku melukai diri sendiri, atau gejala umum lainnya yang muncul sebagai komorbiditas. Kejang nonepileptik dan gejala neurologis fungsional lainnya menonjol pada beberapa gambaran klinis gangguan identitas disosiatif, terutama dalam beberapa konteks non-Barat. Sebagian individu, terutama dalam konteks budaya Barat, dapat menunjukkan gejala neurologis yang tampaknya tidak responsif terhadap pengobatan, seperti sakit kepala, kejang, atau gejala yang mengarah pada sklerosis multipel.
Individu dengan gangguan identitas disosiatif sering menyembunyikan, atau tidak sepenuhnya menyadari, gangguan kesadaran, amnesia, atau gejala disosiatif lainnya. Banyak individu dengan gangguan identitas disosiatif melaporkan flashback disosiatif ketika mereka mengalami kembali suatu peristiwa sebelumnya secara sensorik seolah-olah peristiwa tersebut sedang berlangsung pada saat ini. Pengalaman tersebut sering disertai perubahan identitas, hilangnya sebagian atau seluruh kontak dengan realitas saat ini atau disorientasi terhadap realitas selama flashback, serta amnesia berikutnya terhadap isi flashback tersebut. Individu dengan gangguan ini biasanya melaporkan berbagai jenis perlakuan buruk interpersonal selama masa kanak-kanak dan dewasa. Peristiwa lain yang sangat membebani pada awal kehidupan, seperti berbagai prosedur medis yang berlangsung lama dan menyakitkan pada masa awal kehidupan, juga dapat dilaporkan. Perilaku melukai diri sendiri tanpa niat bunuh diri sering terjadi. Pada pengukuran terstandar, individu-individu tersebut melaporkan tingkat hipnotisabilitas dan gejala disosiatif yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok klinis lainnya dan subjek kontrol yang sehat. Sebagian individu mengalami fenomena atau episode psikotik yang bersifat sementara.
Di antara karakteristik kepribadian, karakteristik kepribadian menghindar paling sering memperoleh penilaian tertinggi pada individu dengan gangguan identitas disosiatif, dan sebagian individu dengan gangguan ini menunjukkan penghindaran yang sangat kuat sehingga lebih memilih untuk menyendiri. Ketika mengalami dekompensasi, sebagian individu dengan gangguan identitas disosiatif menunjukkan karakteristik gangguan kepribadian ambang (yaitu, perilaku berisiko tinggi yang merusak diri sendiri dan ketidakstabilan suasana perasaan). Banyak individu dengan gangguan identitas disosiatif menunjukkan masalah kelekatan, tetapi biasanya tidak memperlihatkan upaya yang sangat panik untuk menghindari ditinggalkan. Sebagian memiliki hubungan jangka panjang yang stabil, meskipun hubungan tersebut sering kali disfungsional dan/atau melibatkan kekerasan, sehingga mereka mungkin mengalami kesulitan untuk melepaskan diri dari hubungan tersebut. Karakteristik kepribadian obsesional umum ditemukan pada gangguan identitas disosiatif, bahkan lebih umum daripada karakteristik kepribadian histrionik. Sebagian kelompok individu dengan gangguan identitas disosiatif memiliki karakteristik kepribadian narsistik dan/atau antisosial.
Prevalensi gangguan identitas disosiatif selama 12 bulan pada orang dewasa dalam sebuah penelitian komunitas berskala kecil di Amerika Serikat adalah 1,5%. Prevalensi gangguan identitas disosiatif sepanjang hidup adalah 1,1% dalam sampel representatif perempuan dari komunitas di wilayah Turki bagian tengah-timur.
Gangguan ini dapat pertama kali bermanifestasi pada hampir semua usia, mulai dari masa kanak-kanak awal hingga usia lanjut. Anak-anak biasanya tidak menunjukkan pergantian identitas, tetapi terutama menunjukkan teman imajiner yang bertindak secara independen atau keadaan “suasana perasaan” yang dipersonifikasikan (fenomena Kriteria A). Disosiasi pada anak-anak dapat menimbulkan masalah dalam ingatan, konsentrasi, dan kelekatan, serta dapat berkaitan dengan permainan yang bertema trauma. Pada remaja, gangguan identitas disosiatif umumnya mendapat perhatian klinis karena gejala eksternalisasi, perilaku bunuh diri atau merusak diri sendiri, maupun perubahan perilaku yang cepat, yang sering dikaitkan dengan gangguan lain seperti gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas atau gangguan bipolar pada masa kanak-kanak. Sebagian anak dengan gangguan identitas disosiatif juga dapat menunjukkan perilaku yang cukup agresif dan mudah tersinggung. Individu yang lebih tua dengan gangguan identitas disosiatif dapat menunjukkan gejala yang tampak menyerupai gangguan suasana perasaan pada usia lanjut, gangguan obsesif-kompulsif, paranoia, gangguan suasana perasaan dengan gejala psikotik, atau bahkan gangguan kognitif yang disebabkan oleh amnesia disosiatif.
Perubahan atau kebingungan identitas yang tampak jelas dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti pengalaman traumatis berikutnya (misalnya, serangan seksual), atau bahkan stresor yang tampaknya tidak terlalu berarti, seperti kecelakaan kendaraan bermotor ringan. Pengalaman stresor kehidupan lain yang berat atau bersifat kumulatif juga dapat memperburuk gejala, termasuk peristiwa kehidupan seperti ketika anak individu tersebut mencapai usia yang sama dengan usia saat individu mengalami kekerasan atau trauma yang bermakna. Kematian pelaku kekerasan terhadap individu, atau munculnya penyakit fatal pada pelaku tersebut, merupakan contoh lain dari peristiwa yang dapat memperburuk gejala. Individu dengan gangguan identitas disosiatif memiliki risiko tinggi mengalami trauma interpersonal pada masa dewasa, seperti pemerkosaan, kekerasan oleh pasangan intim, dan eksploitasi seksual, termasuk kekerasan inses yang terus berlangsung hingga masa dewasa, serta perdagangan orang pada masa dewasa.
Dalam konteks patologi keluarga dan kelekatan, trauma pada awal kehidupan (misalnya, pengabaian serta kekerasan fisik, seksual, dan emosional, biasanya sebelum usia 5–6 tahun) merupakan faktor risiko gangguan identitas disosiatif. Dalam penelitian dari berbagai wilayah geografis, sekitar 90% individu dengan gangguan ini melaporkan berbagai jenis pengabaian pada awal kehidupan dan kekerasan pada masa kanak-kanak, yang sering berlanjut hingga masa remaja akhir. Sebagian individu melaporkan bahwa perlakuan buruk terutama terjadi di luar keluarga, seperti di sekolah, gereja, dan/atau lingkungan tempat tinggal, termasuk mengalami perundungan berat. Bentuk lain dari pengalaman traumatis berulang pada awal kehidupan mencakup berbagai prosedur medis dan pembedahan yang menyakitkan pada masa kanak-kanak; peperangan; terorisme; atau mengalami perdagangan orang sejak masa kanak-kanak. Onset gangguan juga telah dilaporkan setelah paparan yang berkepanjangan dan sering berlangsung lintas generasi terhadap dinamika keluarga yang disfungsional (misalnya, pengasuhan yang terlalu mengendalikan, kelekatan tidak aman, dan kekerasan emosional), tanpa adanya pengabaian atau kekerasan seksual maupun fisik yang jelas.
Penelitian terhadap anak kembar menunjukkan bahwa faktor genetik menjelaskan sekitar 45%–50% variasi gejala disosiatif antarindividu, sedangkan pengalaman lingkungan yang penuh tekanan dan traumatis serta tidak dialami bersama menjelaskan sebagian besar variasi tambahan. Beberapa wilayah otak telah dikaitkan dengan patofisiologi gangguan identitas disosiatif, termasuk korteks orbitofrontal, hipokampus, girus parahipokampal, dan amigdala.
Trauma seksual, fisik, dan emosional yang terus berlangsung sering menyebabkan kesulitan yang bermakna dalam keberfungsian pada masa kehidupan berikutnya. Hasil yang lebih buruk pada orang dewasa umumnya berkaitan dengan stresor psikososial yang berat, viktimisasi berulang, kekerasan atau eksploitasi seksual maupun fisik yang terus berlangsung, kekerasan oleh pasangan intim, penggunaan zat yang sulit ditangani, gangguan makan, penyakit medis berat, keterikatan yang terlalu erat dan tidak sehat dengan keluarga asal yang melakukan kekerasan, atau keterlibatan berkelanjutan dalam kelompok kriminal. Keberfungsian yang lebih buruk juga dapat berkaitan dengan tindakan kekerasan terhadap anak atau kekerasan oleh pasangan intim yang dilakukan oleh individu dengan gangguan identitas disosiatif.
Banyak karakteristik gangguan identitas disosiatif dapat dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural individu. Dalam lingkungan ketika gejala kesurupan umum ditemukan (misalnya, daerah pedesaan di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah, serta kelompok agama tertentu di Amerika Serikat dan Eropa), seluruh atau sebagian identitas yang terfragmentasi dapat berbentuk roh yang merasuki, dewa, setan, hewan, atau tokoh mitologis. Akulturasi atau kontak antarbudaya yang berkepanjangan dapat membentuk manifestasi identitas lainnya (misalnya, identitas di India mungkin hanya berbicara bahasa Inggris dan mengenakan pakaian bergaya Barat). Gangguan identitas disosiatif bentuk kesurupan dapat dibedakan dari keadaan kesurupan yang diterima secara budaya karena gangguan tersebut bersifat tidak disengaja, menimbulkan distres, dan tidak dapat dikendalikan; melibatkan konflik antara individu dengan lingkungan keluarga, sosial, atau pekerjaannya; serta bermanifestasi pada waktu dan tempat yang melanggar norma budaya atau agama. Episode gabungan disosiatif dan psikotik mungkin lebih umum ditemukan dalam konteks budaya yang ditandai oleh kekerasan atau penindasan komunal yang nyata serta terbatasnya kesempatan untuk memperoleh pemulihan keadilan.
Perempuan dengan gangguan identitas disosiatif lebih banyak ditemukan dalam lingkungan klinis orang dewasa, tetapi tidak dalam lingkungan klinis anak-anak atau remaja maupun penelitian populasi umum. Hanya sedikit perbedaan dalam profil gejala, riwayat klinis, dan riwayat trauma masa kanak-kanak yang ditemukan ketika membandingkan laki-laki dan perempuan dengan gangguan identitas disosiatif, kecuali bahwa perempuan mungkin memiliki tingkat somatisasi yang lebih tinggi.
Perilaku bunuh diri sering terjadi. Lebih dari 70% pasien rawat jalan dengan gangguan identitas disosiatif pernah melakukan percobaan bunuh diri; percobaan berulang merupakan hal yang umum, dan perilaku melukai diri sendiri lainnya serta perilaku berisiko tinggi memiliki prevalensi yang sangat tinggi. Individu dengan gangguan identitas disosiatif memiliki berbagai faktor risiko yang saling berinteraksi terhadap perilaku merusak diri sendiri dan/atau perilaku bunuh diri. Faktor-faktor tersebut mencakup trauma berat yang bersifat kumulatif pada awal kehidupan maupun kehidupan berikutnya; tingginya angka gangguan stres pascatrauma (PTSD), gangguan depresif, dan gangguan penggunaan zat sebagai komorbiditas; serta karakteristik gangguan kepribadian. Disosiasi itu sendiri merupakan faktor risiko independen terhadap percobaan bunuh diri berulang. Tingkat keparahan skor gejala disosiatif yang lebih tinggi berkaitan dengan frekuensi percobaan bunuh diri dan perilaku melukai diri sendiri tanpa niat bunuh diri yang lebih tinggi pada individu dengan gangguan disosiatif.
Sebagian anak-anak dan remaja dengan gangguan identitas disosiatif mungkin menunjukkan keberfungsian yang buruk di sekolah dan dalam hubungan interpersonal. Sebagian lainnya menunjukkan prestasi yang baik di sekolah dan merasakan sekolah sebagai tempat untuk memperoleh kelegaan dari kesulitan yang dialami. Pada orang dewasa, tingkat gangguan keberfungsian sangat bervariasi, mulai dari yang tampaknya minimal (misalnya, pada tenaga profesional dengan tingkat keberfungsian tinggi) hingga sangat berat. Gejala pada individu dengan tingkat keberfungsian yang lebih tinggi mungkin lebih mengganggu fungsi dalam hubungan interpersonal, perkawinan, keluarga, dan pengasuhan anak dibandingkan kehidupan pekerjaan dan profesional mereka, meskipun aspek pekerjaan dan profesional juga dapat terpengaruh. Banyak individu dengan gangguan keberfungsian menunjukkan perbaikan dalam keberfungsian pekerjaan dan pribadi dari waktu ke waktu, sedangkan sebagian individu dengan gangguan identitas disosiatif mungkin mengalami gangguan pada sebagian besar aktivitas kehidupan dan memiliki tingkat keberfungsian yang setara dengan individu yang mengalami penyakit mental kronis dan menetap.
Baik gangguan identitas disosiatif maupun amnesia disosiatif ditandai oleh kesenjangan dalam mengingat peristiwa sehari-hari, informasi pribadi yang penting, atau peristiwa traumatis yang tidak sesuai dengan kelupaan biasa. Gangguan identitas disosiatif dibedakan dari amnesia disosiatif berdasarkan adanya gangguan identitas tambahan yang ditandai oleh dua atau lebih keadaan kepribadian yang berbeda.
Karakteristik utama gangguan depersonalisasi/derealisasi adalah episode depersonalisasi, derealisasi, atau keduanya yang menetap atau berulang. Individu dengan gangguan depersonalisasi/derealisasi tidak mengalami keberadaan keadaan kepribadian atau identitas yang disertai perubahan dalam perasaan mengenai diri sendiri dan kendali atas tindakan, serta biasanya tidak melaporkan amnesia disosiatif.
Sebagian besar individu dengan gangguan identitas disosiatif melaporkan keadaan emosional negatif pascatrauma yang berlangsung sepanjang hidup, sering kali dimulai sejak masa kanak-kanak, dan gejala mereka mungkin tampak memenuhi kriteria episode depresif mayor. Selain itu, reaktivitas pascatrauma pada waktu-waktu tertentu dalam setahun ketika trauma dahulu terjadi (reaksi peringatan tahunan), yang terutama bermanifestasi melalui peningkatan keputusasaan, distres, dan ideasi bunuh diri, juga dapat tampak menyerupai gangguan depresif mayor dengan pola musiman. Namun, individu dengan gangguan depresif mayor atau gangguan depresif persisten tidak mengalami fluktuasi disosiatif dalam perasaan mengenai diri sendiri dan kendali atas tindakan, maupun amnesia disosiatif. Penting untuk melakukan asesmen apakah seluruh atau sebagian besar keadaan identitas mengalami suasana perasaan negatif tersebut, karena gejala gangguan suasana perasaan dapat berfluktuasi akibat hanya dialami oleh beberapa keadaan identitas, tetapi tidak oleh keadaan identitas lainnya.
Gangguan identitas disosiatif sering salah didiagnosis sebagai gangguan bipolar, biasanya gangguan bipolar II dengan karakteristik campuran. Perubahan keadaan perilaku yang relatif cepat pada individu dengan gangguan identitas disosiatif—biasanya berlangsung dalam hitungan menit atau jam—merupakan hal yang tidak khas bahkan bagi individu dengan gangguan bipolar yang mengalami siklus perubahan paling cepat. Perubahan keadaan tersebut disebabkan oleh peralihan keadaan disosiatif yang cepat dan/atau fluktuasi intrusi pascatrauma. Terkadang perubahan tersebut disertai perubahan cepat pada tingkat aktivasi, tetapi biasanya hanya berlangsung selama beberapa menit hingga beberapa jam, bukan beberapa hari, dan berkaitan dengan aktivasi keadaan identitas tertentu. Suasana perasaan yang meningkat atau depresif dapat dialami sebagai sesuatu yang terlokalisasi pada identitas tertentu melalui fenomena tumpang tindih atau saling mengganggu. Biasanya, individu dengan gangguan identitas disosiatif tidak mengalami gangguan tidur bipolar yang khas (misalnya, berkurangnya kebutuhan tidur), tetapi justru mengalami mimpi buruk kronis yang berat dan flashback pada malam hari yang mengganggu tidur.
Sebagian besar individu dengan gangguan identitas disosiatif memiliki gejala yang memenuhi kriteria diagnostik PTSD sebagai komorbiditas. Gejala disosiatif yang menjadi karakteristik gangguan identitas disosiatif harus dibedakan dari amnesia disosiatif, flashback disosiatif, serta depersonalisasi/derealisasi yang menjadi karakteristik gangguan stres akut, PTSD, atau subtipe disosiatif PTSD. Amnesia disosiatif pada PTSD biasanya hanya bermanifestasi pada peristiwa traumatis tertentu atau aspek tertentu dari peristiwa traumatis, berbeda dengan amnesia disosiatif kronis dan kompleks yang menjadi karakteristik gangguan identitas disosiatif. Gejala depersonalisasi/derealisasi pada subtipe disosiatif PTSD berkaitan dengan pengingat pascatrauma tertentu. Gejala depersonalisasi/derealisasi pada gangguan identitas disosiatif dapat terjadi tidak hanya sebagai respons terhadap pengingat pascatrauma, tetapi juga secara terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari, termasuk sebagai respons terhadap interaksi interpersonal yang menimbulkan stres dan ketika terdapat tumpang tindih atau gangguan antar keadaan identitas.
Individu dengan gangguan identitas disosiatif dapat mengalami gejala yang secara sekilas tampak serupa dengan gejala gangguan psikotik. Gejala tersebut mencakup halusinasi auditorik dan gejala khas intrusi keadaan kepribadian ke dalam kesadaran individu; gejala-gejala ini dapat tampak menyerupai beberapa gejala tingkat pertama Schneider yang sebelumnya dianggap sebagai indikasi skizofrenia (misalnya, penyiaran pikiran, penyisipan pikiran, penarikan pikiran, dan mendengar suara-suara yang terus-menerus memberikan komentar mengenai individu). Sebagai contoh, mendengar berbagai keadaan kepribadian yang sedang membicarakan individu dapat menyerupai halusinasi auditorik berupa suara-suara yang saling berdebat pada skizofrenia. Individu dengan gangguan identitas disosiatif juga dapat mengalami pikiran atau emosi dari keadaan kepribadian lain yang mengintrusi, yang dapat menyerupai penyisipan pikiran pada skizofrenia, serta mengalami hilangnya pikiran atau emosi tersebut secara tiba-tiba, yang dapat menyerupai penarikan pikiran. Pengalaman seperti ini pada individu dengan skizofrenia biasanya disertai keyakinan waham mengenai penyebab gejala tersebut (yaitu, pikiran disisipkan oleh kekuatan dari luar), sedangkan individu dengan gangguan identitas disosiatif biasanya mengalami gejala-gejala tersebut sebagai sesuatu yang asing bagi diri sendiri dan menakutkan. Individu dengan gangguan identitas disosiatif juga dapat melaporkan berbagai halusinasi visual, taktil, olfaktori, gustatori, dan somatik, yang biasanya berkaitan dengan faktor autohipnotik, pascatrauma, dan disosiatif, seperti flashback parsial. Hal ini berbeda dengan individu dengan skizofrenia, yang halusinasinya terutama bersifat auditorik dan lebih jarang bersifat visual. Oleh karena itu, gangguan identitas disosiatif dan gangguan psikotik dibedakan berdasarkan gejala yang menjadi karakteristik salah satu kondisi tetapi tidak ditemukan pada kondisi lainnya (misalnya, amnesia disosiatif pada gangguan identitas disosiatif, tetapi tidak pada gangguan psikotik). Terakhir, individu dengan skizofrenia memiliki kapasitas hipnotik yang rendah, sedangkan individu dengan gangguan identitas disosiatif memiliki kapasitas hipnotik tertinggi di antara seluruh kelompok klinis.
Individu dengan gangguan identitas disosiatif sering memiliki riwayat gangguan penggunaan zat, baik saat ini maupun pada masa lalu. Gejala yang berkaitan dengan efek fisiologis suatu zat (misalnya, hilangnya ingatan sementara) harus dibedakan dari amnesia disosiatif pada gangguan identitas disosiatif apabila zat yang dimaksud dinilai memiliki hubungan etiologis dengan hilangnya ingatan tersebut.
Individu dengan gangguan identitas disosiatif sering menunjukkan identitas yang tampaknya mencakup berbagai karakteristik gangguan kepribadian yang berat, sehingga mengarah pada pertimbangan diagnosis banding gangguan kepribadian, terutama tipe ambang. Namun, yang penting diperhatikan adalah bahwa variasi longitudinal dalam gaya kepribadian individu (yang disebabkan oleh ketidakkonsistenan antaridentitas) berbeda dari disfungsi yang meluas dan menetap dalam pengelolaan afek serta hubungan interpersonal yang menjadi karakteristik individu dengan gangguan kepribadian.
Baik gangguan identitas disosiatif maupun cedera otak traumatis (traumatic brain injury atau TBI) ditandai oleh adanya kesenjangan ingatan. Karakteristik TBI lainnya mencakup hilangnya kesadaran, disorientasi dan kebingungan, atau pada kasus yang lebih berat, tanda dan gejala neurologis. Gangguan neurokognitif akibat TBI bermanifestasi segera setelah cedera otak terjadi atau segera setelah individu mendapatkan kembali kesadarannya setelah cedera, serta menetap melampaui periode akut pascacedera. Gambaran kognitif gangguan neurokognitif setelah TBI bervariasi dan mencakup kesulitan dalam bidang perhatian kompleks, fungsi eksekutif, serta pembelajaran dan ingatan, disertai perlambatan kecepatan pemrosesan informasi dan gangguan kognisi sosial. Meskipun depersonalisasi bukan merupakan hal yang jarang terjadi setelah TBI, karakteristik neurokognitif tambahan yang disebutkan di atas membantu membedakannya dari amnesia disosiatif yang merupakan bagian dari gangguan identitas disosiatif. Selain itu, amnesia disosiatif yang terjadi dalam konteks gangguan identitas disosiatif disertai diskontinuitas yang nyata dalam perasaan mengenai diri sendiri dan perasaan memiliki kendali atas tindakan diri sendiri, yang bukan merupakan karakteristik TBI.
Gangguan gejala neurologis fungsional dapat dibedakan dari gangguan identitas disosiatif berdasarkan tidak adanya perubahan identitas yang ditandai oleh dua atau lebih keadaan kepribadian yang berbeda atau pengalaman kesurupan. Amnesia disosiatif pada gangguan gejala neurologis fungsional lebih terbatas dan spesifik (misalnya, amnesia mengenai suatu episode kejang nonepileptik).
Individu yang berpura-pura mengalami gangguan identitas disosiatif biasanya tidak melaporkan gejala intrusi yang samar dan menjadi karakteristik gangguan tersebut. Sebaliknya, mereka cenderung melaporkan secara berlebihan gejala-gejala gangguan yang dikenal melalui media, seperti amnesia disosiatif yang dramatis dan perilaku pergantian identitas yang berlebihan secara emosional, sementara kurang melaporkan gejala komorbid yang lebih jarang dipublikasikan, seperti depresi. Individu yang berpura-pura mengalami gangguan identitas disosiatif cenderung relatif tidak terganggu oleh kondisi tersebut atau bahkan tampak menikmati keadaan “memiliki” gangguan tersebut, atau mungkin meminta klinisi untuk “menemukan” ingatan traumatis. Sebaliknya, sebagian besar individu yang benar-benar mengalami gangguan identitas disosiatif merasa malu dan kewalahan oleh gejala mereka, menyangkal diagnosis, kurang melaporkan gejala, serta menunjukkan kecenderungan meminimalkan dan menghindari riwayat trauma mereka.
Individu yang berpura-pura menunjukkan gejala gangguan identitas disosiatif biasanya menciptakan identitas alternatif yang terbatas dan stereotipik, dengan amnesia yang dibuat-buat hanya berkaitan dengan peristiwa yang diharapkan dapat memberikan keuntungan, serta perilaku pergantian identitas dan amnesia yang tampak hanya ketika sedang diamati. Mereka mungkin menunjukkan satu identitas yang “sepenuhnya baik” dan satu identitas yang “sepenuhnya buruk” dengan harapan memperoleh pembebasan dari tanggung jawab atas suatu tindak kejahatan.
Gangguan yang menjadi komorbiditas gangguan identitas disosiatif mencakup PTSD, gangguan depresif, gangguan terkait zat, gangguan pemberian makan dan makan, gangguan obsesif-kompulsif, gangguan kepribadian antisosial, serta gangguan kepribadian spesifik lainnya dengan ciri-ciri kepribadian menghindar, obsesif-kompulsif, atau ambang. Bentuk gangguan gejala neurologis fungsional yang paling umum mencakup kejang nonepileptik, gangguan gaya berjalan, dan kelumpuhan. Kejang nonepileptik paling sering menyerupai kejang grand mal atau kejang parsial kompleks dengan fokus pada lobus temporal; sedangkan bentuk lainnya dapat menyerupai kejang absans atau kejang parsial.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.