Somatic Symptom Disorder
Satu atau lebih gejala somatik yang menimbulkan distres atau menyebabkan gangguan yang bermakna dalam kehidupan sehari-hari.
Pikiran, perasaan, atau perilaku yang berlebihan terkait gejala somatik atau kekhawatiran mengenai kesehatan yang menyertainya, sebagaimana ditunjukkan oleh setidaknya satu dari hal berikut: (1) Pikiran yang tidak proporsional dan menetap mengenai tingkat keseriusan gejala yang dialami. (2) Tingkat kecemasan yang terus-menerus tinggi mengenai kesehatan atau gejala yang dialami. (3) Waktu dan energi yang berlebihan dicurahkan untuk gejala-gejala tersebut atau kekhawatiran mengenai kesehatan.
Meskipun suatu gejala somatik tertentu mungkin tidak terus-menerus muncul, keadaan mengalami gejala tetap berlangsung secara menetap (biasanya lebih dari 6 bulan).
Tentukan Jika:
Dengan nyeri yang dominan (sebelumnya disebut gangguan nyeri): Penanda ini digunakan untuk individu yang gejala somatiknya terutama berupa nyeri.
Tentukan Jika:
Menetap: Perjalanan gangguan yang menetap ditandai oleh gejala yang berat, gangguan keberfungsian yang nyata, dan durasi yang panjang (lebih dari 6 bulan).
Tentukan Tingkat Keparahan Saat Ini:
Ringan: Hanya satu gejala yang disebutkan dalam Kriteria B yang terpenuhi.
Sedang: Dua atau lebih gejala yang disebutkan dalam Kriteria B terpenuhi.
Berat: Dua atau lebih gejala yang disebutkan dalam Kriteria B terpenuhi, disertai berbagai keluhan somatik (atau satu gejala somatik yang sangat berat).
Individu dengan gangguan gejala somatik biasanya mengalami beberapa gejala somatik yang sedang berlangsung, yang menimbulkan distres atau menyebabkan gangguan bermakna dalam kehidupan sehari-hari (Kriteria A), meskipun terkadang hanya terdapat satu gejala berat, yang paling sering berupa nyeri. Gejala dapat bersifat spesifik (misalnya, nyeri yang terlokalisasi) atau relatif tidak spesifik (misalnya, kelelahan). Gejala tersebut terkadang merupakan sensasi tubuh normal atau ketidaknyamanan yang umumnya tidak menunjukkan adanya penyakit serius. Gejala somatik yang tidak memiliki penjelasan medis yang jelas tidak cukup untuk menegakkan diagnosis ini. Penderitaan individu merupakan pengalaman yang nyata, terlepas dari apakah terdapat penjelasan medis terhadapnya.
Gejala-gejala tersebut dapat berkaitan atau tidak berkaitan dengan kondisi medis lainnya. Diagnosis gangguan gejala somatik dan penyakit medis yang terjadi secara bersamaan tidak saling mengecualikan, dan keduanya sering ditemukan secara bersamaan. Sebagai contoh, seorang individu dapat mengalami gangguan keberfungsian yang berat akibat gejala gangguan gejala somatik setelah mengalami infark miokard tanpa komplikasi, meskipun infark miokard itu sendiri tidak menyebabkan disabilitas apa pun. Apabila terdapat kondisi medis lainnya atau risiko tinggi untuk mengembangkan kondisi medis tersebut (misalnya, riwayat keluarga yang kuat), pikiran, perasaan, dan perilaku yang berkaitan dengan kondisi tersebut bersifat berlebihan (Kriteria B).
Individu dengan gangguan gejala somatik cenderung memiliki tingkat kekhawatiran yang sangat tinggi mengenai penyakit (Kriteria B). Mereka menilai gejala tubuhnya sebagai sesuatu yang terlalu mengancam, berbahaya, atau mengganggu, serta sering membayangkan kemungkinan terburuk mengenai kesehatannya. Bahkan ketika terdapat bukti yang menunjukkan sebaliknya, sebagian individu tetap merasa takut bahwa gejala mereka menunjukkan masalah medis yang serius. Pada gangguan gejala somatik yang berat, kekhawatiran mengenai kesehatan dapat menjadi bagian utama dalam kehidupan individu, menjadi karakteristik identitas dirinya, dan mendominasi hubungan interpersonal.
Individu biasanya mengalami distres yang terutama berfokus pada gejala somatik dan makna dari gejala tersebut. Ketika ditanya secara langsung mengenai distres yang dialami, sebagian individu menggambarkannya dalam kaitannya dengan aspek-aspek lain kehidupan mereka, sedangkan individu lainnya menyangkal adanya sumber distres selain gejala somatik. Kualitas hidup yang berkaitan dengan kesehatan sering kali terganggu, baik secara fisik maupun mental. Diagnosis dapat ditentukan secara lebih lanjut dengan menyatakan apakah keluhan terutama melibatkan nyeri dan/atau apakah keluhan ditandai oleh perjalanan gangguan yang menetap.
Selain itu, tingkat keparahan gangguan gejala somatik dapat ditentukan berdasarkan jumlah kriteria B yang terpenuhi. Bentuk gangguan gejala somatik ringan (satu gejala sebagaimana disebutkan dalam Kriteria B terpenuhi) lebih umum ditemukan, sedangkan kasus sedang (dua atau lebih kriteria B terpenuhi) dan berat (dua atau lebih gejala sebagaimana disebutkan dalam Kriteria B terpenuhi bersama dengan berbagai keluhan somatik atau satu gejala somatik yang sangat berat) ditandai oleh tingkat gangguan keberfungsian yang lebih tinggi. Pada gangguan gejala somatik yang berat, gangguan keberfungsian sangat nyata dan, apabila menetap, gangguan ini dapat menyebabkan keadaan ketidakmampuan yang berkepanjangan.
Sering terdapat tingkat penggunaan layanan medis yang tinggi, yang jarang mampu meredakan kekhawatiran individu. Akibatnya, individu mungkin mencari perawatan dari beberapa dokter untuk gejala yang sama. Individu-individu tersebut sering tampak tidak memberikan respons terhadap intervensi medis, dan intervensi baru mungkin justru memperburuk gejala yang muncul. Sebagian individu dengan gangguan ini tampak sangat sensitif terhadap efek samping obat-obatan. Sebagian lainnya merasa bahwa asesmen dan pengobatan medis yang mereka terima belum memadai.
Kriteria gangguan gejala somatik tampaknya sesuai untuk digunakan pada anak-anak dan remaja, tetapi kriteria tersebut lebih sedikit diteliti pada kelompok usia muda dibandingkan dengan orang dewasa.
Karakteristik kognitif mencakup perhatian yang berfokus pada gejala somatik, mengaitkan sensasi tubuh yang normal dengan penyakit fisik (yang mungkin disertai interpretasi katastrofik), kekhawatiran mengenai penyakit, konsep diri bahwa tubuhnya lemah, serta ketidakmampuan menoleransi keluhan tubuh. Selain kecemasan mengenai kesehatan, karakteristik emosional dapat mencakup afektivitas negatif, keputusasaan, dan perasaan kehilangan semangat yang berkaitan dengan gejala somatik. Karakteristik perilaku penyerta yang relevan dapat mencakup pemeriksaan tubuh secara berulang untuk mencari kelainan, berulang kali mencari bantuan medis dan kepastian, serta menghindari aktivitas fisik. Karakteristik perilaku tersebut paling menonjol pada gangguan gejala somatik yang berat dan menetap. Karakteristik ini biasanya berkaitan dengan permintaan bantuan medis yang sering untuk berbagai gejala somatik. Hal ini dapat menyebabkan konsultasi medis ketika individu begitu terfokus pada kekhawatirannya mengenai gejala somatik sehingga perhatian mereka tidak dapat dialihkan ke persoalan lain. Setiap penegasan dari dokter bahwa gejala tersebut tidak menunjukkan penyakit fisik yang serius cenderung hanya memberikan ketenangan sementara dan/atau dirasakan oleh individu sebagai tanda bahwa dokter tidak menganggap gejalanya cukup serius. Karena fokus pada gejala somatik merupakan karakteristik utama gangguan ini, individu dengan gangguan gejala somatik biasanya mendatangi layanan kesehatan medis umum, bukan layanan kesehatan mental. Saran untuk mendapatkan rujukan ke tenaga profesional kesehatan mental mungkin ditanggapi dengan keterkejutan atau bahkan penolakan secara tegas oleh individu dengan gangguan gejala somatik.
Prevalensi gangguan gejala somatik belum diketahui secara jelas. Perkiraan prevalensi gangguan gejala somatik berasal dari literatur epidemiologis yang masih terbatas mengenai gangguan somatoform berdasarkan DSM-IV-TR. Namun, prevalensi gangguan gejala somatik diperkirakan lebih tinggi dibandingkan dengan gangguan somatisasi dalam DSM-IV-TR yang memiliki kriteria lebih ketat (kurang dari 1%), tetapi lebih rendah dibandingkan dengan gangguan somatoform yang tidak terdiferensiasi (sekitar 19%). Penelitian berbasis populasi yang lebih baru, dengan strategi menggunakan kuesioner berdasarkan kriteria diagnostik DSM-5 untuk gangguan gejala somatik pada sampel orang dewasa dan remaja, melaporkan angka prevalensi antara 6,7% hingga 17,4%. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Eropa dan Amerika Utara, prevalensi gangguan gejala somatik pada populasi umum orang dewasa dapat diperkirakan sekitar 4%–6%. Gangguan gejala somatik lebih sering ditemukan pada pasien layanan kesehatan primer dibandingkan dengan populasi umum. Berdasarkan tinjauan dan meta-analisis terhadap penelitian dari berbagai negara yang masih menggunakan kriteria DSM-IV atau ICD-10, prevalensi selama 12 bulan untuk gangguan gejala somatik dan kondisi terkait pada pasien layanan kesehatan primer diperkirakan secara masuk akal berada pada kisaran 10% hingga 20%. Angka prevalensi lebih tinggi dalam lingkungan klinis yang mengkhususkan diri pada gangguan psikosomatik atau gangguan fungsional, dengan frekuensi gangguan gejala somatik yang dilaporkan berkisar antara 40% hingga 60%.
Perempuan cenderung melaporkan lebih banyak gejala somatik dibandingkan laki-laki, sehingga prevalensi gangguan gejala somatik kemungkinan lebih tinggi pada perempuan.
Dalam sebuah penelitian terhadap anak-anak di Denmark yang berusia 5–7 tahun, gejala somatik fungsional merupakan keluhan kesehatan yang umum ditemukan. Pada sebagian kecil yang cukup bermakna (sekitar seperlima) dari anak-anak yang memiliki keluhan, gejala tersebut cukup berat hingga menyebabkan distres, gangguan keberfungsian, ketidakhadiran di sekolah, atau kebutuhan untuk mencari bantuan medis. Usia saat onset tampaknya tidak memengaruhi lamanya penyakit yang tidak mendapatkan pengobatan.
Perjalanan gangguan gejala somatik kemungkinan bersifat kronis dan berfluktuasi serta dipengaruhi oleh jumlah gejala, usia individu, tingkat gangguan keberfungsian, dan keberadaan komorbiditas. Perjalanan gangguan juga dipengaruhi oleh karakteristik kepribadian, dengan kecenderungan menghindari bahaya yang lebih rendah dan kemampuan bekerja sama yang lebih tinggi berkaitan dengan waktu yang lebih singkat untuk mencapai remisi.
Pada anak-anak, gejala yang paling umum adalah nyeri perut berulang, sakit kepala, kelelahan, dan mual. Satu gejala yang menonjol lebih umum ditemukan pada anak-anak dibandingkan orang dewasa. Ketika diagnosis ditegakkan pada individu yang lebih muda, penting untuk memperoleh asesmen mengenai gambaran gejala dari pasien, keluarga, dan sumber lainnya (misalnya, sekolah). Keterlibatan pasien dan pengasuh selama evaluasi dan penanganan merupakan hal yang mendasar karena interpretasi serta respons orang tua terhadap gejala dapat menentukan tingkat distres yang menyertainya, kebutuhan terhadap pemeriksaan dan intervensi medis, serta lamanya waktu anak tidak mengikuti kegiatan sekolah.
Pada individu yang lebih tua, nyeri yang terlokalisasi di beberapa bagian tubuh tampaknya merupakan gejala yang paling umum. Gejala somatik dan penyakit medis yang terjadi secara bersamaan umum ditemukan karena jumlah kondisi medis yang dialami secara bersamaan meningkat seiring bertambahnya usia. Angka prevalensi gangguan gejala somatik tampaknya stabil hingga usia 65 tahun dan mungkin menurun setelahnya. Dalam menegakkan diagnosis pada individu yang lebih tua, sangat penting untuk berfokus pada persyaratan adanya pikiran, perasaan, atau perilaku berlebihan yang berkaitan dengan gejala somatik atau kekhawatiran mengenai kesehatan yang menyertainya (Kriteria B). Gangguan gejala somatik mungkin kurang terdiagnosis pada orang dewasa yang lebih tua, baik karena gejala somatik tertentu (misalnya, nyeri atau kelelahan) dianggap sebagai bagian dari penuaan normal maupun karena kekhawatiran mengenai penyakit dianggap sebagai sesuatu yang “dapat dimengerti” pada orang dewasa yang lebih tua, yang memiliki lebih banyak penyakit medis umum dan menggunakan lebih banyak obat dibandingkan individu yang lebih muda.
Karakteristik kepribadian berupa afektivitas negatif (neurotisisme) telah diidentifikasi sebagai faktor yang berkorelasi secara independen atau faktor risiko terhadap banyaknya gejala somatik. Kecemasan atau depresi sebagai komorbiditas umum ditemukan dan dapat memperburuk gejala serta gangguan keberfungsian.
Gangguan gejala somatik lebih sering ditemukan pada individu dengan masa pendidikan yang lebih singkat dan status sosial ekonomi rendah, serta pada individu yang baru saja mengalami peristiwa kehidupan yang penuh tekanan atau berkaitan dengan kesehatan. Pengalaman buruk pada awal kehidupan, seperti kekerasan seksual pada masa kanak-kanak, juga kemungkinan merupakan faktor risiko gangguan gejala somatik pada orang dewasa.
Gejala somatik yang menetap berkaitan dengan karakteristik demografis (perempuan, usia yang lebih tua, masa pendidikan yang lebih singkat, status sosial ekonomi yang lebih rendah, dan pengangguran), riwayat kekerasan seksual atau pengalaman buruk lainnya pada masa kanak-kanak yang dilaporkan, penyakit fisik kronis atau gangguan mental yang terjadi secara bersamaan (depresi, kecemasan, gangguan depresif persisten, atau panik), stres sosial, serta faktor sosial yang memberikan penguatan, seperti keuntungan yang diperoleh dari status sakit. Tingkat keparahan gejala somatik secara keseluruhan kemungkinan berkaitan dengan gender perempuan, kecemasan, depresi, dan penyakit medis umum. Faktor kognitif yang memengaruhi perjalanan klinis mencakup peningkatan sensitivitas terhadap nyeri, perhatian yang meningkat terhadap sensasi tubuh, serta kecenderungan mengaitkan gejala tubuh dengan kemungkinan penyakit medis daripada mengenalinya sebagai fenomena normal atau stres psikologis.
Jumlah gejala somatik yang tinggi ditemukan dalam penelitian berbasis populasi dan layanan kesehatan primer di seluruh dunia, dengan pola yang serupa dalam hal gejala somatik yang paling sering dilaporkan, gangguan keberfungsian, dan perilaku mencari pengobatan. Hubungan antara jumlah gejala somatik dan kekhawatiran mengenai penyakit serupa dalam berbagai konteks budaya, dan kekhawatiran yang nyata mengenai penyakit berkaitan dengan gangguan keberfungsian serta meningkatnya perilaku mencari pengobatan di berbagai budaya. Dalam banyak konteks budaya, individu dengan depresi umumnya menunjukkan gejala somatik.
Meskipun terdapat kesamaan tersebut, gejala somatik menunjukkan perbedaan dalam berbagai konteks budaya dan kelompok etnorasial. Faktor sosiokultural, terutama stigma yang berkaitan dengan gangguan mental, dapat menjelaskan perbedaan dalam pelaporan gejala somatik di berbagai konteks budaya. Cara menggambarkan gejala somatik bervariasi menurut faktor bahasa dan faktor budaya lokal lainnya. Gambaran somatik tersebut telah disebut sebagai “ungkapan khas distres” (idioms of distress) karena gejala somatik dapat memiliki makna khusus dan membentuk interaksi antara pasien dan klinisi dalam konteks budaya tertentu. Sebagai contoh, sensasi tubuh terasa berat, keluhan mengenai “gas”, rasa panas yang berlebihan di dalam tubuh, atau sensasi terbakar di kepala umum ditemukan dalam beberapa budaya atau kelompok etnis, tetapi jarang ditemukan pada kelompok lainnya. Penjelasan budaya juga bervariasi, dan gejala somatik dapat dikaitkan dengan berbagai sumber, seperti stres tertentu dalam keluarga, pekerjaan (misalnya, burnout), atau lingkungan lainnya; penyakit medis umum; penekanan perasaan marah dan kebencian; maupun penjelasan tertentu yang khas secara budaya, seperti kehilangan air mani. Gejala somatik tertentu dapat menjadi bagian dari model penjelasan khusus dalam suatu konteks budaya; misalnya, pemahaman tradisional mengenai shenjing shuairuo di Tiongkok menghubungkan konsep “kelemahan saraf” (neurasthenia) dan ketidakseimbangan panas-dingin dengan gejala yang menonjol, seperti kelelahan dan tingkat energi yang rendah. Selain perbedaan akibat akses terhadap layanan medis yang tidak merata, berbagai kelompok budaya juga mungkin menunjukkan perbedaan dalam perilaku mencari pengobatan medis dan penggunaan praktik penyembuhan nonmedis, tradisional, alternatif, serta komplementer. Keyakinan budaya, penyakit yang pernah dialami, status asuransi, literasi kesehatan, dan pengalaman memperoleh layanan kesehatan dapat memengaruhi persepsi individu terhadap gejala somatik dan penggunaan layanan kesehatan. Mencari pengobatan untuk berbagai gejala somatik di klinik medis umum merupakan fenomena yang ditemukan di seluruh dunia.
Dalam penelitian berbasis populasi, perempuan melaporkan lebih banyak gejala somatik dibandingkan laki-laki, dan dalam salah satu penelitian terhadap pasien layanan kesehatan primer yang mengalami nyeri kronis, perempuan melaporkan gejala somatik yang lebih berat dibandingkan laki-laki. Meskipun paparan terhadap trauma seksual, kekerasan oleh pasangan intim, dan riwayat trauma masa kanak-kanak berkaitan dengan peningkatan ekspresi gejala somatik baik pada perempuan maupun laki-laki, riwayat berbagai pengalaman buruk pada masa kanak-kanak terutama lebih mungkin meningkatkan ekspresi gejala somatik pada perempuan.
Pada perempuan, gender berkaitan dengan peningkatan kemungkinan berkembangnya gejala gangguan gejala somatik yang menetap. Tampaknya tidak terdapat bukti bahwa gender berkaitan dengan durasi penyakit yang tidak mendapatkan pengobatan maupun respons terhadap pengobatan psikologis atau farmakologis.
Gangguan gejala somatik berkaitan dengan pikiran bunuh diri dan percobaan bunuh diri. Pikiran dan perilaku bunuh diri kemungkinan sebagian dapat dijelaskan oleh tumpang tindih diagnostik dan tingginya komorbiditas antara gangguan gejala somatik dan gangguan depresif. Selain itu, persepsi yang disfungsional mengenai penyakit dan tingkat keparahan gejala somatik tampaknya secara independen berkaitan dengan peningkatan risiko ideasi bunuh diri.
Gangguan ini berkaitan dengan penurunan status kesehatan yang nyata dan distres psikologis yang tinggi. Banyak individu dengan gangguan gejala somatik yang berat kemungkinan memiliki skor status kesehatan lebih dari 2 simpangan baku di bawah norma populasi. Status kesehatan terutama mengalami gangguan apabila terdapat banyak gejala atau gejala yang berat.
Apabila gejala somatik sesuai dengan gangguan mental lainnya (misalnya, gangguan panik), dan kriteria diagnostik untuk gangguan tersebut terpenuhi, maka gangguan mental tersebut perlu dipertimbangkan sebagai diagnosis alternatif atau diagnosis tambahan. Apabila, sebagaimana sering terjadi, kriteria gangguan gejala somatik dan diagnosis gangguan mental lainnya sama-sama terpenuhi, maka keduanya harus didiagnosis karena keduanya mungkin memerlukan pengobatan.
Adanya gejala somatik yang etiologinya tidak jelas dengan sendirinya tidak cukup untuk menegakkan diagnosis gangguan gejala somatik. Gejala pada banyak individu dengan gangguan seperti sindrom iritasi usus besar atau fibromialgia tidak akan memenuhi kriteria yang diperlukan untuk mendiagnosis gangguan gejala somatik (Kriteria B). Sebaliknya, adanya gejala somatik dari kondisi medis yang telah diketahui (misalnya, diabetes atau penyakit jantung) tidak mengecualikan diagnosis gangguan gejala somatik apabila kriteria lainnya terpenuhi. Faktor-faktor yang membedakan individu dengan gangguan gejala somatik dari individu yang hanya mengalami kondisi medis umum mencakup ketidakefektifan obat pereda nyeri, riwayat gangguan mental, faktor pemicu atau pereda gejala yang tidak jelas, gejala yang menetap tanpa berhenti, serta stres.
Diagnosis gangguan gejala somatik mensyaratkan adanya gejala somatik yang menimbulkan distres atau mengganggu keberfungsian, yang dapat berkaitan atau tidak berkaitan dengan kondisi medis lainnya, tetapi harus disertai pikiran, perasaan, atau perilaku yang berlebihan atau tidak proporsional terkait gejala somatik atau kekhawatiran mengenai kesehatan yang menyertainya. Sebaliknya, diagnosis faktor psikologis yang memengaruhi kondisi medis lainnya mensyaratkan adanya suatu kondisi medis, serta faktor psikologis yang berdampak buruk terhadap perjalanan kondisi tersebut atau mengganggu pengobatannya.
Pada gangguan panik, gejala somatik dan kecemasan mengenai kesehatan cenderung muncul dalam episode akut, sedangkan pada gangguan gejala somatik, kecemasan dan gejala somatik lebih bersifat menetap.
Individu dengan gangguan kecemasan menyeluruh mengkhawatirkan berbagai peristiwa, situasi, atau aktivitas, dan masalah kesehatan mungkin hanya merupakan salah satu dari berbagai hal yang dikhawatirkan. Fokus utama biasanya bukan gejala somatik atau ketakutan terhadap penyakit sebagaimana ditemukan pada gangguan gejala somatik.
Gangguan depresif umumnya disertai gejala somatik seperti kelelahan, sakit kepala, atau nyeri pada sendi, perut, maupun bagian tubuh lainnya. Namun, gangguan depresif dibedakan dari gangguan gejala somatik berdasarkan persyaratan adanya suasana perasaan depresif atau, dalam kasus gangguan depresif mayor, adanya suasana perasaan depresif atau penurunan minat maupun kesenangan dalam melakukan aktivitas. Dalam beberapa konteks budaya, gejala inti depresi tersebut pada awalnya mungkin disangkal atau kurang ditekankan oleh individu yang gambaran klinisnya sebenarnya memenuhi kriteria gangguan depresif. Sebaliknya, individu tersebut mungkin lebih menekankan gejala somatik yang merupakan ungkapan khas secara budaya (misalnya, hati terasa berat) dan mungkin tidak familier bagi klinisi.
Apabila individu memiliki kekhawatiran yang sangat luas mengenai kesehatan, tetapi tidak memiliki gejala somatik atau hanya mengalami gejala somatik yang minimal, maka gangguan kecemasan penyakit mungkin lebih tepat untuk dipertimbangkan.
Pada gangguan gejala neurologis fungsional, gejala yang muncul berupa hilangnya fungsi tertentu (misalnya, fungsi anggota gerak tubuh), sedangkan pada gangguan gejala somatik, fokusnya adalah distres yang ditimbulkan oleh gejala tertentu. Karakteristik yang tercantum dalam Kriteria B gangguan gejala somatik dapat membantu membedakan kedua gangguan tersebut.
Pada gangguan gejala somatik, keyakinan individu bahwa gejala somatik mungkin mencerminkan penyakit fisik serius yang mendasarinya tidak dipertahankan dengan intensitas waham. Meskipun demikian, individu dapat memiliki keyakinan yang sangat kuat mengenai gejala somatik tersebut. Sebaliknya, pada gangguan waham tipe somatik, keyakinan individu bahwa gejala somatik menunjukkan adanya penyakit serius yang mendasarinya lebih kuat dibandingkan dengan keyakinan yang ditemukan pada gangguan gejala somatik.
Pada gangguan dismorfik tubuh, individu memiliki kekhawatiran berlebihan dan perhatian yang sangat terfokus terhadap kekurangan yang dipersepsikan pada penampilan fisiknya. Sebaliknya, pada gangguan gejala somatik, kekhawatiran mengenai gejala somatik mencerminkan ketakutan terhadap penyakit yang mendasarinya, bukan terhadap kekurangan pada penampilan fisik.
Pada gangguan gejala somatik, pikiran berulang mengenai gejala somatik atau penyakit bersifat kurang intrusif, dan individu dengan gangguan ini tidak menunjukkan perilaku berulang yang menyertainya dan bertujuan untuk mengurangi kecemasan sebagaimana terjadi pada gangguan obsesif-kompulsif.
Pada gangguan buatan dan malingering, individu menampilkan dirinya sebagai orang yang sakit atau mengalami gangguan keberfungsian, tetapi telah memalsukan tanda dan gejala fisik yang ditunjukkan dengan tujuan untuk menipu. Sebaliknya, gejala pada gangguan gejala somatik tidak disimulasikan atau ditimbulkan sendiri, dan individu tersebut benar-benar mengalami penderitaan yang nyata dan serius akibat keluhan somatiknya.
Gangguan gejala somatik berkaitan dengan tingginya angka komorbiditas dengan gangguan mental lainnya maupun kondisi medis umum. Gangguan mental yang paling relevan dan terjadi secara bersamaan adalah gangguan kecemasan dan gangguan depresif, yang masing-masing ditemukan pada hingga 50% kasus gangguan gejala somatik serta secara bermakna berkontribusi terhadap gangguan keberfungsian secara keseluruhan dan penurunan kualitas hidup. Gangguan mental lain yang ditemukan terjadi bersamaan dengan gangguan gejala somatik adalah gangguan stres pascatrauma dan gangguan obsesif-kompulsif. Bukti lainnya menunjukkan adanya hubungan dengan disfungsi seksual pada laki-laki.
Tingkat karakteristik psikologis yang meningkat (Kriteria B) pada gangguan gejala somatik telah ditemukan dalam beberapa kondisi medis umum. Ketika terdapat kondisi medis umum yang terjadi secara bersamaan, tingkat gangguan keberfungsian menjadi lebih nyata daripada yang diperkirakan hanya berdasarkan penyakit fisik tersebut. Selain itu, somatisasi pada penyakit medis telah terbukti memperburuk perjalanan penyakit dan hasil pengobatan, kepatuhan terhadap pengobatan, serta kualitas hidup, dan meningkatkan penggunaan layanan kesehatan.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.