Depersonalization/Derealization Disorder
Adanya pengalaman depersonalisasi, derealisasi, atau keduanya yang bersifat menetap atau berulang: (1) Depersonalisasi: Pengalaman merasa tidak nyata, terlepas dari diri sendiri, atau menjadi pengamat dari luar terhadap pikiran, perasaan, sensasi, tubuh, atau tindakan diri sendiri (misalnya, perubahan persepsi, distorsi persepsi terhadap waktu, perasaan bahwa diri sendiri tidak nyata atau tidak ada, serta penumpulan emosi dan/atau sensasi fisik). (2) Derealisasi: Pengalaman merasa bahwa lingkungan sekitar tidak nyata atau merasa terlepas dari lingkungan tersebut (misalnya, individu atau objek dirasakan tidak nyata, seperti dalam mimpi, berkabut, tidak bernyawa, atau mengalami distorsi visual).
Selama mengalami depersonalisasi atau derealisasi, kemampuan untuk menguji realitas tetap terjaga.
Gejala-gejala tersebut menyebabkan distres yang bermakna secara klinis atau gangguan keberfungsian dalam bidang sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya.
Gangguan tersebut tidak disebabkan oleh efek fisiologis suatu zat (misalnya, zat yang disalahgunakan atau obat-obatan) maupun kondisi medis lainnya (misalnya, kejang).
Gangguan tersebut tidak dapat dijelaskan secara lebih baik oleh gangguan mental lainnya, seperti skizofrenia, gangguan panik, gangguan depresif mayor, gangguan stres akut, gangguan stres pascatrauma, atau gangguan disosiatif lainnya.
Karakteristik utama gangguan depersonalisasi/derealisasi adalah episode depersonalisasi, derealisasi, atau keduanya yang bersifat menetap atau berulang. Episode depersonalisasi ditandai oleh perasaan bahwa seluruh diri individu atau aspek tertentu dari dirinya tidak nyata, terlepas dari diri sendiri, atau terasa asing (Kriteria A1). Individu dapat merasa terlepas dari seluruh keberadaan dirinya (misalnya, “Saya bukan siapa-siapa”, “Saya tidak memiliki diri sendiri”). Individu juga dapat secara subjektif merasa terlepas dari aspek-aspek dirinya, termasuk perasaan (misalnya, hipoemosionalitas: “Saya tahu saya memiliki perasaan, tetapi saya tidak dapat merasakannya”), pikiran (misalnya, “Pikiran saya terasa bukan milik saya sendiri”, “Kepala saya terasa dipenuhi kapas”), seluruh tubuh atau bagian tubuh tertentu, maupun sensasi (misalnya, sentuhan, propriosepsi, rasa lapar, haus, atau libido). Selain itu, dapat terjadi penurunan perasaan memiliki kendali atas tindakan diri sendiri (misalnya, merasa seperti robot atau mesin otomatis; tidak memiliki kendali atas ucapan atau gerakan). Pengalaman depersonalisasi terkadang dapat berupa perasaan bahwa diri terbagi menjadi dua bagian, dengan satu bagian mengamati dan bagian lainnya berpartisipasi, yang dalam bentuk paling ekstrem dikenal sebagai “pengalaman berada di luar tubuh” (out-of-body experience). Gejala tunggal yang disebut “depersonalisasi” terdiri atas beberapa faktor gejala, yaitu pengalaman tubuh yang tidak lazim (yakni, perasaan bahwa diri sendiri tidak nyata dan perubahan persepsi); penumpulan emosi atau sensasi fisik; serta distorsi waktu yang disertai pengalaman mengingat kembali secara subjektif yang tidak lazim.
Episode derealisasi ditandai oleh perasaan bahwa dunia tidak nyata, terlepas dari individu, atau terasa asing, baik yang berkaitan dengan orang lain, benda mati, maupun seluruh lingkungan sekitar (Kriteria A2). Individu dapat merasa seolah-olah berada dalam kabut, mimpi, atau gelembung, atau seolah-olah terdapat tirai atau dinding kaca yang memisahkan dirinya dari dunia di sekitarnya. Lingkungan sekitar dapat dirasakan sebagai sesuatu yang artifisial, tidak berwarna, atau tidak bernyawa. Derealisasi umumnya disertai distorsi visual subjektif, seperti penglihatan kabur, peningkatan ketajaman penglihatan, lapang pandang yang melebar atau menyempit, persepsi dua dimensi atau datar, persepsi tiga dimensi yang berlebihan, atau perubahan persepsi terhadap jarak maupun ukuran objek (yaitu, makropsia atau mikropsia). Distorsi auditorik juga dapat terjadi, ketika suara atau bunyi terdengar lebih pelan atau lebih keras. Selain itu, Kriteria C mensyaratkan bahwa gejala-gejala tersebut menyebabkan distres yang bermakna secara klinis atau gangguan keberfungsian dalam bidang sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya, sedangkan Kriteria D dan E menjelaskan diagnosis yang harus disingkirkan.
Individu dengan gangguan depersonalisasi/derealisasi mungkin mengalami kesulitan menggambarkan gejala-gejalanya dan dapat berpikir bahwa mereka “gila” atau “sedang menjadi gila”. Pengalaman umum lainnya adalah ketakutan mengalami kerusakan otak yang tidak dapat dipulihkan. Gejala yang umum menyertai adalah perubahan persepsi subjektif terhadap waktu (yaitu, waktu terasa berjalan terlalu cepat atau terlalu lambat), serta kesulitan subjektif untuk mengingat kembali pengalaman masa lalu secara jelas dan merasakannya sebagai pengalaman pribadi yang memiliki makna emosional. Gejala somatik yang tidak spesifik, seperti sensasi kepala terasa penuh, kesemutan, atau kepala terasa ringan, juga tidak jarang ditemukan. Individu dapat mengalami ruminasi yang sangat intens atau perhatian obsesif yang berlebihan (misalnya, terus-menerus memikirkan apakah mereka benar-benar ada atau memeriksa persepsinya untuk menentukan apakah sesuatu tampak nyata). Berbagai tingkat kecemasan dan depresi juga merupakan karakteristik penyerta yang umum. Individu dengan gangguan ini ditemukan memiliki hiporeaktivitas fisiologis terhadap stimulus emosional. Struktur dan sistem saraf yang menjadi perhatian dalam penelitian mencakup aksis hipotalamus-hipofisis-adrenokortikal, lobulus parietal inferior, serta sirkuit kortikal prefrontal-limbik.
Gejala depersonalisasi/derealisasi sementara yang berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa hari umum ditemukan dalam populasi umum. Prevalensi gangguan depersonalisasi/derealisasi selama 12 bulan diperkirakan jauh lebih rendah dibandingkan dengan prevalensi gejala sementara, meskipun perkiraan yang tepat mengenai prevalensi gangguan tersebut belum tersedia. Secara umum, sekitar separuh dari seluruh orang dewasa pernah mengalami setidaknya satu episode depersonalisasi/derealisasi sepanjang hidupnya. Namun, gejala yang memenuhi seluruh kriteria gangguan depersonalisasi/derealisasi jauh lebih jarang ditemukan dibandingkan dengan gejala yang bersifat sementara. Prevalensi selama satu bulan di Inggris diperkirakan sekitar 1%–2%.
Usia rata-rata onset gangguan depersonalisasi/derealisasi adalah 16 tahun, meskipun gangguan ini dapat dimulai pada masa kanak-kanak awal atau pertengahan; sebagian kecil individu tidak dapat mengingat pernah mengalami masa tanpa gejala tersebut. Kurang dari 20% individu mengalami onset setelah usia 20 tahun dan hanya 5% setelah usia 25 tahun. Onset pada dekade keempat kehidupan atau setelahnya sangat jarang terjadi.
Onset gangguan dapat berkisar dari sangat mendadak hingga bertahap. Durasi episode gangguan depersonalisasi/derealisasi dapat sangat bervariasi, mulai dari singkat (beberapa jam atau hari) hingga berkepanjangan (beberapa minggu, bulan, atau tahun). Mengingat jarangnya onset gangguan setelah usia 40 tahun, individu yang mengalami onset pada usia tersebut perlu menjalani pemeriksaan lebih mendalam untuk mengidentifikasi kemungkinan kondisi medis yang mendasarinya (misalnya, lesi otak, gangguan kejang, atau apnea tidur). Perjalanan gangguan sering kali bersifat menetap. Sekitar sepertiga kasus melibatkan episode-episode yang terpisah; sepertiga lainnya menunjukkan gejala yang terus-menerus sejak awal; dan sepertiga sisanya memiliki perjalanan gangguan yang awalnya bersifat episodik, tetapi pada akhirnya menjadi terus-menerus.
Meskipun pada sebagian individu intensitas gejala dapat meningkat dan menurun secara bermakna, individu lainnya melaporkan tingkat intensitas gejala yang tidak berubah dan, dalam kasus ekstrem, dapat terus berlangsung selama bertahun-tahun atau bahkan beberapa dekade. Faktor internal dan eksternal yang memengaruhi intensitas gejala bervariasi antarindividu, meskipun terdapat beberapa pola yang umum dilaporkan. Perburukan gejala dapat dipicu oleh stres, memburuknya gejala gangguan suasana perasaan atau kecemasan, lingkungan yang baru atau memberikan stimulasi berlebihan, serta faktor fisik seperti pencahayaan atau kurang tidur.
Individu dengan gangguan depersonalisasi/derealisasi ditandai oleh temperamen yang cenderung menghindari bahaya, mekanisme pertahanan diri yang belum matang, serta skema keterputusan dan keterhubungan berlebihan. Mekanisme pertahanan diri yang belum matang, seperti idealisasi/devaluasi, proyeksi, dan acting out, mengakibatkan penyangkalan terhadap realitas dan penyesuaian diri yang buruk. Skema keterputusan kognitif mencerminkan perasaan memiliki kekurangan dan hambatan emosional serta mencakup tema-tema kekerasan, pengabaian, dan deprivasi. Skema keterhubungan berlebihan melibatkan gangguan otonomi dengan tema-tema ketergantungan, kerentanan, dan ketidakmampuan.
Terdapat hubungan yang jelas antara gangguan ini dan trauma interpersonal pada masa kanak-kanak pada sebagian besar individu, meskipun hubungan tersebut tidak ditemukan sesering atau dengan tingkat trauma seekstrem yang terjadi pada gangguan disosiatif lainnya, seperti gangguan identitas disosiatif. Secara khusus, kekerasan emosional dan pengabaian emosional merupakan faktor yang paling kuat dan konsisten berkaitan dengan gangguan ini. Stresor lainnya dapat mencakup kekerasan fisik; menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga; tumbuh bersama orang tua yang mengalami gangguan mental berat dan gangguan keberfungsian yang serius; atau kematian mendadak maupun bunuh diri anggota keluarga atau teman dekat. Kekerasan seksual merupakan faktor pendahulu yang jauh lebih jarang ditemukan, tetapi tetap dapat terjadi. Faktor pemicu langsung yang paling umum adalah stres berat (interpersonal, finansial, atau pekerjaan), depresi, kecemasan (terutama serangan panik), dan penggunaan obat-obatan terlarang. Gejala dapat secara khusus diinduksi oleh zat seperti tetrahidrokanabinol, halusinogen, ketamin, MDMA (3,4-metilendioksimetamfetamin; “ekstasi”), dan salvia. Penggunaan mariyuana dapat secara bersamaan memicu munculnya serangan panik baru dan gejala depersonalisasi/derealisasi.
Pengalaman depersonalisasi/derealisasi yang ditimbulkan secara sengaja dapat menjadi bagian dari praktik meditasi yang umum ditemukan dalam berbagai konteks agama, spiritual, dan budaya, sehingga tidak boleh didiagnosis sebagai gangguan. Namun, terdapat individu yang pada awalnya secara sengaja menimbulkan keadaan tersebut, tetapi seiring waktu kehilangan kendali atas pengalaman tersebut dan dapat mengembangkan ketakutan serta keengganan terhadap praktik yang berkaitan dengannya. Kerangka budaya dapat memengaruhi tingkat distres atau tingkat keparahan yang dirasakan terkait pengalaman depersonalisasi/derealisasi yang tidak terkendali dengan memberikan penjelasan mengenai pengalaman tersebut (misalnya, penyebab spiritual atau supranatural), yang dapat mengurangi ketakutan individu bahwa mereka sedang “kehilangan kewarasan”.
Gejala gangguan depersonalisasi/derealisasi sangat menimbulkan distres dan berkaitan dengan morbiditas yang berat. Sikap dan perilaku individu yang tampak datar secara afektif dan menyerupai robot sering kali terlihat tidak selaras dengan penderitaan emosional yang sangat berat yang dilaporkan oleh individu dengan gangguan tersebut. Gangguan keberfungsian sering dialami dalam bidang interpersonal maupun pekerjaan, terutama sebagai akibat dari rendahnya respons emosional dalam hubungan dengan orang lain, kesulitan subjektif untuk memusatkan perhatian dan mempertahankan informasi, serta perasaan umum terputus dari kehidupan.
Meskipun individu dengan gangguan depersonalisasi/derealisasi dapat menunjukkan keluhan somatik yang tidak spesifik serta ketakutan mengalami kerusakan otak permanen, diagnosis gangguan depersonalisasi/derealisasi ditandai oleh adanya sekumpulan gejala khas depersonalisasi/derealisasi dan tidak ditemukannya manifestasi lain dari gangguan kecemasan penyakit.
Perasaan mati rasa, tidak bernyawa, apatis, dan merasa seperti berada dalam mimpi bukan merupakan hal yang jarang ditemukan pada episode depresif mayor. Namun, pada gangguan depersonalisasi/derealisasi, gejala-gejala tersebut berkaitan dengan gejala tambahan lainnya yang menjadi karakteristik gangguan ini. Apabila depersonalisasi/derealisasi secara jelas mendahului onset episode depresif mayor atau secara jelas terus berlangsung setelah episode tersebut mengalami pemulihan, maka diagnosis gangguan depersonalisasi/derealisasi berlaku.
Sebagian individu dengan gangguan depersonalisasi/derealisasi dapat menjadi sangat terobsesi dengan pengalaman subjektifnya atau mengembangkan ritual untuk memeriksa keadaan gejala mereka. Namun, gejala lain dari gangguan obsesif-kompulsif yang tidak berkaitan dengan depersonalisasi/derealisasi tidak ditemukan.
Untuk menegakkan diagnosis gangguan depersonalisasi/derealisasi, gejala-gejala tersebut tidak boleh terjadi dalam konteks gangguan disosiatif lainnya, seperti gangguan identitas disosiatif. Pembedaan dari amnesia disosiatif dan gangguan gejala neurologis fungsional (gangguan konversi) lebih sederhana karena gejala-gejala dari kedua gangguan tersebut tidak tumpang tindih dengan gejala gangguan depersonalisasi/derealisasi.
Depersonalisasi/derealisasi merupakan salah satu gejala serangan panik, yang semakin umum ditemukan seiring meningkatnya tingkat keparahan serangan panik. Oleh karena itu, gangguan depersonalisasi/derealisasi tidak boleh didiagnosis apabila gejala-gejala tersebut hanya terjadi selama serangan panik yang merupakan bagian dari gangguan panik, gangguan kecemasan sosial, atau fobia spesifik. Selain itu, bukan merupakan hal yang jarang apabila gejala depersonalisasi/derealisasi pertama kali muncul dalam konteks serangan panik yang baru terjadi atau ketika gangguan panik berkembang dan semakin memburuk. Pada gambaran klinis tersebut, diagnosis gangguan depersonalisasi/derealisasi dapat ditegakkan apabila 1) komponen depersonalisasi/derealisasi dalam gambaran klinis sangat menonjol sejak awal, dengan durasi dan intensitas yang secara jelas melampaui serangan panik yang sebenarnya; atau 2) depersonalisasi/derealisasi terus berlangsung setelah gangguan panik mengalami remisi atau berhasil ditangani.
Kemampuan menguji realitas yang tetap terjaga, khususnya berkaitan dengan gejala depersonalisasi/derealisasi, merupakan hal yang sangat penting untuk membedakan gangguan depersonalisasi/derealisasi dari gangguan psikotik. Dalam kasus yang jarang terjadi, skizofrenia dengan gejala positif dapat menimbulkan kesulitan diagnostik apabila terdapat waham nihilistik. Sebagai contoh, individu mungkin mengeluhkan bahwa dirinya telah meninggal atau bahwa dunia tidak nyata; hal tersebut dapat merupakan pengalaman subjektif yang diketahui individu sebagai sesuatu yang tidak benar atau merupakan keyakinan waham.
Depersonalisasi/derealisasi yang berkaitan dengan efek fisiologis zat selama intoksikasi akut atau putus zat tidak didiagnosis sebagai gangguan depersonalisasi/derealisasi. Zat terlarang yang paling umum menjadi pemicu adalah mariyuana, halusinogen, ketamin, ekstasi, dan salvia. Pada sekitar 15% dari seluruh kasus gangguan depersonalisasi/derealisasi, gejala dipicu oleh konsumsi zat-zat tersebut. Apabila gejala menetap selama beberapa waktu tanpa adanya penggunaan zat atau obat lebih lanjut, diagnosis gangguan depersonalisasi/derealisasi berlaku. Diagnosis ini biasanya mudah ditegakkan karena sebagian besar individu dengan gambaran klinis tersebut mengembangkan ketakutan yang sangat kuat dan keengganan terhadap zat pemicu sehingga tidak menggunakannya kembali.
Gejala depersonalisasi/derealisasi umum ditemukan pada cedera otak traumatis (traumatic brain injury atau TBI), tetapi dapat dibedakan dari gangguan depersonalisasi/derealisasi berdasarkan onset gejala yang terjadi setelah TBI serta tidak adanya gejala lain yang menjadi karakteristik gangguan depersonalisasi/derealisasi.
Karakteristik seperti onset setelah usia 40 tahun atau adanya gejala dan perjalanan gangguan yang tidak khas pada individu mana pun menunjukkan kemungkinan adanya kondisi medis yang mendasari. Pada kasus dengan gejala disosiatif, sangat penting untuk melakukan evaluasi medis dan neurologis yang menyeluruh, yang dapat mencakup pemeriksaan laboratorium standar, pemeriksaan titer virus, elektroensefalogram, pemeriksaan vestibular, pemeriksaan penglihatan, pemeriksaan tidur, dan/atau pencitraan otak. Apabila dugaan adanya gangguan kejang yang mendasari sulit dikonfirmasi, pemeriksaan elektroensefalogram ambulatoar mungkin diperlukan; meskipun epilepsi lobus temporal merupakan kondisi yang paling sering berkaitan, epilepsi lobus parietal dan frontal juga dapat berhubungan dengan gejala tersebut.
Dalam sampel kemudahan (convenience sample) orang dewasa yang direkrut untuk sejumlah penelitian mengenai depersonalisasi, tingkat komorbiditas sepanjang hidup ditemukan tinggi untuk gangguan depresif unipolar dan semua jenis gangguan kecemasan, dengan proporsi yang bermakna dari sampel mengalami kedua gangguan tersebut. Komorbiditas dengan gangguan stres pascatrauma ditemukan rendah. Tiga gangguan kepribadian yang paling umum muncul secara bersamaan adalah gangguan kepribadian menghindar, gangguan kepribadian ambang, dan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.