Hallucinogen Persisting Perception Disorder
Setelah penghentian penggunaan halusinogen, individu kembali mengalami satu atau lebih gejala persepsi yang pernah dialami ketika mengalami intoksikasi halusinogen (misalnya, halusinasi geometris, persepsi keliru mengenai gerakan pada bidang penglihatan perifer, kilatan warna, intensifikasi warna, jejak bayangan benda yang bergerak, bayangan sisa positif, lingkaran cahaya di sekitar objek, makropsia, dan mikropsia).
Gejala-gejala pada Kriteria A menyebabkan distres yang bermakna secara klinis atau gangguan keberfungsian dalam bidang sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya.
Gejala-gejala tersebut tidak disebabkan oleh kondisi medis lainnya (misalnya, lesi anatomis dan infeksi otak, epilepsi visual) dan tidak dapat dijelaskan secara lebih baik oleh gangguan mental lainnya (misalnya, delirium, gangguan neurokognitif mayor, skizofrenia) atau halusinasi hipnopompik.
Karakteristik utama gangguan persepsi menetap akibat halusinogen adalah munculnya kembali gangguan persepsi ketika individu berada dalam keadaan sadar dan tidak sedang berada di bawah pengaruh zat, yang sebelumnya dialami ketika individu mengalami intoksikasi halusinogen (Kriteria A). Gejala-gejalanya dapat mencakup berbagai bentuk gangguan persepsi, tetapi gangguan visual cenderung lebih dominan. Bentuk persepsi visual abnormal yang khas mencakup halusinasi geometris, persepsi keliru mengenai gerakan pada bidang penglihatan perifer, kilatan warna, intensifikasi warna, jejak bayangan benda yang bergerak (yaitu, bayangan yang tampak tertinggal di sepanjang lintasan benda bergerak, sebagaimana terlihat dalam fotografi stroboskopik), persepsi terhadap objek secara keseluruhan, gangguan visual berupa bintik-bintik menyerupai salju (visual snow), bayangan sisa positif (yaitu, “bayangan” suatu objek dengan warna yang sama atau warna komplementer yang tetap terlihat setelah objek tersebut dihilangkan), lingkaran cahaya di sekitar objek, atau kesalahan persepsi yang menyebabkan gambar tampak terlalu besar (makropsia) atau terlalu kecil (mikropsia). Durasi gangguan visual dapat bersifat episodik atau hampir terus-menerus dan harus menyebabkan distres yang bermakna secara klinis atau gangguan keberfungsian dalam bidang sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya (Kriteria B). Gangguan tersebut dapat berlangsung selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bertahun-tahun. Penyebab lain dari gangguan tersebut (misalnya, lesi otak, psikosis yang sudah ada sebelumnya, gangguan kejang, atau aura migrain tanpa sakit kepala) harus disingkirkan (Kriteria C).
Gangguan persepsi menetap akibat halusinogen terutama terjadi setelah penggunaan LSD (dietilamida asam lisergat), tetapi tidak secara eksklusif. Tampaknya tidak terdapat korelasi yang kuat antara gangguan persepsi menetap akibat halusinogen dan jumlah kejadian penggunaan halusinogen, karena beberapa kasus gangguan persepsi menetap akibat halusinogen terjadi pada individu dengan paparan halusinogen yang minimal. Beberapa kasus gangguan persepsi menetap akibat halusinogen dapat dipicu oleh penggunaan zat lainnya (misalnya, ganja atau alkohol), adaptasi terhadap lingkungan gelap, aktivitas fisik, serta paparan terhadap kebisingan dan fotofobia.
Kemampuan menguji realitas tetap utuh pada individu dengan gangguan persepsi menetap akibat halusinogen (yaitu, individu menyadari bahwa gangguan tersebut berkaitan dengan efek zat). Apabila kondisi ini tidak terpenuhi, gangguan lain mungkin dapat menjelaskan persepsi abnormal tersebut secara lebih baik.
Perkiraan prevalensi gangguan persepsi menetap akibat halusinogen belum diketahui secara pasti. Perkiraan awal prevalensi gangguan ini di antara individu yang menggunakan halusinogen adalah sekitar 4,2%.
Masih sedikit yang diketahui mengenai perkembangan gangguan persepsi menetap akibat halusinogen. Sebagaimana tercermin dari namanya, perjalanan gangguan ini bersifat menetap dan dapat berlangsung selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun pada individu tertentu.
Bukti mengenai faktor risiko gangguan persepsi menetap akibat halusinogen masih terbatas, meskipun faktor genetik telah dikemukakan sebagai salah satu kemungkinan penjelasan yang mendasari kerentanan terhadap efek LSD pada kondisi ini.
Meskipun gangguan persepsi menetap akibat halusinogen tetap menjadi kondisi kronis dalam beberapa kasus, banyak individu dengan gangguan ini mampu menekan gangguan persepsi tersebut dan terus berfungsi secara normal.
Kondisi yang harus disingkirkan mencakup skizofrenia, efek zat lainnya, gangguan neurodegeneratif, stroke, tumor otak, infeksi, dan trauma kepala. Hasil pemeriksaan pencitraan saraf pada kasus gangguan persepsi menetap akibat halusinogen biasanya menunjukkan hasil negatif. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, kemampuan menguji realitas tetap utuh (yaitu, individu menyadari bahwa gangguan tersebut berkaitan dengan efek zat); apabila kondisi ini tidak terpenuhi, gangguan lain (misalnya, gangguan psikotik atau kondisi medis lainnya) mungkin dapat menjelaskan persepsi abnormal tersebut secara lebih baik.
Gangguan mental yang umum ditemukan sebagai komorbiditas pada gangguan persepsi menetap akibat halusinogen adalah gangguan panik, gangguan penggunaan alkohol, gangguan depresif mayor, gangguan bipolar tipe I, dan gangguan spektrum skizofrenia.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.