F15.920 16_06

Intoksikasi Kafein

Caffeine Intoxication

Substance-Related Disorders Caffeine-Related Disorders DSM-5-TR 1x dibaca

Kriteria Diagnostik

A. Konsumsi kafein yang baru terjadi (biasanya dalam dosis tinggi yang jauh melebihi 250 mg).

B. Lima (atau lebih) dari tanda atau gejala berikut yang berkembang selama atau segera setelah penggunaan kafein:

  1. Kegelisahan.
  2. Rasa gugup.
  3. Kegairahan.
  4. Insomnia.
  5. Wajah memerah.
  6. Diuresis.
  7. Gangguan gastrointestinal.
  8. Kedutan otot.
  9. Alur pikiran dan pembicaraan yang bertele-tele serta tidak terarah.
  10. Takikardia atau aritmia jantung.
  11. Periode ketika individu merasa tidak pernah kehabisan energi.
  12. Agitasi psikomotor.

C. Tanda atau gejala pada Kriteria B menyebabkan distres yang bermakna secara klinis atau gangguan keberfungsian dalam bidang sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya.

D. Tanda atau gejala tersebut tidak disebabkan oleh kondisi medis lainnya dan tidak dapat dijelaskan secara lebih baik oleh gangguan mental lainnya, termasuk intoksikasi akibat zat lain.

Karakteristik Diagnostik

Kafein dapat dikonsumsi dari berbagai sumber, termasuk kopi, teh, minuman bersoda yang mengandung kafein, minuman berenergi, obat analgesik dan obat flu yang dijual bebas, produk penurun berat badan, serta cokelat. Kafein juga semakin sering digunakan sebagai bahan tambahan dalam vitamin dan produk makanan. Lebih dari 85% anak-anak dan orang dewasa di Amerika Serikat mengonsumsi kafein. Sebagian pengguna kafein menunjukkan gejala yang konsisten dengan penggunaan bermasalah, termasuk toleransi dan putus zat (lihat bagian “Putus Kafein” pada bagian selanjutnya dalam bab ini); saat ini belum tersedia data yang memadai untuk menentukan signifikansi klinis gangguan penggunaan kafein dan prevalensinya. Sebaliknya, terdapat bukti bahwa putus kafein dan intoksikasi kafein memiliki signifikansi klinis dan prevalensi yang cukup tinggi.

Karakteristik utama intoksikasi kafein adalah konsumsi kafein yang baru terjadi dan adanya lima atau lebih tanda atau gejala yang berkembang selama atau segera setelah penggunaan kafein (Kriteria A dan B). Gejala mencakup kegelisahan, rasa gugup, kegairahan, insomnia, wajah memerah, diuresis, dan keluhan gastrointestinal, yang dapat terjadi pada dosis rendah (misalnya, 200 mg) pada individu yang rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, atau individu yang sebelumnya belum pernah terpapar kafein. Gejala yang umumnya muncul pada tingkat konsumsi lebih dari 1 g/hari mencakup kedutan otot, alur pikiran dan pembicaraan yang bertele-tele serta tidak terarah, takikardia atau aritmia jantung, periode ketika individu merasa tidak pernah kehabisan energi, dan agitasi psikomotor. Intoksikasi kafein mungkin tidak terjadi meskipun asupan kafein tinggi karena telah berkembangnya toleransi. Tanda atau gejala tersebut harus menyebabkan distres yang bermakna secara klinis atau gangguan keberfungsian dalam bidang sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya (Kriteria C). Tanda atau gejala tersebut tidak boleh disebabkan oleh kondisi medis lainnya dan tidak dapat dijelaskan secara lebih baik oleh gangguan mental lainnya (misalnya, gangguan kecemasan) atau intoksikasi akibat zat lain (Kriteria D).

Karakteristik Penyerta

Gangguan sensorik ringan (misalnya, telinga berdenging dan kilatan cahaya) dapat terjadi akibat konsumsi kafein dalam dosis tinggi. Meskipun dosis kafein yang besar dapat meningkatkan denyut jantung, dosis yang biasa dikonsumsi melalui makanan atau minuman dapat memperlambat denyut jantung. Belum jelas apakah asupan kafein yang berlebihan dapat menyebabkan sakit kepala. Pada pemeriksaan fisik, dapat ditemukan agitasi, kegelisahan, berkeringat, takikardia, wajah memerah, dan peningkatan motilitas usus. Kadar kafein dalam darah dapat memberikan informasi penting untuk diagnosis, terutama apabila individu tidak mampu memberikan riwayat yang akurat, meskipun kadar tersebut tidak dapat digunakan sebagai dasar diagnosis secara tersendiri mengingat adanya variasi respons terhadap kafein antarindividu.

Prevalensi

Prevalensi intoksikasi kafein dalam populasi umum belum diketahui secara jelas. Di Amerika Serikat, sekitar 7% individu dalam populasi mungkin mengalami lima atau lebih gejala disertai gangguan keberfungsian yang konsisten dengan diagnosis intoksikasi kafein.

Konsumsi minuman berenergi yang mengandung kafein, sering kali bersamaan dengan alkohol, yang menyebabkan intoksikasi kafein telah meningkat pada remaja dan dewasa muda di negara-negara berpenghasilan tinggi. Hal ini mengakibatkan jumlah kunjungan ke instalasi gawat darurat di Amerika Serikat yang berkaitan dengan minuman berenergi berkafein meningkat dua kali lipat antara tahun 2007 dan 2011.

Perkembangan dan Perjalanan Gangguan

Sejalan dengan waktu paruh kafein yang berkisar antara 4–6 jam, gejala intoksikasi kafein biasanya mengalami remisi dalam satu hari pertama atau sekitar waktu tersebut dan tidak diketahui memiliki konsekuensi jangka panjang. Namun, individu yang mengonsumsi kafein dalam dosis sangat tinggi (yaitu, 5–10 g) mungkin memerlukan pertolongan medis segera karena dosis tersebut dapat menyebabkan kematian.

Seiring bertambahnya usia, individu cenderung menunjukkan reaksi yang semakin intens terhadap kafein, dengan meningkatnya keluhan gangguan tidur atau perasaan terstimulasi secara berlebihan. Intoksikasi kafein pada individu muda setelah mengonsumsi produk dengan kandungan kafein sangat tinggi, termasuk minuman berenergi, telah diamati. Anak-anak dan remaja mungkin memiliki peningkatan risiko intoksikasi kafein karena berat badan yang rendah, belum terbentuknya toleransi, dan kurangnya pengetahuan mengenai efek farmakologis kafein.

Faktor Risiko dan Prognostik

Faktor Lingkungan

Intoksikasi kafein sering ditemukan pada individu yang jarang menggunakan kafein atau pada mereka yang baru-baru ini meningkatkan asupan kafein dalam jumlah yang cukup besar. Selain itu, kontrasepsi oral secara bermakna mengurangi eliminasi kafein dari tubuh sehingga dapat meningkatkan risiko intoksikasi.

Faktor Genetik dan Fisiologis

Faktor genetik dapat memengaruhi risiko intoksikasi kafein.

Konsekuensi Fungsional Intoksikasi Kafein

Gangguan keberfungsian akibat intoksikasi kafein dapat menimbulkan konsekuensi serius, termasuk gangguan keberfungsian di tempat kerja atau sekolah, perilaku sosial yang tidak pantas, atau kegagalan dalam memenuhi kewajiban peran. Selain itu, kafein dalam dosis yang sangat tinggi dapat menyebabkan kematian. Dalam beberapa kasus, intoksikasi kafein dapat memicu gangguan akibat kafein.

Diagnosis Banding

Gangguan Mental Independen

Intoksikasi kafein dapat ditandai dengan gejala (misalnya, serangan panik) yang menyerupai gangguan mental independen. Untuk memenuhi kriteria intoksikasi kafein, gejala tersebut tidak boleh berkaitan dengan kondisi medis lainnya atau gangguan mental lainnya, seperti gangguan kecemasan, yang dapat menjelaskan gejala secara lebih baik. Episode manik; gangguan panik; gangguan kecemasan menyeluruh; intoksikasi amfetamin; putus sedatif, hipnotik, atau ansiolitik maupun putus tembakau; gangguan tidur; serta efek samping akibat obat (misalnya, akatisia) dapat menyebabkan gambaran klinis yang serupa dengan intoksikasi kafein.

Gangguan Mental Akibat Kafein

F15.93

Hubungan temporal antara gejala dengan peningkatan penggunaan kafein atau abstinensi dari kafein membantu menegakkan diagnosis. Intoksikasi kafein dibedakan dari gangguan kecemasan akibat kafein, dengan onset selama intoksikasi (lihat bagian “Gangguan Kecemasan Akibat Zat/Obat” dalam bab “Gangguan Kecemasan”), dan gangguan tidur akibat kafein, dengan onset selama intoksikasi (lihat bagian “Gangguan Tidur Akibat Zat/Obat” dalam bab “Gangguan Tidur-Bangun”), karena gejala (masing-masing berupa kecemasan dan insomnia) pada gangguan-gangguan tersebut melebihi gejala yang biasanya berkaitan dengan intoksikasi kafein, mendominasi gambaran klinis, dan cukup berat sehingga memerlukan perhatian klinis tersendiri.

Komorbiditas

Dosis kafein yang biasa dikonsumsi melalui makanan atau minuman belum secara konsisten dikaitkan dengan masalah medis. Namun, penggunaan dalam jumlah besar (misalnya, lebih dari 400 mg) dapat menyebabkan atau memperburuk kecemasan, gejala somatik, dan distres gastrointestinal. Pada konsumsi kafein secara akut dalam dosis yang sangat tinggi, kejang grand mal dan gagal napas dapat mengakibatkan kematian. Penggunaan kafein secara berlebihan berkaitan dengan gangguan depresif, gangguan bipolar, gangguan makan, gangguan psikotik, gangguan tidur, dan gangguan terkait zat, sedangkan individu dengan gangguan kecemasan lebih cenderung menghindari kafein.

 
Bagikan:

Siap Memulai Psikotes Online Anda?

Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.

Pilih Layanan Lihat Semua Alat Tes Hubungi Kami
Hubungi Kami