G47.411 G47.419 G47.421 G47.429 12_3

Narkolepsi

Narcolepsy

DSM-5-TR 2x dibaca

Kriteria Diagnostik

A. Periode berulang berupa kebutuhan tidur yang tidak dapat ditahan, tertidur secara tidak disengaja, atau tidur siang yang terjadi dalam hari yang sama. Kondisi ini harus terjadi setidaknya tiga kali dalam seminggu selama 3 bulan terakhir.

B. Adanya setidaknya satu dari kondisi berikut:

  1. Episode katapleksi, yang didefinisikan sebagai salah satu dari kondisi (a) atau (b), dan terjadi setidaknya beberapa kali dalam sebulan: (a) Pada individu dengan penyakit yang telah berlangsung lama, episode singkat (beberapa detik hingga beberapa menit) berupa hilangnya tonus otot secara bilateral dan tiba-tiba dengan kesadaran yang tetap terjaga, yang dipicu oleh tertawa atau bercanda. (b) Pada anak-anak atau individu dalam waktu 6 bulan sejak onset, munculnya ekspresi wajah meringis secara spontan atau episode terbukanya rahang disertai gerakan lidah menjulur ke depan atau hipotonia menyeluruh, tanpa pemicu emosional yang jelas.
  2. Defisiensi hipokretin, yang diukur menggunakan nilai imunoreaktivitas hipokretin-1 dalam cairan serebrospinal (CSF) (kurang dari atau sama dengan sepertiga nilai yang diperoleh dari subjek sehat yang diperiksa menggunakan metode pengujian yang sama, atau kurang dari atau sama dengan 110 pg/mL). Kadar hipokretin-1 yang rendah dalam CSF tidak boleh ditemukan dalam konteks cedera otak akut, peradangan, atau infeksi.
  3. Polisomnografi tidur malam yang menunjukkan latensi tidur dengan gerakan mata cepat (REM) kurang dari atau sama dengan 15 menit, atau tes latensi tidur multipel yang menunjukkan rata-rata latensi tidur kurang dari atau sama dengan 8 menit dan dua atau lebih periode REM pada awal tidur.

Tentukan Apakah:

G47.411 Narkolepsi dengan katapleksi atau defisiensi hipokretin (tipe 1): Kriteria B1 (episode katapleksi) atau Kriteria B2 (kadar hipokretin-1 dalam CSF yang rendah) terpenuhi.

G47.419 Narkolepsi tanpa katapleksi dan tanpa defisiensi hipokretin atau kadar hipokretin belum diukur (tipe 2): Kriteria B3 (hasil polisomnografi/tes latensi tidur multipel positif) terpenuhi, tetapi Kriteria B1 tidak terpenuhi (yaitu, tidak terdapat katapleksi) dan Kriteria B2 tidak terpenuhi (yaitu, kadar hipokretin-1 dalam CSF tidak rendah atau belum diukur).

G47.421 Narkolepsi dengan katapleksi atau defisiensi hipokretin akibat kondisi medis

G47.429 Narkolepsi tanpa katapleksi dan tanpa defisiensi hipokretin akibat kondisi medis

Catatan Pengodean: Untuk subtipe narkolepsi dengan katapleksi atau defisiensi hipokretin akibat kondisi medis dan subtipe narkolepsi tanpa katapleksi dan tanpa defisiensi hipokretin akibat kondisi medis, cantumkan terlebih dahulu kode kondisi medis yang mendasarinya (misalnya, G71.11 distrofi miotonik; G47.429 narkolepsi tanpa katapleksi dan tanpa defisiensi hipokretin akibat distrofi miotonik).

Tentukan Tingkat Keparahan Saat Ini:

  • Ringan: Kebutuhan tidur siang hanya satu atau dua kali sehari. Gangguan tidur, jika ada, bersifat ringan. Katapleksi, jika ada, jarang terjadi (kurang dari satu kali dalam seminggu).
  • Sedang: Membutuhkan beberapa kali tidur siang setiap hari. Tidur mungkin mengalami gangguan tingkat sedang. Katapleksi, jika ada, terjadi setiap hari atau setiap beberapa hari.
  • Berat: Rasa kantuk yang hampir terus-menerus dan sering disertai gangguan tidur malam yang sangat berat (yang dapat mencakup gerakan tubuh berlebihan dan mimpi yang sangat jelas). Katapleksi, jika ada, tidak merespons pengobatan, dengan beberapa serangan setiap hari.

Subtipe

Diagnosis narkolepsi tipe 1 (NT1; yaitu, dengan katapleksi atau defisiensi hipokretin) paling sering didasarkan pada adanya rasa kantuk berulang dan katapleksi (mengingat terbatasnya penggunaan pemeriksaan kadar hipokretin dalam cairan serebrospinal [CSF]). Namun, katapleksi dapat muncul bertahun-tahun setelah onset rasa kantuk. Oleh karena itu, sebagian individu mungkin pada awalnya mendapatkan diagnosis narkolepsi tipe 2 (NT2; yaitu, tanpa katapleksi dan tanpa defisiensi hipokretin atau dengan kadar hipokretin yang belum diukur), berdasarkan rasa kantuk dan hasil positif pada tes latensi tidur multipel (MSLT), tetapi kemudian diagnosisnya diubah menjadi NT1 setelah munculnya katapleksi. NT1 yang ditegakkan berdasarkan kadar hipokretin CSF yang rendah dapat bermanifestasi tanpa bukti katapleksi yang jelas. Penjelasan lain untuk rasa kantuk berlebihan pada siang hari (misalnya, kekurangan tidur, kerja giliran, atau gangguan tidur lainnya) dan episode hilangnya tonus otot secara tiba-tiba (misalnya, kejang, jatuh akibat penyebab lain, atau gangguan gejala neurologis fungsional [gangguan konversi]) harus disingkirkan. NT2 ditegakkan berdasarkan rasa kantuk kronis dan temuan khas pada polisomnografi tidur malam (misalnya, latensi tidur REM yang singkat) atau temuan MSLT yang menunjukkan rata-rata latensi tidur yang singkat dan dua atau lebih periode REM pada awal tidur (SOREMP).

NT1 dan NT2 dapat disebabkan oleh kondisi neurologis, infeksi, metabolik, dan genetik lainnya. Gangguan yang diturunkan secara genetik, tumor, dan trauma kepala merupakan penyebab paling umum dari narkolepsi sekunder. Pada kasus lainnya, kerusakan neuron hipokretin dapat terjadi sebagai akibat sekunder dari trauma atau pembedahan hipotalamus. Namun, trauma kepala atau infeksi sistem saraf pusat dapat menyebabkan penurunan sementara kadar hipokretin-1 dalam CSF tanpa disertai kehilangan sel hipokretin, sehingga mempersulit diagnosis.

Etiologi lainnya mencakup lesi inflamasi akibat sklerosis multipel dan ensefalomielitis diseminata akut, gangguan vaskular seperti stroke, serta ensefalitis. Ataksia serebelar dominan autosomal, ketulian, dan narkolepsi, atau ADCA DN, merupakan gangguan degeneratif familial yang disebabkan oleh mutasi missense pada gen DNA metiltransferase (DNMT1). Katapleksi yang disertai rasa kantuk dalam tingkat tertentu dapat disebabkan oleh kondisi neurologis lainnya, termasuk sindrom Prader-Willi, penyakit Niemann-Pick tipe C, sindrom Möbius, dan penyakit Norrie. Defisiensi hipokretin juga telah dilaporkan pada penyakit Parkinson. Karakteristik fisiologis yang menyerupai NT2 telah dilaporkan pada distrofi miotonik dan sindrom Prader-Willi.

Karakteristik Diagnostik

Karakteristik utama narkolepsi adalah episode tidur siang berulang atau tertidur secara tidak disengaja yang biasanya terjadi setiap hari, tetapi harus terjadi setidaknya tiga kali dalam seminggu selama minimal 3 bulan (Kriteria A), dan disertai satu atau lebih kondisi berikut: katapleksi (Kriteria B1), defisiensi hipokretin (Kriteria B2), atau kelainan khas pada polisomnogram tidur malam atau MSLT (Kriteria B3). Pada sebagian besar individu dengan NT1, gejala pertama yang muncul adalah rasa kantuk atau peningkatan kebutuhan tidur, yang kemudian diikuti oleh katapleksi. Rasa kantuk menjadi lebih berat dalam keadaan ketika individu tidak banyak bergerak dan biasanya berkurang setelah tidur siang singkat (10–20 menit).

NT1 umumnya bermanifestasi dengan katapleksi, yang biasanya berupa episode singkat (beberapa detik hingga 2 menit) berupa hilangnya tonus otot secara bilateral dan tiba-tiba yang dipicu oleh emosi. Berbagai emosi positif dapat memicu katapleksi, termasuk emosi yang berkaitan dengan tertawa, antisipasi, atau keterkejutan. Katapleksi lebih jarang dipicu oleh emosi negatif seperti kemarahan dan rasa malu. Otot yang terdampak mencakup otot leher, rahang, lengan, tungkai, atau seluruh tubuh, sehingga menyebabkan kepala terangguk-angguk, rahang terkulai, atau individu terjatuh sepenuhnya. Individu tetap terjaga dan sadar selama katapleksi. Katapleksi tidak boleh disamakan dengan “kelemahan” yang terjadi dalam konteks aktivitas olahraga (fisiologis) atau yang hanya muncul setelah pemicu emosional yang tidak biasa, seperti stres atau kecemasan (yang mengindikasikan kemungkinan psikopatologi).

Pada anak-anak dan, dalam kasus yang jarang, orang dewasa dengan onset gejala NT1 akut, katapleksi dapat bermanifestasi sebagai hipotonia yang berlangsung terus-menerus, bukan episode kelemahan yang dipicu oleh emosi kuat. Hipotonia yang berlangsung terus-menerus ini dapat menyebabkan ketidakstabilan gaya berjalan, ptosis, dan rahang yang terkulai. Selain kelemahan otot tersebut, sebagian individu mungkin menunjukkan fenomena seperti lidah yang menjulur keluar dan ekspresi wajah meringis. Katapleksi statis ini paling umum ditemukan dalam waktu 6 bulan setelah onset yang berlangsung cepat.

NT1 disebabkan oleh hilangnya neuron hipotalamus yang menghasilkan neuropeptida hipokretin (oreksin), dan kadar hipokretin dalam CSF biasanya kurang dari sepertiga nilai kelompok kontrol (kurang dari 110 pg/mL di sebagian besar laboratorium). Individu dengan katapleksi telah terbukti memiliki kadar hipokretin CSF yang rendah pada 85%–90% kasus. Sebaliknya, sebagian besar individu dengan NT2 memiliki kadar hipokretin CSF yang normal atau berada pada tingkat menengah. Dengan demikian, defisiensi hipokretin merupakan hasil pemeriksaan diagnostik yang memadai untuk NT1 (Kriteria B2). Apabila hipokretin CSF diukur dan kadarnya tidak rendah, diagnosis NT2 didasarkan pada gejala klinis (Kriteria A) dan data pemeriksaan tidur yang dijelaskan dalam Kriteria B3.

Polisomnogram tidur malam yang diikuti oleh MSLT merupakan metode konvensional untuk mengonfirmasi diagnosis NT1 (apabila pemeriksaan hipokretin tidak tersedia atau tidak memungkinkan untuk dilakukan) maupun NT2 (Kriteria B3). Pemeriksaan ini harus dilakukan setelah individu menghentikan seluruh obat psikotropika (selama durasi yang ditentukan berdasarkan waktu paruh eliminasi) dan memperoleh waktu tidur yang memadai dengan jadwal tidur-bangun yang normal (sebagaimana didokumentasikan melalui catatan harian tidur atau, lebih diutamakan, aktigrafi), idealnya selama 2 minggu. Perlu diperhatikan bahwa penghentian secara tiba-tiba obat antidepresan, obat agonis α-adrenergik, atau stimulan, maupun penggunaan obat-obatan tersebut selama pemeriksaan, dapat mengubah fisiologi tidur REM.

Hasil MSLT harus positif untuk menegakkan diagnosis NT2, dengan menunjukkan rata-rata latensi tidur kurang dari atau sama dengan 8 menit disertai setidaknya dua SOREMP; secara khusus, tidur REM harus terjadi pada setidaknya dua dari lima kesempatan tidur siang. Sebagai alternatif, periode REM pada awal tidur malam (nSOREMP; latensi onset tidur REM kurang dari atau sama dengan 15 menit) selama polisomnografi sudah memadai untuk mengonfirmasi diagnosis dan memenuhi Kriteria B3. nSOREMP memiliki spesifisitas yang sangat tinggi terhadap NT1 (95%–97%), tetapi sensitivitasnya hanya sedang (54%–57%). Temuan SOREMP positif palsu dapat terjadi akibat kerja giliran, gangguan tidur-bangun ritme sirkadian, apnea tidur obstruktif berat, efek obat-obatan, dan gangguan kurang tidur.

Polisomnogram tidur malam dan MSLT memiliki keterbatasan diagnostik, terutama pada NT2. Meskipun reliabilitas pemeriksaan MSLT untuk diagnosis NT1 relatif tinggi, yaitu 85%–95%, reliabilitas untuk diagnosis NT2 lebih rendah. Reliabilitas tes-ulang mungkin kurang dari 50%. Rendahnya reliabilitas ini mungkin disebabkan oleh variasi fisiologi NT2 dari hari ke hari dan aspek teknis pemeriksaan polisomnogram serta MSLT, terutama kurangnya perhatian terhadap waktu atau jadwal tidur sebelumnya dan penggunaan obat-obatan atau zat.

Kadar hipokretin CSF yang normal atau berada pada tingkat menengah pada individu dengan gejala katapleksi dapat menurun hingga mencapai kadar yang tidak terdeteksi seiring waktu.

Karakteristik Penyerta

Ketika rasa kantuk sangat berat, perilaku otomatis dapat terjadi, yaitu ketika individu terus melakukan aktivitasnya secara semiautomatis, dalam keadaan seperti berkabut, tanpa ingatan atau kesadaran. Sekitar 20%–60% individu mengalami halusinasi hipnagogik yang jelas sebelum atau ketika mulai tertidur, atau halusinasi hipnopompik sesaat setelah terbangun. Halusinasi tersebut biasanya bersifat visual atau auditorik, dan terkadang taktil. Halusinasi ini berbeda dari aktivitas mental menyerupai mimpi yang kurang jelas dan tidak bersifat halusinasi, yang terjadi pada awal tidur pada individu dengan pola tidur normal.

Sekitar 20%–60% individu yang mengalami gangguan ini mengalami kelumpuhan tidur ketika mulai tertidur atau saat terbangun, sehingga mereka berada dalam keadaan sadar tetapi tidak mampu bergerak atau berbicara. Namun, banyak individu dengan pola tidur normal juga melaporkan kelumpuhan tidur yang terjadi sesekali, terutama ketika mengalami stres atau kekurangan tidur. Individu dengan narkolepsi dapat mengalami berbagai gejala tidur malam, termasuk tidur malam yang terganggu (sering terbangun dalam waktu singkat), mimpi yang sangat jelas dan terasa nyata, gerakan tungkai periodik selama tidur, dan gangguan perilaku tidur REM. Aktivitas makan pada malam hari juga dapat terjadi. Obesitas umum ditemukan. Individu mungkin tampak mengantuk atau tertidur di ruang tunggu maupun selama pemeriksaan klinis. Selama katapleksi, individu mungkin merosot ketika duduk di kursi serta mengalami bicara pelo atau kelopak mata yang terkulai. Apabila klinisi dapat memeriksa refleks selama katapleksi (sebagian besar serangan berlangsung kurang dari 10 detik), refleks menghilang selama katapleksi yang melibatkan seluruh tubuh—suatu temuan penting yang membedakan katapleksi yang sebenarnya dari gangguan gejala neurologis fungsional (gangguan konversi).

Meskipun hasil pemeriksaan IQ pada individu dengan narkolepsi umumnya normal, gangguan pada memori kerja dan fungsi eksekutif telah dilaporkan.

Prevalensi

Narkolepsi dengan katapleksi (NT1) memengaruhi 0,02%–0,05% populasi umum orang dewasa di seluruh dunia dan memiliki angka insidensi sebesar 0,74 per 100.000 orang-tahun di Amerika Serikat. Beberapa variasi prevalensi telah dilaporkan, termasuk angka yang lebih rendah di Israel dan lebih tinggi di Jepang dibandingkan dengan Eropa dan Amerika Serikat. Prevalensi NT2 yang sebenarnya belum diketahui, sebagian karena adanya variasi diagnostik. Narkolepsi memengaruhi kedua gender dengan frekuensi yang relatif sama, tetapi hal ini dapat bervariasi pada populasi yang berbeda.

Perkembangan dan Perjalanan Gangguan

Onset paling sering terjadi pada masa kanak-kanak dan remaja atau dewasa muda, tetapi jarang terjadi pada usia lanjut. Puncak usia onset berkisar antara 15–25 tahun. Onset dapat terjadi secara tiba-tiba atau berkembang secara progresif, dengan katapleksi yang berkembang selama bertahun-tahun. Telah dilaporkan bahwa anak-anak yang menunjukkan onset gejala NT1 secara tiba-tiba memiliki tingkat keparahan penyakit yang paling tinggi, tetapi tingkat keparahan penyakit pada kasus tersebut cenderung mengalami perbaikan sebagian selama beberapa tahun pertama setelah onset. Onset tiba-tiba pada anak-anak yang masih muda dan belum memasuki masa pubertas dapat berkaitan dengan obesitas dan pubertas dini. Sekitar 50% individu dengan narkolepsi yang didiagnosis pada masa dewasa mengingat bahwa gejala telah dimulai sejak masa kanak-kanak atau remaja, yang menunjukkan adanya masalah keterlambatan diagnosis pada kondisi ini. Setelah gangguan bermanifestasi, perjalanan gangguan bersifat menetap dan berlangsung sepanjang kehidupan.

Pada 90% kasus, gejala pertama yang muncul adalah rasa kantuk atau peningkatan kebutuhan tidur, kemudian diikuti oleh katapleksi (dalam waktu 1 tahun pada 50% kasus dan dalam waktu 3 tahun pada 85% kasus). Rasa kantuk, halusinasi hipnagogik, mimpi yang sangat jelas, dan gangguan perilaku tidur REM (vokalisasi atau perilaku motorik kompleks selama tidur REM) merupakan gejala awal. Tidur berlebihan dengan cepat berkembang menjadi ketidakmampuan untuk tetap terjaga pada siang hari dan mempertahankan kualitas tidur yang baik pada malam hari, tanpa adanya peningkatan yang jelas dalam total waktu tidur selama 24 jam. Pada beberapa bulan pertama, katapleksi mungkin bersifat atipikal, terutama pada anak-anak, yang bermanifestasi sebagai hipotonia menyeluruh, bukan kelemahan episodik yang dipicu oleh emosi. Secara umum, gejala narkolepsi tetap relatif stabil, tetapi dapat berfluktuasi mengikuti peristiwa kehidupan seperti kehamilan dan stresor. Perburukan gejala mengindikasikan kemungkinan ketidakpatuhan terhadap pengobatan atau perkembangan gangguan tidur yang terjadi secara bersamaan, terutama apnea tidur, yang telah diidentifikasi pada sekitar seperempat individu dengan narkolepsi.

Anak-anak yang masih kecil dan remaja dengan narkolepsi sering mengembangkan perilaku agresif atau masalah perilaku sebagai akibat sekunder dari rasa kantuk dan/atau gangguan tidur malam. Beban tugas dan tekanan sosial meningkat selama masa sekolah menengah atas dan perguruan tinggi, sehingga mengurangi waktu yang tersedia untuk tidur pada malam hari. Kehamilan tampaknya tidak secara konsisten mengubah gejala. Setelah pensiun, individu biasanya memiliki lebih banyak kesempatan untuk tidur siang, sehingga mengurangi kebutuhan terhadap stimulan. Mempertahankan jadwal yang teratur bermanfaat bagi individu pada semua kelompok usia.

Faktor Risiko dan Prognostik

Faktor Temperamental

Individu dengan narkolepsi umumnya melaporkan bahwa mereka membutuhkan tidur lebih banyak dibandingkan dengan anggota keluarga lainnya.

Faktor Lingkungan

Infeksi tenggorokan akibat streptokokus grup A, influenza (terutama pandemi H1N1 tahun 2009), atau infeksi lainnya yang terjadi selama musim dingin, serta vaksinasi (khususnya vaksinasi Pandemrix H1N1), dapat memicu proses autoimun pada sebagian individu sehingga menyebabkan narkolepsi beberapa bulan kemudian. Trauma kepala dan perubahan mendadak dalam pola tidur-bangun (misalnya, perubahan pekerjaan atau stres) mungkin merupakan pemicu tambahan.

Faktor Genetik dan Fisiologis

Kembar monozigot memiliki tingkat kesesuaian kejadian narkolepsi sebesar 25%–32%. Prevalensi narkolepsi pada kerabat tingkat pertama adalah 1%–2% (peningkatan sebesar 10 hingga 40 kali lipat secara keseluruhan). Narkolepsi memiliki hubungan yang kuat dengan HLA DQB1*06:02 (lihat “Penanda Diagnostik”). DQB1*03:01 meningkatkan risiko, sedangkan DQB1*05:01, DQB1*06:01, dan DQB1*06:03 menurunkan risiko apabila terdapat DQB1*06:02, tetapi pengaruhnya kecil. Polimorfisme dalam gen reseptor sel T alfa dan gen lain yang memodulasi sistem imun juga sedikit memengaruhi risiko.

Isu Diagnostik Terkait Budaya

Narkolepsi telah dijelaskan pada berbagai kelompok etnorasial dan konteks budaya. Sebuah penelitian terhadap 1.097 individu yang mencari pengobatan menunjukkan bahwa pada kelompok Afrika-Amerika, lebih banyak kasus mungkin bermanifestasi tanpa katapleksi atau dengan katapleksi atipikal (meskipun kadar hipokretin CSF rendah), serta memiliki onset yang lebih dini dibandingkan dengan orang kulit putih non-Latinx. Diagnosis mungkin semakin rumit karena tingginya prevalensi obesitas dan apnea tidur obstruktif pada populasi tersebut, yang dapat berkaitan dengan perbedaan paparan terhadap determinan sosial kesehatan, termasuk kerawanan pangan, wilayah dengan akses terbatas terhadap makanan sehat, dan keterbatasan akses ke tempat yang aman serta terjangkau untuk melakukan aktivitas fisik. Individu dengan narkolepsi sering mengalami kelumpuhan tidur, yang dalam beberapa konteks budaya dapat dikaitkan dengan kekuatan supernatural (misalnya, roh menakutkan yang duduk di dada orang yang sedang tidur), sehingga berkontribusi terhadap persepsi mengenai bahaya kondisi tersebut dan keputusan untuk mencari bantuan.

Penanda Diagnostik

Polisomnografi tidur malam yang diikuti oleh MSLT digunakan untuk mengonfirmasi diagnosis narkolepsi, terutama ketika gangguan pertama kali didiagnosis dan sebelum pengobatan dimulai. Apabila terdapat katapleksi yang jelas, polisomnografi dan MSLT berfungsi sebagai pemeriksaan konfirmasi untuk NT1. Apabila tidak terdapat katapleksi dan defisiensi hipokretin (jika diukur), MSLT digunakan untuk menegakkan diagnosis NT2. Efek zat atau obat-obatan (misalnya, antidepresan yang menghambat tidur REM atau obat yang menyebabkan sedasi), penghentian penggunaan stimulan, kekurangan tidur sebelumnya, kerja giliran, atau depresi berat dapat menyebabkan hasil MSLT yang tidak akurat dan harus disingkirkan sebelum pemeriksaan MSLT dilakukan. Secara khusus, kurang tidur kronis merupakan kondisi yang umum ditemukan dan harus dipertimbangkan.

nSOREMP memiliki spesifisitas yang sangat tinggi (sekitar 1% hasil positif pada subjek kontrol), tetapi sensitivitasnya sedang (sekitar 50%) untuk NT1. Sebaliknya, nSOREMP hanya ditemukan pada 10%–23% individu dengan NT2 yang memiliki kadar hipokretin normal, yang menunjukkan sensitivitas yang lebih rendah lagi pada subtipe ini. Hasil MSLT dianggap positif untuk narkolepsi apabila menunjukkan rata-rata latensi tidur kurang dari atau sama dengan 8 menit dan SOREMP pada dua atau lebih kesempatan tidur siang dalam pemeriksaan yang terdiri atas empat atau lima kesempatan tidur siang. Hasil MSLT positif pada 90%–95% individu dengan NT1 dibandingkan dengan 2%–4% subjek kontrol atau individu dengan gangguan tidur lainnya. Sebagaimana telah disebutkan, reliabilitas tes-ulang yang rendah pada NT2 menghalangi penentuan data yang sebanding untuk NT2. Temuan polisomnografi tambahan pada individu dengan narkolepsi sering mencakup keadaan sering terbangun, penurunan efisiensi tidur, dan peningkatan tidur stadium 1. Gerakan tungkai periodik (ditemukan pada sekitar 40% individu dengan NT1) dan apnea tidur juga sering ditemukan.

Defisiensi hipokretin dibuktikan dengan mengukur kadar hipokretin-1 dalam CSF. Pemeriksaan ini terutama bermanfaat pada individu yang diduga mengalami pseudokatapleksi dan individu tanpa katapleksi yang khas, atau pada kasus yang tidak merespons pengobatan. Nilai diagnostik pemeriksaan ini tidak dipengaruhi oleh obat-obatan, kekurangan tidur, atau waktu pengambilan sampel pada siang maupun malam hari, tetapi hasilnya tidak dapat diinterpretasikan ketika individu mengalami penyakit berat yang disertai infeksi atau trauma kepala, atau berada dalam keadaan koma. Hasil pemeriksaan sitologi, protein, dan glukosa CSF berada dalam rentang normal, bahkan ketika sampel diambil dalam beberapa minggu setelah onset gangguan yang cepat. Ketika diukur pada individu dengan gejala katapleksi yang khas, kadar hipokretin-1 dalam CSF sering kali sudah sangat menurun atau tidak terdeteksi.

Sekitar 85%–95% individu dengan NT1 menunjukkan hasil positif untuk haplotipe HLA DQB1*06:02. Gen ini memengaruhi penyajian antigen oleh sistem imun, sehingga mendukung adanya patofisiologi autoimun yang mendasari NT1. Munculnya kasus-kasus NT1 setelah vaksinasi dan infeksi tertentu semakin mendukung etiologi autoimun. Berbeda dengan NT1, tidak terdapat biomarker untuk NT2. Hanya sekitar 40%–50% individu dengan NT2 yang menunjukkan hasil positif untuk DQB1*06:02. Karena 12%–38% populasi umum menunjukkan hasil positif untuk DQB1*06:02, pemeriksaan alel ini tidak terlalu bermanfaat untuk mendiagnosis NT2, tetapi dapat membantu skrining NT1.

Konsekuensi Fungsional Narkolepsi

Kinerja sekolah, kemampuan mengemudi, pekerjaan, atau aktivitas lainnya yang membutuhkan perhatian berkelanjutan mengalami gangguan, dan individu dengan narkolepsi sebaiknya menghindari pekerjaan yang dapat membahayakan dirinya sendiri (misalnya, bekerja menggunakan mesin) atau orang lain (misalnya, pengemudi bus atau pilot). Setelah narkolepsi dapat dikendalikan melalui terapi, individu biasanya dapat mengemudi, meskipun jarang melakukan perjalanan jarak jauh seorang diri. Individu yang tidak mendapatkan pengobatan juga berisiko mengalami isolasi sosial serta cedera yang tidak disengaja pada dirinya sendiri atau orang lain. Hubungan sosial dapat terganggu karena individu berusaha mencegah katapleksi dengan mengendalikan emosi atau rangsangan yang memunculkan emosi.

Diagnosis Banding

Hipersomnia Lainnya

Gangguan hipersomnolensi (juga dikenal sebagai hipersomnia idiopatik) dan narkolepsi memiliki kesamaan dalam hal adanya rasa kantuk kronis pada siang hari, usia onset (biasanya pada masa remaja atau dewasa awal), dan perjalanan gangguan yang stabil seiring waktu, tetapi dapat dibedakan berdasarkan karakteristik klinis dan laboratorium yang khas. Individu dengan gangguan hipersomnolensi biasanya memiliki durasi tidur malam yang lebih panjang dan lebih sedikit terganggu, kesulitan yang lebih besar untuk terbangun, rasa kantuk pada siang hari yang lebih menetap (berbeda dengan “serangan tidur” yang lebih jelas dan terpisah pada narkolepsi), episode tidur siang yang lebih panjang dan kurang memberikan rasa segar, serta sedikit atau tidak mengalami mimpi selama tidur siang. Sebaliknya, individu dengan NT1 umumnya mengalami katapleksi. Individu dengan NT1 atau NT2 dapat menunjukkan munculnya elemen tidur REM secara berulang selama peralihan antara tidur dan keadaan terjaga (misalnya, halusinasi terkait tidur dan kelumpuhan tidur). MSLT biasanya menunjukkan latensi tidur yang lebih singkat (yaitu, rasa kantuk fisiologis yang lebih besar) serta adanya beberapa SOREMP pada individu dengan narkolepsi.

Kekurangan Tidur dan Tidur Malam yang Tidak Memadai

Kekurangan tidur dan tidur malam yang tidak memadai umum ditemukan pada remaja dan pekerja dengan sistem kerja giliran. Pada remaja, kesulitan untuk mulai tidur pada malam hari merupakan kondisi yang umum dan menyebabkan kekurangan tidur. Hasil MSLT dapat menunjukkan positif palsu apabila pemeriksaan dilakukan ketika individu mengalami kekurangan tidur atau ketika fase tidurnya mengalami keterlambatan.

Sindrom Apnea Tidur

Apnea tidur obstruktif umum ditemukan dalam populasi umum dan dapat terjadi pada individu dengan narkolepsi akibat obesitas. Karena apnea tidur obstruktif lebih sering ditemukan dibandingkan dengan narkolepsi, katapleksi mungkin terabaikan (atau tidak ditemukan). Narkolepsi harus dipertimbangkan pada individu yang terus mengalami rasa kantuk meskipun telah mendapatkan pengobatan untuk apnea tidur.

Gangguan Insomnia

Individu dengan narkolepsi mungkin memusatkan perhatian pada adanya gangguan tidur malam dan secara keliru mengaitkan rasa kantuk pada siang hari dengan gangguan insomnia. Meskipun individu dengan narkolepsi, seperti halnya individu dengan gangguan insomnia, dapat mengalami keadaan sering terbangun selama malam hari, individu dengan narkolepsi biasanya tidak mengalami kesulitan memulai tidur atau kembali tidur, berbeda dengan individu dengan gangguan insomnia. Selain itu, gangguan insomnia biasanya tidak berkaitan dengan tingkat keparahan rasa kantuk pada siang hari seperti yang ditemukan pada narkolepsi.

Gangguan Depresif Mayor

Rasa kantuk berlebihan pada siang hari merupakan keluhan yang umum ditemukan baik pada individu dengan depresi mayor maupun individu dengan narkolepsi. Adanya katapleksi (yang bukan merupakan karakteristik gangguan depresif mayor), bersama dengan tingkat keparahan rasa kantuk berlebihan pada siang hari, mengindikasikan diagnosis NT1 dibandingkan dengan gangguan depresif mayor. Selain itu, pada individu dengan depresi mayor, hasil MSLT paling sering normal, dan terdapat ketidaksesuaian antara rasa kantuk subjektif dan objektif, sebagaimana diukur melalui rata-rata latensi tidur selama MSLT. Dalam sebuah meta-analisis terhadap individu dengan gangguan psikiatris yang dievaluasi untuk rasa kantuk, meskipun 25% memiliki rata-rata latensi tidur kurang dari 8 menit pada MSLT, dua atau lebih SOREMP hanya jarang ditemukan pada MSLT, yang menunjukkan bahwa disfungsi tidur REM lebih spesifik pada narkolepsi.

Gangguan Gejala Neurologis Fungsional (Gangguan Konversi; Pseudokatapleksi)

Individu dengan gangguan gejala neurologis fungsional dapat menunjukkan kelemahan yang menimbulkan dugaan adanya katapleksi. Namun, pada gangguan gejala neurologis fungsional, kelemahan sering berlangsung lama, memiliki pemicu yang tidak biasa, dan dapat menyebabkan individu sering terjatuh. Individu mungkin melaporkan bahwa mereka tidur dan bermimpi selama kesempatan tidur siang pada MSLT, tetapi hasil MSLT tidak menunjukkan SOREMP yang khas. Rekaman video di rumah dan rekaman video selama pemeriksaan tidur dapat membantu membedakan kondisi ini dari katapleksi yang sebenarnya. Kelemahan pada pseudokatapleksi biasanya bersifat menyeluruh, tanpa serangan parsial. Pseudokatapleksi yang berkembang sepenuhnya dan berlangsung lama dapat terjadi selama konsultasi, sehingga memberikan waktu yang cukup bagi dokter pemeriksa untuk memastikan refleks, yang tetap utuh.

Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas atau Masalah Perilaku Lainnya

Pada anak-anak dan remaja, rasa kantuk dapat menyebabkan masalah perilaku, termasuk perilaku agresif dan kurangnya perhatian, sehingga mengakibatkan kesalahan diagnosis sebagai gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (ADHD).

Kejang Atonik

Kejang atonik, yaitu jenis kejang yang menyebabkan hilangnya kekuatan otot secara tiba-tiba, harus dibedakan dari katapleksi. Kejang atonik umumnya tidak dipicu oleh emosi dan cenderung bermanifestasi sebagai keadaan terjatuh secara mendadak, bukan penurunan tonus otot secara lebih perlahan seperti tubuh yang “meleleh” pada katapleksi. Kejang atonik biasanya terjadi pada individu yang juga mengalami jenis kejang lainnya dan memiliki pola khas yang berbeda pada elektroensefalogram.

Sinkop

Seperti sinkop, katapleksi biasanya berkembang dalam beberapa detik, tetapi individu dengan katapleksi tidak mengalami gejala prasinkop berupa pusing, penglihatan menyempit seperti terowongan, dan perubahan pendengaran.

Korea dan Gangguan Motorik

Pada anak-anak yang masih kecil, katapleksi dapat salah didiagnosis sebagai korea atau gangguan neuropsikiatris autoimun pediatrik yang berkaitan dengan infeksi streptokokus (PANDAS), terutama dalam konteks infeksi tenggorokan akibat streptokokus dan kadar antibodi antistreptolisin O yang tinggi. Sebagian anak mungkin mengalami gangguan motorik yang tumpang tindih pada periode yang berdekatan dengan onset katapleksi.

Skizofrenia

Apabila terdapat halusinasi hipnagogik yang sangat jelas dan nyata, individu dengan narkolepsi mungkin menganggap pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi—suatu karakteristik yang mengindikasikan adanya halusinasi sejati yang merupakan karakteristik skizofrenia. Namun, perbedaan yang jelas telah dijelaskan dalam pola pengalaman halusinasi pada narkolepsi dibandingkan dengan skizofrenia. Individu dengan narkolepsi cenderung melaporkan halusinasi “holistik” multisensorik yang berkaitan dengan tidur (visual, auditorik, taktil), bukan halusinasi yang didominasi oleh modalitas sensorik verbal-auditorik seperti pada individu dengan skizofrenia. Selain itu, pengobatan menggunakan stimulan dosis tinggi pada individu dengan narkolepsi dapat menyebabkan berkembangnya waham persekutorik. Apabila katapleksi ditemukan bersamaan dengan halusinasi atau waham, dugaan klinis pertama adalah bahwa gejala-gejala tersebut merupakan akibat sekunder dari narkolepsi sebelum mempertimbangkan diagnosis skizofrenia yang terjadi secara bersamaan.

Komorbiditas

Komorbiditas medis dan psikiatris umum ditemukan pada individu dengan narkolepsi dan mencakup obesitas, bruksisme, enuresis, pubertas prekoks (pada individu dengan narkolepsi yang onsetnya terjadi pada masa kanak-kanak), gangguan suasana perasaan, dan ADHD. Peningkatan berat badan yang cepat umum ditemukan pada anak-anak yang masih kecil dengan onset penyakit yang tiba-tiba. Parasomnia (misalnya, berjalan saat tidur atau gangguan perilaku tidur REM), apnea tidur obstruktif, sindrom tungkai gelisah, dan gerakan tungkai periodik umum ditemukan pada individu yang mengalami narkolepsi. Apnea tidur yang menjadi komorbiditas harus dipertimbangkan apabila terjadi perburukan mendadak pada narkolepsi yang telah ada sebelumnya.

Hubungan dengan Klasifikasi Internasional Gangguan Tidur

Klasifikasi Internasional Gangguan Tidur, Edisi Ketiga (ICSD-3), membedakan dua subtipe narkolepsi, yaitu NT1 (narkolepsi dengan katapleksi atau defisiensi hipokretin) dan NT2 (narkolepsi tanpa katapleksi atau defisiensi hipokretin). NT1 yang terjadi secara sekunder akibat kondisi medis lainnya (G47.421) dan NT2 yang terjadi secara sekunder akibat kondisi medis lainnya (G47.429) dicantumkan dalam ICSD-3 sebagai subtipe narkolepsi sekunder.

Bagikan:

Siap Memulai Psikotes Online Anda?

Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.

Pilih Layanan Lihat Semua Alat Tes Hubungi Kami
Hubungi Kami