F10.120 F10.220 F10.920 16_02

Intoksikasi Alkohol

Alcohol Intoxication

Substance-Related Disorders Alcohol-Related Disorders DSM-5-TR 2x dibaca

Kriteria Diagnostik

  1. Konsumsi alkohol yang baru terjadi.
  2. Perubahan perilaku atau psikologis bermasalah yang bermakna secara klinis (misalnya, perilaku seksual atau agresif yang tidak sesuai, labilitas suasana hati, dan gangguan penilaian) yang berkembang selama atau segera setelah konsumsi alkohol.
  3. Satu (atau lebih) tanda atau gejala berikut yang berkembang selama atau segera setelah penggunaan alkohol: (1) Bicara pelo atau tidak jelas. (2) Gangguan koordinasi. (3) Gaya berjalan yang tidak stabil. (4) Nistagmus. (5) Gangguan perhatian atau memori. (6) Stupor atau koma.
  4. Tanda atau gejala tersebut tidak disebabkan oleh kondisi medis lainnya dan tidak dapat dijelaskan secara lebih baik oleh gangguan mental lainnya, termasuk intoksikasi akibat zat lain.

Catatan Pengodean: Kode ICD-10-CM bergantung pada ada atau tidaknya gangguan penggunaan alkohol sebagai komorbiditas. Apabila terdapat gangguan penggunaan alkohol ringan sebagai komorbiditas, kode ICD-10-CM adalah F10.120, sedangkan apabila terdapat gangguan penggunaan alkohol sedang atau berat sebagai komorbiditas, kode ICD-10-CM adalah F10.220. Apabila tidak terdapat gangguan penggunaan alkohol sebagai komorbiditas, kode ICD-10-CM adalah F10.920.

Karakteristik Diagnostik

Karakteristik utama intoksikasi alkohol adalah adanya perubahan perilaku atau psikologis bermasalah yang bermakna secara klinis dan terkadang mengancam jiwa (misalnya, perilaku seksual atau agresif yang tidak sesuai, labilitas suasana hati, gangguan penilaian dan pengambilan keputusan, kesulitan dalam melakukan tugas kompleks seperti mengemudi, serta gangguan keberfungsian sosial atau pekerjaan) yang berkembang selama atau segera setelah konsumsi alkohol (Kriteria B). Perubahan tersebut disertai dengan bukti adanya gangguan keberfungsian dan penilaian, serta apabila intoksikasi berlangsung berat, dapat mengakibatkan koma yang mengancam jiwa. Gejala-gejala tersebut tidak boleh disebabkan oleh kondisi medis lainnya (misalnya, ketoasidosis diabetik), tidak mencerminkan kondisi seperti delirium, dan tidak berkaitan dengan intoksikasi akibat obat-obatan depresan lainnya (misalnya, benzodiazepin) (Kriteria D). Tingkat gangguan koordinasi dapat menghambat kemampuan mengemudi dan pelaksanaan aktivitas sehari-hari hingga menyebabkan kecelakaan kendaraan atau kejadian lain yang mengakibatkan cedera. Bukti penggunaan alkohol dapat diperoleh melalui bau alkohol pada napas individu, penggalian riwayat dari individu atau pengamat lainnya, dan apabila diperlukan, dengan meminta individu memberikan sampel napas, darah, atau urine untuk analisis toksikologi.

Karakteristik Penyerta

Tanda dan gejala intoksikasi cenderung lebih intens ketika kadar alkohol dalam darah sedang meningkat dibandingkan ketika kadarnya sedang menurun. Durasi intoksikasi bergantung pada jumlah alkohol yang dikonsumsi dan periode waktu konsumsinya. Secara umum, tubuh mampu memetabolisme sekitar satu minuman per jam, sehingga kadar alkohol dalam darah biasanya menurun dengan kecepatan 15–20 mg/dL per jam.

Bahkan selama intoksikasi alkohol ringan, gejala yang berbeda mungkin dapat diamati pada waktu yang berbeda. Bukti intoksikasi alkohol ringan dapat terlihat pada sebagian besar individu setelah mengonsumsi sekitar dua minuman (setiap minuman standar mengandung sekitar 10–12 gram etanol dan meningkatkan konsentrasi alkohol dalam darah sekitar 20 mg/dL). Pada awal periode konsumsi, ketika kadar alkohol dalam darah sedang meningkat, gejala sering mencerminkan stimulasi (misalnya, menjadi lebih banyak bicara, munculnya perasaan sejahtera, serta suasana hati yang ceria dan ekspansif). Kemudian, terutama ketika kadar alkohol dalam darah menurun, individu cenderung menjadi semakin depresif, menarik diri, dan mengalami gangguan kognitif.

Intoksikasi alkohol terkadang berkaitan dengan amnesia terhadap peristiwa yang terjadi selama berlangsungnya intoksikasi (blackout). Fenomena ini berkaitan dengan kadar alkohol dalam darah yang relatif tinggi dan mungkin juga dengan kecepatan peningkatan kadar tersebut. Intoksikasi alkohol akut dapat menyebabkan perubahan metabolik (misalnya, hipoglikemia dan gangguan elektrolit) serta dapat menimbulkan efek berat pada sistem kardiovaskular, pernapasan, dan/atau gastrointestinal. Pada kadar alkohol darah yang sangat tinggi (misalnya, 200–300 mg/dL), individu yang belum mengembangkan toleransi terhadap alkohol kemungkinan akan tertidur dan memasuki tahap pertama anestesi. Kadar alkohol darah yang lebih tinggi (misalnya, melebihi 300–400 mg/dL) dapat menyebabkan penekanan pernapasan dan denyut nadi, bahkan kematian pada individu yang tidak memiliki toleransi.

Intoksikasi alkohol merupakan faktor penting yang berkontribusi terhadap kekerasan interpersonal dan perilaku bunuh diri. Pada individu yang mengalami intoksikasi alkohol, tampaknya terdapat peningkatan angka cedera yang tidak disengaja (termasuk kematian akibat perilaku yang berkaitan dengan perubahan penilaian, tindakan menyakiti diri sendiri, dan kekerasan), perilaku bunuh diri, serta kematian akibat bunuh diri.

Prevalensi

Sebagian besar individu yang mengonsumsi alkohol kemungkinan pernah mengalami intoksikasi dalam tingkat tertentu pada suatu waktu sepanjang kehidupan mereka. Sebagai contoh, pada tahun 2018, sebanyak 43% siswa kelas 12 di Amerika Serikat melaporkan pernah “mabuk” setidaknya satu kali sepanjang kehidupan mereka, dan 17,5% di antaranya melaporkan pernah mabuk setidaknya satu kali dalam 30 hari sebelumnya. Dengan menggunakan definisi intoksikasi berupa konsumsi empat atau lebih minuman standar dalam satu hari bagi perempuan dan lima atau lebih minuman standar dalam satu hari bagi laki-laki, prevalensi konsumsi alkohol berisiko tinggi selama 12 bulan pada orang dewasa di Amerika Serikat adalah 17,4% pada penduduk asli Amerika, 15,1% pada individu Afrika-Amerika, 13,5% pada individu Latinx, 12,3% pada individu kulit putih non-Latinx, serta 7,2% pada individu Asia dan Kepulauan Pasifik.

Perkembangan dan Perjalanan Gangguan

Intoksikasi biasanya terjadi sebagai suatu episode yang berkembang dalam hitungan menit hingga jam dan umumnya berlangsung selama beberapa jam. Di Amerika Serikat, usia rata-rata saat pertama kali mengalami intoksikasi adalah sekitar 15 tahun, dengan prevalensi tertinggi pada usia sekitar 18–25 tahun. Frekuensi dan intensitas biasanya menurun seiring bertambahnya usia. Semakin dini onset intoksikasi yang terjadi secara teratur, semakin besar kemungkinan individu kemudian mengembangkan gangguan penggunaan alkohol.

Faktor Risiko dan Prognostik

Faktor Temperamental

Episode intoksikasi alkohol meningkat pada individu dengan karakteristik kepribadian berupa kecenderungan mencari sensasi dan impulsivitas.

Faktor Lingkungan

Episode intoksikasi alkohol meningkat apabila individu memiliki teman sebaya yang mengonsumsi alkohol dalam jumlah besar, meyakini bahwa konsumsi alkohol dalam jumlah besar merupakan komponen penting dalam bersenang-senang, serta menggunakan alkohol untuk mengatasi stres.

Isu Diagnostik Terkait Budaya

Isu-isu utama sejalan dengan perbedaan budaya mengenai penggunaan alkohol secara umum. Sebagai contoh, beberapa organisasi persaudaraan mahasiswa laki-laki dan perempuan di perguruan tinggi mendorong terjadinya intoksikasi alkohol. Kondisi ini juga sering terjadi pada tanggal-tanggal tertentu yang memiliki makna budaya (misalnya, malam pergantian tahun) dan, pada beberapa subkelompok, selama acara tertentu (misalnya, acara berkabung setelah pemakaman). Subkelompok lainnya mendorong konsumsi alkohol pada perayaan keagamaan (misalnya, hari raya Yahudi dan Katolik), sedangkan kelompok lain sangat tidak menganjurkan segala bentuk konsumsi alkohol atau intoksikasi (misalnya, beberapa kelompok keagamaan, seperti Mormon, Kristen fundamentalis, dan Muslim).

Isu Diagnostik Terkait Jenis Kelamin dan Gender

Secara historis, dalam banyak masyarakat Barat, konsumsi alkohol dan keadaan mabuk lebih dapat diterima pada laki-laki, tetapi perbedaan gender tersebut mungkin menjadi jauh kurang menonjol dalam beberapa tahun terakhir, terutama selama masa remaja dan dewasa awal. Secara umum, perempuan memiliki toleransi yang lebih rendah terhadap jumlah alkohol yang sama dibandingkan dengan laki-laki.

Penanda Diagnostik

Intoksikasi biasanya ditetapkan melalui observasi terhadap perilaku individu dan adanya bau alkohol pada napas. Tingkat intoksikasi meningkat seiring dengan peningkatan kadar alkohol dalam darah atau napas individu serta konsumsi zat lainnya, terutama zat yang memiliki efek sedatif.

Hubungan dengan Pikiran atau Perilaku Bunuh Diri

Sebuah penelitian kolaboratif internasional di instalasi gawat darurat pada 17 negara menemukan bahwa penggunaan alkohol secara akut, terlepas dari penggunaan kronis, meningkatkan risiko percobaan bunuh diri, dengan setiap minuman meningkatkan risiko sebesar 30%. Untuk informasi lebih lanjut, lihat bagian “Hubungan dengan Pikiran atau Perilaku Bunuh Diri” pada Gangguan Penggunaan Alkohol.

Konsekuensi Fungsional Intoksikasi Alkohol

Intoksikasi alkohol berkontribusi terhadap lebih dari 95.000 kematian dan 2,8 juta tahun potensi kehidupan yang hilang setiap tahunnya di Amerika Serikat selama periode 2011 hingga 2015, sehingga memperpendek usia individu yang meninggal rata-rata 30 tahun. Selain itu, intoksikasi akibat zat ini berkontribusi terhadap biaya yang sangat besar terkait mengemudi dalam keadaan mabuk dan hilangnya waktu sekolah atau bekerja, serta pertengkaran interpersonal dan perkelahian fisik.

Diagnosis Banding

Kondisi Medis Lainnya

Beberapa kondisi medis (misalnya, asidosis diabetik) dan kondisi neurologis (misalnya, ataksia serebelar dan sklerosis multipel) dapat menyerupai intoksikasi alkohol untuk sementara waktu.

Gangguan Mental Akibat Alkohol

Intoksikasi alkohol dibedakan dari gangguan mental akibat alkohol (misalnya, gangguan depresif akibat alkohol, dengan onset selama intoksikasi) karena gejala (misalnya, suasana hati depresif) pada gangguan-gangguan tersebut melebihi gejala yang biasanya berkaitan dengan intoksikasi alkohol, mendominasi gambaran klinis, dan cukup berat sehingga memerlukan perhatian klinis.

Intoksikasi Sedatif, Hipnotik, atau Ansiolitik

Intoksikasi akibat obat sedatif, hipnotik, atau ansiolitik maupun zat lain yang memiliki efek sedatif (misalnya, antihistamin dan obat antikolinergik) dapat disalahartikan sebagai intoksikasi alkohol. Diagnosis banding memerlukan pemeriksaan bau alkohol pada napas, pengukuran kadar alkohol dalam darah atau napas, pemeriksaan medis, serta pengumpulan riwayat yang menyeluruh. Tanda dan gejala intoksikasi sedatif-hipnotik sangat mirip dengan yang ditemukan pada intoksikasi alkohol dan mencakup perubahan perilaku atau psikologis bermasalah yang serupa. Perubahan tersebut disertai dengan bukti adanya gangguan keberfungsian dan penilaian—yang apabila berat dapat menyebabkan koma yang mengancam jiwa—serta tingkat gangguan koordinasi yang dapat menghambat kemampuan mengemudi dan melakukan aktivitas sehari-hari. Namun, tidak terdapat bau khas seperti pada alkohol, meskipun kemungkinan terdapat bukti penyalahgunaan obat depresan melalui analisis toksikologi darah atau urine.

Komorbiditas

Intoksikasi alkohol dapat terjadi sebagai komorbiditas dengan intoksikasi zat lainnya, terutama pada individu dengan gangguan perilaku atau gangguan kepribadian antisosial. Mengingat intoksikasi alkohol biasanya memiliki keterkaitan dengan gangguan penggunaan alkohol, lihat bagian “Komorbiditas” pada Gangguan Penggunaan Alkohol untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai kondisi-kondisi penyerta yang kemungkinan ditemukan.

Bagikan:

Siap Memulai Psikotes Online Anda?

Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.

Pilih Layanan Lihat Semua Alat Tes Hubungi Kami
Hubungi Kami