Opioid Intoxication
Penggunaan opioid yang baru terjadi.
Perubahan perilaku atau psikologis bermasalah yang bermakna secara klinis (misalnya, euforia awal yang diikuti oleh apati, disforia, agitasi atau perlambatan psikomotor, dan gangguan penilaian) yang berkembang selama atau segera setelah penggunaan opioid.
Penyempitan pupil (atau pelebaran pupil akibat anoksia yang disebabkan oleh overdosis berat) dan satu (atau lebih) dari tanda atau gejala berikut yang berkembang selama atau segera setelah penggunaan opioid: (1) Mengantuk atau koma. (2) Bicara pelo. (3) Gangguan perhatian atau memori.
Tanda atau gejala tersebut tidak disebabkan oleh kondisi medis lainnya dan tidak dapat dijelaskan secara lebih baik oleh gangguan mental lainnya, termasuk intoksikasi akibat zat lain.
Tentukan Jika:
- Dengan Gangguan Persepsi: Penanda ini dapat digunakan dalam kasus yang jarang terjadi ketika halusinasi dengan kemampuan pengujian realitas yang tetap utuh atau ilusi auditorik, visual, maupun taktil muncul tanpa disertai delirium.
Catatan Pengodean: Kode ICD-10-CM bergantung pada ada atau tidaknya gangguan penggunaan opioid sebagai komorbiditas serta ada atau tidaknya gangguan persepsi.
- Untuk Intoksikasi Opioid Tanpa Gangguan Persepsi: Apabila terdapat gangguan penggunaan opioid ringan sebagai komorbiditas, kode ICD-10-CM adalah F11.120, sedangkan apabila terdapat gangguan penggunaan opioid sedang atau berat sebagai komorbiditas, kode ICD-10-CM adalah F11.220. Apabila tidak terdapat gangguan penggunaan opioid sebagai komorbiditas, kode ICD-10-CM adalah F11.920.
- Untuk Intoksikasi Opioid dengan Gangguan Persepsi: Apabila terdapat gangguan penggunaan opioid ringan sebagai komorbiditas, kode ICD-10-CM adalah F11.122, sedangkan apabila terdapat gangguan penggunaan opioid sedang atau berat sebagai komorbiditas, kode ICD-10-CM adalah F11.222. Apabila tidak terdapat gangguan penggunaan opioid sebagai komorbiditas, kode ICD-10-CM adalah F11.922.
Karakteristik utama intoksikasi opioid adalah adanya perubahan perilaku atau psikologis bermasalah yang bermakna secara klinis (misalnya, euforia awal yang diikuti oleh apati, disforia, agitasi atau perlambatan psikomotor, dan gangguan penilaian) yang berkembang selama atau segera setelah penggunaan opioid (Kriteria A dan B). Intoksikasi disertai dengan penyempitan pupil (kecuali apabila terjadi overdosis berat yang mengakibatkan anoksia dan pelebaran pupil) serta satu atau lebih tanda berikut: mengantuk (digambarkan sebagai kondisi “on the nod”), bicara pelo, dan gangguan perhatian atau memori (Kriteria C); rasa mengantuk dapat berkembang menjadi koma. Individu dengan intoksikasi opioid mungkin menunjukkan kurangnya perhatian terhadap lingkungan, bahkan sampai mengabaikan kejadian yang berpotensi membahayakan. Tanda atau gejala intoksikasi opioid tidak boleh disebabkan oleh kondisi medis lainnya dan tidak dapat dijelaskan secara lebih baik oleh gangguan mental lainnya (Kriteria D).
Hingga tahun 2009, overdosis opioid terutama disebabkan oleh opioid yang diresepkan, tetapi sejak tahun 2010, overdosis akibat heroin mulai meningkat tajam. Selain itu, sejak tahun 2015, overdosis fatal akibat opioid sintetis selain metadon (umumnya fentanil) telah melampaui jumlah overdosis akibat opioid yang diresepkan.
Intoksikasi opioid dapat mencakup penurunan frekuensi pernapasan dan tekanan darah, serta hipotermia ringan. Durasi intoksikasi opioid dapat bervariasi bergantung pada farmakokinetika opioid yang dikonsumsi. Intoksikasi opioid dapat mengakibatkan overdosis opioid yang fatal maupun tidak fatal. Overdosis opioid ditandai dengan kehilangan kesadaran, depresi pernapasan, dan pupil yang sangat kecil. Overdosis opioid yang fatal telah meningkat secara eksponensial di Amerika Serikat sejak tahun 1999.
Intoksikasi opioid dapat terjadi pada individu yang belum pernah menggunakan opioid, individu yang menggunakan opioid secara sporadis, maupun individu yang mengalami ketergantungan fisik terhadap opioid. Dosis opioid yang dikonsumsi dalam kaitannya dengan kemungkinan mengalami intoksikasi opioid akan bervariasi bergantung pada kondisi dan riwayat paparan opioid individu tersebut (yaitu, toleransi). Individu sering melaporkan bahwa kualitas pengalaman menyenangkan akibat intoksikasi opioid berkurang setelah penggunaan opioid secara berulang.
Intoksikasi alkohol dan intoksikasi sedatif-hipnotik dapat menyebabkan gambaran klinis yang menyerupai intoksikasi opioid. Diagnosis intoksikasi alkohol atau sedatif-hipnotik biasanya dapat ditegakkan berdasarkan tidak adanya penyempitan pupil atau tidak adanya respons terhadap uji tantang nalokson. Dalam beberapa kasus, intoksikasi dapat disebabkan oleh opioid sekaligus alkohol atau sedatif lainnya. Dalam kasus tersebut, pemberian nalokson tidak akan menghilangkan seluruh efek sedatif. Meskipun respons terhadap pemberian nalokson dapat mendukung diagnosis intoksikasi opioid, tidak adanya respons mungkin disebabkan oleh penggunaan opioid secara bersamaan dengan zat lain (misalnya, benzodiazepin atau alkohol) atau penggunaan opioid dalam dosis yang lebih tinggi dan/atau dengan potensi yang lebih kuat (misalnya, fentanil).
Intoksikasi opioid dibedakan dari gangguan mental akibat opioid (misalnya, gangguan depresif akibat opioid, dengan onset selama intoksikasi) karena gejala-gejala (misalnya, suasana hati depresif) pada gangguan tersebut melebihi gejala yang biasanya berkaitan dengan intoksikasi opioid, mendominasi gambaran klinis, dan cukup berat sehingga memerlukan perhatian klinis.
Mengingat adanya keterkaitan yang umum antara intoksikasi opioid dan gangguan penggunaan opioid, lihat bagian “Komorbiditas” pada Gangguan Penggunaan Opioid untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai kondisi-kondisi penyerta yang kemungkinan ditemukan.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.