F13.130 F13.132 F13.230 F13.232 F13.930 F13.932 16_30

Putus Sedatif, Hipnotik, atau Ansiolitik

Sedative, Hypnotic, or Anxiolytic Withdrawal

Substance-Related Disorders Sedative, Hypnotic or Anxiolytic Related Disorders DSM-5-TR 1x dibaca

Kriteria Diagnostik

  1. Penghentian (atau pengurangan) penggunaan sedatif, hipnotik, atau ansiolitik yang telah berlangsung dalam jangka waktu lama.
  2. Dua (atau lebih) dari gejala berikut yang berkembang dalam beberapa jam hingga beberapa hari setelah penghentian (atau pengurangan) penggunaan sedatif, hipnotik, atau ansiolitik sebagaimana dijelaskan dalam Kriteria A: (1) Hiperaktivitas otonom (misalnya, berkeringat atau frekuensi denyut nadi lebih dari 100 denyut per menit). (2) Tremor pada tangan. (3) Insomnia. (4) Mual atau muntah. (5) Halusinasi atau ilusi visual, taktil, atau auditorik yang bersifat sementara. (6) Agitasi psikomotor. (7) Kecemasan. (8) Kejang grand mal.
  3. Tanda atau gejala pada Kriteria B menyebabkan distres yang bermakna secara klinis atau gangguan keberfungsian dalam bidang sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya.
  4. Tanda atau gejala tersebut tidak disebabkan oleh kondisi medis lainnya dan tidak dapat dijelaskan secara lebih baik oleh gangguan mental lainnya, termasuk intoksikasi atau putus zat akibat zat lain.

Tentukan Jika:

Dengan Gangguan Persepsi: Penanda ini dapat digunakan ketika halusinasi dengan kemampuan pengujian realitas yang tetap utuh atau ilusi auditorik, visual, maupun taktil muncul tanpa disertai delirium.

Catatan Pengodean: Kode ICD-10-CM bergantung pada ada atau tidaknya gangguan penggunaan sedatif, hipnotik, atau ansiolitik sebagai komorbiditas serta ada atau tidaknya gangguan persepsi.

  • Untuk Putus Sedatif, Hipnotik, atau Ansiolitik Tanpa Gangguan Persepsi: Apabila terdapat gangguan penggunaan sedatif, hipnotik, atau ansiolitik ringan sebagai komorbiditas, kode ICD-10-CM adalah F13.130, sedangkan apabila terdapat gangguan penggunaan sedatif, hipnotik, atau ansiolitik sedang atau berat sebagai komorbiditas, kode ICD-10-CM adalah F13.230. Apabila tidak terdapat gangguan penggunaan sedatif, hipnotik, atau ansiolitik sebagai komorbiditas (misalnya, pada pasien yang menggunakan sedatif, hipnotik, atau ansiolitik semata-mata di bawah pengawasan medis yang sesuai), kode ICD-10-CM adalah F13.930.
  • Untuk Putus Sedatif, Hipnotik, atau Ansiolitik dengan Gangguan Persepsi: Apabila terdapat gangguan penggunaan sedatif, hipnotik, atau ansiolitik ringan sebagai komorbiditas, kode ICD-10-CM adalah F13.132, sedangkan apabila terdapat gangguan penggunaan sedatif, hipnotik, atau ansiolitik sedang atau berat sebagai komorbiditas, kode ICD-10-CM adalah F13.232. Apabila tidak terdapat gangguan penggunaan sedatif, hipnotik, atau ansiolitik sebagai komorbiditas (misalnya, pada pasien yang menggunakan sedatif, hipnotik, atau ansiolitik semata-mata di bawah pengawasan medis yang sesuai), kode ICD-10-CM adalah F13.932.

Catatan: Untuk informasi mengenai Perkembangan dan Perjalanan Gangguan; Faktor Risiko dan Prognostik; Isu Diagnostik Terkait Budaya; Konsekuensi Fungsional Putus Sedatif, Hipnotik, atau Ansiolitik; serta Komorbiditas, lihat bagian yang berkaitan dalam Gangguan Penggunaan Sedatif, Hipnotik, atau Ansiolitik.

Karakteristik Diagnostik

Karakteristik utama putus sedatif, hipnotik, atau ansiolitik adalah adanya sindrom khas yang berkembang setelah penurunan penggunaan secara nyata atau penghentian penggunaan setelah beberapa minggu atau lebih penggunaan secara teratur (Kriteria A dan B). Sindrom putus zat ini ditandai dengan dua atau lebih gejala (serupa dengan putus alkohol) yang mencakup hiperaktivitas otonom (misalnya, peningkatan frekuensi denyut jantung, frekuensi pernapasan, tekanan darah, atau suhu tubuh, disertai berkeringat); tremor pada tangan; insomnia; mual yang terkadang disertai muntah; kecemasan; dan agitasi psikomotor. Kejang grand mal mungkin terjadi pada sebanyak 20%–30% individu yang mengalami putus zat tersebut tanpa penanganan. Pada kondisi putus zat yang berat, halusinasi atau ilusi visual, taktil, maupun auditorik dapat terjadi, tetapi biasanya muncul dalam konteks delirium putus zat. Apabila kemampuan pengujian realitas individu tetap utuh (yaitu, individu mengetahui bahwa zat tersebut menyebabkan halusinasi) dan ilusi terjadi dalam keadaan kesadaran sensoris yang jernih, penanda “dengan gangguan persepsi” dapat digunakan. Ketika halusinasi terjadi tanpa kemampuan pengujian realitas yang utuh, diagnosis gangguan psikotik akibat zat/obat harus dipertimbangkan. Gejala-gejala tersebut menyebabkan distres yang bermakna secara klinis atau gangguan keberfungsian dalam bidang sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya (Kriteria C). Gejala-gejala tersebut tidak boleh disebabkan oleh kondisi medis lainnya dan tidak dapat dijelaskan secara lebih baik oleh gangguan mental lainnya (misalnya, putus alkohol atau gangguan kecemasan menyeluruh) (Kriteria D). Berkurangnya gejala putus zat setelah pemberian obat sedatif-hipnotik apa pun dapat mendukung diagnosis putus sedatif, hipnotik, atau ansiolitik.

Karakteristik Penyerta

Waktu kemunculan dan tingkat keparahan sindrom putus zat akan berbeda-beda bergantung pada zat tertentu serta karakteristik farmakokinetik dan farmakodinamiknya. Sebagai contoh, putus zat akibat obat dengan durasi kerja lebih pendek, yang diserap secara cepat dan tidak memiliki metabolit aktif (misalnya, triazolam), dapat dimulai dalam beberapa jam setelah penggunaan zat dihentikan; sedangkan putus zat akibat obat yang memiliki metabolit dengan durasi kerja panjang (misalnya, diazepam) mungkin baru dimulai setelah 1–2 hari atau lebih. Sindrom putus zat yang disebabkan oleh zat-zat dalam golongan ini dapat ditandai dengan berkembangnya delirium yang berpotensi mengancam jiwa. Bukti adanya toleransi dan gejala putus zat dapat ditemukan tanpa adanya diagnosis gangguan penggunaan benzodiazepin pada individu yang secara tiba-tiba menghentikan penggunaan benzodiazepin yang sebelumnya dikonsumsi dalam jangka waktu lama dengan dosis sesuai resep dan dosis terapeutik.

Perjalanan waktu sindrom putus zat secara umum dapat diperkirakan berdasarkan waktu paruh zat tersebut. Obat-obatan yang efeknya biasanya berlangsung sekitar 10 jam atau kurang (misalnya, lorazepam, oksazepam, dan temazepam) menimbulkan gejala putus zat dalam waktu 6–8 jam setelah kadar zat dalam darah menurun, dengan intensitas gejala mencapai puncaknya pada hari kedua dan membaik secara nyata pada hari keempat atau kelima. Pada zat dengan waktu paruh lebih panjang (misalnya, diazepam), gejala mungkin baru berkembang setelah lebih dari 1 minggu, mencapai intensitas puncak selama minggu kedua, dan menurun secara nyata selama minggu ketiga atau keempat. Gejala tambahan yang berlangsung lebih lama dengan tingkat intensitas yang jauh lebih rendah mungkin menetap selama beberapa bulan.

Semakin lama zat digunakan dan semakin tinggi dosis yang dikonsumsi, semakin besar kemungkinan terjadinya putus zat yang berat. Namun, putus zat telah dilaporkan pada penggunaan diazepam dengan dosis serendah 15 mg (atau dosis yang setara dari benzodiazepin lainnya) ketika dikonsumsi setiap hari selama beberapa bulan. Dosis sekitar 40 mg diazepam (atau dosis yang setara) setiap hari lebih mungkin menimbulkan gejala putus zat yang bermakna secara klinis, sedangkan dosis yang lebih tinggi lagi (misalnya, 100 mg diazepam) lebih mungkin diikuti oleh kejang akibat putus zat atau delirium. Delirium putus sedatif, hipnotik, atau ansiolitik ditandai dengan gangguan kesadaran dan kognisi yang disertai halusinasi visual, taktil, atau auditorik. Apabila kondisi tersebut ditemukan, diagnosis delirium putus sedatif, hipnotik, atau ansiolitik harus ditegakkan sebagai pengganti diagnosis putus zat.

Prevalensi

Prevalensi putus sedatif, hipnotik, atau ansiolitik belum diketahui.

Penanda Diagnostik

Kejang dan ketidakstabilan fungsi otonom pada individu dengan riwayat paparan obat sedatif, hipnotik, atau ansiolitik dalam jangka waktu lama menunjukkan kemungkinan yang tinggi terjadinya putus sedatif, hipnotik, atau ansiolitik.

Diagnosis Banding

Kondisi Medis Lainnya

Gejala putus sedatif, hipnotik, atau ansiolitik dapat menyerupai gejala kondisi medis lainnya (misalnya, hipoglikemia dan ketoasidosis diabetik). Apabila kejang merupakan salah satu karakteristik putus sedatif, hipnotik, atau ansiolitik, diagnosis banding mencakup berbagai penyebab kejang (misalnya, infeksi, cedera kepala, dan keracunan).

Tremor Esensial

Tremor esensial, yaitu kondisi neurologis yang sering ditemukan dalam keluarga, dapat secara keliru dianggap sebagai tremor yang berkaitan dengan putus sedatif, hipnotik, atau ansiolitik.

Putus Alkohol

Putus alkohol menghasilkan sindrom yang sangat mirip dengan putus sedatif, hipnotik, atau ansiolitik. Diagnosis banding terutama ditentukan melalui riwayat klinis, meskipun kerusakan hati dan tanda-tanda potensial lainnya dari toksisitas alkohol kronis (misalnya, kardiomiopati) juga dapat lebih mengarah pada putus alkohol dibandingkan dengan putus sedatif, hipnotik, atau ansiolitik.

Gangguan Mental Akibat Sedatif, Hipnotik, atau Ansiolitik

Putus sedatif, hipnotik, atau ansiolitik dibedakan dari gangguan mental akibat sedatif, hipnotik, atau ansiolitik (misalnya, gangguan kecemasan akibat sedatif, hipnotik, atau ansiolitik, dengan onset selama putus zat) karena gejala-gejala (misalnya, kecemasan) pada gangguan tersebut melebihi gejala yang biasanya berkaitan dengan putus sedatif, hipnotik, atau ansiolitik; mendominasi gambaran klinis; dan cukup berat sehingga memerlukan perhatian klinis.

Gangguan Kecemasan

Kekambuhan atau perburukan gangguan kecemasan yang mendasari dapat menghasilkan sindrom yang menyerupai putus sedatif, hipnotik, atau ansiolitik, meskipun manifestasi putus zat yang paling ekstrem, seperti delirium tremens atau kejang yang sebenarnya, bukan merupakan gejala dari gangguan kecemasan apa pun. Putus zat dapat dicurigai apabila terjadi penurunan dosis obat sedatif, hipnotik, atau ansiolitik secara tiba-tiba. Ketika pengurangan dosis secara bertahap sedang dilakukan, membedakan sindrom putus zat dari gangguan kecemasan yang mendasarinya dapat menjadi sulit. Seperti halnya alkohol, gejala putus zat yang menetap (misalnya, kecemasan, perubahan suasana hati, dan kesulitan tidur) dapat disalahartikan sebagai gangguan kecemasan atau gangguan depresif independen (misalnya, gangguan kecemasan menyeluruh).

Komorbiditas

Mengingat adanya keterkaitan yang umum antara putus sedatif, hipnotik, atau ansiolitik dan gangguan penggunaan sedatif, hipnotik, atau ansiolitik, lihat bagian “Komorbiditas” pada Gangguan Penggunaan Sedatif, Hipnotik, atau Ansiolitik untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai kondisi-kondisi penyerta yang kemungkinan ditemukan.

Bagikan:

Siap Memulai Psikotes Online Anda?

Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.

Pilih Layanan Lihat Semua Alat Tes Hubungi Kami
Hubungi Kami