DSM 5 mengklasifikasikan gangguan spektrum autisme berdasarkan karakteristik komunikasi sosial, pola perilaku terbatas dan berulang, riwayat perkembangan, serta kebutuhan dukungan individu.
DSM 5 membedakan skizofrenia dan gangguan delusi berdasarkan pola gejala psikotik, durasi, gangguan fungsi, serta kriteria diagnostik. Keduanya memerlukan evaluasi klinis yang cermat.
DSM 5 menetapkan kriteria skizofrenia berdasarkan gejala psikotik, gangguan fungsi, durasi minimal enam bulan, dan diagnosis banding. Penegakannya memerlukan pemeriksaan klinis yang menyeluruh.
DSM 5 membedakan episode mania dan hipomania berdasarkan durasi, perubahan suasana perasaan, peningkatan energi, gangguan fungsi, dan gejala psikotik. Pahami karakteristik serta kriteria diagnostiknya.
DSM 5 membedakan gangguan bipolar tipe I dan tipe II berdasarkan episode mania, hipomania, dan depresi mayor. Pahami perbedaan kriteria, durasi gejala, serta proses diagnosis klinis.
DSM 5 menjelaskan gangguan panik melalui serangan panik berulang yang tidak terduga, kekhawatiran atau perubahan perilaku selama minimal satu bulan, serta evaluasi penyebab lain.
DSM 5 mengelompokkan gangguan kecemasan berdasarkan karakteristik ketakutan, kekhawatiran, dan perilaku menghindar. Pelajari jenis gangguan kecemasan, kriteria diagnostik, serta perbedaan setiap kategorinya.
Gangguan depresi persisten merupakan kondisi depresif yang berlangsung lama. DSM 5 menjelaskan kriteria diagnosis berdasarkan suasana perasaan, gejala penyerta, durasi, serta dampaknya terhadap fungsi individu.
DSM 5 menetapkan kriteria gangguan depresi mayor berdasarkan kombinasi gejala, durasi minimal dua minggu, dan dampak klinis. Diagnosis juga memerlukan evaluasi penyebab lain serta riwayat episode mania atau hipomania.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.