Setiap anak memiliki cara berbeda dalam berkomunikasi, bermain, dan memahami lingkungan sekitarnya. Namun, ketika perbedaan tersebut melibatkan pola komunikasi sosial serta perilaku tertentu yang menetap sejak masa perkembangan, pemeriksaan lebih lanjut mungkin diperlukan. Dalam psikologi klinis dan perkembangan, dsm 5 menjadi salah satu pedoman untuk memahami gangguan spektrum autisme secara sistematis.
Autisme sering dikaitkan dengan kesulitan berinteraksi sosial, padahal karakteristiknya jauh lebih beragam. Sebagian individu memiliki kemampuan bahasa yang baik, sementara lainnya membutuhkan dukungan komunikasi yang lebih intensif. Keberagaman tersebut menjadi alasan penggunaan istilah spektrum dalam klasifikasi autisme.
Gangguan spektrum autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan kondisi perkembangan saraf yang memengaruhi komunikasi sosial dan ditandai oleh pola perilaku, minat, atau aktivitas yang terbatas serta berulang. Karakteristiknya muncul selama periode perkembangan, meskipun tidak selalu langsung dikenali. Manifestasi dan kebutuhan dukungan dapat berbeda antara individu.
Dalam DSM-5, autisme termasuk kelompok Neurodevelopmental Disorders atau gangguan perkembangan saraf. Kelompok tersebut mencakup kondisi yang berkaitan dengan perkembangan fungsi psikologis dan perilaku. Namun, autisme mempunyai kriteria diagnostik khusus yang membedakannya dari kondisi perkembangan lainnya.
Sebelum DSM-5 diterbitkan pada tahun 2013, DSM-IV menggunakan beberapa kategori dalam kelompok gangguan perkembangan pervasif. Kategori tersebut mencakup gangguan autistik, gangguan Asperger, dan gangguan perkembangan pervasif yang tidak ditentukan. Pembagian ini kemudian mengalami perubahan dalam DSM-5.
DSM-5 menggabungkan sejumlah kategori sebelumnya ke dalam diagnosis gangguan spektrum autisme. Perubahan tersebut bertujuan menghasilkan kerangka diagnostik yang lebih konsisten dalam menggambarkan variasi karakteristik autisme. DSM-5-TR yang diterbitkan pada tahun 2022 tetap mempertahankan pendekatan spektrum tersebut.
DSM-5 menetapkan dua kelompok utama karakteristik yang harus dievaluasi dalam diagnosis autisme. Kelompok pertama berkaitan dengan kesulitan menetap dalam komunikasi dan interaksi sosial. Kelompok kedua melibatkan pola perilaku, minat, atau aktivitas yang terbatas dan berulang.
Kedua kelompok tersebut harus dipertimbangkan bersama persyaratan mengenai riwayat perkembangan, dampak klinis, dan diagnosis banding. Karakteristik dapat terlihat saat pemeriksaan maupun diketahui melalui riwayat perkembangan yang dapat dipercaya. Karena itu, diagnosis tidak hanya bergantung pada pengamatan sesaat.
Komunikasi timbal balik melibatkan kemampuan memulai, mempertahankan, dan merespons interaksi sosial. Sebagian individu autistik mungkin mengalami kesulitan mengikuti percakapan dua arah atau berbagi minat secara spontan. Namun, bentuk kesulitan tersebut dapat berbeda berdasarkan usia, kemampuan komunikasi, dan lingkungan.
Komunikasi sosial tidak hanya berlangsung melalui kata-kata, tetapi juga ekspresi wajah, kontak mata, gerakan tubuh, dan isyarat. Individu autistik dapat menunjukkan cara menggunakan atau memahami komunikasi nonverbal yang berbeda. Penilaiannya perlu memperhatikan budaya dan kondisi individu, bukan sekadar frekuensi kontak mata.
Karakteristik berikutnya berkaitan dengan kemampuan menyesuaikan perilaku dalam berbagai konteks sosial. Kesulitan dapat terlihat ketika memahami aturan interaksi, mengembangkan hubungan pertemanan, atau mengikuti permainan imajinatif bersama. Namun, kebutuhan sosial dan bentuk hubungan yang diinginkan setiap individu tidak selalu sama.
Ketiga area dalam Kriteria A perlu terpenuhi untuk diagnosis gangguan spektrum autisme. Pemeriksa mempertimbangkan karakteristik yang sedang terlihat maupun yang ditemukan dalam riwayat perkembangan. Evaluasi juga harus menyesuaikan kemampuan dan tahap perkembangan individu.
Dalam penggunaan dsm 5, kelompok kedua mensyaratkan sedikitnya dua dari empat jenis karakteristik perilaku terbatas dan berulang. Pola ini dapat muncul dalam aktivitas, penggunaan bahasa, minat, atau respons terhadap rangsangan sensorik. Karakteristik tersebut tidak harus terlihat dengan intensitas yang sama pada seluruh individu.
Sebagian individu menunjukkan gerakan tubuh berulang, seperti mengayunkan tangan atau menggoyangkan tubuh. Karakteristik lain dapat berupa menyusun benda dengan pola tertentu atau mengulang ungkapan bahasa. Namun, perilaku berulang harus dinilai berdasarkan pola dan konteksnya, bukan dianggap otomatis sebagai gangguan.
Individu autistik dapat mengalami kesulitan ketika menghadapi perubahan rutinitas atau transisi kegiatan. Sebagian mungkin memiliki aturan tertentu dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Perubahan kecil dapat menimbulkan tekanan yang bermakna bagi individu tertentu.
Minat yang sangat intens atau terbatas juga termasuk karakteristik yang dipertimbangkan. Sebagai contoh, seseorang dapat menunjukkan ketertarikan mendalam terhadap topik atau objek tertentu. Namun, memiliki hobi yang kuat saja tidak cukup untuk memenuhi kriteria autisme.
Sebagian individu autistik memiliki sensitivitas tinggi terhadap suara, cahaya, tekstur, atau rangsangan sensorik lainnya. Individu lain mungkin menunjukkan respons yang lebih rendah atau ketertarikan kuat terhadap pengalaman sensorik tertentu. Perbedaan ini dapat memengaruhi kenyamanan dan aktivitas sehari-hari.
DSM-5 menjelaskan bahwa karakteristik autisme harus muncul pada periode perkembangan awal. Namun, gejalanya mungkin baru terlihat sepenuhnya ketika tuntutan sosial melebihi kemampuan individu. Beberapa karakteristik juga dapat tersamarkan oleh strategi yang dipelajari sepanjang kehidupan.
Oleh karena itu, autisme tidak selalu teridentifikasi ketika seseorang masih anak-anak. Sebagian individu baru menjalani pemeriksaan saat remaja atau dewasa. Riwayat perkembangan tetap menjadi informasi penting meskipun diagnosis dilakukan pada usia yang lebih lanjut.
Kriteria D mensyaratkan bahwa karakteristik menyebabkan gangguan bermakna secara klinis pada fungsi sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya. Dampaknya perlu dinilai berdasarkan tuntutan lingkungan dan kebutuhan dukungan individu. Pemeriksa tidak boleh menyimpulkan tingkat kesulitan hanya berdasarkan penampilan luar.
Sementara itu, Kriteria E menjelaskan bahwa karakteristik tersebut tidak lebih tepat dijelaskan oleh gangguan perkembangan intelektual atau keterlambatan perkembangan global saja. Autisme dan gangguan perkembangan intelektual tetap dapat terjadi bersamaan. Dalam keadaan tersebut, komunikasi sosial harus berada di bawah tingkat yang diharapkan berdasarkan perkembangan umum individu.
DSM-5 mengenal tiga tingkat keparahan yang dinyatakan berdasarkan kebutuhan dukungan. Penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan komunikasi sosial serta perilaku terbatas dan berulang. Tingkat tersebut bukan ukuran tunggal kemampuan atau potensi seseorang.
| Tingkat | Kebutuhan Dukungan |
|---|---|
| Level 1 | Membutuhkan dukungan |
| Level 2 | Membutuhkan dukungan substansial |
| Level 3 | Membutuhkan dukungan sangat substansial |
Kebutuhan dukungan seseorang dapat berubah mengikuti perkembangan, lingkungan, dan akses terhadap layanan. Tingkat keparahan juga tidak otomatis menggambarkan seluruh kemampuan intelektual atau bahasa. Karena itu, profil individu tetap perlu dijelaskan secara menyeluruh.
DSM-5 juga menggunakan penanda atau specifiers untuk memberikan informasi klinis tambahan. Penanda tersebut dapat menjelaskan apakah autisme disertai gangguan intelektual, gangguan bahasa, kondisi medis atau genetik tertentu, maupun kondisi perkembangan atau mental lainnya. Katatonia juga dapat dicatat apabila memenuhi ketentuannya.
Informasi tambahan ini membantu profesional memahami kebutuhan individu secara lebih spesifik. Dua orang dengan diagnosis autisme dapat memiliki profil kemampuan dan hambatan yang berbeda. Karena itu, nama diagnosis saja belum cukup untuk menyusun rencana dukungan.
Pemeriksaan autisme biasanya melibatkan wawancara perkembangan, observasi, dan evaluasi komunikasi sosial serta pola perilaku. Profesional dapat menggunakan instrumen asesmen yang sesuai dengan usia dan kondisi individu. Informasi dari orang tua, pengasuh, atau sumber lain dapat membantu menggambarkan perkembangan sejak awal.
Namun, tidak ada satu kuesioner yang secara otomatis memastikan diagnosis autisme. Hasil instrumen perlu diintegrasikan dengan informasi klinis dan kriteria diagnostik. Pemeriksaan juga dapat mencakup evaluasi bahasa, kemampuan adaptif, dan fungsi intelektual sesuai kebutuhan.
Dukungan bagi individu autistik sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan kehidupannya. Bentuknya dapat mencakup dukungan komunikasi, penyesuaian lingkungan belajar, serta pengembangan keterampilan adaptif. Pendekatan yang tepat perlu mempertimbangkan kemampuan, preferensi, dan kesejahteraan individu.
Autisme bukan kondisi yang dapat disimpulkan hanya dari satu kebiasaan atau perilaku sosial. Individu autistik memiliki kekuatan, minat, dan kebutuhan yang beragam. Lingkungan yang memahami perbedaan tersebut dapat membantu meningkatkan partisipasi dan kualitas hidup.
Gangguan spektrum autisme dalam DSM-5 diklasifikasikan berdasarkan kesulitan menetap pada komunikasi dan interaksi sosial serta pola perilaku, minat, atau aktivitas terbatas dan berulang. Diagnosis juga mempertimbangkan riwayat perkembangan, dampak klinis, dan kemungkinan kondisi lainnya. Tingkat kebutuhan dukungan digunakan untuk melengkapi gambaran klinis individu.
Bagi mahasiswa, praktisi, maupun masyarakat yang ingin memahami dsm 5, mengenali kriteria autisme merupakan langkah awal untuk memahami keberagaman perkembangan saraf manusia. Namun, informasi tersebut tidak boleh dijadikan dasar diagnosis mandiri atau pelabelan terhadap seseorang. Pemeriksaan profesional dan dukungan yang menghargai karakteristik individu menjadi bagian penting dalam pelayanan psikologis yang tepat dan manusiawi.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.