Perubahan suasana hati merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi bagaimana jika seseorang mengalami peningkatan energi yang sangat mencolok, kemudian menghadapi periode depresi yang berat? Kondisi tersebut dapat menimbulkan pertanyaan mengenai gangguan bipolar, terutama karena terdapat beberapa jenis diagnosis yang berbeda. Dalam klasifikasi dsm 5, gangguan bipolar tipe I dan tipe II dibedakan berdasarkan karakteristik episode suasana perasaan yang dialami individu.
Meskipun memiliki nama yang hampir sama, bipolar tipe I dan tipe II tidak dapat dibedakan hanya berdasarkan seberapa sering seseorang mengalami perubahan emosi. Perbedaan utamanya berkaitan dengan keberadaan episode mania, hipomania, dan depresi mayor. Memahami karakteristik tersebut penting agar diagnosis tidak dibuat berdasarkan perubahan suasana hati yang sebenarnya masih tergolong wajar.
Gangguan bipolar merupakan kelompok gangguan mental yang ditandai oleh episode perubahan suasana perasaan, energi, dan aktivitas yang memenuhi kriteria klinis tertentu. Kondisi ini dapat melibatkan episode mania, hipomania, maupun depresi. Namun, pola episode yang dialami berbeda menurut jenis gangguannya.
DSM-5 diterbitkan oleh American Psychiatric Association pada tahun 2013 dan diperbarui melalui DSM-5-TR pada tahun 2022. Pedoman tersebut menempatkan gangguan bipolar dalam kelompok Bipolar and Related Disorders. Klasifikasi ini membantu profesional membedakan gangguan bipolar dari gangguan depresif dan kondisi psikologis lainnya.
Episode mania ditandai oleh suasana perasaan yang meningkat, meluas, atau mudah tersinggung secara tidak biasa, disertai peningkatan energi atau aktivitas yang bermakna. Kondisi tersebut berlangsung sedikitnya satu minggu, hampir sepanjang hari dan hampir setiap hari, atau dengan durasi berapa pun apabila diperlukan perawatan di rumah sakit. Episode mania dapat menyebabkan gangguan fungsi yang berat.
Hipomania memiliki beberapa karakteristik yang menyerupai mania, tetapi dengan tingkat keparahan yang berbeda. Episode hipomania berlangsung sedikitnya empat hari berturut-turut dan menunjukkan perubahan nyata dari kondisi biasanya. Perubahan tersebut dapat diamati orang lain, tetapi tidak menimbulkan gangguan fungsi berat atau kebutuhan rawat inap seperti pada mania.
Episode depresif mayor melibatkan kombinasi gejala depresif yang berlangsung sedikitnya dua minggu. Gejalanya dapat mencakup suasana perasaan depresif, kehilangan minat, gangguan tidur, dan penurunan energi. Namun, diagnosis episode depresif mayor memerlukan pemenuhan kriteria lengkap, bukan sekadar adanya perasaan sedih.
Gangguan bipolar tipe I atau Bipolar I Disorder ditentukan berdasarkan adanya sedikitnya satu episode mania yang memenuhi kriteria diagnostik. Episode tersebut dapat didahului atau diikuti oleh episode hipomania maupun depresi mayor. Namun, riwayat episode depresif mayor tidak menjadi persyaratan wajib untuk diagnosis bipolar tipe I.
Saat mengalami mania, individu dapat menunjukkan peningkatan aktivitas yang tidak biasa, kebutuhan tidur yang berkurang, serta pembicaraan yang lebih banyak daripada biasanya. Sebagian individu mengalami pikiran yang bergerak cepat atau rasa percaya diri yang meningkat secara berlebihan. Perilaku berisiko juga dapat muncul selama episode berlangsung.
Untuk memenuhi kriteria mania, diperlukan sedikitnya tiga gejala penyerta, atau empat apabila suasana perasaan hanya berupa iritabilitas. Pemeriksa juga harus mengevaluasi tingkat keparahan dan kemungkinan penyebab lainnya. Apabila terdapat gejala psikotik selama episode peningkatan suasana perasaan, kondisi tersebut termasuk mania, bukan hipomania.
Gangguan bipolar tipe II atau Bipolar II Disorder membutuhkan riwayat sedikitnya satu episode hipomania dan satu episode depresif mayor. Individu dengan diagnosis ini tidak boleh pernah mengalami episode mania penuh. Persyaratan tersebut menjadi pembeda utama dari bipolar tipe I.
Episode hipomania terkadang sulit dikenali karena individu mungkin merasa lebih produktif atau berenergi daripada biasanya. Namun, perubahan tersebut tetap harus berbeda secara nyata dari kondisi normal dan dapat diamati orang lain. Pemeriksa perlu memastikan bahwa gejalanya memenuhi kriteria diagnostik, bukan sekadar perubahan semangat sesaat.
Perbedaan kedua gangguan terutama terletak pada jenis episode yang menjadi persyaratan diagnosis. Bipolar tipe I membutuhkan episode mania, sedangkan bipolar tipe II membutuhkan kombinasi hipomania dan depresi mayor. Ringkasan berikut membantu memperjelas perbedaannya.
| Aspek | Bipolar Tipe I | Bipolar Tipe II |
|---|---|---|
| Episode mania | Wajib ada minimal satu | Tidak boleh pernah ada |
| Episode hipomania | Dapat terjadi, tidak wajib | Wajib ada minimal satu |
| Episode depresif mayor | Sering terjadi, tidak wajib | Wajib ada minimal satu |
| Durasi episode peningkatan suasana perasaan | Mania minimal 7 hari, kecuali jika perlu rawat inap | Hipomania minimal 4 hari |
| Gangguan fungsi saat episode meningkat | Berat, atau perlu rawat inap, atau terdapat gejala psikotik | Tidak sampai gangguan fungsi berat atau rawat inap |
Tabel tersebut merupakan ringkasan edukatif, bukan pengganti kriteria diagnostik lengkap. Setiap episode harus memenuhi persyaratan mengenai gejala, durasi, dan pengecualian. Diagnosis juga tidak dapat ditetapkan hanya berdasarkan pengalaman perubahan suasana hati.
Anggapan bahwa bipolar tipe II selalu lebih ringan merupakan kesalahpahaman yang perlu diluruskan. Hipomania memang tidak seberat mania berdasarkan definisi diagnostik, tetapi perjalanan gangguan bipolar tipe II dapat melibatkan episode depresi yang sangat mengganggu. Dampaknya terhadap kualitas hidup tetap dapat bermakna.
Seseorang dengan bipolar tipe II mungkin menghadapi periode depresi yang panjang atau berulang. Sementara itu, bipolar tipe I dapat menimbulkan gangguan fungsi berat selama episode mania. Karena itu, tingkat keparahan keseluruhan tidak cukup ditentukan hanya berdasarkan jenis diagnosis.
Dalam penggunaan dsm 5, pemeriksa perlu mengevaluasi riwayat episode suasana perasaan secara menyeluruh. Wawancara biasanya mencakup perubahan energi, kebutuhan tidur, aktivitas, dan perilaku selama periode tertentu. Informasi mengenai episode depresi juga menjadi pertimbangan penting.
Riwayat gejala membantu profesional membedakan episode mania, hipomania, dan perubahan suasana perasaan yang tidak memenuhi kriteria gangguan. Pada beberapa kasus, informasi dari keluarga atau orang terdekat dapat membantu dengan persetujuan yang sesuai. Namun, diagnosis tetap memerlukan integrasi seluruh informasi klinis.
Gejala bipolar dapat memiliki kemiripan dengan gangguan depresif mayor, gangguan terkait zat, atau kondisi medis tertentu. Misalnya, seseorang yang datang ketika mengalami depresi mungkin belum menyadari bahwa dirinya pernah mengalami hipomania. Karena itu, riwayat peningkatan suasana perasaan perlu ditelusuri.
Gangguan siklotimik juga termasuk dalam kelompok gangguan bipolar dan terkait. Namun, pola gejalanya memiliki persyaratan diagnostik yang berbeda dari bipolar tipe I dan tipe II. Pemeriksaan diperlukan untuk menghindari pengelompokan yang tidak tepat.
Gangguan bipolar merupakan kondisi yang dapat dikelola melalui penanganan yang disesuaikan dengan kebutuhan individu. Pengobatan oleh dokter atau psikiater, termasuk obat penstabil suasana perasaan tertentu, dapat menjadi bagian penting dari penanganan. Psikoterapi dan edukasi mengenai kondisi juga dapat memberikan manfaat sebagai bagian dari layanan terpadu.
Pemantauan pola tidur, rutinitas, dan perubahan suasana perasaan dapat membantu proses evaluasi. Namun, perubahan maupun penghentian obat tidak sebaiknya dilakukan tanpa berkonsultasi dengan dokter yang menangani. Penanganan membutuhkan pemantauan berkelanjutan untuk mengurangi risiko kekambuhan.
Pemeriksaan profesional perlu dipertimbangkan apabila seseorang mengalami perubahan suasana perasaan dan energi yang mencolok serta mengganggu kehidupan sehari-hari. Konsultasi juga penting ketika terdapat periode depresi berulang atau perubahan perilaku yang sulit dijelaskan. Diagnosis yang tepat membantu menentukan kebutuhan layanan.
Apabila muncul perilaku yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain, pertolongan segera perlu diprioritaskan. Dukungan keluarga atau orang terdekat dapat membantu individu memperoleh pemeriksaan yang diperlukan. Namun, penanganan harus tetap menghargai keselamatan, hak, dan kondisi individu.
Gangguan bipolar tipe I dan tipe II memiliki perbedaan diagnostik yang penting dalam DSM-5. Bipolar tipe I membutuhkan sedikitnya satu episode mania, sedangkan bipolar tipe II memerlukan episode hipomania dan depresi mayor tanpa riwayat mania. Keduanya dapat memberikan dampak serius sehingga memerlukan evaluasi klinis yang tepat.
Bagi mahasiswa, praktisi, maupun masyarakat yang ingin memahami dsm 5, mengenali perbedaan episode mania, hipomania, dan depresi mayor merupakan dasar penting dalam mempelajari gangguan bipolar. Gunakan informasi diagnostik sebagai sumber pengetahuan, bukan untuk menetapkan diagnosis secara mandiri. Dengan pemeriksaan profesional serta penanganan yang sesuai, individu dengan gangguan bipolar dapat memperoleh dukungan untuk menjaga kestabilan kondisi dan kualitas hidupnya.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.