DSM 5 Indonesia dan Hubungannya dengan Pedoman PPDGJ

07 Nov 2026 Ardi Almaqassary DSM 1x dibaca
DSM 5 Indonesia dan Hubungannya dengan Pedoman PPDGJ

Dalam mempelajari psikologi klinis, mahasiswa sering menemukan dua pedoman yang sama-sama digunakan untuk menjelaskan gangguan mental, yaitu DSM-5 dan PPDGJ. Keduanya memiliki tujuan yang serupa, tetapi dikembangkan oleh lembaga berbeda dan memiliki sejumlah perbedaan klasifikasi. Memahami hubungan dsm 5 indonesia dengan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) menjadi penting agar penggunaan referensi diagnostik tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Perbedaan kedua pedoman tidak berarti salah satunya selalu lebih tepat untuk seluruh kebutuhan. Setiap sistem memiliki sejarah, struktur, dan konteks penggunaan masing-masing. Dengan memahami hubungan keduanya, pembaca dapat mengenali perkembangan klasifikasi gangguan mental dalam pendidikan dan praktik kesehatan mental di Indonesia.

Apa Itu DSM-5 dalam Psikologi?

DSM-5 merupakan singkatan dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association pada tahun 2013. Pedoman ini menyediakan klasifikasi dan kriteria diagnostik berbagai gangguan mental. Pada tahun 2022, diterbitkan DSM-5-TR sebagai revisi teks dari edisi kelima.

DSM digunakan dalam pendidikan, penelitian, dan praktik klinis untuk membantu memahami karakteristik gangguan mental. Informasinya meliputi gejala, durasi, pengecualian, dan diagnosis banding. Namun, penerapan kriteria tetap membutuhkan pemeriksaan profesional yang menyeluruh.

Apa Itu PPDGJ di Indonesia?

PPDGJ merupakan singkatan dari Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia. Pedoman ini dikembangkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia sebagai referensi klasifikasi dan diagnosis gangguan jiwa. Salah satu edisi yang banyak dikenal dalam pendidikan kesehatan mental adalah PPDGJ-III, yang diterbitkan pada tahun 1993.

PPDGJ-III disusun berdasarkan kerangka International Classification of Diseases, Tenth Revision atau ICD-10 dari World Health Organization (WHO). Pedoman tersebut menggunakan pengelompokan gangguan mental dan perilaku yang berkaitan dengan sistem ICD-10. Karena itu, PPDGJ-III tidak dapat dianggap sebagai terjemahan langsung DSM-5.

Sejarah Perkembangan PPDGJ

PPDGJ-I dan PPDGJ-II

Pengembangan PPDGJ di Indonesia berlangsung melalui beberapa edisi. PPDGJ-I diterbitkan pada tahun 1973 dengan mengacu pada penggolongan ICD-8. Kemudian, PPDGJ-II diterbitkan pada tahun 1983 dengan rujukan klasifikasi ICD-9 serta pengaruh konsep diagnostik DSM-III.

Perkembangan tersebut menunjukkan adanya hubungan antara sistem klasifikasi internasional dan kebutuhan pelayanan kesehatan mental Indonesia. PPDGJ tidak dikembangkan tanpa dasar ilmiah sebelumnya. Penyusunannya mengikuti perkembangan konsep diagnostik yang digunakan pada masa masing-masing edisi.

PPDGJ-III Tahun 1993

PPDGJ-III diterbitkan pada tahun 1993 dengan mengacu pada ICD-10. Sistem ini menggunakan kelompok kode alfanumerik untuk mengidentifikasi berbagai gangguan mental dan perilaku. Sebagai contoh, kelompok kode F30–F39 berkaitan dengan gangguan suasana perasaan atau afektif.

PPDGJ-III menjadi referensi penting dalam pendidikan dan praktik psikiatri Indonesia selama bertahun-tahun. Namun, perkembangan DSM dan ICD setelah 1993 perlu diperhatikan ketika membandingkan informasi diagnostik. Pedoman yang berasal dari periode berbeda mungkin memiliki struktur serta persyaratan yang tidak identik.

Hubungan DSM-5 dengan PPDGJ-III

Hubungan utama kedua pedoman terletak pada tujuan mengklasifikasikan dan membantu diagnosis gangguan mental. DSM-5 dikembangkan oleh American Psychiatric Association, sedangkan PPDGJ-III mengikuti kerangka ICD-10 yang dikembangkan WHO. Kedua sistem membahas banyak kondisi serupa, tetapi tidak selalu menggunakan istilah maupun kriteria yang identik.

Perbedaan juga dapat ditemukan dalam pengelompokan gangguan dan batasan diagnostik. Suatu diagnosis yang dijelaskan secara terpisah dalam DSM-5 mungkin memiliki susunan berbeda dalam ICD-10. Oleh karena itu, pengguna perlu memahami sistem yang menjadi sumber suatu diagnosis.

Perbedaan DSM-5 dan PPDGJ-III

1. Lembaga dan Dasar Pengembangan

DSM-5 diterbitkan oleh organisasi profesi psikiatri Amerika Serikat. Sementara itu, PPDGJ-III merupakan pedoman Indonesia yang merujuk pada klasifikasi ICD-10 dari WHO. Perbedaan sumber ini memengaruhi perkembangan, istilah, dan struktur masing-masing pedoman.

DSM-5 juga diperbarui melalui DSM-5-TR pada tahun 2022. Sebaliknya, PPDGJ-III berasal dari kerangka klasifikasi tahun 1990-an. Karena itu, membandingkan keduanya harus mempertimbangkan perbedaan periode penerbitan.

2. Struktur Klasifikasi Gangguan

Dalam pembelajaran dsm 5 indonesia, perbedaan pengelompokan gangguan menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan. DSM-5 mempunyai susunan kategori seperti gangguan perkembangan saraf, gangguan kecemasan, dan gangguan terkait trauma serta stresor. PPDGJ-III mengikuti kelompok klasifikasi ICD-10 yang memiliki struktur berbeda.

Sebagai contoh, ICD-10 mengelompokkan gangguan neurotik, gangguan terkait stres, dan gangguan somatoform dalam rentang F40–F48. DSM-5 membahas sejumlah kondisi tersebut dalam kelompok diagnostik yang terpisah. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kesamaan gejala tidak selalu berarti kesamaan struktur klasifikasi.

3. Kriteria dan Istilah Diagnostik

Kriteria diagnostik dalam DSM-5 dan PPDGJ-III tidak selalu memiliki persyaratan yang sama. Perbedaan dapat mencakup jumlah gejala, durasi, karakteristik utama, dan ketentuan pengecualian. Oleh karena itu, kriteria dari dua sistem tidak seharusnya digabungkan tanpa dasar yang jelas.

Istilah yang digunakan juga dapat berbeda meskipun menggambarkan fenomena klinis yang berhubungan. Hal tersebut perlu diperhatikan ketika menyusun laporan psikologis. Konsistensi penggunaan sistem diagnostik membantu menjaga kejelasan kesimpulan.

Contoh Perbedaan pada Gangguan Perkembangan

Salah satu contoh hubungan DSM-5 dan PPDGJ-III terlihat pada gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas. DSM-5 menggunakan diagnosis Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder atau ADHD. Sementara itu, PPDGJ-III mengikuti pengelompokan gangguan hiperkinetik dalam ICD-10.

Keduanya berkaitan dengan perhatian dan aktivitas atau impulsivitas, tetapi memiliki perbedaan persyaratan diagnostik. Gangguan hiperkinetik ICD-10 mempunyai kriteria yang lebih ketat dalam sejumlah aspek dibandingkan ADHD DSM-5. Perbedaan tersebut penting dalam pendidikan psikopatologi maupun pembahasan hasil penelitian.

Perbedaan Klasifikasi Gangguan Autisme

Perubahan lain dapat dilihat dalam klasifikasi gangguan perkembangan yang berkaitan dengan autisme. DSM-5 menggunakan diagnosis Gangguan Spektrum Autisme untuk mengintegrasikan beberapa kategori dari edisi sebelumnya. Sementara itu, sistem ICD-10 yang mendasari PPDGJ-III masih menggunakan sejumlah kategori gangguan perkembangan pervasif.

Perbedaan tersebut mencerminkan perkembangan konsep dan klasifikasi diagnostik. Namun, perubahan kategori tidak berarti seluruh karakteristik individu ikut berubah. Pemeriksaan tetap harus mempertimbangkan perkembangan, fungsi, dan kebutuhan dukungan seseorang.

Hubungan DSM-5, PPDGJ, dan ICD-11

WHO telah menerbitkan ICD-11 yang mulai berlaku secara internasional pada 1 Januari 2022. Revisi ini memperbarui berbagai kategori dan ketentuan klasifikasi berdasarkan perkembangan pengetahuan kesehatan. Salah satu bagiannya membahas gangguan mental, perilaku, dan perkembangan saraf.

Perkembangan ICD-11 menjadi penting karena PPDGJ-III disusun berdasarkan ICD-10. Namun, pemberlakuan ICD-11 secara internasional tidak berarti seluruh fasilitas kesehatan Indonesia otomatis mengganti sistem pencatatannya pada tanggal yang sama. Pengguna perlu mengikuti ketentuan nasional dan sistem pelayanan kesehatan yang berlaku.

Penggunaan DSM dan PPDGJ dalam Pendidikan Psikologi

Mahasiswa psikologi dapat mempelajari DSM-5 dan PPDGJ-III untuk memahami perkembangan klasifikasi gangguan mental. Perbandingan keduanya membantu menjelaskan mengapa istilah dan kategori diagnostik dapat berubah. Pembelajaran tersebut juga mengembangkan kemampuan membaca referensi ilmiah secara kritis.

Sebagai contoh, mahasiswa dapat membandingkan karakteristik gangguan depresif atau gangguan perkembangan dalam kedua sistem. Tujuannya bukan memilih diagnosis hanya berdasarkan kemiripan nama. Perbandingan dilakukan untuk memahami perbedaan konsep, persyaratan, dan sejarah klasifikasi.

Bagaimana Menggunakan Kedua Pedoman dalam Asesmen?

Dalam pemeriksaan klinis, profesional perlu menentukan sistem diagnostik yang relevan dengan tujuan dan ketentuan pelayanan. Informasi diperoleh melalui wawancara, observasi, serta instrumen asesmen yang sesuai. Seluruh temuan kemudian dievaluasi berdasarkan kriteria yang digunakan.

Apabila laporan menggunakan DSM-5-TR, sumber dan edisi sebaiknya dicantumkan secara jelas. Jika menggunakan klasifikasi ICD atau PPDGJ, sistem rujukannya juga perlu dijelaskan. Langkah ini membantu menghindari kebingungan ketika hasil pemeriksaan dibaca oleh pihak lain.

Pentingnya Diagnosis Banding

DSM dan PPDGJ sama-sama berkaitan dengan kebutuhan membedakan kondisi yang memiliki karakteristik serupa. Kesulitan konsentrasi, misalnya, dapat muncul pada gangguan perkembangan, kecemasan, dan depresi. Pemeriksa perlu memahami keseluruhan pola gejala sebelum menentukan diagnosis.

Diagnosis juga tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan skor tes psikologi. Hasil pengukuran merupakan salah satu sumber informasi yang membutuhkan interpretasi. Pertimbangan klinis serta kemungkinan penjelasan lain tetap harus diperhatikan.

Kesimpulan

DSM-5 dan PPDGJ-III merupakan dua referensi yang memiliki hubungan erat dengan perkembangan klasifikasi gangguan mental. DSM-5 diterbitkan oleh American Psychiatric Association, sedangkan PPDGJ-III dikembangkan di Indonesia berdasarkan kerangka ICD-10. Meskipun membahas banyak kondisi yang serupa, keduanya memiliki sejumlah perbedaan istilah, struktur, dan kriteria diagnostik.

Bagi mahasiswa, peneliti, dan praktisi yang mempelajari dsm 5 indonesia, memahami hubungan DSM dengan PPDGJ membantu meningkatkan ketepatan penggunaan referensi klinis. Perkembangan ICD-11 juga perlu diperhatikan sebagai bagian dari perubahan sistem klasifikasi internasional. Dengan memahami sejarah dan batasan masing-masing pedoman, pembelajaran serta pemeriksaan psikologi dapat dilakukan secara lebih sistematis, ilmiah, dan bertanggung jawab.

Bagikan:

Siap Memulai Psikotes Online Anda?

Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.

Hubungi Kami