DSM 5 menjelaskan gangguan perkembangan intelektual berdasarkan keterbatasan fungsi intelektual, kemampuan adaptif, dan onset pada masa perkembangan. Tingkat keparahan ditentukan oleh fungsi adaptif.
DSM 5 mengklasifikasikan gangguan belajar spesifik berdasarkan kesulitan membaca, menulis, dan matematika yang menetap. Diagnosis mempertimbangkan kemampuan akademik, durasi gejala, dan faktor perkembangan.
DSM 5 menjelaskan gangguan kecemasan sosial melalui ketakutan terhadap penilaian negatif, penghindaran situasi sosial, gejala yang menetap minimal enam bulan, dan gangguan fungsi sehari-hari.
DSM 5 menjelaskan gangguan penyesuaian sebagai respons emosional atau perilaku terhadap stresor yang muncul dalam tiga bulan, menimbulkan distres atau gangguan fungsi, dan memenuhi kriteria diagnostik tertentu.
DSM 5 membedakan ODD dan Conduct Disorder berdasarkan pola perilaku menentang, agresi, pelanggaran hak orang lain, durasi gejala, dan dampaknya terhadap perkembangan anak.
DSM 5 menjelaskan gangguan perilaku pada anak melalui pola menentang, agresi, pelanggaran aturan, dan kesulitan mengendalikan impuls. Diagnosis mempertimbangkan usia, durasi, serta dampak perilaku.
DSM 5 menjelaskan gangguan penggunaan alkohol melalui 11 kriteria diagnostik yang meliputi gangguan kontrol, masalah sosial, penggunaan berisiko, dan gejala fisiologis dengan tiga tingkat keparahan.
DSM 5 mengklasifikasikan gangguan penggunaan zat berdasarkan pola penggunaan bermasalah, sebelas kriteria diagnostik, dan tingkat keparahan. Diagnosis mempertimbangkan dampak fisik, psikologis, serta fungsi sosial individu.
DSM 5 membedakan delirium dan gangguan neurokognitif berdasarkan kecepatan munculnya gejala, gangguan perhatian, perubahan kesadaran, serta penurunan fungsi kognitif dan kemandirian.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.