Bayangkan seorang lansia yang sebelumnya mampu berkomunikasi dengan baik tiba-tiba mengalami kebingungan, sulit mengenali lingkungan, dan tidak mampu mengikuti percakapan. Keluarga mungkin mengira kondisi tersebut merupakan tanda demensia karena muncul masalah ingatan dan perilaku. Padahal, perubahan mendadak seperti ini dapat berkaitan dengan delirium, yang memiliki karakteristik berbeda dari gangguan neurokognitif dalam pedoman dsm 5.
Delirium dan gangguan neurokognitif sama-sama dapat memengaruhi kemampuan berpikir, mengingat, dan memahami lingkungan. Namun, perbedaan waktu kemunculan, pola perubahan perhatian, serta perjalanan gejalanya menjadi pertimbangan penting. Memahami perbedaan tersebut membantu mengenali kondisi yang membutuhkan evaluasi medis segera.
Delirium merupakan sindrom yang ditandai oleh gangguan perhatian dan kesadaran terhadap lingkungan. Kondisi ini biasanya berkembang dalam waktu singkat, mulai dari beberapa jam hingga beberapa hari. Gejalanya juga dapat berubah tingkat keparahannya sepanjang hari.
Seseorang yang mengalami delirium mungkin kesulitan memusatkan perhatian, mengikuti pembicaraan, atau memahami situasi di sekitarnya. Perubahan tersebut sering disertai gangguan fungsi kognitif lainnya. Delirium membutuhkan evaluasi medis karena dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan yang serius.
Gangguan neurokognitif merupakan kelompok kondisi yang melibatkan penurunan kemampuan kognitif dibandingkan tingkat fungsi sebelumnya. Penurunan tersebut dapat memengaruhi ingatan, perhatian, bahasa, fungsi eksekutif, maupun kemampuan lainnya. DSM-5 membedakan gangguan neurokognitif menjadi kategori mayor dan ringan.
Gangguan neurokognitif mayor ditandai oleh penurunan kognitif signifikan yang mengganggu kemandirian individu. Sementara itu, gangguan neurokognitif ringan melibatkan penurunan yang lebih terbatas, sehingga kemandirian secara umum masih terjaga. Kedua diagnosis membutuhkan pemeriksaan terhadap kondisi sebelumnya dan kemungkinan penyebabnya.
Karakteristik utama delirium adalah menurunnya kemampuan mengarahkan, mempertahankan, dan mengalihkan perhatian. Individu juga mengalami penurunan kesadaran terhadap lingkungan. Kondisi tersebut dapat terlihat ketika seseorang sulit mengikuti instruksi sederhana atau mempertahankan percakapan.
Delirium biasanya berkembang dalam periode singkat dan menunjukkan perubahan dari kondisi sebelumnya. Tingkat keparahannya dapat berfluktuasi sepanjang hari. Sebagai contoh, individu mungkin tampak lebih sadar pada pagi hari tetapi mengalami kebingungan lebih berat pada malam hari.
Selain gangguan perhatian dan kesadaran, delirium melibatkan gangguan kognitif lainnya. Gejala tersebut dapat mencakup perubahan ingatan, orientasi, bahasa, kemampuan visuospasial, atau persepsi. Namun, karakteristiknya harus dievaluasi dalam keseluruhan gambaran klinis.
DSM-5 mensyaratkan adanya bukti bahwa delirium merupakan konsekuensi fisiologis langsung dari kondisi medis, penggunaan atau penghentian zat, paparan toksin, maupun beberapa penyebab sekaligus. Delirium juga tidak boleh lebih tepat dijelaskan oleh gangguan neurokognitif yang sudah ada. Gangguan tersebut tidak terjadi secara eksklusif dalam keadaan penurunan kesadaran berat seperti koma.
Gangguan neurokognitif mayor ditandai oleh penurunan signifikan pada satu atau lebih domain kognitif. Penurunan tersebut didukung oleh kekhawatiran individu atau orang yang mengenalnya serta bukti pemeriksaan kognitif yang sesuai. Dampaknya harus sampai mengganggu kemandirian dalam aktivitas sehari-hari.
Pada gangguan neurokognitif ringan, penurunan kemampuan bersifat sedang dan tidak sampai menghilangkan kemandirian. Kedua kategori tidak boleh didiagnosis berdasarkan gangguan kognitif yang terjadi secara eksklusif selama delirium. Profesional juga harus mempertimbangkan kemungkinan gangguan mental lain yang lebih tepat menjelaskan gejala.
Perbedaan paling penting terlihat pada pola perubahan perhatian, waktu kemunculan, dan perjalanan gejala. Delirium cenderung berkembang secara akut dengan gejala yang berfluktuasi. Sebaliknya, banyak gangguan neurokognitif berkembang lebih bertahap, meskipun perjalanan penyakit dapat berbeda berdasarkan penyebabnya.
| Aspek | Delirium | Gangguan Neurokognitif |
|---|---|---|
| Awal gejala | Biasanya dalam hitungan jam atau hari | Sering bertahap, tetapi bergantung pada penyebab |
| Perjalanan gejala | Berfluktuasi sepanjang hari | Beragam, dapat progresif atau menunjukkan pola lain |
| Perhatian | Gangguan perhatian sangat menonjol | Dapat terganggu, tetapi tidak selalu dominan |
| Kesadaran lingkungan | Umumnya terganggu | Sering relatif terjaga pada tahap awal |
| Fungsi ingatan | Dapat terganggu | Dapat mengalami penurunan bermakna |
| Penyebab | Kondisi fisiologis akut atau beberapa faktor medis | Berbagai kondisi neurologis atau medis |
| Penanganan | Evaluasi penyebab akut menjadi prioritas | Bergantung pada penyebab dan tingkat gangguan |
Tabel tersebut menggambarkan perbedaan umum, bukan aturan yang selalu berlaku pada seluruh individu. Beberapa gangguan neurokognitif dapat berkembang cepat, sedangkan delirium terkadang berlangsung lebih lama. Oleh karena itu, pemeriksaan tetap memerlukan penilaian medis dan kognitif secara menyeluruh.
Dalam penerapan dsm 5, gangguan perhatian merupakan komponen utama diagnosis delirium. Individu mungkin kesulitan mengikuti pertanyaan, mempertahankan fokus, atau berpindah perhatian sesuai instruksi. Gangguan tersebut sering muncul bersama perubahan kesadaran terhadap lingkungan.
Pada gangguan neurokognitif, perhatian juga dapat menurun, terutama pada tahap tertentu. Namun, beberapa individu lebih dahulu menunjukkan perubahan ingatan, bahasa, atau kemampuan eksekutif. Perbedaan pola tersebut membantu profesional menyusun diagnosis banding.
Delirium dapat terjadi pada seseorang yang sebelumnya telah mengalami gangguan neurokognitif mayor, termasuk demensia akibat penyakit Alzheimer. Kondisi ini dikenal sebagai delirium superimposed on dementia. Keberadaan gangguan neurokognitif sebelumnya tidak meniadakan kemungkinan munculnya delirium.
Sebagai contoh, seseorang yang telah mengalami penurunan daya ingat bertahun-tahun dapat tiba-tiba menjadi jauh lebih bingung akibat infeksi atau kondisi medis lainnya. Perubahan akut tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai perkembangan demensia. Evaluasi medis segera penting untuk mengidentifikasi penyebab yang mungkin dapat ditangani.
Delirium dapat berkaitan dengan infeksi, gangguan metabolik, dehidrasi, efek obat, atau kondisi medis lainnya. Individu yang menjalani perawatan di rumah sakit juga dapat menghadapi beberapa faktor risiko secara bersamaan. Namun, penyebab pasti harus ditentukan berdasarkan evaluasi klinis.
Perubahan mendadak pada kemampuan berpikir tidak boleh otomatis dianggap sebagai bagian normal dari penuaan. Kondisi medis yang mendasarinya mungkin membutuhkan penanganan segera. Karena itu, delirium merupakan situasi yang memerlukan perhatian serius.
Gangguan neurokognitif dapat berkaitan dengan penyakit Alzheimer, gangguan vaskular, penyakit badan Lewy, dan degenerasi frontotemporal. Penyebab lain dapat mencakup cedera otak traumatis atau penyakit neurologis tertentu. Setiap kondisi dapat memiliki pola penurunan kemampuan kognitif yang berbeda.
Sebagian gangguan berkembang secara perlahan selama bertahun-tahun. Namun, terdapat pula kondisi dengan perubahan yang lebih cepat atau pola bertahap. Pemeriksaan bertujuan mengidentifikasi sindrom kognitif sekaligus mempertimbangkan penyakit yang mendasarinya.
Pemeriksaan delirium melibatkan penilaian perhatian, kesadaran, orientasi, dan perubahan kondisi mental. Profesional kesehatan juga mengumpulkan informasi mengenai waktu munculnya gejala serta kondisi individu sebelumnya. Keterangan keluarga dapat sangat membantu dalam mengenali perubahan akut.
Instrumen seperti Confusion Assessment Method (CAM) dapat membantu proses identifikasi delirium. Namun, hasil penyaringan harus diinterpretasikan bersama pemeriksaan klinis. Evaluasi medis diperlukan untuk mencari penyebab yang mendasarinya.
Pemeriksaan gangguan neurokognitif biasanya melibatkan wawancara, evaluasi aktivitas sehari-hari, dan pengukuran fungsi kognitif. Instrumen seperti MMSE atau MoCA dapat digunakan untuk membantu penyaringan. Asesmen neuropsikologis yang lebih mendalam dapat diperlukan sesuai kebutuhan.
Penilaian juga harus mempertimbangkan pendidikan, bahasa, budaya, dan kemampuan individu sebelumnya. Hasil satu tes tidak cukup untuk menentukan diagnosis. Pemeriksaan medis tambahan dapat membantu mengidentifikasi penyebab penurunan kognitif.
Penanganan delirium berfokus pada identifikasi dan penanganan penyebab fisiologis yang mendasarinya. Dukungan lingkungan, orientasi, pemenuhan kebutuhan dasar, dan pencegahan komplikasi juga menjadi perhatian. Pendekatan harus disesuaikan dengan kondisi medis individu.
Sementara itu, penanganan gangguan neurokognitif bergantung pada penyebab, tingkat keparahan, dan kebutuhan dukungan. Intervensi dapat mencakup pengobatan tertentu, rehabilitasi, serta penyesuaian aktivitas dan lingkungan. Keluarga juga dapat berperan dalam menjaga keselamatan serta membantu mempertahankan kemandirian individu.
Kesalahan membedakan delirium dan gangguan neurokognitif dapat berdampak pada keterlambatan penanganan. Delirium yang dianggap sebagai demensia biasa berisiko menyebabkan penyakit medis akut terlewatkan. Sebaliknya, penurunan kognitif menetap membutuhkan evaluasi yang berbeda dari kebingungan sementara.
Oleh karena itu, perubahan kemampuan mental perlu dinilai berdasarkan waktu kemunculan dan perjalanan gejala. Pemeriksa juga harus mempertimbangkan kemungkinan kedua kondisi terjadi bersamaan. Pendekatan ini membantu meningkatkan ketepatan diagnosis dan keselamatan individu.
Delirium dan gangguan neurokognitif sama-sama memengaruhi fungsi kognitif, tetapi memiliki karakteristik diagnostik yang berbeda. Delirium umumnya muncul secara akut, berfluktuasi, dan ditandai gangguan perhatian serta kesadaran, sedangkan gangguan neurokognitif melibatkan penurunan kemampuan kognitif dengan perjalanan yang bergantung pada penyebabnya. Keduanya dapat terjadi secara bersamaan dan membutuhkan evaluasi profesional.
Bagi mahasiswa, praktisi, maupun masyarakat yang ingin memahami dsm 5, mengenali perbedaan kedua kondisi dapat membantu meningkatkan pemahaman mengenai gangguan fungsi kognitif. Kebingungan yang muncul secara mendadak perlu segera memperoleh evaluasi medis dan tidak boleh dianggap sebagai penuaan biasa. Dengan pemeriksaan yang tepat, penyebab gangguan dapat diidentifikasi sehingga individu memperoleh penanganan yang sesuai dan aman.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.