Kepribadian merupakan salah satu aspek psikologis yang menggambarkan karakteristik unik individu dalam berpikir, merasakan, bertindak, serta berinteraksi dengan lingkungan. Selain mencerminkan pola perilaku yang tampak, kepribadian juga berkaitan dengan berbagai dorongan internal yang memengaruhi bagaimana seseorang menetapkan tujuan, menghadapi tantangan, membangun hubungan sosial, dan memenuhi kebutuhan psikologisnya.
Dalam memahami kepribadian individu, penting untuk tidak hanya melihat perilaku yang muncul, tetapi juga memahami kebutuhan psikologis yang menjadi dasar munculnya perilaku tersebut. Setiap individu memiliki kebutuhan tertentu yang mendorongnya untuk bertindak, seperti kebutuhan untuk mencapai keberhasilan, memperoleh penerimaan sosial, memiliki kemandirian, mendapatkan pengakuan, maupun memberikan bantuan kepada orang lain.
Salah satu instrumen psikologi yang digunakan untuk mengukur aspek kebutuhan dan preferensi kepribadian adalah Edwards Personal Preference Schedule (EPPS). EPPS merupakan alat ukur kepribadian yang dikembangkan oleh Allen L. Edwards berdasarkan teori kebutuhan psikologis (psychogenic needs) yang dikemukakan oleh Henry A. Murray.
Tes EPPS dirancang untuk mengidentifikasi pola kebutuhan psikologis individu yang berkaitan dengan motivasi, cara berinteraksi dengan orang lain, gaya bekerja, cara menghadapi tuntutan lingkungan, serta kecenderungan perilaku dalam berbagai situasi.
Berbeda dengan tes kepribadian yang mengukur sifat (traits) seperti Big Five atau mengelompokkan individu berdasarkan tipe tertentu, EPPS berfokus pada kekuatan relatif kebutuhan psikologis individu. Artinya, EPPS melihat kebutuhan mana yang lebih dominan dibandingkan kebutuhan lainnya dalam diri seseorang.
EPPS menggunakan metode forced-choice inventory, yaitu peserta diberikan dua pernyataan yang sama-sama memiliki nilai psikologis dan diminta memilih pernyataan yang lebih menggambarkan dirinya. Metode ini bertujuan untuk mengurangi kecenderungan individu memberikan jawaban yang dianggap paling baik secara sosial (social desirability) dan memperoleh gambaran preferensi yang lebih autentik.
Hasil EPPS memberikan gambaran mengenai profil kebutuhan psikologis individu yang dapat membantu memahami motivasi, gaya hubungan interpersonal, pola kerja, serta kecenderungan perilaku dalam berbagai konteks kehidupan.
Tes Edwards Personal Preference Schedule (EPPS) dikembangkan oleh Allen L. Edwards dan pertama kali diterbitkan pada tahun 1954. Instrumen ini dikembangkan berdasarkan teori kebutuhan psikologis dari Henry Murray yang menjelaskan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan internal (needs) yang mendorong individu untuk bertindak.
Dalam teori Murray, kebutuhan psikologis merupakan dorongan yang berasal dari dalam diri individu yang mengarahkan seseorang untuk mencapai tujuan tertentu. Kebutuhan tersebut tidak selalu tampak secara langsung, tetapi dapat terlihat melalui pola perilaku, preferensi, motivasi, dan cara individu merespons lingkungan.
Murray mengidentifikasi berbagai kebutuhan psikologis manusia, kemudian Edwards memilih beberapa kebutuhan utama yang dianggap relevan untuk pengukuran kepribadian. Kebutuhan tersebut kemudian dikembangkan menjadi sebuah instrumen psikologis yang dapat digunakan untuk memahami preferensi individu secara sistematis.
Salah satu kontribusi penting Edwards dalam pengembangan EPPS adalah penggunaan metode paired comparison atau perbandingan berpasangan. Melalui metode ini, peserta harus memilih salah satu dari dua pernyataan yang sama-sama menggambarkan karakteristik tertentu. Pendekatan ini dirancang untuk mengurangi bias jawaban karena peserta tidak dapat dengan mudah memilih semua karakteristik yang dianggap positif.
Sejak dikembangkan, EPPS menjadi salah satu alat ukur kepribadian yang banyak digunakan dalam psikologi pendidikan, konseling, penelitian, dan organisasi. Instrumen ini banyak digunakan karena mampu memberikan informasi mengenai aspek motivasi dan kebutuhan psikologis yang sering kali tidak terlihat melalui observasi perilaku saja.
Tes EPPS digunakan untuk memperoleh gambaran mengenai kebutuhan psikologis, motivasi, serta preferensi perilaku individu. Informasi yang diperoleh melalui EPPS membantu memahami faktor internal yang mendorong seseorang dalam bertindak, berhubungan dengan orang lain, menyelesaikan tugas, dan menghadapi berbagai situasi.
Dalam bidang psikologi pendidikan dan konseling, EPPS dapat digunakan untuk memahami karakteristik individu, termasuk motivasi belajar, kebutuhan terhadap pencapaian, pola hubungan sosial, serta gaya adaptasi terhadap lingkungan pendidikan.
Dalam bidang organisasi dan dunia kerja, EPPS dapat digunakan sebagai salah satu alat bantu dalam memahami kecenderungan perilaku kerja individu. Informasi mengenai kebutuhan psikologis dapat membantu menggambarkan bagaimana seseorang bekerja, berinteraksi dengan rekan kerja, menerima tanggung jawab, menghadapi aturan, serta merespons lingkungan kerja.
Beberapa aspek yang dapat dipahami melalui EPPS antara lain:
Selain itu, EPPS juga digunakan dalam penelitian psikologi untuk memahami hubungan antara kebutuhan psikologis, motivasi, perilaku, dan karakteristik kepribadian lainnya.
EPPS merupakan tes kepribadian berbentuk self-report inventory dengan metode forced-choice. Dalam pengerjaannya, peserta diberikan dua pernyataan yang memiliki karakteristik berbeda dan diminta memilih salah satu pernyataan yang paling sesuai dengan dirinya.
Tes EPPS terdiri dari 225 pasangan pernyataan yang mengukur 15 kebutuhan psikologis utama. Setiap kebutuhan muncul dalam beberapa pasangan item yang berbeda sehingga menghasilkan gambaran mengenai tingkat dominansi relatif dari masing-masing kebutuhan.
Peserta tidak diminta memilih jawaban yang benar atau salah, tetapi memilih pernyataan yang paling menggambarkan kondisi dirinya. Oleh karena itu, kejujuran dalam memberikan respons menjadi faktor penting agar hasil yang diperoleh dapat menggambarkan karakteristik individu secara lebih akurat.
Durasi pengerjaan EPPS umumnya berkisar antara 45–60 menit, tergantung pada kemampuan membaca, tingkat konsentrasi, dan karakteristik peserta.
EPPS dapat diberikan secara individual maupun kelompok. Meskipun administrasinya relatif sederhana, interpretasi hasil EPPS tetap membutuhkan pemahaman profesional karena hasilnya menggambarkan pola kebutuhan psikologis yang harus dipahami dalam konteks individu secara keseluruhan.
EPPS didasarkan pada teori kebutuhan psikologis (Theory of Psychogenic Needs) yang dikembangkan oleh Henry A. Murray. Menurut Murray, perilaku manusia merupakan hasil interaksi antara kebutuhan internal individu (needs) dan tekanan lingkungan (press).
Kebutuhan (needs) merupakan dorongan psikologis yang mengarahkan individu untuk mencapai tujuan tertentu. Setiap individu memiliki berbagai kebutuhan yang sama, tetapi tingkat kekuatan dan prioritas kebutuhan tersebut berbeda-beda.
Sebagai contoh, seseorang dapat memiliki kebutuhan Achievement yang tinggi sehingga terdorong untuk mencapai prestasi dan menyelesaikan tugas dengan baik. Individu lain mungkin memiliki kebutuhan Affiliation yang lebih dominan sehingga lebih termotivasi oleh hubungan sosial dan penerimaan dari lingkungan.
EPPS mengukur 15 kebutuhan psikologis utama yang dianggap penting dalam memahami pola motivasi dan preferensi perilaku individu.
EPPS mengukur 15 kebutuhan psikologis yang dikembangkan berdasarkan teori kebutuhan Henry Murray. Setiap dimensi menggambarkan kecenderungan individu dalam memenuhi kebutuhan tertentu yang dapat memengaruhi motivasi, cara berpikir, pola hubungan sosial, serta perilaku dalam berbagai situasi. Tidak ada kebutuhan yang sepenuhnya baik atau buruk, karena setiap kebutuhan dapat menjadi kekuatan maupun tantangan tergantung pada konteks dan tuntutan lingkungan.
Kebutuhan Achievement menggambarkan dorongan individu untuk mencapai keberhasilan, menyelesaikan tugas dengan baik, serta menghasilkan pencapaian yang sesuai dengan standar tertentu. Individu dengan kebutuhan Achievement yang tinggi biasanya memiliki motivasi internal untuk mencapai tujuan, menyukai tantangan, berusaha meningkatkan kualitas hasil kerja, serta merasa puas ketika berhasil menyelesaikan tugas yang membutuhkan usaha dan kemampuan. Mereka cenderung menetapkan target pribadi, berorientasi pada hasil, dan memiliki keinginan untuk menunjukkan kompetensi yang dimiliki. Dalam lingkungan kerja, individu dengan Achievement tinggi biasanya menunjukkan orientasi prestasi, kemauan belajar, serta dorongan untuk mencapai performa optimal. Namun, apabila tidak diimbangi dengan fleksibilitas, kebutuhan ini dapat membuat individu terlalu berfokus pada hasil, memiliki standar yang terlalu tinggi, atau merasa kurang puas terhadap pencapaian yang telah diperoleh.
Kebutuhan Deference menggambarkan kecenderungan individu untuk menghargai otoritas, mengikuti aturan, menerima arahan, serta mempertimbangkan pendapat atau keputusan orang lain sebelum bertindak. Individu dengan kebutuhan Deference tinggi biasanya nyaman bekerja dalam struktur yang jelas, menghormati figur pemimpin, serta mampu menyesuaikan diri dengan prosedur dan standar yang telah ditetapkan. Mereka cenderung berhati-hati dalam mengambil keputusan dan mempertimbangkan masukan dari pihak yang dianggap memiliki pengalaman atau kewenangan lebih besar. Dalam lingkungan organisasi, kebutuhan Deference dapat mendukung kemampuan individu dalam mengikuti sistem kerja, bekerja sesuai prosedur, serta menjaga koordinasi dengan atasan. Namun, jika terlalu tinggi, individu dapat menjadi terlalu bergantung pada arahan orang lain, kurang percaya diri dalam mengambil keputusan mandiri, atau cenderung menghindari situasi yang membutuhkan inisiatif pribadi.
Kebutuhan Order menggambarkan dorongan individu terhadap keteraturan, organisasi, perencanaan, dan ketelitian dalam menjalankan aktivitas. Individu dengan kebutuhan Order tinggi biasanya menyukai lingkungan yang sistematis, memiliki rencana kerja yang jelas, memperhatikan detail, serta berusaha menyelesaikan tugas secara terstruktur. Mereka cenderung nyaman dengan prosedur, jadwal, aturan, dan sistem yang membantu menjaga efektivitas kerja. Dalam konteks pekerjaan, individu dengan Order tinggi dapat menunjukkan kemampuan administrasi yang baik, ketelitian dalam mengelola informasi, serta konsistensi dalam menjalankan tugas. Namun, kebutuhan Order yang terlalu tinggi dapat membuat individu kurang fleksibel terhadap perubahan, terlalu memperhatikan detail kecil, atau mengalami kesulitan ketika menghadapi situasi yang tidak memiliki struktur jelas.
Kebutuhan Exhibition menggambarkan dorongan individu untuk menarik perhatian, menunjukkan kemampuan, mengekspresikan diri, dan memperoleh pengakuan dari lingkungan sosial. Individu dengan kebutuhan Exhibition tinggi biasanya merasa nyaman ketika menjadi pusat perhatian, menyampaikan ide, berbicara di depan orang lain, atau menunjukkan pencapaian yang dimilikinya. Mereka cenderung memiliki kepercayaan diri dalam menampilkan kemampuan dan menikmati kesempatan untuk mendapatkan apresiasi dari orang lain. Dalam lingkungan kerja, kebutuhan Exhibition dapat mendukung kemampuan komunikasi, presentasi, membangun pengaruh, dan mempromosikan ide. Namun, apabila terlalu dominan, individu dapat terlalu mencari perhatian, lebih fokus pada pengakuan eksternal, atau mengalami kesulitan ketika tidak mendapatkan apresiasi dari lingkungan.
Kebutuhan Autonomy menggambarkan dorongan individu untuk memiliki kebebasan dalam berpikir, bertindak, mengambil keputusan, dan menentukan cara menyelesaikan suatu tugas. Individu dengan kebutuhan Autonomy tinggi biasanya menyukai kesempatan untuk bekerja secara mandiri, memiliki ruang dalam menentukan strategi, serta kurang nyaman apabila terlalu banyak dikontrol oleh orang lain. Mereka cenderung memiliki inisiatif, mampu mengambil keputusan sendiri, dan menikmati situasi yang memberikan kebebasan berekspresi. Dalam dunia kerja, kebutuhan Autonomy dapat mendukung kreativitas, kemandirian, dan kemampuan menyelesaikan masalah tanpa ketergantungan tinggi terhadap orang lain. Namun, apabila terlalu tinggi, individu dapat mengalami kesulitan menerima arahan, kurang nyaman dengan aturan organisasi, atau cenderung menolak pengawasan.
Kebutuhan Affiliation menggambarkan dorongan individu untuk membangun hubungan interpersonal, mendapatkan penerimaan sosial, bekerja sama, serta merasa menjadi bagian dari suatu kelompok. Individu dengan kebutuhan Affiliation tinggi biasanya menikmati interaksi dengan orang lain, menghargai hubungan yang harmonis, serta merasa nyaman bekerja dalam lingkungan yang mendukung kolaborasi. Mereka cenderung memperhatikan hubungan interpersonal dan memiliki kebutuhan untuk diterima oleh lingkungan sosialnya. Dalam organisasi, kebutuhan Affiliation dapat mendukung kerja sama tim, komunikasi interpersonal, dan kemampuan membangun hubungan kerja yang positif. Namun, jika terlalu tinggi, individu dapat terlalu bergantung pada penerimaan sosial, sulit menolak permintaan orang lain, atau menghindari konflik demi menjaga hubungan.
Kebutuhan Intraception menggambarkan kecenderungan individu untuk memahami pikiran, perasaan, pengalaman, dan motivasi orang lain. Individu dengan kebutuhan Intraception tinggi biasanya memiliki ketertarikan terhadap kondisi psikologis orang lain, mampu melihat situasi dari sudut pandang berbeda, dan memperhatikan aspek emosional dalam hubungan interpersonal. Mereka cenderung reflektif, empatik, dan memiliki kemampuan memahami alasan di balik perilaku seseorang. Dalam lingkungan kerja, kebutuhan ini dapat mendukung kemampuan konseling, komunikasi interpersonal, kepemimpinan, serta penyelesaian konflik. Namun, apabila terlalu tinggi, individu dapat terlalu fokus memahami orang lain hingga mengabaikan kebutuhan atau kepentingan dirinya sendiri.
Kebutuhan Succorance menggambarkan dorongan individu untuk memperoleh dukungan, perhatian, bantuan, dan perlindungan dari orang lain ketika menghadapi kesulitan. Individu dengan kebutuhan Succorance tinggi biasanya merasa nyaman ketika mendapatkan dukungan emosional atau bantuan dari lingkungan sosialnya. Mereka cenderung menghargai hubungan yang memberikan rasa aman dan membutuhkan keberadaan orang lain sebagai sumber penguatan ketika menghadapi tekanan. Dalam konteks positif, kebutuhan ini dapat membantu individu membangun hubungan yang dekat dan terbuka terhadap bantuan. Namun, apabila terlalu tinggi, individu dapat menjadi terlalu bergantung pada orang lain, kurang percaya terhadap kemampuan dirinya sendiri, atau mengalami kesulitan menghadapi masalah secara mandiri.
Kebutuhan Dominance menggambarkan dorongan individu untuk memengaruhi, mengarahkan, memimpin, atau mengendalikan situasi maupun orang lain. Individu dengan kebutuhan Dominance tinggi biasanya nyaman mengambil peran kepemimpinan, menyampaikan pendapat, membuat keputusan, serta mengarahkan aktivitas kelompok. Mereka cenderung memiliki kepercayaan diri dalam memengaruhi lingkungan dan berusaha mencapai tujuan melalui kemampuan interpersonal. Dalam organisasi, kebutuhan Dominance dapat mendukung kemampuan memimpin, melakukan koordinasi, negosiasi, dan pengambilan keputusan. Namun, apabila terlalu tinggi, individu dapat terlihat terlalu mengontrol, kurang menerima pendapat orang lain, atau mendominasi interaksi sosial.
Kebutuhan Abasement menggambarkan kecenderungan individu untuk menerima kritik, mengakui kesalahan, merendahkan ego, dan menerima kekurangan diri. Individu dengan kebutuhan Abasement tinggi biasanya lebih terbuka terhadap evaluasi, mampu menerima koreksi, dan tidak merasa harus selalu mempertahankan dirinya dalam setiap situasi. Mereka cenderung memiliki sikap rendah hati serta mampu memahami bahwa dirinya memiliki keterbatasan. Dalam lingkungan kerja, kebutuhan ini dapat mendukung kemampuan belajar dari kesalahan dan menerima masukan. Namun, apabila terlalu tinggi, individu dapat menjadi terlalu menyalahkan diri sendiri, kurang percaya diri, atau sulit mempertahankan pendapat ketika menghadapi tekanan.
Kebutuhan Nurturance menggambarkan dorongan individu untuk membantu, merawat, mendukung, dan memberikan perhatian kepada orang lain. Individu dengan kebutuhan Nurturance tinggi biasanya memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain dan merasa puas ketika dapat memberikan manfaat atau dukungan. Mereka cenderung menunjukkan perilaku menolong, perhatian, dan responsif terhadap kebutuhan lingkungan sekitar. Dalam pekerjaan, kebutuhan ini mendukung peran yang berhubungan dengan pelayanan, pendidikan, kesehatan, konseling, maupun pengembangan manusia. Namun, apabila terlalu tinggi, individu dapat terlalu mengutamakan kebutuhan orang lain hingga mengabaikan batasan pribadi.
Kebutuhan Change menggambarkan dorongan individu untuk mencari pengalaman baru, variasi, tantangan berbeda, dan situasi yang tidak monoton. Individu dengan kebutuhan Change tinggi biasanya menikmati perubahan, eksplorasi, inovasi, serta kesempatan untuk mencoba hal baru. Mereka cenderung mudah tertarik pada ide baru dan memiliki fleksibilitas dalam menghadapi situasi yang berbeda. Dalam lingkungan kerja, kebutuhan ini dapat mendukung kreativitas, adaptasi, dan kemampuan menghadapi perubahan organisasi. Namun, apabila terlalu tinggi, individu dapat merasa cepat bosan, sulit bertahan dalam rutinitas, atau kurang konsisten dalam menyelesaikan tugas jangka panjang.
Kebutuhan Endurance menggambarkan dorongan individu untuk mempertahankan usaha, menyelesaikan tugas hingga selesai, dan menghadapi hambatan secara konsisten. Individu dengan kebutuhan Endurance tinggi biasanya memiliki ketekunan, daya tahan kerja, serta kemampuan mempertahankan fokus dalam menyelesaikan tanggung jawab. Mereka tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan dan cenderung berusaha mencapai tujuan meskipun membutuhkan waktu yang panjang. Dalam pekerjaan, kebutuhan Endurance mendukung produktivitas, konsistensi, dan penyelesaian tugas yang membutuhkan ketelitian serta usaha berkelanjutan. Namun, apabila terlalu tinggi, individu dapat mengalami kesulitan berhenti ketika suatu strategi tidak efektif atau terlalu memaksakan diri dalam menyelesaikan pekerjaan.
Kebutuhan Heterosexuality dalam EPPS menggambarkan ketertarikan individu terhadap hubungan interpersonal yang melibatkan interaksi dengan lawan jenis. Aspek ini pada awalnya dikembangkan dalam konteks teori kebutuhan Murray yang melihat hubungan interpersonal sebagai salah satu bagian dari dinamika sosial individu. Dalam interpretasi modern, dimensi ini lebih dipahami sebagai bagian dari kecenderungan individu dalam membangun hubungan sosial, ketertarikan interpersonal, dan pola interaksi dengan orang lain. Skor pada aspek ini perlu dipahami dalam konteks budaya, usia, pengalaman hidup, serta karakteristik individu secara keseluruhan dan tidak digunakan sebagai indikator tunggal mengenai perilaku atau preferensi seseorang.
Kebutuhan Aggression menggambarkan kecenderungan individu untuk mempertahankan pendapat, mengekspresikan ketidaksetujuan, menghadapi konflik, dan menunjukkan sikap kompetitif. Individu dengan kebutuhan Aggression tinggi biasanya lebih berani menyampaikan pandangan, mempertahankan posisi, serta menghadapi situasi yang membutuhkan ketegasan. Dalam konteks positif, kebutuhan ini dapat mendukung keberanian mengambil sikap, kemampuan bernegosiasi, dan ketegasan dalam menghadapi masalah. Namun, apabila terlalu tinggi, individu dapat menjadi mudah berkonfrontasi, kurang mempertimbangkan perasaan orang lain, atau menunjukkan perilaku yang terlalu kompetitif.
Dapatkan laporan hasil Tes EPPS (Edwards Personal Preference Schedule) yang lengkap dan akurat, disusun berdasarkan tes yang telah direview langsung oleh psikolog dan ahli psikometri.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.