Setelah mengalami peristiwa yang mengancam keselamatan, seseorang mungkin merasa sulit tidur, terus teringat kejadian tersebut, atau menjadi lebih waspada terhadap lingkungan. Respons ini dapat muncul dalam beberapa hari dan terkadang berlangsung lebih lama. Namun, kapan kondisi tersebut disebut gangguan stres akut dan kapan dikategorikan sebagai PTSD? Untuk memahami perbedaannya, profesional kesehatan mental menggunakan pedoman dsm 5 dalam pemeriksaan klinis.
Gangguan stres akut dan PTSD memiliki sejumlah karakteristik yang serupa karena keduanya berkaitan dengan pengalaman traumatis. Perbedaan utamanya terletak pada durasi dan susunan kriteria gejala yang digunakan. Memahami kedua kondisi tersebut penting agar respons setelah trauma tidak langsung dianggap sebagai gangguan mental.
PTSD merupakan singkatan dari Post-Traumatic Stress Disorder atau gangguan stres pascatrauma. Kondisi ini melibatkan pola gejala tertentu setelah paparan peristiwa traumatis, seperti ingatan intrusif, penghindaran, dan peningkatan kewaspadaan. Diagnosis memerlukan pemenuhan kriteria klinis, termasuk durasi gangguan lebih dari satu bulan.
Sementara itu, gangguan stres akut atau Acute Stress Disorder (ASD) merupakan kondisi yang dapat muncul dalam periode awal setelah paparan trauma. Gejalanya dapat mencakup pengalaman intrusif, perubahan suasana perasaan, disosiasi, penghindaran, dan peningkatan kewaspadaan. Dalam DSM-5, durasi gejalanya berlangsung dari tiga hari sampai satu bulan setelah peristiwa traumatis.
DSM-5 diterbitkan oleh American Psychiatric Association pada tahun 2013, kemudian diperbarui melalui DSM-5-TR pada tahun 2022. Kedua kondisi ditempatkan dalam kelompok Trauma- and Stressor-Related Disorders. Pengelompokan ini mencerminkan pentingnya paparan trauma dalam memahami karakteristik gangguan.
Walaupun berada dalam kelompok yang sama, PTSD dan gangguan stres akut merupakan diagnosis yang berbeda. Gangguan stres akut tidak otomatis berkembang menjadi PTSD. Sebaliknya, seseorang dapat mengalami PTSD tanpa sebelumnya memenuhi kriteria gangguan stres akut.
Kedua gangguan mensyaratkan paparan terhadap peristiwa traumatis tertentu. Peristiwa tersebut dapat melibatkan kematian aktual atau ancaman kematian, cedera serius, maupun kekerasan seksual. Paparan dapat terjadi secara langsung, melalui kesaksian terhadap peristiwa, atau melalui bentuk paparan tertentu lainnya yang memenuhi kriteria.
Kedua kondisi juga dapat melibatkan ingatan traumatis yang muncul tanpa diinginkan dan penghindaran terhadap pengingat trauma. Individu mungkin mengalami gangguan tidur, kesulitan konsentrasi, atau reaksi emosional yang kuat. Namun, persamaan gejala tersebut tidak berarti kriteria diagnostiknya identik.
Gangguan stres akut dapat didiagnosis ketika pola gejalanya memenuhi persyaratan selama sedikitnya tiga hari hingga satu bulan setelah paparan trauma. Respons yang muncul dalam dua hari pertama belum memenuhi ketentuan durasi diagnosis tersebut. Meskipun demikian, individu tetap dapat membutuhkan dukungan psikologis sejak awal.
PTSD membutuhkan gangguan yang berlangsung lebih dari satu bulan. Gejalanya dapat mulai muncul segera setelah peristiwa atau menjadi jelas pada waktu berikutnya. Karena itu, PTSD bukan sekadar gangguan stres akut yang pasti berlanjut setelah satu bulan.
Selain durasi, perbedaan penting terletak pada cara gejala dikelompokkan. DSM-5 menggunakan empat kelompok gejala utama untuk PTSD pada individu berusia lebih dari enam tahun. Sementara itu, gangguan stres akut menggunakan sembilan atau lebih gejala dari lima kategori tanpa mewajibkan jumlah tertentu pada setiap kategori.
| Aspek | Gangguan Stres Akut | PTSD |
|---|---|---|
| Durasi | 3 hari hingga 1 bulan | Lebih dari 1 bulan |
| Jumlah gejala | Minimal 9 gejala | Jumlah minimum menurut tiap kelompok |
| Intrusi | Termasuk kategori gejala | Minimal 1 gejala |
| Penghindaran | Termasuk kategori gejala | Minimal 1 gejala |
| Perubahan kognisi dan emosi | Menekankan suasana perasaan negatif serta gejala disosiatif | Minimal 2 gejala perubahan negatif kognisi dan emosi |
| Kewaspadaan dan reaktivitas | Termasuk kategori gejala | Minimal 2 gejala |
| Dampak klinis | Distres bermakna atau gangguan fungsi | Distres bermakna atau gangguan fungsi |
Ringkasan tersebut memperlihatkan bahwa perbedaan diagnosis bukan hanya ditentukan oleh waktu. Gangguan stres akut memungkinkan kombinasi gejala yang lebih fleksibel antarkategori. Sementara itu, PTSD mensyaratkan terpenuhinya setiap kelompok gejala yang telah ditentukan.
Individu dapat mengalami ingatan yang mengganggu, mimpi terkait trauma, atau reaksi emosional ketika menghadapi pengingat kejadian. Sebagian orang juga mengalami kesulitan merasakan emosi positif. Namun, karakteristik tersebut harus dipahami sebagai bagian dari keseluruhan pola klinis.
Disosiasi dapat melibatkan pengalaman merasa lingkungan tidak nyata atau merasa terlepas dari pengalaman diri sendiri. Sebagian individu mengalami kesulitan mengingat aspek penting dari peristiwa traumatis. Namun, tidak semua orang dengan gangguan stres akut harus menunjukkan gejala disosiatif.
Individu mungkin menghindari tempat, percakapan, atau aktivitas yang mengingatkan pada trauma. Mereka juga dapat mengalami gangguan tidur, mudah terkejut, atau kesulitan berkonsentrasi. Kombinasi gejala tersebut harus memenuhi persyaratan jumlah dan dampak klinis.
Dalam pedoman dsm 5, PTSD memiliki empat kelompok gejala utama yang harus dievaluasi. Kelompok tersebut mencakup intrusi, penghindaran, perubahan negatif kognisi dan suasana perasaan, serta perubahan kewaspadaan dan reaktivitas. Setiap kelompok mempunyai jumlah minimum gejala yang berbeda.
PTSD juga dapat melibatkan keyakinan negatif yang menetap tentang diri sendiri atau dunia, perasaan bersalah berlebihan, dan keterasingan sosial. Pada sebagian individu, gejalanya berlangsung berbulan-bulan atau lebih lama. Namun, perjalanan PTSD sangat bervariasi sehingga tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan lama pengalaman traumatis.
Gangguan stres akut dapat berkaitan dengan peningkatan risiko berkembangnya PTSD. Namun, tidak semua individu dengan gangguan stres akut akan mengalami PTSD. Sebagian orang menunjukkan penurunan gejala seiring waktu dan dukungan yang sesuai.
Sebaliknya, seseorang yang tidak memenuhi kriteria gangguan stres akut tetap mungkin mengembangkan PTSD. Karena itu, pemeriksaan awal tidak dapat digunakan untuk memastikan perjalanan kesehatan mental seseorang. Pemantauan gejala dan fungsi tetap penting setelah pengalaman traumatis.
Mengalami ketakutan atau kesedihan setelah peristiwa traumatis merupakan respons manusia yang dapat dipahami. Seseorang mungkin membutuhkan waktu untuk merasa aman kembali. Respons tersebut tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan mental.
Penilaian klinis mempertimbangkan pola gejala, durasi, serta dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari. Faktor budaya dan pengalaman individu juga perlu diperhatikan. Diagnosis sebaiknya tidak diberikan hanya karena seseorang menunjukkan reaksi emosional setelah trauma.
Pemeriksaan biasanya melibatkan wawancara mengenai paparan trauma, gejala, waktu kemunculan, dan perubahan fungsi individu. Profesional dapat menggunakan instrumen psikologis yang sesuai untuk melengkapi informasi. Namun, hasil kuesioner tidak dapat menggantikan keseluruhan proses diagnosis.
Pendekatan pemeriksaan juga harus memperhatikan kenyamanan individu. Seseorang tidak perlu dipaksa menceritakan seluruh detail trauma apabila informasi tersebut tidak diperlukan. Pemeriksa sebaiknya membangun komunikasi yang aman, menghargai batas pribadi, dan menghindari tekanan yang tidak perlu.
Penanganan gangguan stres akut dapat melibatkan dukungan psikologis, pemantauan, serta psikoterapi berfokus trauma apabila sesuai indikasi. Pada individu dengan gejala bermakna, terapi perilaku kognitif berfokus trauma dapat dipertimbangkan berdasarkan evaluasi profesional. Pendekatan tersebut bertujuan membantu pemulihan sekaligus mengurangi risiko gejala berkepanjangan.
Untuk PTSD, beberapa psikoterapi berfokus trauma memiliki dukungan penelitian yang kuat. Contohnya adalah Cognitive Processing Therapy, Prolonged Exposure, dan EMDR. Pemilihan intervensi perlu mempertimbangkan kondisi klinis, preferensi individu, dan ketersediaan layanan yang kompeten.
Seseorang tidak perlu menunggu tiga hari atau satu bulan untuk memperoleh bantuan setelah trauma. Konsultasi dapat dilakukan ketika gejala menimbulkan penderitaan atau mengganggu aktivitas sehari-hari. Bantuan sejak awal juga dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan keselamatan dan dukungan sosial.
Apabila muncul risiko menyakiti diri, ketidakmampuan menjaga keselamatan, atau kondisi darurat lainnya, pertolongan segera perlu diprioritaskan. Pendampingan dari orang terpercaya dapat membantu individu mengakses layanan. Penanganan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing.
Perbedaan utama PTSD dan gangguan stres akut terletak pada durasi serta susunan kriteria diagnostiknya. Gangguan stres akut berlangsung tiga hari hingga satu bulan dan mensyaratkan sedikitnya sembilan gejala, sedangkan PTSD berlangsung lebih dari satu bulan dengan persyaratan khusus pada empat kelompok gejala. Keduanya membutuhkan evaluasi klinis dan tidak otomatis berkembang dari satu diagnosis ke diagnosis lainnya.
Bagi mahasiswa, praktisi, maupun masyarakat yang ingin memahami dsm 5, mengenali perbedaan PTSD dan gangguan stres akut dapat membantu memahami respons psikologis setelah trauma secara lebih tepat. Pengetahuan tersebut sebaiknya digunakan sebagai edukasi, bukan sebagai dasar diagnosis mandiri. Dengan pemeriksaan profesional dan dukungan berbasis bukti, individu yang mengalami dampak trauma dapat memperoleh penanganan yang aman, sesuai kebutuhan, dan menghargai proses pemulihannya.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.