Perbedaan Bulimia dan Binge Eating Disorder dalam DSM 5

07 Nov 2026 Ardi Almaqassary DSM 2x dibaca
Perbedaan Bulimia dan Binge Eating Disorder dalam DSM 5

Pernahkah Anda mendengar seseorang mengalami episode makan dalam jumlah besar, kemudian merasa bersalah atau kehilangan kendali terhadap perilakunya? Pengalaman tersebut dapat berkaitan dengan gangguan makan, tetapi tidak semua pola makan berlebihan menunjukkan kondisi yang sama. Dalam pedoman dsm 5, bulimia nervosa dan binge eating disorder merupakan dua diagnosis berbeda yang memiliki beberapa karakteristik serupa.

Kedua gangguan ini sering disalahpahami sebagai masalah kurangnya pengendalian diri saat makan. Padahal, keduanya merupakan kondisi kesehatan mental yang melibatkan hubungan kompleks antara perilaku makan, emosi, dan proses psikologis lainnya. Memahami perbedaannya dapat membantu mengurangi stigma dan meningkatkan ketepatan pemeriksaan.

Apa Itu Bulimia Nervosa?

Bulimia nervosa merupakan gangguan makan yang ditandai oleh episode makan berlebihan secara berulang, disertai perilaku kompensasi yang tidak tepat untuk mencegah kenaikan berat badan. Kondisi ini juga melibatkan penilaian diri yang dipengaruhi secara berlebihan oleh bentuk tubuh dan berat badan. Diagnosis membutuhkan pemenuhan kriteria klinis tertentu.

Perilaku kompensasi dapat berupa muntah yang disengaja, penyalahgunaan obat pencahar, puasa, atau olahraga berlebihan. Namun, keberadaan salah satu perilaku tersebut belum cukup untuk menentukan bulimia nervosa. Profesional perlu mengevaluasi keseluruhan pola makan, frekuensi, dan kondisi psikologis individu.

Apa Itu Binge Eating Disorder?

Binge Eating Disorder (BED) atau gangguan makan berlebihan merupakan kondisi yang ditandai oleh episode makan berlebihan secara berulang disertai perasaan kehilangan kendali. Individu dapat mengalami tekanan psikologis yang bermakna terkait episode tersebut. Berbeda dari bulimia nervosa, BED tidak disertai perilaku kompensasi tidak tepat yang dilakukan secara teratur.

BED diakui sebagai diagnosis tersendiri dalam DSM-5 yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association pada tahun 2013. Sebelumnya, kondisi ini dibahas dalam kategori penelitian dan klasifikasi lainnya. Pengakuan tersebut membantu memperjelas kriteria diagnosis serta kebutuhan penanganannya.

Persamaan Bulimia dan Binge Eating Disorder

Episode Makan Berlebihan

Bulimia nervosa dan BED sama-sama melibatkan episode makan berlebihan atau binge eating. Episode tersebut ditandai oleh konsumsi makanan dalam jumlah yang jelas lebih besar daripada yang biasanya dimakan kebanyakan orang dalam keadaan serupa dan periode waktu yang sebanding. Namun, jumlah makanan bukan satu-satunya karakteristik yang dinilai.

Perasaan Kehilangan Kendali

Karakteristik berikutnya adalah perasaan tidak mampu menghentikan makan atau mengendalikan jumlah maupun jenis makanan yang dikonsumsi. Pengalaman tersebut membedakan episode makan berlebihan secara klinis dari kebiasaan makan banyak pada kesempatan tertentu. Pemeriksa perlu memahami pengalaman subjektif individu selama episode berlangsung.

Kriteria Diagnostik Bulimia Nervosa Menurut DSM 5

1. Episode Makan Berlebihan Berulang

Kriteria pertama mencakup episode makan berlebihan yang terjadi secara berulang. Episode tersebut melibatkan jumlah makanan yang secara objektif besar dan perasaan kehilangan kendali. Kedua karakteristik perlu hadir untuk memenuhi definisi episode makan berlebihan dalam diagnosis bulimia.

2. Perilaku Kompensasi yang Tidak Tepat

Bulimia nervosa juga mensyaratkan adanya perilaku kompensasi berulang untuk mencegah kenaikan berat badan. Perilaku tersebut dapat menimbulkan risiko kesehatan fisik yang serius. Karena itu, pemeriksaan harus dilakukan secara hati-hati dan tidak menghakimi.

3. Frekuensi dan Penilaian terhadap Tubuh

DSM-5 menetapkan bahwa episode makan berlebihan dan perilaku kompensasi terjadi rata-rata sedikitnya sekali seminggu selama tiga bulan. Selain itu, penilaian diri individu dipengaruhi secara berlebihan oleh berat badan dan bentuk tubuh. Gangguan juga tidak boleh terjadi secara eksklusif selama episode anoreksia nervosa.

Kriteria Diagnostik Binge Eating Disorder

Dalam pedoman dsm 5, BED memiliki persyaratan yang berbeda dari bulimia nervosa. Meskipun sama-sama melibatkan episode makan berlebihan, diagnosis BED menekankan adanya karakteristik tambahan dan distres yang bermakna. Tidak terdapat perilaku kompensasi tidak tepat yang dilakukan secara teratur seperti pada bulimia.

Lima Karakteristik Episode Makan Berlebihan

DSM-5 menetapkan bahwa episode makan berlebihan pada BED berkaitan dengan sedikitnya tiga dari lima karakteristik berikut.

No. Karakteristik
1 Makan jauh lebih cepat daripada biasanya
2 Makan hingga merasa sangat tidak nyaman karena kenyang
3 Mengonsumsi banyak makanan meskipun tidak merasa lapar secara fisik
4 Makan sendirian karena merasa malu terhadap jumlah makanan
5 Merasa jijik terhadap diri sendiri, tertekan, atau sangat bersalah setelah makan

Karakteristik tersebut membantu profesional memahami pengalaman individu selama episode makan berlebihan. Namun, tidak semua individu menunjukkan kelima karakteristik secara bersamaan. Diagnosis tetap membutuhkan pemenuhan persyaratan tambahan yang relevan.

Distres dan Durasi Gangguan

BED mensyaratkan adanya distres yang jelas terkait episode makan berlebihan. Episode tersebut harus terjadi rata-rata sedikitnya sekali seminggu selama tiga bulan. Gangguan juga tidak boleh terjadi secara eksklusif selama bulimia nervosa atau anoreksia nervosa.

Perbedaan Utama Bulimia dan Binge Eating Disorder

Perbedaan paling penting terletak pada perilaku setelah episode makan berlebihan. Pada bulimia, terdapat perilaku kompensasi yang tidak tepat dan dilakukan secara berulang. Sementara itu, pada BED, perilaku kompensasi seperti itu tidak dilakukan secara teratur.

Aspek Bulimia Nervosa Binge Eating Disorder
Episode makan berlebihan Ada Ada
Kehilangan kendali Ada Ada
Perilaku kompensasi Berulang dan menjadi kriteria utama Tidak dilakukan secara teratur
Frekuensi minimum Sekali seminggu selama 3 bulan Sekali seminggu selama 3 bulan
Penilaian diri dipengaruhi bentuk tubuh Menjadi kriteria diagnosis Tidak menjadi kriteria wajib
Distres terkait makan berlebihan Dapat ditemukan Harus jelas ditemukan

Perbandingan tersebut merupakan ringkasan edukatif dari karakteristik diagnostik utama. Kedua gangguan tetap dapat menunjukkan variasi gejala antarindividu. Pemeriksaan profesional diperlukan untuk memastikan diagnosis dan membedakannya dari kondisi lainnya.

Apakah Berat Badan Menentukan Jenis Gangguan Makan?

Salah satu kesalahpahaman adalah menganggap bulimia hanya terjadi pada individu bertubuh kurus, sedangkan BED hanya ditemukan pada individu dengan berat badan tinggi. Kenyataannya, ukuran tubuh tidak dapat digunakan sebagai dasar tunggal untuk menentukan kedua diagnosis. Individu dengan berbagai ukuran tubuh dapat mengalami gangguan makan.

Gangguan makan tidak selalu terlihat melalui penampilan fisik. Seseorang mungkin mengalami tekanan psikologis yang berat meskipun berat badannya tidak menunjukkan perubahan mencolok. Karena itu, penilaian perlu berfokus pada pola perilaku dan kriteria klinis.

Dampak Bulimia dan BED terhadap Kesehatan

Bulimia nervosa dapat menimbulkan komplikasi akibat perilaku kompensasi, termasuk gangguan keseimbangan elektrolit dan masalah kesehatan saluran pencernaan. Pada sebagian individu, muntah berulang juga dapat memengaruhi kesehatan gigi. Risiko tersebut membutuhkan evaluasi medis.

BED dapat berkaitan dengan tekanan emosional, gangguan kualitas hidup, dan sejumlah masalah kesehatan fisik. Namun, dampak setiap individu tidak selalu sama. Pemeriksaan sebaiknya mempertimbangkan kesehatan fisik dan psikologis tanpa menyalahkan individu atas kondisinya.

Faktor Psikologis yang Berkaitan dengan Gangguan Makan

Perkembangan bulimia dan BED dapat melibatkan interaksi faktor biologis, psikologis, dan lingkungan. Kesulitan regulasi emosi, pengalaman sosial, serta pola penilaian terhadap diri sendiri dapat menjadi bagian dari faktor yang relevan. Namun, tidak terdapat satu penyebab tunggal yang menjelaskan seluruh kasus.

Tekanan mengenai penampilan tubuh juga dapat berperan pada sebagian individu. Meskipun demikian, kedua gangguan tidak tepat dianggap hanya sebagai akibat ketidakpuasan terhadap berat badan. Pemahaman ilmiah membutuhkan evaluasi yang lebih menyeluruh.

Bagaimana Pemeriksaan Klinis Dilakukan?

Pemeriksaan biasanya melibatkan wawancara mengenai pola makan, episode kehilangan kendali, perilaku kompensasi, dan pengalaman emosional. Profesional juga mengevaluasi riwayat kesehatan serta dampak gejala terhadap aktivitas sehari-hari. Pemeriksaan medis dapat diperlukan untuk menilai risiko kesehatan.

Instrumen psikologi tertentu dapat digunakan sebagai pelengkap asesmen. Namun, skor kuesioner tidak otomatis menetapkan diagnosis bulimia atau BED. Kesimpulan harus mengikuti keseluruhan kriteria diagnostik yang berlaku.

Penanganan Bulimia dan Binge Eating Disorder

Terapi perilaku kognitif yang dikembangkan secara khusus untuk gangguan makan memiliki dukungan penelitian dalam penanganan bulimia dan BED. Intervensi tersebut membantu individu memahami hubungan antara pikiran, emosi, dan perilaku makan. Penanganan perlu dilakukan oleh profesional yang kompeten.

Pada kondisi tertentu, pengobatan yang diresepkan dokter dapat menjadi bagian dari penanganan. Dukungan gizi dan evaluasi medis juga mungkin diperlukan sesuai kebutuhan individu. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kesehatan, mengurangi gejala, dan memperbaiki kualitas hidup.

Pentingnya Menghindari Stigma Gangguan Makan

Bulimia dan BED bukan sekadar persoalan kurangnya kemauan atau kedisiplinan. Keduanya merupakan gangguan mental dengan kriteria diagnostik yang jelas. Komentar yang menyalahkan individu dapat memperburuk rasa malu dan menghambat pencarian bantuan.

Keluarga dan lingkungan sebaiknya memberikan dukungan melalui komunikasi yang empatik. Fokus pembicaraan perlu diarahkan pada kesejahteraan, bukan penilaian terhadap bentuk tubuh. Pendekatan tersebut dapat membantu individu merasa lebih aman untuk menjalani pemeriksaan.

Kesimpulan

Bulimia nervosa dan binge eating disorder sama-sama melibatkan episode makan berlebihan yang disertai kehilangan kendali. Perbedaan utamanya adalah keberadaan perilaku kompensasi berulang pada bulimia serta persyaratan distres dan karakteristik episode tertentu pada BED. Diagnosis membutuhkan evaluasi klinis dan tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan jumlah makanan yang dikonsumsi.

Bagi mahasiswa, praktisi, maupun masyarakat yang ingin memahami dsm 5, mempelajari perbedaan kedua gangguan makan dapat membantu meningkatkan literasi kesehatan mental. Informasi tersebut sebaiknya digunakan sebagai referensi ilmiah, bukan sebagai dasar diagnosis mandiri. Dengan pemeriksaan profesional dan intervensi berbasis bukti, individu dengan gangguan makan dapat memperoleh dukungan yang sesuai dengan kebutuhan kesehatannya.

Bagikan:

Siap Memulai Psikotes Online Anda?

Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.

Hubungi Kami