Lupa meletakkan barang merupakan pengalaman biasa, tetapi bagaimana jika seseorang tidak mampu mengingat bagian penting dari kehidupannya? Dalam kondisi lain, seseorang mungkin mengalami perubahan identitas yang disertai kesenjangan ingatan berulang. Kedua pengalaman tersebut dapat berkaitan dengan gangguan disosiatif yang dijelaskan dalam pedoman dsm 5, tetapi memiliki karakteristik diagnostik berbeda.
Amnesia disosiatif dan gangguan identitas disosiatif sering dianggap sebagai kondisi yang sama karena keduanya dapat melibatkan gangguan ingatan. Padahal, perbedaan utamanya terletak pada ada tidaknya gangguan identitas yang memenuhi kriteria klinis. Memahami perbedaan tersebut penting untuk menghindari kesalahpahaman dan membantu proses pemeriksaan psikologis.
Gangguan disosiatif merupakan kelompok gangguan mental yang melibatkan gangguan atau ketidaksinambungan dalam integrasi kesadaran, ingatan, identitas, emosi, persepsi, maupun fungsi psikologis lainnya. Karakteristik tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk dan tingkat keparahan. Namun, tidak setiap pengalaman disosiatif merupakan tanda gangguan mental.
DSM-5 diterbitkan oleh American Psychiatric Association pada tahun 2013 dan diperbarui melalui DSM-5-TR pada tahun 2022. Dalam klasifikasi ini, amnesia disosiatif dan gangguan identitas disosiatif ditempatkan sebagai dua diagnosis berbeda. Masing-masing memiliki kriteria diagnostik yang perlu dievaluasi secara menyeluruh.
Amnesia disosiatif atau Dissociative Amnesia merupakan kondisi ketika seseorang tidak mampu mengingat informasi autobiografis penting. Informasi tersebut biasanya berkaitan dengan pengalaman traumatis atau penuh tekanan. Kesulitan mengingatnya tidak sesuai dengan proses lupa yang biasa terjadi.
Kehilangan ingatan dapat berkaitan dengan peristiwa tertentu atau periode kehidupan yang lebih luas. Sebagian individu tetap mampu menjalankan aktivitas sehari-hari meskipun mengalami kesenjangan ingatan. Namun, diagnosis memerlukan evaluasi mengenai dampak klinis dan kemungkinan penyebab lainnya.
Amnesia disosiatif dapat muncul dalam beberapa pola, seperti ketidakmampuan mengingat periode tertentu atau bagian tertentu dari pengalaman hidup. Dalam keadaan yang lebih jarang, gangguan ingatan dapat mencakup informasi autobiografis yang sangat luas. Pola tersebut perlu dibedakan dari gangguan memori akibat kondisi neurologis.
Sebagai contoh, seseorang mungkin tidak mampu mengingat bagian penting dari pengalaman yang sangat menekan. Namun, ketidakmampuan mengingat peristiwa tersebut tidak otomatis menunjukkan amnesia disosiatif. Pemeriksaan harus mempertimbangkan riwayat kesehatan serta konteks pengalaman individu.
Gangguan identitas disosiatif atau Dissociative Identity Disorder (DID) merupakan kondisi yang ditandai oleh gangguan identitas yang melibatkan dua atau lebih keadaan kepribadian berbeda. Kondisi tersebut disertai ketidaksinambungan dalam pengalaman diri dan kendali terhadap perilaku. Perubahan juga dapat melibatkan ingatan, emosi, persepsi, maupun fungsi psikologis lainnya.
DID tidak cukup ditentukan berdasarkan perubahan suasana perasaan atau perilaku dalam situasi berbeda. Diagnosis memerlukan kesenjangan ingatan berulang yang tidak sesuai dengan lupa biasa. Pengalaman tersebut juga harus menyebabkan distres atau gangguan fungsi yang bermakna secara klinis.
Media populer terkadang menggambarkan DID melalui perubahan identitas yang sangat dramatis. Padahal, manifestasi klinisnya tidak selalu terlihat jelas oleh orang lain. Sebagian individu lebih banyak melaporkan perubahan pengalaman diri, kesenjangan ingatan, atau perasaan kehilangan kendali.
Gambaran dalam film juga tidak dapat dijadikan dasar untuk mengenali DID. Pemeriksaan klinis membutuhkan informasi mengenai perjalanan gejala dan kondisi individu. Karena itu, istilah diagnostik sebaiknya digunakan secara hati-hati.
Dalam penggunaan dsm 5, kedua gangguan dibedakan berdasarkan karakteristik utama yang harus memenuhi kriteria diagnosis. Amnesia disosiatif berpusat pada ketidakmampuan mengingat informasi autobiografis penting. Sementara itu, DID melibatkan gangguan identitas sekaligus kesenjangan ingatan berulang.
| Aspek | Amnesia Disosiatif | Gangguan Identitas Disosiatif |
|---|---|---|
| Karakteristik utama | Kehilangan ingatan autobiografis penting | Gangguan identitas dan kesenjangan ingatan |
| Perubahan identitas | Bukan kriteria utama | Merupakan kriteria utama |
| Gangguan ingatan | Berkaitan dengan informasi autobiografis | Dapat mencakup kejadian sehari-hari, informasi pribadi, dan pengalaman traumatis |
| Fugue disosiatif | Dapat digunakan sebagai penanda tambahan | Bukan penanda diagnostik khusus DID |
| Dampak klinis | Menyebabkan distres atau gangguan fungsi | Menyebabkan distres atau gangguan fungsi |
| Diagnosis | Memerlukan pengecualian penyebab lain | Memerlukan pengecualian penyebab lain dan pertimbangan budaya |
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa gangguan ingatan tidak selalu disertai gangguan identitas. Sebaliknya, pada DID, gangguan identitas dan kesenjangan ingatan merupakan karakteristik yang saling berkaitan. Namun, diagnosis tidak boleh dibuat hanya berdasarkan satu pengalaman yang dilaporkan.
DSM-5 menjelaskan bahwa amnesia disosiatif ditandai oleh ketidakmampuan mengingat informasi autobiografis penting yang tidak sesuai dengan lupa biasa. Gejala harus menyebabkan distres bermakna atau gangguan fungsi kehidupan. Selain itu, kondisi tersebut tidak boleh disebabkan oleh efek zat atau kondisi neurologis maupun medis lainnya.
Pemeriksa juga harus memastikan bahwa gangguan ingatan tidak lebih tepat dijelaskan oleh gangguan identitas disosiatif atau kondisi mental tertentu lainnya. Diagnosis banding membantu memahami penyebab dan pola kehilangan ingatan. Oleh karena itu, riwayat medis tetap menjadi bagian penting pemeriksaan.
Pada DID, terdapat gangguan identitas yang melibatkan dua atau lebih keadaan kepribadian berbeda, disertai ketidaksinambungan pengalaman diri. Selain itu, individu mengalami kesenjangan berulang dalam mengingat kejadian sehari-hari, informasi pribadi penting, atau pengalaman traumatis. Kesenjangan tersebut melebihi proses lupa yang biasa terjadi.
Gejala juga harus menyebabkan distres atau gangguan fungsi yang bermakna. Pengalaman tersebut tidak boleh merupakan bagian normal dari praktik budaya atau keagamaan yang diterima secara luas. Pada anak-anak, gejala tidak boleh lebih tepat dijelaskan oleh permainan imajinatif atau fantasi biasa.
Fugue disosiatif merupakan penanda tambahan pada diagnosis amnesia disosiatif dalam DSM-5. Kondisi ini melibatkan perjalanan yang tampak bertujuan atau pengembaraan dalam keadaan kebingungan yang berkaitan dengan amnesia terhadap identitas atau informasi autobiografis. Namun, tidak semua individu dengan amnesia disosiatif mengalami fugue.
Perilaku bepergian tanpa pemberitahuan tidak otomatis memenuhi karakteristik tersebut. Pemeriksa perlu mengidentifikasi gangguan ingatan yang relevan dan mempertimbangkan kondisi medis. Penanda fugue tidak boleh digunakan hanya berdasarkan perilaku meninggalkan suatu tempat.
Pengalaman traumatis memiliki hubungan yang ditemukan dalam penelitian mengenai berbagai gangguan disosiatif. Pada sebagian individu, gejala disosiatif dapat berkaitan dengan pengalaman yang sangat menekan. Namun, hubungan tersebut tidak berarti seluruh orang yang mengalami trauma akan mengembangkan gangguan disosiatif.
Riwayat trauma juga tidak boleh diasumsikan hanya berdasarkan keberadaan gejala. Profesional perlu menggali informasi secara hati-hati tanpa mengarahkan ingatan individu. Penilaian harus berdasarkan pengalaman yang dilaporkan dan bukti klinis yang tersedia.
Gangguan ingatan dapat berkaitan dengan cedera kepala, epilepsi, penggunaan zat, atau gangguan neurokognitif. Sementara itu, perubahan pengalaman diri dapat ditemukan pada gangguan stres pascatrauma dan kondisi psikologis lainnya. Karena itu, pemeriksaan diperlukan untuk membedakan berbagai kemungkinan tersebut.
Evaluasi dapat melibatkan wawancara klinis, riwayat perkembangan, dan pemeriksaan medis sesuai indikasi. Instrumen psikologi tertentu dapat membantu sebagai pelengkap. Namun, tidak ada satu hasil kuesioner yang otomatis memastikan diagnosis amnesia disosiatif atau DID.
Penanganan gangguan disosiatif perlu disesuaikan dengan diagnosis dan kebutuhan individu. Psikoterapi dapat membantu meningkatkan stabilitas emosional, kemampuan mengelola gejala, serta fungsi kehidupan sehari-hari. Pendekatan yang digunakan juga perlu mempertimbangkan kondisi psikologis atau medis yang menyertai.
Profesional harus menghindari pemaksaan untuk mengingat pengalaman traumatis. Menggali ingatan menggunakan teknik yang sugestif dapat menimbulkan risiko kesalahan interpretasi. Hubungan terapeutik yang aman dan konsisten menjadi bagian penting dalam proses penanganan.
Gangguan disosiatif sering dipahami berdasarkan gambaran dramatis dalam media populer. Akibatnya, individu yang mengalami gejala dapat menghadapi penilaian negatif atau kesalahpahaman. Kondisi tersebut berpotensi menghambat pencarian bantuan profesional.
Diagnosis tidak menggambarkan keseluruhan identitas atau kemampuan seseorang. Setiap individu memiliki pengalaman, kekuatan, dan kebutuhan yang berbeda. Pemahaman berbasis bukti membantu menciptakan pelayanan kesehatan mental yang lebih manusiawi.
Amnesia disosiatif dan gangguan identitas disosiatif memiliki persamaan dalam gangguan integrasi ingatan, tetapi berbeda pada karakteristik diagnostik utamanya. Amnesia disosiatif berpusat pada kehilangan informasi autobiografis penting, sedangkan DID melibatkan gangguan identitas dan kesenjangan ingatan berulang. Keduanya membutuhkan pemeriksaan klinis serta evaluasi penyebab lainnya.
Bagi mahasiswa, praktisi, maupun masyarakat yang ingin memahami dsm 5, mengenali perbedaan kedua gangguan dapat meningkatkan pemahaman mengenai kompleksitas pengalaman disosiatif. Informasi tersebut sebaiknya digunakan sebagai referensi ilmiah, bukan untuk menetapkan diagnosis sendiri. Melalui pemeriksaan profesional dan penanganan yang tepat, individu dapat memperoleh dukungan sesuai kebutuhan psikologis dan kondisi kesehatannya.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.