Ketika ada anggota keluarga yang mengalami gangguan bipolar, pertanyaan tentang faktor keturunan sering muncul. Apakah bipolar diwariskan dari orang tua? Apakah seseorang pasti akan mengalami kondisi yang sama jika memiliki ayah, ibu, atau saudara dengan diagnosis bipolar?
Membahas penyebab bipolar perlu dilakukan dengan hati-hati karena ilmu pengetahuan saat ini belum menemukan satu penyebab tunggal yang menjelaskan seluruh kasus. National Institute of Mental Health (NIMH) menyatakan bahwa penyebab pasti gangguan bipolar belum diketahui dan kemungkinan melibatkan kombinasi berbagai faktor. Genetik mempunyai peran penting, tetapi keberadaan kerentanan genetik tidak berarti seseorang pasti akan mengalami gangguan bipolar.
Gangguan bipolar termasuk kondisi yang memiliki karakter genetik kompleks. Artinya, tidak terdapat satu “gen bipolar” yang jika dimiliki seseorang akan secara otomatis menyebabkan gangguan tersebut. Banyak variasi genetik memberikan kontribusi kecil terhadap kerentanan dan bekerja bersama berbagai faktor biologis maupun lingkungan.
NIMH menjelaskan bahwa bipolar sering ditemukan dalam keluarga dan faktor keturunan menjelaskan bagian penting dari pola tersebut. Meski demikian, banyak gen terlibat dan tidak ada satu gen yang sendirian dapat menyebabkan bipolar. Fakta bahwa kembar identik tidak selalu sama-sama mengalami bipolar juga menunjukkan bahwa genetika bukan satu-satunya faktor.
Penelitian genomik modern menunjukkan bahwa kontribusi genetik terhadap bipolar memang cukup kuat. Studi berskala besar yang diterbitkan di Nature pada 2025 menyebut estimasi heritabilitas gangguan bipolar berada sekitar 60–80 persen. Heritabilitas tersebut menggambarkan seberapa besar variasi risiko dalam suatu populasi berkaitan dengan perbedaan genetik, bukan persentase peluang seseorang secara pribadi akan mengalami bipolar.
Pemahaman mengenai heritabilitas sering disalahartikan. Angka yang tinggi tidak berarti 60–80 persen kondisi seseorang “disebabkan oleh gen”, dan juga tidak berarti individu dengan orang tua bipolar mempunyai kemungkinan sebesar angka tersebut untuk mengalami kondisi yang sama. Heritabilitas merupakan konsep statistik populasi dan tidak dapat diterjemahkan langsung menjadi prediksi individual.
Riwayat keluarga tetap merupakan informasi yang penting. NIMH menjelaskan bahwa orang yang mempunyai orang tua atau saudara kandung dengan bipolar memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami kondisi tersebut dibandingkan individu tanpa riwayat keluarga yang sama. Namun, banyak orang yang memiliki anggota keluarga dengan bipolar tidak pernah mengalami gangguan tersebut.
Artinya, istilah “bipolar keturunan” perlu digunakan secara hati-hati. Yang dapat diwariskan adalah berbagai variasi genetik yang meningkatkan kerentanan, bukan diagnosis yang pasti akan muncul pada generasi berikutnya. Faktor perlindungan, pengalaman hidup, lingkungan, dan banyak mekanisme biologis lain ikut berperan dalam perjalanan kesehatan mental seseorang.
Pengetahuan tentang penyebab bipolar berkembang cukup pesat berkat Genome-Wide Association Study (GWAS) atau studi asosiasi seluruh genom. Penelitian semacam ini membandingkan jutaan variasi genetik pada kelompok orang dengan dan tanpa bipolar untuk menemukan variasi yang lebih sering berkaitan dengan kondisi tersebut. Pendekatan ini tidak mencari satu gen penyebab, melainkan pola risiko yang tersebar di seluruh genom.
Penelitian terbesar yang diterbitkan pada 2025 menganalisis 158.036 individu dengan bipolar dan sekitar 2,8 juta individu tanpa bipolar dari kelompok keturunan Eropa, Asia Timur, Afrika-Amerika, dan Latino. Studi tersebut menemukan 298 lokasi genom yang mencapai signifikansi statistik serta mengidentifikasi 36 gen yang dinilai paling kredibel berkaitan dengan etiologi bipolar. Jumlah lokasi yang ditemukan meningkat lebih dari empat kali lipat dibandingkan penelitian sebelumnya.
Temuan ini bukan berarti ilmuwan telah menemukan 298 “penyebab bipolar”. Setiap variasi biasanya hanya memberikan pengaruh yang sangat kecil terhadap risiko keseluruhan. Nilai ilmiah terbesarnya adalah membantu peneliti memetakan proses biologis yang mungkin terlibat dan memahami mengapa bipolar memiliki hubungan genetik dengan kondisi psikologis lainnya.
Studi tersebut menemukan adanya tumpang tindih genetik dengan beberapa gangguan lain, termasuk skizofrenia dan depresi. Temuan semacam ini membantu menjelaskan mengapa gangguan mental tidak selalu memiliki batas biologis sesederhana kategori diagnosis klinisnya. Namun, hasil penelitian genomik masih belum dapat digunakan untuk menentukan diagnosis seorang individu hanya berdasarkan DNA.
Bayangkan faktor genetik sebagai salah satu bagian dari tingkat kerentanan seseorang. Individu dapat memiliki berbagai variasi genetik yang berkaitan dengan bipolar, tetapi kondisi tersebut belum tentu berkembang menjadi episode klinis. Sebaliknya, seseorang juga tidak perlu mempunyai anggota keluarga yang diketahui mengalami bipolar untuk dapat mengalami gangguan ini.
Cara pandang ini membantu menghindari kesimpulan bahwa gen merupakan takdir. NIMH menegaskan bahwa sebagian besar variasi genetik yang berkaitan dengan gangguan mental tidak secara langsung menyebabkan gangguan tersebut. Banyak variasi hanya menaikkan risiko dalam jumlah kecil dan berinteraksi dengan faktor lainnya.
Penelitian juga memperhatikan hubungan antara kerentanan biologis dan pengalaman hidup. NIMH menyatakan bahwa orang dengan risiko genetik terhadap bipolar mungkin lebih rentan mengalami gangguan setelah mengalami trauma atau berbagai peristiwa kehidupan yang menimbulkan stres. Namun, pernyataan tersebut tidak berarti pengalaman stres selalu menyebabkan bipolar.
Banyak orang mengalami stres berat tanpa pernah mengalami bipolar, sementara perjalanan gangguan pada individu dengan bipolar juga sangat beragam. Hubungan antara faktor genetik dan lingkungan lebih tepat dipahami sebagai interaksi probabilistik daripada hubungan sebab-akibat sederhana. Karena itu, mencari satu kejadian sebagai “penyebab utama” sering kali tidak sesuai dengan bukti ilmiah yang tersedia.
Perubahan tidur sangat berkaitan dengan bipolar, terutama ketika episode mania atau depresi muncul. Akan tetapi, tidur sedikit selama beberapa malam tidak dapat dianggap sebagai penyebab tunggal seseorang menjadi bipolar. Pola tidur lebih tepat dilihat sebagai salah satu faktor yang dapat berinteraksi dengan kerentanan dan sebagai bagian penting dalam perjalanan episode.
Pada individu yang sudah mempunyai kerentanan tertentu, perubahan ritme kehidupan, stres, atau gangguan tidur dapat menjadi perhatian karena berpotensi berkaitan dengan munculnya perubahan mood. Hubungan tersebut tetap kompleks dan tidak berlaku dengan cara yang sama pada setiap orang. Itulah sebabnya evaluasi klinis mempertimbangkan keseluruhan pola kehidupan dan bukan hanya satu faktor pencetus.
Selain faktor genetik, penelitian juga mempelajari struktur dan fungsi otak pada orang dengan bipolar. NIMH menyebut adanya studi yang menemukan perbedaan struktur dan fungsi otak antara individu dengan bipolar dan kelompok tanpa gangguan tersebut. Penelitian terus dilakukan untuk memahami apa arti perbedaan tersebut bagi mekanisme penyakit maupun respons terhadap terapi.
Namun, temuan kelompok tidak berarti pemindaian otak seseorang dapat langsung digunakan untuk memastikan bipolar. Diagnosis saat ini tetap bergantung pada evaluasi klinis mengenai pola mania, hipomania, depresi, durasi, tingkat keparahan, perjalanan kondisi, dan dampaknya terhadap fungsi. Riset otak lebih banyak membantu memahami mekanisme biologis daripada menjadi alat diagnosis rutin.
Saat ini jawabannya belum. NIMH menjelaskan bahwa tes genetik belum dapat secara akurat memprediksi risiko seseorang akan mengalami gangguan mental. Sebagian besar variasi genetik yang ditemukan hanya menaikkan risiko sedikit dan tidak dapat digunakan sendiri untuk memprediksi apakah gangguan akan muncul.
Hal ini penting terutama ketika melihat layanan tes DNA komersial yang menawarkan banyak informasi mengenai kesehatan. Hasil semacam itu tidak boleh dianggap sebagai diagnosis bipolar atau alasan mengubah pengobatan. Jika terdapat kekhawatiran mengenai kondisi genetik atau riwayat keluarga, pembahasan dengan tenaga kesehatan atau konselor genetik lebih tepat dilakukan sebelum mengambil keputusan medis.
Walaupun tes DNA belum dapat memprediksi bipolar secara akurat, riwayat kesehatan mental keluarga tetap bernilai secara klinis. Informasi mengenai orang tua, saudara kandung, atau anak dengan gangguan mental dapat membantu tenaga profesional memahami kemungkinan kerentanan. Riwayat tersebut kemudian dibaca bersama gejala dan perjalanan kondisi individu.
NIMH juga menyarankan riwayat kesehatan keluarga sebagai salah satu petunjuk untuk memahami risiko gangguan mental. Mengetahui riwayat tersebut dapat membantu individu dan tenaga kesehatan memperhatikan tanda perubahan lebih awal. Namun, informasi keluarga tetap bukan dasar tunggal untuk membuat diagnosis.
Pada akhirnya, memahami penyebab bipolar memerlukan perspektif yang lebih luas daripada sekadar bertanya apakah kondisi tersebut diturunkan dari orang tua. Penelitian menunjukkan kontribusi genetik yang kuat dan studi genomik terbaru telah menemukan ratusan lokasi genom yang berkaitan dengan bipolar, tetapi tidak ada satu gen yang menentukan kondisi tersebut secara pasti. Faktor biologis, pengalaman hidup, stres, dan lingkungan juga berinteraksi dalam pola yang masih terus dipelajari.
Memiliki keluarga dengan bipolar berarti risiko dapat lebih tinggi, bukan berarti masa depan seseorang sudah ditentukan. Demikian pula, tidak adanya riwayat keluarga tidak menjamin seseorang tidak akan mengalami gangguan bipolar. Pemahaman seperti ini membantu menempatkan genetika secara proporsional: sebagai bagian penting dari kerentanan biologis, tetapi bukan satu-satunya jawaban mengenai mengapa bipolar berkembang pada seseorang.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.