Ketika ilmu pengetahuan belum mempunyai satu jawaban pasti, bukan berarti para peneliti sama sekali tidak mengetahui apa pun. Dalam gangguan bipolar, justru semakin banyak bagian dari gambaran besar yang mulai ditemukan, mulai dari variasi genetik hingga faktor perkembangan dan lingkungan. Tantangannya adalah memahami bagaimana berbagai bagian tersebut saling berhubungan dan mengapa kombinasi yang tampaknya serupa dapat menghasilkan kondisi yang berbeda pada setiap orang.
Membahas penyebab bipolar karena itu tidak cukup dengan mencari satu faktor utama. National Institute of Mental Health (NIMH) menjelaskan bahwa penyebab pasti gangguan bipolar masih belum diketahui, tetapi penelitian mengarah pada kombinasi faktor genetik, struktur dan fungsi otak, serta pengalaman kehidupan. Bahkan ketika seseorang memiliki kerentanan genetik, kondisi tersebut tidak selalu berkembang menjadi bipolar.
Gangguan bipolar merupakan kondisi yang heterogen, artinya gambaran klinis dan perjalanan gangguan dapat sangat berbeda pada setiap individu. Ada orang yang lebih sering mengalami depresi, ada yang memiliki riwayat mania berulang, sementara yang lain mengalami pola episode yang lebih jarang. Perbedaan ini membuat pencarian satu mekanisme biologis yang berlaku untuk seluruh pasien menjadi sangat sulit.
Penelitian saat ini lebih banyak memandang bipolar sebagai gangguan yang melibatkan banyak jalur sekaligus. Faktor genetik dapat meningkatkan kerentanan, tetapi lingkungan, tahap perkembangan, kondisi biologis, dan pengalaman hidup dapat berinteraksi dengan kerentanan tersebut. Karena itu, istilah “faktor risiko” lebih tepat digunakan ketika bukti hanya menunjukkan peningkatan kemungkinan, bukan sebab-akibat yang pasti.
Bipolar diketahui memiliki komponen genetik yang kuat. Penelitian besar yang diterbitkan dalam Nature pada 2025 menyebut estimasi heritabilitas bipolar berada pada kisaran 60–80 persen, tetapi angka tersebut merupakan ukuran statistik pada populasi dan bukan persentase risiko individual. Penelitian tersebut juga menegaskan bahwa sebagian besar faktor genetik yang mendasarinya masih belum sepenuhnya diketahui.
Studi tersebut menganalisis 158.036 individu dengan bipolar dan sekitar 2,8 juta individu tanpa bipolar dari beberapa kelompok leluhur. Hasilnya mengidentifikasi 298 lokasi genom yang memiliki hubungan statistik dengan bipolar serta 36 gen yang dinilai paling kredibel terkait etiologinya. Jumlah tersebut meningkat lebih dari empat kali lipat dibandingkan temuan penelitian genomik sebelumnya.
Temuan ratusan lokasi genom tidak berarti peneliti menemukan ratusan penyebab langsung. Setiap variasi biasanya hanya memberikan kontribusi kecil terhadap risiko keseluruhan, sehingga bipolar dikategorikan sebagai kondisi yang bersifat poligenik. Para ilmuwan masih mencoba memahami bagaimana berbagai variasi tersebut memengaruhi sel saraf, komunikasi antarsel, dan sistem biologis lainnya.
NIMH juga mencatat adanya tumpang tindih antara beberapa variasi genetik bipolar dengan gangguan lain seperti skizofrenia dan depresi. Hal ini menunjukkan bahwa batas biologis antara diagnosis kesehatan mental mungkin lebih kompleks daripada klasifikasi klinis yang digunakan dalam praktik. Penelitian berikutnya diharapkan membantu menjelaskan mengapa variasi genetik tertentu berhubungan dengan tipe atau pola bipolar yang berbeda.
Memiliki kerentanan genetik tidak berarti seseorang pasti akan mengalami bipolar. NIMH menjelaskan bahwa bahkan pada kembar identik, salah satu individu dapat mengalami bipolar sedangkan saudara kembarnya tidak. Fakta tersebut menunjukkan bahwa faktor selain DNA ikut menentukan apakah kerentanan berkembang menjadi kondisi klinis.
Salah satu bidang yang terus dipelajari adalah gene-environment interaction, atau bagaimana variasi genetik berinteraksi dengan pengalaman kehidupan. Trauma dan peristiwa penuh tekanan diduga lebih berpengaruh pada orang yang telah mempunyai kerentanan tertentu, tetapi hubungan tersebut belum dapat dipetakan dalam bentuk rumus sederhana. Banyak orang yang mengalami tekanan berat tidak pernah mengalami bipolar, sementara sebagian pasien tidak mempunyai satu peristiwa lingkungan yang jelas sebagai awal gangguannya.
Penelitian mengenai penyebab bipolar juga mulai menelusuri faktor yang bekerja jauh sebelum seseorang menunjukkan gejala pertama. Meta-analisis mengenai faktor prenatal dan perinatal menemukan beberapa kondisi yang secara statistik berhubungan dengan risiko bipolar di kemudian hari, termasuk komplikasi obstetri, berat lahir rendah, asfiksia saat persalinan, dan stres maternal selama kehamilan. Temuan ini membuka kemungkinan bahwa sebagian kerentanan bipolar berhubungan dengan proses perkembangan saraf sejak awal kehidupan.
Namun, hubungan tersebut harus dibaca dengan sangat hati-hati. Faktor seperti berat lahir rendah atau komplikasi persalinan bukan penentu bahwa seorang anak akan mengalami bipolar ketika dewasa. Penelitian yang tersedia bersifat observasional sehingga masih diperlukan studi lebih besar untuk memahami mekanisme biologis, faktor pengganggu, dan seberapa besar kontribusinya dibandingkan faktor lain.
Pengalaman buruk pada masa kanak-kanak juga muncul dalam berbagai penelitian mengenai risiko gangguan mood. Sebuah meta-analisis prospektif menemukan hubungan antara childhood adversity dan peningkatan risiko gangguan afektif berat, termasuk bipolar. Namun, peningkatan risiko pada tingkat populasi tidak berarti trauma masa kecil dapat dianggap sebagai penyebab pasti bipolar pada seorang individu.
Banyak orang dengan riwayat trauma tidak pernah mengalami bipolar, dan banyak pasien bipolar tidak memiliki pengalaman masa kecil tertentu yang dapat menjelaskan kondisi mereka. Peneliti masih mencoba memahami apakah trauma bekerja melalui perubahan respons stres, tidur, regulasi emosi, proses neurobiologis, atau kombinasi berbagai mekanisme. Karena itu, riwayat kehidupan merupakan bagian penting dari asesmen, tetapi tidak digunakan untuk menetapkan satu penyebab.
Hubungan antara bipolar dan tidur telah lama diketahui karena perubahan kebutuhan tidur merupakan salah satu karakteristik mania. Namun, penelitian modern bergerak lebih jauh dengan mempelajari ritme sirkadian, yaitu sistem waktu biologis yang membantu mengatur tidur, aktivitas, hormon, suhu tubuh, dan berbagai proses lainnya. Pertanyaannya adalah apakah gangguan ritme tersebut hanya merupakan gejala atau juga bagian dari kerentanan biologis bipolar.
Penelitian genomik bahkan menemukan sebagian hubungan antara faktor genetik bipolar dengan karakteristik tidur tertentu. Para peneliti masih mempelajari bagaimana cahaya, jadwal aktivitas, waktu tidur, musim, dan sistem biologis internal berinteraksi dengan mood. Sampai saat ini, tidak tepat menyimpulkan bahwa pola tidur buruk merupakan penyebab langsung bipolar.
Penggunaan cannabis, alkohol, stimulan, dan berbagai zat lainnya sering ditemukan bersamaan dengan gangguan bipolar. Tinjauan prospektif mengenai faktor lingkungan menemukan bahwa penyalahgunaan zat merupakan salah satu paparan yang secara statistik berkaitan dengan gangguan afektif berat. Namun, menentukan arah hubungannya tidak selalu mudah.
Pada beberapa orang, penggunaan zat mungkin sudah terjadi sebelum gangguan mood terlihat. Pada orang lain, zat digunakan setelah gejala muncul sebagai cara mengatasi distress atau kesulitan tidur. Penelitian karena itu perlu membedakan apakah penggunaan zat meningkatkan kerentanan, memicu episode, memperburuk perjalanan gangguan, atau merupakan konsekuensi dari masalah kesehatan mental yang telah berkembang.
Studi pencitraan otak telah menemukan sejumlah perbedaan struktur dan fungsi antara kelompok orang dengan bipolar dan kelompok tanpa kondisi tersebut. NIMH menjelaskan bahwa penelitian ini dapat membantu memahami sifat perubahan otak dan, di masa depan, berpotensi membantu menentukan terapi yang paling sesuai. Namun, temuan tersebut belum dapat digunakan sebagai pemeriksaan diagnosis individual.
Salah satu tantangannya adalah tidak semua individu dengan bipolar menunjukkan pola otak yang identik. Pengobatan, usia, jumlah episode, kondisi medis, penggunaan zat, dan berbagai faktor lain juga dapat memengaruhi hasil penelitian. Oleh karena itu, ilmuwan masih berusaha memisahkan perubahan yang mungkin menjadi faktor kerentanan dari perubahan yang muncul sebagai akibat perjalanan gangguan.
Salah satu bidang yang berkembang adalah kemungkinan keterlibatan proses inflamasi dan sistem imun. Tinjauan sistematis tahun 2024 menemukan penelitian mengenai hubungan biomarker inflamasi, fungsi kognitif, serta abnormalitas pencitraan otak pada bipolar. Temuan ini membuat neuroinflamasi menjadi salah satu hipotesis yang menarik dalam memahami mekanisme gangguan mood.
Namun, bukti tersebut belum berarti inflamasi telah terbukti sebagai penyebab bipolar. Tinjauan lain pada 2024 menemukan hasil yang belum konsisten mengenai hubungan perubahan biomarker inflamasi dengan respons pengobatan. Saat ini, biomarker tersebut lebih tepat dipandang sebagai bidang penelitian potensial daripada alat yang dapat digunakan secara rutin untuk menentukan seseorang memiliki bipolar.
Peneliti juga mempelajari metabolisme, stres oksidatif, faktor neurotropik, dan berbagai molekul dalam darah. Harapannya adalah menemukan pola biologis yang membantu memahami mekanisme bipolar atau memprediksi respons terapi. Namun, tinjauan mengenai metabolomik menunjukkan penelitian masih berada dalam tahap pengembangan dan belum menghasilkan satu biomarker yang dapat digunakan sebagai tes diagnosis bipolar secara mandiri.
Daftar faktor risiko terkadang membuat pembaca merasa bahwa bipolar dapat diprediksi seperti persamaan matematika. Kenyataannya tidak demikian karena setiap faktor biasanya hanya memberikan sebagian kecil informasi mengenai risiko seseorang. Bahkan kombinasi beberapa faktor belum memungkinkan diagnosis dibuat sebelum pola klinis bipolar benar-benar muncul.
Hal ini juga menjelaskan mengapa tes genetik saat ini belum digunakan sebagai alat diagnosis bipolar. Riwayat keluarga, pengalaman hidup, kondisi kesehatan, pola episode, serta gejala tetap harus dinilai secara menyeluruh oleh profesional. Penelitian genetik dan biologis lebih banyak membantu ilmuwan memahami mekanisme daripada menentukan nasib seorang individu.
Pada akhirnya, memahami penyebab bipolar berarti memahami bahwa penelitian masih terus menyusun potongan-potongan gambaran yang sangat kompleks. Studi besar telah memperluas pengetahuan mengenai genetika, sementara penelitian lain mempelajari perkembangan prenatal, pengalaman masa kecil, tidur, penggunaan zat, fungsi otak, inflamasi, dan metabolisme. NIMH tetap menegaskan bahwa penyebab pasti bipolar belum diketahui dan kemungkinan melibatkan kombinasi banyak faktor.
Ketidakpastian tersebut bukan berarti bipolar tidak dapat dipahami atau ditangani. Justru, semakin banyak penelitian membantu membedakan faktor yang benar-benar relevan dari hubungan yang hanya kebetulan atau terlalu sederhana. Sikap yang paling ilmiah saat ini adalah melihat faktor risiko sebagai petunjuk mengenai kerentanan, bukan sebagai kepastian tentang siapa yang akan mengalami gangguan bipolar.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.