Anak yang sulit duduk tenang sering dianggap terlalu aktif, sedangkan orang dewasa yang mudah lupa terkadang dinilai kurang disiplin. Padahal, dalam kondisi tertentu, perilaku tersebut dapat berkaitan dengan Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD). Untuk memahami perbedaannya, profesional kesehatan mental menggunakan dsm 5 sebagai salah satu pedoman dalam mengevaluasi karakteristik dan kriteria diagnostik ADHD.
ADHD tidak selalu ditandai oleh perilaku yang terlihat hiperaktif. Sebagian individu lebih banyak mengalami kesulitan mempertahankan perhatian, mengatur kegiatan, atau mengendalikan impuls. Karakteristik ini dapat muncul pada anak maupun orang dewasa dengan bentuk yang berbeda sesuai tahap perkembangannya.
ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf atau neurodevelopmental disorder yang ditandai oleh pola kurang perhatian dan/atau hiperaktivitas-impulsivitas yang menetap. Pola tersebut mengganggu fungsi atau perkembangan individu. Diagnosis memerlukan pemenuhan sejumlah kriteria, bukan sekadar keberadaan perilaku aktif atau mudah terdistraksi.
DSM-5 diterbitkan oleh American Psychiatric Association pada tahun 2013 dan diperbarui melalui DSM-5-TR pada tahun 2022. Dalam pedoman tersebut, ADHD dapat didiagnosis pada masa kanak-kanak maupun dewasa. Namun, terdapat perbedaan jumlah gejala yang dipersyaratkan berdasarkan kelompok usia.
DSM-5 mengelompokkan gejala ADHD menjadi dua domain utama, yaitu kurang perhatian dan hiperaktivitas-impulsivitas. Masing-masing domain mencakup sembilan gejala yang perlu dievaluasi. Gejala harus muncul dalam pola yang menetap dan tidak sesuai dengan tingkat perkembangan individu.
Domain kurang perhatian atau inattention berkaitan dengan kesulitan mempertahankan perhatian, mengatur aktivitas, dan menyelesaikan tugas. Gejala dapat ditemukan dalam kegiatan belajar, pekerjaan, maupun kehidupan sehari-hari. Namun, kesulitan konsentrasi sementara tidak otomatis menunjukkan ADHD.
Sembilan karakteristik kurang perhatian dalam DSM-5 dapat diringkas sebagai berikut.
| No. | Gejala Kurang Perhatian |
|---|---|
| 1 | Sering mengabaikan detail atau melakukan kesalahan karena kurang teliti |
| 2 | Sulit mempertahankan perhatian saat mengerjakan tugas atau aktivitas |
| 3 | Tampak tidak mendengarkan ketika diajak berbicara secara langsung |
| 4 | Tidak mengikuti instruksi sampai selesai atau gagal menyelesaikan tugas |
| 5 | Kesulitan mengorganisasi tugas dan aktivitas |
| 6 | Menghindari atau enggan melakukan tugas yang membutuhkan usaha mental berkelanjutan |
| 7 | Sering kehilangan barang yang diperlukan untuk kegiatan |
| 8 | Mudah teralihkan oleh rangsangan yang tidak relevan |
| 9 | Sering lupa menjalankan aktivitas sehari-hari |
Gejala tersebut dapat muncul dengan bentuk berbeda pada setiap usia. Anak mungkin sering kehilangan perlengkapan sekolah, sedangkan orang dewasa mengalami kesulitan mengatur pekerjaan atau memenuhi jadwal. Penilaian perlu mempertimbangkan frekuensi, intensitas, dan dampaknya terhadap fungsi individu.
Domain kedua berkaitan dengan aktivitas motorik berlebihan, kegelisahan, serta kesulitan mengendalikan respons. Pada anak-anak, karakteristik ini sering terlihat melalui perilaku bergerak atau berlari dalam situasi yang tidak sesuai. Pada orang dewasa, hiperaktivitas dapat muncul sebagai kegelisahan internal.
Sembilan karakteristik hiperaktivitas dan impulsivitas meliputi:
| No. | Gejala Hiperaktivitas dan Impulsivitas |
|---|---|
| 1 | Sering menggerakkan tangan atau kaki secara gelisah |
| 2 | Meninggalkan tempat duduk ketika diharapkan tetap duduk |
| 3 | Berlari atau memanjat dalam situasi yang tidak sesuai |
| 4 | Kesulitan melakukan kegiatan santai secara tenang |
| 5 | Terlihat terus bergerak atau sulit berdiam diri |
| 6 | Berbicara secara berlebihan |
| 7 | Menjawab sebelum pertanyaan selesai disampaikan |
| 8 | Kesulitan menunggu giliran |
| 9 | Menyela atau mengganggu aktivitas orang lain |
Karakteristik tersebut tidak harus muncul seluruhnya untuk memenuhi kriteria diagnostik. Profesional perlu menilai apakah gejala menetap dan mengganggu aktivitas individu. Perilaku yang terjadi sesekali, terutama ketika seseorang sedang bersemangat, tidak cukup untuk menentukan ADHD.
Salah satu perbedaan penting dalam dsm 5 adalah jumlah gejala yang dipersyaratkan berdasarkan usia. Pada anak hingga usia 16 tahun, diperlukan sedikitnya enam gejala dari salah satu atau kedua domain. Sementara itu, pada remaja usia 17 tahun ke atas dan orang dewasa, diperlukan sedikitnya lima gejala.
Perbedaan tersebut mempertimbangkan perubahan ekspresi gejala sepanjang perkembangan. Pada usia dewasa, hiperaktivitas motorik mungkin berkurang, tetapi kesulitan mengatur perhatian atau impuls tetap dapat ditemukan. Namun, jumlah gejala bukan satu-satunya dasar diagnosis.
DSM-5 mensyaratkan pola gejala yang berlangsung sedikitnya enam bulan. Gejala tersebut harus menunjukkan ketidaksesuaian dengan tingkat perkembangan individu. Selain itu, karakteristiknya harus berdampak negatif terhadap aktivitas sosial, akademik, atau pekerjaan.
Kesulitan berkonsentrasi selama beberapa hari akibat kelelahan tidak otomatis memenuhi kriteria ADHD. Profesional perlu mengevaluasi apakah pola tersebut menetap dalam berbagai situasi. Informasi mengenai perjalanan gejala sangat penting untuk membedakan ADHD dari kondisi sementara.
DSM-5 menetapkan bahwa beberapa gejala kurang perhatian atau hiperaktivitas-impulsivitas harus sudah muncul sebelum usia 12 tahun. Ketentuan tersebut tidak berarti seseorang harus memperoleh diagnosis sebelum usia tersebut. Diagnosis pertama kali tetap dapat dilakukan ketika individu sudah dewasa.
Pada pemeriksaan ADHD dewasa, profesional biasanya menelusuri riwayat perkembangan dan pengalaman masa sekolah. Informasi dari keluarga atau catatan perkembangan dapat membantu apabila tersedia. Namun, keterbatasan ingatan masa kecil perlu dipertimbangkan secara hati-hati.
Kriteria penting lainnya adalah adanya beberapa gejala dalam dua atau lebih lingkungan. Pada anak, contohnya dapat berupa rumah dan sekolah. Pada orang dewasa, gejala dapat terlihat dalam pekerjaan, hubungan sosial, maupun kegiatan rumah tangga.
Persyaratan ini membantu memastikan bahwa gejala tidak hanya berkaitan dengan situasi tertentu. Namun, tingkat keparahan gejala dapat berbeda sesuai tuntutan dan dukungan lingkungan. Pemeriksaan perlu mengumpulkan informasi dari berbagai konteks kehidupan.
DSM-5 membedakan ADHD menjadi tiga presentasi berdasarkan kelompok gejala yang memenuhi kriteria selama enam bulan terakhir. Penggunaan istilah presentasi menunjukkan bahwa pola gejala dapat berubah sepanjang perkembangan. Karena itu, presentasi ADHD tidak selalu menetap seumur hidup.
Predominantly Inattentive Presentation digunakan ketika kriteria kurang perhatian terpenuhi, sedangkan kriteria hiperaktivitas-impulsivitas tidak terpenuhi. Individu mungkin menunjukkan kesulitan mengorganisasi tugas atau mempertahankan konsentrasi. Karakteristik ini tidak selalu tampak sebagai perilaku yang mengganggu orang lain.
Predominantly Hyperactive/Impulsive Presentation digunakan ketika kriteria hiperaktivitas-impulsivitas terpenuhi tanpa memenuhi kriteria kurang perhatian. Individu dapat mengalami kesulitan menunggu giliran, mengendalikan respons, atau tetap tenang dalam situasi tertentu. Namun, karakteristik tersebut harus memenuhi persyaratan klinis yang berlaku.
Combined Presentation digunakan apabila kriteria kurang perhatian dan hiperaktivitas-impulsivitas sama-sama terpenuhi. Individu dapat mengalami kesulitan konsentrasi sekaligus menunjukkan perilaku impulsif atau hiperaktif. Pemeriksaan diperlukan untuk memahami dampak masing-masing domain terhadap fungsi sehari-hari.
Pada anak-anak, ADHD sering dikenali melalui kesulitan mengikuti kegiatan pembelajaran, mengatur perlengkapan, atau mempertahankan perhatian. Perilaku hiperaktif juga mungkin lebih mudah diamati oleh guru maupun orang tua. Namun, tidak semua anak dengan ADHD menunjukkan aktivitas motorik berlebihan.
Pada orang dewasa, ADHD dapat terlihat melalui kesulitan mengatur waktu, menyelesaikan pekerjaan, atau mengendalikan impuls dalam aktivitas sehari-hari. Beberapa individu mengalami kegelisahan internal dibandingkan perilaku berlari atau memanjat. Perbedaan tersebut menunjukkan pentingnya pendekatan diagnostik yang mempertimbangkan perkembangan.
Gejala ADHD dapat menyerupai kondisi lain, seperti gangguan kecemasan, depresi, gangguan tidur, atau kesulitan belajar tertentu. Pengalaman stres dan kondisi medis juga dapat memengaruhi perhatian maupun aktivitas. Oleh karena itu, profesional perlu mengevaluasi kemungkinan penyebab alternatif.
ADHD juga dapat muncul bersamaan dengan gangguan perkembangan atau kondisi psikologis lainnya. Keberadaan kondisi lain tidak otomatis meniadakan diagnosis ADHD. Namun, setiap diagnosis harus memiliki dasar klinis yang memadai.
Pemeriksaan ADHD melibatkan wawancara klinis mengenai gejala, riwayat perkembangan, dan gangguan fungsi. Profesional dapat menggunakan skala penilaian perilaku, observasi, serta informasi dari orang tua atau guru sesuai kebutuhan. Pada orang dewasa, riwayat akademik dan pekerjaan juga dapat menjadi sumber informasi.
Tidak ada satu tes psikologi atau pemeriksaan laboratorium yang secara otomatis memastikan ADHD. Hasil instrumen perlu diintegrasikan dengan kriteria diagnostik dan informasi klinis lainnya. Pemeriksaan yang menyeluruh membantu membedakan ADHD dari keluhan konsentrasi akibat faktor lain.
Dukungan untuk individu dengan ADHD perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan tahap perkembangan. Pada anak, pendekatan dapat melibatkan pelatihan perilaku bagi orang tua, penyesuaian lingkungan belajar, dan intervensi lainnya. Pada orang dewasa, strategi organisasi aktivitas, psikoterapi tertentu, serta pengobatan yang diresepkan dokter dapat dipertimbangkan.
Diagnosis ADHD bukan ukuran kecerdasan, kemampuan, atau nilai seseorang. Individu dengan ADHD dapat memiliki kekuatan dan potensi yang beragam. Dukungan yang tepat bertujuan membantu mereka menjalankan aktivitas dan meningkatkan kualitas hidup.
Kriteria ADHD dalam DSM-5 mencakup pola kurang perhatian dan/atau hiperaktivitas-impulsivitas yang menetap, dengan ketentuan jumlah gejala berdasarkan usia. Gejala harus berlangsung sedikitnya enam bulan, sebagian muncul sebelum usia 12 tahun, ditemukan dalam beberapa lingkungan, dan mengganggu fungsi individu. Diagnosis juga membutuhkan evaluasi penyebab lainnya.
Bagi orang tua, pendidik, mahasiswa, maupun masyarakat yang ingin memahami dsm 5, mengenali kriteria ADHD dapat membantu membedakan karakteristik gangguan perkembangan saraf dari perilaku sehari-hari. Informasi tersebut sebaiknya digunakan untuk meningkatkan pemahaman, bukan menetapkan diagnosis secara mandiri. Melalui pemeriksaan profesional dan dukungan yang sesuai, individu dengan ADHD dapat memperoleh kesempatan berkembang berdasarkan kebutuhan serta kemampuannya.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.