Istilah Bipolar I dan Bipolar II terdengar hampir sama sehingga tidak sedikit orang mengira keduanya hanya menunjukkan tingkat keparahan yang berbeda. Padahal, perbedaan utama keduanya terletak pada jenis episode mood yang pernah dialami seseorang, terutama mania dan hipomania. Memahami jenis bipolar secara tepat membantu menghindari anggapan bahwa Bipolar II hanyalah bentuk Bipolar I yang lebih ringan.
Baik Bipolar I maupun Bipolar II dapat memengaruhi suasana hati, energi, tidur, konsentrasi, dan aktivitas sehari-hari. Keduanya juga dapat melibatkan periode depresi yang memberikan dampak besar terhadap pekerjaan, pendidikan, hubungan, maupun kualitas hidup. Namun, perjalanan episode pada masing-masing kondisi memiliki karakteristik klinis yang berbeda.
Pembagian ini bukan berdasarkan siapa yang mengalami gejala lebih “parah” secara keseluruhan. Profesional kesehatan mental melihat apakah seseorang pernah mengalami episode mania penuh, hipomania, depresi mayor, serta bagaimana episode tersebut memengaruhi fungsi kehidupannya. Riwayat episode itulah yang menjadi dasar penting untuk membedakan kedua kondisi.
Seseorang juga tidak selalu datang untuk mendapatkan bantuan ketika sedang mengalami peningkatan mood. Banyak orang justru berkonsultasi ketika berada dalam episode depresi karena gejalanya terasa lebih mengganggu. Oleh sebab itu, penilaian terhadap riwayat mood sebelumnya menjadi sangat penting.
Bipolar I berkaitan dengan adanya setidaknya satu episode mania sepanjang perjalanan kondisi seseorang. Dalam episode ini, mood dapat meningkat secara tidak biasa atau menjadi sangat mudah tersinggung, disertai peningkatan energi dan aktivitas. Perubahan tersebut cukup kuat sehingga dapat menyebabkan gangguan yang nyata terhadap fungsi sosial maupun pekerjaan.
Seseorang dalam kondisi mania dapat hanya membutuhkan sedikit tidur tetapi tetap merasa penuh tenaga. Pembicaraan dapat menjadi sangat cepat, ide bermunculan hampir bersamaan, dan rasa percaya diri meningkat secara berlebihan. Dalam kehidupan sehari-hari, perubahan ini bisa terlihat melalui aktivitas yang semakin banyak dan keputusan yang semakin impulsif.
Episode mania dapat membuat seseorang melakukan tindakan yang biasanya tidak akan dipilih ketika berada dalam kondisi stabil. Contohnya termasuk melakukan pengeluaran besar, membuat keputusan pekerjaan secara terburu-buru, atau mengambil risiko tanpa mempertimbangkan konsekuensi. Karena penilaian terhadap risiko dapat berubah, dampaknya bisa mencapai keuangan, pekerjaan, maupun hubungan.
Dalam kondisi yang berat, episode mania dapat menyebabkan kebutuhan rawat inap agar keselamatan dan fungsi individu dapat dijaga. Gejala psikotik seperti delusi atau halusinasi juga dapat muncul pada mania berat. Keberadaan psikosis merupakan salah satu tanda bahwa episode peningkatan mood tersebut bukan hipomania.
Bipolar II ditandai oleh adanya episode hipomania dan episode depresi mayor, tanpa riwayat episode mania penuh. Hipomania memiliki banyak karakteristik yang menyerupai mania, seperti peningkatan energi, berkurangnya kebutuhan tidur, pembicaraan yang lebih banyak, serta meningkatnya aktivitas. Perbedaannya adalah tingkat gangguan fungsi tidak mencapai keparahan episode mania.
Seseorang dalam hipomania bahkan dapat merasa dirinya menjadi lebih produktif, percaya diri, atau mudah bergaul. Karena perubahan itu terkadang terasa positif, individu mungkin tidak merasa sedang mengalami masalah. Orang terdekat justru dapat lebih cepat menyadari bahwa perilakunya berbeda dari keadaan biasanya.
Berbeda dengan Bipolar I, keberadaan episode depresi mayor merupakan bagian penting dalam pola Bipolar II. Fase depresi dapat menyebabkan kehilangan minat, berkurangnya energi, gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, atau munculnya rasa putus asa. Pada sebagian individu, justru periode depresilah yang lebih dominan dan lebih sering membawa mereka mencari pertolongan.
Karena hipomania dapat terlewat, seseorang yang datang saat depresi dapat tampak seperti mengalami gangguan depresi saja. Profesional perlu menanyakan apakah sebelumnya pernah muncul periode energi meningkat dan kebutuhan tidur menurun yang berbeda dari biasanya. Informasi tersebut membantu melihat apakah depresi merupakan bagian dari pola bipolar yang lebih luas.
Saat membedakan jenis bipolar, memahami mania dan hipomania menjadi sangat penting. Keduanya dapat sama-sama melibatkan energi tinggi, peningkatan aktivitas, berkurangnya kebutuhan tidur, pikiran yang terasa cepat, serta perubahan kepercayaan diri. Namun, intensitas dan konsekuensi klinis keduanya tidak sama.
Mania menyebabkan gangguan fungsi yang berat, dapat membutuhkan rawat inap, atau dapat disertai psikosis. Hipomania tetap menunjukkan perubahan yang jelas dari kondisi biasanya, tetapi tidak menimbulkan gangguan fungsi berat dengan karakteristik seperti mania. Jika peningkatan mood disertai psikosis, episode tersebut tidak lagi dikategorikan sebagai hipomania.
Kesalahpahaman yang cukup umum adalah menganggap Bipolar I sebagai kondisi berat dan Bipolar II sebagai kondisi ringan. Cara pandang ini terlalu menyederhanakan pengalaman individu. Walaupun Bipolar II tidak melibatkan mania penuh, episode depresinya dapat sangat berat dan memberikan dampak besar terhadap kualitas hidup.
Sebaliknya, seseorang dengan Bipolar I juga dapat memiliki periode stabil yang panjang ketika gejala terkendali. Tingkat kesulitan yang dialami seseorang bergantung pada banyak faktor, termasuk frekuensi episode, tingkat keparahan, dukungan sosial, dan akses terhadap perawatan. Karena itu, angka I dan II menunjukkan pola episode, bukan peringkat tingkat penderitaan.
Orang dengan Bipolar I dapat mengalami episode depresi mayor, dan hal tersebut cukup penting dalam perjalanan kondisi banyak individu. Namun, episode depresi mayor tidak menjadi syarat utama untuk klasifikasi Bipolar I apabila seseorang telah mengalami episode mania. Hal inilah yang membedakannya dari Bipolar II.
Pola perjalanan Bipolar I juga tidak harus berupa pergantian teratur antara mania dan depresi. Seseorang dapat mengalami satu episode mania kemudian periode stabil, sementara orang lain mengalami beberapa episode mood dengan pola berbeda. Diagnosis didasarkan pada riwayat klinis, bukan urutan sederhana dari satu fase ke fase berikutnya.
Pada Bipolar I, episode mania biasanya lebih mudah terlihat oleh orang di sekitar karena perubahan perilaku dapat menjadi sangat mencolok. Aktivitas dapat meningkat drastis, keputusan menjadi lebih berisiko, dan kemampuan menjalankan tanggung jawab secara aman dapat terganggu. Keluarga atau rekan kerja sering menyadari bahwa individu terlihat sangat berbeda dari kebiasaannya.
Pada Bipolar II, hipomania dapat terlihat lebih halus. Seseorang mungkin tampak lebih produktif, lebih aktif secara sosial, atau lebih percaya diri tanpa mengalami gangguan fungsi berat. Namun, ketika episode depresi muncul, pekerjaan, hubungan, dan rutinitas tetap dapat mengalami gangguan yang besar.
Penilaian Bipolar I dan II tidak dapat dilakukan hanya melalui satu daftar gejala. Profesional perlu memahami perjalanan mood dalam jangka waktu tertentu, termasuk episode yang mungkin sudah terjadi beberapa bulan atau tahun sebelumnya. Riwayat dari orang terdekat juga dapat membantu apabila individu memberikan izin.
Beberapa aspek yang biasanya menjadi perhatian dalam asesmen meliputi:
Apakah pernah terjadi episode mania penuh.
Apakah pernah terdapat periode hipomania yang jelas.
Apakah pernah mengalami episode depresi mayor.
Bagaimana perubahan kebutuhan tidur saat mood meningkat.
Seberapa besar episode memengaruhi pekerjaan dan hubungan.
Apakah pernah dibutuhkan rawat inap karena perubahan mood.
Apakah pernah muncul gejala psikotik.
Apakah obat, zat, atau kondisi medis dapat menjelaskan perubahan yang terjadi.
Informasi tersebut tidak dinilai secara terpisah. Profesional akan melihat hubungan antar-gejala, durasi, tingkat keparahan, serta perbedaan kondisi individu selama episode dan ketika stabil. Pendekatan seperti ini membantu mengurangi risiko kesalahan dalam memahami pola gangguan.
Beberapa gangguan dapat memiliki gejala yang tumpang tindih dengan bipolar. Depresi dapat menyebabkan energi rendah, ADHD dapat melibatkan impulsivitas dan kesulitan konsentrasi, sedangkan kecemasan dan gangguan tidur juga dapat memengaruhi mood. Faktor medis dan penggunaan zat tertentu pun dapat menyebabkan perubahan energi atau perilaku.
Karena itu, satu tanda seperti banyak bicara atau tidur sedikit tidak cukup untuk menentukan Bipolar I maupun Bipolar II. Diagnosis banding diperlukan agar penyebab lain dapat dipertimbangkan. Pemeriksaan yang menyeluruh lebih tepat daripada mencoba menentukan jenis gangguan melalui tes daring saja.
Pemeriksaan dapat dipertimbangkan ketika perubahan energi, tidur, mood, atau perilaku terjadi berulang dan mulai memengaruhi kehidupan sehari-hari. Perhatian lebih besar diperlukan apabila seseorang membuat keputusan berisiko, mengalami penurunan fungsi yang nyata, atau mengalami depresi berkepanjangan. Semakin besar perbedaan dari kondisi biasanya, semakin penting pola tersebut dinilai secara profesional.
Jika muncul pikiran bunuh diri, perilaku yang membahayakan, halusinasi, atau kehilangan kemampuan menilai kenyataan, bantuan perlu dicari segera. Kondisi tersebut membutuhkan perhatian terhadap keselamatan terlebih dahulu. Setelah situasi aman, asesmen yang lebih menyeluruh dapat membantu menentukan kebutuhan penanganan berikutnya.
Memahami jenis bipolar membantu memperjelas bahwa Bipolar I dan Bipolar II tidak sekadar berbeda dalam tingkat “berat” dan “ringan”. Bipolar I terutama dibedakan oleh adanya episode mania, sedangkan Bipolar II melibatkan hipomania dan depresi mayor tanpa riwayat mania penuh. Perbedaan tersebut penting karena perjalanan mood dan kebutuhan setiap individu dapat berbeda.
Informasi mengenai karakteristik Bipolar I dan II sebaiknya digunakan untuk meningkatkan pemahaman, bukan menentukan diagnosis sendiri. Jika terdapat pola perubahan mood, energi, tidur, dan perilaku yang berulang, psikolog atau psikiater dapat melakukan pemeriksaan lebih menyeluruh. Dengan memahami riwayat episode secara tepat, kondisi seseorang dapat dinilai secara lebih akurat dan dukungan dapat disesuaikan dengan kebutuhannya.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.