Bipolar sering dibayangkan sebagai perubahan emosi dari sangat senang menjadi sangat sedih. Gambaran tersebut sebenarnya belum cukup menjelaskan bagaimana gangguan bipolar terjadi karena perubahan yang dialami juga menyentuh energi, tidur, cara berpikir, aktivitas, dan pengambilan keputusan. Memahami jenis bipolar menjadi lebih mudah apabila kita terlebih dahulu mengenali perbedaan antara episode mania, hipomania, dan depresi.
Ketiga episode tersebut tidak selalu muncul dengan pola yang sama pada setiap orang. Ada individu yang pernah mengalami mania penuh, ada yang hanya mengalami hipomania disertai depresi mayor, dan ada pula yang mengalami perubahan mood kronis tanpa mencapai episode penuh. Perbedaan pola inilah yang kemudian menjadi salah satu dasar dalam memahami klasifikasi gangguan bipolar.
Dalam gangguan bipolar, episode mood berarti periode ketika kondisi emosional, energi, dan aktivitas seseorang berubah secara nyata dari keadaan biasanya. Perubahan tersebut berlangsung cukup konsisten dalam suatu periode dan bukan sekadar reaksi singkat terhadap kejadian sehari-hari. Dampaknya dapat terlihat pada pekerjaan, hubungan sosial, tidur, konsentrasi, serta keputusan yang dibuat.
Karena itu, tenaga profesional tidak hanya menanyakan apakah seseorang merasa senang atau sedih. Mereka juga melihat bagaimana perubahan tersebut memengaruhi fungsi sehari-hari dan apakah terdapat pola yang pernah muncul sebelumnya. Riwayat episode menjadi sangat penting karena diagnosis bipolar melihat perjalanan kondisi dari waktu ke waktu.
Episode mania ditandai oleh perubahan mood yang sangat nyata, yang dapat berupa rasa sangat bersemangat, mudah tersinggung, atau keduanya. Pada saat yang sama, energi dan aktivitas meningkat secara jelas sehingga seseorang dapat terlihat sangat berbeda dari kondisi biasanya. Perubahan tersebut dapat berlangsung cukup berat hingga memengaruhi fungsi sosial maupun pekerjaan.
Seseorang yang mengalami mania dapat tidur jauh lebih sedikit tetapi tetap merasa bertenaga. Ia mungkin berbicara lebih cepat, mempunyai banyak ide, menjalankan berbagai aktivitas sekaligus, atau merasa kemampuannya jauh lebih besar dari biasanya. Dalam kondisi tertentu, rasa percaya diri dapat berkembang menjadi keyakinan yang tidak realistis.
Peningkatan energi dan kepercayaan diri dapat membuat seseorang lebih berani mengambil keputusan. Ia mungkin mengeluarkan uang dalam jumlah besar, mengambil pekerjaan yang tidak realistis, melakukan aktivitas berbahaya, atau membuat keputusan penting secara terburu-buru. Konsekuensinya sering baru terasa setelah episode mulai mereda.
Episode mania juga dapat menjadi cukup berat hingga membutuhkan rawat inap. Pada sebagian kondisi, seseorang dapat mengalami gejala psikotik seperti delusi atau halusinasi. Jika psikosis muncul dalam episode dengan mood meningkat, keadaan tersebut tidak lagi dikategorikan sebagai hipomania.
Hipomania mempunyai banyak karakteristik yang mirip dengan mania. Seseorang dapat menjadi lebih aktif, lebih percaya diri, lebih banyak berbicara, memiliki banyak ide, serta membutuhkan waktu tidur yang lebih sedikit. Perbedaannya terutama terletak pada tingkat keparahan dan dampaknya terhadap fungsi sehari-hari.
Pada hipomania, perubahan tetap terlihat jelas dibandingkan kondisi biasanya. Namun, seseorang umumnya masih dapat menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa gangguan yang sangat berat. Karena itu, hipomania terkadang tidak dianggap sebagai masalah oleh individu yang mengalaminya.
Salah satu alasan hipomania sulit dikenali adalah karena kondisi ini dapat terasa menyenangkan. Seseorang mungkin merasa lebih kreatif, lebih mudah bersosialisasi, lebih produktif, atau lebih berani daripada biasanya. Orang tersebut bahkan dapat menilai periode ini sebagai saat dirinya berada dalam performa terbaik.
Namun, peningkatan energi tetap perlu dilihat bersama perubahan lain. Jika kebutuhan tidur berkurang, pembicaraan menjadi lebih cepat, keputusan semakin impulsif, dan perilaku terlihat sangat berbeda dari kondisi biasanya, pola tersebut perlu diperhatikan. Riwayat seperti ini penting terutama ketika seseorang juga mengalami episode depresi.
Episode depresi pada gangguan bipolar dapat tampak serupa dengan depresi mayor pada umumnya. Seseorang dapat merasa sangat sedih, hampa, kehilangan minat, mudah lelah, dan sulit menjalankan rutinitas. Tidur, nafsu makan, konsentrasi, dan kemampuan membuat keputusan juga dapat ikut berubah.
Depresi bipolar juga dapat disertai rasa bersalah atau pandangan negatif terhadap diri sendiri. Seseorang mungkin merasa gagal, tidak berguna, atau kehilangan harapan terhadap masa depan. Pada kondisi berat, dapat muncul pikiran mengenai kematian atau keinginan menyakiti diri yang membutuhkan pertolongan profesional segera.
Memahami jenis bipolar akan lebih mudah jika ketiga episode tersebut dibandingkan dari beberapa aspek utama. Mania dan hipomania sama-sama melibatkan peningkatan energi dan aktivitas, sedangkan depresi lebih sering melibatkan penurunan energi serta kehilangan minat. Perbedaan utama mania dan hipomania terdapat pada tingkat keparahan dan dampak terhadap fungsi.
Beberapa perbedaannya dapat dilihat sebagai berikut:
Mood: Mania dan hipomania dapat melibatkan mood meningkat atau mudah tersinggung, sedangkan depresi ditandai mood rendah atau kehilangan minat.
Energi: Mania dan hipomania umumnya meningkatkan energi, sedangkan depresi sering menurunkannya.
Tidur: Mania dan hipomania dapat menurunkan kebutuhan tidur, sedangkan depresi dapat menyebabkan sulit tidur atau justru tidur berlebihan.
Aktivitas: Aktivitas meningkat pada mania dan hipomania, sementara pada depresi aktivitas sering menurun.
Pengambilan keputusan: Mania lebih berisiko menimbulkan keputusan impulsif yang serius.
Gangguan fungsi: Mania dapat mengganggu fungsi secara berat, sedangkan hipomania tidak sampai pada tingkat tersebut.
Psikosis: Dapat muncul pada mania berat, tetapi tidak menjadi bagian dari hipomania.
Perbandingan tersebut hanya memberikan gambaran umum. Dalam kehidupan nyata, setiap individu dapat menunjukkan kombinasi gejala yang berbeda. Karena itu, klasifikasi episode tidak sebaiknya dilakukan hanya dengan mencocokkan beberapa tanda.
Bipolar I terutama ditandai oleh riwayat setidaknya satu episode mania. Seseorang dapat mengalami episode depresi mayor, tetapi depresi bukan syarat utama apabila mania sudah pernah terjadi. Artinya, keberadaan mania menjadi penanda yang sangat penting dalam membedakan Bipolar I dari pola bipolar lainnya.
Perjalanan Bipolar I juga tidak selalu berupa pergantian teratur antara mania dan depresi. Beberapa orang dapat mengalami periode stabil yang panjang, sedangkan yang lain mengalami perubahan episode dengan frekuensi berbeda. Pola setiap individu perlu dilihat secara longitudinal.
Bipolar II melibatkan setidaknya satu episode hipomania dan setidaknya satu episode depresi mayor tanpa riwayat mania penuh. Karena hipomania dapat terasa produktif, seseorang sering kali datang mencari pertolongan justru ketika sedang mengalami depresi. Riwayat peningkatan energi sebelumnya kemudian menjadi bagian penting dalam asesmen.
Bipolar II tidak berarti kondisi yang selalu lebih ringan dibandingkan Bipolar I. Depresi yang dialami dapat memberikan dampak besar terhadap fungsi dan kualitas hidup. Perbedaannya terletak pada jenis episode yang dialami, bukan sekadar berat atau ringannya kondisi secara keseluruhan.
Gangguan siklotimik ditandai oleh banyak periode dengan gejala hipomanik dan gejala depresif yang tidak mencapai kriteria penuh episode hipomania maupun depresi mayor. Perubahannya cenderung berlangsung kronis dan berulang. Akibatnya, seseorang dapat merasa kestabilan mood sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
Meski episode penuh tidak terjadi, dampaknya tetap dapat dirasakan dalam pekerjaan dan hubungan. Seseorang dapat mengalami fase lebih aktif kemudian turun menjadi kurang berenergi secara berulang. Pola seperti ini memerlukan evaluasi karena berbeda dari perubahan mood sehari-hari.
Episode bipolar tidak selalu muncul sebagai dua kutub yang benar-benar terpisah. Seseorang dapat mengalami episode mood tertentu dengan beberapa gejala yang biasanya berkaitan dengan kutub berlawanan. Gambaran seperti ini dikenal sebagai fitur campuran.
Sebagai contoh, seseorang dapat berada dalam episode depresi tetapi sekaligus mengalami pikiran yang bergerak sangat cepat atau peningkatan aktivitas. Sebaliknya, seseorang dengan mood meningkat dapat menunjukkan beberapa gejala depresif. Kondisi seperti ini dapat membuat pengalaman bipolar terasa lebih kompleks dan membutuhkan penilaian klinis yang hati-hati.
Seseorang dapat datang dengan keluhan kehilangan energi, tidak bersemangat, sulit berkonsentrasi, dan mengalami gangguan tidur. Gejala tersebut dapat ditemukan pada depresi bipolar maupun gangguan depresi lainnya. Karena itu, profesional biasanya mencari riwayat episode energi meningkat di masa lalu.
Pertanyaan mengenai kebutuhan tidur, rasa percaya diri, aktivitas, cara berbicara, dan keputusan impulsif membantu memahami apakah pernah terdapat mania atau hipomania. Tanpa riwayat tersebut, depresi saja belum cukup untuk menyimpulkan adanya bipolar. Inilah alasan wawancara perjalanan mood sangat penting.
Pemeriksaan dapat dipertimbangkan ketika perubahan mood dan energi muncul berulang serta mulai memengaruhi kehidupan sehari-hari. Perubahan yang cukup jelas dalam pola tidur, aktivitas, komunikasi, keputusan, atau produktivitas juga layak diperhatikan. Orang terdekat terkadang dapat membantu memberikan informasi mengenai perubahan yang tidak disadari individu.
Beberapa kondisi membutuhkan pertolongan lebih cepat, seperti perilaku yang sangat berbahaya, kehilangan kemampuan menilai kenyataan, halusinasi, atau pikiran menyakiti diri. Situasi seperti ini tidak sebaiknya ditunda sampai kondisi membaik sendiri. Keselamatan perlu menjadi prioritas sebelum evaluasi yang lebih lengkap dilakukan.
Mengenali jenis bipolar berdasarkan mania, hipomania, dan depresi dapat membantu memahami struktur dasar gangguan ini. Bipolar I terutama berkaitan dengan mania, Bipolar II melibatkan hipomania dan depresi mayor tanpa mania, sedangkan siklotimia memiliki pola perubahan gejala yang lebih kronis dan tidak mencapai episode penuh. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa istilah bipolar mencakup beberapa pola perjalanan mood yang tidak dapat disamakan.
Informasi mengenai gejala sebaiknya digunakan sebagai sarana edukasi, bukan sebagai dasar melakukan diagnosis mandiri. Psikolog atau psikiater perlu mempertimbangkan durasi episode, tingkat keparahan, dampak terhadap fungsi, riwayat kondisi, serta faktor lain yang dapat memengaruhi mood. Dengan asesmen yang menyeluruh, pola episode dapat dipahami secara lebih tepat dan kebutuhan penanganan dapat ditentukan sesuai kondisi individu.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.