Tidak semua gangguan makan terlihat dari kebiasaan seseorang saat berada di meja makan. Ada individu yang mengalami ketakutan intens terhadap kenaikan berat badan, membatasi asupan makanan, dan memiliki pandangan negatif terhadap bentuk tubuhnya. Dalam psikologi klinis, pola tersebut dapat berkaitan dengan anoreksia nervosa, salah satu gangguan makan yang dijelaskan melalui pedoman dsm 5.
Anoreksia nervosa sering disalahpahami sebagai keinginan seseorang untuk memiliki tubuh yang lebih kurus. Padahal, kondisi ini merupakan gangguan mental serius yang dapat memengaruhi kesehatan fisik, emosi, dan fungsi kehidupan. Memahami kriteria diagnostiknya penting agar gangguan makan tidak dianggap sekadar persoalan kebiasaan atau pilihan gaya hidup.
Anoreksia nervosa atau Anorexia Nervosa merupakan gangguan makan yang ditandai oleh pembatasan asupan energi sehingga menyebabkan berat badan yang secara signifikan rendah. Kondisi ini juga melibatkan ketakutan intens terhadap kenaikan berat badan atau perilaku yang terus menghambat kenaikan berat badan. Gangguan dalam cara individu mengalami atau menilai berat badan dan bentuk tubuh menjadi karakteristik penting lainnya.
DSM-5 diterbitkan oleh American Psychiatric Association pada tahun 2013 dan diperbarui melalui DSM-5-TR pada tahun 2022. Anoreksia nervosa termasuk kelompok Feeding and Eating Disorders atau gangguan makan dan perilaku makan. Kelompok tersebut mencakup berbagai kondisi yang memiliki karakteristik dan kriteria diagnosis berbeda.
DSM-5 menetapkan tiga kriteria utama yang harus dipertimbangkan dalam diagnosis anoreksia nervosa. Ketiganya berkaitan dengan pembatasan asupan energi, ketakutan terhadap kenaikan berat badan, dan gangguan pengalaman terhadap tubuh. Diagnosis membutuhkan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh persyaratan tersebut.
Kriteria pertama adalah pembatasan asupan energi relatif terhadap kebutuhan tubuh yang menyebabkan berat badan secara signifikan rendah. Penilaian berat badan dilakukan dengan mempertimbangkan usia, jenis kelamin, perjalanan perkembangan, dan kesehatan fisik individu. Dengan demikian, pemeriksa tidak boleh menggunakan satu angka berat badan sebagai satu-satunya dasar diagnosis.
Pada anak dan remaja, evaluasi juga perlu memperhatikan pola pertumbuhan. Seorang anak mungkin mengalami gangguan pertumbuhan berat badan tanpa menunjukkan penurunan yang terlihat mencolok. Oleh karena itu, riwayat perkembangan dan pemeriksaan medis menjadi informasi penting.
Kriteria berikutnya berkaitan dengan ketakutan intens terhadap kenaikan berat badan atau menjadi gemuk. Alternatifnya, individu dapat menunjukkan perilaku menetap yang menghambat kenaikan berat badan meskipun berat badannya sudah sangat rendah. Karakteristik ini dapat muncul dalam bentuk pengalaman emosional maupun perilaku.
Ketakutan tersebut tidak selalu disampaikan secara terbuka. Sebagian individu mungkin menyangkal kekhawatiran terhadap berat badan, tetapi menunjukkan pola perilaku yang sesuai dengan kriteria. Pemeriksa perlu memahami pengalaman dan perilaku secara menyeluruh tanpa membuat asumsi berdasarkan penampilan.
Kriteria ketiga mencakup gangguan dalam cara individu mengalami berat badan atau bentuk tubuhnya. Kondisi ini juga dapat berupa pengaruh berat badan atau bentuk tubuh yang berlebihan terhadap penilaian diri. Alternatif lainnya adalah kurangnya pengakuan secara menetap terhadap keseriusan berat badan yang sangat rendah.
Individu mungkin menilai dirinya berdasarkan ukuran atau bentuk tubuh secara berlebihan. Namun, ketidakpuasan terhadap penampilan saja tidak cukup untuk memenuhi kriteria anoreksia nervosa. Diagnosis memerlukan kombinasi karakteristik klinis yang sesuai.
Salah satu perubahan penting dalam DSM-5 adalah penghapusan amenore atau tidak adanya menstruasi sebagai persyaratan diagnosis anoreksia nervosa. Pada DSM-IV, amenore merupakan salah satu kriteria yang digunakan. Penghapusan tersebut membantu memperluas kesesuaian kriteria untuk berbagai kelompok individu.
Anoreksia nervosa dapat dialami laki-laki maupun perempuan, serta individu dari kelompok usia berbeda. Tidak semua orang yang mengalami kondisi ini menunjukkan perubahan menstruasi. Oleh karena itu, keberadaan atau ketiadaan menstruasi tidak menentukan diagnosis secara tunggal.
Selain kriteria utama, dsm 5 membedakan anoreksia nervosa menjadi dua subtipe berdasarkan pola perilaku selama tiga bulan terakhir. Pembagian ini membantu memberikan gambaran klinis yang lebih spesifik. Namun, subtipe dapat berubah sepanjang perjalanan gangguan.
Restricting Type ditandai oleh tidak adanya episode makan berlebihan atau perilaku pengeluaran makanan secara berulang selama tiga bulan terakhir. Penurunan berat badan terutama berkaitan dengan pembatasan asupan makanan dan dapat disertai aktivitas fisik berlebihan. Namun, setiap individu tidak harus menunjukkan seluruh perilaku tersebut.
Binge-Eating/Purging Type ditandai oleh episode makan berlebihan atau perilaku pengeluaran makanan secara berulang selama tiga bulan terakhir. Perilaku tersebut dapat melibatkan upaya mengeluarkan makanan yang sudah dikonsumsi. Identifikasi subtipe perlu dilakukan melalui wawancara klinis yang sensitif dan tidak menghakimi.
Anoreksia nervosa dapat disertai perubahan fisik dan psikologis yang beragam. Individu mungkin mengalami kelelahan, kesulitan konsentrasi, rasa dingin berlebihan, atau gangguan pada aktivitas sehari-hari. Namun, keluhan tersebut juga dapat ditemukan pada kondisi medis lain.
Secara psikologis, sebagian individu menunjukkan perhatian berlebihan terhadap makanan, berat badan, atau bentuk tubuh. Hubungan sosial juga dapat terganggu ketika aktivitas yang melibatkan makanan menimbulkan tekanan. Pemeriksaan diperlukan untuk memahami apakah karakteristik tersebut berkaitan dengan anoreksia atau kondisi lainnya.
Anoreksia nervosa dapat menimbulkan komplikasi kesehatan yang serius karena tubuh tidak memperoleh energi dan nutrisi sesuai kebutuhannya. Dampaknya dapat melibatkan sistem kardiovaskular, kepadatan tulang, fungsi hormonal, serta keseimbangan elektrolit. Dalam kondisi berat, komplikasi tersebut dapat mengancam keselamatan individu.
Risiko kesehatan tidak selalu dapat dinilai hanya dari penampilan tubuh. Oleh karena itu, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengevaluasi keadaan fisik dan kemungkinan komplikasi. Penanganan tidak sebaiknya ditunda apabila ditemukan tanda ketidakstabilan medis.
Anoreksia nervosa dan bulimia nervosa sama-sama termasuk gangguan makan dalam DSM-5. Namun, anoreksia nervosa memiliki persyaratan berat badan secara signifikan rendah yang berkaitan dengan pembatasan asupan energi. Sementara itu, bulimia nervosa melibatkan episode makan berlebihan dan perilaku kompensasi berulang dengan kriteria diagnostik tersendiri.
Individu dengan anoreksia tipe makan berlebihan dan pengeluaran makanan juga dapat menunjukkan perilaku yang menyerupai bulimia. Karena itu, pemeriksa perlu mengevaluasi keseluruhan kriteria diagnostik sebelum menentukan kondisi yang paling sesuai. Perbedaan tersebut penting dalam penyusunan rencana penanganan.
Perkembangan anoreksia nervosa berkaitan dengan interaksi faktor biologis, psikologis, dan lingkungan. Penelitian menunjukkan bahwa kerentanan individual, pengalaman sosial, dan karakteristik psikologis tertentu dapat berperan. Namun, tidak terdapat satu penyebab tunggal yang menjelaskan seluruh kasus.
Tekanan mengenai penampilan tubuh dapat menjadi salah satu faktor yang relevan bagi sebagian individu. Meskipun demikian, anoreksia nervosa tidak boleh dianggap semata-mata akibat pengaruh media sosial atau keinginan berpenampilan menarik. Penjelasan ilmiah membutuhkan pemahaman mengenai berbagai faktor yang saling berinteraksi.
Pemeriksaan anoreksia nervosa melibatkan wawancara mengenai pola makan, pengalaman terhadap tubuh, riwayat berat badan, dan kondisi psikologis. Profesional juga perlu mengevaluasi dampaknya terhadap fungsi sehari-hari. Pemeriksaan fisik dan penilaian medis memiliki peran penting untuk mengidentifikasi risiko kesehatan.
Instrumen psikologi dapat digunakan sebagai pelengkap untuk memahami gejala gangguan makan. Namun, hasil kuesioner tidak otomatis memastikan diagnosis anoreksia nervosa. Kesimpulan harus didasarkan pada integrasi informasi klinis, riwayat perkembangan, dan kondisi medis.
Penanganan anoreksia nervosa umumnya membutuhkan pendekatan multidisiplin yang melibatkan tenaga kesehatan mental, dokter, dan profesional gizi yang kompeten. Tujuannya mencakup pemulihan kesehatan fisik, perbaikan hubungan dengan makanan, dan penanganan kesulitan psikologis. Rencana intervensi perlu disesuaikan dengan usia dan keadaan klinis individu.
Pada anak dan remaja, pendekatan terapi berbasis keluarga memiliki dukungan penelitian untuk kondisi tertentu. Pada orang dewasa, psikoterapi khusus gangguan makan juga dapat dipertimbangkan. Pemantauan medis tetap penting selama proses pemulihan, terutama ketika terdapat komplikasi fisik.
Dukungan keluarga dapat membantu individu memperoleh pemeriksaan dan menjalani penanganan yang diperlukan. Komunikasi sebaiknya dilakukan tanpa mempermalukan atau menyalahkan seseorang atas kondisi yang dialaminya. Komentar mengenai bentuk tubuh juga perlu disampaikan secara hati-hati.
Lingkungan yang mendukung dapat membantu mengurangi hambatan dalam proses pemulihan. Namun, keluarga tidak seharusnya menggantikan peran profesional kesehatan. Kerja sama dengan tenaga yang kompeten membantu memastikan penanganan berlangsung secara aman.
Anoreksia nervosa dalam DSM-5 merupakan gangguan makan yang ditandai oleh pembatasan asupan energi hingga menyebabkan berat badan sangat rendah, ketakutan terhadap kenaikan berat badan atau perilaku yang menghambatnya, serta gangguan pengalaman atau penilaian terhadap tubuh. Diagnosis juga mempertimbangkan subtipe, kondisi medis, dan kebutuhan individu. Karena memiliki risiko kesehatan serius, evaluasi profesional sangat penting.
Bagi mahasiswa, praktisi, maupun masyarakat yang ingin mempelajari dsm 5, memahami kriteria anoreksia nervosa dapat membantu membedakan gangguan makan klinis dari kebiasaan makan sehari-hari. Informasi tersebut sebaiknya digunakan sebagai referensi ilmiah, bukan untuk menetapkan diagnosis secara mandiri. Dengan pemeriksaan menyeluruh dan penanganan berbasis bukti, individu dengan anoreksia nervosa dapat memperoleh dukungan menuju pemulihan kesehatan dan kualitas hidup yang lebih baik.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.