Bahasa yang digunakan untuk menjelaskan gangguan mental ternyata memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang memahami kondisi psikologis. Istilah yang dahulu dianggap sesuai dapat mengalami perubahan setelah penelitian menunjukkan perlunya penjelasan yang lebih tepat. Hal inilah yang terlihat dalam dsm 5 tr, revisi pedoman diagnostik yang tidak hanya memperbarui informasi ilmiah, tetapi juga menyempurnakan sejumlah istilah gangguan mental.
Perubahan terminologi mungkin terlihat sederhana karena hanya melibatkan penggantian beberapa kata. Namun, dalam psikologi klinis, istilah diagnostik berkaitan dengan ketepatan komunikasi, pemahaman konsep, dan cara individu diperlakukan. Oleh karena itu, penting mengetahui istilah apa saja yang berubah serta alasan ilmiah di balik pembaruannya.
Istilah dalam psikologi dan psikiatri berkembang mengikuti penelitian serta perubahan pemahaman masyarakat terhadap kesehatan mental. Sebagian istilah lama dinilai kurang menggambarkan karakteristik gangguan secara akurat. Istilah lainnya membutuhkan penyesuaian agar lebih selaras dengan perkembangan klasifikasi internasional.
Perubahan juga dilakukan untuk mengurangi penggunaan bahasa yang dapat menimbulkan stigma. Bahasa yang tidak tepat berisiko memperkuat kesalahpahaman bahwa gangguan mental merupakan kelemahan pribadi. Karena itu, pemilihan istilah menjadi bagian dari tanggung jawab ilmiah dan etika profesional.
DSM-5-TR merupakan singkatan dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, Text Revision. Pedoman ini diterbitkan oleh American Psychiatric Association pada Maret 2022 sebagai revisi DSM-5 tahun 2013. Pembaruannya mencakup uraian klinis, kriteria tertentu, kode diagnosis, serta penggunaan terminologi.
Revisi tersebut tidak mengganti seluruh nama gangguan mental dalam DSM-5. Sebagian besar klasifikasi dan istilah utama tetap digunakan. Perubahan dilakukan pada bagian tertentu yang membutuhkan penyempurnaan berdasarkan pertimbangan ilmiah dan klinis.
Salah satu pembaruan yang penting dipahami adalah perubahan nama beberapa gangguan. Pada sejumlah diagnosis, istilah yang sebelumnya berada dalam tanda kurung kemudian menjadi nama utama. Pada diagnosis lainnya, istilah alternatif dihapus karena dianggap tidak lagi diperlukan.
| Istilah DSM-5 (2013) | Istilah DSM-5-TR (2022) |
|---|---|
| Intellectual Disability (Intellectual Developmental Disorder) | Intellectual Developmental Disorder (Intellectual Disability) |
| Conversion Disorder (Functional Neurological Symptom Disorder) | Functional Neurological Symptom Disorder (Conversion Disorder) |
| Persistent Depressive Disorder (Dysthymia) | Persistent Depressive Disorder |
| Social Anxiety Disorder (Social Phobia) | Social Anxiety Disorder |
Perubahan dalam tabel tersebut tidak selalu menunjukkan adanya gangguan mental baru. Sebagian merupakan penyesuaian nama atau penghilangan istilah alternatif. Kriteria diagnostik tetap harus diperiksa secara terpisah untuk mengetahui apakah terdapat perubahan selain terminologi.
Dalam DSM-5 edisi 2013, nama diagnosis yang digunakan adalah Intellectual Disability (Intellectual Developmental Disorder). Pada DSM-5-TR, urutannya berubah menjadi Intellectual Developmental Disorder (Intellectual Disability). Istilah perkembangan intelektual ditempatkan sebagai nama utama.
Perubahan tersebut bertujuan meningkatkan keselarasan dengan ICD-11 yang menggunakan istilah Disorders of Intellectual Development. Istilah intellectual disability tetap dipertahankan dalam tanda kurung sebagai padanan yang dikenal luas. Dengan demikian, perubahan ini bukan berarti terdapat dua diagnosis yang berbeda.
Gangguan perkembangan intelektual tetap berkaitan dengan keterbatasan fungsi intelektual dan fungsi adaptif yang muncul selama masa perkembangan. Penilaiannya tidak hanya didasarkan pada skor IQ. Kemampuan konseptual, sosial, dan praktis tetap menjadi bagian penting dalam evaluasi.
Perubahan lainnya terjadi pada diagnosis yang sebelumnya dikenal sebagai Conversion Disorder. Dalam DSM-5, istilah Functional Neurological Symptom Disorder ditempatkan sebagai nama alternatif dalam tanda kurung. DSM-5-TR kemudian menjadikannya nama utama, dengan Conversion Disorder sebagai istilah alternatif.
Dalam bahasa Indonesia, istilah tersebut dapat diterjemahkan sebagai gangguan gejala neurologis fungsional. Kondisi ini melibatkan gejala pada fungsi motorik atau sensorik yang menunjukkan ketidaksesuaian dengan pola penyakit neurologis yang dikenal. Diagnosis tidak boleh ditegakkan hanya karena pemeriksaan medis belum menemukan penyebab gejala.
Penggunaan istilah neurologis fungsional membantu menekankan karakteristik klinis gangguan. Namun, perubahan nama tidak berarti gejala yang dialami individu merupakan pengalaman yang dibuat-buat. Pemeriksaan tetap membutuhkan bukti klinis positif dan evaluasi terhadap kemungkinan kondisi lainnya.
Dalam pedoman dsm 5 tr, diagnosis Persistent Depressive Disorder tidak lagi mencantumkan Dysthymia dalam tanda kurung pada nama resminya. Pada DSM-5 sebelumnya, kedua istilah tersebut ditampilkan bersama. Perubahan dilakukan karena istilah distimia dan gangguan depresif persisten tidak sepenuhnya memiliki cakupan yang identik.
Gangguan depresif persisten menggambarkan kondisi depresif dengan perjalanan yang menetap berdasarkan kriteria tertentu. Kategorinya mencakup karakteristik yang lebih luas daripada konsep distimia dalam klasifikasi lama. Oleh sebab itu, penggunaan satu nama utama membantu mengurangi kebingungan mengenai cakupan diagnosis.
Istilah distimia masih dapat ditemukan dalam buku atau penelitian terdahulu. Namun, pembaca perlu memperhatikan edisi pedoman yang menjadi dasar penulisannya. Perbedaan istilah tersebut penting ketika membandingkan hasil penelitian.
DSM-5 sebelumnya menggunakan nama Social Anxiety Disorder (Social Phobia). Dalam DSM-5-TR, istilah Social Phobia tidak lagi dicantumkan sebagai bagian dari nama utama. Nama diagnosis yang digunakan adalah Social Anxiety Disorder.
Perubahan tersebut berkaitan dengan penggunaan istilah gangguan kecemasan sosial yang telah semakin mapan dalam literatur klinis. Meskipun istilah fobia sosial masih dikenal masyarakat, penggunaannya sebagai nama alternatif resmi tidak lagi dianggap diperlukan. Namun, perubahan nama tersebut bukan berarti diagnosisnya dihapus.
Gangguan kecemasan sosial tetap berkaitan dengan ketakutan atau kecemasan terhadap situasi sosial yang melibatkan kemungkinan memperoleh penilaian negatif. Diagnosis juga mempertimbangkan penghindaran, durasi, dan dampak klinis. Profesional harus mengevaluasi seluruh kriteria sebelum menetapkan diagnosis.
DSM-5-TR juga memperbarui sejumlah istilah dalam pembahasan Gender Dysphoria atau disforia gender. Salah satu perubahan adalah penggunaan experienced gender sebagai pengganti desired gender. Penyesuaian tersebut bertujuan menggunakan bahasa yang lebih sesuai untuk menggambarkan pengalaman identitas gender individu.
Istilah lain juga diperbarui, termasuk penggunaan ungkapan yang merujuk pada jenis kelamin yang ditetapkan saat lahir. Pembaruan tersebut menunjukkan perhatian terhadap ketepatan dan penghormatan dalam bahasa klinis. Identitas gender seseorang sendiri bukan merupakan gangguan mental.
Diagnosis disforia gender berkaitan dengan ketidaksesuaian yang menetap dan memenuhi persyaratan klinis tertentu, termasuk distres atau gangguan fungsi yang bermakna sesuai kriteria. Oleh karena itu, identitas dan diagnosis tidak boleh disamakan. Pemeriksaan perlu dilakukan dengan menghargai pengalaman individu.
Perubahan terminologi tidak hanya terjadi pada nama gangguan mental. DSM-5-TR juga memperbarui istilah terkait pengobatan dalam sejumlah uraian diagnostik. Sebagai contoh, istilah neuroleptic medications digantikan dengan istilah yang merujuk pada obat antipsikotik atau agen penghambat reseptor dopamin lainnya.
Penyesuaian tersebut membantu menggambarkan kelompok obat secara lebih spesifik. Istilah lama sering berkaitan dengan penekanan terhadap efek neurologis tertentu. Namun, perubahan terminologi obat tidak boleh dianggap sebagai perubahan petunjuk pengobatan bagi individu.
DSM-5-TR juga memperbarui pembahasan mengenai ras, etnisitas, diskriminasi, dan pengalaman sosial. Pendekatan tersebut bertujuan menghindari penggunaan istilah yang dapat memberikan kesan bahwa perbedaan sosial merupakan kategori biologis yang sederhana. Faktor sosial dan budaya dipertimbangkan sebagai konteks penting dalam kesehatan mental.
Pengalaman individu dapat dipengaruhi diskriminasi, tekanan lingkungan, dan akses terhadap pelayanan kesehatan. Karena itu, perbedaan karakteristik klinis tidak boleh langsung dijelaskan berdasarkan identitas kelompok tertentu. Pemeriksaan perlu mempertimbangkan kondisi sosial yang relevan.
Perubahan istilah perlu dibedakan dari penambahan kategori diagnostik. DSM-5-TR juga memperkenalkan Prolonged Grief Disorder atau gangguan berduka berkepanjangan sebagai diagnosis resmi. Perubahan ini bukan sekadar penggantian nama dari gangguan yang sebelumnya telah memiliki status diagnostik sama.
Gangguan berduka berkepanjangan melibatkan respons kehilangan yang menetap dan memenuhi persyaratan tertentu mengenai gejala, durasi, serta dampak klinis. Namun, kesedihan setelah kehilangan seseorang tidak otomatis merupakan gangguan mental. Penilaian tetap harus mempertimbangkan konteks budaya dan pengalaman individu.
Perubahan terminologi dapat memengaruhi penulisan laporan, pembacaan literatur, dan komunikasi antartenaga profesional. Istilah dalam publikasi lama mungkin berbeda dari nama diagnosis yang digunakan dalam DSM-5-TR. Oleh karena itu, pemeriksa perlu memperhatikan versi pedoman yang menjadi dasar asesmen.
Mahasiswa psikologi juga perlu membedakan perubahan nama dengan perubahan kriteria. Penggantian istilah tidak selalu mengubah karakteristik gangguan yang sedang dinilai. Ketepatan diagnosis tetap bergantung pada pemeriksaan menyeluruh dan penggunaan kriteria yang sesuai.
DSM-5-TR memperbarui sejumlah istilah gangguan mental agar lebih selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan, klasifikasi internasional, dan penggunaan bahasa klinis yang tepat. Perubahan penting mencakup gangguan perkembangan intelektual, gangguan gejala neurologis fungsional, gangguan depresif persisten, dan gangguan kecemasan sosial. Pembaruan juga mencakup istilah dalam pembahasan gender, obat, serta faktor budaya.
Bagi mahasiswa, peneliti, dan praktisi yang ingin memahami dsm 5 tr, mengenali perubahan istilah membantu menghindari kesalahan ketika membaca penelitian atau menyusun laporan psikologis. Perubahan terminologi perlu dipahami bersama kriteria diagnostik dan alasan ilmiah di baliknya. Dengan penggunaan bahasa yang akurat dan tidak menstigmatisasi, komunikasi kesehatan mental dapat menjadi lebih jelas, profesional, dan menghargai individu.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.